| Konsultasi | Bulletin | Do'a | Fatwa | Hadits | Khutbah | Kisah | Mu'jizat | Qur'an | Sakinah | Tarikh | Tokoh | Aqidah | Fiqih | Sastra | Resensi |
| Dunia Islam | Berita Kegiatan | Kajian | Kaset | Kegiatan | Materi KIT | Firqah | Ekonomi Islam | Analisa | Senyum | Download |
 
Menu Utama
·Home
·Tentang Kami
·Buku Tamu
·Produk Kami
·Formulir
·Jadwal Shalat
·Kontak Kami
·Download Artikel
·Download Murattal

Aqidah
· Tabarruk (Ngalap Berkah) Dengan Al-Qur'an Al-Karim
· Perkara-Perkara Yang Diberkahi

Firqah (Aliran-aliran)
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 5
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 4

Analisa
· Kerancauan Ilmu Hisab Dalam Penentuan Awal & Akhir Ramadhan
· Studi Kritis Seputar Puasa Hari Sabtu

Ekonomi Islam
· Adab Ekspor Impor
· Riba dan Bahayanya

Produk Kami

Informasi!
·Kajian Bulanan Masjid Al-Sofwa : AGAR BAHTERA RUMAH TANGGA TIDAK KANDAS TERHEMPAS BADAI
·Kajian Bulanan Masjid Al-Sofwa : URGENSI SUNNAH DALAM SYARI'AT ISLAM
·Info Pendaftaran MAIS 2014/2015

Liputan Kegiatan
·Konsultasi Islam
·Penyaluran Hewan Qurban
·Santunan Yatim

Konsultasi Online

Ust.Husnul Yaqin, Lc

Ust.Amar Abdullah

Ust.Saed As-Saedy, Lc

Fatwa Seputar Sholat

Berangkatnya Wanita Muslimah ke Masjid

Apa Hukum Shalat Wanita di Masjid

Haruskah Wanita Melaksanakan Shalat Lima Waktu di Dalam Masjid

Wanita di Rumah Berma'mum Kepada Imam di Masjid

Apakah Shalatnya Seorang Wanita di rumah Lebih Utama Ataukah di Masjidil Haram

Manakah yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Melaksanakan Shalat di Masjidil Haram atau di Rumah

Shalatnya Kaum Wanita yang Sedang Umrah di Bulan Ramadhan

Apakah Shalat Seseorang di Masjidil Haram Bisa Batal Ketika Ia Ikut Berjama'ah Dengan Imam atau Shalat Sendirian Karena Ada Wanita yang Melintas di Hadapannya?

Bila Terdapat Pembatas (Tabir) Antara Kaum Pria dan Kaum Wanita, Maka Masih Berlakukah Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam (sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan)

Apakah Kaum Wanita Harus Meluruskan Shafnya Dalam Shalat

Benarkah Shaf yang Paling Utama Bagi Wanita Dalam Shalat Adalah Shaf yang Paling Belakang

Benarkah Shalat Jum'at Sebagai Pengganti Shalat Zhuhur

Hukum Shalat Jum'at Bagi Wanita

Hanya Membaca Surat Al-Ikhlas

Hukum Meninggalkan Shalat

Hukum Menangis Dalam Shalat Jama'ah

Jika seorang musafir masuk masjid di saat orang sedang shalat jama'ah Isya' dan ia belum shalat maghrib.

Bolehkah bagi kaum wanita untuk berkunjung ke rumah orang yang sedang terkena musibah kematian, kemudian melakukan shalat jenazah berjama'ah dirumah tersebut ?

Apabila seseorang tidak melakukan shalat fardlu selama 3 tahun tanpa uzur, kemudian bertaubat , apakah dia harus mengqodha shalat tersebut ?

Apabila suatu jama'ah melakukan shalat tidak menghadap qiblah, bagaimanakah hukumnya ?

Membangunkan Tamu Untuk Shalat Shubuh

Doa-Doa Menjelang Azan Shubuh

Bacaan Sebelum Imam Naik Mimbar Pada Hari Jum'at

Shalat Tasbih

Hukum Wirid Secara Jama'ah/Bersama-sama Setelah Setiap Shalat Fardhu

Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit

Jika Telah Suci Saat Shalat Ashar atau Isya, Apakah Wajib Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Maghrib

Jika Wanita Mendapatkan Kesuciannya di waktu Ashar Apakah Ia Harus Melaksanakan Shalat Zhuhur

Mendapatkan Haidh Beberapa Saat Setelah Masuk Waktu Shalat, Wajibkah Mengqadha Shalat Tersebut Setelah Suci

Urutan Shalat yang Diqadha

Seorang Wanita Mendapatkan Kesuciannya Beberapa Saat Sebelum Terbenamnya Matahari, Wajibkah Ia Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Ashar?

Keutamaan Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama'ah

Berkumpulnya Wanita Untuk Shalat Tarawih

Bolehkah Seorang Wanita Shalat Sendiri dibelakang Shaf

Bolehkah kaum Wanita Menetapkan Seorang Wanita Untuk Mengimami Mereka Dalam Melakukan Shalat di Bulan Ramadhan

Wajibkah Kaum Wanita Melaksanakan Shalat Berjama'ah di Rumah

Apa hukum Shalat Berjama'ah Bagi Kaum Wanita

Apakah Ada Niat Khusus Bagi Imam Yg Mengimami Shalat Kaum Pria & Wanita

Shalatnya Piket Penjaga ( Satpam )

Gerakan Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Jamaah

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Hukum Meremehkan Shalat

Hukum Menangguhkan Shalat Subuh Dari Waktunya

Dampak Hukum Bagi yang Meninggalkan Shalat

Hukum Shalat Seorang Imam Tanpa Wudhu Karena Lupa

Hukum Orang yang Tayammum Menjadi Imam Para Makmum yang Berwudhu

Posisi Kedua Kaki Ketika Berdiri Dalam Shalat

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat

Jika Ketika Shalat Ragu Apakah Ia Meninggalkan Salah Satu Rukun

Shalat Bersama Imam, Tapi Lupa Berapa Rakaat Yang Telah Dikerjakan

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Menulis Tamimah Untuk Orang Lain

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Berinteraksi Dengan Tamimah dan Sihir

Mengumumkan Barang Hilang Di Dalam Masjid, Bolehkah?

Seputar Posisi Makam Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Di Masjid Nabawi

Shalatnya Penjaga Piket/Satpam

Hukum Membaca Al-Qur'an Dalam Shalat Secara Berurutan

Haruskah Imam Menunggu Makmum Masbuk Ketika Ruku

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Transparan

Hukum Pergi Ke Masjid Yang Jauh Agar Bisa Shalat Di Belakang Imam Yang Bagus Bacaannya

Sahkah Shalat Di Belakang Imam Yang Bacaanya Tidak Bagus?

HUKUM BACAAN AL-QUR'AN SEBELUM ADZAN JUM'AT

Meluruskan Barisan Hukumnya Sunat

Shalatnya Piket Penjaga / Satpam

Shalat Fardhu Bermamum Kepada Orang Yang Shalat Sunnat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Berjama'ah

Bacaan Al-Quran Dengan Pengeras Suara Sebelum Shalat Subuh

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Imam Menunggu Para Mamum Ketika Ruku

Mendengar Adzan Tetapi Tidak Datang Ke Masjid

Menempatkan Dupa Di Depan Orang-Orang Yang Sedang Shalat

Kapan Dibacakannya Doa Istikharah

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Bergambar

TATA CARA SHALAT DI PESAWAT

Menjama Shalat Dalam Kondisi Dingin

Menghadap Kiblat Ketika Buang Air

Hukum Shalat Bergeser Dari Arah Kiblat

Mendapatkan Najis Di Pakaian Setelah Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburan Di Dalamnya?

Doa Atau Dzikir Sebelum Adzan

Hukum Membaca Shalawat Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Secara Berjamaah Di Setiap Akhir Shalat

Mana Yang Harus Didahulukan Mendengarkan Ta'lim Atau Tahiyatul Masjid?

Hukum Menahan Buang Angin Ketika Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Seseorang Yang Terbuka Sebagian Kecil Dari Auratnya?

Beberapa Masalah Mengenai Sujud Syukur

Hukum Mengakhirkan Shalat Shubuh Hingga Terbit Matahari

Beberapa Masalah Tentang Shalat Jum'at Bagi Musafir

Aurat Terbuka Ketika Shalat

Wajibkah Mengqadha Puasa yang Tertinggal?

Do'a Qunut

Sunnah Sebelum Melaksanakan Shalat 'Ied


Info Khusus

Cinta Rasul

Ada Apa Dengan Valentine's Day ?

Manisnya Iman

Hukum Merayakan Hari Valentine

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab?

Asyura' Dalam Perspektif Islam, Syi'ah & Kejawen..!!

Ada Apa Dengan Valentines Day?


Kajian Islam
· Ada Apa Dengan Valentine's Day..??
· Mutiara Fiqih Islam
· KITAB TAUHID 3
· Untuk Diketahui Setiap Muslim

SMS Dakwah Hari Ini

Allah berfirman,yang artinya, Tidak ada yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS.Asy-Syura:11)

( Index SMS Dakwah )


Fatwa Puasa

Kapan Remaja Putri Diwajibkan untuk Berpuasa?

Remaja Putri Berusia Dua Belas atau Tiga Belas Tahun Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Tidak Berpuasa Selama Masa Haidh, dan Setiap Kali Tidak Berpuasa Ia Memberi Makan, Apakah Wajib Qadha Baginya

Istri Saya Hamil dan Mengeluarkan Darah Pada Permulaan Ramadhan

Mendapat Kesucian dari Haidh atau dari Nifas Sebelum Fajar dan Tidak Mandi Kecuali Setelah Fajar

Seorang Wanita Mendapat Kesuciannya dari Nifas Dalam Satu Pekan, Kemudian Ia Berpuasa Bersama Kaum Muslimin, Setelah Itu Darah Tersebut Datang Lagi

Mendapat Kesucian Setelah Tujuh Hari Melahirkan Lalu Berpuasa di Bulan Ramadhan

Setelah Empat Puluh Hari Sejak Melahirkan, Darah yang Keluar Berubah, Apakah Saya Harus Shalat dan Puasa

Melahirkan di Bulan Ramadhan dan Tidak Mengqadha Setelah Bulan Ramadhan Karena Ada Kekhawatiran Pada Bayi, Kemudian Pada Bulan Ramadhan Selanjutnya Ia Melahirkan Lagi

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil Dan Menyusui Jika Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bagaimana Hukumnya Jika Wanita Menyusui Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bolehkah Wanita Hamil Tidak Berpuasa

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil yang Tidak Puasa Karena Khawatir Terhadap Janinnya

Meninggalkan Puasa Dengan Sengaja Selama Enam Hari di Bulan Ramadhan Karena Ujian Sekolah

Memaksa Isteri untuk Tidak Berpuasa Dengan Cara Mencampurinya

Memaksa Istri untuk Tidak Berpuasa

Seorang Pria Musafir Tiba di Rumahnya Pada Siang Hari Ramadhan Lalu Ingin Menggauli Istrinya

Apakah Keluar Darah dari yang Hamil Termasuk yang Membatalkan Shaum

Suami Mencium dan Mencumbui Istrinya di Siang Hari Ramadhan

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -1

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -2

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan - 3

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -1

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -2

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -3

Menggunakan Inai Pada Rambut Saat Berpuasa

Mengobati Pilek dengan Obat yang Dihirup Melalui Hidung

Apakah Keluarnya Air Ketuban Dapat Membatalkan Puasa

Mengqadha Puasa Bagi yang Tidak Puasa Karena Hamil

Tidak Mampu Mengqadha Puasa

Tidak Berpuasa Karena Sakit Lalu Meninggal Beberapa Hari Setelah Ramadhan

Orang Meninggal yang Mempunyai Tanggungan Puasa

Sekarang Berusia Lima Puluh Tahun, Dua Puluh Tujuh Tahun yang Lalu Tidak Menjalankan Puasa Ramadhan Selama Lima Belas Hari

Beberapa Tahun yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haidh dan Belum Mengqadhanya

Mempunyai Utang Puasa Selama Dua Ratus Hari Karena Ketidaktahuannya dan Sekarang Sedang Sakit

Minum Obat Beberapa Saat Setelah Fajar

Di Depan Keluarganya Ia Berpuasa, Namun Sebenarnya Dengan Cara Sembunyi-sembunyi Ia Tidak Berpuasa Selama Tiga Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan Kedua Telah Datang Tapi Ia Belum Mengqadha Puasa Ramadhan yang Lalu

Tidak Pernah Mengqadha Puasa yang Ditinggalkannya Karena Haidh Sejak Diwajibkan Baginya Berpuasa

Tidak Berpuasa Karena Menyusui Anaknya Dan Belum Mengqadhanya, Kini Anak Itu Telah Berusia Dua Puluh Empat Tahun

Belum Mengqadha Puasa yang Ditinggalkan Pada Dua Tahun Pertama Sejak Menjalankan Puasa Wajib

Menunda Qadha Puasa Hingga

Hikmah dari Diwajibkannya Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh

Tidak Berpuasa Selama Dua Ramadhan Karena Sakit, Kemudian Pada Ramadhan Ketiga Ia Berpuasa, Apa yang Harus Dilakukan untuk Dua Ramadhan yang Telah Lewat

Meninggalkan Puasa Ramadhan Selama Empat Tahun Karena Gangguan Kejiwaan

Ibu Saya Telah Lanjut Usia, Ia Berpuasa Selama Lima Belas Hari Kemudian Tidak Berpuasa Karena Tak Sanggup Puasa

Mencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa

Saya Pernah Bertanya Kepada Seorang Dokter, Ia Mengatakan, Bahwa Pil Pencegah Haidh Itu Tidak Berbahaya

Mengkonsumsi Pil Pencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa Bersama Orang-Orang Lainnya

Hukum Mencicipi Makanan Ketika Berpuasa

Mengeluarkan Darah Selama Tiga Tahun, Apa yang Harus Dilakukan di Bulan Ramadhan

Bernadzar untuk Berpuasa Selama Satu Tahun

Hukum Mengisi Bulan Ramadhan Dengan Begadang, Berjalan-jalan di Pasar dan Tidur

Faktor-faktor yang Mendukung Wanita di Bulan Ramadhan

Apa Hukum Berbicara Dengan Seorang Wanita atau Menyentuh Tangannya di Siang Hari Ramadhan

Mengakhirkan Qadha Puasa Ramadhan Hingga Datang Ramadhan Berikutnya.

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa?

Tetesan Obat Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Mencampuri Isteri Pada Hari yang Diragukan

Memberi Makan Kaum Miskin Sebagai Pengganti Puasa Orang Lanjut Usia

Orang yang Tidak Mampu Berpuasa

Terapi di Bulan Ramadhan

Berbukanya Musafir

Berbukanya Wanita Hamil dan Wanita yang Menyusui

Onani/Masturbasi dan Bersetubuh di Siang Bulan Ramadhan

Hukum Darah yang Keluar dari Orang yang Sedang Berpuasa

Masih makan dan minum saat fajar karena ia tidak tahu.

Menonton Televisi Bagi yang Berpuasa

Seorang Musafir Tidak Berpuasa Lalu Ia Memaksa Isterinya yang Sedang Berpuasa untuk Berhubungan Badan

Wajib Puasa Bagi Wanita yang Telah Haidh

Bila Seorang Wanita Melanjutkan Puasanya Kendatipun Keluar Darah Haidh

Mengqadha Puasa Beberapa Tahun

Menyepelekan Puasa Sejak Pertama Kali Mengalami Haidh

Berbuka Karena Kesibukannya Dalam Bangunan dan Persiapan Nikah

Orang yang Meninggal di Bulan Ramadhan Tidak Wajib Mengqadha Sisa Harinya

Puasa dan Terapi

Sekitar Nadzar Puasa

Bertekad Puasa Tiga Hari (Tgl 13, 14, 15)

Puasa Pada Hari Sabtu

Hukum Puasanya Orang Yang Tidak Shalat Tarawih

Hukum Mencium Bagi yang Berpuasa

Darah yang Merusak Puasa

Hukum Berbekam Bagi yang Berpuasa dan Hukum Keluarnya Darah

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Terlihatnya Hilal (Bulan) Ramadhan Atau Syawwal di Suatu Negara Tidak Mengharuskan Negara-Negara Lain Mengikutinya

Tidur Sepanjang Hari Ketika Puasa

Berkumur Sampai Airnya Masuk ke Tenggorokan

Hukum Menggunakan Minyak Wangi di Siang Bulan Ramadhan

Makan Karena Lupa Ketika Puasa

Banyak Mandi Ketika Puasa

Tidak Mengqadha Puasa Karena Menghawatirkan Bayinya

Laksanakan Puasa Qadha Lebih Dulu

Panjangnya Malam dan Siang Saat Ramadhan

Negara yang Terlambat Terbenamnya Matahari

Anak Kecil Tidak Wajib Puasa Tapi Disuruh Melaksanakannya

Berbuka Berdasarkan Pemberitahuan Penyiar

Puasa Wishal

Hukum Hidangan Orang Tua

Itikaf dan Syaratnya

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Tanda Subuh Adalah Terbitnya Fajar

Berpedoman Pada Ruyat (Penglihatan) Biasa

Puasa Berdasarkan Satu Ruyat (Penglihatan)

Minum Karena Tidak Tahu Sudah Subuh

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Jika Seorang Wanita Suci Setelah Subuh, Maka Ia Harus Berpuasa Dan Mengqadha

Puasa Dan Junub

Puasanya Orang Yang Meninggalkan Shalat. Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Sahur Setelah Subuh

Minum Setelah Adzan Subuh

Minum Ketika Adzan Subuh

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Cuci Darah Bagi Yang Berpuasa

Hukum Menggunakan Krim Kulit

Hukum Menggunakan Inhaler Bagi Yang Berpuasa

Apakah Debu Membatalkan Puasa?

Hukum Orang Yang Puasa Dan Shalat Hanya Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Menggunakan Siwak Di Bulan Ramadhan

Hukum Bersiwak Bagi Yang Berpuasa Setelah Tergelincirnya Matahari

Apakah Tanggalnya Gigi Geraham Orang Yang Sedang Berpuasa Membatalkan Puasanya?

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

Menunda Qadha Puasa Hingga Tiba Ramadhan Berikutnya

Menghadiahkan Pahala Puasa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha Puasa

Apakah orang yang meninggal dengan menanggung utang qadha puasa boleh dipuasakan untuknya (diqadhakan)?

Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawwal

Mengqadha Enam Hari Puasa Ramadhan di Bulan Syawwal, Apakah Mendapat Pahala Puasa Syawwal Enam Hari

Apakah Suami Berhak untuk Melarang Istrinya Berpuasa Sunat

Hukum Puasa Sunnah Bagi Wanita Bersuami

Hukum Zakat Yang Diserahkan Ke Lembaga Zakat Atau Instansi Pemerintah

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Yang Digunakan Sebagai Pehiasan Atau Dipinjamkan, Baik Berupa Emas Maupun Perak

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Jika Mencapai Nishab Dan Tidak Diproyeksikan Untuk Perdagangan

Apakah Seorang Wanita Harus Menggabungkan Perhiasan Putri-Putrinya Ketika Hendak Mengeluarkan Zakat Perhiasannya?

Apa Hukum Zakat Perhiasan Yang Dikenakan

Hukum Buka Warung Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Lupa Meniatkan Puasa Bulan Syawwal Dari Sejak Malam Hari, Sah Tidak?

BAGAIMANA MENENTUKAN AWAL PUASA

HIKMAH DIWAJIBKAN MENGQADHA PUASA TETAPI TIDAK MENGQADHA SHALAT

BAGAIMANA PUASA YANG BENAR?

NIAT BERBUKA,TAPI BELUM MAKAN DAN MINUM APAKAH MEMBATALKAN PUASA?

beberapa tanda Lailatul Qadr

Puasa Muharram dan 'Asyura

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa

Tetesan Air Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

HUKUM ORANG YANG PUASA TETAPI TIDAK SHOLAT

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Mengakhirkan Qadha Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya

Perbedaan Ru-yah

Shaum (Berpuasa) Berdasarkan Hisab.

Hukum Puasa Bagi Orang Yang Melanjutkan Makan Sahurnya Setelah Adzan?

Hukum Shiam (Puasa) Yang Dilakukan Pada Masa Nifas.

Mengqadha Shiyam (Puasa) Yang Telah Terlupakan Selama Sepuluh Tahun

Bolehkah Membatalkan Shiyam (Puasa) Yang Diqhadha?

Kafarat Bagi Orang Yang Mengumpuli Istrinya Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Mengqadha Shiyam Yang Terlupakan Jumlahnya

Beberapa Permasalahan Wanita Dalam Melakukan Shiyam.

Penentuan Hari dan Shiyam (Puasa) Arafah Pada Tiap Negara

Bidahkah Puasa 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah ?

Hisab Dijadikan Acuan Dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Dalam Melaksanakan Shiyam (Puasa)

Makan Sahur Ketika Fajar Terbit Tanpa Disadari

Air Yang Masuk Ke Tenggorokan Tanpa Sengaja Ketika Berwudhu

KADAR FIDYAH BAGI ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA KARENA TUA ATAU SAKIT

Memakai Obat Mata Dan Telinga Ketika Berpuasa

Permasalahan-Permasalahan Yang Berkaitan Dengan I'tikaf

Apakah Ada Perselisihan Pendapat Tentang Dianjurkannya Puasa Di Sembilan Hari Awal Bulan Dzulhijah

Menyikapi Dua Hadits Yang Bertentanggan Dalam Masalah Puasa 1-9 Dzulhijjah

   


Dibuka!!! Pendaftaran MAIS 2014/2015 :: Dibutuhkan Segera : Admin Situs, Maintenance dan Jaringan Komputer ::

Artikel Tarikh Islam :

Perang Khandaq (lanjutan-habis)
Jumat, 26 Nopember 04

Setelah Rasulullah SAW., menyelesaikan pembuatan parit, datanglah orang-orang Quraisy kemudian berhenti di tempat berkumpulnya aliran air di rumah antara Al-Juruf dan Zughabah. Mereka datang ke tempat tersebut dengan membawa sepuluh ribu orang dari orang-orang ahabisy (multi kabilah), Bani Kinanah, dan Bani Tihamah. Dan Ghathafan datang diikuti oleh penduduk Nejed lalu mereka singgah di Dzanab Naqma di samping uhud. Sementara Rasulullah keluar bersama orang-orang muslim hingga mereka sampai di Sala dengan diikuti 3000 pasukan, lalu beliau tempatkan pasukan di sana, sedang khandaq berada di antara dia dan musuh. Dan beliau memerintahkan kepada kaum perem-puan dan anak-anak agar bersembunyi di dalam benteng.

"Musuh Allah, Huyai bin Akthab An-Nadhri, keluar kemudian pergi ke tempat Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi, wakil Bani Quraizhah dalam per-janjian dengan Rasulullah SAW. Ka'ab bin Asad Al-Quradhi telah membuat perjanjian dengan beliau mewakili kaumnya dan orang yang menanda-tanganinya. Ketika Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi mendengar kedatangan Huyai bin Akhthab An-Nadhri, ia menutup pintu bentengnya. Huyai bin Akhthab meminta Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi membukakan pintu, namun ia menolak membukanya hingga akhirnya Huyai bin Akhthab An-Nadhri berteriak, "Hai Ka'ab, celakalah engkau, bukakan pintu untuk-ku!". Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi menjawab, "Hai Huyai, celakalah eng-kau, engkau orang tercela. Aku telah membuat perjanjian dengan Mu-hammad dan aku tidak ingin membatalkan perjanjianku dengannya, karena aku melihatnya menepati perjanjian dan jujur."

Huyai bin Akhthab An-Nadhri berkata, "Celakalah engkau, bukakan pintu untukku karena aku ingin bicara denganmu." Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi berkata, "Aku tetap tidak mau membuka pintu." Huyai bin Akhthab An-Nadhri berkata, "Demi Allah, jika engkau tetap mengunci benteng dariku, itu karena engkau takut aku makan makanan jasyisyah (makanan yang terbuat dari gandum kasar yang adon) milikmu." Perkataan Huyai bin Akthab An-Nadhri tersebut membuat Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi naik darah, kemudian membuka pintu bagi Huyai bin Akhthab An-Nadhri yang kemudian berkata, "Celakalah engkau hai Ka'ab, aku datang kepadamu dengan kemuliaan zaman dan lautan air yang banyak. Aku datang kepadamu membawa orang-orang Quraisy lengkap dengan panglima perang dan tokoh-tokoh mereka. Sekarang mereka aku tempatkan di tempat berkumpulnya air di Duman. Aku juga datang kepadamu membawa orang-orang Ghathafan lengkap dengan panglima perang dan tokoh-tokohnya.

Dan sekarang mereka aku tempatkan di Dzanab Naqma di samping Uhud. Mereka semua telah bersumpah dan berjanji kepadaku untuk tidak pergi hingga kita berhasil menghabisi Muhammad dan para pengikutnya. Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi berkata kepada Huyai bin Akhthab An-Nadhri, 'Demi Allah, engkau datang kepadaku membawa kehinaan zaman dan awan yang tidak membawa air hujan di dalamnya. Awan tersebut berkilat namun tidak membawa apa-apa. Celakalah engkau hai Huyai, biarkan aku dengan pilihanku, karena aku melihat Muhammad adalah orang yang jujur dan menepati janji. Huyai bin Akhtab An-Nadhri tetap berada di rumah Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi guna mengajukan berbagai argumen kepadanya, hingga akhirnya Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi bersedia memberinya perjanjian untuknya. Isi perjanjian tersebut adalah jika orang-orang Quraisy dan Ghathafan pulang tanpa berhasil mengalahkan Muhammad maka engkau mengizinkan aku masuk ke dalam bentengmu hingga aku mengalami apa yang engkau alami. Dengan demikian, Ka'ab bin Sa'ad Al-Quradhi membatalkan perjanjian dengan Rasulullah SAW."

"Ketika informasi pembatalan perjanjian tersebut terdengar oleh Rasulullah SAW., dan kaum muslimin, beliau mengirim Sa'ad bin Muadz bin An-Nu'man (tokoh Al-Aus ketika itu), Sa'ad bin Ubadah bin Dulaim warga Bani Saidah bin Ka'ab bin ka'ab bin Al-Khazraj (tokoh Al-Khazraj ketika itu), Abdullah bin Rawahah saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj dan Khawwat bin Jubair saudara Bani Amr bin Auf kepada mereka (Bani Quraizhah), dan bersabda kepada mereka, "Pergilah, ke-mudian lihat apakah informasi yang sampai kepada kita itu benar atau tidak? Jika memang benar, hendaklah kalian berkata dengan bahasa sin-diran yang paling baik dan jangan lemahkan mereka. Jika mereka menepati perjanjian antara kita dengan mereka, berkatalah secara terus terang kepada mereka." Para sahabat tersebut segera pergi ke Bani Quraizhah. Ketika mereka tiba di tempat mereka, mereka mendapati orang-orang Bani Quraizhah lebih brengsek dari informasi yang sampai pada mereka. Mereka menghina Rasulullah SAW., dan berkata, "Siapa Rasulullah itu? Kami tidak mempunyai perjanjian dengan Muhammad." Sa'ad bin Muadz mengecam mereka dan mereka balik mengecam Sa'ad bin Muadz. Sa'ad bin Muadz adalah seorang yang emosional. Sa'ad bin Ubadah berkata Sa'ad bin Muadz, "Sudahlah, engkau tidak usah menge-cam mereka. Kita tidak perlu saling kecam." Setelah itu, Sa'ad bin Muadz, Sa'ad bin Ubadah, dan dua sahabat lainnya menghadap Rasulullah SAW. Mereka mengucapkan salam kepada beliau, kemudian berkata, "Mereka seperti Adhal dan Al-Qarah yang mengkhianati Khubaib dan sahabat-sahabatnya di Ar-Raji." Rasulullah berkata, "Allahu Akbar. Bergembiralah kalian hai kaum muslimin."

"Ketika itulah, ujian terasa berat dan ketakutan memuncak di tengah kaum muslimin, karena musuh datang kepada mereka dari atas dan bawah mereka hingga kaum mukminin menyangka yang bukan-bukan dan terlihatlah kemunafikan sebagian orang-orang munafik, bahkan Muattib bin Qusyair saudara Bani Amr bin Auf berkata, 'Muhammad pernah berjanji kepada kita bahwa kita akan menguasai perbendaharaan Kisra dan Kaisar, padahal hari ini salah seorang dari kita tidak merasa aman untuk pergi ke tempat buang air. Dan hingga Aus bin Qaidhi, salah seorang warga Bani Haritsah bin Al-Harits, berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya rumah-rumah kami tidak terlindungi dari musuh. Oleh karena itu, izinkan kami keluar untuk pulang ke rumah, karena rumah-rumah kami terletak di luar Madinah."

"Selama dua puluh hari atau bahkan hampir sebulan tidak terjadi perang antara Rasulullah SAW., dengan orang-orang musyrikin. Yang terjadi hanya saling lempar panah dan pengepungan."

"Ketika ketakutan menyelimuti kaum muslimin -seperti dikatakan kepadaku oleh Ashim bin Umar bin Qatadah dan dari orang yang tidak aku ragukan kejujurannya dari Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri-, Rasulullah SAW., pergi kepada Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr dan Al-Harits bin Auf bin Abu Haritsah Al-Murri yang ketika itu menjadi Panglima Perang Ghathafan. Beliau memberi ke-duanya sepertiga buah-buahan Madinah dengan syarat keduanya pulang bersama anak buahnya dari beliau dan para sahabatnya. Pembicaraan perdamaian pun berlangsung antara Rasulullah dengan dua orang tersebut hingga mereka sepakat menulis perjanjian. Namun karena tidak adanya saksi dan kesungguhan, maka pertemuan itu hanya merupakan tukar pikiran saja.

Ketika Rasulullah SAW., bermaksud meneruskan rencana perdamaian, beliau pergi kepada Sa'ad bin Muadz dan Sa'ad bin Ubadah. Beliau men-ceritakan rencana perdamaian kepada keduanya dan meminta pertim-bangan. Kedua sahabat berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, ini tindakan yang engkau inginkan kami laksanakan, ataukah sesuatu yang diperintahkan Allah kepadamu dan harus kami laksanakan, ataukah eng-kau sendiri yang menetapkannya untuk kami.?" Rasulullah SAW., bersabda, "Ini sesuatu yang aku putuskan untuk kalian. Demi Allah, aku bertindak seperti itu, karena aku lihat orang-orang Arab telah menyerang kalian dari satu busur dan menyerbu kalian dari semua penjuru. Jadi aku ingin mengalihkan kekuatan mereka dari kalian kepada sesuatu yang lain."

Sa'ad bin Muadz berkata kepada Rasulullah SAW., "Wahai Rasulullah, dulu kami dan kaum tersebut menyekutukan Allah, menyembah berhala-berhala, tidak menyembah Allah, tidak kenal denganNya, dan mereka tidak makan kurma melainkan dari hasil jamuan dan jual-beli. Apakah sesudah Allah memuliakan kita dengan Islam, memberi kita petunjuk kepadanya, memuliakan kita denganmu dan dengan Islam, kemudian kita berikan kekayaan kita kepada mereka? Demi Allah, kita tidak perlu melakukan hal ini. Demi Allah, kita hanya berikan pedang kepada mereka hingga Allah memutuskan perkara di antara kita dengan mereka." Rasulullah SAW., bersabda, "Engkau terserah dengan pendapatmu." Setelah itu, Sa'ad bin Muadz menerima lembaran perjanjian, kemudian mengha-pus tulisan yang ada di dalamnya, dan berkata, "Silakan mereka memu-suhi kami."

Rasulullah SAW., dan kaum muslimin tetap berada di dalam Madinah, sedang musuh mengepung mereka, namun perang tidak meledak di antara mereka. Beberapa tentara berkuda Quraisy, di antaranya Amr bin Abdu Wudd, Ikrimah bin Abu Jahal dari Bani Makhzum, Hubairah bin Abu Wahb dari bani Makhzum, dan Dhirar bin Khaththab bin Mirdas saudara Bani Muharits bin Fihr bersiap-siap untuk perang dan keluar dengan mengendarai kuda. Ketika mereka berjalan melewati kampung-kampung Bani Kinanah, mereka berkata, "Hai Bani Kinanah, bersiaplah kalian untuk perang, niscaya pada hari ini kalian akan tahu siapa sesungguhnya pasukan berkuda itu." Usai berkata seperti itu, orang-orang Quraisy tersebut berlari kencang dengan kuda-kuda mereka hingga tiba di parit. Ketika mereka melihat parit tersebut, mereka berkata, "Demi Allah, ini tipu-muslihat yang tidak pernah dibuat oleh orang-orang Arab."*

"Kemudian orang-orang Quraisy tersebut mencari tempat sempit di parit, memukul kuda-kuda mereka dan kuda-kuda mereka pun masuk ke tempat tersebut, kemudian berjalan di tanah as-sabkhah (tanah berair dan asin) di antara parit dan Sal'un. Pada saat yang sama, Ali bin Abi Thalib RA., bersama beberapa orang dari kaum muslimin keluar kemudian mem-persempit celah tempat masuknya orang-orang Quraisy. Penunggang-pe-nunggang kuda Quraisy berjalan cepat dengan kuda-kuda mereka ke tempat Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabatnya. Amr bin Abdu Wudd ikut hadir di Perang Badar hingga terluka berat dan tidak hadir di Perang Uhud. Pada Perang Khandaq, ia keluar dengan mengenakan tanda pengenal agar tempatnya mudah diketahui. Ketika kudanya berhenti, ia bekata, "Siapa yang siap perang tanding denganku.?" Ali bin Abi Thalib muncul kemudian berkata, "Hai Amr, sungguh engkau telah berjanji kepada Allah bahwa tidaklah salah seorang dari Quraisy mengajakmu kepada salah satu dari dua pilihan melainkan engkau mengambilnya." Amr bin Abdu Wudd menjawab, "Ya betul." Ali bin Abi Thalib berkata, "Aku mengajakmu kepada Allah, RasulNya, dan Islam." Amr bin Abdu Wudd menjawab, "Aku tidak butuh itu semua." Ali bin Abi Thalib berkata, "Kenapa begitu, wahai saudaraku? Demi Allah, aku tidak ingin membunuhmu." Ali bin Abi Thalib berkata, "Namun demi Allah, aku ingin membunuhmu." Amr bin Abdu Wudd menyambut tantangan Ali bin Abi Thalib. Ia turun dari atas kuda, kemudian menyembelih, memu-kul wajah kudanya, dan maju kepada Ali bin Abi Thalib. Keduanya ber-tempur hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil membunuh Amr bin Abdu Wudd, sedang kuda-kuda Quraisy lari pontang-panting menerobos parit."

Ketika itu, Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan tombaknya pada saat ia melarikan diri meninggalkan Amr bin Abdu Wudd."
Tentang peristiwa itu Hassan bin Tsabit berkata dalam syairnya:
"Ia melarikan diri dan meletakkan tombaknya untuk kami
Mudah-mudahan engkau hai Ikrimah tidak melakukannya
Engkau lari kabur seperti kaburnya burung unta ketika berpaling dari jalan
Engkau tidak membiarkan punggungmu jinak
Sepertinya dagumu adalah dagu biawak kecil."


"Kode sahabat-sahabat Rasulullah SAW., di perang Khandaq dan Perang Bani Quraizhah adalah, "Haamm miim, laa yunsharuun."

"Pada saat Rasulullah SAW., dan sahabat-sahabatnya berada dalam keta-kutan dan penderitaan yang luar biasa, karena persekutuan musuh untuk menghadapi mereka dan karena musuh-musuh mendatangi mereka dari atas dan bawah mereka."

"Datanglah Nu'aim bin Mas'ud ke tempat Rasulullah SAW., dan ber-kata, "Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam dan kaumku tidak me-ngetahui ke-Islamanku. Oleh karena itu, suruhlah aku apa saja yang engkau inginkan." Beliau bersabda, "engkau salah seorang dari kami. Oleh karena itu, pecahkan persatuan mereka dengan tipu-daya jika engkau mampu, karena perang adalah tipu-daya."

"Kemudian Nu'aim bin Mas'ud pergi ke Bani Quraizhah -ia sahabat mereka pada masa jahiliyah- kemudian berkata kepada mereka, "Hai Bani Quraizhah, kalian tahu kecintaanku kepada kalian dan kekhususan antara aku dengan kalian." Orang-orang Bani Quraizhah berkata, "Engkau benar. Engkau bukan orang patut dicurigai di tempat kami." Nu'aim bin Mas'ud berkata, "Sesungguhnya orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan tidak sama seperti kalian. Negeri ini negeri kalian. Di dalam-nya, terdapat kekayaan, anak-anak, dan wanita-wanita kalian. Kalian tidak bisa pindah ke negeri lainnya. Sesungguhnya orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan datang untuk memerangi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Anehnya kalian mendukung mereka, padahal negeri, kekayaan, dan wanita-wanita mereka tidak berada di negeri kalian. Jadi mereka tidak sama seperti kalian. Jika mereka mendapatkan kesempatan, mereka pasti mengambilnya. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka pulang ke negeri mereka dan meninggalkan kalian berhadapan dengan Muhammad di negeri kalian dan kalian tidak mempunyai kekuatan jika ia menyerang kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian memerangi Muham-mad bersama kaum tersebut hingga kalian mengambil gadai dari tokoh-tokoh mereka untuk menjadi jaminan di tangan kalian sehingga dengan demikian kalian dapat memerangi Muhammad dengan mereka hingga kalian berhasil mengalahkannya." Orang-orang Bani Quraizhah berkata, "Engkau telah memberikan pertimbangan yang baik."

"Kemudian Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat orang-orang Qu-raisy. Ia berkata kepada Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang Quraisy yang bersamanya, "Kalian tahu kecintaanku kepada kalian dan sikapku meninggalkan Muhammad. Aku menerima informasi dan berpendapat bahwa aku harus menyampaikan suatu nasihat untuk kalian, oleh karena itu, rahasiakan aku." Orang-orang Quraisy berkata, "Ya, itu akan kami kerjakan." Nu'aim bin Mas'ud berkata, "Kalian tahu bahwa semua orang-orang Yahudi telah menyesali perbuatan mereka terhadap Muhammad dan berkirim surat kepadanya yang isinya, "Kami menyesali apa yang telah kami perbuat. Oleh karena itu, apakah engkau ridha jika kami mengambil tokoh-tokoh dari Quraisy dan Ghathafan kemudian mereka kami serahkan kepadamu lalu engkau penggal kepala mereka. Setelah itu kita bersama-sama menghadapi sisa-sisa mereka hingga kita menghabisi mereka.?" Muhammad membalas surat mereka dengan berkata, "Ya." Jadi, jika orang-orang Yahudi datang kepada kalian untuk meminta gadai dari tokoh-tokoh kalian, jangan serahkan seorang pun dari kalian kepada mereka."

"Kemudian Nuaim bin Mas'ud pergi ke tempat orang-orang Gha-thafan dan berkata kepada mereka, 'Hai orang-orang Ghathafan, sesung-guhnya kalian adalah asal-usulku, keluargaku, manusia yang paling aku cintai, dan aku tidak melihat kalian mencurigaiku." Orang-orang Ghathafan menjawab, "Engkau berkata benar dan engkau bukanlah orang tertuduh di tempat kami." Nu'aim bin Mas'ud berkata, "Rahasiakanlah aku." Mereka menjawab, "Ya. Kami akan melakukannya." Setelah itu, Nu'aim bin Mas'ud berkata seperti yang ia katakan kepada orang-orang Quraisy dan menginggatkan mereka seperti yang ia ingatkan kepada orang-orang Quraisy."

"Pada malam Sabtu bulan Syawal tahun kelima Hijriyah di antara yang diperbuat Allah SWT., untuk Rasul-Nya bahwa Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Ghathafan mengirim Ikrimah bin Abu Jahal beserta beberapa orang dari Quraisy dan Ghathafan kepada Bani Quraizhah dan berkata kepada mereka, 'Kita tidak berada di negeri abadi. Unta dan kuda banyak yang tewas, oleh karena itu, mari kita berangkat perang hingga mengalahkan Muhammad dan kita selesaikan permasalahan antara kita dengannya.'"

"Kemudian orang-orang Yahudi mengirim delegasi kepada orang-orang Ghathafan dengan membawa pesan, 'Sesungguhnya hari ini hari Sabtu yaitu hari dimana kami tidak mengerjakan apa pun di dalamnya. Pernah ada sebagian dari kami melakukan sesuatu pada hari tersebut kemudian ia mendapatkan musibah seperti yang kalian ketahui. Kami tidak akan ikut bersama kalian memerangi Muhammad hingga kalian memberi kami gadai dari tokoh-tokoh kalian kemudian tokoh-tokoh tersebut berada di tempat kami sebagai jaminan untuk kami hingga kita bisa mengalahkan Muhammad, karena kita khawatir jika kita kalah di medan perang maka kalian pulang ke negeri kalian dan meninggalkan kami dan Muhammad di negeri kami sedang kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapinya.'"

"Ketika delegasi Quraisy dan Ghathafan pulang dengan membawa pesan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah, maka orang-orang Quraisy dan Ghathafan berkata, "Demi Allah, sesungguhnya apa yang dikatakan Nu'aim bin Mas'ud kepada kalian adalah benar, maka kirim utusan kepada Bani Quraizhah dengan membawa pesan bahwa demi Allah, kita tidak akan menyerahkan seorang pun tokoh-tokoh kami kepada kalian. Jika kalian ingin perang, keluarlah dan berperanglah." Ketika delegasi orang-orang Quraisy dan Ghathafan tiba di tempat orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dan menyampaikan pesan orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan, mereka berkata, "Sesungguhnya apa yang dikatakan Nu'aim bin Mas'ud kepada kalian adalah benar. Orang-orang Quraisy dan orang-orang Ghathafan tidak menginginkan apa-apa kecuali perang. Jika mereka mendapatkan peluang emas, mereka akan menggunakannya baik-baik. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka akan pulang ke negeri mereka dan membiarkan kalian dengan Muhammad di negeri kalian.'"

Lalu Bani Quraidhah mengutus utusan kepada Quraisy dan Ghatha-fan. Utusan itu mengatakan: "Demi Allah, kami tidak akan bersamamu memerangi Muhammad sampai kalian memberikan jaminan kepada kami, kaum Quraisy enggan memberikannya dan Allah memecah belah persatuan mereka, lalu Allah mengutus di malam yang gelap gulita angin yang sangat dingin dan kencang sehingga memporak-porandakan periuk-periuk mereka dan menerbangkan bejana-bejana mereka.

"Ketika Rasulullah SAW., mendengar konflik yang terjadi di pasukan sekutu dan bagaimana Allah memecah-belah persatuan mereka, beliau memanggil Hudzaifah bin Al-Yaman kemudian mengutusnya pergi kepa-da mereka untuk menyelidiki apa yang dikerjakan mereka di malam hari."

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka'ab Al-Quradhi yang berkata bahwa seseorang dari Kufah berkata kepada Hudzaifah bin Al-Yaman, "Hai Abu Abdullah, apakah engkau pernah melihat Rasulullah SAW., dan menemaninya?" Hudzaifah bin Al-Yaman menjawab, "Ya." Orang Kufah tersebut bertanya, "Apa yang engkau perbuat?." Hudzaifah bin Al-Yaman menjawab, "Demi Allah, dulu kami sangat menderita." Orang Kufah tersebut berkata, "Demi Allah, jika kami berjumpa dengan Rasulullah, kami tidak akan membiarkannya berjalan di atas permukaan bumi dan kami pasti memanggulnya di atas pundak-pundak kami." Hudzaifah bin Al-Yaman berkata, "Hai anak saudaraku, demi Allah, dulu kami bersama Rasulullah SAW., di Khandaq (parit). Beliau melakukan qiyamul lail kemudian menoleh kepada kami dan bersabda, "Siapa yang siap pergi kepada kaum tersebut (pasukan sekutu) untuk melihat apa yang mereka kerjakan kemudian ia pulang lagi kepada kita? Sebagai gantinya, aku meminta kepada Allah SWT., agar orang tersebut menjadi sahabat karibku di Surga." Beliau memberi syarat orang yang diutus tersebut harus kembali lagi. Tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang siap menunaikan tugas tersebut karena takut, lapar, dan udara sangat dingin. Karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang berdiri untuk menunaikan tugas tersebut, beliau memanggilku. Mau tidak mau aku harus menunaikan tugas tersebut ketika beliau memanggilku.

Beliau bersabda kepadaku, "Hai Hudzaifah, pergilah dan masuklah ke tempat mereka. Lihatlah apa yang sedang mereka kerjakan dan jangan melakukan perbuatan apa pun hingga engkau tiba di tempat kita." Aku pun berangkat kemudian masuk ke tempat kaum tersebut, sementara itu, angin dan tentara-tentara Allah beraksi kepada mereka hingga tidak ada periuk, api, dan kemah yang tetap utuh. Abu Sufyan bin Harb berkata, "Hai orang-orang Quraisy, hendaklah setiap orang melihat kepada orang yang ada di sebelahnya." Aku segera memegang tangan seseorang yang ada di sampingku dan bertanya kepadanya, Siapa engkau.?" Orang tersebut menjawab, "Aku Fulan bin Fulan."**

Setelah itu, Abu Sufyan bin Harb berkata, "Hai semua orang-orang Quraisy, demi Allah, kalian tidak berada di negeri yang layak untuk tinggal. Sungguh betis dan tapak kaki hewan telah kelelahan. Bani Quraizhah telah berkhianat dan kita mendengar sesuatu yang tidak kita sukai dari mereka. Kita juga mendapatkan serangan angin keras seperti yang kalian lihat. Periuk kita tidak ada yang utuh. Api tidak ada yang menyala. Dan kemah tidak ada yang tegak untuk kita. Oleh karena itu, pulanglah kalian, karena aku juga akan pulang." Usai berkata seperti itu, Abu Sufyan bin Harb berdiri menuju untanya yang masih terikat kemudian duduk di atasnya. Ia pukul untanya, kemudian untanya berdiri dengan tiga kaki. Demi Allah, Abu Sufyan bin Harb tidak melepaskan ikatan untanya melainkan ia berada di atasnya. Seandainya saja Rasulullah SAW., tidak membuat perjanjian denganku agar aku tidak mengerja-kan perbuatan apa pun hingga aku datang kepada beliau, aku pasti membunuhnya dengan panah jika aku mau.

Setelah itu, aku pulang menghadap Rasulullah SAW., yang ketika itu sedang berdiri shalat dengan mengenakan pakaian dari bulu milik salah satu istrinya. Ketika beliau melihat kedatanganku, beliau menyuruhku masuk ke kedua kakinya dan menyodorkan ujung pakaian bulunya kepadaku. Setelah itu, beliau kembali sujud dan aku berada di dalam pakaian itu. Sesudah beliau salam, aku laporkan apa yang aku lihat kepada beliau.

Orang-orang Ghathafan mendengar apa yang dialami orang-orang Quraisy, kemudian mereka pulang kembali ke negeri mereka."


* Ibnu Hisyam berkata: Yang mengajukan usulan pembuatan parit itu kepada Rasulullah adalah Salman Al-Farisi.

** Dalam kitab Syarah Mawaahib disebutkan: "Aku pun menggenggam tangan orang yang berada di sebelah kiriku dan bertanya kepadanya: "Siapa Anda?" Ia menjawab: "Mu'awiyah bin Abi Sufyan" Kemudian aku menggenggam orang yang berada di sebelah kananku dan bertanya kepadanya: "Siapa Anda?" Ia menjawab: "Amru bin Al-Ash".

Hit : 1 | Index Tarikh | Beritahu Teman | Versi cetak | Bagikan

| Index Sirah Nabawiyah

 
   
Statistik Situs
Kamis,24-4-2014 M 24:22:58 
Hijri: 23 Jum.Tsaniyah 1435 H
Hits ...: 104094481
Online : 39 users

Pencarian

cari di  

 

Iklan















Jajak Pendapat
Rubrik apa yang paling anda sukai di situs ini ?

Analisa
Buletin
Fatwa
Kajian
Khutbah
Kisah
Konsultasi
Nama Islami
Quran
Tarikh
Tokoh
Doa
Hadits
Mu'jizat
Sakinah
Akidah
Fiqih
Sastra
Resensi
Dunia Islam
Berita Kegiatan
Kaset
Kegiatan
Materi KIT
Firqah
Ekonomi Islam
Senyum
Download


Hasil Jajak Pendapat

Mutiara Hikmah

Imam Syafi-i berkata, Bersabaralah terhadap berbagai musibah dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari neraka dengan bertakwa. (Manaqib Imam Syafi'i)

( Index Mutiara )


Fiqh Wanita

Benarkah Kaum Wanita Tidak Boleh Masuk Masjid Karena Mereka Adalah Najis

Jika Mendapat Kesucian Setelah Shubuh

Haid Datang Beberapa Saat Sebelum Matahari Terbenam

Merasa Ada Darah Tapi Belum Keluar Sebelum Matahari Terbenam

Hukum Wanita Yang Mandi Setelah Jima', Kemudian Keluar Cairan Dari Kemaluannya

Hukum Orang Yang Kentut Terus Menerus.

Shalat Dengan Pakaian Terkena Najis

Hukum Orang Haidh Berdiam di Masjid

Hukum air kencing anak yang mengenai pakaian wanita

Menggunakan air laut untuk berwudlu

Hukum Operasi Cesar

Menyentuh wanita dalam keadaan berwudhu'

Menyentuh wanita asing(selain isteri) dalam keadaan berwudhu'

Hukum membawa Mushaf ke dalam WC

Bersuci dari Air Kencing Bayi

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Kutek

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Inai (Pacar)

Hukum Wudhunya Wanita yang Tidak Menghilangkan Kutek

Membasuh Kepala Bagi Wanita

Hukum Mengusap Rambut yang Disanggul (dikepang)

Sifat Mandi Junub dan Perbedaan dengan Mandi Haidh

Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haidh

Haruskah Meresapkan Air ke Dalam Kulit Kepala Dalam Mandi Junub?

Samakah Wanita yang Memiliki Rambut Panjang yang Tidak Digulung dengan yang Digulung

Hukum Mengusap Kain Penutup Kepala Saat Mandi Junub

Haruskah Dua Kali Bersuci Karena Dua Hadats

Wajib Mandikah Wanita Yang Bermimpi (Mimpi Basah)

Jika Seorang Wanita Bermimpi dan Mengeluarkan Cairan yang Tidak Mengenai Pakaiannya, Apakah Ia Wajib Mandi

Wajib Mandikah Bila Keluarnya Mani Karena Syahwat Tanpa Bersetubuh

Berdosakah Seorang Wanita yang Mimpi Bersetubuh Dengan Seorang Pria

Wajib Mandikah Jika Seorang Wanita Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya atau Jika Seorang Dokter Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya

Jika Seorang Ragu Tentang Junubnya

Bolehkah Menunda Mandi Wajib Hingga Terbit Fajar

Bolehkah Orang yang Junub Tidur Sebelum Berwudhu

Mandi Junub Merangkap Mandi Jum'at, atau Merangkap Mandi Haidh dan Mandi Nifas

Apakah Penggunaan Inai Pada Masa Haidh Akan Mempengaruhi Sahnya Mandi Setelah Masa Haidh?

Apakah Tubuh Orang yang Sedang Junub Itu Najis Sebelum Ia Mandi Junub

Masa di Mana Para Wanita yang Sedang Nifas Tidak Boleh Melaksanakan Shalat

Pendapat yang Kuat Tentang Masa Nifas

Nifas, Suci Sebelum Empat Puluh Hari Lalu Berpuasa

Apakah Wanita Nifas yang Suci Sebelum Genap Empat Puluh Hari Tetap Wajib Melaksanakan Ibadah

Nifas, Jika Darah Terus Mengalir Setelah Empat Puluh Hari

Darah Nifas Berhenti Sebelum Empat Puluh Hari, Apakah Hal Ini Membolehkan Shalat Walaupun Darah Itu Kembali Lagi Pada Hari Keempat Puluh

Apakah Masa Nifas Itu Dapat Lebih dari Empat Puluh Hari?

Tidak Mengeluarkan Darah Setelah Melahirkan, Bolehkah Suaminya Mencampurinya?

Jika Wanita Hamil Keluar Darah Banyak Tapi Bayi yang Dikandungnya Tidak Keluar ( Keguguran )

Bila Seorang Wanita Hamil Mengalami Goncangan Namun Ia Tidak Tahu Apakah Kandungannya Keguguran atau Tidak, Dalam Keadaan Ia Mengalami Haidh

Hukum Darah yang Menyertai Keguguran Prematur Sebelum Sempurnanya Bentuk Janin dan Setelah Sempurnanya Janin

Hukum Darah yang Mengalir Terus Menerus Dalam Waktu yang Lama Setelah Keguguran

Keguguran Pada Umur Tiga Bulan Kehamilan, Apakah Tetap Wajib Shalat

Hukum Darah yang Keluar Setelah Keluarnya Janin ( Keguguran )

Keguguran Sebelum dan Setelah Terbentuknya Janin

Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran

Keguguran Pada Bulan Ketiga dari Masa Kehamilan, Kemudian Setelah Lima Hari Melaksanakan Puasa dan Shalat

Wajibkah Puasa dan Shalat Bagi Wanita yang Mengalami Keguguran

Kapankah Darah Keguguran Prematur Dianggap Darah Nifas

Mengeluarkan Darah Lebih dari Tiga Hari Sebelum Persalinan

Mengeluarkan Darah Lima Hari Sebelum Datangnya Masa Nifas

Mengeluarkan Darah Satu atau Dua Hari Sebelum Persalinan

Kewajiban Wanita Nifas Pada Akhir Masa Nifas

Darah Nifas Mengalir Kembali Setelah Empat Puluh Hari

Hukum Darah Nifas yang Keluar Lagi

Hal-hal yang Mewajibkan Mandi

Hukum Berhadats Kecil Dan Menyentuh Mushaf

Mencium Istri Tidak Membatalkan Wudhu

Darah Nifas Berhenti Kemudian Kembali Lagi Setelah Empat Puluh Hari

Yang Dibolehkan Bagi Suami Terhadap Istrinya yang Sedang Nifas

Apakah Disyaratkan Empat Puluh Hari untuk Dibolehkannya Mencampuri Istri Setelah Melahirkan

Hukum Membaca Al-Quran Tanpa Wudhu

Boleh Menyentuh Kaset Rekaman Al-Quran Bagi Yang Sedang Junub

Bersetubuh Setelah Tiga Puluh Hari Melahirkan

Darah yang Keluar dari Wanita yang Melahirkan Melalui Operasi

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Cara Shalat Wanita yang Terus Mengeluarkan Darah

Seorang Wanita Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Darah, Lalu Beberapa Hari Kemudian Ia Mengeluarkan Da-rah Haidh yang Sebenarnya

Setelah Operasi dan Sebelum Masa Haidh Mengeluarkan Darah Hitam, Kemudian Setelah Itu Masa Haidh Datang

Seorang Wanita Telah Berhenti Masa Haidhnya Karena Usianya yang Sudah Lanjut Kemudian Dalam Suatu Perjalanan Ia Mengeluarkan Darah Terus Menerus

Wanita Mengeluarkan Darah yang Bukan Darah Haidh dan Bukan Pula Darah Nifas

Setelah Bersuci dari Haidh yang Biasanya Selama Sem-bilan atau Sepuluh Hari, Keluar Lagi Darah Pada Waktu-waktu yang Tidak Tentu

Di Bulan Ramadhan Mengeluarkan Darah Sedikit yang Terus Berlanjut Sepanjang Bulan

Setelah Nifas Mengeluarkan Darah Sedikit yang Bukan di Masa Haidh

Cara Bersucinya Wanita Mustahadhah

Perbedaan Antara Darah Haidh dan Darah Istihadhah

Penjelasan Tentang Cairan Berwarna Kuning dan Cairan Keruh Serta Hukumnya, Juga Tentang Cairan Putih (Keputihan)

Penggunaan Pil-pil Pencegah Kehamilan Mengakibatkan Timbulnya Cairan Keruh yang Merusak Haidh

Mengeluarkan Cairan Keruh Sehari atau Dua Hari Sebelum Datangnya Masa Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar Sehari atau Dua Hari Sebelum Masa Haidh

Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Cairan Keruh Sebelum Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Setelah Suci

Mengeluarkan Tetasan Bening yang Berwarna Agak Kuning di Luar Waktu Haidh

Apakah Cairan yang Keluar dari Wanita Itu Najis dan Membatalkan Wudhu

Hukum Orang yang Yakin Bahwa Cairan-cairan Itu Tidak Membatalkan Wudhu

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Bolehkah Ia Melakukan Shalat Sunat dan Membaca Al-Qur'an

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Tapi Kemudian Setelah Berwudhu Itu dan Sebelum Shalat Cairan Itu Keluar Lagi

Bolehkah Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan Melakukan Shalat Dhuha Dengan Wudhu Shalat Shubuh

Bolehkah Melakukan Shalat Tahajud Dengan Wudhu Shalat Isya Bagi Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Cukupkah Membasuh Anggota Wudhu Bagi Wanita Yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Bagaimana Hukumnya Jika Cairan Itu Mengenai Bagian Tubuh

Tidak Berwudhu Saat Mengeluarkan Cairan Itu Karena Tidak Tahu

Mengapa Tidak Ada Riwayat dari Rasulullah SAW yang Menyatakan Bahwa Cairan yang Keluar dari Wanita Dapat Membatalkan Wudhu, Sementara Para Shahabiyah Sangat Menjaga Cairan yang Keluar ?

Apa Betul Syaikh Ibnu Utsaimin Berpendapat Bahwa Cairan Tidak Membatalkan Wudhu ?

Mengeluarkan Cairan Setelah Mandi Junub dan Setelah Bangun Tidur

Wanita Hamil Mengeluarkan Cairan Sejak Satu Bulan

Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Perawan dan Janda Tanpa Mimpi

Keluarnya Mani Beserta Air Kencing Kemudian Setelah Itu Keluar Mani Tanpa Syahwat

Saya Mengeluarkan Cairan Putih dan Terkadang Cairan Itu Keluar Ketika Saya Sedang Shalat

Hukum Cairan yang Keluar Setetes Demi Setetes

Hukum Membaca Kitab Tafsir Bagi Wanita Haidh

Bagaimana Shalat Orang Yang Mengidap Penyakit Kencing Netes?

Hukum Kencing Berdiri

Panas Matahari Tidak Menghilangkan Najis

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Doa Membasuh Muka Pada Saat Berwudhu.

Doa Mandi Junub

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Hukum Mimpi (junub) Namun Tidak Keluar Mani


Senyum
Tes Kecerdasan !
Jawablah pertanyaan dibawah ini tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu !

Pertanyaan pertama: jika anda sedang mengikuti lomba lari, kamudian anda bisa mendahului pelari yang kedua, maka pada urutan berapakah anda sekarang?????

Jawaban !
jika anda menjawab bahwa anda diurutan pertama
Maka jawaban anda salah
Sebab jika anda mendahului pelari kedua maka anda hanya menggantikan posisinya diurutan kedua tidak menggantikan posisi pelari urutan pertama.

Sekarang soal kedua: tapi jawablah dengan cepat gak pake lama, oke ?

Pertanyaan: jika anda mendahului pelari terakhir, maka anda diurutan ????

Jawaban:
Jika jawaban anda adalah terakhir atau sebelum akhir, maka jawaban anda salah

Karena bagaimana mungkin anda mendahului pelari terakhir padahal yang terakhir itu adalah anda !!!?


Kajian Ramadhan

Menyambut Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan

Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan...!

Panduan Ringkas Puasa Ramadhan

Hikmah dan Manfa'at Puasa

Qiyam Ramadhan

Adab Shalat Tarawih Bagi Wanita

Nuzulul Qur'an Sebagai Peringatan atau Pelajaran

I'tikaf Hukum dan Keutamaanya

Menggapai Lailatul Qadar

Ramadhan Bersama al-Qur'an

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (1)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (2)

Zakat Fitrah

Kebahagiaan Bersama Iedul Fithri

Ramadhan Telah Berlalu

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

Waspada Terhadap Hadits-Hadits Dha'if (Lemah) Seputar Ramadhan

 
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info@alsofwah.or.id | website: www.alsofwah.or.id | Member Info Al-Sofwa
Artikel yang dimuat di situs ini boleh dicopy & diperbanyak dengan syarat mencantumkan sumber: http://alsofwah.or.id serta tidak untuk komersil.