| Konsultasi | Bulletin | Do'a | Fatwa | Hadits | Khutbah | Kisah | Mu'jizat | Qur'an | Sakinah | Tarikh | Tokoh | Aqidah | Fiqih | Sastra | Resensi |
| Dunia Islam | Berita Kegiatan | Kajian | Kaset | Kegiatan | Materi KIT | Firqah | Ekonomi Islam | Analisa | Senyum | Download |
 
Menu Utama
·Home
·Tentang Kami
·Buku Tamu
·Produk Kami
·Formulir
·Jadwal Shalat
·Kontak Kami
·Download Artikel
·Download Murattal

Aqidah
· Termasuk Kesyirikan atau Termasuk Sarana Kesyirikan (1)
· Menghina Sesuatu yang Mengandung Dzikrullah

Firqah (Aliran-aliran)
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 5
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 4

Analisa
· Kerancauan Ilmu Hisab Dalam Penentuan Awal & Akhir Ramadhan
· Studi Kritis Seputar Puasa Hari Sabtu

Ekonomi Islam
· KPR Bank Syariah Ternyata Penuh Dengan Riba
· Produk Al-Mudharabah (Bagi Hasil) Dalam Islam Sebagai Solusi Perekonomian Islam

Produk Kami

Informasi!
·Serial Buku Dakwah Al-Sofwa 2021
·Tebar Serial Buku Tauhid
·Tebar Buku Risalah Puasa Nabi dan Panduan Praktis Ramadhan

Liputan Kegiatan
·Konsultasi Islam
·Penyaluran Hewan Qurban
·Santunan Yatim

Konsultasi Online

Ust.Husnul Yaqin, Lc

Ust.Amar Abdullah

Ust.Saed As-Saedy, Lc

Fatwa Seputar Sholat

Berangkatnya Wanita Muslimah ke Masjid

Apa Hukum Shalat Wanita di Masjid

Haruskah Wanita Melaksanakan Shalat Lima Waktu di Dalam Masjid

Wanita di Rumah Berma'mum Kepada Imam di Masjid

Apakah Shalatnya Seorang Wanita di rumah Lebih Utama Ataukah di Masjidil Haram

Manakah yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Melaksanakan Shalat di Masjidil Haram atau di Rumah

Shalatnya Kaum Wanita yang Sedang Umrah di Bulan Ramadhan

Apakah Shalat Seseorang di Masjidil Haram Bisa Batal Ketika Ia Ikut Berjama'ah Dengan Imam atau Shalat Sendirian Karena Ada Wanita yang Melintas di Hadapannya?

Bila Terdapat Pembatas (Tabir) Antara Kaum Pria dan Kaum Wanita, Maka Masih Berlakukah Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam (sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan)

Apakah Kaum Wanita Harus Meluruskan Shafnya Dalam Shalat

Benarkah Shaf yang Paling Utama Bagi Wanita Dalam Shalat Adalah Shaf yang Paling Belakang

Benarkah Shalat Jum'at Sebagai Pengganti Shalat Zhuhur

Hukum Shalat Jum'at Bagi Wanita

Hanya Membaca Surat Al-Ikhlas

Hukum Meninggalkan Shalat

Hukum Menangis Dalam Shalat Jama'ah

Jika seorang musafir masuk masjid di saat orang sedang shalat jama'ah Isya' dan ia belum shalat maghrib.

Bolehkah bagi kaum wanita untuk berkunjung ke rumah orang yang sedang terkena musibah kematian, kemudian melakukan shalat jenazah berjama'ah dirumah tersebut ?

Apabila seseorang tidak melakukan shalat fardlu selama 3 tahun tanpa uzur, kemudian bertaubat , apakah dia harus mengqodha shalat tersebut ?

Apabila suatu jama'ah melakukan shalat tidak menghadap qiblah, bagaimanakah hukumnya ?

Membangunkan Tamu Untuk Shalat Shubuh

Doa-Doa Menjelang Azan Shubuh

Bacaan Sebelum Imam Naik Mimbar Pada Hari Jum'at

Shalat Tasbih

Hukum Wirid Secara Jama'ah/Bersama-sama Setelah Setiap Shalat Fardhu

Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit

Jika Telah Suci Saat Shalat Ashar atau Isya, Apakah Wajib Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Maghrib

Jika Wanita Mendapatkan Kesuciannya di waktu Ashar Apakah Ia Harus Melaksanakan Shalat Zhuhur

Mendapatkan Haidh Beberapa Saat Setelah Masuk Waktu Shalat, Wajibkah Mengqadha Shalat Tersebut Setelah Suci

Urutan Shalat yang Diqadha

Seorang Wanita Mendapatkan Kesuciannya Beberapa Saat Sebelum Terbenamnya Matahari, Wajibkah Ia Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Ashar?

Keutamaan Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama'ah

Berkumpulnya Wanita Untuk Shalat Tarawih

Bolehkah Seorang Wanita Shalat Sendiri dibelakang Shaf

Bolehkah kaum Wanita Menetapkan Seorang Wanita Untuk Mengimami Mereka Dalam Melakukan Shalat di Bulan Ramadhan

Wajibkah Kaum Wanita Melaksanakan Shalat Berjama'ah di Rumah

Apa hukum Shalat Berjama'ah Bagi Kaum Wanita

Apakah Ada Niat Khusus Bagi Imam Yg Mengimami Shalat Kaum Pria & Wanita

Shalatnya Piket Penjaga ( Satpam )

Gerakan Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Jama’ah

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Hukum Meremehkan Shalat

Hukum Menangguhkan Shalat Subuh Dari Waktunya

Dampak Hukum Bagi yang Meninggalkan Shalat

Hukum Shalat Seorang Imam Tanpa Wudhu Karena Lupa

Hukum Orang yang Tayammum Menjadi Imam Para Makmum yang Berwudhu

Posisi Kedua Kaki Ketika Berdiri Dalam Shalat

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat

Jika Ketika Shalat Ragu Apakah Ia Meninggalkan Salah Satu Rukun

Shalat Bersama Imam, Tapi Lupa Berapa Rakaat Yang Telah Dikerjakan

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Menulis Tamimah Untuk Orang Lain

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Berinteraksi Dengan Tamimah dan Sihir

Mengumumkan Barang Hilang Di Dalam Masjid, Bolehkah?

Seputar Posisi Makam Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Di Masjid Nabawi

Shalatnya Penjaga Piket/Satpam

Hukum Membaca Al-Qur'an Dalam Shalat Secara Berurutan

Haruskah Imam Menunggu Makmum Masbuk Ketika Ruku

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Transparan

Hukum Pergi Ke Masjid Yang Jauh Agar Bisa Shalat Di Belakang Imam Yang Bagus Bacaannya

Sahkah Shalat Di Belakang Imam Yang Bacaanya Tidak Bagus?

HUKUM BACAAN AL-QUR'AN SEBELUM ADZAN JUM'AT

Meluruskan Barisan Hukumnya Sunat

Shalatnya Piket Penjaga / Satpam

Shalat Fardhu Berma’mum Kepada Orang Yang Shalat Sunnat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Berjama'ah

Bacaan Al-Qur’an Dengan Pengeras Suara Sebelum Shalat Subuh

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Imam Menunggu Para Ma’mum Ketika Ruku’

Mendengar Adzan Tetapi Tidak Datang Ke Masjid

Menempatkan Dupa Di Depan Orang-Orang Yang Sedang Shalat

Kapan Dibacakannya Do’a Istikharah

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Bergambar

TATA CARA SHALAT DI PESAWAT

Menjama’ Shalat Dalam Kondisi Dingin

Menghadap Kiblat Ketika Buang Air

Hukum Shalat Bergeser Dari Arah Kiblat

Mendapatkan Najis Di Pakaian Setelah Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburan Di Dalamnya?

Doa Atau Dzikir Sebelum Adzan

Hukum Membaca Shalawat Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Secara Berjama’ah Di Setiap Akhir Shalat

Mana Yang Harus Didahulukan Mendengarkan Ta'lim Atau Tahiyatul Masjid?

Hukum Menahan Buang Angin Ketika Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Seseorang Yang Terbuka Sebagian Kecil Dari Auratnya?

Beberapa Masalah Mengenai Sujud Syukur

Hukum Mengakhirkan Shalat Shubuh Hingga Terbit Matahari

Beberapa Masalah Tentang Shalat Jum'at Bagi Musafir

Aurat Terbuka Ketika Shalat

Wajibkah Mengqadha Puasa yang Tertinggal?

Do'a Qunut

Sunnah Sebelum Melaksanakan Shalat 'Ied

Membaca al-Qur'an di Rumah Selepas Shalat Subuh Sampai Terbit Matahari

Shalat Dua Rekaat Antara Adzan dan Iqamah

Shalatnya Piket Penjaga/Satpam

Gerakan dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia di Dalam Shalat

Kacaunya Pikiran Ketika Shalat

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Hukum Menangguhkan Shalat Shubuh dari Waktunya

Hukum Meremehkan Shalat

Bersalaman (Berjabat tangan) setelah shalat

Shalat dengan Mengenakan Pakaian Transparan

Shalat Fardhu Bermakmum Kepada Orang yang Shalat Sunnah

Hukum Mengambil Mushaf dari Masjid, Memanjangkan Punggung Ketika Sujud dan Melakukan Gerakan Sia-Sia di Dalam Shalat

Masbuq Pada Saat Tahiyat Akhir

Tata Cara Melaksanakan Shalat di Dalam Pesawat

Shalat Di Dalam Pesawat

Imam Menunggu Para Makmum Ketika Rukuk

Hikmah Dimasukkannya Kuburan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Ke Dalam Masjid

Hukum Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya 1

Hukum Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburannya 2

Mendengar Adzan Tapi Tidak Datang ke Masjid

Hukum Menyepelekan Shalat Berjamaah

Waktu Mustajab pada Hari Jum'at

Memakan Bawang Putih Atau Bawang Merah Sebelum Shalat

Hukum Memakan Kuras (Daun Bawang), Bawang Putih atau Bawang Merah dan Datang ke Masjid

Kapan Dibacakannya Doa Istikharah

Shalat di Waktu Terlarang

Merubah Nada Suara Saat Doa Qunut

Merubah Nada Suara Saat Doa Qunut

Hukum Pergi ke Masjid yang Jauh Agar Bisa Shalat di Belakang Imam yang Bagus Bacaannya

Shalat Tarawih

Pembacaan al-Qur`an pada Hari Jum'at dan Bacaan-Bacaan Lainnya Sebelum Shubuh dengan Pengeras Suara

Memberi Kode kepada Imam Agar Menunggu

Berpindah Tempat untuk Melakukan Shalat Sunnah

Menempatkan Dupa di Depan Orang-Orang yang Shalat

Shalat Seorang Wanita Berjama’ah dengan Suaminya

Standar Panjang dan Pendeknya Shalat adalah Sunnah, Bukan Selera

Batasan Medapatkan Keutamaan Berjama’ah

Meluruskan Barisan Hukumnya Sunnah

Bermakmum kepada Orang yang Mencukur Jenggot dan Musbil

Memanjangkan Doa

Memanjangkan Doa

Berganti-ganti dalam Bermakmum

Menirukan Bacaan Orang Lain dalam Shalat Tarawih

Shalat Jamaah dan Mengakhirkan Shalat

Shalat jamaah dan mengakhirkan shalat

Shalat dengan Mengenakan Pakaian Bergambar

Musafir Selama Dua Tahun, Apakah Boleh Mengqashar Shalat?

Tergesa-Gesa untuk Shalat

Duduk Istirahat Tidak Wajib

Bermakmum kepada Orang yang Sedang Shalat Sendirian

Tidak Sah Shalat Sendirian di Belakang Shaf

Shalat Jahr dan Adzan Bagi yang Shalat Sendirian

Shalat Jamaah dan Mengakhirkan Shalat

Pembatas Di Depan Orang Yang Shalat

Mengikuti Dan Mendahului Imam

Mengikuti Dan Mendahului Imam

Bel Pintu Rumah Berbunyi Ketika Sedang Shalat

Bagusnya Suara Imam Memotivasi Para Makmum

Imam Tidak Bagus Bacaannya

Makmum yang Masbuq Berarti Shalat Sendirian Setelah Imam Salam, maka Tidak Boleh Membiarkan Orang Lain Lewat Di Depannya

Mengurutkan Surat dalam Membaca al-Qur`an

Melakukan yang Makruh dan Hukum Pelakunya

Shalat Berjamaah di Dalam Bangunan yang Terpisah dari Imam

Meninggalkan Shalat dengan Alasan yang Dibuat-Buat


Info Khusus

Cinta Rasul

Ada Apa Dengan Valentine's Day ?

Manisnya Iman

Hukum Merayakan Hari Valentine

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab?

Asyura' Dalam Perspektif Islam, Syi'ah & Kejawen..!!

Ada Apa Dengan Valentine’s Day?


Kajian Islam
· Ada Apa Dengan Valentine's Day..??
· Mutiara Fiqih Islam
· KITAB TAUHID 3
· Untuk Diketahui Setiap Muslim

SMS Dakwah Hari Ini

áóíúÓó ßóãöËúáöåö ÔóíúÁñ æóåõæó ÇáÓóøãöíÚõ ÇáúÈóÕöíÑõ Allah berfirman,yang artinya, Tidak ada yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS.Asy-Syura:11)

( Index SMS Dakwah )

   


Telah Hadir & Terbit Kembali… SERIAL BUKU DAKWAH AL-SOFWA :: Telah Hadir & Terbit Kembali… SERIAL BUKU TAUHID :: Tebar Buku Risalah Puasa & Panduan Praktis Bulan Ramadhan ::


Bagaimana Kita Mengobati Realita Yang Menyakitkan

Sebagian orang bertanya, “Solusi apa yang bisa mengeluarkan dunia Islam dan orang-orang Muslim dewasa ini dari penindasan dan tekanan musuh dari berbagai segi? Apakah termasuk solusi dengan mengkafirkan orang-orang, pemerintah, dan hijrah dari masyarakat? Apakah solusinya mengadakan kudeta terhadap pemerintahan? Apakah termasuk sebuah solusi mengadakan peledakan, pembantaian, dan yang semacamnya? Apakah solusinya kembali pada Kitabullah dan as-Sunnah, serta mengikuti pemahaman orang-orang salaf dan mendidik manusia sesuai aturan agama Islam yang benar?

Untuk mengetahui jawaban yang benar dan jelas, kita harus kembali pada para ulama kita. Kita ajukan kepada mereka persoalan-persoalan. Kemudian, kita mengambil jawaban yang memuaskan dari mereka. Insya Allah hal itu akan menjadi obat bagi kondisi yang di derita umat Islam.

Syaikh al-Albani seorang ahli hadits terkemuka ditanya (Ket : Dikutip dari kaset no 760. Rekaman pada majlis telah sempurna pada tanggal 26/10/1413 H/1993M yang kemudian di cetak dalam kitab Fatawa Syaikh al-Albani dan Perbandingan Fatwa Ulama oleh Ukasyah Abdul Manan hal. 219, 236.), “ Syaikh, mengetahui bahwa dewasa ini kondisi umat Islam diperangi di berbagai pelosok, sedangkan tidak ada perhatian dari pemerintah. Maka apa yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini? Apakah kita akan berdosa jika hanya duduk bersenang-senang tanpa melakukan apa-apa?”

Beliau menjawab, “Pertanyaan dilihat dari zahir dan kalimatnya, sepertinya sangat sedikit daripada maksud terkandung di dalamnya. Ketika ia berkata, ‘Kita duduk dan tidak melakukan apa-apa’, Ini artinya (sesuatu tertentu) bukan (apa-apa sama sekali). Ini artinya sesuatu yang tertentu, karena tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa seorang Muslim harus hidup seperti hewan ternak,, tidak melakukan apa pun, karena ia diciptakan untuk maksud yang agung sekali, yaitu beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya. Karena itu, tidakkah dipahami oleh seseorang, seperti pertanyaan ini bahwa ia bermaksud tak melakukan apa-apa, akan tetapi ia bermaksud: tak melakukan suatu perbuatan yang sesuai dengan realita ini, yang mana orang-orang Muslim terkuasai dari berbagai segi. Inilah zahir dari maksud penanya, bukan yang dikata-kan penanya.”

Atas pertanyaan tersebut, kami menjawab, “Kondisi orang-orang Muslim pada saat ini tidak jauh berbeda, baik sedikit ataupun banyak, dengan keadaan dakwah Islam pada periode pertama, yaitu periode Mekkah (Ket : Al-Albani berkata, “Realita Muslimin sekarang lebih buruk daripada orang Arab dalam memahami kalimat Lailaha Illallah, karena orang Arab memahaminya namun tidak meng-imaninya. Adapun orang Muslim sekarang mereka mengatakannya namun tidak meya-kininya, mereka mengatakan Lailaha Illalllah sedangkan mereka menolak terhadap maknanya” dikutip dari kaset ke 157. Ditranskip ke dalam kitab Fatwa- fatwa al-Bani dan perbandingan fatwa para ulama oleh Ukasyah Abdulmanan hal. 539- 554.) Kita tahu bahwa berjalannya dakwah pada saat itu (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam menjalankan dakwahnya mendapat tentangan dari kaum yang beliau sendiri diutus kepadanya, seperti diterangkan dalam al-Qur’an. Kemudian, tatkala dakwah tersebar dan meluas ke daerah-daerah antara suku-suku bangsa Arab, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah. Setelah Nabi Hijrah dan diikuti sebagian shahabatnya, mulailah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berniat mendirikan negara Islam di Madinah al-Munawwarah. Bersamaan dengan hal itu juga, mulailah muncul musuh-musuh baru terhadap dakwah, yang mana dakwah mendekati tempat kaum nasrani yaitu Rum (Romawi) yang pada saat itu dibawah penguasaan Heraclius. Muncullah di sana musuh baru terhadap dakwah yang bukan hanya dari Arab yang ada di jazirah Arab, akan tetapi dari nasrani, sebelah utara jazirah Arab.

Kemudian muncul musuh lain, yaitu persia, maka jadilah dakwah Islam ditentang (diperangi) dari setiap arah:

  • Dari orang-orang musyrik di jazirah Arab.

  • Dari orang-orang nasrani dan yahudi di sebagian penjuru jazirah Arab.

  • Dari Farsi (Persia) yang berseteru dengan orang-orang nasrani, seperti disinyalir dalam firman Allah Ta’ala, “Telah dikalahkan bangsa Romawi di negerinya yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi” (ar-Ruum: 1-4)

Kesamaannya adalah kita tidak heran menyaksikan kondisi dakwah Islam sekarang yang mendapat tentangan (diperangi) dari beberapa sisi karena dakwah pada periode pertama juga diperangi dari setiap arah.

Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan, apa yang mesti kita kerjakan?

Apa tindakan Nabi shallallahu ‘alihi wasallam dan para sahabatnya yang pada waktu itu jumlah mereka sedikit bila dibandingkan dengan jumlah orang-orang Muslim sekarang? Apakah pada periode awal dakwah, orang-orang Muslim memerangi para pembangkang Arab? Apakah pada periode pertama dakwah orang-orang muslim memerangi kaum nasrani? Apakah orang-orang Muslim memerangi bangsa Persia?

Jawabnya, “Tidak, mereka tidak memerangi.”

Kalau demikian, apa tindakan orang-orang Muslim?

Kita sekarang harus melakukan apa yang dilakukan orang-orang Muslim pada periode pertama, karena yang menimpa kita sama dengan yang menimpa mereka, apa yang menjadi solusi terhadap apa yang menimpa mereka harus menjadi solusi terhadap yang menimpa kita.

Saya kira pendahuluan ini memberi isyarat untuk jawaban dan saya akan memperkuat isyarat itu dengan ungkapan yang jelas.

Maka saya katakan bahwa kesinambungan sejarah ini dimulai dalam satu kondisi bahwa Allah Ta’ala menolong orang-orang Mukmin pada periode pertama yang jumlahnya sangat sedikit bila dibandingkan dengan orang kafir dan orang-orang musyrik dari setiap aliran mereka. Sesungguhnya Allah menolong mereka karena keimannya.

Dengan demikian, pada saat itu solusi atau obat untuk menghadapi penentang dakwah sama dengan solusi dan obat yang sepantasnya digunakan oleh orang-orang Muslim dewasa ini, yaitu berupaya untuk mewujudkan realisasi solusi ini seperti telah diwujudkan oleh periode pertama. Persoalannya sama seperti yang dikatakan sejarah dapat terulang juga. Saya berkata bahwa sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepada hamba-Nya dan alam semesta yang telah diciptakannya dengan sebaik-baiknya ciptaan, dan telah mengaturnya dengan sebaik-baiknya aturan. Hal itu semua merupakan sunnah yang tidak akan berubah dan berganti-ganti, firman Allah Ta’ala yang artinya, “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah dan sekali-kali kamu tidak akan (pula) menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (Fathir: 43)

Ini adalah sunnah Allah yang sepantasnya setiap Muslim memperhatikan dan menjaga sebenar-benarnya, khususnya mengenai sunnah syar’iyyah dan sunnah kauniyah, bahkan sekarang dikatakan ada sunnah thab’iyyah.

Sunnah kauniyah dan thab’iyyah, orang kafir dan orang Muslim, orang baik dan orang durhaka, bersama dapat mengetahuinya, seperti badaniyah manusia, makan, minum, udara yang bersih dan selain itu. Kalau manusia tidak makan, tidak minum, dan tidak menghirup udara segar, berarti ia telah mencampakkan dirinya pada kematian, mati dengan sebab materi.

Apakah mungkin dapat hidup jika tidak menggunakan sunnah kauniyah? Jawabannya, tidak mungkin, itu adalah sunnah Allah, “Sekali-kali kamu tidak akan pula menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (Fathir: 43)

Seperti saya katakan tadi, setiap manusia dapat mengetahuinya lewat pengetahuan dan eksperimen, baik Muslim, kafir, saleh, maupun durhaka. Yang penting buat kita sekarang dapat mengetahui sunnah syar’iyyah, barangsiapa yang mempelajarinya ia akan sampai pada tujuan sunnah tersebut, percis sama dengan sunnah kauniyah. Apabila seseorang mengambilnya dan menjalankannya, ia akan sampai pada tujuannya.

Inilah adalah perkataan yang dapat dipahami, namun membutuhkan pada penjelasan, jawaban atas pertanyaan penting itu:

Kita semua membaca ayat-ayat Allah bahkan ayat-ayat tersebut dapat menghiasi tempat-tempat atau dinding rumah, yaitu firman Allah, “Jika kamu sekalian menolong agama Allah tentu Allah akan menolong kalian” (Muhammad: 7) ayat ini terpampang di dinding-dinding dengan tulisan bervariasi, ada yang ditulis dengan tinra emas yang indah, ada yang ditulis dengan khat riq’ah, khat farsi, dan yang lainnya.

Namun sangat disayangkan, ayat ini hanya menjadi hiasan dinding, adapun hati orang-orang Muslim kosong dari kekuatannya, seakan-akan tidak tergores dengan maksud yang terkandung dalam ayat ini. Jika kalian menolong agama Allah, tentu Allah akan menolong kalian. Karena itu, dunia Islam dewasa ini menjadi tertekan seakan-akan tak menemukan jalan keluar, padahal jalan keluarnya disebutkan dalam ayat itu. Apabila kita membacakan ayat itu kepada orang-orang Muslim, kita berpendapat bahwa tidak membutuhkan pada keterangan yang luas, namun cukup sebagai pengingat saja karena mengingatkan dapat bermanfaat bagi orang Muslim.

Insya Allah kita semua tahu sesungguhnya firman Allah, “jika kalian menolong agama Allah” ini adalah syarat, dan jawabannya “(Allah) akan menolong kamu sekalian.”

Jika kamu makan … jika kamu minum …
jika … jika … Jawabnya, kamu akan hidup …
Jika kamu tidak makan … jika kamu tidak minum …
maka apa yang terjadi? Tentu kamu mati

Begitulah makna yang terkandung dalam ayat ini. (Jika kamu sekalian menolong agama Allah, Allah akan menolong kamu sekalian), menurut ahli ushul kebalikan dari ayat ini adalah, jika kamu tidak menolong agama Allah kalian tidak akan ditolong… inilah realita orang Muslim sekarang.

Penjelasan ayat ini terdapat dalam sunnah dan beberapa nash syar’i, terutama hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan firman Allah, (jika kamu sekalian menolong agama Allah), dapat diketahui dengan jelas bahwa tidaklah yang dimaksudkan oleh ayat, kita menolong Allah dari musuh-musuh-Nya dengan kekuatan tentara dan kekuatan materi. ! Bukan, bukan begitu! Sesungguhnya Allah menguasai semua urusan-Nya, Dia tidak membutuhkan pertolongan seorang pun berupa pertolongan materi, ini adalah perkara yang jelas. Oleh karena itu makna (jika kamu sekalian menolong agama Allah) adalah mengikuti hukum-hukum Allah, maka itulah arti menolong agama-Nya.

Sekarang,
Apakah orang-orang muslim melaksanakan syarat ini?
Apakah mereka melaksanakan kewajiban ini?
Adapun jawabannya, “Setiap orang di antara kalian pasti mengatakan orang-orang Muslim, tidak menolong agama Allah.”

Di sini, saya juga ingin mengatakan sebuah kalimat sebagai Tadzkir (peringatan) bukan bab ta’lim (pengajaran). Umumnya, orang-orang Muslim sekarang menyimpangkan pengetahuannya dari agama dan dari ajaran hukum agama. Mayoritas mereka tidak mengetahui Islam. Apabila di antara mereka mengetahui sedikit pengetahuan tentang Islam, pengetahuannya bukan dari Islam yang benar namun dari Islam yang telah disimpangkan dari ajaran Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, pertolongan Allah dijanjikan, bagi orang yang Menolong Allah adalah bagi orang yang mengetahui Islam dengan pengetahuan yang shahih seperti yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian yang kedua beramal dengan Islam tersebut, jika tidak maka bencana yang akan menimpa penganutnya. Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (ash-Shaf: 2-3)

Dengan demikian, kita membutuhkan ajaran Islam dan beramal dengan Islam.

Yang ingin saya katakan juga seperti yang saya katakan tadi, yaitu kebiasaan mayoritas Muslim sekarang terkena berbagai celaan disebabkan kebiasaan orang-orang Muslim menghinakan dan menyepelekan hukum-hukum agama. Bersamaan dengan itu, mereka tidak menolong agama-Nya, tidak menolong orang-orang Muslim yang ditindas orang-orang kafir, yahudi, nasrani, dan yang lainnya. Demikianlah kebiasaan yang terjadi sekarang di kalangan orang-orang Muslim, menimpakan berbagai celaan kepada pemerintah, bersamaan dengan itu, orang-orang yang mencela tidak merasakan adanya celaan yang ditujukan kepada para hakim padahal sebenarnya celaan ini menimpa pada semua ummat, baik hakim maupun yang dihakimi.

Bukan ini saja, ada sekelompok orang yang mencela kepada pemerintahan Muslim dengan sebab tidak melaksanakan hukum agama. Mereka inilah yang berhak mendapat celaan karena menyalahi firman Allah, “jika kamu sekalian menolong agama Allah”, artinya orang-orang Muslim yang mencela terhadap hakim yang menyalahi hukum-hukum Islam ketika berupaya merubah kondisi ketertindasan orang-orang Muslim dengan jalan yang bertentangan dengan jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana mereka (1) Mendeklarasikan kekafiran pemerintahan muslim. (2) Mengumumkan kewajiban untuk keluar dari penguasa.

Maka muncullah fitnah yang membutakan, menulikan dan membungkam dikalangan kaum Muslimin sendiri. Sehingga mereka pun saling bercerai-berai. Di antara mereka adalah –kelompok yang telah saya singgung terdahulu- mereka yang menyangka bahwa kondisi kaum Muslimin yang tertidas serta terhina terwujud dengan cara keluar dari para penguasa. Polemik ini tidak berhenti sampai di sini, bahkan lebih tragis lagi (polemik) ini semakin meluas hingga terjadinya perselisihan di tubuh kaum Muslimin sendiri, sedangkan para penguasa jauh dari perselisihan ini. Kemudian muncullah polemik yang bersumber dari sikap ghuluw sebagian orang-orang Islam dalam memberikan solusi atas realita yang menyakitkan ini, yaitu dengan cara memerangi penguasa kaum Muslimin guna mewujudkan Kondisi yang kondusif. Namun pernyataan ini adalah bumerang yang digunakan untuk menyerang balik mereka oleh orang-orang Islam lainnya yang berpendapat bahwa solusi atas realita yang menyakitkan ini bukanlah dengan keluar dari para penguasa.

Kalau mayoritas mereka berhak keluar darinya dikarenakan tidak menghukumi dengan apa yang diturunkan Allah, maka apakah ada solusi seperti yang diprediksikan orang-orang, memulai dengan menghakimi pemerintahan di negeri Islam dari kaum Muslimin? Walaupun sebagian mereka kita anggap sebagai kaum Muslimin secara geografi, sebagaimana dikatakan di zaman modern ini.

Di sini kami berpendapat:

Tidak diragukan lagi bahwa sikap musuh-musuh Islam klasik yaitu yahudi, nasrani, dan atheis, mereka sangat bahaya dari para pemerintah itu yang tidak memenuhi keinginan orang-orang Muslim untuk menghukumi dengan apa yang diturunkan Allah. Apa yang dapat dilakukan orang-orang Muslim yang ada dibelakang atau disamping mereka, yang mengumumkan wajib memerangi para hakim dari kaum Muslim, apa yang dapat mereka lakukan?

Kalau keluar dari pemerintahan, itu suatu hal yang mesti sebelum memulai dengan membersihkan (ishlah) diri-diri kita, yang mana itu merupakan solusi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dengannya. Sesungguhnya mereka tidak akan mampu melakukan sesuatu apa pun. Banyak realita yang menunjukkan atas hal itu, bahwa solusi yang mereka lakukan mulai dengan memerangi hakim-hakim Muslim, hal itu tidak akan menghasilkan hasil yang diharapkan karena seperti telah aku katakan tadi bahwa sebab (‘illat) bukan terletak pada para hakim saja, akan tetapi juga terletak pada yang di hukumi, maka wajib bagi mereka memperbaiki (ishlah) untuk masalah ini ada pembahasan lain yang telah kami bicarakan berulang-ulang dan sebentar lagi, insya Allah, akan kami bicarakan kembali. Sekarang yang terpenting bagi orang-orang Muslim semuanya sepakat bahwa kondisi mereka sedang dalam ketertindasan dan kehinaan, dalam arti mereka tidak mengetahui Islam.

Dari mana kita mulai?

Apakah kita memulai dengan memerangi hakim yang menghukumi orang Muslim? Ataukah kita memulai dengan memerangi seluruh orang kafir dari negeri Islam? Atau kita memulai dengan memerangi kejelekan nafsu amarah?

Dari sinilah kita harus memulai karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memu-lai dengan membersihkan jiwa orang-orang Muslim yang diseru (al-mad‘uwwiin) seperti telah kita ceritakan pada pembicaraan awal dakwah Islam. Bermula dakwah di Mekkah kemudian pindah ke Madinah, setelah itu mulailah muncul permusuhan antara orang-orang kafir dan orang-orang Muslim, kemudian antara orang-orang Muslim dengan orang-orang Romawi. Selanjutnya antara orang-orang muslim dengan orang-orang Persia. Demikianlah seperti yang telah kita ceritakan, dan sejarah akan terulang kembali.

Sekarang wajib bagi orang-orang Muslim menolong agama Allah untuk mengobati realita yang menyakitkan ini, bukan mengobati dengan cara lain (janib) karena tidak akan mendapatkan hasil yang diharapkan, sekalipun mampu melaksanakannya.

Apakah cara lain tersebut?

Memerangi hakim yang menghukumi tidak dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah? Cara ini sekarang tidak akan bisa, karena mereka (hakim) sekali pun mereka kafir seperti yahudi dan nasrani, apakah orang-orang Muslim sekarang mampu memerangi yahudi dan nasrani?

Jawabannya, tidak!

Persoalannya persis seperti keadaan orang-orang Muslim pertama yaitu periode Mekkah, mereka tertindas dan terhina, diperangi, disiksa, dibunuh, mengapa begini?

Karena keadaan mereka lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali keimanan yang ada dihatinya dengan sebab mengikuti dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam mengikuti dakwah ini harus disertai kesabaran atas segala cercaan inilah yang akan mendatangkan hasil. Hasil yang diharapkan dan kita dambakan sekarang.

Jalan apa yang dapat menghantarkan kepada hasil yang didambakan ini?

Yaitu jalan yang telah ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia.

Selama orang-orang Muslim tidak dapat memerangi orang kafir yang ada dalam berbagai kesesatannya.

Lalu apa yang wajib bagi mereka?

Mereka wajib beriman dengan sebenar-benar iman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, namun orang-orang Muslim sekarang keadaannya seperti yang telah difirmankan Rabb al-Alamiin, “Akan tetapi kebanyakan manusia mereka tidak mengetahui” (al-A’raf: 187), (Yusuf: 21), (Yusuf: 40), (Yusuf: 68), (an-Nahl: 38), (ar-Ruum: 6 dan 30). Orang-orang Muslim sekarang Muslim namanya saja, bukan Muslim sebenarnya.

Kalau kita ambil contoh mengenai hal itu sebuah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan yang tiada berguna) dan orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah yang melampaui batas” (al-Mukminuun: 1-7)

Kalau kita mengambil sifat dan karakter dalam ayat itu saja tidak kembali pada yang dimaksud ayat ini dalam ayat lain yang menceritakan sebagian sifat dan karakter yang tidak sebut dalam ayat diatas yang semuanya tertuju sekitar beramal dengan Islam. Maka barangsiapa yang memiliki sifat yang disebutkan dalam ayat di atas dan sifat yang disebutkan pada ayat lainnya, mereka itulah yang disinyalir dalam firman Allah Ta’ala, “mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman” (al-Anfaal: 74)

Apakah kita orang-orang yang benar-benar beriman? Jawabannya, tidak!

Kalau begitu, wahai saudara-saudara, janganlah terpedaya dan dapat dibodohi, berdzikirlah atau belajarlah agar dapat mengetahui obatnya.

Orang Islam sekarang tidak sebenar-benarnya Islam karena keimanan yang benar akan menuntut perbuatan yang benar pula. Kita sekarang senang mengerjakan shalat yang merupakan salah satu dari sifat dan karakter yang disebutkan dalam ayat, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (al-Mukminuun: 1-2)

Apakah kita orang yang khusyu’ dalam shalat?

Saya tidak berbicara atas nama seseorang, … dua orang … lima orang … sepuluh orang … seratus orang … dua ratus orang … seribu orang … dua ribu orang dan seterusnya.

Namun saya berbicara atas nama kaum Muslimin, setidaknya mereka yang mempertanyakan apa solusinya untuk menuntaskan hal yang menimpa kaum Muslimin?!

Saya tidak maksudkan orang-orang Muslim yang lalai, fasik, yang tidak memperhatikan kehidupan akhirat tetapi mereka mementingkan hawa nafsu dan perut mereka.

Saya akan membicarakan orang-orang Muslim yang mengerjakan shalat, apakah mereka tersifati dengan sifat yang tertera pada awal surat al-Mukminuun? Jawabannya, seperti jawaban jama’ah, seperti jawaban umat, “Tidak!”

Mereka mengharap keselamatan, namun tidak menempuh jalannya.
Perahu tidak dapat berlayar di tempat yang kering.

Maka mau tidak mau harus mengambil sebab yang merupakan kesempurnaan sunnah syar’iyyah. Setelah sunnah kauniyah, sehingga Allah yang Maha Agung menghilangkan kehinaan yang menimpa kita semua.

Ada beberapa hadits Nabi yang menyebutkan kondisi buruk kaum Muslimim sekarang. Sesungguhnya mereka kalau mengingat keburukan ini tentu akan bertanya, mengapa kehinaan ini menimpa kita? Karena mereka telah melupakan orang-orang yang menyalahi syari’at Allah. Di antara hadits-hadits itu, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

ÅöÐóÇ ÊóÈóÇíóÚúÊõãú ÈöÇáúÚöíúäóÉö, æóÃóÎóÐúÊõãú ÃóÐúäóÇÈó ÇáúÈóÞóÑö, æóÑóÖöíúÊõãú ÈøöÇáÒøóÑúÚö, æóÊóÑóßúÊõãõ ÇáúÌöåóÇÏó Ýöíú ÓóÈöíúáö Çááåö, ÓóáóØó Çááåõ Úóáóíúßõãú ÐõáÇøð áÇó íóäúÒöÚõåõ Úóäúßõãú ÍóÊøóí ÊóÑúÌöÚõæúÇ Åöáóì Ïöíúäößõãú


“Apabila engkau melaksanakan riba dan mengambil ekor-ekor sapi, ridha dengan benih-benih yang ditanam serta meninggalkan jihad di jalan Allah, tentu akan tercampur padamu kehinaan yang kamu tidak akan bisa menghilangkannya sehingga kamu kembali pada agama” (HR Abu Daud no.3462, dishahihkan oleh al-Bani dalam Silsilah Hadits Shahihah) Hadits ini telah sering saya ceritakan dalam berbagai kesempatan, namun saya akan mengulas lagi tentang kalimat “apabila engkau melaksanakan riba (al-iinah)”

Al-‘iinah adalah sesuatu dari perbuatan riba’. Tetapi saya tidak ingin memasukkan riba secara dzat, apakah di antara kalian ada yang tidak tahu terhadap orang-orang Muslim yang bergaul dengan macam-macam riba? Bank-bank riba’ yang mengendalikan laju perekonomian negeri Islam, dan keadaannya diakui oleh setiap undang-undang yang diberlakukan di negeri Islam, bukan oleh pemerintah saja, tetapi diakui juga oleh masyarakat karena masyarakat itu berinteraksi dengan bank tersebut. Apabila mereka berdialog, mereka berkata, kamu tahu bahwa riba’ itu haram, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

ÏöÑúåóãõ ÑöÈðÇ íóÃúßõáõåõ ÇáÑøóÌõáõ ÃóÔóÏøõ ÚöäúÏó Çááåö ÚóÒøó æóÌóáøó ãöäú ÓöÊøö æóËóáÇóËöíúäó ÒóäöíøóÉò


“Harta riba’ yang dimakan oleh seseorang lebih keras siksanya di sisi Allah dari pada tiga puluh enam timbangan” ((HR Ahmad dalam al-Musnad (5/225), dan dishahihkan oleh al-Bani dalam Silsilah ash-Shahihah (1033))

Apabila kamu berkata pada salah seorang di antara mereka, “Wahai saudara, mengapa kamu melakukan riba’?”

Ia akan menjawab, “Apa yang sedang kita lakukan? Kita hanya sekedar ingin hidup.”

Kalau begitu, persoalan riba’ tidak berkaitan dengan pemerintah saja, namun berkaitan juga dengan masyarakat. Persoalan yang ada di masyarakat hakikatnya sama dengan persoalan yang ada di pemerintah.

Apabila kita ingin mereformasi kondisi kita maka jangan mengumumkan perang untuk memerangi pemerintah sementara kita melupakan diri sendiri padahal inti permasalahan yang ada di dunia Islam sekarang terletak dalam individu kita.

Karena itu, kami akan menasihati orang-orang Muslim agar mereka kembali pada agamanya dan merealisasikan apa yang telah diketahui dari agamanya, “Pada hari itu berbahagialah orang-orang Mukmin.” (ar-Ruum: 4)

Setiap persoalan yang nampak sekarang, yang mana sebagian orang bersemangat dengannya, lantas ia berkata, “Apa yang kita lakukan?”

Baik yang kita katakan itu berupa musibah yang ada disamping kita dan menimpa dunia Islam serta dunia Arab yaitu penjajahan orang yahudi terhadap Palestina, atau yang kita katakan penyerangan orang-orang nasrani kepada orang-orang Muslim di negara Eritria, di Somalia, dan Bosnia Herzegovina, semua masalah ini tidak mungkin dituntaskan dengan cara frontal, akan tetapi akan dituntaskan dengan ilmu dan amal, “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan pada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (at-Taubah: 105)

Berjuang untuk Islam pada sebuah komunitas Islam sekarang memiliki bentuk yang banyak sekali, ada yang melalui jama’ah Islam dan ada yang melalui organisasi atau golongan yang bermacam-macam. Namun, pada hakikatnya golongan-golongan ini diantara muskilah dunia Islam yang menurut sebagian mereka merupakan masalah terbesar dan banyak disorot. Sebagian mereka berpendapat bahwa masalah terbesar adalah penjajahan orang yahudi di Palestina, sedangkan yang lainnya butuh pendapat lagi, bahwa masalah terbesar adalah penyerangan orang-orang kafir ke berbagai negeri dan penduduk Islam.

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (ar-Ruum: 31-32)

Jama’ah Islamiyah berbeda-beda cara dalam menuntaskan masalah yang dihadapinya, yang jelas setiap jama’ah akan merendahkan yang mengotori orang muslim dan berupaya untuk menghilangkannya.

Adapun cara utama dan tidak ada duanya untuk menuntaskan masalah adalah mengajak kembali pada Islam, memahami Islam dengan pemahaman yang benar, merealisasikannya dengan mendidik kaum Muslimin sesuai kehendak Islam. Itu adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah kita ceritakan dan telah kita ingatkan selamanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai mengajak shahabatnya untuk beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mengajarkan kepada merek hukum-hukum Islam dan menyuruh merealisasikannya. Ketika mereka menghadapi musibah, kezaliman dan penyiksaan orang-orang musyrik, beliau menyuruh mereka untuk sabar. Demikianlah sunnah Allah untuk makhluk-Nya. Melawan hak dengan bathil, melawan orang-orang mukmin dengan musyrik.

Jalan utama dan benar untuk menghadapi persoalan dalam realita ini yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang benar. Ada gerakan-gerakan dan dakwah-dakwah lain yang semuanya berbeda dengan jalan atau cara yang pertama dan utama. Sebagian gerakan dan dakwah berpendapat, “Sekarang tinggalkanlah Islam dari sisi kewajiban memahami dan mengamalkannya, sekarang ada persoalan yang lebih penting, yaitu kita bersatu untuk memerangi orang-orang kafir.”

Subhaanaallah, bagaimana mungkin dapat memerangi orang kafir tanpa senjata?

Setiap manusia memiliki akal apabila ia tidak memiliki kekuatan materi, maka ia tidak akan mampu melawan musuh yang memiliki senjata. Apabila ingin melawan musuh yang memiliki kekuatan senjata sedangkan ia tidak memiliki senjata, apa yang pantas dikatakan untuknya?

Perangilah tanpa bersenjata atau bersenjatalah kemudian perangi? Tidak ada perbedaan dalam masalah ini bahwa jawabannya, bersenjatalah terlebih dahulu kemudian perangi, ini dari sisi materi.

Namun, dari sisi non materi (maknawi), dan inilah yang lebih penting. Apabila kita hendak memerangi orang kafir, maka akan tidak mungkin memeranginya dengan meninggalkan Islam, karena sikap ini menyalahi apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, diantaranya, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (al-‘Ashr: 1-3)

Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, sedangkan kita sekarang berada dalam kerugian … mengapa?

Karena kita belum mengambil pengecualian dari apa yang disebutkan Allah Ta’ala ketika berfirman, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan melaksanakan amal shalih, saling menasihati dalam hak dan kesabaran” (al-‘Ashr: 2-3)

Kita sekarang mengatakan bahwa kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, namun ketika mengajak orang-orang Muslim yang berkelompok-kelompok, berpartai-partai, bersatu untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka berkata, “Persoalan ini kita tinggalkan sekarang karena persoalan yang terpenting sekarang adalah memerangi orang kafir.”

Lalu kita katakan, “Memeranginya dengan senjata atau tanpa senjata?”

Maka harus ada dua kekuatan senjata.

Senjata Pertama: Senjata Maknawi (yang tidak terlihat)

Mereka berkata, “Sekarang tinggalkan senjata maknawi ini, dan ambillah senjata al-maadi (materi).” Kita tidak mempunyai senjata materi, karenanya ini tidak bisa diupayakan dikarenakan undang-undang yang berlaku sekarang, dan para hakim yang menghukumi kita sekarang.

Kita sekarang tidak bisa sekali pun mengambil persiapan dan senjata almaadi.

Maksud kami adalah kita ingin berperang dengan senjata almaadi. Dan ini tidak bisa ditempuh.

Senjata Kedua: Senjata al-Maknawi

Senjata ini sudah ada di tangan kita. “Ketahuilah olehmu bahwa tidak ada Illah kecuali Allah” (Muhammad: 19). Yang dimaksud adalah dengan kekuasaan ilmu kemudian amal sesuai dengan batasan yang kita bisa.

Apakah begini mereka katakan dengan segala kesederhanaan dapat berakhir meninggalkan senjata maknawi ini.

Dan ini senjata maknawi yang sudah dapat diusahakan dan kita diperinthkan meninggalkannya!! dan itu senjata maadi yang tidak dapat diusahakan, kemudian kita berkata, wajibkah kita berperang?

Dengan apa kita berperang?

Kita tidak memiliki kedua senjata itu, yaitu senjata maknawi dan senjata maadi.

Subhaanallaah, senjata maknawi adalah ilmu. Mereka berkata, “Kita menangguhkannya karena ini bukan waktunya, sedangkan senjata maadi kita tidak mendapatkannya.”

Maka tinggallah kehancuran dan kelemahan dalam kedua senjata itu (maknawi dan maadi).

Kalau kita kembali pada periode awal yaitu periode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah ia memiliki senjata maadi?

Jawabannya, “Tidak!”

Kalau begitu, dengan apa kunci pertolongan? Dengan senjata maadi atau maknawi?

Kuncinya adalah senjata maknawi yaitu dengan dakwah, seperti tertera dalam ayat, “Ketahuilah olehmu sesungguhnya tidak ada illah kecuali Allah”

Dengan demikian, hendaklah mengetahui Islam sebelum segala sesuatu, kemudian merealisasikan Islam dalam batas yang kita mampu.

Kita mampu mengetahui aqidah Islam yang benar.
Kita mampu mengetahui ibadah menurut Islam.
Kita mampu mengetahui hukum-hukum Islam.
Kita mampu mengetahui perilaku Islami.

Hal ini semua dapat dilakukan, namun mayoritas Muslim dan golongan-golongannya ingin berpaling darinya kemudian berteriak, “Kami ingin berjihad!”

Bagaimana kita berjihad kalau senjata pertama (maknawi) hilang dari diri kita, dan senjata kedua (maadi) tidak ada di tangan kita.

Kalau sekarang kita menemukan sebuah jama’ah Islam yang komitmen terhadap Islam dengan benar dan mereka merealisasi-kannya dengan benar, namun mereka tidak memiliki senjata materi. Mereka itulah yang terkhitab [menjadi sasaran] perintah Allah, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu” (al-Anfaal: 60)

Kalau kita memiliki senjata maknawi maka kita dituntut me-miliki senjata maadi. Apakah kita harus berperang kalau tidak memiliki persiapan senjata maadi?

Jawabannya, “Tidak!”

Karena kita belum mewujudkan ayat yang menyuruh mempersiapkan kekuatan maadi, bagaimana kita mampu berperang sedangkan kita tidak memiliki kedua senjata ini, maknawi dan maadi?!! “Allah Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya” (al-Baqarah: 286).”bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” (at-Taghabun: 16), yang dapat kita lakukan sekarang adalah mencari ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih.

Untuk menjawab pertanyaan di atas perlu jawaban yang panjang lebar, namun saya akan menyimpulkannya.

Problematika Muslimin sekarang bukan tentang Palestina saja namun yang sangat disayangkan banyak penyimpangan-penyimpangan yang menimpa orang-orang Muslim sekarang hingga amalnya kontradiktif dengan ilmunya. Ketika kita bicara tentang Islam dan negara Islam, menurut saya, setiap negara Islam adalah tanah air setiap Muslim, tidak ada perbedaan antara orang Arab, antara Hijaj, Yordania, dan Mesir walaupun perbedaannya ada dalam realita, yang bukan berbeda dalam politik saja dan hal ini tidak asing lagi menurut pandangan orang Islam. Umpamanya ada sebagian umat Islam yang memprioritaskan masalah Palestina sementara tidak memperhatikan masalah yang menimpa orang muslim di negeri lainnya.

Ketika peperangan berlangsung antar Muslim Afghanistan dan Uni Sovyet (Rusia) serta orang-orang komunis. Keberadaan golongan-golongan atau organisasi-organisasi Islam tidak memperhatikan peperangan ini … Kenapa?

Karena mereka umpamanya dipandang bukan orang Syiria atau Mesir dan semacamnya. Kalau demikian, problematika Muslim sekarang bukan terletak tentang Palestina saja, tapi terletak juga di berbagai negeri Islam.

Bagaimana kita dapat menuntaskan dengan dua kekuatan, maknawiyah dan ma’aadiyah, dengan yang mana kita mulai.

segala sesuatu kita awali dengan yang terpenting. (Ket : Sesuatu yang terpenting yang harus kita mulai adalah memurnikan aqidah, karena aqidah merupakan dasar dan rukun pertama dalam Islam. Al-Bani berkata, (1) “Sesuatu yang terpenting dan layak bagi seorang du’at adalah mengajak kepada tauhid berlandaskan kepada firman Allah. Ketahuilah olehmu bahwasanya tiada tuhan selain Allah (Surat Muhamad ayat 19) demikian juga berlandaskan pada sunnah Nabi, baik fi’lan wa ta’liman. Adapun sunnah fi’lan: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada periode Mekkah memusatkan dakwahnya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukan-Nya. Sedangkan sunnah ta’liman dapat diketahui dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Muadz ke Yaman. Beliau berkata kepadanya, “Jadikanlah syahadat sebagai ajakan pertamamu.” Dengan demikian Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk memulai dengan apa yang ia mulai, yaitu mengajak mereka kepada syahadat.
Kemudian al-Albani berkata lagi, (2) “Karenanya kewajiban pertama bagi para du’at adalah mengajak mereka sekitar kalimat ini dan penjelasan maknanya. Kemudian menjelaskan kosekuensi kalimat thayyibah ini seperti ikhlas dalam beribadah karena Allah Ta’ala. Ketika mengisahkan tentang orang-orang musyrik, mereka berkata, “Kami tidak menyembah mereka (berhala) kecuali untuk mendekatkan kami kepada Allah.” Setiap ibadah yang ditujukan kepada selain Allah adalah kafir terhadap makna kalimat thayibah (Lailaha Illallah). Karena itu, menurut pendapat saya, sekarang tidak ada faedahnya mengumpulkan kaum Muslimin, menyatukan mereka, sedangkan mereka dibiakan berada dalam kesesatan dan jauh dari makna kalimat thayyibah. Karena hal ini tidak memberikan manfaat bagi mereka di dunia terlebih di akhirat.”
(3). Dari pernyataan ini saya tidak bermaksud memfokuskan diri menjelaskan masalah terpenting/ prioritas, kemudian yang penting dan terus ke bawah. Yaitu para da’I hanya fokus mendakwahkan kalimat thayyibah dan memfahamkan maknanya. Karena Islam setelah disempurnakan Allah Ta’ala (ajarannya), para da’i harus mendakwahkannya secara menyeluruh tidak separuh-separuh.
(4). Kemudian al-Albani berkata, “Sangat tidak pantas seseorang mengatakan, ‘Pada zaman sekarang ini kita harus berpindah ke tahapan lain, selain tahapan berdakwah kepada tauhid. Yang saya maksud dengan tahapan di atas adalah berdakwah melalui politik.’ Tidak, kita tidak pantas mengatakan yang demikian. Karena dakwah Islam itu dimulai dengan mendakwahkan tauhid terlebih dahulu, baru setelah itu masalah yang lain. Karena kita tidak tahu dari mana kita akan mulai memantau pergerakan yang dengannya akan diawali pengaplikasian hukum-hukum Islam di bumi Allah ini. oleh karena itu dakwah kita harus menyeluruh (dan tertib dimulai dari yang prioritas baru level setelahnya).”
(5) Kemudian berkata, “Kita harus senantiasa memulai dengan dua titik sentral. Pertama, membersihkan Islam dari setiap yang mengotorinya, baik dalam akidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Kedua, pendidikan, yaitu mendidik manusia agar sejalan dengan kemurnian Islam. Dalam hal ini mesti berbarengan dengan dua hal, yaitu pemurnian dan pendidikan.”
(6) Kemudian berkata pula, “Tidak mungkin menegakkan kewajiban ini dengan jumlah yang minoritas, khususnya di dalam masyarakat sekarang yang berjumlah berjuta-juta. Mesti ada beratus-ratus da’i yang memahami Islam dengan pemahaman yang benar, kemudian mereka melaksanakan kewajibannya, dengan mendidik masyarakat. Maka oleh karena itu bergelut dalam politik sebelum mewujudkan kedua kewajiban yang mendasar ini yaitu permunian dan pendidikan, akan memberikan dampak yang buruk.”
(7) Kemudian berkata lagi, “Adapun yang sekarang sangat menyibukan yaitu aktivitas politik. Memang kami tidak menolak aktivitas politik, namun kita harus berpegang kepada petunjuk syari’at, yaitu kita memulai dengan akidah, kemudian beribadah, perilaku yang benar, lantas berpolitik. Yang dimaksud berpolitik artinya mengatur keadaan umat. Siapa yang mengatur keadaan umat?. Bukan Zaid, Bakar, Umar, namun seseorang yang dibai’at dari kalangan orang-orang Muslim. Mereka inilah yang harus mengetahui perpolitikan. Kewajiban kita sekarang adalah membawa diri kita dan orang- orang di sekitar kita agar memahami Islam dengan benar, mendidiknya dengan pendidikan yang benar pula dengan memurnikan akidahnya, membenarkan ibadahnya dan memperbaiki perilakunya. Inilah di antara kewajiban yang fardhu ‘ain. Adapun selain itu merupakan fardhu kifayah, seperti yang sedang trend sekarang membahas tentang fiqih realita atau menyibukan diri dalam dunia politik. Adapun yang menyibukkan mayoritas manusia sekarang, mereka menyibukkan diri dengan yang penting tapi meninggalkan yang lebih penting seperti yang kita perhatikan dalam organisasi-organisasi Islam atau partai- partai Islam. Kita saksikan bahwa sebagian di antara mereka mementingkan penggemblengan pemuda Muslim yang berkumpul dan duduk melingkar disekiling para da’I untuk memahami aqidah yang lurus, ibadah yang benar dan tingkah laku yang baik. Namun kenyataannya, akibat menyibukkan diri dalam urusan politik dan berusaha untuk duduk di parlemen yang menghukumi dengan hukum selain yang diturunkan Allah, mereka telah memalingkan para pemuda dari sisi prioritas dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang kurang jadi prioritas, bahkan pada kondisi sekarang ini bisa jadi tidak begitu penting.”
Dikutip dari kaset no 750 yang ditranskrip ke dalam buku Fatwa-fatwa al-Albani dan perbandingan fatwa- fatwa Ulama oleh Ukasyah Abdulmanan hal 539-555),) Khususnya jika yang terpenting ini gampang yaitu senjata (kekuatan) maknawi, adalah dengan memahami Islam dengan pemahaman yang benar, merealisasikannya dengan benar pula, kemudian barulah dengan senjata maadi, apabila itu dapat dilakukan.

Kalau begitu persoalannya tidak seperti ungkapan yang tergambar dari semangat revolusi para pemuda yang frontal, namun tidak ada atsar atau pengaruh yang berbekas.

Akhirnya, saya katakan: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu maka Allah dan rasul-Nya serta orang orang mu,min akan melihat pekerjanmu itu.” (at-Taubah: 105)

Berulang-ulang saya katakan bahwa suatu amal tidak akan bermanfaat kecuali apabila disertai dengan ilmu yang bermanfaat pula. Ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu yang telah difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, seperti telah dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah, “Ilmu adalah sesuatu yang telah difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya. Adapun yang dikatakan para shahabat bukan sesuatu yang pasti. Tidak akan bermanfaat ilmu orang bodoh yaitu menyalahi pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pendapat ahli fiqih. Semuanya itu tidak bertentangan dengan sikap Rabb dan tidak menolak adanya, mengingatkan agar jangan membiarkan dan menyerupakannya.

Musibah yang menimpa dunia Islam sekarang lebih berbahaya, sebagian orang mengingkari perkataan saya ini. Bahwa musibah yang menimpa dunia Islam sekarang adalah karena mereka telah sesat dari jalan yang benar. Mereka tidak mengetahui Islam yang dengannya dapat terwujud kebahagiaan dunia dan akhirat. Padahal jika mereka memahami dan merealisasikan Islam, meskipun diisolir, ditindas, bahkan sampai dibunuh, karena hidup dalam komunitas kafir dan musyrik, maka mereka mati dalam keadaan bahagia dunia dan akhirat.

Adapun orang yang hidup mulia, namun ia jauh dari pemahaman Islam, maka ia akan mati celaka walaupun secara zhahir ia hidup bahagia.

Semoga Allah memberkahi kita semua, solusinya yaitu, kembali pada Allah artinya pahamilah apa yang telah difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya dan beramal dengan apa-apa yang telah difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya pula.

Dengan demikian, tuntaslah jawaban dari saya. Dan terakhir saya akan menyampaikan sebuah hadits. Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah. (Ket : Dikeluarkan Abu Na’im dalam al-Hilyah (2/389), at-tirmidzi dalam Misyakah al-Mashabih (3721), dan az-Zubaidi dalam al-Iltihaf (147), Baihaqi dalam al-I’tiqad (148), dan al-Haitsimi dalam Al-Majma’ (5/249)) Dari Abu Darda, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah yang Maha Agung berfirman, ‘Aku adalah Allah, tidak ada Illah selain Aku, raja yang merajai semua kerajaan, hati semua raja-raja ada dalam genggaman tangan-Ku, jika para hamba menaati-Ku, maka aku akan rubah hati para pemimpinnya menjadi lembut dan kasih sayang terhadap mereka. sebaliknya jika para hamba bermaksiat kepadaku maka aku akan merubah hati para pemimpinnya menjadi keras dan murka pada mereka, jangan kalian menyibukkan diri untuk berdo’a kejelekan pada pemim-pin kalian, namun sibukkanlah diri kalian dengan Dzikir dan konsentrasi kepada-Ku, niscaya Aku akan cukupkan untuk kalian para pemimpin kalian”

Hit : 0 | IndexJudul | IndexSubjudul | kirim ke teman | versi cetak 

 
   
Statistik Situs
Sabtu,4-5-2024 M 26:10:33 
Hijri: 25 Syawal 1445 H
Hits ...: 312155302
Online : 99 users

Pencarian

cari di  

 

Iklan

















Jajak Pendapat
Rubrik apa yang paling anda sukai di situs ini ?

Analisa
Buletin
Fatwa
Kajian
Khutbah
Kisah
Konsultasi
Nama Islami
Quran
Tarikh
Tokoh
Doa
Hadits
Mu'jizat
Sakinah
Akidah
Fiqih
Sastra
Resensi
Dunia Islam
Berita Kegiatan
Kaset
Kegiatan
Materi KIT
Firqah
Ekonomi Islam
Senyum
Download


Hasil Jajak Pendapat

Mutiara Hikmah

Mathraf bin Abdullah ibnusy Syakhir menulis surat balasan kepada sang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, "Kepada hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin, dari Mathraf bin Abdullah. Salamullah 'alaik, ya Amiral Mukminin, wa Rahmatullah wa Barakatuh. Sesungguhnya, aku mengajakmu memuji kepada Allah yang tidak ada tuhan yang hak selain Dia. Amma ba'du. "Jadikanlah rasa tenangmu bersama Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan perhatian penuhmu kepada-Nya. Sesungguhnya, kaum yang merasa damai dengan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan sepenuhnya memberikan perhatiannya kepada-Nya, mereka merasa lebih damai bersama Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dalam kesendirian daripada beramai-ramai dengan jumlah yang banyak, mereka mematikan apa saja di dunia yang mereka khawatirkan akan mematikan hati mereka, mereka meninggalkan apa saja di dunia yang mereka ketahui bakal meninggalkannya, mereka menjadi musuh terhadap apa yang diterima manusia dari dunia. Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari mereka karena mereka sedikit jumlahnya di dunia. Wassalam." (Abdullah bin Abdul Hakam, al-Khalifah al-'Adil Umar bin Abdil Aziz, hal.182)

( Index Mutiara )


Fiqh Wanita

Benarkah Kaum Wanita Tidak Boleh Masuk Masjid Karena Mereka Adalah Najis

Jika Mendapat Kesucian Setelah Shubuh

Haid Datang Beberapa Saat Sebelum Matahari Terbenam

Merasa Ada Darah Tapi Belum Keluar Sebelum Matahari Terbenam

Hukum Wanita Yang Mandi Setelah Jima', Kemudian Keluar Cairan Dari Kemaluannya

Hukum Orang Yang Kentut Terus Menerus.

Shalat Dengan Pakaian Terkena Najis

Hukum Orang Haidh Berdiam di Masjid

Hukum air kencing anak yang mengenai pakaian wanita

Menggunakan air laut untuk berwudlu

Hukum Operasi Cesar

Menyentuh wanita dalam keadaan berwudhu'

Menyentuh wanita asing(selain isteri) dalam keadaan berwudhu'

Hukum membawa Mushaf ke dalam WC

Bersuci dari Air Kencing Bayi

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Kutek

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Inai (Pacar)

Hukum Wudhunya Wanita yang Tidak Menghilangkan Kutek

Membasuh Kepala Bagi Wanita

Hukum Mengusap Rambut yang Disanggul (dikepang)

Sifat Mandi Junub dan Perbedaan dengan Mandi Haidh

Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haidh

Haruskah Meresapkan Air ke Dalam Kulit Kepala Dalam Mandi Junub?

Samakah Wanita yang Memiliki Rambut Panjang yang Tidak Digulung dengan yang Digulung

Hukum Mengusap Kain Penutup Kepala Saat Mandi Junub

Haruskah Dua Kali Bersuci Karena Dua Hadats

Wajib Mandikah Wanita Yang Bermimpi (Mimpi Basah)

Jika Seorang Wanita Bermimpi dan Mengeluarkan Cairan yang Tidak Mengenai Pakaiannya, Apakah Ia Wajib Mandi

Wajib Mandikah Bila Keluarnya Mani Karena Syahwat Tanpa Bersetubuh

Berdosakah Seorang Wanita yang Mimpi Bersetubuh Dengan Seorang Pria

Wajib Mandikah Jika Seorang Wanita Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya atau Jika Seorang Dokter Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya

Jika Seorang Ragu Tentang Junubnya

Bolehkah Menunda Mandi Wajib Hingga Terbit Fajar

Bolehkah Orang yang Junub Tidur Sebelum Berwudhu

Mandi Junub Merangkap Mandi Jum'at, atau Merangkap Mandi Haidh dan Mandi Nifas

Apakah Penggunaan Inai Pada Masa Haidh Akan Mempengaruhi Sahnya Mandi Setelah Masa Haidh?

Apakah Tubuh Orang yang Sedang Junub Itu Najis Sebelum Ia Mandi Junub

Masa di Mana Para Wanita yang Sedang Nifas Tidak Boleh Melaksanakan Shalat

Pendapat yang Kuat Tentang Masa Nifas

Nifas, Suci Sebelum Empat Puluh Hari Lalu Berpuasa

Apakah Wanita Nifas yang Suci Sebelum Genap Empat Puluh Hari Tetap Wajib Melaksanakan Ibadah

Nifas, Jika Darah Terus Mengalir Setelah Empat Puluh Hari

Darah Nifas Berhenti Sebelum Empat Puluh Hari, Apakah Hal Ini Membolehkan Shalat Walaupun Darah Itu Kembali Lagi Pada Hari Keempat Puluh

Apakah Masa Nifas Itu Dapat Lebih dari Empat Puluh Hari?

Tidak Mengeluarkan Darah Setelah Melahirkan, Bolehkah Suaminya Mencampurinya?

Jika Wanita Hamil Keluar Darah Banyak Tapi Bayi yang Dikandungnya Tidak Keluar ( Keguguran )

Bila Seorang Wanita Hamil Mengalami Goncangan Namun Ia Tidak Tahu Apakah Kandungannya Keguguran atau Tidak, Dalam Keadaan Ia Mengalami Haidh

Hukum Darah yang Menyertai Keguguran Prematur Sebelum Sempurnanya Bentuk Janin dan Setelah Sempurnanya Janin

Hukum Darah yang Mengalir Terus Menerus Dalam Waktu yang Lama Setelah Keguguran

Keguguran Pada Umur Tiga Bulan Kehamilan, Apakah Tetap Wajib Shalat

Hukum Darah yang Keluar Setelah Keluarnya Janin ( Keguguran )

Keguguran Sebelum dan Setelah Terbentuknya Janin

Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran

Keguguran Pada Bulan Ketiga dari Masa Kehamilan, Kemudian Setelah Lima Hari Melaksanakan Puasa dan Shalat

Wajibkah Puasa dan Shalat Bagi Wanita yang Mengalami Keguguran

Kapankah Darah Keguguran Prematur Dianggap Darah Nifas

Mengeluarkan Darah Lebih dari Tiga Hari Sebelum Persalinan

Mengeluarkan Darah Lima Hari Sebelum Datangnya Masa Nifas

Mengeluarkan Darah Satu atau Dua Hari Sebelum Persalinan

Kewajiban Wanita Nifas Pada Akhir Masa Nifas

Darah Nifas Mengalir Kembali Setelah Empat Puluh Hari

Hukum Darah Nifas yang Keluar Lagi

Hal-hal yang Mewajibkan Mandi

Hukum Berhadats Kecil Dan Menyentuh Mushaf

Mencium Istri Tidak Membatalkan Wudhu’

Darah Nifas Berhenti Kemudian Kembali Lagi Setelah Empat Puluh Hari

Yang Dibolehkan Bagi Suami Terhadap Istrinya yang Sedang Nifas

Apakah Disyaratkan Empat Puluh Hari untuk Dibolehkannya Mencampuri Istri Setelah Melahirkan

Hukum Membaca Al-Qur’an Tanpa Wudhu’

Boleh Menyentuh Kaset Rekaman Al-Qur’an Bagi Yang Sedang Junub

Bersetubuh Setelah Tiga Puluh Hari Melahirkan

Darah yang Keluar dari Wanita yang Melahirkan Melalui Operasi

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Cara Shalat Wanita yang Terus Mengeluarkan Darah

Seorang Wanita Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Darah, Lalu Beberapa Hari Kemudian Ia Mengeluarkan Da-rah Haidh yang Sebenarnya

Setelah Operasi dan Sebelum Masa Haidh Mengeluarkan Darah Hitam, Kemudian Setelah Itu Masa Haidh Datang

Seorang Wanita Telah Berhenti Masa Haidhnya Karena Usianya yang Sudah Lanjut Kemudian Dalam Suatu Perjalanan Ia Mengeluarkan Darah Terus Menerus

Wanita Mengeluarkan Darah yang Bukan Darah Haidh dan Bukan Pula Darah Nifas

Setelah Bersuci dari Haidh yang Biasanya Selama Sem-bilan atau Sepuluh Hari, Keluar Lagi Darah Pada Waktu-waktu yang Tidak Tentu

Di Bulan Ramadhan Mengeluarkan Darah Sedikit yang Terus Berlanjut Sepanjang Bulan

Setelah Nifas Mengeluarkan Darah Sedikit yang Bukan di Masa Haidh

Cara Bersucinya Wanita Mustahadhah

Perbedaan Antara Darah Haidh dan Darah Istihadhah

Penjelasan Tentang Cairan Berwarna Kuning dan Cairan Keruh Serta Hukumnya, Juga Tentang Cairan Putih (Keputihan)

Penggunaan Pil-pil Pencegah Kehamilan Mengakibatkan Timbulnya Cairan Keruh yang Merusak Haidh

Mengeluarkan Cairan Keruh Sehari atau Dua Hari Sebelum Datangnya Masa Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar Sehari atau Dua Hari Sebelum Masa Haidh

Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Cairan Keruh Sebelum Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Setelah Suci

Mengeluarkan Tetasan Bening yang Berwarna Agak Kuning di Luar Waktu Haidh

Apakah Cairan yang Keluar dari Wanita Itu Najis dan Membatalkan Wudhu

Hukum Orang yang Yakin Bahwa Cairan-cairan Itu Tidak Membatalkan Wudhu

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Bolehkah Ia Melakukan Shalat Sunat dan Membaca Al-Qur'an

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Tapi Kemudian Setelah Berwudhu Itu dan Sebelum Shalat Cairan Itu Keluar Lagi

Bolehkah Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan Melakukan Shalat Dhuha Dengan Wudhu Shalat Shubuh

Bolehkah Melakukan Shalat Tahajud Dengan Wudhu Shalat Isya Bagi Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Cukupkah Membasuh Anggota Wudhu Bagi Wanita Yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Bagaimana Hukumnya Jika Cairan Itu Mengenai Bagian Tubuh

Tidak Berwudhu Saat Mengeluarkan Cairan Itu Karena Tidak Tahu

Mengapa Tidak Ada Riwayat dari Rasulullah SAW yang Menyatakan Bahwa Cairan yang Keluar dari Wanita Dapat Membatalkan Wudhu, Sementara Para Shahabiyah Sangat Menjaga Cairan yang Keluar ?

Apa Betul Syaikh Ibnu Utsaimin Berpendapat Bahwa Cairan Tidak Membatalkan Wudhu ?

Mengeluarkan Cairan Setelah Mandi Junub dan Setelah Bangun Tidur

Wanita Hamil Mengeluarkan Cairan Sejak Satu Bulan

Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Perawan dan Janda Tanpa Mimpi

Keluarnya Mani Beserta Air Kencing Kemudian Setelah Itu Keluar Mani Tanpa Syahwat

Saya Mengeluarkan Cairan Putih dan Terkadang Cairan Itu Keluar Ketika Saya Sedang Shalat

Hukum Cairan yang Keluar Setetes Demi Setetes

Hukum Membaca Kitab Tafsir Bagi Wanita Haidh

Bagaimana Shalat Orang Yang Mengidap Penyakit Kencing Netes?

Hukum Kencing Berdiri

Panas Matahari Tidak Menghilangkan Najis

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Doa Membasuh Muka Pada Saat Berwudhu.

Doa Mandi Junub

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Hukum Mimpi (junub) Namun Tidak Keluar Mani

Menyisir Rambut dan Memotong Kuku Saat Haidh

Hukum Berhadats Kecil dan Menyentuh Mushaf


Senyum
Tes Kecerdasan !
Jawablah pertanyaan dibawah ini tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu !

Pertanyaan pertama: jika anda sedang mengikuti lomba lari, kamudian anda bisa mendahului pelari yang kedua, maka pada urutan berapakah anda sekarang?????

Jawaban !
jika anda menjawab bahwa anda diurutan pertama
Maka jawaban anda salah
Sebab jika anda mendahului pelari kedua maka anda hanya menggantikan posisinya diurutan kedua tidak menggantikan posisi pelari urutan pertama.

Sekarang soal kedua: tapi jawablah dengan cepat gak pake lama, oke ?

Pertanyaan: jika anda mendahului pelari terakhir, maka anda diurutan …… ????

Jawaban:
Jika jawaban anda adalah terakhir atau sebelum akhir, maka jawaban anda salah

Karena bagaimana mungkin anda mendahului pelari terakhir padahal yang terakhir itu adalah anda !!!?


Fatwa Puasa

Kapan Remaja Putri Diwajibkan untuk Berpuasa?

Remaja Putri Berusia Dua Belas atau Tiga Belas Tahun Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Tidak Berpuasa Selama Masa Haidh, dan Setiap Kali Tidak Berpuasa Ia Memberi Makan, Apakah Wajib Qadha Baginya

Istri Saya Hamil dan Mengeluarkan Darah Pada Permulaan Ramadhan

Mendapat Kesucian dari Haidh atau dari Nifas Sebelum Fajar dan Tidak Mandi Kecuali Setelah Fajar

Seorang Wanita Mendapat Kesuciannya dari Nifas Dalam Satu Pekan, Kemudian Ia Berpuasa Bersama Kaum Muslimin, Setelah Itu Darah Tersebut Datang Lagi

Mendapat Kesucian Setelah Tujuh Hari Melahirkan Lalu Berpuasa di Bulan Ramadhan

Setelah Empat Puluh Hari Sejak Melahirkan, Darah yang Keluar Berubah, Apakah Saya Harus Shalat dan Puasa

Melahirkan di Bulan Ramadhan dan Tidak Mengqadha Setelah Bulan Ramadhan Karena Ada Kekhawatiran Pada Bayi, Kemudian Pada Bulan Ramadhan Selanjutnya Ia Melahirkan Lagi

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil Dan Menyusui Jika Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bagaimana Hukumnya Jika Wanita Menyusui Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bolehkah Wanita Hamil Tidak Berpuasa

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil yang Tidak Puasa Karena Khawatir Terhadap Janinnya

Meninggalkan Puasa Dengan Sengaja Selama Enam Hari di Bulan Ramadhan Karena Ujian Sekolah

Memaksa Isteri untuk Tidak Berpuasa Dengan Cara Mencampurinya

Memaksa Istri untuk Tidak Berpuasa

Seorang Pria Musafir Tiba di Rumahnya Pada Siang Hari Ramadhan Lalu Ingin Menggauli Istrinya

Apakah Keluar Darah dari yang Hamil Termasuk yang Membatalkan Shaum

Suami Mencium dan Mencumbui Istrinya di Siang Hari Ramadhan

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -1

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -2

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan - 3

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -1

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -2

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -3

Menggunakan Inai Pada Rambut Saat Berpuasa

Mengobati Pilek dengan Obat yang Dihirup Melalui Hidung

Apakah Keluarnya Air Ketuban Dapat Membatalkan Puasa

Mengqadha Puasa Bagi yang Tidak Puasa Karena Hamil

Tidak Mampu Mengqadha Puasa

Tidak Berpuasa Karena Sakit Lalu Meninggal Beberapa Hari Setelah Ramadhan

Orang Meninggal yang Mempunyai Tanggungan Puasa

Sekarang Berusia Lima Puluh Tahun, Dua Puluh Tujuh Tahun yang Lalu Tidak Menjalankan Puasa Ramadhan Selama Lima Belas Hari

Beberapa Tahun yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haidh dan Belum Mengqadhanya

Mempunyai Utang Puasa Selama Dua Ratus Hari Karena Ketidaktahuannya dan Sekarang Sedang Sakit

Minum Obat Beberapa Saat Setelah Fajar

Di Depan Keluarganya Ia Berpuasa, Namun Sebenarnya Dengan Cara Sembunyi-sembunyi Ia Tidak Berpuasa Selama Tiga Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan Kedua Telah Datang Tapi Ia Belum Mengqadha Puasa Ramadhan yang Lalu

Tidak Pernah Mengqadha Puasa yang Ditinggalkannya Karena Haidh Sejak Diwajibkan Baginya Berpuasa

Tidak Berpuasa Karena Menyusui Anaknya Dan Belum Mengqadhanya, Kini Anak Itu Telah Berusia Dua Puluh Empat Tahun

Belum Mengqadha Puasa yang Ditinggalkan Pada Dua Tahun Pertama Sejak Menjalankan Puasa Wajib

Menunda Qadha Puasa Hingga

Hikmah dari Diwajibkannya Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh

Tidak Berpuasa Selama Dua Ramadhan Karena Sakit, Kemudian Pada Ramadhan Ketiga Ia Berpuasa, Apa yang Harus Dilakukan untuk Dua Ramadhan yang Telah Lewat

Meninggalkan Puasa Ramadhan Selama Empat Tahun Karena Gangguan Kejiwaan

Ibu Saya Telah Lanjut Usia, Ia Berpuasa Selama Lima Belas Hari Kemudian Tidak Berpuasa Karena Tak Sanggup Puasa

Mencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa

Saya Pernah Bertanya Kepada Seorang Dokter, Ia Mengatakan, Bahwa Pil Pencegah Haidh Itu Tidak Berbahaya

Mengkonsumsi Pil Pencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa Bersama Orang-Orang Lainnya

Hukum Mencicipi Makanan Ketika Berpuasa

Mengeluarkan Darah Selama Tiga Tahun, Apa yang Harus Dilakukan di Bulan Ramadhan

Bernadzar untuk Berpuasa Selama Satu Tahun

Hukum Mengisi Bulan Ramadhan Dengan Begadang, Berjalan-jalan di Pasar dan Tidur

Faktor-faktor yang Mendukung Wanita di Bulan Ramadhan

Apa Hukum Berbicara Dengan Seorang Wanita atau Menyentuh Tangannya di Siang Hari Ramadhan

Mengakhirkan Qadha Puasa Ramadhan Hingga Datang Ramadhan Berikutnya.

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa?

Tetesan Obat Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Mencampuri Isteri Pada Hari yang Diragukan

Memberi Makan Kaum Miskin Sebagai Pengganti Puasa Orang Lanjut Usia

Orang yang Tidak Mampu Berpuasa

Terapi di Bulan Ramadhan

Berbukanya Musafir

Berbukanya Wanita Hamil dan Wanita yang Menyusui

Onani/Masturbasi dan Bersetubuh di Siang Bulan Ramadhan

Hukum Darah yang Keluar dari Orang yang Sedang Berpuasa

Masih makan dan minum saat fajar karena ia tidak tahu.

Menonton Televisi Bagi yang Berpuasa

Seorang Musafir Tidak Berpuasa Lalu Ia Memaksa Isterinya yang Sedang Berpuasa untuk Berhubungan Badan

Wajib Puasa Bagi Wanita yang Telah Haidh

Bila Seorang Wanita Melanjutkan Puasanya Kendatipun Keluar Darah Haidh

Mengqadha’ Puasa Beberapa Tahun

Menyepelekan Puasa Sejak Pertama Kali Mengalami Haidh

Berbuka Karena Kesibukannya Dalam Bangunan dan Persiapan Nikah

Orang yang Meninggal di Bulan Ramadhan Tidak Wajib Mengqadha Sisa Harinya

Puasa dan Terapi

Sekitar Nadzar Puasa

Bertekad Puasa Tiga Hari (Tgl 13, 14, 15)

Puasa Pada Hari Sabtu

Hukum Puasanya Orang Yang Tidak Shalat Tarawih

Hukum Mencium Bagi yang Berpuasa

Darah yang Merusak Puasa

Hukum Berbekam Bagi yang Berpuasa dan Hukum Keluarnya Darah

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Terlihatnya Hilal (Bulan) Ramadhan Atau Syawwal di Suatu Negara Tidak Mengharuskan Negara-Negara Lain Mengikutinya

Tidur Sepanjang Hari Ketika Puasa

Berkumur Sampai Airnya Masuk ke Tenggorokan

Hukum Menggunakan Minyak Wangi di Siang Bulan Ramadhan

Makan Karena Lupa Ketika Puasa

Banyak Mandi Ketika Puasa

Tidak Mengqadha Puasa Karena Menghawatirkan Bayinya

Laksanakan Puasa Qadha Lebih Dulu

Panjangnya Malam dan Siang Saat Ramadhan

Negara yang Terlambat Terbenamnya Matahari

Anak Kecil Tidak Wajib Puasa Tapi Disuruh Melaksanakannya

Berbuka Berdasarkan Pemberitahuan Penyiar

Puasa Wishal

Hukum “Hidangan Orang Tua”

I’tikaf dan Syaratnya

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Tanda Subuh Adalah Terbitnya Fajar

Berpedoman Pada Ru’yat (Penglihatan) Biasa

Puasa Berdasarkan Satu Ru’yat (Penglihatan)

Minum Karena Tidak Tahu Sudah Subuh

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Jika Seorang Wanita Suci Setelah Subuh, Maka Ia Harus Berpuasa Dan Mengqadha’

Puasa Dan Junub

Puasanya Orang Yang Meninggalkan Shalat. Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Sahur Setelah Subuh

Minum Setelah Adzan Subuh

Minum Ketika Adzan Subuh

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Cuci Darah Bagi Yang Berpuasa

Hukum Menggunakan Krim Kulit

Hukum Menggunakan Inhaler Bagi Yang Berpuasa

Apakah Debu Membatalkan Puasa?

Hukum Orang Yang Puasa Dan Shalat Hanya Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Menggunakan Siwak Di Bulan Ramadhan

Hukum Bersiwak Bagi Yang Berpuasa Setelah Tergelincirnya Matahari

Apakah Tanggalnya Gigi Geraham Orang Yang Sedang Berpuasa Membatalkan Puasanya?

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

Menunda Qadha’ Puasa Hingga Tiba Ramadhan Berikutnya

Menghadiahkan Pahala Puasa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha’ Puasa

Apakah orang yang meninggal dengan menanggung utang qadha’ puasa boleh dipuasakan untuknya (diqadha’kan)?

Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawwal

Mengqadha Enam Hari Puasa Ramadhan di Bulan Syawwal, Apakah Mendapat Pahala Puasa Syawwal Enam Hari

Apakah Suami Berhak untuk Melarang Istrinya Berpuasa Sunat

Hukum Puasa Sunnah Bagi Wanita Bersuami

Hukum Zakat Yang Diserahkan Ke Lembaga Zakat Atau Instansi Pemerintah

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Yang Digunakan Sebagai Pehiasan Atau Dipinjamkan, Baik Berupa Emas Maupun Perak

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Jika Mencapai Nishab Dan Tidak Diproyeksikan Untuk Perdagangan

Apakah Seorang Wanita Harus Menggabungkan Perhiasan Putri-Putrinya Ketika Hendak Mengeluarkan Zakat Perhiasannya?

Apa Hukum Zakat Perhiasan Yang Dikenakan

Hukum Buka Warung Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Lupa Meniatkan Puasa Bulan Syawwal Dari Sejak Malam Hari, Sah Tidak?

BAGAIMANA MENENTUKAN AWAL PUASA

HIKMAH DIWAJIBKAN MENGQADHA PUASA TETAPI TIDAK MENGQADHA SHALAT

BAGAIMANA PUASA YANG BENAR?

NIAT BERBUKA,TAPI BELUM MAKAN DAN MINUM APAKAH MEMBATALKAN PUASA?

beberapa tanda Lailatul Qadr

Puasa Muharram dan 'Asyura

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa

Tetesan Air Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

HUKUM ORANG YANG PUASA TETAPI TIDAK SHOLAT

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Mengakhirkan Qadha Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya

Perbedaan Ru-yah

Shaum (Berpuasa) Berdasarkan Hisab.

Hukum Puasa Bagi Orang Yang Melanjutkan Makan Sahurnya Setelah Adzan?

Hukum Shiam (Puasa) Yang Dilakukan Pada Masa Nifas.

Mengqadha Shiyam (Puasa) Yang Telah Terlupakan Selama Sepuluh Tahun

Bolehkah Membatalkan Shiyam (Puasa) Yang Diqhadha?

Kafarat Bagi Orang Yang Mengumpuli Istrinya Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Mengqadha Shiyam Yang Terlupakan Jumlahnya

Beberapa Permasalahan Wanita Dalam Melakukan Shiyam.

Penentuan Hari dan Shiyam (Puasa) Arafah Pada Tiap Negara

Bid’ahkah Puasa 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah ?

Hisab Dijadikan Acuan Dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Dalam Melaksanakan Shiyam (Puasa)

Makan Sahur Ketika Fajar Terbit Tanpa Disadari

Air Yang Masuk Ke Tenggorokan Tanpa Sengaja Ketika Berwudhu

KADAR FIDYAH BAGI ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA KARENA TUA ATAU SAKIT

Memakai Obat Mata Dan Telinga Ketika Berpuasa

Permasalahan-Permasalahan Yang Berkaitan Dengan I'tikaf

Apakah Ada Perselisihan Pendapat Tentang Dianjurkannya Puasa Di Sembilan Hari Awal Bulan Dzulhijah

Menyikapi Dua Hadits Yang Bertentanggan Dalam Masalah Puasa 1-9 Dzulhijjah

Hukum Tidak Berpuasa Karena Alasan Pekerjaan

Hukum tetap berpuasa selama masa haidh karena tidak tahu

Menelan Pil Pencegah Haid

Apakah malam lailatul qadar jatuh pada malam ke-27 dari bulan Ramadhan

Hukum mengakhirkan qadha puasa Ramadhan sebelumnya sampai memasuki bulan Ramadhan yang baru?

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha' Puasa

Antara Berbuka atau Berpuasa Saat Safar (Bepergian)

Jika Terjadi Perbedaan Hari Arafah

Jika Puasa Arafah Jatuh Pada Hari Sabtu..?

Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat

Antusias Ibadah Saat Ramadhan Saja

Kesalahan Sebagian Muda-Mudi Saat Puasa

Apa yang Lazim dan yang Wajib Dilakukan Orang yang Berpuasa?

Tetesan Obat Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh atau Beberapa Saat Setelahnya

Tanda Subuh adalah Terbitnya Fajar

Berpedoman pada Ru'yah [Penglihatan] Semata

Puasa Berdasarkan Satu Ru'yah [Penglihatan]

Minum Karena Tidak Tahu Sudah Subuh

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Maag dan Puasa

Jika Seorang Wanita Suci Setelah Shubuh, maka Ia Harus Berpuasa dan Mengqadha'

Puasa dan Junub

Puasanya Orang yang Meninggalkan Shalat. Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Bersetubuh di Siang Hari Ramadhan ketika Safar

Sahur Setelah Subuh

Minum Setelah Adzan Subuh

Minum ketika Adzan Subuh

Suntikan di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah dari Orang yang Sedang Berpuasa

Hukum Cuci Darah bagi yang Berpuasa

Hukum Menggunakan Krim Kulit

Hukum Menggunakan Inhaler bagi yang Berpuasa

Apakah Debu Membatalkan Puasa?

Hukum Orang yang Puasa dan Shalat Hanya pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Menggunakan Siwak di Bulan Ramadhan

Hukum Bersiwak bagi yang Berpuasa Setelah Tergelincirnya Matahari

Apakah Tanggalnya Gigi Geraham Orang yang Sedang Berpuasa Membatalkan Puasanya?

Hukum Berenang bagi Orang yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan oleh Orang yang Sedang Berpuasa

Menunda Qadha Puasa Hingga Tiba Ramadhan Berikutnya

Menghadiahkan Pahala Puasa untuk Orang yang Sudah Meninggal

Orang yang Meninggal dengan Menanggung Qadha Puasa

Apa Petunjuk Rasul dan Para Sahabat di Bulan Ramadhan ?

Keadaan Para Sahabat di Musim-musim Kebaikan

Makna Berpuasa Karena Iman dan Mengharap Pahala

Hal-hal yang Hendaknya Dilakukan Orang yang Berpuasa

Sebelum Rakaat Terakhir Shalat Witir Berniat Puasa

Banyak Berbicara Saat Berpuasa


Puasa Asyura Terlewatkan Karena Lupa


Kajian Ramadhan

Menyambut Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan

Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan...!

Panduan Ringkas Puasa Ramadhan

Hikmah dan Manfa'at Puasa

Qiyam Ramadhan

Adab Shalat Tarawih Bagi Wanita

Nuzulul Qur'an Sebagai Peringatan atau Pelajaran

I'tikaf Hukum dan Keutamaanya

Menggapai Lailatul Qadar

Ramadhan Bersama al-Qur'an

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (1)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (2)

Zakat Fitrah

Kebahagiaan Bersama Iedul Fithri

Ramadhan Telah Berlalu

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

Waspada Terhadap Hadits-Hadits Dha'if (Lemah) Seputar Ramadhan


Fatwa Haji & Qurban

Apa hikmah thawaf(disekitar Ka'bah)? Apakah hikmah mencium Hajar Aswad adalah tabarruk (memohon barakah) kepadanya?

Disyari'atkannya menyembelih hewan qurban

Hukum menyembelih hewan qurban dan cara membagikan dagingnya

Mana yang lebih utama, berqurban dengan menyembelih sapi atau domba?

Menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang

Seekor unta untuk satu orang

Umur hewan qurban

Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban

Berqurban dengan harga hewan qurban

Penerima daging hewan qurban

Membagikan hewan qurban kepada orang kafir

Menyembelih sebelum Imam menyembelih

Barang siapa ingin berqurban, maka janganlah mengambil(memotong) rambut dan kukunya

Hukum wanita yang melakukan haji tanpa mahram

Hukum orang yang ingin melakukan haji namun masih memiliki hutang

Mahram Tidak Sanggup Mendampingi Dalam Ibadah Haji

Wanita Yang Mengaku Islam Ingin Menunaikan Haji

Apakah Suami Seorang Perempuan Bisa Menjadi Mahram Bagi Bibi Perempuan Tersebut

Wanita Ingin Haji Didampingi Anak Laki-Lakinya Yang Belum Baligh

Pergi Haji Hanya Ditemani Wanita Yang Dipercaya

Mahram Wanita Meninggal Pada Saat Ibadah Haji

Izin Suami Untuk Pergi Haji

Hukum Haji Bagi Wanita Tidak Mendapat Izin Dari Suaminya

Biaya Haji Ditanggung Wanita

Mengganti Haji Wanita Tua Lagi Buta

Wanita Haji Bersama Lelaki Yang Bukan Mahram

Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang Disertai Keluarganya

Seorang Wanita Mendatangkan Ibunya Untuk Diajak Pergi Haji

Anak Laki-Laki Yang Sudah Mumayyiz Menjadi Mahram

Wanita Pergi Haji Dengan Harta Suaminya

Wanita Haid Melewati Miqat Dengan Tidak Ihram

Puasa di Jeddah Lalu Berihram Haji Tanggal Delapan

Wanita Niat Haji Tamattu', Kemudian Tidak Memungkinkan Thawaf Dan Sa'i Kemudian Dia Menuju Ke Mina Dan Arafah

Mencium Hajar Aswad Pada Waktu Mulai Thawaf

Wanita Shalat di Belakang Maqam Ibrahim

Wanita Mendaki Shafa dan Marwah

Apakah lari-lari kecil pada tiga putaran pertama dari thawaf qudum khusus bagi laki-laki saja

Apakah Wanita Mempercepat Sa'i Tatkala Berada

Wanita Menyesal Karena Berumrah, Tapi Tidak Men-ziarahi Makam Rasul

Wanita Mencium Hajar Aswad

Wanita Keluar Dari Muzdalifah

Wanita Mencukur Rambut Pada Saat Haji Dan Umrah

Bentuk Pakaian Ihram Bagi Wanita

Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji Kecuali Melempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil

Wakil Dalam Melempar Jumrah

Wanita Telah Selesai Dari Seluruh Manasik Kecuali Menggunting Rambut

Thawaf Ifadhah Diganti Dengan Thawaf Wada'

Hikmah Dilarang Mengenakan Pakaian Berjahit Saat Ihram

Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram

Menggauli Istri Disaat Ibadah Haji

Menggauli Istri Setelah Tahallul Awal

Wanita Haid Tinggal di Jeddah Sebelum Thawaf Ifadhah dan Thawaf Wada' Setelah Suci Digauli Suaminya

Wanita Meletakkan Kayu atau Pengikat Untuk Mengangkat Jilbab Dari Wajahnya

Rambut Kepala Rontok Dengan Sendirinya

Wanita Pulang ke Negerinya Sebelum Thawaf Ifadhah

Pakaian Ihram Wanita Dan Hukum Mengenakan Cadar dan Sarung Tangan

Hukum Sarung Tangan Dan Kaos Kaki Saat Ihram

Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram

Hukum Membuka Wajah Dan Telapak Tangan

Menggauli Istri Setelah Selesai Ihram

Hukum Ihram Disaat Haid

Wanita Berihram Dari Miqat Sebelum Suci

Wanita Ihram Bersama Suaminya Dalam Keadaan Haid dan Tatkala Ia Telah Suci, Ia Umrah Sendirian

Wanita Dalam Kondisi Haid Dan Nifas Saat Akan Ihram

Ihram Dari Sail Dalam Keadaan Haid Lalu Pergi ke Jeddah dan Setelah Suci Menyempurnakan Ibadah Haji

Pemalsuan Pasport Tidak Mempengaruhi Keshahan Ibadah Haji

Fadhilah Ibadah Haji Itu Sangat Besar

Tidak Wajib Melakukan Ibadah Haji Kecuali Orang Yang Mampu

Suatu Masalah Penting Bagi Orang Yang Thawaf

Setiap Orang Dari Anda Wajib Bayar Fidyah

Anda Mempunyai Dua Pilihan

Tidak Apa-Apa Istirahat Sejenak Di Waktu Thawaf

Shalat Sunnat Dua Rakaat Thawaf Boleh Di Lakukan Di Setiap Masjid

Hajinya Orang Yang Meninggalkan Shalat

Berihram Dengan Dua Haji Atau Dua Umrah Tidak Boleh?

Perempuan Haid Sebelum Melaksanakan Thawaf Ifadhah Dan Tidak Bisa Menunggu Hingga Suci

Hukum Melontar Dengan Kerikil Bekas Pakai

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Oleh Orang Yang Berkesempatan Menunaikan Ibadah Haji?

Ketaatan-Ketaatan Itu Mempunyai Ciri Yang Tampak Pada Pelakunya

Kewajiban Orang Yang Telah Kembali Ke Kampung Halamannya Terhadap Keluarganya Seusai Melaksanakan Ibadah Haji

Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid Atau Nifas

Menghajikan Orang Tua (Ayah) Dengan Harta Yang Telah Diwasiatkan

Melaksanakan Haji Dibiayai Suatu Yayasan

Menunaikan Ibadah Haji Dengan Hutang Atau Kredit

Pakain Berjahit Yang Dilarang Adalah Jahitannya Yang Meliputi Seluruh Tubuh

Mendahulukan Sa’i Daripada Thawaf

Cukur Rambut Itu Gugur Bagi Orang Yang Berkepala Botak (Tidak Berambut)

Harus Melakukan Thawaf Wada’ (Perpisahan) Jika Kepulangannya Tertunda Di Mekkah

Hukum Melontar Jumroh Aqabah Di Malam Hari

Sanggahan Terhadap Orang Yang Berpendapat Bahwa Jeddah Adalah Miqat

Ini Termasuk Sunnah Yang Dilupakan

Tutuplah Kepala Anda... Anda Wajib Bayar Fidyah

Sa’i Itu Adalah Salah Satu Rukun Haji

Nabi Tidak Pernah Menentukan Do’a Khusus Untuk Thawaf

Tidak Ada Kewajiban Bagi Anda

Yang Wajib Adalah Tinggal Di Perkemahan Paling Akhir

Inilah Hari-Hari Tasyriq

Ini Adalah Maksiat Besar

Bagi Orang Yang Akan Menunaikan Ibadah Haji Atau Umrah Wajib Mempelajari Hukum-Hukumnya

Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah

Saat Thawaf atau Sa'i Afdhalnya Adalah Menyibukkan Diri Dengan Dzikir

Hukumnya Berbeda, Tergantung Kepada Perbedaan jenis Iddah

Anda Wajib Bertobat Kepada Allah Dan Mengulangi Thawaf

Anda Wajib Menundukkan Pandangan

Thawaf Wada’ Itu Adalah Nusuk Wajib

Tersentuh Tubuh Wanita Tidak Membatalkan Thawaf

Tidak Boleh Bagi Jama’ah Haji Keluar Ke Jeddah Pada Hari ‘Idul Adha

Bagi Orang Yang Sehat Tidak Boleh Mewakilkan Di Dalam Melontar Jumroh

Jama’ah Haji Pergi Ke Jeddah

Seputar Sa’i Dan Thawaf

Hukum Melontar Jumroh Pada Hari-Hari Tasyriq Sekaligus

Tidak Mabit Di Muzdalifah Apakah Mewajibkan Hadyu?

Waktu Melontar Jumroh ‘Aqabah

Menghadiahkan Pahala Amal Seperti Thawaf

Hak Allah Lebih Penting Daripada Hak Suami

Larangan-Larangan Ihram

Menggunakan Pil Pencegah Haid Untuk Ibadah Haji

Hikmah Di Balik Mencium Hajar Aswad

Hukum Meletakkan Surat Pada Kelambu Ka’bah Dan Menujukannya Kepada Rasulullah a Atau Selain Beliau

Kepergian Wanita Untuk Haji Atau Umrah Tanpa Didampingi Mahramnya

An-Nusuk dan Macam-macamnya

Kepergian Wanita Untuk Haji Atau Umrah Tanpa Didampingi Mahramnya

Hukum Ibadah Haji

Hukum Ibadah Umrah

Kewajiban Melaksanakan Ibadah Haji Itu Segera, Ataukah Dapat Ditunda

Syarat Wajib Haji dan Umrah

Syarat Ijza’ (Tertunaikannya Kewajiban) di Dalam Melaksanakan Ibadah Haji

Etika Bepergian untuk Menunaikan Haji

Apa yang Harus Dipersiapkan Oleh Seorang Muslim untuk Menunaikan Haji dan Umrah?

Mempersiapkan Diri Dengan Taqwa

Waktu Musim Haji

Hukum Melakukan Ihram Haji Sebelum Ketentuan Waktunya Tiba

Penjelasan Tentang Miqat Haji (Tempat-tempat Berihram)

Hukum Berihram Sebelum Sampai di Tempat Ihram (Miqat)

Hukum Orang yang Melalui Miqat Dengan Tidak Berihram

Perbedaan Antara Ihram Sebagai Kewajiban dan Ihram Sebagai Rukun Haji

Hukum Melafalkan Niat di Saat Berihram

Tata Cara Berihramnya Orang yang Datang ke Mekkah Melalui Udara

Tata Cara Melakukan Ibadah Haji

Rukun Umrah

Rukun Haji

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Haji atau Umrah

Kewajiban-kewajiban Haji

Hukum Mengabaikan Salah Satu dari Kewajiban Haji atau Umrah

Cara Menunaikan Haji Qiran

Hukum Melakukan Umrah Sesudah Beribadah Haji

Hukum Berpindah Niat dari Satu Bentuk Ibadah Haji ke Bentuk Ibdah Haji yang Lain

Hukum dan Ketentuan-ketentuan Mewakilkan Kepada Orang Lain di Dalam Menunaikan Haji

Syarat Seorang Pengganti Dalam Menunaikan Ibadah Haji

Mencari Uang Dengan Cara Menghajikan Orang Lain yang Niatnya Hanya Mencari Uang Semata

Apakah Orang yang Mengerjakan Haji untuk Orang Lain Mendapat Pahala Sebagian Amalan Haji?

Arti Mewakili Sebagian Amalan Haji

Mengkiaskan Perwakilan Dalam Melontar Kepada Amalan/ Manasik Haji Lainnya

Tidak Mampu Menyempurnakan Salah Satu Manasik, Apa yang Harus Dilakukan?

Hukum Orang yang Wafat di Saat Sedang Ihram Menunaikan Manasik

Cara Bersyarat Jika Tak mampu Menyempurnakan Amalan Haji

Kalimat Bersyarat

Pantangan Ihram

Hukum Meletakkan Sesuatu yang Menempel di Kepala Orang yang Sedang Ihram

Perbedaan Antara Niqab dengan Burqa’

Bagaimana Cara Wanita yang Sedang Berihram Menutup Wajahnya di Hadapan Laki-Laki

Haji Yang Bagaimana Yang Dapat Menghapus Dosa Itu?

Berkurban Untuk Mayit, Bolehkah?

Mengucapkan NIAT Ketika BERQURBAN

Menyembelih Kurban Bagi Seorang Yang Melaksanakan Haji Untuk Orang Lain

Tuntunan Melaksanakan Ibadah Haji

Manusia Berhaji Sebelum Kedatangan Islam

Hukum Berkurban dan Berserikat dalam Berkurban

Mengulangi Haji dan Umrah


Kurban Satu Ekor Kambing untuk Dua Orang Saudara Sekandung dalam Satu Rumah

Apabila Hari Arafah Berbeda

 
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info@alsofwah.or.id | website: www.alsofwah.or.id | Member Info Al-Sofwa
Artikel yang dimuat di situs ini boleh dicopy & diperbanyak dengan syarat mencantumkan sumber: http://alsofwah.or.id serta tidak untuk komersil.