Artikel Quran : Orang Bertakwa Berada di Taman Surga Senin, 28 Juli 25 Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Åöäøó ÇáúãõÊøóÞöíäó Ýöí ÌóäøóÇÊò æóÚõíõæäò (15) ÂÎöÐöíäó ãóÇ ÂÊóÇåõãú ÑóÈøõåõãú Åöäøóåõãú ßóÇäõæÇ ÞóÈúáó Ðóáößó ãõÍúÓöäöíäó (16) ßóÇäõæÇ ÞóáöíáÇ ãöäó Çááøóíúáö ãóÇ íóåúÌóÚõæäó (17) æóÈöÇáÃÓúÍóÇÑö åõãú íóÓúÊóÛúÝöÑõæäó (18) æóÝöí ÃóãúæóÇáöåöãú ÍóÞøñ áöáÓøóÇÆöáö æóÇáúãóÍúÑõæãö (19)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air, mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (Qs. adz-Dzariyat : 15-19).
Dalam ayat yang mulia ini, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menghabarkan tentang orang-orang yang bertakwa kepadaNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bahwasanya mereka pada hari kembali mereka, mereka akan berada di dalam Surga dan (menikmati) mata air (yang ada di dalamnya). [1]
Maka, semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan kita, orang tua kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita dan saudara-saudara kita termasuk golongan mereka itu. Amin
FirmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì
Åöäøó ÇáúãõÊøóÞöíäó Ýöí ÌóäøóÇÊò æóÚõíõæäò
”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air.”
Åöäøó, bermakna, “Sesungguhnya”, merupakan salah satu huruf yang berfungsi untuk memberikan penegasan. Maka, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menegaskan dan memastikan -dalam ayat ini- bahwa orang-orang yang bertakwa kepadaNya pasti akan berada di dalam Surga kelak di kehidupan akhirat.
Orang yang Bertakwa
Lalu, siapakah mereka orang-orang yang bertakwa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì itu?
Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik sewaktu di dunia. Yakni, yang melakukan kebaikan yang diperintahkanNya dan meninggalkan perkara yang dilarangNya, sesuai dengan petunjuk RasulNya, dilandasi dengan keikhlasan dalam hatinya karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata. Mereka melaksanakan perintah karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan meninggalkan larangan juga karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Mereka melakukan perintah mengharapkan pahala dan ridhaNya, dan mereka meninggalkan larangan karena takut azabNya.
Surga itu Banyak dan Bertingkat-tingkat
FirmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
Ýöí ÌóäøóÇÊò æóÚõíõæäò
”(Mereka) berada di dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air.”
Ungkapan, ÌóäøóÇÊò mengisyaratkan bahwa Surga itu banyak dan bertingkat-tingkat. Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda kepada Ibunda Haritsah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõãóÇ, yang ketika itu kehilangan anaknya karena terbunuh saat peristiwa perang Badar,
Ãóæó ÌóäøóÉñ æóÇÍöÏóÉñ åöíó ÅöäøóåóÇ ÌöäóÇäñ ßóËöíúÑóÉñ æóÅöäøóåõ Ýöí ÌóäøóÉö ÇáúÝöÑúÏóæúÓö
”Apakah Surga itu hanya satu jumlahnya (sebagaimana persangkaanmu)?, sungguh Surga itu banyak jumlahnya (dan banyak pula tingkatan-tingkatannya), dan ia (anakmu) berada di Surga Firdaus.” (HR. Al-Bukhari, no. 3982).
Bahkan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menegaskan dalam firman-Nya,
åõãú ÏóÑóÌóÇÊñ ÚöäÏó Çááóøåö æóÇááóøåõ ÈóÕöíÑñ ÈöãóÇ íóÚúãóáõæäó
”(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Ali Imran: 163)
Yakni, para penghuni Surga itu, yang (ketika di dunia) melaksanakan perbuatan yang menjadikan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ridha kepadanya, derajat (tingkatan-tingkatan ke atas) mereka berbeda-beda…[2]
Takwa Sebab Mendapatkan Surga
Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
Åöäøó ÇáúãõÊøóÞöíäó Ýöí ÌóäøóÇÊò æóÚõíõæäò
”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air.”
Ini mengisyaratkan bahwa takwa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì merupakan sebab mendapatkan Surga.
Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Janki asy-Syinqithi ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, ‘Ketakwaan sebagai sebab (seseorang) masuk Surga yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini, dijelaskan di dalam ayat yang lainnya di dalam kitab Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì (al-Qur’an), seperti firmanNya,
Êöáúßó ÇáúÌóäóøÉõ ÇáóøÊöí äõæÑöËõ ãöäú ÚöÈóÇÏöäóÇ ãóäú ßóÇäó ÊóÞöíðøÇ
”Itulah Surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.”(Qs. Maryam : 63) [3]
FirmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
æóÚõíõæäò
”Dan mata air-mata air.”
Yakni, (mereka menikmati) air yang mengalir (yaitu: sungai-sungai yang mengalir) di bawah taman-taman dan istana-istana yang ada di dalam Surga [4], sebagaimana firmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
áöáøóÐöíäó ÇÊøóÞóæúÇ ÚöäúÏó ÑóÈøöåöãú ÌóäøóÇÊñ ÊóÌúÑöí ãöäú ÊóÍúÊöåóÇ ÇáúÃóäúåóÇÑõ ÎóÇáöÏöíäó ÝöíåóÇ [Âá ÚãÑÇä : 15]
Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka Surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya…(Qs. Ali Imran : 15).
Sungai-sungai yang mengalir tersebut beragam jenisnya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
ãóËóáõ ÇáúÌóäøóÉö ÇáøóÊöí æõÚöÏó ÇáúãõÊøóÞõæäó ÝöíåóÇ ÃóäúåóÇÑñ ãöäú ãóÇÁò ÛóíúÑö ÂÓöäò æóÃóäúåóÇÑñ ãöäú áóÈóäò áóãú íóÊóÛóíøóÑú ØóÚúãõåõ æóÃóäúåóÇÑñ ãöäú ÎóãúÑò áóÐøóÉò áöáÔøóÇÑöÈöíäó æóÃóäúåóÇÑñ ãöäú ÚóÓóáò ãõÕóÝøðì [ãÍãÏ : 15]
Perumpamaan taman Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni (Qs. Muhammad : 15).
FirmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
ÂÎöÐöíäó ãóÇ ÂÊóÇåõãú ÑóÈøõåõãú
”Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka.”
Yakni, mereka rela menerima pemberian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berupa kemuliaan, kenikmatan-kenikmatan [5] yang tak terhingga dan tak berkesudahan, sebagaimana firmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì
íõÈóÔøöÑõåõãú ÑóÈøõåõãú ÈöÑóÍúãóÉò ãöäúåõ æóÑöÖúæóÇäò æóÌóäøóÇÊò áóåõãú ÝöíåóÇ äóÚöíãñ ãõÞöíãñ [ÇáÊæÈÉ : 21]
Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridhaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya. (Qs. At-Taubah : 21).
FirmanNya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
Åöäøóåõãú ßóÇäõæÇ ÞóÈúáó Ðóáößó ãõÍúÓöäöíäó
”Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik.”
Yakni, mereka adalah orang-orang yang taat (kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) semasa hidup di dunia.[6]
Di antara bentuk ketaatan mereka kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sehingga mereka tergolong orang yang bertakwa sehingga masuk Surga dan menikmati segala kenikmatan yang ada di dalamnya yang disediakan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk mereka, adalah sebagaimana yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì firmankan dalam tiga ayat berikutnya, yakni, ayat 17, 18 dan 19.
a. Qiyamullail
Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
ßóÇäõæÇ ÞóáöíáÇ ãöäó Çááøóíúáö ãóÇ íóåúÌóÚõæäó
mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam
Berkata Ibnu Abbas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, yakni, tidaklah ada suatu malam yang melewati mereka melainkan mereka memanfaatkannya (untuk qiyamullail) sekalipun beberapa saat saja.[7]
Maka, melakukan qiyamullail merupakan amal ketaatan yang istimewa, dengan itu seorang hamba tergolong orang yang bertakwa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sehingga dimasukkan ke dalam SurgaNya. Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ÃóíõøåóÇ ÇáäóøÇÓõ ÃóÝúツ ÇáÓóøáÇãó¡ æóÃóØúÚöãõæÇ ÇáØóøÚóÇãó¡ æóÕóáõøæÇ ÈÇááóøíúá æóÇáäóøÇÓõ äöíÇãñ¡ ÊóÏÎõáõæÇ ÇáÌóäóøÉó ÈöÓóáÇãò
Wahai manusia!, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali kekerabatan, shalatlah di malam hari kala (kebanyakan) orang tengah terlelap tidur, niscaya kalian masuk Surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, no. 3251).
b. Istighfar pada Akhir-akhir Malam
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóÈöÇáÃÓúÍóÇÑö åõãú íóÓúÊóÛúÝöÑõæäó
”dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
Yakni, pada akhir-akhir malam mendekati terbit fajar mereka memohon ampun kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari dosa-dosa yang mereka lakukan. [8]
Istighfar pada akhir-akhir malam juga merupakan amal yang istimewa. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memuji pelakunya. Pelakunya termasuk orang yang bertakwa, melakukan tindakan ini merupakan sebab terjauhkan dari azab Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Dalam hadis qudsi yang dikeluarkan Abdurrazzaq dan al-Baihaqi sebagaimana dinukil imam As-Suyuthi dalam tafsirnya [9] - Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
íóÞõæúáõ Çááåõ ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇáóì : Åöäøó ÃóÍóÈøó ÚöÈóÇÏöí Åöáóíøó ÇóáøóÐöíúäó íóÊóÍóÇÈõæúäó Ýöíøó æóÇáøóÐöíúäó íóÚúãõÑõæúäó ãóÓóÇÌöÏöí æóÇáøóÐöíúäó íóÓúÊóÛúÝöÑõæúäó ÈöÇáúÃóÓúÍóÇÑö ÃõæáóÆößó ÇáøóÐöíúäó ÅöÐóÇ ÃóÑóÏúÊõ ÈöÎóáúÞöí ÚóÐóÇÈðÇ ÐóßóÑúÊõåõãú ÝóÕóÑóÝúÊõ ÚóÐóÇÈöí Úóäú ÎóáúÞöí
“Allah ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇáóì berfirman, ’Sesungguhnya hamba-hambaKu yang paling Aku cintai adalah mereka yang saling mencintai karena Aku, mereka yang memakmurkan masjid-masjidKu, dan mereka yang memohon ampun kepadaKu pada akhir-akhir malam. Mereka itulah yang bila Aku ingin menurunkan azab kepada makhlukKu, lalu Aku ingat mereka, maka Aku palingkan azabKu dari makhlukKu.’”
c. Memberikan Hak Harta kepada Orang yang Membutuhkan
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóÝöí ÃóãúæóÇáöåöãú ÍóÞøñ áöáÓøóÇÆöáö æóÇáúãóÍúÑõæãö
Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.
Maknanya, pada harta mereka terdapat hak yang wajib dan yang sunnah untuk orang-orang yang membutuhkan, baik yang meminta-minta kepada orang lain maupun yang tidak minta-minta kepada orang lain karena rasa malu (atau memelihara kehormatan dirinya).[10]
Maka, orang yang melakukan amal ketaatan ini, memberikan hak harta baik yang wajib (seperti : zakat) maupun yang sunnah (seperti : infaq dan sedekah, dalam bentuk pemberian uang atau makanan, dll.) termasuk orang yang bertakwa, berpeluang masuk Surga, dan terhindar dari siksaNya, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ãóäú äóÝøóÓó Úóäú ãõÄúãöäò ßõÑúÈóÉð ãöäú ßõÑóÈö ÇáÏøõäúíóÇ¡ äóÝøóÓó Çááåõ Úóäúåõ ßõÑúÈóÉð ãöäú ßõÑóÈö íóæúãö ÇáúÞöíóÇãóÉö¡ æóãóäú íóÓøóÑó Úóáóì ãõÚúÓöÑò¡ íóÓøóÑó Çááåõ Úóáóíúåö Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ æóÇáúÂÎöÑóÉö
”Barang siapa melapangkan suatu kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melonggarkan satu kesusahannya di akhirat. Barang siapa yang memudahkan urusan orang yang ditimpa kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim, no. 2699).
Akhirnya, semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberikan taufik kepada kita untuk taat kepadaNya kini, di dunia, -dengan melakukan berbagai bentuk amal ketaatan semisal qiyamullail, beristighfar pada akhir-akhir malam, berzakat, berinfaq atau bersedekah, dan lain sebagainya- sehingga kita tergolong orang yang bertakwa yang akan dimasukkan ke dalam SurgaNya dan menikmati pemberianNya esok hari, di kehidupan akhirat kelak.
Amin.
Wallahu A’lam
Catatan :
[1] Tafsir Ibnu Katsir, 4/281.
[2] At Tafsir al-Muyassar, 1/462.
[3]Adh-Waul Bayan Fii Iidhaa-hi al-Qur’an bil Qur’an, 7/439).
[4] Aisir At-Tafaasiir Li Kalaami al-‘Aliy al- Kabiir, 5/156.5
[5] Shafwatu at-Tafaasiir, ash-Shabuniy, 3/256.
[6] Tafsir ath-Thabariy, 22/406.
[7] Tafsir Ibnu Katsir, 4/281.
[8] At-Tafsir al-Muyassar, 9/284.
[9] Lihat, ad Durru al-Mantsur, 4/140.
[10] At-Tafsir al-Muyassar, 9/285.
Hit : 1 |
Index Quran |
Beritahu Teman |
versi cetak |
Bagikan
| Index Tafsir Ayat |
|