Bab Dibolehkannya Mengungkapkan Rasa Kagum Dengan Mengucapkan Tasbih, Tahlil dan Semacamnya
Rabu, 08 Juni 11
Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu,
Ãóäøó ÇáäøóÈöíøó Õáì Çááå Úáíå æ Óáã áóÞöíóåõ æóåõæó ÌõäõÈñ¡ ÝóÇäúÓóáøó¡ ÝóÐóåóÈó¡ ÝóÇÛúÊóÓóáó¡ ÝóÊóÝóÞøóÏóåõ ÇáäøóÈöíøõ Õáì Çááå Úáíå æ Óáã¡ ÝóáóãøóÇ ÌóÇÁó¡ ÞóÇáó: Ãóíúäó ßõäúÊó íóÇ ÃóÈóÇ åõÑóíúÑóÉó¿ ÞóÇáó: íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö¡ áóÞöíúÊóäöíú æóÃóäóÇ ÌõäõÈñ¡ ÝóßóÑöåúÊõ Ãóäú ÃõÌóÇáöÓóßó ÍóÊøóì ÃóÛúÊóÓöáó¡ ÝóÞóÇáó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã ÓõÈúÍóÇäó Çááåö¡ Åöäøó ÇáúãõÄúãöäó áÇó íóäúÌõÓõ.
"Bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menemuinya, sedangkan dia berada dalam keadaan junub, lalu dia mengendap pergi lalu mandi. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mencarinya. Ketika dia mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau bersabda, 'Dimana kamu wahai Abu Hurairah?' Dia menjawab, 'Wahai Rasulullah, anda telah bertemu denganku, sedangkan saya dalam keadaan junub, maka saya tidak suka untuk duduk bersamamu sampai saya mandi (terlebih dahulu),' maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Subhanallah (Mahasuci Allah), sesungguhnya seorang Mukmin tidak najis'."
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Ghusl, Bab 'Irq al-Junub, 1/390, no. 283; dan Muslim, Kitab al-Haidh, Bab ad-Dalil ala Anna al-Muslim La Yanjus, 1/282, no. 371.
Dan kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Aisyah radiyallahu 'anha,
Ãóäøó ÇãúÑóÃóÉð ÓóÃóáóÊö ÇáäøóÈöíøó Õáì Çááå Úáíå æ Óáã Úóäú ÛõÓúáöåóÇ ãöäó ÇáúÍóíúÖö¡ ÝóÃóãóÑóåóÇ ßóíúÝó ÊóÛúÊóÓöáõ¡ ÞóÇáó: ÎõÐöíú ÝöÑúÕóÉð ãöäú ãöÓúßò ÝóÊóØóåøóÑöí ÈöåóÇ. ÞóÇáóÊú :ßóíúÝó ÃóÊóØóåøóÑõ ÈöåóÇ¿ ÞóÇáó: ÊóØóåøóÑöíú ÈöåóÇ. ÞóÇáóÊú: ßóíúÝó¿ ÞóÇáó: ÓõÈúÍóÇäó Çááåö¡ ÊóØóåøóÑöíú¡ ÝóÇÌúÊóÈóÐúÊõåóÇ Åöáóíøó¡ ÝóÞõáúÊõ: ÊóÊóÈøóÚöí ÃóËóÑó ÇáÏøóãö.
"Bahwasanya seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tentang mandinya yang disebabkan haid, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan praktek bagaimana dia mandi seraya bersabda, 'Ambillah sekapas minyak kasturi, lalu bersucilah dengannya,' dia bertanya, 'Bagaimana saya bersuci dengannya?' Beliau menjawab, 'Bersucilah dengannya,' dia bertanya, 'Bagaimana?' Beliau menjawab, 'Subhanallah, bersucilah!' Maka saya menariknya dengan kuat lalu saya berkata, 'Bersihkanlah bekas darahnya'."
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Haidh, Bab Dalku al-Mar'ah Nafsaha Idza Tathahharat, 1/414, no. 314; dan Muslim, Kitab al-Haidh, Bab Istihbab Isti'mal Firshatan Min Misk, 1/260, no. 332.
Saya berkata, "Ini adalah salah satu riwayat al-Bukhari dan sisanya merupakan riwayat Muslim dengan maknanya.
"ÇáúÝöÑúÕóÉõ" bermakna sepotong (dari kapas atau kain) dan "ÇáúãöÓúßõ" bermakna minyak wangi kasturi, yang dikenal luas. Menurut pendapat lain dikatakan, "ÇáúãóÓúßõ" yang bermakna kulit, dan terdapat pendapat-pendapat lain yang banyak, sedangkan yang terpilih bahwa maknanya adalah bahwasanya perempuan mengambil sedikit dari misk, kemudian meneteskannya pada kapas atau wol atau kain dan semisalnya, lalu meletakkannya pada kemaluan untuk mewangikan tempat (darah keluar) dan menghilangkan bau yang tidak sedap. Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa yang dituntut dalam hal tersebut adalah mempercepat terbentuknya gumpalan darah yang akan menjadi anak. Dan hal tersebut adalah pendapat dhaif. Wallahu a'lam.
Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, ( Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab ash-Shulh, Bab ash-Shulh fi ad-Diyah, 5/306, no. 2703; dan Muslim, Kitab al-Qasamah, Bab Itsbat al-Qishash, 3/1302, no. 1675.) dari Anas radiyallahu 'anhu,
Ãóäøó ÃõÎúÊó ÇáÑøõÈóíøöÚö Ãõãøó ÍóÇÑöËóÉó ÌóÑóÍóÊú ÅöäúÓóÇäðÇ¡ ÝóÇÎúÊóÕóãõæúÇ Åöáóì ÇáäøóÈöíøö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã¡ ÝóÞóÇáó: ÇóáúÞöÕóÇÕó ÇáúÞöÕóÇÕó. ÝóÞóÇáóÊú Ãõãøõ ÇáÑøõÈóíøöÚö: íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö¡ ÃóÊóÞúÊóÕøõ ãöäú ÝõáÇóäóÉó¿ æóÇááåö¡ áÇó íõÞúÊóÕøõ ãöäúåóÇ¡ ÝóÞóÇáó ÇáäøóÈöíøõ Õáì Çááå Úáíå æ Óáã: ÓõÈúÍóÇäó Çááåö íóÇ Ãõãøó ÇáÑøõÈóíøöÚö¡ ÇáúÞöÕóÇÕõ ßöÊóÇÈõ Çááåö.
"Bahwa saudara perempuan ar-Rubayyi', Ummu Haritsah, melukai seseorang, maka mereka mengadukan perselisihan tersebut kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, 'Qishash, qishash.' Ummu ar-Rubayyi' berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah dia akan diqishash disebabkan fulanah? Demi Allah, dia tidak layak diqishash disebabkan oleh fulanah.' Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Subhanallah, wahai Ummu ar-Rubayyi', qishash adalah (hukum) Kitab Allah'."
Saya berkata, Asal hadits ini terdapat dalam ash-Shahihain, akan tetapi hadits yang disebutkan ini adalah lafazh Muslim, dan hal tersebut merupakan tujuan kami di sini.
Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, (Kitab an-Nadzr, Bab La Wafa`a Li Nadzrin fi Ma'shiyah, 3/1262, no. 1641.) dari Imran bin al-Hushain radiyallahu 'anhu, dalam haditsnya yang panjang dalam kisah seorang perempuan yang ditawan,
ÝóÇäúÝóáóÊóÊú¡ æóÑóßöÈóÊú äóÇÞóÉó ÇáäøóÈöíøö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã¡ æóäóÐóÑóÊú Åöäú äóÌøóÇåóÇ Çááåõ ÓÈÍÇäå æ ÊÚÇáì áóÊóäúÍóÑóäøóåóÇ¡ ÝóÌóÇÁó Êú¡ ÝóÐóßóÑõæúÇ Ðáößó áöÑóÓõæúáö Çááåö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã¡ ÝóÞóÇáó: ÓõÈúÍóÇäó Çááåö¡ ÈöÆúÓó ãóÇ ÌóÒóÊúåóÇ.
"Maka dia terlepas dan menunggang unta Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lalu bernadzar bahwa apabila Allah Subhanahu waTa`ala menyelamatkannya niscaya dia akan menyembelih unta tersebut, maka dia datang dan mereka pun menceritakannya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau bersabda, 'Subhanallah, alangkah jelek balasan yang dia timpakan padanya'."
Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, (Kitab al-Adab, Bab al-Isti'dzan, 3/1696, no. 2154.) dari Abu Musa al-Asy'ari radiyallahu 'anhu, dalam hadits tentang meminta izin, bahwasanya dia berkata kepada Umar radiyallahu 'anhu...dan pada akhir hadits dikatakan,
íóÇ ÇÈúäó ÇáúÎóØøóÇÈö¡ ÝóáÇó Êóßõæäóäøó ÚóÐóÇÈðÇ Úóáóì ÃóÕúÍóÇÈö ÑóÓõæúáö Çááåö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã. ÞóÇáó: ÓõÈúÍóÇäó Çááåö¡ ÅöäøóãóÇ ÓóãöÚúÊõ ÔóíúÆðÇ ÝóÃóÍúÈóÈúÊõ Ãóäú ÃóÊóËóÈøóÊó.
"Wahai Ibnu al-Khaththab, sungguh janganlah kamu menyiksa sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam .' Dia menjawab, 'Subhanallah, saya hanyalah mendengar sesuatu, lalu saya ingin meneliti kebenarannya."
Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dalam hadits Abdullah bin Salam yang panjang, ketika dikatakan kepadanya,
Åöäøóßó ãöäú Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÞóÇáó:ÓõÈúÍóÇäó Çááåö¡ ãóÇ íóäúÈóÛöíú áÃóÍóÏò Ãóäú íóÞõæúáó ãóÇ áóãú íóÚúáóãú... æóÐóßóÑó ÇúáÍóÏöíúËó
"Sesungguhnya kamu termasuk penduduk surga." Dia menjawab,"Subhanallah, tidak selayaknya bagi seseorang untuk mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya,.. " Lalu dia menyebutkan hadits."
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Anshar, Bab Manaqib Ibni as-Salam, 7/129, no. 3813; dan Muslim, Kitab ash-Shahabah, Bab Min Fadha`il Ibni as-Salam, 4/1930, no. 2484.
Sumber : Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta. Disadur oleh Yusuf Al-Lomboky