LARANGAN BAGI ORANG MUKALLAF MENDOAKAN KEBURUKAN TERHADAP DIRI, ANAK, PELAYAN, HARTA & SEMACAMNYA
Jumat, 23 Mei 08
Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dengan isnad yang shahih, dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
áÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÃóäúÝõÓößõãú¡ æóáÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÃóæúáÇóÏößõãú¡ æóáÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÎóÏóãößõãú¡ æóáÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÃóãúæóÇáößõãú¡ áÇó ÊõæóÇÝöÞõæúÇ ãöäó Çááåö ÓóÇÚóÉð äöíúáó ÝöíúåóÇ ÚóØóÇÁñ ÝóíõÓúÊóÌóÇÈó áóßõãú.
'Janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa dirimu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa anak-anakmu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa pembantu-pembantumu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa hartamu, agar doa kalian tidak bersamaan dengan waktu dikabulkannya doa dari Allah sehingga doa keburukan itu dikabulkan'."
Takhrik Hadits: Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Kitab ash-Shalah, Bab an-Nahyu an Yad'uwa ala Ahlihi wa Malihi, 1/479, no. 1532, dengan sanad hasan, padahal ia merupakan potongan hadits Muslim yang akan datang setelahnya. Maka tidak perlu untuk memperpanjang pengkajiannya dengan menyebutkan sanadnya.
Saya berkata, äöíúáó dengan mengkasrahkan nun dan mensukunkan ya` bermakna, waktu dikabulkannya, diraihnya permintaan oleh yang meminta tanya.
Dan Muslim meriwayatkan hadits ini dalam akhir kitab Shahihnya [Kitab az-Zuhd, Bab Hadits Jabir, 4/2304, no. 3009.], dan dia berkata di dalamnya,
áÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÃóäúÝõÓößõãú¡ æóáÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÃóæúáÇóÏößõãú¡ æóáÇó ÊóÏúÚõæúÇ Úóáóì ÃóãúæóÇáößõãú¡ áÇó ÊõæóÇÝöÞõæúÇ ãöäó Çááåö ÓóÇÚóÉð íõÓúÃóáõ ÝöíúåóÇ ÚóØóÇÁð ÝóíóÓúÊóÌöíúÈó áóßõãú.
"Janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa dirimu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa anak-anakmu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa hartamu, agar doa kalian tidak bersamaan dengan waktu dikabulkannya doa dari Allah sehingga doa kebu-rukan itu dikabulkan."
Sumber: dikutib dari Buku “Ensiklopedia Dzikir dan Do’a Al-Imam An-Nawawi Takhrij & Tahqiq: Amir bin Ali Yasin. Diterbitkan oleh: Pustaka Sahifa Jakarta. Oleh: Abu Nabiel)