Åöäø ÇáúÍóãúÏó öááåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóÓóíøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáø áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáåó ÅöáÇø Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäø ãõÍóãøÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ
Çóááåõãø Õóáø æóÓóáøãú Úóáì ãõÍóãøÏò æóÚóáì Âáöåö æöÃóÕúÍóÇÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáÏøíúä.
íóÇÃóíøåóÇ ÇáøÐóíúäó ÂãóäõæúÇ ÇÊøÞõæÇ Çááåó ÍóÞø ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäø ÅöáÇø æóÃóäúÊõãú ãõÓúáöãõæúäó
íóÇÃóíøåóÇ ÇáäóÇÓõ ÇÊøÞõæúÇ ÑóÈøßõãõ ÇáøÐöí ÎóáóÞóßõãú ãöäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËø ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíúÑðÇ æóäöÓóÇÁð æóÇÊøÞõæÇ Çááåó ÇáóÐöí ÊóÓóÇÁóáõæúäó Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇã ó Åöäø Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíúÈðÇ
íóÇÃóíøåóÇ ÇáøÐöíúäó ÂãóäõæúÇ ÇÊøÞõæÇ Çááåó æóÞõæúáõæúÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑúáóßõãú ÐõäõæúÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó æóÑóÓõæúáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíúãðÇ¡ ÃóãøÇ ÈóÚúÏõ ...
ÝóÃöäø ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíúËö ßöÊóÇÈõ Çááåö¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúìö åóÏúìõ ãõÍóãøÏò Õóáøì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøãó¡ æóÔóÑø ÇúáÃõãõæúÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ¡ æóßõáø ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáø ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉð¡ æóßõáø ÖóáÇóáóÉö Ýöí ÇáäøÇÑö.
KHUTBAH PERTAMA
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Setelah kita mengucapkan kalimat tahmid, kalimat tahlil sebagai bentuk sanjungan dan pujian kita kepada Dzat satu-satunya tempat kita menggantungkan diri dari segala sesuatu, maka tiada kata dan ungkapan yang sepatutnya kita sampaikan dalam majelis yang mulia ini melainkan washiyatut taqwa, yaitu satu kalimat yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menyebutkannya dalam sekian banyak ayat, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun seringkali memberikan washiyat kepada para shahabatnya dalam khutbah-khutbahnya dengan kalimat tersebut, sebagaimana yang pernah beliau sampaikan juga kepada dua orang sahabat yang bernama Abu Dzar dan Mu’ad bin Jabal dalam riwayat at-Tirmidzi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bersabda
ÇöÊøóÞö Çááåó ÍóíúËõãóÇ ßõäúÊó¡ æóÇóÊúÈöÚö ÇáÓøóíøöÆóÉó ÇúáÍóÓóäóÉó ÊóãúÍõåóÇ æóÎóÇáöÞö ÇáäøóÇÓó ÈöÎõáõÞò ÍóÓóäò
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan barengilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik dan berakhlak baiklah kepada semua manusia” (HR. at-Tirmudzi).
Hadits yang mulia ini, jelas-jelas telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu. Namun demikian apa yang dipahami oleh para sahabat dari kalimat yang agung ini tidaklah sesederhana yang kita pahami, sebagai kalimat yang sering kita dengar, mudah kita ucapkan, namun kita acapkali susah dalam mencernanya apalagi merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena pentingnya makna kalimat ini hadirin yang mulia, Umar bin Khathab Radhiayallahu 'anhu pernah mengatakan dalam riwayat yang shahih,
ÇáÊøóÞúæóì åõæó ÇúáÎóæúÝõ ÈöÇúáÌóáöíáö æóÇúáÚóãóáõ ÈöÇáÊøóäúÒöíáö æóÇáÑøöÖóì ÈöÇáúÞóáöíáö æóÇúáÇöÓúÊöÚúÏóÇÏö Èöíóæúãö ÇáÑøóÍöíáö.
“At-Taqwa adalah perasaan takut kepada Allah, beramal dengan apa yang datang dari Allah dan Nabi-Nya, merasa cukup dengan apa yang ada dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Sesungguhnya bagian manusia dari dunia ini adalah umurnya. Apabila dia membaguskan penanaman modalnya pada apa yang dapat memberikan manfaat kepadanya di akhirat kelak, maka perdagangannya akan beruntung. Dan jika dia menjelekkan penanaman modalnya dengan perbuatan-perbuatan maksiat dan kejahatan sampai dia bertemu dengan Allah pada penghabisan (akhir hidup) yang jelek itu, maka dia termasuk orang-orang yang merugi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
ãóäú Úóãöáó ÕóÇáöÍðÇ ãøöä ÐóßóÑò Ãóæú ÃõäËóì æóåõæó ãõÄúãöäñ ÝóáóäõÍúíöíóäøóåõ ÍóíóÇÉð ØóíøöÈóÉð æóáóäóÌúÒöíóäøóåõãú ÃóÌúÑóåõãú ÈöÃóÍúÓóäö ãóÇßóÇäõæÇ íóÚúãóáõæäó
"Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dan dia (dalam keadaan) beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan " (Q.S an-Nahl:97).
Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala berfirman,
Ýóãóäú íóÚúãóáú ãöËúÞóÇáó ÐóÑøóÉò ÎóíúÑðÇ íóÑóåõ . æóãóäú íóÚúãóáú ãöËúÞóÇáó ÐóÑøóÉò ÔøÑøðÇ íóÑóåõ.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah:7-8)
Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala menegaskan,
ÃóÝóÍóÓöÈúÊõãú ÃóäøóãóÇ ÎóáóÞúäóÇßõãú ÚóÈóËðÇ æóÃóäøóßõãú ÅöáóíúäóÇ áÇóÊõÑúÌóÚõæäó . ÝóÊóÚóÇáóì Çááåõ Çáúãóáößõ ÇáúÍóÞøõ áÂÅöáóåó ÅöáÇøóåõæó ÑóÈøõ ÇáúÚóÑúÔö ÇáúßóÑöíãö
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya;tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. al-Mu’minun:115-116)
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Karenanya orang yang berakal adalah orang yang dapat menghisab (menghitung) amalan dirinya sebelum Allah Ta'ala menghitungnya, dan dia merasa takut dengan dosa-dosanya itu menjadi sebab akan kehancurannya.
Hadirin yang mulia sementara itu kematian dan akhir hidup seseorang akan selalu menjemputnya, kapan Allah Ta'ala menghendaki niscaya tidak ada seorangpun yang dapat merubahnya, dia tidak dapat menghindari dari sebuah kenyataan yang akan menjemputnya. Allah
Ta'ala berfirman,
ßõáøõ äóÝúÓò ÐóÂÆöÞóÉõ ÇáúãóæúÊö æóÅöäøóãóÇ ÊõæóÝøóæúäó ÃõÌõæÑóßõãú íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö Ýóãóäú ÒõÍúÒöÍó Úóäö ÇáäøóÇÑö æóÃõÏúÎöáó ÇáúÌóäøóÉó ÝóÞóÏú ÝóÇÒó æóãóÇ ÇáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ ÅöáÇøó ãóÊóÇÚõ ÇáúÛõÑõæÑö
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran:185)
Marilah kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa yang telah menjadikan diri kita terpedaya dengan gemerlapnya kehidupan dunia, akankah akhir hidup kita akhir hidup yang baik atau bahkan sebaliknya? Na'udzubillahi min dzalik.
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Dalam sebuah riwayat al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Said al-Khudriy yang mengisahkan seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian genap seratus orang. Dan pada akhir cerita, dia dikisahkan meninggal dalam keadaan mukmin karena taubatnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Said al-Khudhriy).
Dan Sebaliknya dalam riwayat yang lain dikisahkan suatu ketika ada seorang laki-laki ikut berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk menghadapi kaum Musyrikin sehingga dia terluka. Dan karena tidak kuasa menahan rasa sakit, akhirnya dia bunuh diri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Dia termasuk ahli neraka". Setelah itu seseorang mendatangi nabi menceritakan kejadian ini. Kemudian Rasullah bersabda,
Åöäøó ÇáÑøóÌõáó áóíóÚúãóáõ Úóãóáó Ãóåúáö ÇúáÌóäøóÉö ÝöíãóÇ íóÈúÏõæ áöáäøóÇÓö æóåõæó ãöäú Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö¡ æó Åöäøó ÇáÑøóÌõáó áóíóÚúãóáõ Úóãóáó Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö ÝöíãóÇ íóÈúÏõæ áöáäøóÇÓö æóåõæó ãöäú Ãóåúáö ÇúáÌóäøóÉö (ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æãÓáã)
“Sungguh seorang benar-benar melakukan perbuatan penduduk surga di hadapan manusia, namun (sebenarnya) dia termasuk penghuni neraka, dan sungguh seseorang benar-benar melakukan perbuatan penghuni nereka di hadapan manusia, namun (sebenarnya) di a termasuk penghuni surga .” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dua riwayat di atas telah tegas dan jelas menunjukkan bahwa akhir hidup seseorang, baik dan buruknya tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya.
Dan akhir hidup seseorang ditentukan oleh baik-dan buruknya akhir perjalanan hidupnya, yang telah Allah Subhanahu wata’ala tentukan dalam taqdirnya.
Dalam riwayat Ahmad dengan sanad yang shahih dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda,
Åöäøó ÇáÑøóÌõáó áóíóÚúãóáõ Úóãóáó Ãóåúáö ÇúáÌóäøóÉö æóåõæó ãóßúÊõæÈñ ãöäú Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö¡ ÝóÅöÐóÇ ßóÇäó ÞóÈúáó ãóæúÊöåö ÊóÍóæøóáó¡ ÝóÚóãöáó Ãóåúáó ÇáäøóÇÑö¡ ÝóãóÇÊó ÝóÏóÎóáó ÇáäøóÇÑó. æó Åöäøó ÇáÑøóÌõáó áóíóÚúãóáõ Úóãóáó Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö æóåõæó ãóßúÊõæÈñ ãöäú Ãóåúáö ÇúáÌóäøóÉö¡ ÝóÅöÐóÇ ßóÇäó ÞóÈúáó ãóæúÊöåö ÊóÍóæøóáó¡ ÝóÚóãöáó Ãóåúáó ÇúáÌóäøóÉö¡ ÝóãóÇÊó ÝóÏóÎóáó ÇúáÌóäøóÉó.
“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan perbuatan penghuni surga, sedangkan dia dicatat sebagai penghuni neraka. Maka sebelum kematian menjemput, ia berubah dan mengerjakan perbuatan penghuni neraka, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan perbuatan penghuni neraka sedangkan dia dicatat sebagai penghuni surga. Maka sebelum kematian menjemput, ia berubah dan melakukan perbuatan penghuni surga, kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam surga.”.
Dalam riwayat lain yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib, diceritakan ada seorang laki-laki bertanya kepadanya:
ÝÞÇá ÑÌá: íÇ ÑÓæá Çááå¡ ÃÝáÇ äãßË Úáì ßÊÇÈäÇ æäÏÚ ÇáÚãá¿ ÝÞÇá : ÇÚãáæÇ Ýßá ãíÓÑ áãÇ ÎáÞ áå. ÃãÇ Ãåá ÇáÓÚÇÏÉ ÝííÓÑæä áÚãá Ãåá ÇáÓÚÇÏÉ. æÃãÇ Ãåá ÇáÔÞÇæÉ ÝííÓÑæä áÚãá Ãåá ÇáÔÞÇæÉ¡ Ëã ÞÑà : (ÝÃãÇ ãä ÃÚØí æÇÊÞí ) ÓæÑÉ Çááíá: 5)
“Seseorang lelaki bertanya, Wahai Rasulullah!, apakah kita tidak pasrah terhadap taqdir (ketentuan)Allah Ta'ala terhadap kita dan meninggalkan amalan? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Beramalah kalian! Maka setiap orang akan dimudahkan sebagaimana apa yang ditakdirkan baginya.” Adapun orang yang ditakdirkan bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan perbuatan golongan orang-orang yang bahagia. Sedangkan orang yang ditakdirkan sengsara, maka ia pun akan dimudahkan untuk melakukan perbuatan golongan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau membaca ayat, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, (QS. al-Lail : 5)
Dalam hadits-hadits di atas telah menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan di akhir hayat telah Allah Ta'ala tentukan di dalam kitabNya (taqdirnya). Dan yang demikian berdasarkan amalnya yang merupakan sebab keduanya. Maka akhir hidup yang baik atau sebaliknya ditentukan dengan keadaan akhir amalannya.
sebagaimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda dalam riwayat yang lain dari Sahl bin Said:
ÅäãÇ ÇáÃÚãÇá ÈÇáÎæÇÊíã.
“Sesungguhnya segala amal itu tergantung dengan akhirnya.”
Maka barangsiapa yang yang telah mengikuti tuntunan Allah Ta'ala dan NabiNya, maka akhir hayatnya adalah merupakan akhir hayat yang baik, sebaliknya barangsiapa dalam hidupnya senantiasa mengikuti hawa nafsu dan syaithan, maka niscaya dia akan mendapatkan akhir hidup yang tidak baik, karena dosa-dosa yang dia lakukan selama hidupnya, sebagaimana pernah dikisahkan oleh Abdul Aziz bin Rawad yang dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitabnya, suatu hari dia menjumpai seorang yang akan meninggal dunia, kemudian ditalqinkan untuk mengucapkan kalimat Tauhid, namun ternyata dia tidak bisa mengucapkan, dan dia berkata pada akhir perkataannya: Dia telah mengkufuri kalimat tersebut. Dan meninggal dalam kekufuran. Kemudian Abdul Azis menanyakan tentang dia, maka dikatakan dia adalah seorang peminum khamr. Kemudian Abdul Aziz mengatakan:
ÇÊÞæÇ ÇáÐäæÈ ÝÅäåÇ åí ÇáÊì ÃæÞÚÊå
“Berhati-hatilah kalian terhadap segala (bentuk) dosa dan maksiat, karena dosa-dosa itulah yang menyebabkannya.” Çááåã ÃÚÏäÇ ãä ÚÐÇÈ ÇáäÇÑ æãä ÚÐÇÈ ÇáÞÈÑ¡ æÃÚÏäÇ ãä ÝÊäÉ ÇáãÍíÇ æÇáããÇÊ¡æãä ÝÊäÉ ÇáãÓíÍ ÇáÏÌÇá. Çááåã ÇÑÍãäÇ ÚäÏ ÓßÑÇÊ ÇáãæÊ¡ ææÓÚ áäÇ Ýí ÞÈæÑäÇ, æËÈÊäÇ ÈÇáÞæá ÇáËÇÈÊ Ýí ÇáÍíÇÉ ÇáÏäíÇ æÝí ÇáÃÎÑÉ.æÊæÈæÇ Åáì Çááå ÌãíÚÇ ÃíåÇ ÇáãÄãäæä¡ Åäå åæ ÇáÛÝæÑ ÇáÑÍíã.
ÃóÞõæúáõ Þóæúáöí åóÐÇ ÃóÓúÊóÛúÝöÑõ Çááåó áöí æóáóßõãú æóáöÓóÇÆöÑö ÇáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö ÝóÇÓúÊóÛúÝöÑõæúåõ Åöäøåõ åõæó ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøÍöíúãö
KHUTBAH KEDUA
Åöäø ÇáúÍóãúÏó öááåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóÓóíøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáø áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáåó ÅöáÇø Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäø ãõÍóãøÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Marilah kita menengok ke belakang bagaimana para as-Salafus Shalih bersikap dalam menyikapi akhir hayatnya dengan harapan dapat menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, diceritakan sebagian para sahabat meneteskan air mata, manakala mengingat akhir hayatnya, ditanyakan kepadanya kenapa sampai demikian, salah seorang diantara mereka menjawab: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
Åä Çááå ÊÚÇáí ÞÈÖ ÎáÞå ÞÈÖÊíä¡ ÝÞÇá: åÄáÇÁ Ýí ÇáÌäÉ æåÄáÇÁ Ýí ÇáäÇÑ¡ æáÇ ÃÏÑí Ýí Ãí ÇáÞÈÖÊíä ßäÊ¿
“Sesunggunya Allah Ta’ala menggenggam penciptaannya dalam dua genggaman, dan beliau bersabda, Diantara mereka berada di Surga dan diantara mereka yang lain berada di neraka, dan aku tidak tahu, dalam genggaman yang mana aku akan berada?”
Berkata sebagian Salaf: ãÇ ÃÈßì ÇáÚíæä ãÇ ÃÈßÇåÇ ÇáßÊÇÈ ÇáÓÇÈÞ.
“Tidaklah mata ini menangis, melainkan ketentuan (Allah) yang telah tertulis (di Lauhul Mahfudz) yang menyebabkannya.”
Suatu saat Sufyan ast-Tsauri didapati gelisah dan resah karena memikirkan akhir hayatnya, bahkan dia meneteskan air mata seraya berkata:
ÃÎÇÝ Ãä Ãßæä Þí Ãã ÇáßÊÇÈ ÔÞíÇ¡ ÃÎÇÝ Ãä ÃÓáÈ ÇáÅíãÇä ÚäÏ ÇáãæÊ
“Aku khawatir kalau (ketentuanku) di dalam kitab (Lauhul Mahfudz) termasuk yang sengsara (celaka). Dan keimanan dicabut manakala kematian menjemput” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
Diceritakan Malik bin Dinar selalu bangun malam sambil memegangi janggutnya dan berkata:
íÇ ÑÈ ÞÏ ÚáãÊ ÓÇßä ÇáÌäÉ ãä ÓÇßä ÇáäÇÑ¡ ÝÝí Ãí ÇáÏÇÑíä ãäÒá ãÇáß¿
“Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah mengetahui penghuni Surga dari penghuni neraka, maka di mana tempat Malik berada di antara keduanya?.” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
Demikianlah keutamaan mereka para as-Salafus Shalih, selalu khawatir dan was-was terhadap akhir hayat dan kehidupannya. Tentunya kita yang hadir di majelis yang mulia ini lebih dari itu, disebabkan dosa-dosa dan kemaksiatan yang senantiaasa kita lakukan. Namun demikian yang ada justru sebaliknya, kita selalu merasa aman dengan makar Allah Subhaanahu wa Taala, merasa selamat dari adzabnya sehingga sekian bencana, cobaan dan ujian baik berupa gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin puyuh, gunung meletus terasa belum menjadikan kita sadar padahal Allah Subhaanahu wa Taala berfirman:
ÃóÝóÃóãöäõæÇ ãóßúÑó Çááåö ÝóáÇóíóÃúãóäõ ãóßúÑó Çááåö ÅöáÇøó ÇáúÞóæúãõ ÇáúÎóÇÓöÑõæäó
“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 99)
Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir: “Sesungguhnya perbuatan dosa, maksiat dan kecondongan kepada hawa nafsu, pengaruhnya akan mendominasi pelakunya ketika menjelang kematian dan syaithan akan menguatkannya, maka berkumpul padanya dua kekalahan dengan lemahnya keimanan, sehingga dia akan terjatuh pada akhir hidup yang tidak baik, Allah Ta’ala berfirman:
æßÇä ÇáÔíØÇä ááÅäÓÇä ÎÐæáÇ
“Dan adalah Syaithan itu tidak mau menolong manusia” (QS. al-Furqan: 29)
Dan akhir hidup yang buruk semoga Allah Ta’ala menjauhkannya dari kita tidak akan menimpa kepada orang yang shalih secara lahir dan bathin, yang jujur perkataannya, dan tidak terdengar cerita yang demikian. Akan tetapi akhir hidup yang buruk akan selalu menimpa seseorang yang telah rusak bathinnya, keimanannya dan lahirnya, yaitu perbuataanya serta bagi orang-orang yang berani melakukan perbuatan dosa besar dan suka melakukan perbuatan jahat, maka perkara yang demikian akan selalu menguasai sampai nyawa menjemput sebelum melakukan taubat.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah bagi orang yang berakal untuk berhati-hati atas keterikatan dan ketergantungan dengan sesuatu yang terlarang. Selayaknya hati, lisan dan anggota tubuhnya selalu mengingat Allah Ta’ala, dan menjaga diri supaya selalu dalam ketaatan kepada-Nya dalam kondisi dan situasi apapun.
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik perbuatan kami pada akhir hidup kami, dan sebaik-baik kehidupan kami sebagai akhir hayat kami, dan sebaik-baik hari kami, hari di mana kami akan bertemu dengan Mu. Ya Allah tunjukilah kami semua kepada perbuatan yang baik dan jauhkanlah diri kami dari perbuatan yang mungkar dan terlarang.”
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ.
Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ æóÇáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö ÇúáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇúáÃóãúæóÇÊö¡ Åöäøóßó ÓóãöíúÚñ ÞóÑöíúÈñ ãõÌöíúÈõ ÇáÏøÚóæóÇÊö.
ÑóÈøäóÇ áÇóÊõÄóÇÎöÐú äóÇ Åöäú äóÓöíúäóÇ Ãóæú ÃóÎúØóÃúäóÇ ÑóÈøäóÇ æóáÇó ÊóÍúãöáú ÚóáóíúäóÇ ÅöÕúÑðÇ ßóãóÇ ÍóãóáúÊóåõ Úóáóóì ÇøáÐöíúäó ãöäú ÞóÈúáöäóÇ ÑóÈøäóÇ æóáÇó ÊðÍóãøáúäóÇ ãóÇáÇó ØóÇÞóÉó áóäóÇ Èöåö æóÇÚúÝõ ÚóäøÇ æóÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóÇÑúÍóãúäóÇ ÃóäúÊó ãóæúáÇóäóÇ ÝóÇäúÕõÑúäóÇ Úóáóì ÇáúÞóæúãö ÇáúßóÇÝöÑöíúäó.
ÑóÈóäóÇ ÁóÇÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí ÇúáÃóÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøÇÑö. æÇáÍãÏ ááå ÑÈ ÇáÚÇáãíä.
æÕáì Çááå Úáì äÈíäÇ ãÍãÏ æÚáì Ãáå æÕÍÈå æãä ÊÈÚåã ÈÅÍÓÇä Åáì íæã ÇáÏíä æÂÎÑ ÏÚæÇäÇ Ãä ÇáÍãÏ ááå ÑÈ ÇáÚÇáãíä.
(oleh: Khusnul Yaqin Arba’in)