Åöäø ÇáúÍóãúÏó öááåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóÓóíøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáø áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáåó ÅöáÇø Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäø ãõÍóãøÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ
Çóááåõãø Õóáø æóÓóáøãú Úóáì ãõÍóãøÏò æóÚóáì Âáöåö æöÃóÕúÍóÇÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáÏøíúä.
íóÇÃóíøåóÇ ÇáøÐóíúäó ÂãóäõæúÇ ÇÊøÞõæÇ Çááåó ÍóÞø ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäø ÅöáÇø æóÃóäúÊõãú ãõÓúáöãõæúäó
íóÇÃóíøåóÇ ÇáäóÇÓõ ÇÊøÞõæúÇ ÑóÈøßõãõ ÇáøÐöí ÎóáóÞóßõãú ãöäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËø ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíúÑðÇ æóäöÓóÇÁð æóÇÊøÞõæÇ Çááåó ÇáóÐöí ÊóÓóÇÁóáõæúäó Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇã ó Åöäø Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíúÈðÇ
íóÇÃóíøåóÇ ÇáøÐöíúäó ÂãóäõæúÇ ÇÊøÞõæÇ Çááåó æóÞõæúáõæúÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑúáóßõãú ÐõäõæúÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó æóÑóÓõæúáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíúãðÇ¡ ÃóãøÇ ÈóÚúÏõ ...
ÝóÃöäø ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíúËö ßöÊóÇÈõ Çááåö¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúìö åóÏúìõ ãõÍóãøÏò Õóáøì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøãó¡ æóÔóÑø ÇúáÃõãõæúÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ¡ æóßõáø ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáø ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉð¡ æóßõáø ÖóáÇóáóÉö Ýöí ÇáäøÇÑö.
Khutbah yang Pertama
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Setelah khatib menyampaikan khutbatul hajah yang diantara isinya adalah tentang pujian kepada Allah, permintaan tolong, ampunan dan perlindungan, yang kemudian diiringi dengan wasiat ketaqwaan, maka khatib mengajak kepada jama’ah sekalian untuk tetap meningkatkan iman dan ketaqwaan kita.
Karena dengan ketaqwaan orang akan memperoleh kesuksesan di dunia dan akhirat. Dengan ketaqwaan Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar, serta menjadikan semua urusannya menjadi mudah. Allahsubhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka”. ( Qs. Ath Thalaaq : 2-3 )
Allah subhanahu wata’ala juga berfirman, artinya, “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (Qs. ath-Thalaaq: 4)
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Dunia memang manis dan indah, sehingga banyak sekali manusia yang tertipu dengannya karenanya berapa banyak orang yang lupa akan akhiratnya, seakan-akan ia akan hidup didalamnya selama-lamanya. Dirinya begitu sangat takut akan kehilangan dunianya yang sangat menyenangkannya.
Dan dia sangat takut sekali merasa dia atau salah satu keluarganya ditimpa sakit, maka ia langsung bergegas kedokter, ia sangat ketat dalam memperhatikan badannya dan selalu menimbang berat badannya agar tubuhnya selalu seimbang.
Ya, menjaga kesehatan itu perlu, tetapi disana ada hal yang sangat penting yang tidak boleh diabaikan bagi seorang muslim yaitu menjaga hati agar tetap istiqomah dalam keta’atan dan menjaga diri serta keluarga dari api neraka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Qs. at -Tahrim: 6)
Ali radhiyallahu ‘anhu waktu menafsirkan ayat ini beliau berkata,
ÃÏÈæåã æÚáãæåã
Artinya,“Didiklah dan ajarilah mereka”.
Begitu juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
ÇÚãáæÇ ÈØÇÚÉ Çááå æÇÊÞæÇ ãÚÇÕ Çááå æÃãÑæÇ Ãåáíßã ÈÇáÐßÑ íäÌíßã Çááå ãä ÇáäÇÑ
Artinya, “Beramallah dengan menta’ati Allah, jagalah (diri) dari perbuatan-perbuatan maksiat, serta perintahkanlah keluargamu untuk berdzikir (mengingat Allah) niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari api neraka”. (Tafsir al- Qur’an al ‘Adzim Ibnu Katsir : 4/470)
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Ayat ke 6 dalam surat Allah subhanahu wata’ala agar kita menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka dan ini merupakan kewajiban yang telah Allah subhanahu wata’ala tetapkan kepada kita semua.
Imam Nawawi telah meriwayatkan ayat ini didalam bab yang ke 38 dalam kitab Riyadhus shalihin tentang :
(Kewajiban memerintahkan keluarga, anak-anak yang mumayyiz (anak-anak umur 7 tahun ke atas) dan seluruh orang berapa dalam asuhannya untuk menta’ati Allah. Dan melarang mereka dari segala bentuk penyimpangan, mendidik dan mencegah mereka dari melakukan perbuatan yang terlarang ).
Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
Wajib bagi orang yang dikaruniai istri dan anak-anak untuk selalu menjaganya dari kemurkaan Allah, didiklah istri anda agar dia selalu ta’at kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan bertauhid dan menjauhi kesyirikan, apabila istri anda belum berjilbab maka perintahkanlah untuk mengenakan jilbab dalam rangka ta’at kepada Allah subhanahu wata’ala, apakah Ridha kecantikan dan aurat istri anda di ni’mati oleh mata-mata lelaki yang liar?
Apakah anda nanti sanggup mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah subhanahu wata’ala nanti ?
Tentang anak-anak janganlah anda sia-siakan anak-anak dengan banyak melakukan hal-hal yang sia-sia dengan hanya bermain-main, nonton TV, play station. Apakah anda ridha anak-anak kelak menjadi orang yang bodoh tentang agama, yang jauh dari agama, tidak anda suka anak-anak menjadi anak yang shalih dan shalihah, yang mendoakan kedua orang tuanya.
Adapun anak-anak, maka didiklah dengan pendidikan yang baik tentang dinnya diantaranya:
Mengajarkan anak-anak tentang makna syahadat.
Menanamkan kecintaan kepada Allah dalam hatinya.
Memberikan motifasi pada anak untuk menyenangi surga, dengan menjelaskan bahwa syurga itu diperuntukan bagi orang yang sholat, puasa, ta’at kepada kedua orang tua, dan memperingatkan mereka akan neraka yang Allah siapkan bagi orang yang bermaksiat.
Mendidik anak agar selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah saja sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan hal ini kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Selain itu hendaknya kita peringatkan anak-anak kita dari perbuatan-perbuatan yang haram yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. (Majmu’at Rosa’il hal 33-34 dengan banyak perubahan)
Untuk membekali diri kita semua tidak lupa khatib isyaratkan kepada para hadirin untuk mempelajari dan memahami nasehat Luqman al-Hakim kepada anaknya dengan nasehat-nasehat emas yang penuh dengan pelajaran-pelajaran yang tinggi yang sangat kita butuhkan, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat Luqman ayat 12 sampai 19.
Dan tak lupa khatib satu firman Allah subhanahu wata’ala, sebagai nasehat yang menyeluruh untuk keluarga kita untuk selalu memperhatikan sholat, amalan yang pertama yang akan ditanyakan di hari kiamat.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat itu adalah bagi orang yang bertakwa”.(Qs. Thohaa: 132)
ÃóÞõæúáõ Þóæúáöí åóÐÇ ÃóÓúÊóÛúÝöÑõ Çááåó áöí æóáóßõãú æóáöÓóÇÆöÑö ÇáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö ÝóÇÓúÊóÛúÝöÑõæúåõ Åöäøåõ åõæó ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøÍöíúãö
[KHUTBAH KEDUA]
Åöäø ÇáúÍóãúÏó öááåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóÓóíøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáø áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáåó ÅöáÇø Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäø ãõÍóãøÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ
Jama’ah Jum’at rahimani wa rahimakumullahu
Itulah tugas kita secara khusus tugas kepala rumah tangga dan diakhirat nanti Allah akan meminta pertanggung jawaban kita.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
ßáßã ÑÇÚ æßáßã ãÓÄæá Úä ÚíÊå, æÇáÃãíÑ ÑÇÚ, æÇáÑÌá ÑÇÚ Úáì Ãåá ÈíÊå, æÇáãÑÃÉ ÑÇÚíÉ Úáì ÈíÊ ÑæÈåÇ ææáÏå, Ýßáßã ÑÇÚ æßáßã ãÓÄæá Úä ÑÚíÊå.
Artinya, “Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang amir (raja) adalah pemimpin. Seorang suami ia pun pemimpin atas keluarganya dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya”.(HR. al-Bukhari)
Imam An-Nasa’I juga meriwayatkan dari jalan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Åä Çááå ÓÇÆá ßá ÑÇÚ ÚãÇ ÇÓÊÑÚÇå ÃÍÝÙ Ðáß Ãã ÖíÚ ¿ ÍÊì íÓÃá ÇáÑÌá Úä Ãåá ÈíÊå.
Artinya, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah ia pelihara ataukah ia sia-siakan, hingga ia bertanya kepada laki-laki tentang keluarganya”. (HR. an-Nasa’i)
Anak merupakan amanah dipundak kedua orang tuanya, dan orang tua bertanggung jawab atas amanah tersebut, sedangkan lengah dalam mendidik anak adalah aib yang nyata dan kesalahan yang fatal serta pengkhianatan terhadap amanah dan suatu bentuk kekurangan dalam beragama. Rumah adalah tempat belajar yang pertama bagi anak, rumah ibarat batu bata, dari bata-bata yang serupa terbentuklah bangunan masyarakat. Dalam sebuah keluarga mulia yang mengikuti jalan yang benar, menjaga batasan-batasan yang Allah tetapkan, memelihara syari’at-Nya dan berdiri diatas tiang rasa saling mencintai, menyayangi, mengasihi, serta lebih mengedepankan saudaranya atas dirinya, saling tolong-menolong dan berada dalam ketaqwaan akan tumbuh laki-laki dan wanita dari umat ini, para pemimpinnya serta para pembesarnya.
Seorang anak sebelum dididik di tempat belajar (sekolah) dan masyarakat ia terlebih dahulu dididik dirumah oleh keluarganya, ia mengikuti kedua orang tuanya dalam perilaku sosialnya sebagaimana kedua orang tuanya bertanggung jawab terhadap akhlaqnya yang menyimpang hingga dewasa (Nadhorot fii al usroh al muslimah, karya DR. Muhammad ash-Shibagh hal 154 , dalam akhlaquna al- ijtima’iyah; karya Musthofa as-Siba’I hal 155.)
Berkata Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah rahimahullahu, “Berapa banyak orang yang telah membuat sengsara anaknya dan buah hatinya didunia dan di akhirat dengan menelantarkannya, tidak mendidiknya dan membantunya untuk menuruti hawa nafsunya sedangkan ia menyangka bahwa dia telah memuliakan anaknya padahal hakikatnya ia telah menghinakannya, menyangka bahwa dia telah menyayanginya padahal ia telah mendzaliminya hingga ia kehilangan manfaat dari anaknya dan hilang pula pahala dia di dunia dan di akhirat. Apabila engkau melihat kerusakan dalam diri anak maka kebanyakan yang engkau lihat asalnya dari seorang ayah. (Tuhfatu al-Maudud fii ahkami al-maulud, karya Ibnu al-Qoyyim hal 146-147)
Akhirnya kita meminta kepada Allah Ta’ala agar memberikan kekuatan kepada kita semua untuk bisa menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan marilah kita isi hari-hari dalam kehidupan kita dengan amal-amal shalih yang dengannya Allah ta’ala menjadi ridha kepada kita semua.
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ.
Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ æóÇáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö ÇúáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇúáÃóãúæóÇÊö¡ Åöäøóßó ÓóãöíúÚñ ÞóÑöíúÈñ ãõÌöíúÈõ ÇáÏøÚóæóÇÊö.
ÑóÈøäóÇ áÇóÊõÄóÇÎöÐú äóÇ Åöäú äóÓöíúäóÇ Ãóæú ÃóÎúØóÃúäóÇ ÑóÈøäóÇ æóáÇó ÊóÍúãöáú ÚóáóíúäóÇ ÅöÕúÑðÇ ßóãóÇ ÍóãóáúÊóåõ Úóáóóì ÇøáÐöíúäó ãöäú ÞóÈúáöäóÇ ÑóÈøäóÇ æóáÇó ÊðÍóãøáúäóÇ ãóÇáÇó ØóÇÞóÉó áóäóÇ Èöåö æóÇÚúÝõ ÚóäøÇ æóÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóÇÑúÍóãúäóÇ ÃóäúÊó ãóæúáÇóäóÇ ÝóÇäúÕõÑúäóÇ Úóáóì ÇáúÞóæúãö ÇáúßóÇÝöÑöíúäó.
ÑóÈóäóÇ ÁóÇÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí ÇúáÃóÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøÇÑö. æÇáÍãÏ ááå ÑÈ ÇáÚÇáãíä.
(Oleh: Tim Redaksi alsofwah.or.id)