Di tengah kondisi manusia yang tenggelam dalam materialisme, didominasi berbagai godaan, kebisingan yang mematikan makna sejati, serta dampak dari sikap yang tidak bijak dalam menyikapi konsep-konsep dasar agama, banyaknya perbedaan dan minimnya keadilan dalam perselisihan dan pertikaian, tampak jelas kebutuhan mendesak untuk memperhatikan hak-hak sesama hamba, dan keluar dari berbagai kezhaliman terhadap mereka. Sebab persoalan ini lebih dalam dari sekedar perselisihan sesaat. Ia adalah lemahnya dorongan keimanan, kekosongan pemikiran, serta hilangnya nilai-nilai luhur dan tujuan mulia. Hal itu melahirkan individu-individu yang tidak memiliki perhatian kecuali berbuat zhalim, dan mencari-cari kesalahan orang lain, alih-alih sibuk dalam membangun hal-hal positif. Dari sinilah muncul kebutuhan untuk mengingatkan wasiat yang menyeluruh, yang mengobati kekosongan ini dari akarnya, mengembalikan penghormatan terhadap nilai-nilai tertinggi, peran teladan yang menginspirasi, pentingnya kejelasan tujuan, keseimbangan individu, dan kokohnya masyarakat, dengan tetap memperhatikan landasan syari’at, serta aspek pembinaan psikologis, sosial, dan pendidikan, agar kita memperkuat pesan kesadaran dan meneguhkan dampak pembentukan masyarakat. Maka, janganlah tergesa-gesa menzhalimi siapa pun, karena tempat kembali kezhaliman itu amat buruk.
Imam al-Marwadi berkata :
“Penghalang dari perbuatan zhalim tidak lepas dari salah satu dari empat hal : (pertama) akal yang mencegah, (kedua) agama yang menahan, (ketiga) kekuasaan yang menindak, (keempat) atau ketidak mampuan yang menghalangi.”
Oleh karena itu, banyak sekali nash al-Qur’an dan sunnah yang mencela kezhaliman dan pelakunya, karena kezhaliman adalah asal dari segala keburukan. Kezhaliman adalah kegelapan, dan karena itu Rabb pemilik langit dan bumi memperingatkannya. Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman dalam hadis Qudsi :
íóÇ ÚöÈóÇÏöì Åöäøöì ÍóÑøóãúÊõ ÇáÙøõáúãó Úóáóì äóÝúÓöì æóÌóÚóáúÊõåõ Èóíúäóßõãú ãõÍóÑøóãðÇ ÝóáÇó ÊóÙóÇáóãõæÇ
“Wahai hamba-hamba-Ku ! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.” (HR. Muslim)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
Ýóæóíúáñ áöáøóÐöíäó ÙóáóãõæÇ ãöäú ÚóÐóÇÈö íóæúãò Ãóáöíãò [ÇáÒÎÑÝ : 65]
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang zalim, karena azab pada hari yang pedih.” (Qs. Az-Zukhruf : 65)
Sesungguhnya seburuk-buruk bentuk kezaliman adalah kezaliman terhadap sesama hamba. Ia dipenuhi duri-duri berdarah yang menyeret pelakunya ke jurang kebinasaan. Betapa banyak hak yang dibatalkan secara batil, kebenaran yang dilenyapkan, dan kerusakan yang ditimbulkan, yang merobek sesuatu yang semula tersambung, dan tidak mampu menambal kerusakan yang telah robek, dan hal itu mencakup darah, harta dan kehormatan.
Telah shahih dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, beliau bersabda,
Åöäøó ÏöãóÇÁóßõãú æóÃóãúæóÇáóßõãú æóÃóÚúÑóÇÖóßõãú Úóáóíúßõãú ÍóÑóÇãñ ßóÍõÑúãóÉö íóæúãößõãú åóÐóÇ æóßóÍõÑúãóÉö ÔóåúÑößõãú åóÐóÇ æóßóÍõÑúãóÉö ÈóáóÏößõãú åóÐóÇ
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, sebagaimana haramnya bulan kalian ini, sebagaimana haramnya negeri kalian ini.”
Dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÃóÊóÏúÑõæäó ãóÇ ÇáúãõÝúáöÓõ ». ÞóÇáõæÇ ÇáúãõÝúáöÓõ ÝöíäóÇ ãóäú áÇó ÏöÑúåóãó áóåõ æóáÇó ãóÊóÇÚó. ÝóÞóÇáó « Åöäøó ÇáúãõÝúáöÓó ãöäú ÃõãøóÊöì íóÃúÊöì íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö ÈöÕóáÇóÉò æóÕöíóÇãò æóÒóßóÇÉò æóíóÃúÊöì ÞóÏú ÔóÊóãó åóÐóÇ æóÞóÐóÝó åóÐóÇ æóÃóßóáó ãóÇáó åóÐóÇ æóÓóÝóßó Ïóãó åóÐóÇ æóÖóÑóÈó åóÐóÇ ÝóíõÚúØóì åóÐóÇ ãöäú ÍóÓóäóÇÊöåö æóåóÐóÇ ãöäú ÍóÓóäóÇÊöåö ÝóÅöäú ÝóäöíóÊú ÍóÓóäóÇÊõåõ ÞóÈúáó Ãóäú íõÞúÖóì ãóÇ Úóáóíúåö ÃõÎöÐó ãöäú ÎóØóÇíóÇåõãú ÝóØõÑöÍóÊú Úóáóíúåö Ëõãøó ØõÑöÍó Ýöì ÇáäøóÇÑö ».
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ?”
Mereka menjawab : “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta.”
Beliau bersabda : “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku, adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, zakat, namun ia datang dalam keadaan pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka, kebaikannya diambil untuk orang ini dan itu. Jika kebaikannya habis sebelum tuntutan diselesaikan, maka dosa-dosa mereka diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim)
Renungkanlah wahai yang dirahmati Allah !
Hamba ini datang dengan membawa pahala shalat, zakat, puasa, yakni, ia telah menunaikan rukun Islam dan membawa kebaikan sebesar gunung, yang ia kira akan menyelamatkannya, namun ia datang dalam keadaan memikul kezhaliman terhadap sesama hamba yang menjadikan akhirnya ke Neraka, na’udzubillah.
Tidak disebutkan di sini dosa minum khamer meskipun ia dosa besar dan pelakunya berada di bawah kehendak Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, bisa saja Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengampuni atau mengadzabnya. Adapun kezhaliman yang berkaitan dengan hak-hak sesama hamba, maka wajib ada pemenuhan dan pengembalian, karena ia adalah hak khusus, dan hak-hak manusia dibangun di atas tuntutan, bukan pemaafan.
Oleh karena itu Sufyan ats-Tsauriy ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata :
Åöäøóßó Ãóäú ÊóáúÞóì Çááåó ÚóÒøó æó Ìóáøó ÈöÓóÈúÚöíúäó ÐóäúÈÇð ÝöíúãóÇ Èóíúäóßó æó Èóíúäóåõ Ãåúæóäõ Úóáóíúßó ãöäú Ãóäú ÊóáúÞóÇåõ ÈöÐóäúÈò æóÇÍöÏò ÝöíúãóÇ Èóíúäóßó æó Èóíúäó ÇáúÚöÈóÇÏö
“Jika engkau bertemu Allah dengan tujuh puluh dosa antara engkau dan Allah, itu lebih ringan bagimu daripada engkau bertemu dengan-Nya dengan satu dosa antara engkau dan sesama hamba.” [1]
Ibnul Qayyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ menjelaskan tentang mereka yang menjaga hak-hak Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, ia berkata :
“Engkau bisa mendapati seseorang yang shaleh, rajin shalat, puasa, zikir, dan doa, namun ia merobek kehormatan manusia tanpa peduli.”
Dan beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ menyebutkan bahwa kezhaliman terbagi menjadi tiga catatan :
(Pertama) catatan yang tidak diampuni oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sama sekali, yaitu kesyirikan.
(Kedua) catatan yang tidak dibiarkan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, yaitu kezaliman antar manusia,
(Ketiga) catatan yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak begitu perhitungan yaitu kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri antara dia dan Rabbnya.
Wahai orang yang zhalim !
Wahai orang yang zhalim !
Engkau berbuat aniaya terhadap orang yang tidak memiliki penolong selain Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Yang Maha Mengawasi.
Jangan tertipu oleh penangguhan, esok engkau mati,
dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan memutuskan perkara di antara kalian dengan keadilan yang hak,
Bukan dengan penyimpangan dan tipu daya.
Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó memerintahkan kita untuk melepaskan diri dari kezaliman di dunia, sebelum datang menghadap Rabb semesta alam.
Dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ãóäú ßóÇäóÊú áóåõ ãóÙúáóãóÉñ áöÃóÎöíåö ãöäú ÚöÑúÖöåö Ãóæú ÔóíúÁò ÝóáúíóÊóÍóáøóáúåõ ãöäúåõ Çáúíóæúãó ÞóÈúáó Ãóäú áóÇ íóßõæäó ÏöíäóÇÑñ æóáóÇ ÏöÑúåóãñ Åöäú ßóÇäó áóåõ Úóãóáñ ÕóÇáöÍñ ÃõÎöÐó ãöäúåõ ÈöÞóÏúÑö ãóÙúáóãóÊöåö æóÅöäú áóãú Êóßõäú áóåõ ÍóÓóäóÇÊñ ÃõÎöÐó ãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÕóÇÍöÈöåö ÝóÍõãöáó Úóáóíúåö
“Barang siapa memiliki kezhaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan atau sesuatu apapun, maka hendaklah ia meminta kehalalan hari ini, sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shaleh, akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika tidak, maka dosa saudaranya akan diambil lalu ditimpakan kepadanya, (kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka).” (HR. al-Bukhari)
Dan Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ãóäú ÞóÇáó Ýöì ãõÄúãöäò ãóÇ áóíúÓó Ýöíåö ÃóÓúßóäóåõ Çááøóåõ ÑóÏúÛóÉó ÇáúÎóÈóÇáö ÍóÊøóì íóÎúÑõÌó ãöãøóÇ ÞóÇáó
“Barang siapa berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan menempatkannya di lumpur nanah dan darah penduduk neraka (pada hari Kiamat), hingga ia keluar dari apa yang ia katakan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih)
Maka waspadalah wahai hamba-hamba Allah, waspadalah sepenuh kewaspadaan, dari melanggar hak-hak manusia dan menyakiti mereka. Lepaskanlah diri kalian dari setiap orang yang haknya pernah kalian kurangi sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham. Perkaranya ini sungguh sangat serius.
Kepada Allah Penguasa hari pembalasan kita berjalan
Dan di sisi Allah seluruh perselisihan akan dikumpulkan
Dan sungguh Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mendoakan rahmat, bagi orang yang menyegerakan penyelesaian kezhaliman terhadap saudaranya agar kebaikannya tidak diambil pada hari Kiamat.
Dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÑóÍöãó Çááåõ ÚóÈúÏðÇ ßóÇäóÊ áöÃóÎöíúåö ÚöäúÏóåõ ãóÙúáóãóÉñ Ýöí ÚöÑúÖò Ãóæú ãóÇáò ÝóÌóÇÁóåõ ÝóÇÓúÊóÍóáøóåõ ÞóÈúáó Ãóäú íõÄúÎóÐó æóáóíúÓó Ëóãøó ÏöíúäóÇÑðÇ æóáóÇ ÏöÑúåóãðÇ
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang memiliki kezhaliman terhadap saudaranya, baik kehormatan atau harta, lalu ia datang meminta kehalalan sebelum kebaikannya diambil pada hari tidak ada dinar dan dirham.” (HR. at-Tirmidzi)
Dan cukuplah kezhaliman sebagai sesuatu yang menimbulkan kebencian dan peringatan keras bagi para pelakunya, bahwa ia (kezhaliman) datang dalam al-Qur’an beriringan dengan kesyirikan, na’uzhubillah.
Dan termasuk kezhaliman yang nampak di era ternologi dan digitalisasi, adalah apa yang disebarkan melalui sebagian media sosial, oleh para penggiring opini dan perusak akal, penyebar terorisme pemikiran, serta terjerumus dalam ghibah, namimah, dusta, fitnah, hasad, kebencian, dendam, dan kefasikan dalam perselisihan. Ini adalah kezhaliman yang paling nyata, paling besar, paling gelap, dan paling celaka. Dan, wajib bagi pelakunya untuk segera melepaskan diri darinya sebelum tidak ada dinar dan dirham.
Ingatlah, bertakwalah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì wahai hamba-hamba Allah !, dan beramallah sebelum datangnya penghancur segala kenikmatan, dan pemecah kebersamaan. Kalian akan menyesal ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat. Berusahalah keluar dari kezhaliman terhadap sesama, menyakiti mereka baik secara nyata maupun makna, dengan ucapan dan perbuatan.
[Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman, mengingatkan kita semuanya]
æóÇáøóÐöíäó íõÄúÐõæäó ÇáúãõÄúãöäöíäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö ÈöÛóíúÑö ãóÇ ÇßúÊóÓóÈõæÇ ÝóÞóÏö ÇÍúÊóãóáõæÇ ÈõåúÊóÇäðÇ æóÅöËúãðÇ ãõÈöíäðÇ [ÇáÃÍÒÇÈ : 58]
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Qs. al-Ahzab : 58)
(Redaksi)
Sumber :
Disarikan dari Khuthbah Jum’at Syaikh Prof. Dr. Abdurrahman As-Sudais, 6 Rajab 1447 H/26 Desember 2025 M.
Catatan :
[1] at-Tadzkirah Fii Ahwali al-Mauta Wa Umuri al-Aakhirati, 1/409.


















