Setelah menjelaskan empat tanda-tanda kekuasaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, yakni, unta, langit, gunung dan bumi, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan kepada NabiNya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
ÝóÐóßøöÑú [ÇáÛÇÔíÉ : 21]
“Maka berilah peringatan…” (al-Ghasyiyah : 21)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkan Nabi-Nya agar memberikan peringatan dan tidak mengkhususkan peringatan itu untuk seorang saja, yakni, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak menyuruh : ‘berilah peringatan kepada si Fulan dan si Fulan !’. Peringatan ini bersifat umum. Karena Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó diutus kepada seluruh umat manusia. [*] Berilah peringatn kepada siapa saja, dimana dan kapan saja !.
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah memberi peringatan, demikian pula para Khulafaur Rasyidin sepeninggal beliau yang meneruskan tugas beliau di tengah umat dalam menyebarkan ilmu, amal shaleh dan dakwah.
Namun, apakah peringatan ini berguna bagi setiap manusia ?
Jawabannya : tidak selalu !
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menegaskan :
ÝóÅöäøó ÇáÐøößúÑóì ÊóäúÝóÚõ ÇáúãõÄúãöäöíäó [ÇáÐÇÑíÇÊ : 55]
“Karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat : 55)
Adapun selain orang-orang yang beriman, peringatan hanyalah berfungsi menegakkan hujjah kepada mereka, sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Tidak ada yang mendapat manfaat dari peringatan kecuali orang-orang yang beriman. Maka dari itu kita katakan : ‘Jika hatimu tidak mendapat manfaat dari peringatan yang diberikan maka curigailah dirimu ! Karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah mengatakan :
æóÐóßøöÑú ÝóÅöäøó ÇáÐøößúÑóì ÊóäúÝóÚõ ÇáúãõÄúãöäöíäó [ÇáÐÇÑíÇÊ : 55]
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat : 55)
Jika kita diberi peringatan sementara hati kita tidak tersentuh dan tidak mendapat manfaat dari peringatan tersebut, maka kita harus mencurigai diri kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa diri kita dilanda krisis keimanan. Kalaulah iman kita sempurna tentu peringatan akan bermanfaat. Karena peringatan pasti bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Kemudian, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÅöäøóãóÇ ÃóäúÊó ãõÐóßøöÑñ [ÇáÛÇÔíÉ : 21]
“Karena sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang memberi peringatan.”
Yakni, Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó hanyalah pemberi peringatan dan muballigh (yang menyampaikan), adapun hidayah mutlak di tangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
áóíúÓó Úóáóíúßó åõÏóÇåõãú æóáóßöäøó Çááøóåó íóåúÏöí ãóäú íóÔóÇÁõ [ÇáÈÞÑÉ : 272]
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah : 272)
Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah memberikan peringatan sampai akhir hayat beliau. Hingga sebelum menghembuskan nafas terakhir beliau masih sempat berkata :
ÇóáÕøóáóÇÉó ÇóáÕøóáóÇÉó æóãóÇ ãóáóßóÊú ÃóíúãóÇäõßõãú
“Jagalah shalat, jagalah shalat dan jagalah budak-budak yang kalian miliki !” [1]
Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menghadapi saat-saat sekarat sambil menyampaikan pesan tersebut. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah memberi peringatan sejak awal diangkat menjadi Rasul saat dikatakan kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
Þõãú ÝóÃóäúÐöÑú [ÇáãÏËÑ : 2]
“Bangunlah, lalu berilah peringatan !” (al-Mudatsir : 2)
Sampai Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mewafatkan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó senantiasa bersemangat memberikan peringatan pada setiap kesempatan dan waktu yang ada meski beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menerima perlakuan buruk dari kaumnya dan dari kaum lain. Siapa yang pernah membaca sejarah sirah nabawiyah tentu mengetahui perlakuan yang beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó terima dari penduduk Makkah, kaum yang paling dekat hubungannya dengan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Mereka mengenal beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan bahkan sempat menggelari beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sebagai al-Amin (yang terpercaya). Mereka mempercayai beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó hingga mereka bersedia mengangkat beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sebagai hakim dalam peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Ketika mereka merenovasi Ka’bah dan hendak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula, mereka berkata : “Siapakah yang meletakkannya ?” Terjadilah pertengkaran di antara mereka. Masing-masing kabilah mengatakan : “Kamilah yang hendak meletakkannya ke tempatnya semula!” Lalu datanglah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan memutuskan pertengkaran di antara mereka. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó suruh mereka meletakkan Hajar Aswad pada sehelai kain, lalu masing-masing kabilah memegang ujung kain, kemudian mengangkatnya. Setelah sampai di tempatnya beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengambilnya dengan tangan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó yang mulia lalu meletakkannya di tempatnya. [2]
Mereka menggelari beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó “al-Amin”, namun ketika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memuliakan dengan kenabian, gelar itu berubah menjadi cercaan. Mereka mengatai beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tukang sihir, tukang tenung, penyair, orang gila, tukang dusta dan menghujani beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dengan berbagai macam cercaan. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tetap memberikan peringatan, karena tidak ada kuasa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó selain memberi peringatan. Dari situ kita ketahui bahwa hidayah berada di tangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Kita tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang paling dekat dengan kita sekalipun ! Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
Åöäøóßó áóÇ ÊóåúÏöí ãóäú ÃóÍúÈóÈúÊó æóáóßöäøó Çááøóåó íóåúÏöí ãóäú íóÔóÇÁõ [ÇáÞÕÕ : 56]
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash : 56)
Janganlah terkejut bila kita memberi peringatan kepada seseorang, kita lihat ia menentang atau membantah atau mengatakan : “Ah, semau saya saja!” atau kalimat-kalimat sejenisnya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah berfirman kepada Nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
áóÚóáøóßó ÈóÇÎöÚñ äóÝúÓóßó ÃóáøóÇ íóßõæäõæÇ ãõÄúãöäöíäó [ÇáÔÚÑÇÁ : 3]
“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (asy-Syu’ara : 3)
Yakni, janganlah engkau membinasakan dirimu karena mereka tidak mau beriman. Keimanan mereka adalah untuk mereka dan kekufuran mereka bukanlah tanggung jawabmu! Oleh karena itu Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan di sini :
áóÓúÊó Úóáóíúåöãú ÈöãõÕóíúØöÑò [ÇáÛÇÔíÉ : 22]
“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (al-Ghasyiyah : 22)
Yakni, engkau tidak memiliki kuasa atau kendali apapun atas mereka. Kekuasaan hanyalah milik Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Rabb Semesta Alam. Kewajibanmu hanyalah memberi peringatan, maka berilah peringatan itu ! Sedangkan kuasa dan kendali ada di tangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì !
Kemudian, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan :
ÅöáøóÇ ãóäú Êóæóáøóì æóßóÝóÑó (23) ÝóíõÚóÐøöÈõåõ Çááøóåõ ÇáúÚóÐóÇÈó ÇáúÃóßúÈóÑó (24) [ÇáÛÇÔíÉ : 23 ¡ 24]
“Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.” (al-Ghasyiyah : 23-24)
Para ulama ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ mengatakan : Kata “ ÅöáøóÇ “ (kecuali) di sini bermakna áóßöäú (tetapi) maksud istitsna (pengecualian) di sini adalah istitsna munqati’ bukan istitsna muttasil. Perbedaan antara keduanya : Pada istitsna muttasil perkara yang dikecualikan berasal dari jenis perkara yang dikecualikan darinya. Sedangkan pada istitsna munqati’ tidak berasal dari jenis yang dikecualikan darinya. Misalnya, jika kita katakan istitsna dalam ayat di atas adalah muttasil maka makna ayat ini menjadi : (“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka kecuali orang yang berpaling dan kafir; maka kamu memiliki kuasa atas mereka”) padahal bukan itu maknanya, namun maknanya : (“tetapi orang yang berbaling dan kafir setelah engkau beri peringatan, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.”)
Barangsiapa berpaling dan kafir setelah disampaikan kepadanya wahyu yang turun atas Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó maka ia pasti akan terkena azab.
Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÅöáøóÇ ãóäú Êóæóáøóì æóßóÝóÑó
“...tetapi orang yang berpaling dan kafir ...” (al-Ghasyiyah : 23)
At-Tawalliartinya berpaling, yakni tidak mau melihat dan menerima kebenaran, bahkan tidak mau mendengarnya. Kalau pun ia mendengar dengan telinganya namun hatinya tidak mendengarnya. Sebagaimana yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan dalam ayat :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÃóØöíÚõæÇ Çááøóåó æóÑóÓõæáóåõ æóáóÇ ÊóæóáøóæúÇ Úóäúåõ æóÃóäúÊõãú ÊóÓúãóÚõæäó (20) æóáóÇ ÊóßõæäõæÇ ßóÇáøóÐöíäó ÞóÇáõæÇ ÓóãöÚúäóÇ æóåõãú áóÇ íóÓúãóÚõæäó (21) [ÇáÃäÝÇá : 20 ¡ 21]
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafiq) yang berkata : “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (al-Anfal : 20-21)
Yakni, mereka tidak mau tunduk kepada-Nya.
Dalam ayat ini Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan :
ÅöáøóÇ ãóäú Êóæóáøóì æóßóÝóÑó
“...tetapi orang yang berpaling dan kafir ...” (al-Ghasyiyah : 23)
Tawalliartinya berpaling, yakni tidak mau melihat dan menerima kebenaran bahkan tidak mau mendengarnya. Kalaupun ia mendengar dengan telinganya namun hatinya tidak mendengarnya. Sebagaimana yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebutkan dalam ayat :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÃóØöíÚõæÇ Çááøóåó æóÑóÓõæáóåõ æóáóÇ ÊóæóáøóæúÇ Úóäúåõ æóÃóäúÊõãú ÊóÓúãóÚõæäó (20) æóáóÇ ÊóßõæäõæÇ ßóÇáøóÐöíäó ÞóÇáõæÇ ÓóãöÚúäóÇ æóåõãú áóÇ íóÓúãóÚõæäó [ÇáÃäÝÇá : 20 ¡ 21]
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata : “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (al-Anfal : 20-21)
Yakni mereka tidak mau tunduk kepada-Nya. Dalam ayat ini Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan :
ÅöáøóÇ ãóäú Êóæóáøóì æóßóÝóÑó
Tawalla artinya berpaling dan kafara artinya menyombongkan diri serta tidak mau menerima ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , maka sebagai balasannya :
ÝóíõÚóÐøöÈõåõ Çááøóåõ ÇáúÚóÐóÇÈó ÇáúÃóßúÈóÑó [ÇáÛÇÔíÉ : 24]
“...maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.”
Azab yang besar pada Hari Kiamat.
Dalam ayat ini Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak menyebutkan azab yang menjadi perbandingannya. Yakni Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak menyebutkan : “azab yang lebih besar daripada ini dan ini !” karena azab yang diancamkan ini telah mencapai puncak kebesaran, kesulitan dan kehinaan. Siapa saja yang berpaling dan menjadi kafir, pasti Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan mengazabnya dengan siksa yang sangat dahsyat. Di dunia pun ada azab yang kecil. Orang yang berpaling dari ajaran Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kadang kala tertimpa penyakit di tubuh atau akalnya, tertimpa kemalangan pada keluarga, harta atau masyarakatnya. Semua itu bila dibandingkan dengan azab api Neraka adalah azab yang kecil. Azab yang dahsyat itu hanya diberikan pada Hari Kiamat nanti.
Maka Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan setelah itu :
Åöäøó ÅöáóíúäóÇ ÅöíóÇÈóåõãú [ÇáÛÇÔíÉ : 25]
“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka” (al-Ghasyiyah : 25)
Yakni, tempat kembali mereka. Tempat kembali adalah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, walau kemanapun hamba itu melarikan diri namun tempat kembalinya adalah kepada Rabbnya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Walau bagaimana pun panjang usianya namun tempat kembalinya hanyalah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì . Oleh sebab itu Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáúÅöäúÓóÇäõ Åöäøóßó ßóÇÏöÍñ Åöáóì ÑóÈøößó ßóÏúÍðÇ ÝóãõáóÇÞöíåö [ÇáÅäÔÞÇÞ : 6]
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (al-Insyiqaq : 6)
Bersiap-siaplah wahai saudaraku untuk menghadapi hari pertemuan, karena engkau pasti bertemu dengan Rabb-mu. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah bersabda :
ãóÇ ãöäúßõãú ÃóÍóÏñ ÅöáøóÇ Óóíõßóáøöãõåõ ÑóÈøõåõ áóíúÓó Èóíúäóåõ æóÈóíúäóåõ ÊõÑúÌõãóÇäñ ÝóíóäúÙõÑõ Ãóíúãóäó ãöäúåõ ÝóáóÇ íóÑóì ÅöáøóÇ ãóÇ ÞóÏøóãó ãöäú Úóãóáöåö æóíóäúÙõÑõ ÃóÔúÃóãó ãöäúåõ ÝóáóÇ íóÑóì ÅöáøóÇ ãóÇ ÞóÏøóãó æóíóäúÙõÑõ Èóíúäó íóÏóíúåö ÝóáóÇ íóÑóì ÅöáøóÇ ÇáäøóÇÑó ÊöáúÞóÇÁó æóÌúåöåö ÝóÇÊøóÞõæÇ ÇáäøóÇÑó æóáóæú ÈöÔöÞøö ÊóãúÑóÉò
“Setiap orang pasti akan ditanya oleh Allah tanpa ada penerjemah antara dia dengan Allah (yakni, langsung tanpa ada penerjemah, Allah akan menanyainya pada Hari Kiamat). Ia melihat ke kanan, namun ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan, ia melihat ke kiri dan ia pun tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan. Lalu ia melihat ke depan dan ia tidak melihat kecuali Naar (Neraka) di hadapannya. Peliharalah diri dari api Neraka walau pun dengan sebiji kurma.” [3]
Seluruh hamba akan dihadapkan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada Hari Kiamat lalu ia mengakui dosanya, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan :
“Pada hari ini engkau telah melakukan dosa ini !” Dan hamba itu akan mengiyakan dan mengakuinya. Dan apabila ia telah mengiyakan dan mengakuinya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berkata kepadanya :
Åöäøöí ÓóÊóÑúÊõ Úóáóíúßó Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ æóÃóäóÇ ÃóÛúÝöÑõåóÇ áóßó Çáúíóæúãó
“Aku telah menutupinya atasmu di dunia dan Aku mengampunimu pada hari ini.” [HR. al-Bukhari]
Berapa banyak dosa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tutupi, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan tak ada seorang pun yang mengetahuinya, namun Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengetahuinya. Sikap kita terhadap dosa-dosa tersebut adalah meminta ampunan kepada Allah ÚóÒøó æóÌóáøó serta memperbanyak amal shaleh yang dapat menghapus kesalahan hingga kita menemui Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dalam keadaan diridhai-Nya.
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
Ëõãøó Åöäøó ÚóáóíúäóÇ ÍöÓóÇÈóåõãú [ÇáÛÇÔíÉ : 26]
“Kemudian sesunguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka” (al-Ghasyiyah : 26)
Yakni, Kami akan menghisabnya. Para ulama ÑóÍöãóåõãõ Çááåõ mengatakan : “bentuk atau wujud hisab bukanlah pemeriksaan yang sesungguhnya kepada manusia. Sebab, siapa saja yang dihisab (dengan hisab yang sesungguhnya, bukan sekedar diperlihatkan dosa-dosanya-pent) pasti akan disiksa.” Sekiranya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menghisab kita atas segala perbuatan kita, kita pasti disiksa. Sekiranya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menghisab salah satu nikmat yang diberikan kepadamu, seperti nikmat penglihatan, maka tidak mungkin engkau mengerjakan amalan apa pun untuk dapat menebus nikmat penglihatan tersebut. Nikmat yang lain adalah nikmat bernafas, nafas yang keluar masuk dengan mudah tanpa ada kesulitan, manusia dapat berbicara, tidur, makan dan minum, namun demikian ia tidak merasakan keluar masuknya nafas. Ia tidak mengetahui besarnya nikmat nafas kecuali bila ia ditimpa penyakit yang menghalanginya bernafas. Saat itulah ia ingat betapa besar nikmat Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tersebut. Akan tetapi, bilamana sehat, ia mengatakan, “bernafas adalah perkara alami.” Sekiranya ia ditimpa penyakit sesak nafas, barulah ia tahu betapa besar nikmat bernafas itu. Sekiranya ia dihisab, niscaya ia akan tersiksa seperti yang Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó katakan kepada ‘Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ :
ãóäú äõæúÞöÔó ÇáúÍöÓóÇÈó åóáóßó
“Barangsiapa dihisab dengan munaqasah[**] pasti akan binasa.” [4]
Dalam riwayat lain disebutkan : ÚõÐøöÈó “pasti akan diazab.” [5]
Akan tetapi, bagaimana Kaifiyat atau bentuk hisab ?
Adapun hisab orang-orang yang beriman, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan menghadapkannya seorang diri tanpa ada orang lain yang menyertainya, lalu Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan kepadanya dosa-dosa yang telah dilakukannya : “Engkau telah melakukan dosa ini dan itu” dan apabila ia mengiyakan dan mengakuinya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan berkata kepadanya : “Aku telah menutupi segala dosa-dosamu di dunia dan Aku mengampunimu pada hari ini.”
Adapun hisab orang-orang kafir, mereka tidak dihisab dengan cara seperti itu, karena mereka tidak memiliki yang dapat menghapuskan keburukan mereka. Akan tetapi akan dihitung seluruh amal perbuatan mereka dan ia mengakuinya di hadapan seluruh makhluk dan merekapun turut menghitungnya. Lalu diserukan di hadapan seluruh makhluk :
åóÄõáóÇÁö ÇáøóÐöíäó ßóÐóÈõæÇ Úóáóì ÑóÈøöåöãú ÃóáóÇ áóÚúäóÉõ Çááøóåö Úóáóì ÇáÙøóÇáöãöíäó [åæÏ : 18]
”Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim. (Huud : 18)
Kita berlindung kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari kehinaan dan tidak adanya pertolongan.[6]
Faidah :
Di antara faidah yang dapat dipetik dari beberapa ayat di atas adalah sebagai berikut :
1-Penjelasan bahwasanya seorang da’i (penyuru) ke (jalan) Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepentingannya adalah menyampaikan, mengajak dan menyeru (manusia kepada petunjuk dan jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) bukan berkewajiban memberikan hidayah pada hati (orang yang didakwahinya), karena hidayah (taufiq) itu kewenangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata.
2-Penjelasan bahwa tempat kembali manusia adalah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, dan hal tersebut berkonsekwensi seseorang mengimani-Nya dan mentaati-Nya, dalam rangka mencari keselamatan dari azab-Nya dan mencari kesuksesan dengan meraih rahmat-Nya, dan hal tersebut tentunya merupakan sesuatu yang dicari-cari oleh setiap orang yang berakal, andai manusia mau berfikir. [7]
3-Bahwa Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó (dan orang-orang yang mengikuti jejaknya) tidaklah dibebani untuk memaksa manusia untuk mengingat dan beriman, karena Allah-lah yang akan menghisab mereka ketika mereka kembali kepada-Nya di negeri keabadian.[8]
4-Termasuk hal yang jelas bahwa kedatangan firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
Åöäøó ÅöáóíúäóÇ ÅöíóÇÈóåõãú (25) Ëõãøó Åöäøó ÚóáóíúäóÇ ÍöÓóÇÈóåõãú (26) [ÇáÛÇÔíÉ : 25 ¡ 26]
“Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (al-Ghasyiyah : 25-26)
Setelah firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÝóÐóßøöÑú ÅöäøóãóÇ ÃóäúÊó ãõÐóßøöÑñ (21) áóÓúÊó Úóáóíúåöãú ÈöãõÕóíúØöÑò (22) ÅöáøóÇ ãóäú Êóæóáøóì æóßóÝóÑó (23) ÝóíõÚóÐøöÈõåõ Çááøóåõ ÇáúÚóÐóÇÈó ÇáúÃóßúÈóÑó (24) [ÇáÛÇÔíÉ : 21 - 24]
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,
Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.” (al-Ghasyiyah : 21-24)
adalah sebagai bentuk hiburan bagi Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan untuk menakut-nakuti mereka, orang-orang yang berpaling dan mengingkari (seruannya). Kemudian, bahwa sesungguhnya penghisaban kelak pada hari akhir tidaklah khusus berlaku terhadap mereka ini, tetapi hal tersebut berlaku umum terhadap semua makhluk. [9]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[*] Sebagaimana firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóãóÇ ÃóÑúÓóáúäóÇßó ÅöáøóÇ ßóÇÝøóÉð áöáäøóÇÓö ÈóÔöíÑðÇ æóäóÐöíÑðÇ æóáóßöäøó ÃóßúËóÑó ÇáäøóÇÓö áóÇ íóÚúáóãõæäó [ÓÈà : 28]
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba’ : 28)
[1] HR. Ahmad dalam Musnadnya (3/117) dan Ibnu Majah dalam Sunannya dalam kitab al-Washaya Bab : Apakah Rasulullah meninggalkan wasiat ? (2698)
[2] Silakan lihat kisahnya dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah, karangan Ibnu Katsir, 3/479.
[3] HR. al-Bukhari dalam kitab az-Zakat Bab Bersedekah sebelum ditolak (1413) dan Muslim dalam kitab az-Zakat Bab Anjuran bersedekah meski dengan sebiji kurma (1016) (61).
[**]Munaqasah adalah bentuk hisab yang sesungguhnya.
[4] HR. al-Bukhari dalam kitab at-Tafsir Bab firman Allah : ÝóÓóæúÝó íõÍóÇÓóÈõ ÍöÓóÇÈðÇ íóÓöíÑðÇ “Niscaya Kami akan menghisabnya dengan hisab yang mudah” (4939) dan Muslim dalam kitab Al-Jannah wa Na’imuha Bab Penetapan adanya hisab (2876)(80)
[5] HR. Muslim dalam kitab al-Jannah wa Na’imuha Bab Penetapan adanya hisab (2786)(79)
[6] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, hal. 181-185.
[7] Aisir at-Tafasir Li Kalami al-‘Aliy al-Kabir, Jabir bin Musa al-Jaza-iriy, 5/563.
[8] Lihat : at-Tahrir Wa at-Tanwir, Ibnu Asyur, 30/273. Dengan penyesuaian.
[9] Adh-Waa-u al-Bayan Fii Iidhaa-hi al-Qur’an bi al-Qur’an, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, 8/520.


















