Úóäú ÃóÈöí åõÑóíúÑóÉó - ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ - Úóäö ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÞóÇáó: «Åäøó ÇáÏøöíúäó íõÓúÑñ¡ æóáóäú íõÔóÇÏøó ÇáÏøöíúäó ÅáøóÇ ÛóáóÈóåõ¡ ÝóÓóÏøöÏõæúÇ æóÞóÇÑöÈõæúÇ æóÃóÈúÔöÑõæúÇ¡ æóÇÓúÊóÚöíúäõæúÇ ÈöÇáúÛóÏúæóÉö æóÇáÑøóæúÍóÉö æóÔóíúÁò ãöäó ÇáÏøõáúÌóÉö» (ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí).
Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan (oleh sikapnya dan merasa semakin berat). Maka bersikap luruslah, dekatkan diri kalian kepada kesempurnaan, bergembiralah atas pahala yang mananti, dan manfaatkanlah kesempatan pada pagi, sore, dan sebagian waktu malam.” (HR. al-Bukhari) [1]
Dalam riwaat lain miliknya :
«ÓóÏøöÏõæúÇ æóÞóÇÑöÈõæúÇ ÇõÛúÏõæúÇ æÑõæúÍõæúÇ¡ æóÔóíúÁò ãöäó ÇáÏøõáúÌóÉö ÇóáúÞóÕúÏó ÇóáúÞóÕúÏó ÊóÈúáõÛõæúÇ».
Maka bersikap luruslah, dekatkan diri kalian kepada kesempurnaan. Berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan manfaatkanlah kesempatan pada sebagian waktu malam. Dan, bersikap sederhanalah, bersikap sederhanalah, niscaya kalian akan sampai.” [2]
Penjelasan :
Penulis (yakni, Imam an-Nawawi ÑóÍöãóåõ Çááåõ ) menyebutkan dalam bab al-Qashd Fii al-‘Ibadah hadis Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
Åäøó ÇáÏøöíúäó íõÓúÑñ
Sesungguhnya agama itu mudah.
Yakni, agama yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì utus Nabi-Nya untuk membawanya, dan agama yang digunakan oleh para hamba untuk menghambakan dirinya kepada Rabb mereka merupakan agama yang mudah. Sebagaimana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
íõÑöíÏõ Çááøóåõ Èößõãõ ÇáúíõÓúÑó æóáóÇ íõÑöíÏõ Èößõãõ ÇáúÚõÓúÑó [ÇáÈÞÑÉ : 185]
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (al-Baqarah : 185)
Dan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman ketika menyebutkan perintahh-Nya untuk berwudhu dan mandi dari janabah dan bertayamum saat tidak didapatkannya air, atau seseorang tengah sakit, seraya mengatakan :
ãóÇ íõÑöíÏõ Çááøóåõ áöíóÌúÚóáó Úóáóíúßõãú ãöäú ÍóÑóÌò [ÇáãÇÆÏÉ : 6]
Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikitpun kesulitan (al-Maidah : 6)
Dan, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
æóÌóÇåöÏõæÇ Ýöí Çááøóåö ÍóÞøó ÌöåóÇÏöåö åõæó ÇÌúÊóÈóÇßõãú æóãóÇ ÌóÚóáó Úóáóíúßõãú Ýöí ÇáÏøöíäö ãöäú ÍóÑóÌò [ÇáÍÌ : 78]
Berjuanglah kamu pada (jalan) Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. (al-Hajj : 78)
Maka, nash-nash ini seluruhnya menunjukkan bahwa agama ini (agama Islam) adalah mudah. Dan, hal tersebut memang demikian itu.
Kalaulah seorang insan mau berfikir tentang ibadah-ibadah harian, niscaya ia akan mendapati shalat, shalat lima kali itu mudah, ibadah tersebut terbagi dalam beberapa waktu. Kesucian medahului shalat-shalat tersebut. Kesucian bagi badan dan kesucian bagi hati, karena seseorang berwudhu setiap kali hendak mengerjakan shalat, dan ia mengucapkan :
ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áóÇ Åáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ Çóááøóåõãøó ÇÌúÚóáúäöí ãöäó ÇáÊøóæøóÇÈöíúäó æóÇÌúÚóáúäöí ãöäó ÇáúãõÊóØóåøöÑöíúäó
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ya Allah ! Jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang mensucikan diri.
Yang pertama, ia menyucikan atau membersihkan badannya (dengang air). Kemudian, yang kedua, ia menyucikan atau membersihkan hatinya dengan tauhid. Barulah kemudian ia mengerjakan shalat.
Dan, kalaulah Anda juga fikirkan tentang (ibadah) zakat, yang merupakan rukun Islam ke tiga, Anda pun akan mendapati bahwa zakat itu mudah. Karena, pertama, bahwa zakat itu tidaklah wajib kecuali pada harta-harta yang berkembang, atau sesuatu yang sehukum dengannya. Zakat tidak wajib pada setiap jenis harta. Tetapi (wajib pada) harta-harta yang berkembang, yang berkembang dan bertambah seperti (harta) perdagangan, atau yang sehukum dengannya, seperti emas dan perak, meskipun hal itu tidak bertambah. Adapun yang digunakan oleh seseorang di rumahnya, dan tunggangannya, maka Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah bersabda,
áóíúÓó Úóáóì ÇáúãõÓúáöãö Ýöì ÚóÈúÏöåö æóáÇó ÝóÑóÓöåö ÕóÏóÞóÉñ
Tidak ada kewajiban zakat atas seorang muslim pada budaknya dan tidak pula pada kudanya [3]
Semua perkakas dan prabot rumah tangga, pembantu rumah tanggga (PRT), orang-orang yang berkerja di dalam rumah, mobil-mobil dan yang lainnya yang digunakan oleh seseorang untuk kebutuhan dirinya, sesungguhnya kesemuanya itu tidak terkena kewajiban untuk dizakati. Maka, ini merupakan kemudahan.
Kemudian, perihal zakat yang wajib, sangat sedikit sekali kadarnya, yaitu, 1/40 atau 2,5 %. Ini juga merupakan kemudahan. Kemudian, bila Anda telah menunaikan zakat, maka sesungguhnya zakat tersebut tidaklah menguragi harta Anda, seperti kata Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
ãóÇ äóÞóÕóÊú ÕóÏóÞóÉñ ãöäú ãóÇáò
Sedekah tidaklah mengurangi harta [4]
Bahkan, sedekah menjadikan adanya keberkahan pada harta, mengembangkannya, membersihkannya dan mensucikannya.
Lalu, lihatlah juga puasa. Puasa tidaklah dilakukan sepanjang tahun, tidak pula selama setengah tahun (6 bulan), tidak pula selama ¼ tahun (3 bulan). Tapi, hanya dilakukan selama satu bulan dari dua belas bulan. Bersamaan dengan hal itu, sesungguhnya puasa itu mudah. Bila Anda sakit, maka berbukalah. Bila Anda bepergian jauh, maka berbukalah. Bila Anda tidak mampu berpuasa pada sepanjang tahun, maka berikanlah makan orang miskin untuk sertiap hari yang Anda tidak berpuasa.
Lihatlah juga ibadah haji. Sesungguhnya ibadah haji juga mudah. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóáöáøóåö Úóáóì ÇáäøóÇÓö ÍöÌøõ ÇáúÈóíúÊö ãóäö ÇÓúÊóØóÇÚó Åöáóíúåö ÓóÈöíáðÇ [Âá ÚãÑÇä : 97]
(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. (Ali Imran : 197)
Dan, barang siapa yang tidak mampu : jika ia kaya harta, maka ia bisa digantikan hajinya oleh orang lain. Dan, jika ia tidak kaya harta dan fisiknya juga tidak mampu, maka kewajiban berhaji itu telah gugur darinya.
Simpulannya bahwa agama itu mudah ; mudah pada asal pesyariatannya, dan mudah pula bilamana ada kebutuhan yang mengharuskan adanya kemudahan. Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda kepada Imran bin Hushain ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ :
Õóáøö ÞóÇÆöãðÇ ÝóÅöäú áóãú ÊóÓúÊóØöÚú ÝóÞóÇÚöÏðÇ ÝóÅöäú áóãú ÊóÓúÊóØöÚú ÝóÚóáóì ÌóäúÈò
Shalatlah dengan berdiri. Jika kamu tidak mampu (shalat dengan berdiri) maka (shalatlah) dengan duduk. Jika kamu tidak mampu (shalat dengan duduk), maka (shalatlah) dengan berbaring pada salah satu sisi badan [5]
Jadi, agama itu mudah.
Kemudian, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
æóáóäú íõÔóÇÏøó ÇáÏøöíäó ÅáøóÇ ÛóáóÈóåõ
Tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan (oleh sikapnya dan merasa semakin berat)
Yakni, tidaklah seseorang mencari sikap keras dalam agama, kecuali ia akan terkalahkan, letih, lelah, dan lesu. Kemudian, ia lemah, lalu meninggalkannya. Ini makna sabda beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
æóáóäú íõÔóÇÏøó ÇáÏøöíäó ÅáøóÇ ÛóáóÈóåõ
Tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan.
Yakni, jika Anda bersikap keras dan mempersulit agama dan Anda mencari sikap keras itu, niscaya agama itu akan mengalahkanmu, dan Anda akan binasa, seperti sabada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
åóáóßó ÇáúãõÊóäóØøöÚõæäó
Celakalah orang-orang yang suka melampaui batas [HR. Muslim]
Kemudian beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÝóÓóÏøöÏõæúÇ æóÞóÇÑöÈõæúÇ æóÃóÈúÔöÑõæõÇ
Maka bersikap luruslah, dekatkan diri kalian kepada kesempurnaan, bergembiralah (atas pahala yang mananti).
Yakni, lakukanlah sesuatu dengan benar dan tepat. Lalu, jika hal tersebut tidak didapati kemudahan, maka mendekatilah. Oleh karena ini, beliau bersabda : æóÞóÇÑöÈõæúÇ (dekatkan diri kalian kepada kesempurnaan). Huruf ‘wawu’ ( (æ di sini (dalam sabda beliau : æóÞóÇÑöÈõæúÇ) bermakna ( (Ãóæú (yang berarti, atau), yakni, bersikap luruslah jika mungkin, dan jika tidak mungkin, maka jika tidak didapati kemudahan untuk melakukan hal tersebut, maka yang mendekati. æóÃóÈúÔöÑõæõÇ (bergembiralah), yakni bergembiralah bahwa kalian bila berlaku lurus dan tepat, atau kalian melakukan yang mendekatinya, maka bergembiralah dengan pahala besar, kebaikan, dan pertolongan dari Allah ÚóÒøó æóÌóáøó. Hal ini banyak dipergunakan oleh Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , beliau memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan sesuatu yang akan menyenangkan mereka.
Oleh karena itu, hendaknya seseorang bersemangat untuk memasukkan kegembiraan kepada sauadara-saudaranya sebisanya, dengan memberikan kabar gembira dan yang lainnya.
Termasuk hal tersebut adalah bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ketika menceritakan kepada para sahabatnya bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman pada hari Kiamat :
íóÇ ÂÏóãõ ÝóíóÞõæáõ áóÈøóíúßó æóÓóÚúÏóíúßó æóÇáúÎóíúÑõ Ýöí íóÏóíúßó ÝóíóÞõæáõ ÃóÎúÑöÌú ÈóÚúËó ÇáäøóÇÑö ÞóÇáó æóãóÇ ÈóÚúËõ ÇáäøóÇÑö ÞóÇáó ãöäú ßõáøö ÃóáúÝò ÊöÓúÚó ãöÇÆóÉò æóÊöÓúÚóÉð æóÊöÓúÚöíäó ÝóÚöäúÏóåõ íóÔöíÈõ ÇáÕøóÛöíÑõ {æóÊóÖóÚõ ßõáøõ ÐóÇÊö Íóãúáò ÍóãúáóåóÇ æóÊóÑóì ÇáäøóÇÓó ÓõßóÇÑóì æóãóÇ åõãú ÈöÓõßóÇÑóì æóáóßöäøó ÚóÐóÇÈó Çááøóåö ÔóÏöíÏñ} ÞóÇáõæÇ íóÇ ÑóÓõæáó Çááøóåö æóÃóíøõäóÇ Ðóáößó ÇáúæóÇÍöÏõ ÞóÇáó ÃóÈúÔöÑõæÇ ÝóÅöäøó ãöäúßõãú ÑóÌõáðÇ æóãöäú íóÃúÌõæÌó æóãóÃúÌõæÌó ÃóáúÝðÇ Ëõãøó ÞóÇáó æóÇáøóÐöí äóÝúÓöí ÈöíóÏöåö Åöäøöí ÃóÑúÌõæ Ãóäú ÊóßõæäõæÇ ÑõÈõÚó Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÝóßóÈøóÑúäóÇ ÝóÞóÇáó ÃóÑúÌõæ Ãóäú ÊóßõæäõæÇ ËõáõËó Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÝóßóÈøóÑúäóÇ ÝóÞóÇáó ÃóÑúÌõæ Ãóäú ÊóßõæäõæÇ äöÕúÝó Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÝóßóÈøóÑúäóÇ ÝóÞóÇáó ãóÇ ÃóäúÊõãú Ýöí ÇáäøóÇÓö ÅöáøóÇ ßóÇáÔøóÚóÑóÉö ÇáÓøóæúÏóÇÁö Ýöí ÌöáúÏö ËóæúÑò ÃóÈúíóÖó Ãóæú ßóÔóÚóÑóÉò ÈóíúÖóÇÁó Ýöí ÌöáúÏö ËóæúÑò ÃóÓúæóÏó
“Wahai Adam.” Nabi Adam menjawab, “Aku penuhi panggilan-Mu, kemuliaan milik-Mu dan segala kebaikan berada di tangan-Mu.”
Kemudian Allah berfirman, “Keluarkanlah utusan Neraka.” Adam bertanya, “Apa yang dimaksud dengan utusan neraka ? (berapa jumlahnya ?)” Allah berfirman, “Dari setiap seribu, 999 dijebloskan neraka !,
Ketika perintah ini diputuskan, maka anak-anak belia menjadi beruban, dan setiap wanita hamil kandungannya berguguran dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidaklah mabuk akan tetapi (mereka melihat) siksa Allah yang sangat keras.” (Qs. al-Hajj : 2).
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah di antara kami seseorang yang selamat ?”
Beliau menjawab, “Bergembiralah, karena sitiap 1000 yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang 999-nya dari Ya’juj dan Ma’juj.
Kemudian beliau bersabda, “Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi di antara seperempat penduduk surga.”
Maka, kami bertakbir.
Kemudian beliau bersabda lagi, “Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga penduduk Surga.”
Maka kami bertakbir lagi.
Kemudian beliau bersabda lagi, “Aku berharap kalian menjadi di antara setengah penduduk Surga.”
Maka kami bertakbir sekali lagi.
Lalu, beliau bersabda, “Tidaklah keberadaan kalian di hadapan manusia melainkan bagaikan bulu hitam pada kulit sapi jantan putih atau bagaikan bulu putih yang ada pada kulit sapi jantan hitam.” [6]
Dan demikianlah selayaknya seseorang menggukan pemberian kabar gembira kepada saudara-saudaranya sedapat mungkin. Akan tetapi, kadang memberikan warning adalah lebih baik bagi saudaranya sesama muslim. Karena, boleh jadi saudaramu sesama muslim tengah berada pada sisi menyepelekan sebuah kewajiban, atau ia tengah melakukan perkara haram, sehingga termasuk sebuah kemaslahatan adalah Anda memberikan warning atau peringatan kepadanya dan menakut-nakutinya.
Jadi, seseorang itu hendaknya menggunakan cara yang hikmah, akan tetapi lebih mengedepankan sisi penggunaan pemberian kabar gembira. Maka, jika ada seseorang datang kepadamu dan ia mengatakan bahwa dirinya telah bertindak melampaui batas atas dirinya sendiri dan melakukan berbagai bentuk kemaksiatan yang besar, dan ia pun bertanya, ‘apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat ?’ Maka, seyogyanya Anda mengatakan (kepada orang tersebut) : “Ia (masih ada kesempataan) bergembiralah, bila engkau bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatmu.’ Dengan begitu, Anda telah memasukkan kegembiraan pada orang tersebut, dan Anda pun telah memasukan sebuah harapan ke depan pada diri orang tersebut sehingga orang tersebut tidak berputus asa dari rahmat Allah ÚóÒøó æóÌóáøó .
Alhasil, bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
æóÇÓúÊóÚöíúäõæúÇ ÈöÇáúÛóÏúæóÉö æóÇáÑøóæúÍóÉö æóÔóíúÁò ãöäó ÇáÏøõáúÌóÉö
Yakni, maknanya, manfaatkanlah kesempatan pada penghujung siang ; awalnya (pagi) dan akhirnya (sore), dan sebagian waktu malam.
ÇáÞóÕúÏó ÇáÞóÕúÏó ÊóÈúáõÛõæúÇ
Sabda beliau ini mengandung kemungkinan bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengingankan untuk membuat permisalan untuk ‘safar’ yang bersifat maknawi dengan ‘safar yang bersifat hissi/yang dapat dilihat dan dirasakan’, karena seorang insan yang melakukan safar, hendaknya proses perjalanan dilakukan di awal siang, di akhir siang, dan pada sebagian dari waktu malam, karena hal tersebut merupakan waktu yang nyaman untuk beristirahat dan bagi orang yang melakukan safar.
Berkemungkinan pula, bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menginginkan dengan hal tersebut bahwa awal waktu siang dan akhirnya merupakan waktu untuk bertasabih, sebagaimana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÐúßõÑõæÇ Çááøóåó ÐößúÑðÇ ßóËöíÑðÇ (41) æóÓóÈøöÍõæåõ ÈõßúÑóÉð æóÃóÕöíáðÇ (42) [ÇáÃÍÒÇÈ : 41 ¡ 42]
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (al-Ahzab : 41-42)
Demikian pula halnya, malam hari, merupakan saat untuk qiyamullail.
Bagaimana pun kondisinya, maka Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó memerintahkan kepada kita agar kita tidak menjadikan waktu kita seluruhnya sebagai saat untuk terus-menerus dalam mengerjakan ibadah, karena hal tersebut akan mengakibatkan timbulnya kemalasan, kelelahan dan kelemahan, yang pada akhirnya ibadah tersebut bakal ditinggalkan untuk selama-lamanya.
Semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menolong dan membantu saya dan Anda sekalian untuk berdzikir kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagus ibadah kita kepada-Nya. Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Syarh Riyadhushshalihin, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, 2/222-227.
Catatan :
[1] HR. al-Bukhari, kitab al-Iman, bab ad-din Yusrun, no. 39.
[2] HR. al-Bukhari, kitab ar-Riqaq, bab : al-Qasd Wa al-Mudawamah ‘Ala al-‘Amal, No. 6463)
[3] HR. al-Bukhari, kitab az-Zakah, bab : Laisa ‘Ala al-Muslimi Fii Farasihi Shadaqah, no. 1463. Muslim, kitab az-Zakah, bab : La zakata ‘ala al-Muslim fii ‘Abdihi Wa La Farasihi, no. 982.
[4] HR. Muslim, Kitab al-Birr Wa ash-Shilah, bab : Istihbab al-‘Afwi Wa at-Tawadhu’i, 2588.
[5] HR. al-Bukhari, kitab at-Taqshir, bab : Idza Lam Yuthi’ Qaa-‘idan Shalli ‘Ala Janbin, no. 1117.
[6] HR. al-Bukhari, kitab Ahadits al-Anbiya, bab : Qishshatu Ya’juj Wa Ma’juj, no. 3348. Muslim, kitab al-Iman, bab sabdanya : yaquulu Allah Li Aadam..., no. 222)


















