Setelah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman, menjelaskan bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala, lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman, kemudian Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì (6) ÅöáøóÇ ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ Åöäøóåõ íóÚúáóãõ ÇáúÌóåúÑó æóãóÇ íóÎúÝóì (7) [ÇáÃÚáì : 6 ¡ 7]
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi (al-A’la : 6-7)
Ini merupakan janji Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk Rasul-Nya bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan membacakan al-Qur’an kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak akan lupa. Biasanya Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó terburu-buru untuk menghafal wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ, maka Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berkata kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó :
áóÇ ÊõÍóÑøößú Èöåö áöÓóÇäóßó áöÊóÚúÌóáó Èöåö (16) Åöäøó ÚóáóíúäóÇ ÌóãúÚóåõ æóÞõÑúÂäóåõ (17) ÝóÅöÐóÇ ÞóÑóÃúäóÇåõ ÝóÇÊøóÈöÚú ÞõÑúÂäóåõ (18) Ëõãøó Åöäøó ÚóáóíúäóÇ ÈóíóÇäóåõ (19) [ÇáÞíÇãÉ : 16 - 19]
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyamah : 16-19)
Sesudah itu, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó diam hingga malaikat Jibril selesai membacakan wahyu kemudian barulah beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó membacanya.
Dalam ayat ini Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì . ÅöáøóÇ ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki.
Yakni kecuali apa-apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kehendaki engkau melupakannya, karena semua urusan berada di tangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
íóãúÍõæ Çááøóåõ ãóÇ íóÔóÇÁõ æóíõËúÈöÊõ [ÇáÑÚÏ : 39]
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) (ar-Ra’d : 39)
Dalam ayat lain, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ãóÇ äóäúÓóÎú ãöäú ÂíóÉò Ãóæú äõäúÓöåóÇ äóÃúÊö ÈöÎóíúÑò ãöäúåóÇ Ãóæú ãöËúáöåóÇ Ãóáóãú ÊóÚúáóãú Ãóäøó Çááøóåó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíÑñ (106) Ãóáóãú ÊóÚúáóãú Ãóäøó Çááøóåó áóåõ ãõáúßõ ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖö æóãóÇ áóßõãú ãöäú Ïõæäö Çááøóåö ãöäú æóáöíøò æóáóÇ äóÕöíÑò (107) [ÇáÈÞÑÉ : 106 ¡ 107]
“Apa saja ayat yang Kami nasakhkan (hapus), atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah ? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (al-Baqarah : 106-107)
Adakalanya Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó terlupa sebuah ayat dalam Kitabullah, akan tetapi beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó akan segera mengingatnya kembali.
Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
Åöäøóåõ íóÚúáóãõ ÇáúÌóåúÑó
Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang
Yakni, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengetahui segala sesuatu yang nyata. Al-Jahr artinya sesuatu yang dinyatakan dan diucapkan oleh manusia.
Kemudian firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóãóÇ íóÎúÝóì
dan (Dia mengetahui pula) yang tersembunyi
Yakni yang tersimpan dan tidak dinyatakan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi seperti yang disebutkan dalam ayat lain :
æóáóÞóÏú ÎóáóÞúäóÇ ÇáúÅöäúÓóÇäó æóäóÚúáóãõ ãóÇ ÊõæóÓúæöÓõ Èöåö äóÝúÓõåõ [Þ : 16]
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. (Qaaf : 16)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengetahui segala sesuatu yang nyata maupun yang tersembunyi.
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóäõíóÓøöÑõßó áöáúíõÓúÑóì [ÇáÃÚáì : 8]
Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah (al-A’la : 8)
Ini juga termasuk janji Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bagi Rasul-Nya, bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan memberinya taufik kepada jalan yang mudah. ÇóáúíõÓúÑóì (Al-Yusra), maksudnya adalah memudahkan seluruh urusan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Terutama dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Ketika Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengabarkan bahwa tiada seorang pun melainkan telah dituliskan tempatnya di jannah (surga) atau di neraka, semua bani Adam telah ditulis tempatnya di Surga bila ia penghuni Surga, atau di neraka bila ia termasuk penghuni neraka. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami tidak usah beramal dan kami bertawakkal saja-tawakkal kepada takdir yang telah ditentukan-? Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berkata :
áóÇ ÇöÚúãóáõæúÇ Ýóßõáøñ ãõíóÓøóÑñ áöãóÇ ÎõáöÞó áóåõ
Tidak, namun beramallah, sesungguhnya tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah dituliskan baginya.
Orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang-orang yang bahagia. Dan orang yang celaka akan dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang-orang yang celaka.
Kemudian beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó membaca ayat :
ÝóÃóãøóÇ ãóäú ÃóÚúØóì æóÇÊøóÞóì (5) æóÕóÏøóÞó ÈöÇáúÍõÓúäóì (6) ÝóÓóäõíóÓøöÑõåõ áöáúíõÓúÑóì (7) [Çááíá : 5 - 8]
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (al-Lail : 5-8)[1]
Hadis ini mematahkan argumentasi orang-orang yang berdalih dengan takdir untuk berbuat maksiat kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Ia berbuat maksiat lalu berkata : “Ini sudah ditakdirkan bagiku !” Itu bukan alasan ! Sebab Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, “Beramallah, sesungguhnya tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah dituliskan baginya.”
Adakah orang lain yang menghalangimu mengerjakan amal shalih bila kamu menghendakinya ? Sekali-kali tidak ada ! Oleh karena itu, bila ada seseorang yang memaksamu berbuat maksiat maka kamu tidak terkena dosa. Kamu tidak dikenai dosa sebagaimana halnya orang yang melakukan maksiat atas kemauannya sendiri. Sampai-sampai kekufuran yang merupakan dosa paling besar. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ãóäú ßóÝóÑó ÈöÇááøóåö ãöäú ÈóÚúÏö ÅöíãóÇäöåö ÅöáøóÇ ãóäú ÃõßúÑöåó æóÞóáúÈõåõ ãõØúãóÆöäøñ ÈöÇáúÅöíãóÇäö æóáóßöäú ãóäú ÔóÑóÍó ÈöÇáúßõÝúÑö ÕóÏúÑðÇ ÝóÚóáóíúåöãú ÛóÖóÈñ ãöäó Çááøóåö æóáóåõãú ÚóÐóÇÈñ ÚóÙöíãñ [ÇáäÍá : 106]
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (an-Nahl : 106).
Jadi, kita serukan : Beramallah wahai sekalian manusia, lakukanlah amal kebaikan dan jauhilah amal keburukan, supaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberimu taufik kepada jalan yang mudah dan menjauhkan kamu dari jalan yang sulit. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menjanjikan untuk nabi-Nya taufik kepada jalan yang mudah dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah memudahkan urusan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Oleh karena itu, setiap kali kesulitan dan kesempitan menimpa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pasti ada jalan keluar baginya.
Faidah :
1-Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya, bahwa ketika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó untuk bertasbih, mensucikan-Nya (sebagaimana di ayat pertama surat ini, surat al-A’la), sementara mensucikan-Nya tersebut tidak dapat dilakukan kecuali dengan membaca apa yang diturunkan kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berupa al-Qur’an, dan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sendiri pun mengingat-ingatnya dalam dirinya sendiri karena takut akan lupa ; maka (Dia ÓõÈÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) hilangkan kekhawatiran itu dari beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, dan Dia ÓõÈÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberikan kabar gembira kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa Dia ÓõÈÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan membacakan al-Qur’an itu kepadanya dan bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak akan lupa, dan Dia ÓõÈÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengecualikan apa yang Dia ÓõÈÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kehendaki untuk membuat beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melupakannya untuk suatu kemaslahatan, seperti dengan menasakh/menghapusnya dan dengan cara yang lainnya. [2]
2-Dalam firman-Nya ÓõÈÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.
Di dalamnya terdapat bisyarah (kabar gembira) yang besar dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó : bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan mengajarkan kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sebuah ilmu yang mana beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak akan melupakannya [3]
3-Dalam firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì . ÅöáøóÇ ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki.
Di dalamnya terdapat faidah bahwasanya Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó boleh jadi lupa akan hal-hal yang tidak terkait dengan tugas menyampaikan risalah. [4]
4-Di dalam firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.
Di dalamnya terdapat sebuah kemu’jizatan. Hal tersebut ditinjau dari dua sisi :
Pertama, bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó adalah seorang lelaki yang ummi (tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung) ; maka hafalnya beliau akan kitab (al-Qur’an) yang panjang ini tanpa adanya pembelajaran, tanpa adanya pengulangan, dan tanpa adanya penulisan (yang dilakukan oleh beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó); merupakan perkara yang keluar dari kebiasaan ; sehingga hal tersebut menjadi sebuah mu’jizat.
Kedua, Bahwa surat ini (surat al-A’la) termasuk surat yang pertama-tama turun di Makkah; maka hal ini merupakan pemberitaan tentang perkara yang menakjubkan dan mengherankan yang akan terjadi (pada diri Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) di masa yang akan datang, dan hal itu benar-benar akan terjadi. Berarti, ini merupakan berita tentang perkara ghaib; sehingga hal tersebut menjadi sebuah kemu’jizatan. [5]
5-Dalam firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÓóäõÞúÑöÆõßó ÝóáóÇ ÊóäúÓóì . ÅöáøóÇ ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ
Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki.
Di dalamnya terdapat sebuah pertanyaan, bahwa di dalam ayat-ayat ini terdapat petunjuk yang menunjukkan bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó akan lupa sebagian dari al-Qur’an sesuai apa yang dikehendaki Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk membuat beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melupakannya, sedangkan terdapat sejumlah ayat yang cukup banyak yang menunjukkan akan terjaganya atau terpeliharanya al-Qur’an dari hilang, seperti firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
áóÇ ÊõÍóÑøößú Èöåö áöÓóÇäóßó áöÊóÚúÌóáó Èöåö (16) Åöäøó ÚóáóíúäóÇ ÌóãúÚóåõ æóÞõÑúÂäóåõ (17) [ÇáÞíÇãÉ : 16 ¡ 17]
Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya. Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya (al-Qiyamah : 16-17)
Dan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÅöäøóÇ äóÍúäõ äóÒøóáúäóÇ ÇáÐøößúÑó æóÅöäøóÇ áóåõ áóÍóÇÝöÙõæäó [ÇáÍÌÑ : 9]
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya (al-Hijr : 9)
(Bagaimana mengompromikan dua hal yang secara zhahir terkesan bertolak belakang ini ?)
Jawabannya :
Bahwa al-Qur’an itu, meski terjaga dari kehilangan, namun sebagiannya menasakh sebagian yang lainnya. Dan, tindakan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membuat lupa Nabi-Nya terhadap sebagian dari al-Qur’an itu (masuk dalam kategori) hukum naskh (penasahan), maka bila Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membuat beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó lupa terhadap suatu ayat, maka seolah-oleh Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menasakhnya, dan harus mendatangkan ayat yang lebih baik dari ayat yang dinasakh-Nya tersebut atau mendatangkan ayat yang semisalnya, sebagaimana Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyatakan dengan gamblang dalam firman-Nya :
ãóÇ äóäúÓóÎú ãöäú ÂíóÉò Ãóæú äõäúÓöåóÇ äóÃúÊö ÈöÎóíúÑò ãöäúåóÇ Ãóæú ãöËúáöåóÇ [ÇáÈÞÑÉ : 106]
Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. (al-Baqarah : 106)
Dan dalam firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÅöÐóÇ ÈóÏøóáúäóÇ ÂíóÉð ãóßóÇäó ÂíóÉò æóÇááøóåõ ÃóÚúáóãõ ÈöãóÇ íõäóÒøöáõ [ÇáäÍá : 101]
Apabila Kami ganti suatu ayat di tempat ayat yang lain, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya. (an-Nahl : 101)
Dan, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengisyaratkan di sini karena pengetahuan-Nya tentang hikmah di balik penasahannya dengan firman-Nya,
Åöäøóåõ íóÚúáóãõ ÇáúÌóåúÑó æóãóÇ íóÎúÝóì
Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. [6]
6-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
Åöäøóåõ íóÚúáóãõ ÇáúÌóåúÑó æóãóÇ íóÎúÝóì
Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.
Dan, termasuk hal tersebut adalah bahwasanya Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengetahui apa-apa yang bermaslahat bagi para hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mensyariatkan apa-apa yang diinginkan-Nya, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menentukan dan menetapkan hukum dengan apa-apa yang diinginkan-Nya pula. [7] sebagaimana ditegaskan-Nya dalam firman-Nya :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÃóæúÝõæÇ ÈöÇáúÚõÞõæÏö ÃõÍöáøóÊú áóßõãú ÈóåöíãóÉõ ÇáúÃóäúÚóÇãö ÅöáøóÇ ãóÇ íõÊúáóì Úóáóíúßõãú ÛóíúÑó ãõÍöáøöí ÇáÕøóíúÏö æóÃóäúÊõãú ÍõÑõãñ Åöäøó Çááøóåó íóÍúßõãõ ãóÇ íõÑöíÏõ [ÇáãÇÆÏÉ : 1]
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji ! Dihalalkan bagimu hewan ternak, kecuali yang akan disebutkan kepadamu (keharamannya) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki (al-Maidah : 1)
7-Dalam firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóäõíóÓøöÑõßó áöáúíõÓúÑóì [ÇáÃÚáì : 8]
Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah (al-A’la : 8)
Di dalamnya terdapat bisyarah (kabar gembira) yang besar; bahwasanya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan memberi Rasul-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó taufik kepada jalan yang mudah pada semua urusannya, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan menjadikan syariat-Nya dan agama-Nya menjadi mudah [8]. Alhamdulillah
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Janaiz bab Nasihat dari seorang Muhaddits (1362) dan Muslim dalam kitab al-Qadr Bab : Kaifiyat penciptaan bani Adam di dalam perut ibunya (2647).
[2] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 10/457.
[3] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 921.
[4] Lihat : Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 11/138.
[5] Lihat : Tafsir ar-Raziy, 31/130.
[6] Lihat : Daf’u Ihami al-Idh-Thirab, asy-Syinqithiy, hal. 257.
[7] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 921.
[8] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 921.


















