Setelah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÇáøóÐöí ÎóáóÞó ÝóÓóæøóì [ÇáÃÚáì : 2]
Yang menciptakan, dan menyempurnakan (ciptaan-Nya). (al-A’la : 2)
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÇáøóÐöí ÞóÏøóÑó ÝóåóÏóì [ÇáÃÚáì : 3]
Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (al-A’la : 3)
Yakni Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menetapkan kadar segala sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain :
æóÎóáóÞó ßõáøó ÔóíúÁò ÝóÞóÏøóÑóåõ ÊóÞúÏöíÑðÇ [ÇáÝÑÞÇä : 2]
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (al-Furqan : 2)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menetapkan keadaan, tempat kembali, dzat dan sifatnya. Segala sesuatu telah ditetapkan kadarnya, ajal telah ditetapkan waktunya, keadaan telah ditetapkan, tubuh telah ditetapkan bentuknya, segala sesuatu telah ditetapkan kadarnya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÎóáóÞó ßõáøó ÔóíúÁò ÝóÞóÏøóÑóåõ ÊóÞúÏöíÑðÇ [ÇáÝÑÞÇä : 2]
Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (al-Furqan : 2)
Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÝóåóÏóì
“dan memberi petunjuk.” (al-A’la : 3)
meliputi hidayah (petunjuk) syar’iyyah dan hidayah (petunjuk) kauniyah. Hidayah kauniyah artinya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberi petunjuk bagi segala sesuatu kepada apa-apa yang telah diciptakan untuknya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÞóÇáó Ýóãóäú ÑóÈøõßõãóÇ íóÇ ãõæÓóì (49) ÞóÇáó ÑóÈøõäóÇ ÇáøóÐöí ÃóÚúØóì ßõáøó ÔóíúÁò ÎóáúÞóåõ Ëõãøó åóÏóì (50) [Øå : 49 ¡ 50]
Berkata Fir’aun : “Maka siapakah Rabb-mu berdua, hai Musa ?” Musa berkata : “Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha : 49-50)
Anda dapat melihat, semua makhluk telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì beri penjuk kepada perkara yang mereka butuhkan. Bayi setelah keluar dari perut ibunya dan ingin menyusu maka Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membimbingnya kepada tetek ibunya untuk menyusu. Perhatikanlah serangga, seperti semut misalnya. Semut membangun sarangnya di tempat yang tinggi karena khawatir air banjir akan menggenangi sarangnya sehingga dapat merusaknya. Apabila turun hujan semut-semut bersembunyi dalam sarangnya. Atau di dalam sarangnya semut menyimpan makanan berupa biji-bijian. Apabila matahari bersinar cerah semut-semut akan mengeluarkan biji-bijian tersebut untuk dijemur agar tidak rusak. Sebelum menyimpannya, semut-semut itu terlebih dahulu memakan bagian ujung biji-biji tersebut agar tidak tumbuh sehingga menyulitkan mereka. Hal ini dapat kita saksikan sendiri. Lantas siapakah yang membimbing semut-semut itu ? Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì lah yang membimbingnya. Ini merupakan hidayah kauniyah, yakni Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membimbing seluruh makhluk kepada perkara yang mereka butuhkan.
Adapun hidayah syar’iyyah, -hidayah ini lebih penting khususnya bagi setiap anak Adam-, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menjelaskan hidayah ini kepada seluruh makhluk, termasuk orang-orang kafir. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menerangkan hidayah syar’iyyah ini kepada mereka. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÃóãøóÇ ËóãõæÏõ ÝóåóÏóíúäóÇåõãú ÝóÇÓúÊóÍóÈøõæÇ ÇáúÚóãóì Úóáóì ÇáúåõÏóì [ÝÕáÊ : 17]
“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.” (Fushshilat : 17)
Hidayah syar’iyah inilah yang dikehendaki dalam kehidupan bani Adam. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóãóÇ ÎóáóÞúÊõ ÇáúÌöäøó æóÇáúÅöäúÓó ÅöáøóÇ áöíóÚúÈõÏõæäö [ÇáÐÇÑíÇÊ : 56]
”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sengaja mengabarkannya kepada kita supaya kita memohon kepada-Nya dalam segala urusan setelah kita tahu bahwa Dia-lah yang menciptakan kita dari tiada menjadi ada. Di kala kita sakit, kita memohon kesembuhan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang menciptakan kita dan mengadakan kita dari tiada menjadi ada tentu kuasa untuk menyembuhkannya. Memohonlah kepada-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan serahkanlah dirimu kepada-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, gunakan obat-obatan yang dibolehkan untukmu, akan tetapi sertailah dengan keyakinan bahwa obat tersebut hanyalah salah satu sebab yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ciptakan. Jika Anda sembuh dengan sebab obat tersebut maka sebenarnya yang menyembuhkanmu adalah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dialah yang telah menciptakan obat tersebut sebagai sebab kesembuhan bagimu. Jikalau Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berkehendak bisa saja obat itu menjadi sebab kebinasaan dirimu. Apabila kita tahu bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah pencipta, maka kita harus berjalan dengan petunjuk-Nya dan dengan syariat-Nya agar kita memperoleh kemuliaan yang telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì janjikan untuk kita.[1]
Faedah :
1-Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
æóÇáøóÐöí ÞóÏøóÑó ÝóåóÏóì [ÇáÃÚáì : 3]
“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (al-A’la : 3)
Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memutlakan kata ‘taqdir’ (penentuan kadar) agar hal itu berlaku umum pada segala hal yang telah ditentukan kadarnya, dan hal itu kembali kepada setiap makhluk, karena termasuk konsekwensi penciptaan adalah penentuan kadar (sesuatu yang diciptakan), sebagaimana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÅöäøóÇ ßõáøó ÔóíúÁò ÎóáóÞúäóÇåõ ÈöÞóÏóÑò
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran (al-Qamar : 49)
Dan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
ÞóÏú ÌóÚóáó Çááøóåõ áößõáøö ÔóíúÁò ÞóÏúÑðÇ [ÇáØáÇÞ : 3]
Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu (ath-Thalaq : 3).
Ayat ini dan ayat yang semisalnya termasuk ayat-ayat (yang menunjukkan) kekuasaan (Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ) yang sangat agung. Dan, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menghimpunnya ketika mendefinisikan tentang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì saat Fir’aun bertanya kepada Musa Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ tentang Rabbnya. Ia mengatakan :
Ýóãóäú ÑóÈøõßõãóÇ íóÇ ãõæÓóì (49) ÞóÇáó ÑóÈøõäóÇ ÇáøóÐöí ÃóÚúØóì ßõáøó ÔóíúÁò ÎóáúÞóåõ Ëõãøó åóÏóì (50) [Øå : 49 ¡ 50]
“Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa ? “
Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya (yang layak), kemudian memberinya petunjuk. (Thaha : 49-50) [2]
2-Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
æóÇáøóÐöí ÞóÏøóÑó ÝóåóÏóì [ÇáÃÚáì : 3]
“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (al-A’la : 3)
ÞóÏøóÑó , dibaca dengan tasydid (pada huruf dal), mengandung kemungkinan kata tersebut berasal dari kata ÇáÞÏÑ (kadar) dan ÇáÞÖÇÁ (penetapan), atau berasal dari kata ÇáÊÞÏíÑ (ukuran) dan ÇáãæÇÒäÉ Èíä ÇáÃÔíÇÁ (penimbangan antara beberapa hal). Kata ini, juga dibaca dengan tanpa ditasydid pada huruf dal-nya, (yakni, ÞóÏóÑó), sehingga berkmungkinan berasal dari kata ÇáÞÏÑÉ (kekuatan, kekuasaan) atau ÇáÊÞÏíÑ (ukuran). Objek kata ini dihapus/tidak disebutkan untuk memberikan faedah umum. Oleh kanena itu, jika kata ini berasal dari kata ÇáÊÞÏíÑ , maka maknanya, ‘Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menentukan untuk setiap binatang hal-hal yang layak dan bermaslahat baginya, maka Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menunjukinya kepada hal-hal tersebut dan memberikan pengertian kepadanya sisi pemanfaatannya.’ Ada juga yang mengatakan, ‘ (Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) memberikan petunjuk kepada hewan jantan untuk menggauli hewan betina untuk melangsungkan keturunan.’ Ada juga yang mengatakan, ‘Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menunjukkan bayi yang terlahir agar dapat melakukan tindakan menghisap (susu) pada punting payudara (ibunya).’ Ada juga yang mengatakan, ‘Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menunjukkan manusia perihal kebaikan dan keburukan, dan (menunjukkan) binatang-binatang ke tempat-tempat yang banyak terdapat rumput.’
Kesemua pendapat ini merupakan contoh bentuk bagaimana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberikan petunjuk kepada para makhluk-Nya.
Dan, pendapat pertama lebih bersifat umum dan lebih kuat, karena sesungguhnya pemberian petunjuk kepada manusia dan seluruh hewan (serta makhluk-makhluk Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang lainnya) kepada hal-hal yang akan memberikan kemaslahatan kepada mereka merupakan pintu yang sangat luas, di dalamnya terdapat banyak hal yang ajaib dan menakjubkan.[3]
Penutup
Segala puji bagi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì atas anugerah-Nya berupa hidayah (petunjuk)-Nya ini. Sungguh betapa butuhnya setiap makhluk-Nya kepada hidayah-Nya ini. Alangkah agungnya hikmah dibalik nikmat petunjuk-Nya ini. Andai kata setelah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakan makhluk-makhlukNya, baik berupa manusia, hewan, tumbuhan, atau pun yang lainnya, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pun menyempurnakan ciptaan-Nya, menentukan kadar masing-masing serapi-rapinya, namun Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak memberikan kepada mereka putunjuk kepada sesuatu yang akan memberikan kemaslahatan dan kebaikan kepada mereka, maka apa jadinya ?
Boleh jadi, para makhluk-Nya bakal kebingungan, bakal tersesat jalannya, karena tidak ada petunjuk jalan yang memandu dan mengarahkannya kepada jalan yang semestinya harus ditempuhnya untuk mendapatkan kebaikan, kemaslahatan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Dengan demikian, seorang hamba-sebagai bagian dari makhluk ciptaan-Nya-tentulah sangat membutuhkan hidayah-Nya. Baik hidayah kauniyyah ataupun hidayah syar’iyyah. Dan, hidayah syar’iyyah ini, tentunya sangat lebih dibutuhkan sekali oleh dirinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata : “Seorang hamba sangatlah membutuhkan selalu kepada agar Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menunjukinya ke jalan yang lurus, karena dia sangat membutuhkan kepada maksud doa ini [4] ; karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (bagi seorang hamba) dan tidak pula (seorang hamba itu) akan sampai kepada kebahagiaan kecuali dengan hidayah (petunjuk) ini. Maka, barang siapa terlewatkan, maka bisa jadi termasuk orang-orang yang dimurkai, dan boleh jadi pula ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan, petunjuk ini tidak akan dapat diraih kecuali dengan hidayah (petunjuk) Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.” [5]
Semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada saya dan Anda sekalian-wahai para pembaca yang budiman-, serta saudara-saudara kita, kaum Muslimin seluruhnya. Amin
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad, manusia terbaik yang diutus oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, yang telah menyampaikan risalah Tuhannya yang berisi petunjuk dan kebenaran itu kepada segenap ummat manusia.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, ei, hal. 302-303.
[2] Adh-wa-ul Bayan Fi Idhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir asy-Syinqithi, 8/502.
[3] At-Tashil Li ‘Ulumi at-Tanzil, Ibnu Juzziy, 3/311.
[4] Doa yang dimaksudkan beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ ini adalah,
ÇåúÏöäóÇ ÇáÕøöÑóÇØó ÇáúãõÓúÊóÞöíãó [ÇáÝÇÊÍÉ : 6]
“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (al-Fatihah : 6)
[5] Majmu’ al-Fatawa, (at-Tafsir), 2/386.


















