Para sahabat Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, itulah generasi qur’ani satu-satunya yang keluar dari madrasah nubuwwah. Mereka memiliki pijakan yeng kokoh dalam mengikuti Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , mendukung dan menolongnya. Karena itu, mereka berhak menyandang keutamaan dan kemuliaan. Mencintai mereka menjadi sebuah kewajiban atas setiap muslim. Dan, meremehkan dan menghina mereka adalah termasuk dosa besar.
Telah lalu pembicaraan tentang beberapa keutamaan mereka di dalam al-Qur’an al-Karim. Dan, dalam tulisan ini, kita akan sejenak menyimak sejumlah hadis Nabi di mana di dalamnya Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáóøãó menyanjung para sahabatnya dan menjelaskan beberapa keutamaan mereka. Antara lain :
1-Imran bin Hushain ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan bawa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ÎóíúÑõ ÃõãøóÊöí ÞóÑúäöí Ëõãøó ÇáøóÐöíäó íóáõæäóåõãú Ëõãøó ÇáøóÐöíäó íóáõæäóåõãú ÞóÇáó ÚöãúÑóÇäõ ÝóáóÇ ÃóÏúÑöí ÃóÐóßóÑó ÈóÚúÏó ÞóÑúäöåö ÞóÑúäóíúäö Ãóæú ËóáóÇËðÇ Ëõãøó Åöäøó ÈóÚúÏóßõãú ÞóæúãðÇ íóÔúåóÏõæäó æóáóÇ íõÓúÊóÔúåóÏõæäó æóíóÎõæäõæäó æóáóÇ íõÄúÊóãóäõæäó æóíóäúÐõÑõæäó æóáóÇ íóÝõæäó æóíóÙúåóÑõ Ýöíåöãú ÇáÓøöãóäõ
”Sebaik-baik umatku adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.”
Imran berkata, ‘Aku tidak tahu apakah setelah menyebut generasi beliau, beliau menyebut lagi dua generasi atau tiga generasi setelahnya.’
“Kemudian akan datang setelah kalian suatu kaum yang mereka bersaksi padahal tidak diminta bersaksi dan mereka suka berkhianat (sehingga) tidak dipercaya, mereka suka bernazar namun tidak menepati nazarnya dan nampak dari ciri mereka berbadan gemuk.” [1]
Yang dimaksud dengan generasi pertama adalah para sahabat Rasul Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, kemudian generasi tabi’in dan generasi Tabi’ut Tabi’in. Maka, inilah tiga genderasi yang utama. Dan, generasi yang paling utama adalah generasi para sahabat. Dan, bukanlah yang dimaksudkan dengan ‘qurun’ (abad) di sini adalah apa yang telah dikenal secara istilah, yaitu masa selama 100 tahun. Namun, yang dimaksudkan adalah satu rentang waktu. Generasi pertama berakhir dengan wafatnya Abu Thufail ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ pada tahun 120 H. Sedangkan generasi tabi’in (hidup) sekitar 80 tahun, dan demikian pula generasi setelah mereka. [2]
Adapun generasi yang setelah itu, maka sungguh telah menyebar di tengah-tengah mereka sejumlah sifat yang tercela, antara lain ; sedikitnya sifat amanah, hingga salah seorang di antara mereka bersaksi dan bersumpah atas persaksiannya sebelum persaksian itu diminta dari dirinya karena saking meremehkan (persoalan tersebut), dan kesemangatan manusia terhadap urusan dunia mereka, memperbanyak dalam mengumpulkan harta dan makanannya, serta saling membangga-banggakannya.
2-Dari Abu Sa’id al-Khudhri ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
áÇó ÊóÓõÈøõæÇ ÃóÕúÍóÇÈöì áÇó ÊóÓõÈøõæÇ ÃóÕúÍóÇÈöì ÝóæóÇáøóÐöì äóÝúÓöì ÈöíóÏöåö áóæú Ãóäøó ÃóÍóÏóßõãú ÃóäúÝóÞó ãöËúáó ÃõÍõÏò ÐóåóÈðÇ ãóÇ ÃóÏúÑóßó ãõÏøó ÃóÍóÏöåöãú æóáÇó äóÕöíÝóåõ
Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan mereka (para sahabatku) [3]
Satu mud sama dengan ¼ sha’. Sedangkan, äóÕöíÝó maknanya, 1/2 . Maka, lihatlah kepada besarnya pahala infak para sahabat sekalipun kadar yang dinfakkannya sedikit. Hal itu di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì lebih besar daripada pahala infak yang dilakukan oleh selain mereka, meskipun kadar infaknya adalah emas sebesar gunung Uhud.
Imam an-Nawawi ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan, “Dan sebab keunggulan infak mereka terserbut adalah bahwa infak mereka tersebut dikeluarkan pada saat yang sangat darurat dan dalam kondisi sempit, berbeda halnya dengan selain mereka. Juga karena infak mereka tersebut adalah dalam rangka menolong dan melindungi Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , dan keadaan tersebut tidak ada sepeninggal beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Demikian pula halnya jihad dan seluruh bentuk ketaatan yang mereka lakukan....dan ini semuanya di barengi dengan apa yang ada dalam jiwa mereka berupa simpati dan belas kasihan, kecintaan, kekhusyu’an, ketawadhu’an, sikap itsar (lebih mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain), dan jihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dan, keutamaan kedudukan sebagai sahabat nabi meskipun sesaat tidak dapat dibandingkan dengan amal apa pun, dan tidak dapat diperoleh derajatnya dengan sesuatu apa pun. Dan, keutamaan-keutamaan ini tidaklah diambil dengan kias, dan hal tersebut merupakan karunia Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kepada orang yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kehendaki.” [4]
Maka, betapa buruknya kejahatan orang yang berani bersikap lancang terhadap para sahabat dengan melakukan celaan, cacimakian, dan hinaan terhadap kemuliaan dan keutamaan mereka. Padahal mereka (para sahabat Nabi) merupakan pembawa panji agama ini ke seluruh penjuru bumi.
3-Dari Abdullah bin Mughaffal ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
Çááøóåó Çááøóåó Ýöí ÃóÕúÍóÇÈöí Çááøóåó Çááøóåó Ýöí ÃóÕúÍóÇÈöí áóÇ ÊóÊøóÎöÐõæåõãú ÛóÑóÖðÇ ÈóÚúÏöí Ýóãóäú ÃóÍóÈøóåõãú ÝóÈöÍõÈøöí ÃóÍóÈøóåõãú æóãóäú ÃóÈúÛóÖóåõãú ÝóÈöÈõÛúÖöí ÃóÈúÛóÖóåõãú æóãóäú ÂÐóÇåõãú ÝóÞóÏú ÂÐóÇäöí æóãóäú ÂÐóÇäöí ÝóÞóÏú ÂÐóì Çááøóåó ÊóÈóÇÑóßó æóÊóÚóÇáóì æóãóäú ÂÐóì Çááøóåó ÝóíõæÔößõ Ãóäú íóÃúÎõÐóåõ
“Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah terkait para sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (bahan cacian dan cercaan) sepeninggalku, barang siapa mencintai mereka, maka dengan kecintaanku aku pun mencintai mereka (orang-orang yang mencintai para sahabat), dan barang siapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci para sahabat), dan barang siapa menyakiti mereka berarti dia telah menyakitiku dan barang siapa menyakitiku berarti dia telah menyakiti Allah, dan barang siapa menyakiti Allah, maka hampir saja Allah menyiksanya.” [5]
Maknanya, ‘aku ingatkan kalian terkait hak para sahabatku, maka hormatilah dan muliakanlah mereka dan kenali dan pahamilah hak-hak mereka. Hati-hatilah, jangan sampai kalian menciderainya dengan perkataan yang buruk, dan barang siapa mencintai mereka, sungguh ia telah melakukan hal itu (menghormati dan memuliakan mereka, serta menjaga hak-hak mereka) karena ia mencintai Rasul Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , dan barang siapa membenci mereka, maka sungguh ia tengah membenci Rasul Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , dan hal ini merupakan puncak kegagalan, kesengsaraan dan kebinasaan.’[6]
3-Abu Burdah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ÇáäøõÌõæãõ ÃóãóäóÉñ áöáÓøóãóÇÁö ÝóÅöÐóÇ ÐóåóÈóÊö ÇáäøõÌõæãõ ÃóÊóì ÇáÓøóãóÇÁó ãóÇ ÊõæÚóÏõ æóÃóäóÇ ÃóãóäóÉñ áöÃóÕúÍóÇÈöì ÝóÅöÐóÇ ÐóåóÈúÊõ ÃóÊóì ÃóÕúÍóÇÈöì ãóÇ íõæÚóÏõæäó æóÃóÕúÍóÇÈöì ÃóãóäóÉñ áöÃõãøóÊöì ÝóÅöÐóÇ ÐóåóÈó ÃóÕúÍóÇÈöì ÃóÊóì ÃõãøóÊöì ãóÇ íõæÚóÏõæäó
"Bintang-bintang ini adalah stabilisator langit. Apabila bintang-bintang itu hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penentram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku adalah penentram umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka.” [7]
Di dalam hadis ini terdapat sebuah isyarat akan terjadinya berbagai macam bentuk fitnah dan akan datangnya keburukan saat kepergian orang-orang yang baik. Pada masa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, para sahabat dulu mereka merujuk kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó manakala terjadi perbedaan pandangan di tengan-tengah mereka. Sepeninggal beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, manusia merujuk kepada para sahabat. Dan setiap orang yang berjalan di atas petunjuk mereka dan berpegang teguh dengan kitab suci yang jelas, niscaya ia akan selamat dari keburukan-keburukan fitnah-fitnah tersebut dan bahaya-bahayanya.
Beberapa keutamaan yang khusus pada sebagian sahabat Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó
Setelah kami memaparkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah yang paling menonjol tentang penjelasan mengenai beberapa keutamaan para sahabat Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó secara umum, kami ingin untuk menjelaskan dengan ringkas tentang sebagian keutamaan yang bersifat khusus pada sejumlah orang dari kalangan para sahabat, dan apa-apa yang datang di dalam hadis-hadis nabi berupa sanjungan Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó terhadap mereka dan penjelasan tentang kedudukan mereka.
1-Para sahabat Nabi yang diberi kabar gembira berupa Surga.
Dari Sa’id bin Zaed ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ÚóÔóÑóÉñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö ÃóÈõæ ÈóßúÑò Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó ÚõãóÑõ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó ÚõËúãóÇäõ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó Úóáöíøñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó ØóáúÍóÉõ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó ÇáÒøõÈóíúÑõ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó ÚóÈúÏõ ÇáÑøóÍúãóäö Èúäö ÚóæúÝò Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æó ÓóÚúÏõ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æóÓóÚöíúÏõ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æóÃóÈõæ ÚõÈóíúÏóÉ Èúäõ ÇáúÌóÑøóÇÍ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö
“Sepuluh orang akan masuk Surga; yaitu, Abu Bakar masuk Surga, Umar masuk Surga, Utsman masuk Surga, Ali masuk Surga, Thalhah masuk Surga, Zubair masuk Surga, Abdurrahman bin Auf masuk Surga, Sa’d [8] masuk Surga, Sa’id [9] masuk Surga, dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk Surga.” [10]
Orang-orang yang diberi kabar gembira berupa akan masuk Surga dari kalangan para sahabat cukup banyak [11], akan tetapi yang paling menonjol adalah mereka sepuluh orang ini yang disebutkan secara bersamaan dalam satu hadis.
2-Manaqib dan Keutamaan Sebagian Sahabat
Dari Anas bin Malik ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ÃóÑúÍóãõ ÃõãøóÊöí ÈöÃõãøóÊöí ÃóÈõæ ÈóßúÑò æóÃóÔóÏøõåõãú Ýöí ÃóãúÑö Çááåö ÚõãõÑõ æóÃóÕúÏóÞõåõãú ÍóíóÇÁð ÚõËúãóÇäõ æóÃóÞúÑóÄõåõãú áößöÊóÇÈö Çááåö ÃõÈóí Èúäö ßóÚúÈò æóÃóÝúÑóÖõåõã úÒóíúÏõ Èúäö ËóÇÈöÊò æóÃóÚúáóãõåõãú ÈöÇáúÍóáóÇáö æóÇáúÍóÑóÇãö ãõÚóÇÐõ Èúäö ÌóÈóáò ÃðáðÇ æðÅöäøó áößõáøö ÃõãøóÉò ÃóãöíúäðÇ æóÅöäøó Ãóãöíúäó åóÐöåö ÇáúÃõãøóÉö ÃóÈõæ ÚõÈóíúÏóÉõ Èúäö ÇáúÌóÑøóÇÍö
“Orang yang paling belas kasihan dari kalangan umatku terhadap umatku adalah Abu Bakar, sedangkan yang paling tegas terhadap perintah Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Ka’ab, yang paling mengetahui tentang Faraidh (ilmu pembagian waris) adala Zaed bin Tsabit, dan yang paling mengetahui halal haram adalah Mu’adz bin Jabal. Ketahuilah, sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan sesungguhnya orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” [12]
3-Beberapa keutamaan Orang-orang Anshar
Dari Zaed bin Arqam ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
Çááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáÃóäúÕóÇÑö æóáÃóÈúäóÇÁö ÇáÃóäúÕóÇÑö æóÃóÈúäóÇÁö ÃóÈúäóÇÁö ÇáÃóäúÕóÇÑö
Ya Allah ! ampunilah orang-orang Anshar, anak-anak orang-orang Anshar dan cucu-cucu orang-orang Anshar [13]
Dan dari al-Bara ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau pernah bersabda terkait orang-orang Anshar,
áÇó íõÍöÈøõåõãú ÅöáÇøó ãõÄúãöäñ æóáÇó íõÈúÛöÖõåõãú ÅöáÇøó ãõäóÇÝöÞñ ãóäú ÃóÍóÈøóåõãú ÃóÍóÈøóåõ Çááøóåõ æóãóäú ÃóÈúÛóÖóåõãú ÃóÈúÛóÖóåõ Çááøóåõ
“Tidaklah mencintai mereka kecuali seorang Mukmin dan tidaklah membenci mereka kecuali seorang Munafik. Siapa yang mencintai mereka, niscaya Allah mencintainya. Dan, siapa yang membenci mereka, niscaya Allah membencinya.” [14]
4-Orang-orang yang ikut serta dalam Bai’atu Ridhwan
Mereka ini adalah orang-orang yang bersama Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pada hari Hudaibiyah, dan mereka ini dinamakan dengan Ahlu Bai’atu ar-Ridhwan; karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah ridha terhadap mereka. Hal itu terdapat di dalam firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
áóÞóÏú ÑóÖöíó Çááøóåõ Úóäö ÇáúãõÄúãöäöíäó ÅöÐú íõÈóÇíöÚõæäóßó ÊóÍúÊó ÇáÔøóÌóÑóÉö [ÇáÝÊÍ : 18]
“Sungguh, Allah benar-benar telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon.” [15]
Dan sungguh Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah menyanjung mereka, sebagaimana di dalam hadis Jabir bin Abdillah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata,
ÞóÇáó áóäóÇ ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóæúãó ÇáúÍõÏóíúÈöíóÉö ÃóäúÊõãú ÎóíúÑõ Ãóåúáö ÇáúÃóÑúÖö æóßõäøóÇ ÃóáúÝðÇ æóÃóÑúÈóÚó ãöÇÆóÉò æóáóæú ßõäúÊõ ÃõÈúÕöÑõ Çáúíóæúãó áóÃóÑóíúÊõßõãú ãóßóÇäó ÇáÔøóÌóÑóÉö
“Pada hari Hudaibiyah, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengatakan kepada kami, ‘Kalian (wahai para Sabatku) adalah sebak-baik penduduk bumi.’ Dan, kala itu kami berjumlah 1.400 orang. Andaikan aku pada hari ini masih dapat melihat, niscaya aku bakal memperlihatkan kepada kalian tempat pohon itu.” [16]
Kami tutup pembicaraan kita di dalam tulisan ini dengan perkataan Abdullah bin Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ yang menjelaskan tentang beberapa keutamaan para sahabat Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan kewajiban untuk meneladani mereka serta berjalan di atas langkah mereka.
Abdullah bin Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan,
Åöäøó Çááøóåó äóÙóÑó Ýöí ÞõáõæÈö ÇáúÚöÈóÇÏö ÝóÇÎúÊóÇÑó ãõÍóãøóÏðÇ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æó Óóáøóãó ÝóÈóÚóËóåõ ÈöÑöÓóÇáóÊöåö Ëõãøó äóÙóÑó Ýöí ÞõáõæÈö ÇáäøóÇÓö ÈóÚúÏó ÞóáúÈö ãõÍóãøóÏò ÝóæóÌóÏó ÞõáõæÈó ÃóÕúÍóÇÈöåö ÎóíúÑó ÞõáõæÈö ÇáúÚöÈóÇÏö ÝóÌóÚóáóåõãú æõÒóÑóÇÁó äóÈöíøöåö
Sesungguhnya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melihat pada hati-hati para hamba. Maka, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memilih Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Lalu, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengutus beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dengan membawa risalah-Nya. Kemudian, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melihat pada hati-hati manusia setelah beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , maka Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memilih sahabat-sahabat untuk beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , lalu Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan sahabat-sahabat beliau tersebut sebagai para penolong agama-Nya dan sebagai para pembantu nabi-Nya.” [17]
Abdullah bin Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ juga mengatakan,
ãóäú ßóÇäó ãöäúßõãú ãõÊóÃóÓøöíðÇ ÝóáúíóÊóÃóÓøó ÈöÃóÕúÍóÇÈö ãõÍóãøóÏò -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- ÝóÅöäøóåõãú ßóÇäõæúÇ ÃóÈóÑøó åóÐöåö ÇáúÃõãøóÉö ÞõáõæúÈðÇ¡ æóÃóÚúãóÞóåóÇ ÚöáúãðÇ¡ æóÃóÞóáøóåóÇ ÊóßóáøõÝðÇ¡ æóÃóÞúæóãóåóÇ åóÏúíðÇ¡ æóÃóÍúÓóäóåóÇ ÍóÇáðÇ¡ Þóæúãñ ÇöÎúÊóÇÑóåõãõ Çááåõ áöÕõÍúÈóÉö äóÈöíøöåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓáøóãó- æóÅöÞóÇãóÉö Ïöíúäöåö¡ ÝóÇÚúÑöÝõæúÇ áóåõãú ÝóÖúáóåõãú¡ æóÇÊøóÈöÚõæúåõãú Ýöí ÂËóÇÑöåöãú ÝóÅöäøóåõãú ßóÇäõæúÇ Úóáóì ÇáúåõÏóì ÇáúãõÓúÊóÞöíúãö
“Barang siapa di antara kalian ingin meneladani seseorang, maka hendaklah ia meneladani para sahabat Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Karena, sesunguhnya mereka itulah orang-orang dari kalangan ummat ini yang paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit membebani dirinya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan menegakkan agama-Nya. Oleh karena itu, kenalilah keutamaan yang dimiliki mereka. Ikutilah mereka dalam meniti jejak langkahnya, karena sesungguhnya mereka itu berada di atas petunjuk yang lurus.” [18]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fadha-il ash-Shahabah Fi as-Sunnah an-Nabawiyah dalam Shahabatu Rasulillah Wa Juhuduhum Fi Ta’limi al-Qur’an al-Karim Wa al-‘Inayatu Bihi, Dr. Anas Ahmad Karzun, hal. 32-38.
Catatan :
[1] HR. al-Bukhari, no. 3450 dan Muslim, no. 2535.
[2] Lihat : Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 7/8.
[3] HR. Muslim, no. 2540.
[4] Syarh Muslim, karya : an-Nawawi, 16/93.
[5] HR. Ahmad (4/78, 5/54), at-Tirmidzi di dalam al-Manaqib, no. 3862.
[6] Lihat : Fadha-il ash-Shahabah, karya : at-Talidiy, hal. 61.
[7] HR. Muslim, no. 2531.
[8] Dia adalah Sa’d bin Abi Waqash ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ
[9] Dia adalah Sa’id bin Zaed ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ
[10] HR. at-Tirmidzi , No. 3747, dan lihat sejumlah riwayat yang cukup banyak lainnya yang serupa di dalam Jami’ al-Ushul, 8/557-564)
[11] Silakan lihat kitab : al-Mubasysyiruna Bil-Jannati, karya : Syaikh Abdullah at-Talidiy.
[12] HR. at-Tirmidzi, no. 3791, dan dia mengatakan : Hadis hasan shahih.
[13] HR. Muslim, no. 2506.
[14] HR. Muslim, no. 75.
[15] Qur’an Surat al-Fath, ayat : 18.
[16] HR. al-Bukhari, no. 3923.
[17] HR. Imam Ahmad di dalam Musnadnya, 1/379 dan Abu Nu’aim di dalam Ma’rifatu ash-Shahabah, 1/142, dengan sanad hasan, dan al-Haitsami di dalam Majma’ az-Zawa-id, 1/177 mengatakan : para rawinya tsiqah (kredibel).
[18] Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan al-‘Ilmi Wa Fadhlihi, 2/97, dan lihat : Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, karya : Ibnu Taimiyah, 2/76.


















