Nama tersebut (yakni, ÇóáúÞóÇÈöÖõ dan ÇóáúÈóÇÓöØõ) telah datang keterangannya dalam As-Sunnah An-Nabawiyah. Dalam kitab-kitab As-Sunan dan Musnad Al-Imam Ahmad dari Anas bin Malik ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata,
ÛóáóÇ ÇáÓøöÚúÑõ Úóáóì ÚóåúÏö ÑóÓõæáö Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÝóÞóÇáõæÇ íóÇ ÑóÓõæáó Çááøóåö áóæú ÓóÚøóÑúÊó ÝóÞóÇáó Åöäøó Çááøóåó åõæó ÇáúÎóÇáöÞõ ÇáúÞóÇÈöÖõ ÇáúÈóÇÓöØõ ÇáÑøóÇÒöÞõ ÇáúãõÓóÚøöÑõ æóÅöäøöí áóÃóÑúÌõæ Ãóäú ÃóáúÞóì Çááøóåó æóáóÇ íóØúáõÈõäöí ÃóÍóÏñ ÈöãóÙúáóãóÉò ÙóáóãúÊõåóÇ ÅöíøóÇåõ Ýöí Ïóãò æóáóÇ ãóÇáò
“Harga (barang) semakin mahal pada masa Rasulullah Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , maka orang-orang berkata : Wahai Rasulullah, sekiranya engakau mengatur harga itu. Lalu beliau bersabda : Sesungguhnya Allah adalah Maha Pencipta, Maha menyempitkan, Maha melapangkan, Maha Pemberi rizki lagi Maha pengatur harga, dan sesungguhnya aku berharap dapat berjumpa dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang menuntutku dengan sebuah kezhaliman yang pernah aku perbuat kepadanya dalam hal darah dan tidak juga harta. [1]
ÇóáúÈóÇÓöØõ (Al-Basith) adalah Yang Maha Melapangkan rezeki-Nya bagi orang yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Sedangkan ÇóáúÞóÇÈöÖõ (al-Qaabith) adalah Yang Maha Menyempitkan atau menghalangi rizki dari seseorang yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kehendaki dari mereka lantaran Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melihat adanya maslahat dalam hal itu. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóáóæú ÈóÓóØó Çááøóåõ ÇáÑøöÒúÞó áöÚöÈóÇÏöåö áóÈóÛóæúÇ Ýöí ÇáúÃóÑúÖö æóáóßöäú íõäóÒøöáõ ÈöÞóÏóÑò ãóÇ íóÔóÇÁõ Åöäøóåõ ÈöÚöÈóÇÏöåö ÎóÈöíÑñ ÈóÕöíÑñ [ÇáÔæÑì : 27]
Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (asy-Syura : 27)
“Menyempitkan” artinya menyempitkan dalam hal rezeki, dan “melapangkan” artinya meluaskan dan memperbanyak rezeki. Semua itu hanya ada di tangan Allah azza wa jalla. Dialah yang Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan, Maha Merendahkan dan Maha Mengangkat, Maha Pemberi dan Maha Mencegah (tidak memberi), Maha Memuliakan lagi Maha Menghinakan, tiada sekutu bagi-Nya.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóÇááøóåõ íóÞúÈöÖõ æóíóÈúÓõØõ æóÅöáóíúåö ÊõÑúÌóÚõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 245]
“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah : 245)
Ibnu Jarir ath-Thabari ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata dalam menafsirkan ayat tersebut, “Yang dimaksudkan dari ayat tersebut adalah bahwasanya di tangan-Nya semata, kesempitan dan kelapangan rezeki para hamba-Nya, bukan pada selain-Nya sebagaimana yang didakwakan oleh orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada-Nya bahwasanya mereka (yang melapangkan dan menyempitkan rezeki itu) adalah sesembahan-sesembahan dan mereka menjadikannya Rabb yang mereka ibadahi selain Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Hal ini sama dengan hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, dari Anas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ ia berkata,
ÛóáóÇ ÇáÓøöÚúÑõ Úóáóì ÚóåúÏö ÑóÓõæáö Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÝóÞóÇáõæÇ íóÇ ÑóÓõæáó Çááøóåö ÛóáÇó ÇáÓøöÚúÑõ ÝóÓóÚøöÑú áóäóÇ ÝóÞóÇáó ÑóÓõæáö Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó Åöäøó Çááøóåó ÇáúÈóÇÓöØõ ÇáúÞóÇÈöÖõ ÇáÑøóÇÒöÞõ æóÅöäøöí áóÃóÑúÌõæ Ãóäú ÃóáúÞóì Çááøóåó æóáóÇ íóØúáõÈõäöí ÃóÍóÏñ ÈöãóÙúáóãóÉò Ýöí äóÝúÓò æó ãóÇáò
“Harga (barang) semakin mahal pada masa Rasulullah, maka orang-orang berkata : Wahai Rasulullah, harga semakin mahal, maka aturlah harga tersebut untuk kami. Lalu beliau bersabda : Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Melapangkan, Maha menyempitkan, lagi Maha Pemberi rizki, dan sesungguhnya aku berharap dapat berjumpa dengan Allah sementara itu tidak ada seorang pun yang menuntutku dengan sebuah kezhaliman dalam hal jiwa maupun harta.” [2]
Yang dimaksudkan oleh beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó adalah bahwasanya mahal dan murahnya harga, kelapangan, dan kesempitan hanya ada di tangan Allah bukan pada yang lain-Nya.
Demikian pula firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
æóÇááøóåõ íóÞúÈöÖõ æóíóÈúÓõØõ æóÅöáóíúåö ÊõÑúÌóÚõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 245]
“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki). Dan hanya kepada-Nya semata mereka akan dikembalikan” (al-Baqarah : 245)
Firman-Nya, íóÞúÈöÖõ “menyempitkan” maksudnya menyempitkan rezeki pada hamba-Nya yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kehendaki dari makhluk-Nya. Dan firman-Nya, íóÈúÓõØõ “melapangkan” artinya meluaskan dengan melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki dari mereka. Sedangkan firman-Nya æóÅöáóíúåö ÊõÑúÌóÚõæäó “Dan hanya kepada-Nya semata mereka akan dikembalikan” yaitu hanya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kembalinya kalian wahai sekalian manusia, maka bertakwalah kalian kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban-Nya dan dari melampaui batasan-batasan-Nya, jangan sampai orang yang diberikan kelapangan rezeki dari kalian mengerjakan apa yang tidak diizinkan untuk dikerjakan oleh Rabbnya, dan jangan pula orang yang fakir-lalu disempitkan rezekinya –kesempitannya tersebut mendorongnya untuk berbuat maksiat kepada-Nya dan nekat untuk melakukan apa yang Dia larang, sehingga semua itu mengharuskan dirinya merasakan pedihnya siksaaan yang tiada tandingannya ketika ia kembali kepada sang Pencipta. [3]
Konteks tersebut mengandung peringatakan bagi orang yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì lapangkan hartanya, ilmu, dan kedudukannya untuk menginfakkan dari apa yang telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kepadanya, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebagaimana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah berbuat baik kepadanya. Bagi orang yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kesempitan dalam hal ini, maka hendaklah ia bersandar kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata seraya memohon uluran tangan-Nya, pertolongan, dan keutamaan-Nya, dengan meyakini bahwasanya tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sempitkan dan tidak ada pula yang dapat menyempitkan apa yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì lapangkan, tiada yang dapat mencegah apa yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì beri dan tiada yang dapat memberi apa yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì cegah. Sebagaimana yang Nabi kita Õóáøóì Çááõå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ucapkan pada perang Uhud pada saat kaum Musyrikin kembali, beliau Õóáøóì Çááõå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berkata,
ÇöÓúÊóæõæúÇ ÍóÊøóì ÃõËúäöíú Úóáóì ÑóÈøöí ÚóÒøó æóÌóáøó
Berbaris luruslah kalian sebelum aku memuji Rabbku Azza wa jalla.
Kemudian mereka pun berbaris bershaf-shaf di belakang beliau, kemudian Rasulullah Õóáøóì Çááõå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
Çááøóåõãøó áóßó ÇáúÍóãúÏõ ßõáøõåõ
Çááøóåõãøó áóÇ ÞóÇÈöÖó áöãóÇ ÈóÓóØúÊó æóáóÇ ÈóÇÓöØó áöãóÇ ÞóÈóÖúÊó æóáóÇ åóÇÏöíó áöãóÇ ÃóÖúáóáúÊó æóáóÇ ãõÖöáøó áöãóäú åóÏóíúÊó æóáóÇ ãõÚúØöíó áöãóÇ ãóäóÚúÊó æóáóÇ ãóÇäöÚó áöãóÇ ÃóÚúØóíúÊó æóáóÇ ãõÞóÑøöÈó áöãóÇ ÈóÇÚóÏúÊó æóáóÇ ãõÈóÇÚöÏó áöãóÇ ÞóÑøóÈúÊó
Çááøóåõãøó ÇÈúÓõØú ÚóáóíúäóÇ ãöäú ÈóÑóßóÇÊößó æóÑóÍúãóÊößó æóÝóÖúáößó æóÑöÒúÞößó
Çááøóåõãøó Åöäøöí ÃóÓúÃóáõßó ÇáäøóÚöíãó ÇáúãõÞöíãó ÇáøóÐöí áóÇ íóÍõæáõ æóáóÇ íóÒõæáõ
Çááøóåõãøó Åöäøöí ÃóÓúÃóáõßó ÇáäøóÚöíãó íóæúãó ÇáúÚóíúáóÉö æóÇáúÃóãúäó íóæúãó ÇáúÎóæúÝö
Çááøóåõãøó Åöäøöí ÚóÇÆöÐñ Èößó ãöäú ÔóÑøö ãóÇ ÃóÚúØóíúÊóäóÇ æóÔóÑøö ãóÇ ãóäóÚúÊó
Çááøóåõãøó ÍóÈøöÈú ÅöáóíúäóÇ ÇáúÅöíãóÇäó æóÒóíøöäúåõ Ýöí ÞõáõæÈöäóÇ æóßóÑøöåú ÅöáóíúäóÇ ÇáúßõÝúÑó æóÇáúÝõÓõæÞó æóÇáúÚöÕúíóÇäó æóÇÌúÚóáúäóÇ ãöäú ÇáÑøóÇÔöÏöíäó
Çááøóåõãøó ÊóæóÝøóäóÇ ãõÓúáöãöíäó æóÃóÍúíöäóÇ ãõÓúáöãöíäó æóÃóáúÍöÞúäóÇ ÈöÇáÕøóÇáöÍöíäó ÛóíúÑó ÎóÒóÇíóÇ æóáóÇ ãóÝúÊõæäöíäó
Çááøóåõãøó ÞóÇÊöáú ÇáúßóÝóÑóÉó ÇáøóÐöíäó íõßóÐøöÈõæäó ÑõÓõáóßó æóíóÕõÏøõæäó Úóäú ÓóÈöíáößó æóÇÌúÚóáú Úóáóíúåöãú ÑöÌúÒóßó æóÚóÐóÇÈóßó
Çááøóåõãøó ÞóÇÊöáú ÇáúßóÝóÑóÉó ÇáøóÐöíäó ÃõæÊõæÇ ÇáúßöÊóÇÈó Åöáóåó ÇáúÍóÞøö
Ya Allah, bagu-Mu semata segala pujian.
Ya Allah tiada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tiada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan, tiada yang dapat memberi petunjuk orang yang Engkau sesatkan, dan tiada yang dapat menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk, tiada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tiada yang dapat menahan apa yang Engkau beri, tiada yang dapat mendekatkan apa yang Engkau jauhkan dan tiada yang dapat menjauhkan apa yang Engkau dekatkan.
Ya Allah, lapangkanlah bagi kami keberkahan, rahmat karunia, dan rezeki-Mu.
Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang terus-menerus yang tidak pernah berubah dan tiada habisnya.
Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan pada hari Kiamat dan ketentramannya di kala ketakutan.
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau berikan kepada kami dan keburukan dari apa yang Engkau tahan.
Ya Allah jadikanlah kami cinta kepada keimanan dan jadikan keimanan itu indah di hati kami, dan jadikan pula kami benci kepada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
Ya Allah wafatkanlah kami dalam keadaan muslim dan hidupkan kami dalam keadaan muslim pula, dan ikutkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh, tanpa terhina maupun terfitnah.
Ya Allah perangilah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan-Mu, dan timpakan kepada mereka dosa dan siksa-Mu.
Ya Allah perangilah orang-orang kafir yang telah diberi kitab (ahlul kitab), wahai ilah (sesembahan) yang hak. Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad) [4]
Telah datang penyebutan kata “melapangkan” dan “menyempitkan” yang disandarkan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada banyak nash dalil dari al-Qur’an dan sunnah. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Çááøóåõ íóÈúÓõØõ ÇáÑøöÒúÞó áöãóäú íóÔóÇÁõ æóíóÞúÏöÑõ æóÝóÑöÍõæÇ ÈöÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóãóÇ ÇáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ Ýöí ÇáúÂÎöÑóÉö ÅöáøóÇ ãóÊóÇÚñ [ÇáÑÚÏ : 26]
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (ar-Ra’du : 26)
Firman-Nya,
Åöäøó ÑóÈøóßó íóÈúÓõØõ ÇáÑøöÒúÞó áöãóäú íóÔóÇÁõ æóíóÞúÏöÑõ Åöäøóåõ ßóÇäó ÈöÚöÈóÇÏöåö ÎóÈöíÑðÇ ÈóÕöíÑðÇ [ÇáÅÓÑÇÁ : 30]
”Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (al-Isra ‘ : 30)
Þõáú Åöäøó ÑóÈøöí íóÈúÓõØõ ÇáÑøöÒúÞó áöãóäú íóÔóÇÁõ æóíóÞúÏöÑõ æóáóßöäøó ÃóßúËóÑó ÇáäøóÇÓö áóÇ íóÚúáóãõæäó [ÓÈà : 36]
Katakanlah : “Sesungguhnya Rabbu-ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba’ : 36)
Þõáú Åöäøó ÑóÈøöí íóÈúÓõØõ ÇáÑøöÒúÞó áöãóäú íóÔóÇÁõ ãöäú ÚöÈóÇÏöåö æóíóÞúÏöÑõ áóåõ æóãóÇ ÃóäúÝóÞúÊõãú ãöäú ÔóíúÁò Ýóåõæó íõÎúáöÝõåõ æóåõæó ÎóíúÑõ ÇáÑøóÇÒöÞöíäó [ÓÈà : 39]
Katakanlah : “Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (bagi yang dikehendaki-Nya). “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’ : 39)
Èóáú íóÏóÇåõ ãóÈúÓõæØóÊóÇäö íõäúÝöÞõ ßóíúÝó íóÔóÇÁõ [ÇáãÇÆÏÉ : 64]
“(Tidak demikian), tetapi kedua tangan-Nya terbuka; Dia menafkahkan (memberi rezeki) sebagaimana Dia kehendaki.” (al-Maidah : 64)
Nash-nash dalil tersebut dan yang semisalnya menunjukkan bahwa menyempitkan dan melapangkan (rezeki) semuanya adalah hanya ada di tangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dengan perbuatan dan pengaturan-Nya, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melapangkan bagi orang yang Dia kehendaki pada harta, keselamatan, umur, ilmu atau kehidupannya, dan demikian pula Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyempitkan, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata ketika mengomentari ucapan Ibnul Qayyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ pada Nuniyyahnya berikut,
åõæó ÞóÇÈöÖñ åõæó ÈóÇÓöØñ åõæó ÎóÇÝöÖñ åõæó ÑóÇÝöÚñ ÈöÇáúÚóÏúáö æóÇáúãöíúÒóÇäö
Dia Maha Menyempitkan Dia Maha Melapangkan Dia Maha Merendahkan
Dia Maha Mengangkat dengan penuh keadilan dan timbangan
Maksudnya bahwasanya Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Maha Menyempitkan rezeki, arwah, dan jiwa, Maha Melapangkan rezeki, rahmat, dan jiwa, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Maha Merendahkan suatu kaum, Maha Mengangkat kaum yang lain, dan semua itu adalah keadilan dan kebijaksanaan dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, karena itu Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berhak dipuji dengan sempurna dan sebaik-sebaiknya pujian. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóÇááøóåõ íóÞúÈöÖõ æóíóÈúÓõØõ æóÅöáóíúåö ÊõÑúÌóÚõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 245]
“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah : 245)
æóáóæú ÈóÓóØó Çááøóåõ ÇáÑøöÒúÞó áöÚöÈóÇÏöåö áóÈóÛóæúÇ Ýöí ÇáúÃóÑúÖö [ÇáÔæÑì : 27]
”Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.” (asy-Syura : 27)
Ketika Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberikan kesempitan, maka itu adalah nikmat bagi hak hamba-hamba-Nya yang beriman ; karena dengan hal itu, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mencegah mereka dari perbuatan melampaui batas, kezhaliman, dan permusuhan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Çááøóåõ íóÈúÓõØõ ÇáÑøöÒúÞó áöãóäú íóÔóÇÁõ æóíóÞúÏöÑõ
”Allah meluaskan rezek dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (ar-Ra’du : 26)
Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
Åöáóíúåö íóÕúÚóÏõ Çáúßóáöãõ ÇáØøóíøöÈõ æóÇáúÚóãóáõ ÇáÕøóÇáöÍõ íóÑúÝóÚõåõ [ÝÇØÑ : 10]
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.” (Fathir : 10)
Èóáú ÑóÝóÚóåõ Çááøóåõ Åöáóíúåö æóßóÇäó Çááøóåõ ÚóÒöíÒðÇ ÍóßöíãðÇ [ÇáäÓÇÁ : 158]
”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (an-Nisa : 158)
Meskipun Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah Maha Menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan mengangkat secara qadha dan qadar, maka tidak dikesampingkan bahwa semua perkara tersebut didapat karena ada sebab dan faktor dari hamba, kapan mereka mengerjakannya, maka dapat diperoleh hal itu, dan inilah realitanya karena sesungguhnya sebab dan faktor tersebut adalah tempat bagi kebijaksanaan dan sunnah-sunnah-Nya yang terus berjalan yang tidak akan berganti dan berubah [5]
Kedua hal tersebut telah terhimpun pada sabda Nabi Õóáøó Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó,
ãóäú ÃóÍóÈøó Ãóäú íõÈúÓóØó áóåõ Ýöí ÑöÒúÞöåö æóíõäúÓóÃó áóåõ Ýöí ÃóËóÑöåö ÝóáúíóÕöáú ÑóÍöãóåõ
”Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahimnya.” [6]
Oleh karena itu, kelapangan rezeki hanya ada di tangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sedangkan menyambung tali silaturrahim adalah sebab yang dikerahkan hamba. Demikian pula keadaan Allah azza wa jalla Yang Maha Mengatur harga, hal ini tidak mencegah adanya sebab-sebab yang dikerahkan hamba yang dapat menghilangkan mahalnya harga dan mengubah menjadi murah. Sebagaimana telah dikatakan kepada seorang mulia, “Sungguh harga-harga menjadi mahal !” maka, beliau berkata “Usahakanlah agar menjadi murah dengan bertakwa.”
Ya Allah, tolaklah bala dari kami, dan lapangkanlah kepada kami dari keberkahan, rahmat, karunia, dan rezeki-Mu.
Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fikih Asmaul Husna, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-'Abbad al-Badr-ÍóÝöÙóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì.
Catatan :
1-Musnad Ahmd, no. 12591, Sunan at-Tirmidzi, no. 1314
[2] Sunan Ibni Majah, no. 2200
[3] Dinukil dengan ringkas dari kitab Jami’ al-Bayan, juz 4, hlm. 432-435.
[4] al-Musnad, juz 3, hlm. 424, al-Adab al-Mufrad, nomor 699 dari hadis Rifa’ah Az-Zarqi. Dishahihkan oleh al-Albani pada kitab Shahih Al-Adab Al-Mufrad, nomor 538.
[5] at-Taudhih al-Mubin Li Tauhid al-Anbiya Wa al-Mursalin, hlm. 135-136
[6] Shahih al-Bukhari, nomor 1961 dan Shahih Muslim, nomor 2557.


















