Kehupan Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut untuk dicontoh untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÞóÏú ßóÇäóÊú áóßõãú ÃõÓúæóÉñ ÍóÓóäóÉñ Ýöí ÅöÈúÑóÇåöíãó æóÇáøóÐöíäó ãóÚóåõ [ÇáããÊÍäÉ : 4]
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik untuk kalian dalam kehidupan Ibrahim dan orang-orang yang bersama beliau. (Qs. Al-Mumtahanah : 4)
Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ dan keluarganya.
Pelajaran yang pertama : Berbaik sangka kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì
Dikisahkan pada suatu hari Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ terbangun dari tidurnya, dan tiba-tiba, beliau memerintahkan istrinya Hajar untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu pun segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang padahal saat itu Ismail masih bayi dan belum disapih. Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ terus berjalan hingga mencapai pegunungan kemudian masuk ke daerah Jazirah Arab. Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan maupun minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya. Di lembah tandus tersebut, beliau Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ turun dari punggung hewan tunggangannya. Kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu, tanpa berkata-kata, beliau Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ meninggalkan istri dan anaknya di sana, mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk hidup dua hari. Setelah melihat ke kiri dan ke kanan, Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ melangkah meninggalkan tempat itu. Tentu saja Hajar kaget. Hajar terperangah diperlakukan demikian. Maka, beliaupun membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,
íóÇ ÅöÈúÑóÇåöíúã Ãóíúäó ÊóÐúåóÈõ ¿
Hai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau ?
æóÊóÊúÑõßõäóÇ ÈöåóÐóÇ ÇáúæóÇÏöí ÇáøóÐöí áóíúÓó Èöåö ÃóäöíúÓñ æóáóÇ ÔóíúÁñ ¿
Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang kosong ini ?
Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ terus berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ tetap membisu. Akhirnya Hajar faham, bahwa suaminya pergi bukan karena kemauan sendiri. Dia mengerti bahwa Allah-lah yang memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka, Hajar pun bertanya,
Âááåõ ÃóãóÑóßó ÈöåóÐóÇ ¿
Apakah Allah yang memerintahakn kamu untuk pergi meninggalkan kami ?
Maka Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ pun menjawab, ‘Iya’. Allah yang memerintahkanku.
Serta merta istri yang shalihah dan yang beriman itu berkata,
ÅöÐóäú áóÇ íõÖóíøöÚõäóÇ Çááåõ
Jika demikian memang keadaannya, pasti Allah tidak akan menelantarkan kami.
Lihatlah ! Bagaimana Nabi Ibrahin Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ dan Hajar mampu berprasangka baik kepada Allah azza wa jalla. Mereka sangat yakin bahwa sekali bersama Allah pasti mereka tidak akan terlantar, tidak ada yang bisa mencelakainya atau melukainya.
Apabila kita lihat banyaknya manusia yang stres atau frustasi dalam kehidupan ini, ternya bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kepada mereka. Akan tetapi karena tipisnya khusnuzhan, prasangka baik mereka kepada kebaikan Allah azza wa jalla. Sungguh, nikmat yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan jauh lebih besar dibandingkan siksa-Nya. Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru saja memiliki bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang, akan tetapi dia yakin jika ia adalah perintah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì maka Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak akan menelantarkannya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pasti akan membantunya, bukan hanya untuk Hajar saja, bukan hanya berlaku pada zaman itu saja, namun kisah ini akan terus berulang dari zaman ke zaman, bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak akan menyia-nyiakan para hamba yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi. Yakinlah. Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti tidak akan pernah ditelantarkan oleh Allah azza wa jalla.
Pelajaran yang kedua : Bersemangat di dalam mencari rizki yang halal.
Setelah Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangan dakwah di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan, panas terik matahari saat itu sangat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis. Air susu Hajar mulai kering. Hajar dan Ismail pun kehausan. Dan pada waktu yang bersamaan, makanan yang mereka bawa juga ikut habis. Kegelisahan, kekhawatiran menghantui Hajar. Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air dengan berlari-lari kecil dia sampai di kaki bukit shafa, kemudian mendaki bukit itu, diletakkannya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan mata dari teriknya sinar matahari, dia menengok kesana kemari mencari sumur, mencari manusia, mencari kafilah atau mencari berita. Akan tetapi tidak satu pun yang tertangkap oleh pandangan matanya. Maka, ia pun bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari-lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik di atas bukit tersebut. Barangkali dari sana ia melihat seseorang. Akan tetapi, tidak membuahkan hasil. Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya, ia melihat Ismail terus menangis, tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung, Hajar kembali naik ke bukit Shafa. Kemudian turun dan naik lagi ke bukit Marwa, Hajar bolak bali antara bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.
Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini, yaitu, kesungguhan Hajar. Kesungguhan Hajar di dalam mencari air. Dia kerahkan seluruh tenaganya untuk bolak balik mendaki bukit Shafa dan Marwa, dia terus berusaha walau pun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rizki Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki, karena sejatinya kita diperintahkan bukan hanya untuk melihat hasil, akan tetapi untuk memaksimalkan usaha dan tenaga. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sangat menghargai orang-orang yang bekerja keras, beliau bersabda :
áóÃóäú íóÍúÊóØöÈó ÃóÍóÏõßõãú ÍõÒúãóÉð Úóáóì ÙóåúÑöåö ÎóíúÑñ áóåõ ãöäú Ãóäú íóÓúÃóáó ÃóÍóÏðÇ ÝóíõÚúØöíóåõ Ãóæú íóãúäóÚóåõ
Seorang yang mencari seikat kayu bakar, kemudian dia mengusungnya di atas pundaknya, orang yang seperti ini lebih mulia dibandingkan orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah dia diberi atau tidak (HR. al-Bukhari)
Akan tetapi, walau pun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita dipebolehkan untuk berlaku sebebas-bebasnya sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah ! Berhati-hatilah ! terhadap barang haram yang masuk ke dalam tubuh kita, karena badan yang tumbuh dari harta haram, satu-satunya tempat yang layak untuk tubuh tersebut adalah neraka Jahanam. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengingatkan :
áóÇ íóÏúÎõáõ ÇáúÌóäøóÉó áóÍúãñ äóÈóÊó ãöäú ÓõÍúÊò ÃóÈóÏðÇ ÇóáäøóÇÑõ Ãõæúáóì Èöåö
Tidak akan masuk Surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram, nerakalah tempat yang pantas untuknya. (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh imam adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani)
Makanan haram, bukan hanya daging babi, namun juga daging sapi akan berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram, bukan hanya wiski, namun secangkir kopi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi atau hasil mencuri. Maka, wasapadalah !
Pelajaran yang ketiga : Berkorban untuk Allah azza wa jalla.
Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ semakin bertambah cinta kepada putranya. Tidak mengherankan, karena Ismail hadir dikala usia Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ semakin senja. Itulah sebabnya, beliau Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ sangat mencintai Ismail. Akan tetapi, ternyata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berkehendak untuk menguji Nabinya dengan ujian yang sangat berat,
ÝóáóãøóÇ ÈóáóÛó ãóÚóåõ ÇáÓøóÚúíó ÞóÇáó íóÇ Èõäóíøó Åöäøöí ÃóÑóì Ýöí ÇáúãóäóÇãö Ãóäøöí ÃóÐúÈóÍõßó ÝóÇäúÙõÑú ãóÇÐóÇ ÊóÑóì [ÇáÕÇÝÇÊ : 102]
Ketika anaknya mulai dewasa, nabi Ibrahim berkata, wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu, maka tolong apa pendapatmu tentang mimpi itu ?
ÞóÇáó íóÇ ÃóÈóÊö ÇÝúÚóáú ãóÇ ÊõÄúãóÑõ ÓóÊóÌöÏõäöí Åöäú ÔóÇÁó Çááøóåõ ãöäó ÇáÕøóÇÈöÑöíäó [ÇáÕÇÝÇÊ : 102]
Maka Ismail pun menjawab, ‘wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan oleh Allah, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Qs. ash-Shaffat : 102)
Bayangkan, bentuk ujian yang telah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berikan kepada Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ , bagaimana kira-kira perasaan Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ saat itu ? pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam dadanya. Ketika itu Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ berfikir tentang putranya, apa yang harus beliau katakan saat beliau hendak membaringkan putranya di atas tanah untuk disembelih. Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ mengambil jalan yang terbaik, beliau Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ berkata dengan jujur, dengan lemah lembut kepada putranya, daripada menyembelihnya secara paksa. Lihatlah ! Lihatlah bagaimana kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kecintaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan kasih sayang-Nya walau pun dengan mengorbankan sesuatu yang tercinta.
Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya tentang makna pengorbanan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Kata kurban, dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fikih Islam dikenal dengan udh-hiyyah. Dan sebagian ulama mengistilahkannya dengan ‘an-Nahr’ sebagaimana dalam firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì,
ÝóÕóáøö áöÑóÈøößó æóÇäúÍóÑú [ÇáßæËÑ : 2]
Shalatlah untuk Allah dan berkurbanlah. (al-Kautsar : 2)
Akan tetapi, kurban bukan sekedar menyembelih binatang kurban, kemudian menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin, akan tetapi secara umum, kurban meliputi aspek yang lebih luas. Dalam sejarah, umat Islam menghadapi berbagai cobaan makna pengorbanan sangat luas dan dalam. Para nabi juga berkurban, mereka berkorban untuk menegakkan Islam di muka bumi ini. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pernah dilempari batu oleh penduduk Thaif dalam rangka untuk membela agama. Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas, apa yang sudah kita korbankan untuk membela aqidah dan sunnah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ?
Pelajran yang keempat : Pentingnya mendidik keluarga
Nabi Ismail Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ bisa menjadi sosok yang begitu tangguh, Hajar bisa menjadi sosok istri yang luar biasa. Itu semua dengan taufik dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan perjuangan panjang Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ untuk mendidik anak dan istrinya.
Sekarang, mari kita tanya diri kita masing-masing, ‘sudahkah kita memberikan keteladanan yang baik kepada putra-putri kita ?’ sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak shaleh dan shalehah ? sudahkah kita menyelamatkan mereka dari pengaruh lingkungan yang rusak ?.
Memang, untuk mendapatkan keturunan yang ideal memerlukan perhatian, pengorbanan yang sangat besar, bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang sangat tinggi. Maka sangat aneh, apabila kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan sangat kurang, atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup akan tetapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan spirit dan rohani.
Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua, dari guru dan dari pemerintah. Jangan sampai hanya intelektualnya yang diperhatikan, akan tetapi mental dan spiritualnya memprihatinkan. Jangan bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak akan tetapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakuknya semakin jauh dari agama. Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter, berakhlak mulia dan tekun beribadah, juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tuanya. Generasi yang selalu siap pakai. Siap untuk menghadapi benturan dan tantangan hidup, memiliki etos kerja yang tinggi, berkerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif, serta siap untuk berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ beserta dengan keluarganya, Hajar dan Islamil Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ.
Semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)


















