Úóäú ÚõãóÑó Èúäö ÇáúÎóØøóÇÈö ÞóÇáó ÈóíúäóãóÇ äóÍúäõ ÚöäúÏó ÑóÓõæáö Çááøóåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- ÐóÇÊó íóæúãò ÅöÐú ØóáóÚó ÚóáóíúäóÇ ÑóÌõáñ ÔóÏöíÏõ ÈóíóÇÖö ÇáËøöíóÇÈö ÔóÏöíÏõ ÓóæóÇÏö ÇáÔøóÚóÑö áÇó íõÑóì Úóáóíúåö ÃóËóÑõ ÇáÓøóÝóÑö æóáÇó íóÚúÑöÝõåõ ãöäøóÇ ÃóÍóÏñ ÍóÊøóì ÌóáóÓó Åöáóì ÇáäøóÈöìøö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- ÝóÃóÓúäóÏó ÑõßúÈóÊóíúåö Åöáóì ÑõßúÈóÊóíúåö æóæóÖóÚó ßóÝøóíúåö Úóáóì ÝóÎöÐóíúåö æóÞóÇáó íóÇ ãõÍóãøóÏõ ÃóÎúÈöÑúäöì Úóäö ÇáÅöÓúáÇóãö. ÝóÞóÇáó ÑóÓõæáõ Çááøóåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- « ÇáÅöÓúáÇóãõ Ãóäú ÊóÔúåóÏó Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááøóåõ æóÃóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÑóÓõæáõ Çááøóåö æóÊõÞöíãó ÇáÕøóáÇóÉó æóÊõÄúÊöìó ÇáÒøóßóÇÉó æóÊóÕõæãó ÑóãóÖóÇäó æóÊóÍõÌøó ÇáúÈóíúÊó Åöäö ÇÓúÊóØóÚúÊó Åöáóíúåö ÓóÈöíáÇð. ÞóÇáó ÕóÏóÞúÊó. ÞóÇáó ÝóÚóÌöÈúäóÇ áóåõ íóÓúÃóáõåõ æóíõÕóÏøöÞõåõ. ÞóÇáó ÝóÃóÎúÈöÑúäöì Úóäö ÇáúÅöíãóÇäö. ÞóÇáó « Ãóäú ÊõÄúãöäó ÈöÇááøóåö æóãóáÇóÆößóÊöåö æóßõÊõÈöåö æóÑõÓõáöåö æóÇáúíóæúãö ÇáÂÎöÑö æóÊõÄúãöäó ÈöÇáúÞóÏóÑö ÎóíúÑöåö æóÔóÑøöåö ». ÞóÇáó ÕóÏóÞúÊó. ÞóÇáó ÝóÃóÎúÈöÑúäöì Úóäö ÇáúÅöÍúÓóÇäö. ÞóÇáó « Ãóäú ÊóÚúÈõÏó Çááøóåó ßóÃóäøóßó ÊóÑóÇåõ ÝóÅöäú áóãú Êóßõäú ÊóÑóÇåõ ÝóÅöäøóåõ íóÑóÇßó ». ÞóÇáó ÝóÃóÎúÈöÑúäöì Úóäö ÇáÓøóÇÚóÉö. ÞóÇáó « ãóÇ ÇáúãóÓúÆõæáõ ÚóäúåóÇ ÈöÃóÚúáóãó ãöäó ÇáÓøóÇÆöáö ». ÞóÇáó ÝóÃóÎúÈöÑúäöì Úóäú ÃóãóÇÑóÊöåóÇ. ÞóÇáó « Ãóäú ÊóáöÏó ÇáúÃóãóÉõ ÑóÈøóÊóåóÇ æóÃóäú ÊóÑóì ÇáúÍõÝóÇÉó ÇáúÚõÑóÇÉó ÇáúÚóÇáóÉó ÑöÚóÇÁó ÇáÔøóÇÁö íóÊóØóÇæóáõæäó Ýöì ÇáúÈõäúíóÇäö ». ÞóÇáó Ëõãøó ÇäúØóáóÞó ÝóáóÈöËúÊõ ãóáöíøðÇ Ëõãøó ÞóÇáó áöì « íóÇ ÚõãóÑõ ÃóÊóÏúÑöì ãóäö ÇáÓøóÇÆöáõ ». ÞõáúÊõ Çááøóåõ æóÑóÓõæáõåõ ÃóÚúáóãõ. ÞóÇáó « ÝóÅöäøóåõ ÌöÈúÑöíáõ ÃóÊóÇßõãú íõÚóáøöãõßõãú Ïöíäóßõãú »
Dari Umar bin al-Khaththab ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , ia berkata, “Ketika kami tengah berada di sisi Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pada suatu hari, tiba-tiba muncul dan mendatangi kami seorang lelaki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat darinya bekas perjalanan jauh, dan tak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Hingga duduk di hadapan NabiÕóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó . Lalu, ia menempelkan lututnya ke lutut Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Ia pun meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Ia mengatakan : Wahai Muhammad ! Beritahukan kepadaku tentang Islam. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun bersabda, ‘Islam itu, engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan bahwa Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó adalah utusan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah jika engkau mampu melakukan perjalanan ke sana.’ Lelaki itu mengatakan, ‘Engkau benar.’ Ia (rawi, yakni, Umar bin Khaththab ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåð) mengatakan, ‘Maka kami pun merasa keheranan terhadapnya, ia bertanya namun ia membenarkannya.’
Laki-laki itu berkata (lagi), ‘Beritahukan kepadaku tentang iman,’ Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun bersabda, “ Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman terhadap takdir yang baik dan yang buruk.’ Lelaki itu pun berkata, ‘Engkau benar.’
Lelaki itu berkata (lagi), ‘Beritahukan kepadaku tentang Kiamat.’ Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun bersabda, ‘Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.’
Lelaki itu berkata (lagi), ‘Kalau begitu, beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun bersabda, ‘Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuannya, engkau melihat seorang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, pengembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.’
Umar berkata, ‘Kemudian lelaki itu beranjak pergi. Maka, aku tetap saja heran, hingga beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah kamu siapakah si penanya itu ?’ Aku pun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, ‘Sesungguhnya, si penanya itu adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.’ [1]
***
Ini merupakan hadis nan agung, terkenal di kalangan para ulama dengan sebutan ‘hadis Jibril’ ; dan hal demikian itu karena Jibril ar-Ruh al-Amin Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ adalah malaikat yang paling utama, dan dia adalah malaikat yang ditugaskan menurunkan wahyu kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Kali ini, dia datang kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dalam rupa seorang A’robiy. Lalu, dia duduk di hadapan Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dengan sikap duduk yang lembut ini. Dan dia pun bertanya kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pertanyaan-pertanyaan yang agung ini, padahal sejatinya ia adalah seorang pengajar (guru) akan tetapi tampil dalam rupa seorang penanya yang tengah belajar mengambil ilmu (murid).
Dan di antara faedah hal ini adalah bahwa seorang penanya terkadang dapat menjadi seorang pengajar bagi orang-orang. Seperti ia tengah berada di sebuah majelis orang yang berilmu, dan ia mendapati bahwa di tengah-tengah para hadirin ada orang-orang yang membutuhkan untuk dijelaskan kepada mereka sebagian masalah ; maka, ia pun melontarkan beberapa masalah tersebut sementara dirinya sejatinya mengetahui jawabannya. Namun, ia bermaksud untuk memberikan faedah kepada mereka. Sehingga faktanya ia menjadi seorang penanya, namun sejatinya ia seorang mu’alim (pengajar) yang menginginkan untuk mengajari manusia. Ia pun mendapatkan pahala atas kebaikannya, kesemangatannya dan nasehatnya.
Dan, di antara pertanyaan (yang dikemukakan oleh Jibril) ini adalah pertanyaan tentang iman. Al-Iman (iman) secara bahasa adalah ‘al-Iqrar’ (pengakuan) karena kata iman diambil dari kata ‘al-mnu’ yang merupakan lawan kata ‘al-Khauf’ (takut) [2], keamanan hati, ketegarannya, ketenangannya, dan kepercayaan dirinya.
Adapun secara syar’i, maka iman adalah keyakinan, perkataan, dan amalan; keyakinan secara mantap terhadap setiap hal yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perintahkan karena keyakinannya dari keimanan kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hal-hal yang lainnya.
Adapun yang dimaksud dengan ‘perkataan’ adalah pengucapan dua persyaksian, di mana pengucapan ini bersandarkan kepada keyakinan hati yang mantap terhadap sesuatu yang diucapkan oleh lisan, kemudian anggota badan melakukan ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Jadi, iman itu bukan hanya yang terdapat di dalam hati saja. Bukan pula hanya yang terdapat pada lisan saja. Dan bukan pula hanya yang terdapat pada anggota badan saja. Tetapi, iman itu mencakup perkara-perkara ini seluruhnya; yaitu, keyakinan di hati, perkataan lisan, dan amalan anggota badan. Kesemuanya ini bekerja, tunduk, tenang, pasrah, dan melaksanakan perintah-perintah Allah ÚóÒøó æóÌóáøó
Dan iman ini tegak berdiri di atas pondasi yang agung, datang penjelasannya dengan sempurna di dalam hadis ini. Jibril Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang (apa itu) iman ? Maka beliau (Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ) bersabda,
« Ãóäú ÊõÄúãöäó ÈöÇááøóåö æóãóáÇóÆößóÊöåö æóßõÊõÈöåö æóÑõÓõáöåö æóÇáúíóæúãö ÇáÂÎöÑö æóÇáúÈóÚúËö ÈóÚúÏó ÇáúãóæúÊö æóÊõÄúãöäó ÈöÇáúÞóÏóÑö ÎóíúÑöåö æóÔóÑøöåö Íõáúæöåö æóãõÑøöåö».
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, kebangkitan setelah kematian, dan engkau beriman terhadap takdir yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit.” [3]
Maka, inilah enam landasan di mana iman berdiri tegak di atasnya, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjelaskannya, dan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengumpulkannya di dalam hadis ini. Maka, wajib atas setiap Muslim untuk mengimaninya dengan keimanan yang mantap, tidak mencampurinya dengan keraguan sedikit pun.
Dan keenam perkara ini merupakan pokok-pokok yang saling berhubungan dan saling terkait satu sama lainnya, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya. Iman terhadap sebagiannya mengharuskan iman terhadap semuanya.
Oleh karena agungnya kedudukan landasan-landasan pokok ini dan ketinggian posisinya, datanglah penjelasan mengenai landasan-landasan pokok ini di dalam al-Qur’an al-Karim di sejumlah tempat. Di dalam surat al-Baqarah datang penyebutan landasan-landasan pokok ini; di permulaannya, di pertengahannya, dan di akhirnya.
Di permulaannya, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman berkaitan dengan beberapa sifat orang-orang yang bertakwa :
åõÏðì áöáúãõÊøóÞöíäó (2) ÇáøóÐöíäó íõÄúãöäõæäó ÈöÇáúÛóíúÈö æóíõÞöíãõæäó ÇáÕøóáóÇÉó æóãöãøóÇ ÑóÒóÞúäóÇåõãú íõäúÝöÞõæäó (3) æóÇáøóÐöíäó íõÄúãöäõæäó ÈöãóÇ ÃõäúÒöáó Åöáóíúßó æóãóÇ ÃõäúÒöáó ãöäú ÞóÈúáößó æóÈöÇáúÂÎöÑóÉö åõãú íõæÞöäõæäó (4) ÃõæáóÆößó Úóáóì åõÏðì ãöäú ÑóÈøöåöãú æóÃõæáóÆößó åõãõ ÇáúãõÝúáöÍõæäó (5) [ÇáÈÞÑÉ : 2 - 5]
Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang ghaib, menegakkan shalat, dan menafkahkan sebagaian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat (al-Baqarah : 2-5)
Firman-Nya, ÇáøóÐöíäó íõÄúãöäõæäó ÈöÇáúÛóíúÈö ”Orang-orang yang beriman pada yang ghaib.” Ibnu Katsir ÑóÍöãóåõ Çááåõ menyebutkan dari Abu al-‘Aliyah dan yang lainnya dari kalangan salaf tentang makna ayat ini seraya berkata : yakni, orang-orang yang beriman kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, surga dan neraka, serta perjumpaan dengan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, kesemua itu termasuk iman pada yang ghaib. [4]
Di tengahnya, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
áóíúÓó ÇáúÈöÑøó Ãóäú ÊõæóáøõæÇ æõÌõæåóßõãú ÞöÈóáó ÇáúãóÔúÑöÞö æóÇáúãóÛúÑöÈö æóáóßöäøó ÇáúÈöÑøó ãóäú Âãóäó ÈöÇááøóåö æóÇáúíóæúãö ÇáúÂÎöÑö æóÇáúãóáóÇÆößóÉö æóÇáúßöÊóÇÈö æóÇáäøóÈöíøöíäó [ÇáÈÞÑÉ : 177]
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi…(al-Baqarah : 177)
Dan pada penutupnya, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Âãóäó ÇáÑøóÓõæáõ ÈöãóÇ ÃõäúÒöáó Åöáóíúåö ãöäú ÑóÈøöåö æóÇáúãõÄúãöäõæäó ßõáøñ Âãóäó ÈöÇááøóåö æóãóáóÇÆößóÊöåö æóßõÊõÈöåö æóÑõÓõáöåö áóÇ äõÝóÑøöÞõ Èóíúäó ÃóÍóÏò ãöäú ÑõÓõáöåö æóÞóÇáõæÇ ÓóãöÚúäóÇ æóÃóØóÚúäóÇ ÛõÝúÑóÇäóßó ÑóÈøóäóÇ æóÅöáóíúßó ÇáúãóÕöíÑõ [ÇáÈÞÑÉ : 285]
Rasul (Muhammad) beriman pada apa (al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (al-Baqarah : 285)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman di dalam surat an-Nisa :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÂãöäõæÇ ÈöÇááøóåö æóÑóÓõæáöåö æóÇáúßöÊóÇÈö ÇáøóÐöí äóÒøóáó Úóáóì ÑóÓõæáöåö æóÇáúßöÊóÇÈö ÇáøóÐöí ÃóäúÒóáó ãöäú ÞóÈúáõ æóãóäú íóßúÝõÑú ÈöÇááøóåö æóãóáóÇÆößóÊöåö æóßõÊõÈöåö æóÑõÓõáöåö æóÇáúíóæúãö ÇáúÂÎöÑö ÝóÞóÏú Öóáøó ÖóáóÇáðÇ ÈóÚöíÏðÇ [ÇáäÓÇÁ : 136]
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh. (an-Nisa : 136)
Dan di antara hal yang menjelaskan agungnya posisi landasan-landasan pokok ini adalah bahwa syariat-syariat para Nabi semuanya sepakat di atas landasan-landasan pokok ini. Tak seorang nabi pun yang menyelisihi nabi yang lainnya. Bahkan, semuanya sepakat di atas landasan-landasan pokok ini. Mereka pun menyeru kepadanya. Mereka pun memerintahkan dengannya. Mereka juga memberitakan akan keutamaan orang yang beriman dengan hal-hal tersebut, besarnya pahalanya, dan agungnya balasannya. Di mulai dari Nabi Nuh Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ dan ditutup dengan Nabi Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , mereka semuanya sepakat di atas landasan-landasan pokok ini.
Dan hal teragung dan paling mulia dari landasan-landasan pokok ini adalah iman kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Ini adalah pokok dari landasan-landasan pokok ini, dan sisa landasan pokok yang lainnya mengikutinya.
Dan, iman kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah iman terhadap keesaan-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada sifat rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan pada sifat keilahiyahan-Nya.
Iman kepada keesaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada rububiyah-Nya yaitu seseorang mengesakan Allah Ìóáøó æóÚóáóÇ pada rububiyah-Nya, dengan keyakinan yang mantap bahwa Allah-lah semata Dia-lah sang pencipta, pemberi rizki, pemberi karunia, yang memutuskan dan yang mengatur urusan-urusan makhluk-Nya seluruhnya, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Adapun iman terhadap keesaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya adalah mengakui dan menetapkan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang disebutkan di dalam al-kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah. Maka, apabila Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengkhabarkan tentang diri-Nya mengenai sebuah nama atau sifat (diri-Nya), maka kita mengimaninya sesuai dengan apa yang dimaksudkan-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì seperti yang dikatan oleh tidak hanya seorang ulama, “Aku beriman kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan kepada apa-apa yang datang dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dan, aku pun beriman kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, dan kepada apa-apa yang datang dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó.” [5] seperti kata al-Imam az-Zuhri ÑóÍöãóåõ Çááåõ , “Dari Allah-lah risalah itu, dan Rasul berkewajiban untuk menyampaikan, sementara kita berkewajiban untuk menerima.”[6]
Adapun iman terhadap keesaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada keilahiyahan-Nya adalah mengesakan-Nya dengan melaksanakan semua macam bentuk ibadah. Maka, sebagaimana halnya bahwa tidak ada pencipta selain-Nya, maka demikian pula tidak ada yang disembah dengan benar selain-Nya. Maka mengesakan-Nya semata dengan perendahan diri, ketundukan, kepatuhan, ketaatan dan kepasrahan.
Adapun iman kepada para malaikat adalah mengakui dan menetapkan semua yang datang di dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tentang mereka, berupa nama-nama mereka, pekerjaan-pekerjaan mereka, sifat-sifat mereka dan jumlah mereka. Tekait dengan apa yang datang tentang hal tersebut secara global, maka kita mengimaninya secara global. Adapun yang datang tentang hal tersebut secara rinci, maka kita mengimaninya secara terperinci pula.
Mengenai jumlah para malaikat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì . (Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóãóÇ íóÚúáóãõ ÌõäõæÏó ÑóÈøößó ÅöáøóÇ åõæó [ÇáãÏËÑ : 31]
Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. (al-Mudatstsir : 31).
Dan, di antara hal yang menjelaskan banyaknya malaikat dan besarnya jumlah mereka adalah apa yang datang di dalam hadis tentang peristiwa Isra, ketika Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó diisra-kan, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
Ëõãøó ÑõÝöÚó áöìó ÇáúÈóíúÊõ ÇáúãóÚúãõæÑõ ÝóÞõáúÊõ íóÇ ÌöÈúÑöíáõ ãóÇ åóÐóÇ ÞóÇáó åóÐóÇ ÇáúÈóíúÊõ ÇáúãóÚúãõæÑõ íóÏúÎõáõåõ ßõáøó íóæúãò ÓóÈúÚõæäó ÃóáúÝó ãóáóßò ÅöÐóÇ ÎóÑóÌõæÇ ãöäúåõ áóãú íóÚõæÏõæÇ Ýöíåö ÂÎöÑõ ãóÇ Úóáóíúåöãú
‘Kemudian aku dibawa naik ke Baitul Ma’mur yang mana dalam setiap hari, tujuh puluh ribu Malaikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya (lagi). Karena itu merupakan terakhir kali mereka memasukinya.’ [7]
Termasuk pula hal yang menjelaskan banyaknya jumlah mereka adalah sabda Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó,
ÃóØøóÊú ÇáÓøóãóÇÁõ æóÍóÞøó áóåóÇ Ãóäú ÊóÆöØøó ãóÇ ÝöíåóÇ ãóæúÖöÚõ ÃóÑúÈóÚö ÃóÕóÇÈöÚó ÅöáøóÇ Úóáóíúåö ãóáóßñ ÓóÇÌöÏñ áöáøóåö
Langit merintih dan laik baginya merintih, tidaklah di sana ada tempat untuk empat jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya seraya bersujud kepada Allah. [8]
Dan di antara hal yang menjelaskan besarnya ujud mereka adalah apa yang datang dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ÃõÐöäó áöì Ãóäú ÃõÍóÏøöËó Úóäú ãóáóßò ãöäú ãóáÇóÆößóÉö Çááøóåö ãöäú ÍóãóáóÉö ÇáúÚóÑúÔö Åöäøó ãóÇ Èóíúäó ÔóÍúãóÉö ÃõÐõäöåö Åöáóì ÚóÇÊöÞöåö ãóÓöíÑóÉõ ÓóÈúÚöãöÇÆóÉö ÚóÇãò
“Aku telah diberi izin untuk menceritakan tentang sesosok malaikat dari malaikat Allah yang bertugas membawa Arsy. Sesungguhnya, jarak antara ujung telinga dengan bahunya adalah perjalanan jutuh ratus tahun.” [9]
Dan Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pernah melihat Jibril Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ, ia menutupi ufuk, dan ia memiliki 700 sayap. [10]
Sungguh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah memilih mereka, dan memilih mereka untuk beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-perintah-Nya, mereka tidak menentang/durhaka kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì terhdap apa yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perintahkan kepada mereka, dan mereka pun selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Adapun iman kepada para nabi adalah mengakui dan menetapkan secara mantap bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah mengutus para rasul pada setiap umat, di mana para rasul tersebut menyeru orang-orang untuk beribadah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan mengingkari terhadap segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya, dan bahwa semua para utusan tersebut benar dan dibenarkan, baik, terbimbing, mulia, berbudi, bertakwa, amanah, mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk, mereka diperkuat dan didukung oleh Rabb mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan ayat-ayat yang terang, dan bahwa mereka telah menyampaikan risalah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang diemban mereka, mereka tidak menyembunyikannya satu huruf pun juga. Mereka tidak mengubahnya, mereka tidak menambah-nambahinya dari sisi mereka satu huruf pun, dan mereka pun tidak menguranginya. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan (amanat Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) dengan jelas ?
Dan bahwa mereka seluruhnya berada di atas kebenaran yang nyata, petunjuk yang jelas, dan bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih-Nya) dan menjadikan Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sebagai khalil (kekasih-Nya) pula. Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì benar-benar berbicara kepada Musa Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ (secara langsung), Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengangkat Idris Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ pada tempat/kedudukan yang tinggi, dan bahwa Isa Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ adalah hamba Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan rasulNya, dan kalimatNya yang Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya, dan bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lainnya, dan mengangkat sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat.
Dan dakwah mereka sedari rasul pertama hingga rasul terakhir sepakat dalam hal pondasi agama. Adapun cabang-cabang syariat berupa perkara-perkara yang wajib, perkara halal dan haram kadang berbeda-beda. Terkadang suatu perkara diwajibkan atas sebagian mereka, tidak diwajibkan atas sebagian yang lainnya, karena suatu hikmah yang mendalam.
Adapun iman kepada kitab-kitab, yakni, mengakui dan menetapkan kitab-kitab Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang diturunkan kepada para rasul-Nya yang mulia, yang disucikan dari kedustaan, kebohongan, dan rekayasa, dan (disucikan pula) dari segala bentuk kebatilan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Þõáú ÂãóäúÊõ ÈöãóÇ ÃóäúÒóáó Çááøóåõ ãöäú ßöÊóÇÈò [ÇáÔæÑì : 15]
Katakanlah, “Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah.” (asy-Syura : 15)
Yakni, kepada semua kitab yang diturunkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepada rasul yang mana saja, maka kita mengatakan sebagaimana yang Rabb kita perintahkan kepada kita, ‘Kami beriman kepada apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì turunkan berupa kitab, dan rasul yang diutus, dan kita pun menyakini bahwa sesuatu yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa syariat-syariat semuanya hak (benar), dan bahwa umat-umat yang diturunkan kepada mereka kitab wajib untuk tunduk terhadap ajaran yang terdapat di dalam kitab-kitab tersebut, dan berhukum dangan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dan bahwa semua kitab-kitab tersebut sebagiannya membenarkan sebagian yang lainnya, seperti Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman tentang Injil,
æóãõÕóÏøöÞðÇ áöãóÇ Èóíúäó íóÏóíúåö [ÇáãÇÆÏÉ : 46]
“Yang membenarkan kitab suci yang sebelumnya.” (al-Maidah : 46)
Dan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman tentang al-Qur’an,
æóÃóäúÒóáúäóÇ Åöáóíúßó ÇáúßöÊóÇÈó ÈöÇáúÍóÞøö ãõÕóÏøöÞðÇ áöãóÇ Èóíúäó íóÏóíúåö ãöäó ÇáúßöÊóÇÈö æóãõåóíúãöäðÇ Úóáóíúåö [ÇáãÇÆÏÉ : 48]
Kami telah menurunkan kitab suci (al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). (al-Maidah : 48)
Adapun iman kepada hari akhir, yaitu, iman terhadap setiap yang dikabarkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tentang hari akhir tersebut tentang apa-apa yang akan terjadi setelah kematian, sejak masuknya seseorang ke dalam kubur, yang merupakan persinggahan pertama (kehidupan) akhirat sampai manusia terbagi menjadi dua kelompok; satu kelompok di Surga dan satu kelompok lainnya di Neraka. Maka, kita mengimani adanya fitnah kubur, siksanya dan kenikmatannya, turunnya dua malaikat ke dalam kubur, dan pertanyaan yang diajukan kepada orang yang berada di dalam kubur tentang rabbnya, agamanya dan nabinya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , kemudian peniupan sangkakala, pembangkitan, pengumpulan manusia, kedatangan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk memberikan penghakiman dan keputusan di antara para hamba, penimbangan, (pertunjukan) catatan-catatan amal, penerbangan lembaran-lembaran, shirat (jembatan) yang dipancangkan di atas neraka Jahannam, Jahannam beserta segala isinya berupa siksaan yang beraneka ragam, serta surga beserta segala isinya berupa kenikmatan yang kekal.
Adapun iman terhadap takdir, yaitu, iman bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menentukan takdir-takdir para makhluk, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengetahui apa yang bakal terjadi sejak zaman azali, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menuliskan hal tersebut di Lauh Mahfuzh, dan tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan kehendak Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , dan Dialah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pencipta segala sesuatu.
Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Ãóáóãú ÊóÚúáóãú Ãóäøó Çááøóåó íóÚúáóãõ ãóÇ Ýöí ÇáÓøóãóÇÁö æóÇáúÃóÑúÖö Åöäøó Ðóáößó Ýöí ßöÊóÇÈò Åöäøó Ðóáößó Úóáóì Çááøóåö íóÓöíÑñ [ÇáÍÌ : 70]
Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi ?, sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (al-Hajj : 70)
Dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóßõáøõ ÔóíúÁò ÝóÚóáõæåõ Ýöí ÇáÒøõÈõÑö (52) æóßõáøõ ÕóÛöíÑò æóßóÈöíÑò ãõÓúÊóØóÑñ (53) [ÇáÞãÑ : 52 ¡ 53]
Dan segala (sesuatu) yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis (al-Qamar : 52-53)
Úóäú ÚóÈúÏö Çááøóåö Èúäö ÚóãúÑöæ Èúäö ÇáúÚóÇÕö ÞóÇáó ÓóãöÚúÊõ ÑóÓõæáó Çááøóåö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- íóÞõæáõ : ßóÊóÈó Çááøóåõ ãóÞóÇÏöíÑó ÇáúÎóáÇóÆöÞö ÞóÈúáó Ãóäú íóÎúáõÞó ÇáÓøóãóæóÇÊö æóÇáÃóÑúÖó ÈöÎóãúÓöíäó ÃóáúÝó ÓóäóÉò
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, “Allah telah menentukan takdir seluruh makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. [11]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Ahaditsu al-Iman, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal. 16-24
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Ahaditsu al-Iman, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal. 16-24.
Catatan :
[1] Diriwayatkan oleh Muslim (8)
[2] Lihat : Ash-Shihah, karya al-Jauhari (5/2071), Lisanul ‘Arob, Ibnu Manzhur, 13/21. ar-Raghib al-Ashfahaniy di dalam kitab Mufradaat (90) mengatakan : asal (makna) kata ‘al-Amnu adalah Thuma’ninatu an-Nafsi (ketenangan jiwa) dan Zawalu al-Khauf (hilangnya rasa takut).
[3] Diriwayatkan dengan lafazh Íõáúæöåö æóãõÑøöåö (yang manis dan yang pahit) oleh Ibnu Mandah di dalam (kitabnya) “al-Iman” 3/71 , al-Laalikaa-iy di dalam ‘Syarh Ushul ‘Itiqaad Ahli as-Sunnah Wa al-Jama’ah (314)
[4] Lihat : Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/257
[5] Diriwayatkan oleh Abu Zakaria as-Salmani dari al-Imam asy-Syafi’i di dalam ‘Manazil al-Aimmah al-Arba’ah’ (146).
[6] al-Bukhari menyebutkannya di dalam ash-Shahih secara mu’allaq sebelum hadis (7530) dan Ibnu Hajar menyambungnya di dalam Taghliq at-Ta’liq, 5/365)
[7] HR. al-Bukhari, 3207, dan Muslim, 164. Dan, lafazh ini adalah miliknya.
[8] HR. Ahmad, 21516 dan at-Tirmidzi, 2312, dan dihasankan oleh al-Albani
[9] HR. Abu Dawud, 4727, dan dishahihkan oleh al-Albani.
[10] HR. al-Bukhari, 3232 dan Muslim 380
[11] HR. Muslim, no. 2653


















