***
Orang beriman lagi bertakwa yang takut kepada Kekasihnya (Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) dan mengagungkanNya, ia menganggap besar dosanya dan menganggap besar dalam hatinya kekurangan dirinya di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Sejauh mana keimanan seseorang dan pengagungannya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sejauh itu ia menganggap besar kemaksiatan dan dosanya.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyifati hamba-hamba-Nya yang bertakwa dengan firman-Nya,
ßóÇäõæÇ ÞóáöíáðÇ ãöäó Çááøóíúáö ãóÇ íóåúÌóÚõæäó (17) æóÈöÇáúÃóÓúÍóÇÑö åõãú íóÓúÊóÛúÝöÑõæäó (18)
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [1]
Dalam ayat lain, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
ÇáøóÐöíäó íóÞõæáõæäó ÑóÈøóäóÇ ÅöäøóäóÇ ÂãóäøóÇ ÝóÇÛúÝöÑú áóäóÇ ÐõäõæÈóäóÇ æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö (16) ÇáÕøóÇÈöÑöíäó æóÇáÕøóÇÏöÞöíäó æóÇáúÞóÇäöÊöíäó æóÇáúãõäúÝöÞöíäó æóÇáúãõÓúÊóÛúÝöÑöíäó ÈöÇáúÃóÓúÍóÇÑö (17) [Âá ÚãÑÇä : 16 ¡ 17]
“(Yaitu) orang-orang yang berdoa : ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka.’ (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” [2]
Kendati sedemikian rupa ketakwaan, ibadah, infak, qiyamul lail yang mereka lakukan, tetapi mereka tetap beristighfar kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada waktu yang mereka anggap lebih mudah dikabulkan.
Abdullah bin Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengilustrasikan keadaan orang yang beriman dalam hubungannya dengan kemaksiatan dengan ilustrasi yang detail dan mendalam : “Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-oleh ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) melihat dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.” Ia mengisyaratkan begini –Ibnu Syihab berkata- : “Dengan tangannya di atas hidungnya.” [3]
Ibnu Abi Jamrah ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan : “Hikmah dalam penyerupaan (dosa) dengan gunung ialah bahwa hal-hal yang membahayakan selain gunung ada kalanya diperoleh faktor yang menyelamatkan dirinya. Berbeda dengan gunung apabila menimpa seseorang, maka biasanya ia tidak dapat selamat darinya.” [4]
Al-Muhibb ath-Thabari ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, “Ini hanyalah sifat orang yang beriman karena begitu takutnya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan siksa-Nya. Karena ia merasa yakin dengan dosanya dan tidak yakin mendapatkan ampunan. Sedangkan orang yang fajir sedikit pengetahuannya tentang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Karena itu, kurang rasa takutnya dan menganggap remeh kemaksiatan.” [5]
Saudaraku, jika aku letakkan diriku juga dirimu pada timbangan Ibnu Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ ,dan bagaimana kita melihat kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa kita, maka kita termasuk dalam sisi timbangan yang mana ? Apakah kita termasuk mereka yang melihat dosa-dosanya laksana gunung ataukah termasuk orang-orang yang melihat dosanya seperti lalat ?
Kepekaan dan ketakutan terhadap dosa serta menganggap besar dosa tersebut bukan hanya sifat spesial Ibnu Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, tetapi sifat yang umumnya dimiliki oleh generasi awal.
Dalam shahih al-Bukhari dari Ghailan, dari Anas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata, “Sungguh kalian mengetahui amalan-amalan yang lebih kecil daripada rambut dalam pandangan kalian, padahal kami menilainya pada masa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó sebagai dosa-dosa besa.” [6]
Seorang muslim merenungi atsar ini dengan kebingungan dan bertanya-tanya. Anas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan hal itu kepada salah seorang tabi’in dan salah seorang muridnya untuk mengilustrasikan perbandingan antara pandangan mereka terhadap dosa mereka dengan para sahabat Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. ia bertanya-tanya dalam dirinya, sebesar apa dosa-dosa para tabi’in tersebut ? Dan bagaimana perbandingan antara pandangan kita terhadap dosa-dosa kita dan kekurangan kita dengan pandangan generasi tersebut ? Apa kir-kira yang akan dikatakan Anas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ seandainya ia melihat apa yang kita lakukan ?
Perasaan yang sama kita lihat pada Hudzaefah bin Yaman ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ketika ia mengatakan, “Jika seseorang mengatakan suatu perkataan pada masa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, maka dengan perkataan itu ia menjadi munafik. Tapi aku mendengar perkataan itu dari salah seorang kalian empat kali dalam satu majlis.”[7]
Ini juga berlaku bagi sebaik-baik manusia sesudah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Pernah Umar bin al-Khaththab ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dalam keadaan menutup mulutnya. Ia mengatakan, “Lisanku inilah yang membawaku kepada kebinasaan.”[8]
Dalam perang Hudaibiyah kaum Muslimin datang dengan penuh kerinduan ke Baitullah. Tapi mereka beserta Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dihalang-halangan oleh kaum musyrikin dari melaksanakan niat mereka itu. Sehingga ada unek-unek dalam hati para sahabat Rasulullah. Maka Umar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ menemui Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó seraya bertanya, “Bukankah engkau benar-benar Nabi Allah ?” Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab, “Benar.” Ia bertanya, “Bukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan ?” Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab, “Benar.” Ia berkata “Kalau begitu mengapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita ?” Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab, “Aku adalah utusan Allah dan aku tidak pernah bermaksiat kepadaNya dan Dia adalah Penolongku.” Ia berkata, “Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kami akan datang ke Baitullah dan melakukan thawaf di sana ?” Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab, “Benar. Apakah aku telah memberitahukan kepada kalian bahwa kita akan datang ke Baitullah tahun ini ?” Ia (Umar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ) mengatakan, “Tidak.” Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, “Sesungguhnya kamu (wahai Umar) akan datang dan bertawaf di sana.” Lalu Umar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ menemui Abu Bakar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, lalu Abu Bakar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata kepadanya seperti itu dan menjawabnya seperti jawaban Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó kepadanya. [9]
Anda lihat apa yang mendorong Umar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berdialog dengan Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, bukankah keinginan untuk membela agamanya, bertawaf di Baitullah dan beribadah kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ?
Tetapi Umar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ masih merasa dan menilai sikap tersebut sebagai dosa. Karena itu ia bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh yang akan dapat menghapus dosanya itu. Ia mengatakan, “Karena kesalahan itu, saya melakukan berbagai amalan.”
Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa Umar ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ pernah mengatakan, “Aku senantiasa bersedekah, berpuasa, shalat dan memerdekakan budak, karena apa yang pernah kulakukan waktu itu.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan, “Sesungguhnya dia melakukan amalan-amalan tersebut hanya karena hal ini, karena kalau tidak karena itu, maka seluruh yang muncul darinya adalah termaafkan, bahkan mendapatkan pahala karena ia berijtihad di dalamnya.” [10]
Jika demikian biografi mereka dalam apa yang mereka ijtihadkan, lalu bagaimana halnya dengan orang yang betul-betul melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan ?
Abdullah bin Amr bin Ash ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengilustrasikan jiwa seorang mukmin ketika melakukan kesalahan. Ia mengatakan, “Sungguh jiwa orang yang beriman lebih menjauhi kesalahan di bandingkan burung ketika ia dilempar.” [11]
Mudah-mudahan Anda sama memahami dengan saya behwa terdapat perbedaan antara dosa yang dilihat Abdullah bin Amr ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dengan apa yang kita lihat.
Adakalanya pandangan seseorang tertuju pada kecilnya kesalahan. Tetapi Bilal bin Sa’ad ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengingatkan perilaku ini, ketika mengatakan, “Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat.”[12]
Adapun Sulaiman bin Hubaib ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan, “Apabila Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menghendaki kebajikan pada hamba-Nya, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan dosa itu suatu yang buruk. Dan apabila menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membuatnya indah di matanya.” [13]
Menganggap remeh suatu dosa adalah suatu yang besar bagi al-Auza’ ÑóÍöãóåõ Çááåõ. Ia mengatakan, “Dikatakan sebagai dosa besar adalah apabila seseorang melakukan dosa (kecil) tapi ia anggap remeh.” [14]
Ia ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan juga, “Ishrar (terus menerus) adalah seorang melakukan dosa dan menganggapnya remeh.” [15]
Saudaraku yang budiman !
Menganggap besar suatu dosa, bagi orang yang melakukan dosa, akan melahirkan istighfar, taubat, tangisan, penyesalan dan rengekan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan doa dan permohonan kepadaNya agar dirinya dibebaskan dari bahaya dan keburukan dosa tersebut. Semua itu menjadi faktor utama yang memungkinkan pelaku dosa tersebut dapat mengalahkan syahwatnya dan menguasai hawa nafsunya.
Adapun mereka yang menganggap remeh dosa, mereka merasa menyesal dan bertekad untuk bertaubat tetapi tekad tersebut tekad yang sangat lemah yang mudah lenyap di hadapan tarikan-tarikan kemaksiatan.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Sabilu an-Najah Min Syu’mi al-Ma’shiyah, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, hal. 14-21
Catatan :
[1] Adz-Dzariyat : 17-18
[2] Ali Imran : 16-173
[3] HR. al-Bukhari, no. 6308
[4] Fath al-Bari, 11/105
[5] HR. al-Bukhari, no. 6492
[6] HR. al-Bukhari, no. 6492
[7] Diriwayatkan oleh Ibnu Ibnu Abi Ashim dalam az-Zuhd, hal. 69; dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/279.
[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam az-Zuhd, hal. 19, 18, 22; Ibnu Abi Syaibah, 9/66; dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/33.
[9] HR. al-Bukhari, no. 2732; dan Muslim, no. 1785 dengan redaksi lain yang senada dengannya.
[10] Fath al-Bari, 11/347
[11] Riwayat Ibnu Mubarak dalam a-Zuhd, hal. 72.
[12] Op Cit., hal. 71; dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7159.
[13] Riwayat Ibnu Mubarak dalam a-Zuhd, hal. 70.
[14] Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7153.
[15] Op cit., no. 7154.


















