Imam at-Tirmidzi ÑóÍöãóåõ Çááåõ meriwayatkan dari Zir bin Hubaisy ÑóÍöãóåõ Çááåõ, ia berkata :
ÃóÊóíúÊõ ÕóÝúæóÇäó Èúäö ÚóÓøóÇáò ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ¡ ÃóÓúÃóáõåõ Úóäö ÇáúãóÓúÍö Úóáóì ÇáúÎõÝøóíúäö¡ÝóÞóÇáó: ãóÇ ÌóÇÁó Èößó íóÇ ÒöÑøõ¿ ÝóÞõáúÊõ: ÇöÈúÊöÛóÇÁó ÇáúÚöáúãö¡ ÝóÞóÇáó: Åöäøó ÇáúãóáóÇÆößóÉó ÊóÖóÚõ ÃóÌúäöÍóÊóåóÇ áöØóÇáöÈö ÇáúÚöáúãö ÑöÖðÇ ÈöÜãóÇ íóØúáõÈõ¡ ÝóÞõáúÊõ: Åöäøóåõ ÞóÏú Íóßøó Ýöí ÕóÏúÑöí ÇóáúãóÓúÍõ Úóáóì ÇáúÎõÝøóíúäö ÈóÚúÏó ÇáúÛóÇÆöØö æóÇáúÈóæúáö¡ æóßõäúÊó ÇöãúÑóÁðÇ ãöäú ÃóÕúÍóÇÈö ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ ÝóÌöÆúÊõ ÃóÓúÃóáõßó: åóáú ÓóãöÚúÊóåõ íóÐúßõÑõ Ýöí Ðóáößó ÔóíúÆðÇ¿ ÞóÇáó: äóÚóãú¡ ßóÇäó íóÃúãõÑõäóÇ ÅöÐóÇ ßõäøóÇ ÓóÝóÑðÇ -Ãóæú ãõÓóÇÝöÑöíúäó- ÃóáøóÇ äóäúÒöÚó ÎöÝóÇÝóäóÇ ËóáóÇËóÉó ÃóíøóÇãò æóáóíóÇáöíúåöäøó ÅöáøóÇ ãöäú ÌóäóÇÈóÉò¡ áóßöäú ãöäú ÛóÇÆöØò æóÈóæúáò æóäóæúãò¡ ÝóÞõáúÊõ: åóáú ÓóãöÚúÊóåõ íóÐúßõÑõ Ýöí Çáúåóæóì ÔóíúÆðÇ¿ ÞóÇáó: äóÚóãú¡ ßõäøóÇ ãóÚó ÑóÓõæúáö Çááåö Ýöí ÓóÝóÑò¡ ÝóÈóíúäóÇ äóÍúäõ ÚöäúÏóåõ ÅöÐú äóÇÏóÇåõ ÃóÚúÑóÇÈöíøñ ÈöÕóæúÊò áóåõ ÌóåúæóÑöíøñ¡ íóÇ ãõÍóãøóÏõ! ÝóÃóÌóÇÈóåõ ÑóÓõæúáõ Çááåö äóÍúæðÇ ãöäú ÕóæúÊöåö: åóÇÄõãú¡ ÝóÞõáúÊõ áóåõ: æóíúÍóßó! ÇõÛúÖõÖú ãöäú ÕóæúÊößó¡ ÝóÅöäøóßó ÚóäúÏó ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ æóÞóÏú äõÜåöíúÊó Úóäú åóÐóÇ¡ ÝóÞóÇáó: æóÇááåö áóÇ ÃóÛúÖõÖõ¡ ÞóÇáó ÇáúÃóÚúÑóÇÈöíøõ: ÇóáúãóÑúÁõ íõÍöÈøõ ÇáúÞóæúãó æóáóÜãøóÇ íóáúÍóÞõ ÈöÜåöãú¡ ÞóÇáó ÇáäøóÈöíøõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó: {ÇóáúãóÑúÁõ ãóÚó ãóäú ÃóÍóÈøó íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö}¡ ÝóãóÇ ÒóÇáó íõÍóÏøöËõäóÇ ÍóÊøóì ÐóßóÑó ÈóÇÈðÇ ãöäó ÇáúãóÛúÑöÈö¡ íóÓöíúÑõ ÇáÑøóÇßöÈõ Ýöí ÚóÑúÖöåö ÃóÑúÈóÚöíúäó Ãóæú ÓóÈúÚöíúäó ÚóÇãðÇ.
ÞóÇáó ÓõÝúíóÇäõ ÃóÍóÏõ ÇáÑøõæóÇÉö: "ÞöÈóáó ÇáÔøóÇãö¡ ÎóáóÞóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì íóæúãó ÎóáóÞó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖö ãóÝúÊõæúÍðÇ áöáÊøóæúÈóÉö¡ áóÇ íõÛúáóÞõ ÍóÊøì ÊóØúáõÚó ÇáÔøóãúÓõ ãöäúåõ".
“Aku pernah mendatangi Sofwan bin ‘Assal ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ untuk bertanya kepadanya tentang masalah mengusap dua khuf. Sofwan bin ‘Assal mengatakan (kepadaku), ‘Apa yang mendorongmu untuk datang wahai Zir ?’ Aku pun menjawab, ‘Untuk mencari ilmu.’ Sofwan pun lalu mengatakan (kepadaku),‘Sesungguhnya para Malaikat mengepakkan sayapnya untuk seorang penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dia cari.’ Lantas, aku mengatakan (kepada Sofwan), ‘sesungguhnya persoalan mengusap di atas khuf setelah buang air besar dan buang air kecil telah memberikan pengaruh di dalam dadaku, sedangkan Anda adalah seorang dari kalangan para sahabat Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, maka dari itulah aku datang untuk bertanya kepadamu, ‘Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu dalam hal tersebut ?’ Sofwan pun menjawab, ‘Iya.’ (aku pernah mendengarnya), dulu beliau memerintahkan kami jika kami tengah safar agar tidak melepaskan sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali karena kami mengalami junub. Akan tetapi, jika karena BAB (Buang Air Besar) dan BAK (Buang Air Kecil) serta tidur (kami diperbolehkan untuk tidak melepasnya saat kami bersuci).’
Lalu, aku pun bertanya lagi kepada Sofwan, ‘Apakah Anda pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu tentang al-Hawa (al-Hubb, kecintaan) ? Sofwan pun menjawab,’Iya.’ Dulu, ketika kami dalam sebuah safar (perjalanan jauh), tiba-tiba saat kami berada di sisi beliau, seorang A’robiy memangil beliau dengan suara lantang, ‘Wahai Muhammad !’ Maka Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab pangilannya dengan suara yang setara dengan suaranya seraya mengatakan, ‘åóÇÄõãú (marilah kemari).’ Maka, aku katakan kepada si A’robiy itu,’Celaka kamu.’ ! Rendahkanlah (volume) suaramu, karena sesungguhnya kamu tengah berada di sisi Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , dan sungguh kamu telah dilarang dari melakukan hal ini.’ Ternyata si A’robiy ini malah mengatakan (kepadaku), ‘Demi Allah, aku tidak akan merendahkan (volume suaraku).’ Si A’robiy lalu mengatakan (kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó), ‘Seseorang mencintai suatu kaum, akankah orang ini bergabung bersama dengan kaum (yang dicintainya) itu ?’ Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
{ÇóáúãóÑúÁõ ãóÚó ãóäú ÃóÍóÈøó íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö}
Seseorang itu bakal bersama dengan orang yang dicintainya pada hari Kiamat.
Lalu, terus saja beliau menceritakan kepada kami hingga beliau menyebutkan sebuah pintu dari arah Barat, di mana si pengendara berjalan di hamparannya selama 40 atau 70 tahun.
Sufyan –salah seorang perawi- mengatakan, “Ke arah Syam. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakannya pada hari Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakan langit dan bumi selalu dalam keadaan terbuka untuk bertaubat. (Pintu itu) tidak akan pernah ditutup sehingga matahari terbit dari arahnya (arah barat).”
***
Ini merupakan hadis nan agung tentang taubat, bahwa pintunya selalu terbuka, bahwa pintunya itu tidak akan ditutup sehingga matahari telah terbit dari arah tenggelamnya. Dan bahwa barang siapa bertaubat (kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) kapan pun waktunya dari malam hari atau pun siang hari, niscaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bakal menerima taubatnya betapa pun (banyak) dosanya dan betapa pun besar nilai kejahatannya, jika memang si pelaku dosa yang bertaubat itu bersikap jujur di dalam pertaubatannya.
Maka, dalam hadis ini terdapat motivasi dan dorongan untuk bertaubat, dan penjelasan tentang kedudukannya dan keagungan kondisinya, dan bahwasanya taubat itu tidak akan ditolak dari orang yang bertaubat saat kapan pun dari saatnya dan di waktu kapan pun dari waktu-waktunya.
Dan rangkain periwayatan ini yang datang dalam hadis ini adalah dari riwayat Zir bin Hubaisy ÑóÍöãóåõ Çááåõ bahwa ia mendatangi seorang sabat Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó yang mulia yang bernama Sofwan bin ‘Assal ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , untuk bertanya kepadanya tentang mengusap khuf. Ketika ia telah sampai di hadapan Sofwan dengan maksud dan tujuan ini, yaitu bahwa ia pergi menemui sahabat Nabi yang alim ini dengan niat yang sangat baik ini, yaitu, kecintaan kepada ilmu dan bertafaqquh (mendalami) agama, Sofwan mengatakan kepadanya, ‘Apa yang mendorongmu datang ke sini, wahai Zir ?’ karena motif kedatangan itu berbeda-beda, bisa jadi karena ada kebutuhan duniawi atau karena ada kebutuhan agamawi. Maka, Zir mengatakan, ÝóÞõáúÊõ: ÇöÈúÊöÛóÇÁó ÇáúÚöáúãö (maka, aku katakan kepadanya) : (motifku) untuk mencari ilmu.’ Yakni, hal yang mendorongnya untuk datang kepada Sofwan ini adalah ilmu dan mencarinya dan mendapatkannya. Maka, Sofwan pun memuji apa yang dilakukannya tersebut.
Dan hal ini, dapat diambil faedah darinya bahwa seorang penuntut ilmu benar-benar membutuhkan untuk dimotivasi secara praktis, dan hendaknya dijelaskan kepadanya keutamaan ilmu dan kedudukannya, dan hendaknya disebutkan kepadanya hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaannya, sehingga akan menambah kesemangatannya, ketekunannya, dan perhatiannya dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, ketika Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan (kepada Sofwan), ‘aku datang untuk mencari ilmu.’ Sofwan mengatakan kepadanya,
"Åöäøó ÇáúãóáóÇÆößóÉó ÊóÖóÚõ ÃóÌúäöÍóÊóåóÇ áöØóÇáöÈö ÇáúÚöáúãö¡ ÑóÖðÇ ÈöÜãóÇ íóØúáõÈõ"
‘Sesungguhnya para Malaikat mengepakkan sayapnya untuk seorang penutup ilmu karena ridha dengan apa yang dia cari.’
Dan, persoalan mengusap di atas khuf setelah seseorang BAB (Buang Air Besar) dan BAK (Buang Air Kecil) telah memberikan pengaruh di dalam dada Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ. Persoalan ini membuatnya jatuh ke dalam kemusykilan. Maka, ia datang kepada sahabat Nabi ini, yakni, Sofwan bin ‘Assal al-Muradiy ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ untuk bertanya kepadanya persoalan tersebut. Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan kepada Sofwan,
æóßõäúÊó ÇöãúÑóÁðÇ ãöäú ÃóÕúÍóÇÈö ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ ÝóÌöÆúÊõ ÃóÓúÃóáõßó
“Anda adalah seorang dari kalangan para sahabat Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, maka dari itulah aku datang untuk bertanya kepadamu, ‘Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu dalam hal tersebut ?’
Dari hal ini dapat diambil sebuah faedah yang besar, yaitu, bahwa perkataan Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó merupakan pemutus perkara. Maknanya, jika ia pernah mendengar sesuatu tentang hal itu dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó maka selesailah masalah tersebut dan enyahlah apa yang ada di dalam dada dengan sesuatu yang datang dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó.
Dan dari hal ini, kita dapat mengambil faedah yang bersifat amaliyah lagi penting dalam kehidupan kita : bahwa hal-hal yang boleh jadi dianggap musykil oleh seseorang dengan ro’yunya atau dengan akalnya dan lainnya, bila sampai kepadanya hadis yang menjelaskan tentang hal-hal itu, maka wajib atasnya untuk tidak bimbang atau ragu, dan ia pun wajib meninggalkan ro’yunya karena hadis Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. dan, Ali bin Abi Thalib ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ pernah mengatakan :
"áóæú ßóÇäó ÇáÏøöíúäõ ÈöÇáÑøóÃúíõ º áóßóÇäó ÈóÇØöäõ ÇáúÎõÝøö Ãóæúáóì ÈöÇáúãóÓúÍö ãöäú ÙóÇåöÑöåö"
“Andaikata agama itu berdasarkan ro’yu; tentunya bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap daripada bagian punggungnya.”
Maka, bilamana sebuah masalah lewat di hadapan seseorang dan masalah tersebut memberikan pengaruh di dalam dadanya, atau ia melihat ‘sesuatu’ di dalamnya, jika kemudian sampai kepadanya hadis dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dalam masalah tersebut, maka ia harus melaziminya.
Maka, Sofwan ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ menjelaskan hal itu kepadanya (Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ), ia berkata :
äóÚóãú¡ ßóÇäó íóÃúãõÑõäóÇ ÅöÐóÇ ßõäøóÇ ÓóÝóÑðÇ -Ãóæú ãõÓóÇÝöÑöíúäó- ÃóáøóÇ äóäúÒöÚó ÎöÝóÇÝóäóÇ ËóáóÇËóÉó ÃóíøóÇãò æóáóíóÇáöíúåöäøó
‘Iya.’ (aku pernah mendengarnya), dulu beliau memerintahkan kami jika kami tengah safar agar tidak melepaskan sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam.
Yakni, khuf tetap terpakai, dan telah dimaklumi bahwa seseorang dalam rentang waktu tiga hari ini tentunya ia berulang kali melakukan BAB (Buang Air Besar) dan BAK (Buang Air Kecil), dan ia berwudhu dan ketika berwudhu (dalam hal membasuh kedua kakinya-pen) ia cukup mengusap khuf-nya.
Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda, “"ÅöáøóÇ ãöäú ÌóäóÇÈóÉò (kecuali karena mengalami junub), yakni, kecuali ketika ia akan mandi junub. Maka, ia diharuskan untuk melepaskan khuf-nya agar ia dapat membasuh seluruh badan secara sempurna. Adapun, jika karena BAB (Buang Air Besar), BAK (Buang Air Kecil) dan tidur, maka ia berwudhu dan (dibolehkan) mengusap khuf (sebagai ganti dari membasuh kedua kakinya sampai mata kakinya). Maka, ini merupakan jawaban untuk pertanyaan Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ, dan (untuk) menghilangkan sesuatu kemusykilannya dan sesuatu yang memberikan pengaruh di dalam dadanya. Bahkan, nash-nash menunjukkan bahwa mengusap khuf itu lebih utama. Di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari hadis al-Mughirah bin Syu’bah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , ia mengatakan :
ßõäúÊõ ãóÚó ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó Ýöí ÓóÝóÑò ÝóÃóåúæóíúÊõ áöÃóäúÒöÚó ÎõÝøóíúåö ÝóÞóÇáó ÏóÚúåõãóÇ ÝóÅöäøöí ÃóÏúÎóáúÊõåõãóÇ ØóÇåöÑóÊóíúäö ÝóãóÓóÍó ÚóáóíúåöãóÇ
Kami pernah bersama Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dalam sebuah perjalanan jauh. Lalu, (saat beliau hendak berwudhu) aku berkeinginan untuk melepaskan kedua khuf-nya, namun tiba-tiba beliau mengatakan (kepadaku), ‘biarkanlah saja kedua (khuf-ku itu tetap di kedua kakiku) karena sesungguhnya aku telah memasukkan keduanya dalam keadaan suci.’ Lalu, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó (hanya) mengusap di atasnya.
Lalu, Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ bertanya lagi kepada Sofwan ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dengan pertanyaan lainnya. Zir ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, ‘lalu aku bertanya (lagi) kepada Sofwan ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ,
åóáú ÓóãöÚúÊóåõ íóÐúßõÑõ Ýöí Çáúåóæóì ÔóíúÆðÇ¿
‘Apakah engkau pernah medengar beliau menyebutkan sesuatu tentang al-Hawa (al-Hubb, kecintaan) ?’
Yakni, apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu tentang hawa nafsu seseorang, kecondongannya, dan kecintaannya.
Sofwan ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ menjawab, ’Iya. Dulu, ketika kami dalam sebuah safar (perjalanan jauh), tiba-tiba saat kami berada di sisi beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ada seorang A’robiy memangil beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dengan suara lantang, ‘Wahai Muhammad !’ Maka Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab pangilannya dengan suara yang setara dengan suaranya seraya mengatakan, ‘åóÇÄõãú (marilah kemari).’
Yang dimaksud adalah sebagai jawaban terhadap panggilan (si A’robiy tersebut).
ÝóÞõáúÊõ áóåõ: æóíúÍóßó! ÇõÛúÖõÖú ãöäú ÕóæúÊößó
Maka, aku katakan kepadanya, ‘Celaka kamu ! Rendahkanlah (volume) suaramu.
Yakni, bahwa Sofwan ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan kepada si A’robiy tersebut, ‘Rendahkanlah (volume) suaramu, karena sesungguhnya kamu tengah berada di sisi Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , dan sungguh kamu telah dilarang dari melakukan ini. Namun si A’robiy malah mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak akan merendahkannya.’
A’robiy adalah orang yang hidup di perkampungan atau pedalaman, dan kadang pada sebagian mereka terdapat sikap antipati dan tidak mempedulikan gaya dan cara berbicara yang pas. Orang A’robiy ini mengatakan, ‘Aku tidak akan merendahkan (volume) suara.’ Kemudian, ia mengatakan, ‘seseorang mencintai suatu kaum, akankah ia bergabung dengan mereka. ?.’ Ia bertanya kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , yakni, bagaimana keadaan orang yang keadaannya demikian itu. Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun menanggapinya dengan mengatakan kepadanya,
{ÇóáúãóÑúÁõ ãóÚó ãóäú ÃóÍóÈøó íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö}
“Seseorang itu bakal bersama dengan orang yang dicintainya pada hari Kiamat.”
Dalam pernyataan ini terdapat kedudukan yang agung yang akan ditempati oleh orang yang saling mencintai karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, di mana hal ini (cinta karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) merupakan tali iman yang paling kuat, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó.
Dan di dalam shahih Muslim, disebutkan, ketika Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah mengatakan :
« ÝóÅöäøóßó ãóÚó ãóäú ÃóÍúÈóÈúÊó ».
“Karena sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Anas (bin Malik) ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ mengatakan :
ÝóãóÇ ÝóÑöÍúäóÇ ÈóÚúÏó ÇáÅöÓúáÇóãö ÝóÑóÍðÇ ÃóÔóÏøó ãöäú Þóæúáö ÇáäøóÈöìøö -Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- « ÝóÅöäøóßó ãóÚó ãóäú ÃóÍúÈóÈúÊó ».
Maka tidaklah kami merasa gembira setelah (masuk) Islam dengan suatu kegembiraan yang lebih besar daripada (kegembiraan kami) karena (mendengar) ucapan Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó : “Karena sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Anas (bin Malik ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ ) mengatakan :
ÝóÃóäóÇ ÃõÍöÈøõ Çááøóåó æóÑóÓõæáóåõ æóÃóÈóÇ ÈóßúÑò æóÚõãóÑó ÝóÃóÑúÌõæ Ãóäú Ãóßõæäó ãóÚóåõãú æóÅöäú áóãú ÃóÚúãóáú ÈöÃóÚúãóÇáöåöãú
“Maka, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. (Aku pun mencintai) Abu Bakar dan Umar. Karena aku berharap akan dapat bersama dengan mereka meskipun aku tidak bisa beramal dengan amal-amal mereka.”
Dan ini merupakan kabar gembira nan agung di mana seorang muslim bergembira karenanya, bahwa apabila ia mencintai suatu kaum, niscaya ia akan bersama dengan mereka di dalam Surga meskipun terbatas amalnya.
Ia (Sofwan ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ ) berkata :
ÝóãóÇ ÒóÇáó íõÍóÏøöËõäóÇ ÍóÊøóì ÐóßóÑó ÈóÇÈðÇ ãöäó ÇáúãóÛúÑöÈö ãóÓöíúÑóÉõ ÚóÑúÖöåö ¡ Ãóæú íóÓöíúÑõ ÇáÑøóÇßöÈõ Ýöí ÚóÑúÖöåö ÃóÑúÈóÚöíúäó Ãóæú ÓóÈúÚöíúäó ÚóÇãðÇ.
Lalu, terus saja beliau (Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) menceritakan kepada kami hingga beliau menyebutkan sebuah pintu dari arah Barat, jarak tempuh lebarnya, atau si pengendara berjalan di hamparannya selama 40 atau 70 tahun.
Yakni, karena saking luasnya.
Ini menunjukkan bahwa pintu taubat itu luas sekali, dan bahwa taubat itu bakal diterima, dan bahwa taubat itu selalu terbuka pintunya kapan pun waktunya.
Dan inilah bagian saksi bahasan dari hadis ini. Sufyan, yakni, Ibnu Uyainah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, salah satu perawinya, mengatakan :
"ÞöÈóáó ÇáÔøóÇãö¡ ÎóáóÞóåõ Çááåõ ÊóÚóÇáóì íóæúãó ÎóáóÞó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖö ãóÝúÊõæúÍðÇ áöáÊøóæúÈóÉö¡ áóÇ íõÛúáóÞõ ÍóÊøì ÊóØúáõÚó ÇáÔøóãúÓõ ãöäúåõ".
“Ke arah Syam. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakannya pada hari Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakan langit dan bumi selalu dalam keadaan terbuka untuk bertaubat. (Pintu itu) tidak akan pernah ditutup sehingga matahari terbit dari arahnya (arah barat).”
Dalam satu riwayat untuk hadis ini yang terdapat dalam riwayat ath-Thabrani, disebutkan, Ëõãøó ÓóÃóáóåõ (kemudian ia bertanya kepadanya), yakni, si A’robiy bertanya (kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) tentang taubat. Lalu, beliau menjawab :
"áöáÊøóæúÈóÉö ÈóÇÈñ ÈöÇáúãóÛúÑöÈö ãóÓöíÑóÉõ ÓóÈúÚöíäó ÚóÇãðÇ Ãóæú ÃóÑúÈóÚöíäó ÚóÇãðÇ¡ áóÇ íóÒóÇáõ ßóÐóáößó ÍóÊøóì íóÃúÊöíó ÈóÚúÖõ ÂíóÇÊö ÑóÈøößó ØõáõæÚõ ÇáÔøóãúÓö ãöäú ãóÛúÑöÈöåóÇ"
Taubat itu memiliki pintu di barat sejauh perjalanan 70 tahun atau 40 tahun, senantiasa demikian hingga datang sebagian ayat (tanda-tanda kekuasaan) Rabbmu, yaitu berupa ‘terbitnya matahari dari arah tenggelamnya.’
Dan telah datang di dalam hadis bahwa matahari bila telah terbit dari arah tenggelamnya, bertaubatlah manusia seluruhnya. Akan tetapi, taubat pada keadaan ini tak akan diterima. Karena pertaubatan tersebut merupakan pertaubatan musyahadah (telah menyaksikan peristiwa yang diberitakan) dan mu’ayanah (telah melihat langsung terjadinya Kiamat dengan mata kepala sendiri). Taubat yang masih akan diterima adalah taubat al-ghaib. (taubat selama belum menyaksikan dan melihat langsung peristiwa Kiamat). Karena di dalam shahih al-Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , bahwa beliau bersabda,
áóÇ ÊóÞõæãõ ÇáÓøóÇÚóÉõ ÍóÊøóì ÊóØúáõÚó ÇáÔøóãúÓõ ãöäú ãóÛúÑöÈöåóÇ ÝóÅöÐóÇ ØóáóÚóÊú ÝóÑóÂåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÂãóäõæÇ ÃóÌúãóÚõæäó ÝóÐóáößó Íöíäó áÇó íóäúÝóÚõ äóÝúÓðÇ ÅöíúãóÇäõåóÇ áóãú Êóßõäú ÂãóäóÊú ãöäú ÞóÈúáõ ¡ Ãóæú ßóÓóÈóÊú Ýöí ÅöíúãóÇäöåóÇ ÎóíúÑðÇ
Tidak akan terjadi Kiamat sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya. Maka, apabila (Matahari itu) telah terbit (dari arah tenggelamnya), lalu manusia melihatnya, niscaya mereka beriman semuanya. Maka, itulah saat di mana tidak akan bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dalam masa imannya itu.”
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Hiwarun Jamilun Baina Shahabiy Wa Tabi’iy, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr ÍóÝöÙóåõ Çááåõ.


















