Pembicaraan ini masih berkisar tentang penjelasan faidah-faidah dzikir. Pada bahasan terdahulu, telah berlalu bersama kita penyebutan satu faidah bagi dzikir, yaitu melindungi orang yang berdzikir dari setan. Barang siapa kosong dari dzikir, niscaya setan akan menyertainya seperti bayangan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóãóäú íóÚúÔõ Úóäú ÐößúÑö ÇáÑøóÍúãóäö äõÞóíøöÖú áóåõ ÔóíúØóÇäðÇ Ýóåõæó áóåõ ÞóÑöíäñ [ÇáÒÎÑÝ : 36]
Barang siapa lalai berdzikir kepada ar-Rahman, Kami kuasakan atasnya setan, dan dia menjadi pendamping baginya.’ (az-Zukhruf : 36)
Seseorang tidak akan mampu melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Sungguh ini adalah faidah yang agung di antara faidah-faidah dzikir yang sangat banyak.
Sebagaimana telah berlalu pula bagi kita, bahwa al-Imam Ibnu al-Qoyyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ telah menyebutkan dalam kitabnya yang berharga al-Wabil ash-Shayyib, sekitar tujuh puluh lebih faidah dzikir. Maka pada pembahasan ini kita akan melanjutkan sebagian faidah-faidah yang agung tersebut. Menukil dari apa yang disebutkan oleh beliau dalam yang disitir terdahulu. [1]
[Dzikir Mendatangkan Ketenangan Hati]
Di antara faidah yang agung bagi dzikir, bahwa dzikir dapat mendatangkan bagi hati orang yang berdzikir berupa rasa senang, gembira, dan rileks. Selain itu, berdzikir menumbuhkan perasaan nyaman dan tenang dalam hati. Hal itu seperti difirmankan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ æóÊóØúãóÆöäøõ ÞõáõæÈõåõãú ÈöÐößúÑö Çááøóåö ÃóáóÇ ÈöÐößúÑö Çááøóåö ÊóØúãóÆöäøõ ÇáúÞõáõæÈõ [ÇáÑÚÏ : 28]
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan sebab dzikir pada Allah. Ketahuilah, dengan sebab dzikir pada Allah, hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d : 28)
Makna firman-Nya : “Hati mereka menjadi tenteram,” yakni, terkikis apa yang ada padanya berupa keresahan dan kegalauan, lalu digantikan dengan rasa nyaman, suka cita dan rileks.
Sedangkan firman-Nya, “Ketahuilah, dengan sebab dzikir kepada Allah hati menjadi tenteram,” yakni, sudah menjadi kepatutan dan keharusan bahwa hati tidak akan tenang karena sesuatu perkara melainkan dengan dzikir kepada-Nya tabaraka wa ta’ala.
Bahkan dzikir adalah kehidupan yang hakiki bagi hati. Ia adalah makanan hati dan ruh. Apabila hamba kehilangan dzikir, jadilah seperti jasad yang dijauhkan dari makanannya. Tak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, “Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan apabila berpisah dengan air. ‘ [2]
[Dzikir Menjadikan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Senantiasa Menyebut hamba-Nya]
Di antara faidah dzikir hamba terhadap Rabb-Nya, bahwa ia menjadikan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì senantiasa menyebut hamba-Nya, seperti firman Allah,
ÝóÇÐúßõÑõæäöí ÃóÐúßõÑúßõãú [ÇáÈÞÑÉ : 152]
Dzikirlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan menyebut kamu (al-Baqarah : 152)
Dalam ash-Shahihain, dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ beliau berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda yang diriwayatkan dari Rabbnya tabaraka wa ta’ala :
Åöäú ÐóßóÑóäöì Ýöì äóÝúÓöåö ÐóßóÑúÊõåõ Ýöì äóÝúÓöì æóÅöäú ÐóßóÑóäöì Ýöì ãóáÅò ÐóßóÑúÊõåõ Ýöì ãóáÅò åõãú ÎóíúÑñ ãöäúåõãú
Jika dia berdzikir kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya pada diri-Ku, dan jika ia dzikir pada-Ku di tengah khalayak ramai, maka Aku akan menyebutnya di tengah khalayak yang lebih baik dari mereka [3]
[Dzikir Menyelamatkan dari Azab Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
Di antara faidah dzikir, bahwa ia dapat menggugurkan kesalahan dan meluluhkannya serta menyelamatkan orang yang berdzikir dari azab Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Dalam al-Musnad dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ãóÇ Úóãöáó ÂÏóãöíøñ ÚóãóáðÇ ÞóØøõ ÃóäúÌóì áóåõ ãöäú ÚóÐóÇÈö Çááøóåö ãöäú ÐößúÑö Çááøóåö
Tidaklah seorang manusia mengamalkan suatu amalan yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah daripada dzikir pada Allah. [4]
[Dzikir Mendatangkan Pahala, Menggugurkan Dosa]
Di antara faiadh dzikir, bahwa orang yang berdzikir mendapatkan karunia, pahala dan keutamaan yang tidak didapatkan dari amalan-amalan yang lain, padahal dzikir adalah ibadah yang paling mudah. Hal itu karena gerakan lisan lebih ringan dan mudah daripada gerakan anggota badan yang lain. Apabila salah satu anggota badan manusia bergerak dalam satu hari sebanyak gerakan lisan, niscaya akan sangat berat baginya. Bahkan dia tidak mungkin melakukan hal itu. Meski demikian, pahala yang didapatkan darinya sangatlah agung dan ganjarannya sangat besar.
Dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, sesungguhnya Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ãóäú ÞóÇáó áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááøóåõ æóÍúÏóåõ áóÇ ÔóÑöíßó áóåõ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíÑñ Ýöí íóæúãò ãöÇÆóÉó ãóÑøóÉò ßóÇäóÊú áóåõ ÚóÏúáó ÚóÔúÑö ÑöÞóÇÈò æóßõÊöÈóÊú áóåõ ãöÇÆóÉõ ÍóÓóäóÉò æóãõÍöíóÊú Úóäúåõ ãöÇÆóÉõ ÓóíøöÆóÉò æóßóÇäóÊú áóåõ ÍöÑúÒðÇ ãöäú ÇáÔøóíúØóÇäö íóæúãóåõ Ðóáößó ÍóÊøóì íõãúÓöíó æóáóãú íóÃúÊö ÃóÍóÏñ ÈöÃóÝúÖóáó ãöãøóÇ ÌóÇÁó Èöåö ÅöáøóÇ ÃóÍóÏñ Úóãöáó ÃóßúËóÑó ãöäú Ðóáößó
Barang siapa mengucapkan : ‘laa ilaaha illallah, wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir’ (Tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu), sebanyak seratus kali dalam satu hari, maka orang itu mendapatkan pahala sebanding dengan orang yang memerdekakan sepuluh budak, ditulis untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan dia dilindungi dari setan pada hari itu hingga sore hari. Tidak ada seseorang yang mendatangkan sesuatu yang lebih utama dari apa yang dikerjakannya kecuali seseorang mengerjakan lebih banyak darinya [5]
Masih dalam ash-Shahihain dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beliau bersabda :
ãóäú ÞóÇáó ÓõÈúÍóÇäó Çááøóåö æóÈöÍóãúÏöåö Ýöí íóæúãò ãöÇÆóÉó ãóÑøóÉò ÍõØøóÊú ÎóØóÇíóÇåõ æóÅöäú ßóÇäóÊú ãöËúáó ÒóÈóÏö ÇáúÈóÍúÑö
Barang siapa mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’ (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) dalam satu hari sebanyak seratus kali, digugurkan darinya kesalahan-kesalahannya, meskipun seperti buih lautan.’ [6]
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
áÃóäú ÃóÞõæáó ÓõÈúÍóÇäó Çááøóåö æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö æóáÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááøóåõ æóÇááøóåõ ÃóßúÈóÑõ ÃóÍóÈøõ Åöáóìøó ãöãøóÇ ØóáóÚóÊú Úóáóíúåö ÇáÔøóãúÓõ
Bahwa aku mengucapkan ‘subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar’ (Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah dan tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan Allah Mahabesar) lebih aku sukai dari apa yang terbit di atasnya matahari.’ [7]
Hadis-hadis yang semakna dengan ini cukup banyak.
[Dzikir Tanaman Surga]
Di antara faidah berdzikir, bahwa ia adalah tanaman Surga. Sebab Surga-seperti disebutkan dalam hadis-tanah yang rata, bagus tanahnya, sejuk airnya, dan tanamannya adalah dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
áóÞöíúÊõ ÅöÈúÑóÇåöíúãó áóíúáóÉó ÃõÓúÑöíó Èöí ÝóÞóÇáó íóÇ ãõÍóãøóÏõ ÃóÞúÑöÆú ÃõãøóÊóßó ãöäøöí ÇáÓøóáóÇãó æóÃóÎúÈöÑúåõãú Ãóäøó ÇáúÌóäøóÉó ØóíøöÈóÉõ ÇáÊøõÑúÈóÉö ÚóÐóÈóÉõ ÇáúãóÇÁö æóÃóäøóåóÇ ÞöíúÚóÇäõ æóÃóäøó ÛöÑóÇÓöåóÇ ÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö æóáóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ æóÇááåõ ÃóßúÈóÑõ
Pada malam isra’ aku berjumpa Ibrahim al-Khalil. Dia berkata, ‘Wahai Muhammad sampaikan untuk ummatmu salam dariku, kabarkan pada mereka bahwa surga bagus tanahnya dan sejuk airnya. Surga itu qa’ian. Tanamannya adalah ‘subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar’ (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah, dan Allah Mahabesar) “ At-Tirmidzi berkata, hadis ini hasan gharib dari Ibnu Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ. [8]
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadis Abu Ayyub al-Anshari ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ lafazhnya adalah :
Ãóäøó ÑóÓõæáó Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó áóíúáóÉó ÃõÓúÑöíó Èöåö ãóÑøó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíãó ÝóÞóÇáó ãóäú ãóÚóßó íóÇ ÌöÈúÑöíáõ ÞóÇáó åóÐóÇ ãõÍóãøóÏñ ÝóÞóÇáó áóåõ ÅöÈúÑóÇåöíãõ ãõÑú ÃõãøóÊóßó ÝóáúíõßúËöÑõæÇ ãöäú ÛöÑóÇÓö ÇáúÌóäøóÉö ÝóÅöäøó ÊõÑúÈóÊóåóÇ ØóíøöÈóÉñ æóÃóÑúÖóåóÇ æóÇÓöÚóÉñ ÞóÇáó æóãóÇ ÛöÑóÇÓõ ÇáúÌóäøóÉö ÞóÇáó áóÇ Íóæúáó æóáóÇ ÞõæøóÉó ÅöáøóÇ ÈöÇááøóåö
Rasulullah Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pada malam isra melewati Ibrahim dan beliau berkata, ‘Siapakah yang bersamamu wahai Jibril ? Dia berkata, ‘Ini Muhammad.’ Ibrahim berkata kepadanya, ‘Perintahkan ummatmu agar memperbanyak tanaman Surga. Sesungguhnya tanahnya bagus dan bidangnya luas.’ Beliau berkata, ‘Apakah tanaman surga itu ?’ Ibrahim berkata, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billah (Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dari Allah)’ [9]
Ini menjadi pendukung bagi hadis yang sebelumnya.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Zubair, dari Jabir ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dari Nabi Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beliau bersabda,
ãóäú ÞóÇáó ÓõÈúÍóÇäó Çááåö ÇáúÚóÙöíúãö æóÈöÍóãúÏöåö ÛõÑöÓóÊú áóåõ äóÎúáóÉñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö
Barang siapa mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’ (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya), niscaya ditanamlah untuknya kurma di Surga.’ At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini Hasan Shahih.’ [10]
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari hadis Muadz bin Anas al-Juhani ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dari Rasulullah Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda :
ãóäú ÞóÇáó ÓõÈúÍóÇäó Çááøóåö ÇáúÚóÙöíãö äóÈóÊó áóåõ ÛóÑúÓñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö
Barang siapa yang mengatakan Subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah yang Maha Agung), maka tumbuhlah untuknya sebuah tanaman di Surga [11]
[Dzikir Cahaya di Dunia, di Kubur dan di Tempat Kembali]
Di antara faidah dzikir, bahwa ia menjadi cahaya di dunia bagi orang yang berdzikir, menjadi cahaya baginya di kubur, dan cahaya baginya di tempat kembalinya. Ia berjalan di hadapannya di atas shirat. Tidaklah hati dan kubur bercahaya seperti yang disebabkan oleh dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
Ãóæóãóäú ßóÇäó ãóíúÊðÇ ÝóÃóÍúíóíúäóÇåõ æóÌóÚóáúäóÇ áóåõ äõæÑðÇ íóãúÔöí Èöåö Ýöí ÇáäøóÇÓö ßóãóäú ãóËóáõåõ Ýöí ÇáÙøõáõãóÇÊö áóíúÓó ÈöÎóÇÑöÌò ãöäúåóÇ [ÇáÃäÚÇã : 122]
Apakah mereka yang mati lalu Kami menghidupkannya dan Kami jadikan untuknya cahaya berjalan dengannya di antara manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya ?” (al-An’am : 122)
Permisalan pertama adalah orang Mukmin, dia bercahaya disebabkan oleh keimanannya pada Allah ÓñÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, kecintaan, ma’rifat, dan dzikir pada-Nya.
Permisalan kedua adalah orang yang lalai berdzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì serta berpaling dari dzikir dan kecintaan kepada-Nya.
Puncak dari segala persoalan dan inti dari semua keberuntungan adalah adanya cahaya. Sedangkan puncak dari segala kesengsaraan adalah hilangnya cahaya itu. Oleh karena itu, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó biasa memperbanyak memohon hal tersebut pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, agar menjadikannya berada di atas setiap bagian hidupnya yang lahir maupun yang batin, dan menjadikannya mengelilinginya dari setiap penjuru, lalu menjadikan dzatnya dan keseluruhan tubuhnya sebagai cahaya.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari hadis Abdullah bin Abbas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, tentang dzikir Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó di malam hari, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berkata, dalam doa beliau :
Çááøóåõãøó ÇÌúÚóáú Ýöì ÞóáúÈöì äõæÑðÇ æóÝöì ÈóÕóÑöì äõæÑðÇ æóÝöì ÓóãúÚöì äõæÑðÇ æóÚóäú íóãöíäöì äõæÑðÇ æóÚóäú íóÓóÇÑöì äõæÑðÇ æóÝóæúÞöì äõæÑðÇ æóÊóÍúÊöì äõæÑðÇ æóÃóãóÇãöì äõæÑðÇ æóÎóáúÝöì äõæÑðÇ æóÚóÙøöãú áöì äõæÑðÇ
Ya Allah, jadikanlah pada hatiku cahaya, pada pandanganku cahaya, pada pendengaranku cahaya, dari kananku cahaya, dari kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahaya, di depanku cahaya, di belakangku cahaya, dan perbanyaklah bagiku cahaya.”
Kuraib-salah seorang perawi hadis ini-berakata : “Dan tujuh perkara di Tabut. Lalu aku bertemu anak Abbas dan dia menceritakan kepadaku perkara-perkara itu, yakni, sarafku, dagingku, darahku, rambutku, dan kulitku. Lalu beliau menyebutkan dua perkara lain.’ [12]
Dzikir adalah cahaya bagi hati, wajah, dan anggota badan orang yang berdzikir. Cahaya baginya di dunia, di dalam kubur, dan di hari kiamat.
[Dzikir Mewajiban Shalawat Allah dan Para Malaikat-Nya]
Di antara faidah berdzikir, bahwa amalan ini mewajibkan adanya shalawat Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan malaikat-Nya kepada orang yang berdzikir. Barang siapa yang mendapatkan shalawat dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan para malaikat-Nya, maka sungguh dia telah mendapatkan segala keberuntungan, dan meraih semua kesuksesan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÐúßõÑõæÇ Çááøóåó ÐößúÑðÇ ßóËöíÑðÇ (41) æóÓóÈøöÍõæåõ ÈõßúÑóÉð æóÃóÕöíáðÇ (42) åõæó ÇáøóÐöí íõÕóáøöí Úóáóíúßõãú æóãóáóÇÆößóÊõåõ áöíõÎúÑöÌóßõãú ãöäó ÇáÙøõáõãóÇÊö Åöáóì ÇáäøõæÑö æóßóÇäó ÈöÇáúãõÄúãöäöíäó ÑóÍöíãðÇ (43) [ÇáÃÍÒÇÈ : 41 - 43]
Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan sore, Dia-lah yang bershalawat atas kamu dan malaikat-Nya, untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan Dia sangat penyayang terhadap orang-orang beriman.” (al-Ahzab : 41-43)
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fiqhu al-Ad‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/19-24.
Catatan :
[1] Lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 84-100 dan 145.
[2] Lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 85.
[3] Shahih al-Bukhari, no. 7405, dan Shahih Muslim, No. 2675
[4] al-Musnad, 5/239 dan Sunan Ibnu Majah, No.3790 dan hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih al-Jami’, No. 5644.
[5] Shahih al-Bukhari, No. 3293 dan 6403, dan Shahih Muslim, No. 2691.
[6] Shahih al-Bukhari, No. 6405, dan Shahih Muslim, No. 2691.
[7] Shahih Muslim, No. 2695.
[8] Sunan at-Tirmidzi, No. 3462. Hadis ini dinyatakan hasan oleh al-Albani karena memiliki riwayat-riwayat yang mendukungnya, lihat As-Silsilah ash-Shahihah, No. 105.
[9] al-Musnad, 5/418.
[10] Sunan at-Tirmidzi, No. 3465, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, No. 6429.
[11] al-Musnad, 3/440.
[12] Shahih Muslim, No. 763.