Tidak tersembunyi bagi setiap Muslim akan urgensi dzikir dan keagungan faidahnya. Hal itu karena dzikir adalah termasuk di antara tujuan-tujuan yang sangat agung dan amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Sungguh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah memerintahkan hal tersebut di sejumlah tempat dalam al-Qur’an yang mulia, memberi dorongan kepadanya, memuji orang-orang yang melakukannya, dan menyanjung mereka dengan sebaik-baik sanjungan.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÐúßõÑõæÇ Çááøóåó ÐößúÑðÇ ßóËöíÑðÇ [ÇáÃÍÒÇÈ : 41]
Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. (al-Ahzab : 41)
Dan firman-Nya :
ÝóÅöÐóÇ ÞóÖóíúÊõãú ãóäóÇÓößóßõãú ÝóÇÐúßõÑõæÇ Çááøóåó ßóÐößúÑößõãú ÂÈóÇÁóßõãú Ãóæú ÃóÔóÏøó ÐößúÑðÇ [ÇáÈÞÑÉ : 200]
“Apabila kamu telah menunaikan manasik kamu, maka dzikirlah (sebutlah) Allah sebagaimana kamu menyebut nenek moyangmu atau lebih daripada itu.” (al-Baqarah : 200)
Dan firman-Nya :
ÇáøóÐöíäó íóÐúßõÑõæäó Çááøóåó ÞöíóÇãðÇ æóÞõÚõæÏðÇ æóÚóáóì ÌõäõæÈöåöãú [Âá ÚãÑÇä : 191]
“Orang-orang yang berdzikir kepada Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (Ali Imran : 191).
Dan firman-Nya :
æóÇáÐøóÇßöÑöíäó Çááøóåó ßóËöíÑðÇ æóÇáÐøóÇßöÑóÇÊö ÃóÚóÏøó Çááøóåõ áóåõãú ãóÛúÝöÑóÉð æóÃóÌúÑðÇ ÚóÙöíãðÇ [ÇáÃÍÒÇÈ : 35]
“Dan laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan yang banyak berdzikir, Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang agung.” (al-Ahzab : 35).
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkan dalam ayat-ayat ini agar berdzikir yang banyak kepada-Nya. Hal itu dikarenakan besarnya kebutuhan hamba kepada Dzikir tersebut dan ketergantungannya padanya serta ketidakberdayaannya tanpanya meskipun sekejap mata. Kesempatan apa pun yang tidak diisi oleh seorang hamba dengan dzikir, niscaya menjadi beban atasnya dan bukan keberhasilan baginya. Kerugiannya yang menimpanya lebih besar daripada keberuntungan yang didapatkannya saat lalai dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Kelak dia akan sangat menyesalinya ketika bertemu dengan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì di hari Kiamat.
Bahkan telah disebutkan dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, sebagaimana tercantum dalam Syu’abul Iman karya al-Baihaqi dan kitab al-Hilyah karya Abu Nu’aim, dari hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ, bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda,
ãóÇ ãöäú ÓóÇÚóÉò ÊóãõÑøõ ÈöÇÈúäö ÂÏóãó áóãú íóÐúßõÑö Çááåó ÝöíúåóÇ ÅöáøóÇ ÊóÍóÓøóÑó ÚóáóíúåóÇ íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö
Tidaklah ada satu saat pun yang berlalu atas anak keturunan Adam, sedangkan dia tidak dzikir kepada Allah padanya melainkan dia akan menyesalinya pada hari Kiamat. [1]
Adapun sunnah penuh dengan hadis-hadis yang menunjukkan keutamaan berdzikir, ketinggian derajatnya, keagungan martabatnya, dan banyaknya manfaat serta faidahnya bagi orang-orang laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim-dan beliau mengatakan sanadnya Shahih serta disetujui oleh adz-Dzahabi –telah meriwayatkan dari Abu Darda ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ dia berkata, “Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÃóáóÇ ÃõäóÈøöÆõßõãú ÈöÎóíúÑö ÃóÚúãóÇáößõãú æóÃóÒúßóÇåóÇ ÚöäúÏó ãóáöíúßößõãú æóÃóÑúÝóÚöåóÇ Ýöí ÏóÑóÌóÇÊößõãú æóÎóíúÑò áóßõãú ãöäú ÅöäúÝóÇÞö ÇáÐøóåóÈö æóÇáúæóÑöÞö æóÎóíúÑò áóßõãú ãöäú Ãóäú ÊóáúÞóæúÇ ÚóÏõæøóßõãú ÝóÊóÖúÑöÈõæúÇ ÃóÚúäóÇÞóåõãú æóíóÖúÑöÈõæúÇ ÃóÚúäóÇÞóßõãú ¿ ÞóÇáõæúÇ Èóáóì ÞóÇáó ÐößúÑõ Çááåö ÊóÚóÇáóì
Maukah aku tunjukkan kepada kamu sebaik-baik amal-amal kamu, paling bersih di sisi raja kamu, paling kuat dalam mengangkat derajat kamu, lebih baik bagi kamu daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kamu daripada kamu bertemu musuh lalu menebas leher mereka dan mereka menebas leher-leher kalian ?’ Mereka berkata, “Baiklah wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah.” [2]
Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shahihnya, dari hadis Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, beliau bersabda,
ÓóÈóÞó ÇáúãõÝóÑøöÏõæúäó
Telah menang al-Mufarridun
Mereka berkata, “Apakah al-Mufarridun itu, wahai Rasulullah ?” beliau bersabda,
ÇáÐøóÇßöÑõæúäó Çááåó ßóËöíúÑðÇ æóÇáÐøóÇßöÑóÇÊõ
Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah [3]
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ariy ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó beliau bersabda,
ãóËóáõ ÇáøóÐöí íóÐúßõÑõ ÑóÈøóåõ æóÇáøóÐöí áóÇ íóÐúßõÑõ ÑóÈøóåõ ãóËóáõ ÇáúÍóíøö æóÇáúãóíøöÊö
Perumpamaan orang yagn berdzikir kepada Rabbnya dan yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan mayit.” [4]
Hadis-hadis tentang masalah dzikir ini sangatlah banyak. Barang kali termasuk perkara yang tepat pada kesempatan ini-dan hadis telah berlalu bagi kita tentang keutamaan dzikir-aku ringkaskan apa yang dikatakan oleh para ahli ilmu tentang faidah-faidah dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, yang didapatkan oleh orang yang berdzikir dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat nanti. Di antara pernyataan terbaik yang aku lihat berbicara tentang pembahasan ini, mengumpulkan masalah-masalah yang berkaitan dengannya, dan merekatkan bagian-bagiannya yang terpisah, adalah al-Imam Al-Allamah Ibnu al-Qayyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ dalam kitabnya yang agung yang berjudul al-Wabil ash-Shayyib Min al-Kalim ath-Thayyib. Kitab ini telah dicetak berulang kali dan beredar di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu. Beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata dalam kitabnya itu [5], “Dalam dzikir terdapat lebih dari seratus faidah ... “ Kemudian beliau memaparkan faidah-faidah berdzikir hingga berjumlah lebih dari tujuh puluh faidah. Setiap faidah itu cukup untuk menggugah jiwa dan membangkitkan semangat agar menyibukkan diri dengan berdzikir. Bagaimana tidak demikian, sementara telah terkumpul faidah-faidahnya yang banyak itu, dan manfaat-manfaatnya yang melimpah tersebut, melebihi dari apa yang disifatkan oleh yang menyifatinya, dan di atas hitungan dari mereka yang menghitungnya.
ÝóáóÇ ÊóÚúáóãõ äóÝúÓñ ãóÇ ÃõÎúÝöíó áóåõãú ãöäú ÞõÑøóÉö ÃóÚúíõäò ÌóÒóÇÁð ÈöãóÇ ßóÇäõæÇ íóÚúãóáõæäó [ÇáÓÌÏÉ : 17]
Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah : 17)
Saudaraku sesama Muslim, mungkin ada baiknya bila aku menyebutkan di tempat ini satu faidah di antara faidah-faidah dzikir yang disebutkan Ibnu al-Qayyim, lalu pada pembahasan selanjutnya kita paparkan pula faidah-faidah lainnya insya Allah, seraya aku mewasiatkan kepadamu untuk mendapatkan kitab tersebut serta meraih manfaat darinya. Sungguh, ia adalah benar-benar kitab yang sangat bermanfaat dan banyak faidahnya.
Beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, di antara faidah dzikir, ia dapat mengusir setan, membungkamnya dan mematahkannya [6] Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóãóäú íóÚúÔõ Úóäú ÐößúÑö ÇáÑøóÍúãóäö äõÞóíøöÖú áóåõ ÔóíúØóÇäðÇ Ýóåõæó áóåõ ÞóÑöíäñ [ÇáÒÎÑÝ : 36]
Barang siapa lalai dari berdzikir kepada ar-rahman, Kami kuasakan atasnya setan, dan dia menjadi pendamping baginya.” (az-Zukhruf : 36).
Dan firman-Nya :
Åöäøó ÇáøóÐöíäó ÇÊøóÞóæúÇ ÅöÐóÇ ãóÓøóåõãú ØóÇÆöÝñ ãöäó ÇáÔøóíúØóÇäö ÊóÐóßøóÑõæÇ ÝóÅöÐóÇ åõãú ãõÈúÕöÑõæäó [ÇáÃÚÑÇÝ : 201]
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raf : 201)
Tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan at-Tirmidzi, Mustadrak al-Hakim dan selainnya, melalui sanad yang shahih, dari al-Harits Al-Asy’ari ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau bersabda,
Åöäøó Çááøóåó ÓõÈúÍóÇäóåõ ÃóãóÑó íóÍúíóì Èúäó ÒóßóÑöíøóÇ ÈöÎóãúÓö ßóáöãóÇÊò Ãóäú íóÚúãóáó ÈöåöÇ æóíóÃúãõÑó Èóäöí ÅöÓúÑóÇÆöíáó Ãóäú íóÚúãóáõæÇ ÈöåóÇ æóÃóäøóåõ ßóÇÏó Ãóäú íõÈóØøöÆó ÈöåóÇ ÝóÞóÇáó áóåõ ÚöíÓóì Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ Åöäøó Çááåó ÞóÏú ÃóãóÑóßó ÈöÎóãúÓö ßóáöãóÇÊò áöÊóÚúãóáó ÈöåóÇ æó ÊóÃúãõÑó Èóäöí ÅöÓúÑóÇÆöíáó Ãóäú íóÚúãóáõæÇ ÈöåóÇ ÝóÅöãøóÇ Ãóäú ÊóÃúãõÑóåõãú æóÅöãøóÇ ÂãõÑõåõãú ÝóÞóÇáó íóÍúíóì : ÃóÎúÔóì Åöäú ÓóÈóÞúÊóäöí ÈöåóÇ Ãóäú íõÎúÓóÝó Èöí Ãóæú ÃõÚóÐøóÈó ÝóÌóãóÚó ÇáäøóÇÓó Ýöí ÈóíúÊö ÇáúãóÞúÏöÓö ÝóÇãúÊóáóÃó ÇáúãóÓúÌöÏõ æóÞóÚóÏõæúÇ Úóáóì ÇáÔøõÑóÝö ÝóÞóÇáó : Åöäøó Çááøóåó ÚóÒøó æóÌóáøó ÃóãóÑóäöí ÈöÎóãúÓö ßóáöãóÇÊò Ãóäú ÃóÚúãóáó Èöåöäøó æóÂãõÑóßõãú Ãóäú ÊóÚúãóáõæÇ Èöåöäøó ...
Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat. Hendaknya beliau mengamalkannya dan memerintahkan bani Israil untuk mengamalkannya. Namun beliau sedikit lamban dalam menunaikanya. maka Isa berkata kepadanya, ‘Allah telah memerintahkan kepadamu lima kalimat agar engkau mengamalkannya dan memerintahkan bani Israil agar mengamalkannya, maka perintahkanlah mereka atau aku yang akan memerintahkan mereka.’ Yahya berkata, ‘Aku khawatir jika engkau mendahuluiku melakukan hal itu niscaya aku dibenamkan atau diazab.’ Lalu beliau mengumpulkan manusia di Baitul Maqsid. Maka masjid pun menjadi penuh oleh manusia sampai mereka duduk di tempat yang tinggi (teras atas). Yahya berkata, ‘Sungguh Allah telah memerintahkan kepadaku lima kalimat agar aku mengamalkannya dan supaya aku memerintahkan kamu mengamalkannya... [7]
Beliau menyebutkan perintah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì agar mereka bertauhid, shalat, puasa, dan sedekah. Lalu beliau menyebutkan perintah yang kelima seraya berkata :
æóÂãõÑõßõãú Ãóäú ÊóÐúßõÑæÇ Çááøóåö ÝóÅöäøó ãóËóáó Ðóáößó ßóãóËóáö ÎóÑóÌó ÇáúÚóÏõæøõ Ýöí ÃóËóÑöåö ÓöÑóÇÚðÇ ÍóÊøóì ÅöÐóÇ ÃóÊóì Úóáóì ÍöÕúäò ÍóÕöíäò ÝóÃóÍúÑóÒó äóÝúÓóåõ ãöäúåõãú ßóÐóáößó ÇáúÚóÈúÏõ áóÇ íóÍúÑöÒõ äóÝúÓóåõ ãöäú ÇáÔøóíúØóÇäö ÅöáøóÇ ÈöÐößúÑö Çááøóåö ÊóÚóÇáóì...
“Aku perintahkan kamu untuk berdzikir kepada Allah, karena perumpamaan hal itu, seperti seseorang dikejar musuh dengan cepat, hingga ketika mencapai suatu benteng yang kokoh, dia melindungi dirinya dalam benteng itu dari musuh. Demikianlah seorang hamba, dia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir kepada Allah ...” hingga akhir hadis yang agung ini.
Al-Allamah Ibnu Al-Qayyim al-Jauziyah ÑóÍöãóåõ Çááåõ mensifati hadis ini sebagai hadis yang agung kedudukannya, sehingga sudah sepantasnya bagi setiap Muslim menghapalnya dan memahaminya. [8]
Hadis tersebut berisi keutamaan yang agung dalam berdzikir, bahwa ia mengusir setan dan menyelamatkan diri darinya, kedudukannya seperti benteng yang kokoh dan perlindungan yang tangguh, dimana seorang hamba tidak bisa melindungi diirinya dari musuh yang amat keras permusuhannya ini kecuali dengan berlindung melalui berdzikir ini. Maka tidak diragukan lagi, ini adalah keutamaan besar yang terdapat dalam berdzikir. Oleh karena itu, Ibnu al-Qoyyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, “Sekiranya dzikir itu tidak memiliki keutamaan melainkan hanya satu ini saja, maka sudah sepantasnya bagi seorang hamba untuk tidak menghentikan lisannya dalam berdzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , bahkan ucapannya senantiasa dihiasi dengan berdzikir. Sebab dia tidak dapat membentengi dirinya dari musuhnya selain dengan dzikir. Begitu pula musuh tidak masuk kepadanya kecuali melalui pintu kelalaian (dari berdzikir). Sungguh setan selalu mengintainya. Jika dia lalai, niscaya setan menerkam dan mencengkeramnya. Apabila dia dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, niscaya musuh Allah itu terurung, mengecil, dan terkekang, hingga sama seperti washa dan lalat.” Oleh karena itu maka was-was disebut ‘khannas’, yakni was-was dalam dada. Apabila seseorang dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, niscaya setan menjadi ‘khannas’ yakni; menahan diri dan mengurungkan keinginannya.
Ibnu Abbas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata, “Setan adalah jatsim (mendekam dan menetap) dalam hati anak keturunan Adam. Apabila seseorang lupa dan lalai, niscaya dia memberi was-was. Tapi jika ada dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, setan menjadi khannas (menahan diri dari mengganggunya).” [9]
Kita mohon pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk melindungi kita dari keburukan setan dan sekutunya, bisikannya, tiupannya, dan hembusannya. Sungguh Dia Maha Mendengar, Maha mengabulkan permohonan, dan Mahadekat.
Amin
Wallahu A’lam
Sumber :
Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/11-17.
Catatan :
[1] Syu’abul Iman, No. 508 dan al-Hilyah, 5/362. Al-Allamah al-Albani menyatakan bahwa hadis itu adalah hasan di kitab Shahih al-Jaami’, No. 5720.
[2] Sunan at-Tirmidzi, No. 3377, Sunan Ibnu Majah, No. 3790, dan al-Mustadrak, 1/496. Hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Allamah al-Albani dalam shahih al-Jami’, No. 2629.
[3] Shahih Muslim, No. 2676.
[4] Shahih al-Bukhari, No. 6407.
[5] halaman : 84
[6] Lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 84.
[7] al-Musnad, 4/202, Sunan at-Tirmidzi, No. 2862, dan al-Mustadrak, 1/117, 118, dan 421. Hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih al-Jaami’, No. 1724.
[8] al-Wabil ash-Shayyib, hal. 31
[9] al-Wabil ash-Shayyib, hal. 72.