Tidak diragukan lagi, bahwa dzikir dan doa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah sebaik-baik perbuatan yang digunakan dalam rangka mengisi waktu dan menyibukkan jiwa.
Keduanya adalah sesuatu yang paling utama dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Ia adalah kunci bagi semua kebaikan yang diraih seorang hamba di dunia dan akhirat. Bilamana (Allah) memberikan kunci ini kepada seorang hamba, berarti Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì hendak membukakan baginya, dan bilamana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menahannya, niscaya pintu kebaikan tetap tertutup untuknya. [1] Dengan demikian, orang itu tetap dalam kondisi yang risau hatinya, resah nuraninya, kalut pikirannya, gelisah jiwanya, dan lemah tekadnya dan kemauannya.
Adapun jiwa seseorang yang senantiasa memelihara dzikir dan doa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sering bernaung kepada-Nya, niscaya hatinya menjadi tenang disebabkan oleh dzikirnya terhadap Rabbnya. (Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman)
ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ æóÊóØúãóÆöäøõ ÞõáõæÈõåõãú ÈöÐößúÑö Çááøóåö ÃóáóÇ ÈöÐößúÑö Çááøóåö ÊóØúãóÆöäøõ ÇáúÞõáõæÈõ [ÇáÑÚÏ : 28]
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan sebab dzikir kepada Allah hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d : 28)
Dia juga akan meraih faedah-faedah, keutamaan-keutamaan, buah-buah yang indah nan ranum, baik itu di dunia maupun di akhirat, tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Dzikir tuk Ilahi pemilik ‘Arsy secara sembunyi dan terang-terangan.
Akan menghilangkan dan menghalau darimu derita dan duka
Mendatangkan kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat
Mengusir was-was yang menghinggapimu kapan pun terjadi
Sang nabi pilihan telah mengabarkan sahabatnya di suatu hari.
Bahwa banyak dzikir menjadikan hamba terdepan tak tertandingi
Beliau pun berwasiat kepada Mu’adz untuk mohon pertolongan-Nya
Untuk dapat berdzikir, bersyukur,
Dan memperbaiki ibadah untuk-Nya
Beliau berwasiat juga kepada seseorang yang meminta nasehat.
Sosok yang kewalahan mengemban semua syariat-syariat ilahi.
Agar dia selalu membasahi lisannya dengan dzikir pada-Nya.
Niscaya kan menolongnya dalam segala urusan nan bahagia.
Beliau mengabarkan bahwa dzikir adalah semai bagi pemiliknya.
Untuk dipetik dalam surga ‘Adn sebagai tempat kembali.
Mengabarkan pula bahwa Allah menyebut hamba-Nya.
Dan menyertai serta meluruskannya dalam setiap persoalan.
Disampaikan sungguh dzikir akan tetap ada di dalam surga
Pada saat semua beban syariat terputus
Dan manusia telah menjadi abadi.
Kalau tak ada faidah dalam dzikir kepada-Nya ;
Melainkan sebagai jalan meraih cinta Allah dan bimbingan-Nya.
Dan mencegah seseorang melakukan gunjingan dan adu domba
Serta setiap perkataan yang merusak agama ini.
Maka cukuplah itu sebagai keutamaan dan motivasi bagi kita.
Untuk memperbanyak dzikrullah,
Sehingga menjadi sebaik-baik hamba yang bertauhid.
Akan tetapi karena kebodohan kita, dzikir pun menjadi kurang.
Sebagaimana kita sangat sedikit beribadah untuk sang ilahi [2]
Oleh karena itu, dzikir-dzikir syar’i dan doa-doa nabawi memiliki posisi yang sangat tinggi dalam agama dan kedudukan yang khusus dalam jiwa-jiwa kaum Muslimin. Kitab-kitab dzikir yang sangat beragam mendapatkan sambutan yang hangat dan perhatian yang serius di kalangan mereka. Oleh karena itu, mendata semua kitab yang ditulis oleh ahli ilmu dari dulu hingga sekarang dalam masalah dzikir adalah menjadi perkara yang sangat rumit dilakukan disebabkan oleh banyaknya karya ilmiyah tentang masalah ini. Sebagian mereka menukil riwayat-riwayat disertai jalur periwayatannya. Ada pula yang tidak menyertakan jalur periwayatan itu. Sebagian lagi membahas panjang lebar dan detail, sebagian yang lain menyusunnya dengan meringkas, sebagian menulis dalam bentuk sedang, lalu yang lain menyederhanakannya. Tentu saja, mereka beraneka ragam dalam merangkum nash-nash, memaparkan dalil-dalil, penyusunan bab-bab dan penyajiannya. Begitu pula dengan perhatian terhadap penguraian dan penjelasannya, maupun hal-hal lain yang berkaitan dengannya.
Cukuplah bagimu, para pengekor hawa nafsu pun memiliki sejumlah tulisan dalam masalah ini yang penuh serba serbi dan penyimpangan nan jauh dari kebenaran. Hal itu disebabkan karena para penulisnya tidak membatasi diri dengan sunnah dan berpaling dari bersikap komitmen terhadap atsar (riwayat).
Demikianlah, sementara al-Qur’an dan Sunah serta atsar salaf telah memberi keterangan tentang jenis yang disyariatkan dan disukai dalam berdzikir dan berdoa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì , sebagaimana halnya ibadah-ibadah lain. Nabi Õóáøóì Çááåõ ÚóáóÈúåö æóÓóáøóãó telah menjelaskan kepada umatnya apa yang sepantasnya mereka ucapkan yang berupa dzikir dan doa pada pagi dan petang, dalam shalat dan sesudahnya, ketika masuk masjid, saat akan tidur, pada waktu hendak menyantap makanan dan sesudahnya, jika menunggangi hewan, apabila safar, saat melihat apa-apa yang disukai dan yang tidak disukai, ketika terjadi musibah, apabila merasa risau dan sedih, dan keadaan-keadaan lainnya yang terjadi pada seorang Muslim di semua waktu-waktunya yang berbeda-beda.
Begitu pula Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah menjelaskan tingkatan-tingkatan dzikir dan doa, macam-macamnya, syarat-syaratnya, dan adab-adabnya, dengan penjelasan yang paling lengkap dan sempurna. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó meninggalkan umatnya dalam perkara ini-dan semua persoalan agama- di atas keadaan yang terang benderang, jalan yang jelas, dan tidak ada seseorang yang menyimpang darinya melainkan binasa.
Tidak diragukan lagi, dzikir-dzikir dan doa-doa adalah termasuk di antara ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah adalah dibangun di atas tauqif (petunjuk wahyu) ittiba’ (mengikuti wahyu Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ), bukan di atas hawa nafsu dan ibtida’ (mengada-ada). Doa-doa dan dzikir-dzikir nabawi adalah pilihan yang paling utama untuk dipilih di antara dzikir dan doa lainnya. Orang yang menempuhnya berada di jalan yang aman dan selamat. Faedah-faedah dan hasil-hasilnya tidak dapat dituangkan dengan lisan dan tidak mampu diketahui seluruhnya oleh seorang pun. Adapun dzikir-dzikir selainnya, bisa saja hukumnya haram atau terkadang hukumnya makruh (dibenci). Kadang-kadang dzikir jenis ini mengandung kesyirikan meski tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Sungguh, ini adalah pembahasan yang akan berkepanjangan jika harus diurai secara rinci.”[3]
Perkara yang disyariatkan bagi seorang Muslim adalah berdzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sesuai apa yang Dia syariatkan dan berdoa kepada-Nya dengan doa-doa yang bersumber dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah melarang dari bersikap melampaui batasan dalam berdoa. Maka menjadi keharusan bagi kita untuk berdoa menurut apa yang disyariatkan dan disunnahkan. Sebagaimana hal itu menjadi keharusan bagi kita pada ibadah-ibadah lainnya. Tidak boleh bagi kita perpaling dari apa yang telah disyariatkan menuju kepada selainnya. “Termasuk di antara manusia yang paling tercela adalah mereka yang mengambil dzikir-dzikir yang tidak bersumber dari Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó –meskipun dzikir-dzikir itu berasal dari sebagian syaikh-lalu meninggalkan dzikir-dzikir nabawi yang biasa diucapkan oleh Penghulu anak keturunan Adam, Pemimpin ciptaan, dan hujjah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì atas hamba-hamba-Nya (yaitu Rasulullah Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó)”.[4]
Kebaikan seluruhnya adalah diperoleh dengan mengikuti beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, berpedoman kepada petunjuknya, serta menelusuri langkahnya. Beliau adalah teladan dan panutan yang semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melimpahkan shalawat dan salam atasnya. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó manusia yang paling sempurna dalam berdzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan paling baik dalam berdoa kepada-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
Oleh karena itu, apabila terpadu pada hamba –dalam masalah ini-konsistensi terhadap dzikir-dzikir nabawi dan doa-doa ma’tsur (berasal dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ) disertai dengan pemahaman terhadap makna-makna dan indikasi-indikasinya, ditambah dengan konsentrasi hati saat berdzikir, maka sungguh telah sempurna bagiannya yang berupa kebaikan.
Ibnu Qayyim ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, “Dzikir yang paling utama dan paling bermanfaat adalah dzikir yang menyatu di dalamnya antara hati dan lisan, berasal dari dzikir nabawi, dan orang yang berdzikir tersebut memahami dan menyaksikan makna-makna dan maksud-maksudnya.” [5]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar (Muqaddimah), Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/7-10.
Catatan :
[1] al-Fawa-id oleh Ibnu Qayyim, hal. 127
[2] Penggubah bait-bait syair ini adalah Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ÑóÍöãóåõ Çááåõ
[3] Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah, 22/510-511.
[4] Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah, 22/525.
[5] al-Fawa-id, oleh Ibnu al-Qayyim, hal. 247