[Khuthbah Pertama]
Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æäÚæÐ ÈÇááå ãä ÔÑæÑ ÃäÝÓäÇ æÓíÆÇÊ ÃÚãÇáäÇ ãóäú íóåúÏöåö Çááøóåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú Ýóáóäú ÊóÌöÏó áóåõ æóáöíøðÇ ãõÑúÔöÏðÇ
æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááøóåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæáõåõ
Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäö ÇÊøóÈóÚó ÓõäøóÊóåõ æóÇÞúÊóÝóì ÃóËóÑóåõ ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáÏøöíúäö
ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõ :
Bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman !
Bertakwalah kalian kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan carilah keridhaan-Nya, dan bersegeralah untuk melakukan hal-hal yang akan dapat mendekatkan diri kalian kepada-Nya. Karena sesungguhnya hal tersebut termasuk ketakwaan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang diperintahkan-Nya kepada kalian.
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááøóåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáóÇ ÊóãõæÊõäøó ÅöáøóÇ æóÃóäúÊõãú ãõÓúáöãõæäó [Âá ÚãÑÇä : 102]
“Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali Imran : 102)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóÇÚúáóãõæÇ Ãóäøó Çááøóåó ãóÚó ÇáúãõÊøóÞöíäó [ÇáÈÞÑÉ : 194]
“Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Ali Iman : 194)
Maka, hendaklah kalian-wahai orang-orang yang beriman-memiliki ilmu bahwa pertolongan dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, taufik dan arahan yang benar akan turun sesuai dengan ketakwaan sesorang (kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì). Maka, semakin bertambah bagian ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya, niscaya kebersamaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengannya lebih besar, dalam memberikan pertolongan, arahan yang benar, kekuatan dan kekokohan.
Ya Allah ! Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa, termasuk golongan-Mu yang beruntung, dan termasuk wali-wali-Mu yang shaleh.
Wahai segenap orang-orang yang beriman !
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
æóÊóÒóæøóÏõæÇ ÝóÅöäøó ÎóíúÑó ÇáÒøóÇÏö ÇáÊøóÞúæóì [ÇáÈÞÑÉ : 197]
“Dan berbekalah, karena sesungguhnya sebaik-sebaik bekal adalah takwa.” (al-Baqarah : 197)
Dan sebaik-baik bekal untuk meniti perjalan kepada-Nya adalah apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perintahkan berupa hal-hal yang difardhukan dan hal-hal yang diwajibkan. Juga, apa yang dianjurkan untuk dilakukan berupa perkara-perkara yang disunnahkan. Sugguh, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó adalah orang yang bersegera melakukan setiap bentuk kebaikan dan kebaktian. Tidaklah beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó meninggalkan pintu dari pintu-pintu kebaikan melainkan beliau telah mengetuknya. Tidaklah pula bagian dari bagian-bagian kebaikan melainkan beliau telah mengambilnya dan memanfaatkannya. [Dan sungguh Tuhannya dan Tuhan kita, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah berfirman seraya menegaskan]
áóÞóÏú ßóÇäó áóßõãú Ýöí ÑóÓõæáö Çááøóåö ÃõÓúæóÉñ ÍóÓóäóÉñ [ÇáÃÍÒÇÈ : 21]
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (al-Ahzab : 21)
Maka, bergegaslah melakukan amal-amal kebaikan. Karena sesungguhnya seorang insan tidak tahu akan hal apa yang menghadangnya berupa hal-hal yang akan menghalanginya atau yang menyibukannya yang muncul secara tiba-tiba.
Maka, bersegeralah mengerjakan amal-amal kebaikan di setiap pintu di antara pintu-pintu kebaikan seperti shalat, zakat, puasa, haji dan seluruh pintu-pintu kebaikan yang merupakan hak ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì atau hak-hak para hamba-Nya. Sungguh, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó memperbanyak ibadah (kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì) dalam setiap kesempatan dan waktu-waktunya. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melakukan qiyamullail (shalat malam) hingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berpuasa hingga dikatakan bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak berbuka dan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berbuka hingga dikatakan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak berpuasa.
Demikianlah keadaan Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dalam perlombaan dalam setiap bentuk kebaktian.
Dan, di antara puasa yang banyak beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó lakukan adalah puasa pada bulan Sya’ban. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pernah berpuasa Sya’ban seluruh hari-harinya. Sebagaimana datang dalam sebagian riwayat (yang menjelaskannya). Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó juga sering berpuasa Sya’ban mayoritas hari-harinya, hanya sedikit hari saja yang beliau tidak berpuasa. Dan, (riwayat) inilah yang valid dari beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berbuka (tidak berpuasa) pada sebagian harinya, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó berpuasa pada mayoritas hari-harinya.
Maka, seyogyanya seorang mukmin bergegas mengerjakan sunnah ini dan memperbanyak puasa pada bulan ini sesuai dengan kesanggupannya. Barang siapa mampu untuk berpuasa pada sebagian besar hari-harinya maka lakukanlah. Siapa yang memiliki kebiasaan puasa pada hari-hari tertentu, seperti ia biasa berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, maka hendaklah ia menambah beberapa hari di bulan ini untuk berpuasa, hingga mencocoki sunnah penghulu manusia (Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) di mana beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó banyak berpuasa di bulan Sya’ban.
Wahai segenap orang-orang yang beriman !
Sesungguhnya seorang mukmin berpuasa sebagai bentuk ketaatan-Nya kepada Allah ÓñÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan sebagai pendekatan diri kepada-Nya. Baik dalam puasa yang diwajibkan kepadanya atau pun dalam puasa yang dianjurkan kepadanya untuk dilakukannya. Maka, barang siapa telah usai dari mengerjakan hal-hal yang diwajibkan oleh Allah ÓñÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepadanya, maka hendaklah ia bergegas mengerjakan perkara yang dianjurkan kepadanya untuk dikerjakannya berupa puasa atau pun yang lainnya. Dan, siapa yang masih memiliki tanggungan hal yang diwajibkan kepadanya berupa hak Allah ÓñÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, maka bersegeralah untuk membebaskan dirinya dari hal tersebut. Termasuk hal tersebut adalah siapa yang masih memiliki tanggungan puasa qadha karena suatu udzur, maka hendaklah ia bersegera untuk melepaskan beban tanggungannya tersebut. Allah ÓñÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman,
Ýóãóäú ßóÇäó ãöäúßõãú ãóÑöíÖðÇ Ãóæú Úóáóì ÓóÝóÑò ÝóÚöÏøóÉñ ãöäú ÃóíøóÇãò ÃõÎóÑó [ÇáÈÞÑÉ : 184]
Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain (al-Baqarah : 184)
Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ mengatakan :
ßóÇäó íóßõæäõ Úóáóíøó ÇáÕøóæúãõ ãöäú ÑóãóÖóÇäó ÝóãóÇ ÃóÓúÊóØöíÚõ Ãóäú ÃóÞúÖöíó ÅöáøóÇ Ýöí ÔóÚúÈóÇäó
“Dulu, aku pernah memiliki kewajiban (mengqadha) puasa Ramadhan. Namun, aku tidak bisa mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari)
Maka, seyogyanya seorang mukmin bersegera untuk membebaskan diri dari tanggungan kewajibannya berupa puasa wajib, dan hendaknya ia tidak teledor dalam hal tersebut, karena hal tersebut boleh jadi akan mengakibatkan dirinya menyia-nyiakan kewajibannya tersebut.
Wahai segenap orang-orang yang beriman, para hamba-hamba Allah !
Datang dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó di dalam kitab as-Sunan dari hadis Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, bahwa beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÅöÐóÇ ÇäúÊóÕóÝó ÔóÚúÈóÇäõ ÝóáÇó ÊóÕõæãõæÇ
“Apabila bulan Sya’ban telah memasuki pertengahan, maka janganlah kalian berpuasa.”
Hadis ini, di dalam sanadnya ada kelemahan. Oleh karena itu, kebanyakan ahli ilmu meninggalkan mengamalkannya, karena adanya kelemahan pada sanadnya. Sementara Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah bersabda sebagaimana datang di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) :
áÇó ÊóÞóÏøóãõæÇ ÑóãóÖóÇäó ÈöÕóæúãö íóæúãò æóáÇó íóæúãóíúäö ÅöáÇøó ÑóÌõáñ ßóÇäó íóÕõæãõ ÕóæúãðÇ ÝóáúíóÕõãúåõ
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa sehari, jangan pula dua hari. Kecuali seseorang yang telah biasa melakukan puasa, maka silakan ia berpuasa.”
Ini menunjukkan bolehnya melakukan puasa setelah bulan Sya’ban memasuki pertengahannya. Maka, seseorang dapat mengerjakan puasa yang dimudahkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk dilakukannya. Maka, sunnah puasa Sya’ban sama kedudukannya, baik puasa tersebut dilakukan pada awal-awal bulan maupun di akhir-akhir bulan. Dan, hendaknya seorang hamba bertakwa kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan melakukan pendekatan diri kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan segala hal yang disyariatkan berupa ketaatan-ketaatan yang bersifat zhahir (nampak) maupun yang tersembunyi, yang dapat dilihat oleh penglihatan manusia ataupun yang dapat dilakukan di saat-saat berkesendirian.
Dan, minimal yang dapat dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Rabbnya adalah seorang hamba meninggalkan apa-apa yang dilarang untuk dikerjakannya. Karena sesungguhnya tindakanmu atau sikapmu meninggalkan keburukan itu merupakan bentuk sedekahmu kepada dirimu.
Dan puasa yang dilakukan oleh manusia pada bulan ini baik puasa tersebut merupakan puasa qadha atau pun puasa sunnah termasuk tindakan untuk mempersiapakan diri untuk menjumpai sebuah bulan nan agung, yaitu bulan Ramadhan yang dijadikan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebagai sebab untuk penghapusan dosa dan burukan-keburukan,
ãóäú ÕóÇãó ÑóãóÖóÇäó ÅöíãóÇäðÇ æóÇÍúÊöÓóÇÈðÇ ÛõÝöÑó áóåõ ãóÇ ÊóÞóÏøóãó ãöäú ÐóäúÈöåö
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.”
Dan telah datang dari sekelompok orang dari kalangan salaf bahwasanya dulu mereka di bulan Sya’ban memperbanyak membaca al-Qur’an sebagai bentuk persiapan di bulan Ramadhan di mana dianjurkan untuk membaca al-Qur’an pada bulan tersebut.
Ya Allah ! Bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.
Bimbinglah kami untuk memanfaatkan anggota tubuh kami untuk melakukan perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.
Wahai Rabb kami ! Peganglah ubun-ubun kami untuk terarahkan dan terkendalikan pada apa-apa yang Engkau ridhai. Palingkanlah kami dari berbuat maksiat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk hamba-hama-Mu yang bertakwa, golongan-Mu yang beruntung, dan wali-wali-Mu yang shaleh.
ÃóÞõæúáõ åóÐóÇ ÇáúÞóæúáö æóÃóÓúÊóÛúÝöÑó Çááå áöí æóáóßõãú ÝóÇÓúÊóÛúÝöÑõæúåõ Åöäøóåõ ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøóÍöíúãõ
[Khutbah Kedua]
ÇóáúÍóãúÏõ áöáåö ÍóãúÏðÇ ßóËöíúÑðÇ ØóíøöÈðÇ ãõÈóÇÑóßðÇ Ýöíúåö ÍóãúÏðÇ íõÑúÖöíúåö
æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááøóåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæáõåõ
Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäö ÇÊøóÈóÚó ÓõäøóÊóåõ æóÇÞúÊóÝóì ÃóËóÑóåõ ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáÏøöíúäö
ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõ :
Bertakwalah kepada Allah, wahai segenap hamba-hamba Allah !
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÞõæÇ ÃóäúÝõÓóßõãú æóÃóåúáöíßõãú äóÇÑðÇ æóÞõæÏõåóÇ ÇáäøóÇÓõ æóÇáúÍöÌóÇÑóÉõ [ÇáÊÍÑíã : 6]
Wahai orang-orang yang beriman ! Peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...(at-Tahrim : 6)
ÝóÇÊøóÞõæÇ ÇáäøóÇÑó ÇáøóÊöí æóÞõæÏõåóÇ ÇáäøóÇÓõ æóÇáúÍöÌóÇÑóÉõ [ÇáÈÞÑÉ : 24]
Maka takutlah kalian akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu (al-Baqarah : 24)
Dekatkanlah diri kalian kepada Allah dengan melakukan amal-amal shaleh. Dan, penuhilah (sisa-sisa) umur kalian dengan sesuatu yang akan semakin mendekatkan kalian kepada Rabb bumi dan langit. Mintalah sesuatu yang ada di sisi-Nya berupa kebaikan. Sesungguhnya tidak akan dapat menarik apa yang ada di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kecuali dengan mentaati-Nya dan bertakwa kepada-Nya. Dan palingkanlah diri kalian dari sesuatu yang kalian takutkan dengan mendekat kepada-Nya. Sesungguhnya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa (kepada-Nya) berupa kesuksesan dan kebersamaan yang dengannya akan diperoleh segala bentuk keutamaan, kemenangan, dan jalan keluar dari segala bentuk kesempitan. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóãóäú íóÊøóÞö Çááøóåó íóÌúÚóáú áóåõ ãóÎúÑóÌðÇ (2) æóíóÑúÒõÞúåõ ãöäú ÍóíúËõ áóÇ íóÍúÊóÓöÈõ [ÇáØáÇÞ : 2 ¡ 3]
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (ath-Thalaq : 2-3)
æóãóäú íóÊøóÞö Çááøóåó íóÌúÚóáú áóåõ ãöäú ÃóãúÑöåö íõÓúÑðÇ [ÇáØáÇÞ : 4]
Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. (ath-Thalaq : 4)
æóãóäú íóÊøóÞö Çááøóåó íõßóÝøöÑú Úóäúåõ ÓóíøöÆóÇÊöåö æóíõÚúÙöãú áóåõ ÃóÌúÑðÇ [ÇáØáÇÞ : 5]
Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (ath-Thalaq : 5)
Ya, Allah ! Jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.
Ya, Allah ! Jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.
Ya, Allah ! Jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang bertakwa. Wahai Rabb semesta alam.
Ya, Allah ! Mudahkanlah petuntuk bagi kami dengan keutamaan dan karunia-Mu, wahi Dzat yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Wahai segenap orang-orang yang beriman, para hamba-hamba Allah !
Sesungguhnya keutamaan-keutamaan yang terdapat pada siang dan malam hari, juga pada amalan-amalan dan keadaan-keadaan, tidaklah dibuat-buat, tapi hal-hal itu diambil dari perkataan manusia yang tidak berkata-kata dari hawa nafsunya, yaitu, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. maka, keutamaan-keutamaan itu bukanlah merupakan usulan-usulan, bukan pula merupakan hasil penemuan pemikiran. Tetapi, keutamaan-keutamaan itu merupakan sunnah-sunnah yang diikuti.
Sungguh, telah menyebar di tengah-tengan kalangan manusia sebuah anggapan tentang hari-hari tertentu atau malam-malam tertentu. Sementara hal tersebut tidak datangan dalam nash yang jelas atau sebuah hadis yang shahih yang menjelaskan tentang keutamaannya. Maka, wajib atas setiap orang untuk memanglingkan diri dari segala sesuatu yang dikatakan bahwa hal tersebut utama sampai tegaknya dalil yang menunjukkan hal tersebut, baik hal tersebut terkait dengan hari-hari, siang atau pun malam. Atau pun terkait dengan bulan-bulan atau terkait dengan keadaan, atau terkait dengan amalan dan perkataan. Kesemuanya itu harus dibangun di atas dalil yang menunjukkannya.
Sesungguhnya, termasuk perkara yang telah menyebar di tengah-tengah banyak orang adalah apa yang terkait dengan keutamaan Nishfu Sya’ban.
Terkait hal tersebut telah datang dalam sejumlah hadis namun tak satu pun dari riwayat tersebut yang shahih. Oleh karena itu, jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf mengatakan bahwa ‘malam ini’ (malam nisfu sya’ban) tidak memiliki keutamaan.
Sekelompok ulama dahulu dan kontenporer berpendapat bahwa malam nisfu sya’ban seperti halnya malam-malam lainnya sepanjang masa, tidak ada keutamaan yang menjadikannya istimewa, tidak ada pula keistimewaan yang membedakannya dengan malam-malam lainnya. Apa yang dikatakan tentang keutamaannya sejatinya itu terjadi dalam sepekan dua kali ; maka, apa yang dikatakan tentang ‘diangkatnya amal’ pada malam nisfu sya’ban kepada Rabb para hamba dan adanya ampunan bagi setiap muslim dan mukmin yang tidak berbuat syirik dan tidak berseturu’, telah datang dalam hal tersebut dalam hadis yang shahih dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó di mana beliau bersabda,
ÊõÚúÑóÖõ ÇáÃóÚúãóÇáõ Ýöì ßõáøö íóæúãö ÎóãöíÓò æóÇËúäóíúäö ÝóíóÛúÝöÑõ Çááøóåõ ÚóÒøó æóÌóáøó Ýöì Ðóáößó Çáúíóæúãö áößõáøö ÇãúÑöÆò áÇó íõÔúÑößõ ÈöÇááøóåö ÔóíúÆðÇ ÅöáÇøó ÇãúÑóÃð ßóÇäóÊú Èóíúäóåõ æóÈóíúäó ÃóÎöíåö ÔóÍúäóÇÁõ ÝóíõÞóÇáõ ÇÑúßõæÇ åóÐóíúäö ÍóÊøóì íóÕúØóáöÍóÇ ÇÑúßõæÇ åóÐóíúäö ÍóÊøóì íóÕúØóáöÍóÇ
Amal-amal itu dipertunjukkan pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka Allah mengampuni dosa setiap hamba-Nya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan (kepada mereka), ‘Tunggulah dahulu kedua orang ini hingga berdamai !’ Tunggulah dahulu kedua orang ini hingga berdamai !” (HR. Muslim)
Keutamaan ini, yang dikatakan (banyak orang) bahwa ini terjadi di malam nisfu sya’ban, sejatinya hal ini berulang pada kita dua kali dalam sepekan. Maka, amal-amal (para hamba) dipertunjukkan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada hari Senin dan Kamis setiap pekannya. Oleh kanena itu, barang siapa yang menginginkan keutamaan yang disebutkan dalam hadis tersebut, yaitu, mendapatkan ampunan, maka hendaknya ia merealisasikan ketauhidannya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì “ áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ “ (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). Karena sesungguhnya Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengampuni setiap muslim (orang yang memurnikan pengesaannya dan penghambaannya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì). Dan, hendaknya pula ia membersihkan hatinya dari rasa dendam, kedengkian, dan kebencian serta permusuhan dan perseteruan. Karena sesungguhnya, hal-hal tersebut menghalangi seorang hamba dari mendapatkan ampunan dari Allah ÚóÒøó æóÌóáøó. Hendaklah ia bersegera melakukan perdamain, karena perdamaian itu baik. Bila mana seseorang memulai untuk menjalin perdamain dengan seturunya, namun seterunya menolaknya maka sesungguhnya kabar gembira untuknya datang dari penghula orang yang wara Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó yang mengatakan :
ÎóíúÑõåõãóÇ ÇóáøóÐöí íóÈúÏóÃõ ÈöÇáÓøóáóÇãö
“Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai dengan salam.” (HR. al-Bukhari)
Maka, siapa yang memulai dengan upaya perdamaian, namun ia mendapati penolakan dari saudaranya, maka sungguh dirinya telah terbebas dari tanggungannya dan dia pun telah mendapatkan sesuatu yang dicarinya berupa hilangnya sesuatu yang mennghalanginya untuk meraih ampunan, sementara dosa kembali dibawa oleh orang yang enggan untuk segera menjalin perdamaian.
Ya Allah ! Jadikanlah kami termasuk wali-wali-Mu dan golongan-Mu.
Bersihkanlah hati-hati kami dari kesyirikan dan kemunafikan, dari rasa dendam dan permusuhan. Dan makmurkanlah ia dengan apa-apa yang Engkau cintai dan apa-apa yang Engkau ridhai berupa amal-amal yang penuh dengan kebaikan, wahai Dzat yang Maha Agung lagi Maha Mulia.
Wahai segenap orang-orang yang beriman !
Bergegaslah melakukan amal-amal shaleh. Masukilah pintu-pintu kebaikan yang kita mampu untuk menempuh jalannya. Motivasilah diri kita dan keluarga kita, yang laki-laki maupun yang perempuan untuk melakukan setiap kebaikan. Bantulah anak-anak kita untuk dapat melakukan kebaikan. Permudahlah urusan-urusan baik mereka. Siapkanlah untuk mereka hal-hal yang bermanfaat bagi mereka. Dan, jadilah Anda sebagai penolong bagi mereka untuk meraih kemaslahatan urusan agama dan urusan dunia mereka, dengan melakukan amal-amal yang diberkahi dan penyiapan sarana-saraya yang mungkin dapat dilakukan, dan dengan lantunan doa-doa yang baik (yang dipanjatkan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì Rabb semesta alam). Karena doa, dengannya seorang mukmin dapat mencapai apa yang diinginkannya dan apa yang diharapkannya, yang tidak dapat tercapai dengan amalnya.
Çóááøóåõãøó ÃóáúåöãúäóÇ ÑõÔúÏóäóÇ æóÞöäóÇ ÔóÑøó ÃóäúÝõÓöäóÇ ÎõÐú ÈöäóæóÇÕöíúäóÇ Åöáóì ãóÇ ÊõÍöÈøõ æóÊóÑúÖóì æóÇÕúÑöÝú ÚóäøóÇ ÇáÓøõæúÁó æóÇáúÝóÎúÔóÇÁó íóÇ ÐóÇ ÇáúÌóáóÇáö æóÇáúÅößúÑóÇãö
Çóááøóåõãøó ÂãöäøóÇ Ýöí ÃóæúØóÇäöäóÇ Çóááøóåõãøó ÂãöäøóÇ Ýöí ÃóæúØóÇäöäóÇ Çóááøóåõãøó ÂãöäøóÇ Ýöí ÃóæúØóÇäöäóÇ
æóÇÕúáöÍú ÃóÆöãøóÊóäóÇ æóæõáóÇÉó ÃõãõæúÑöäóÇ æóÇÌúÚóáú æöáóÇíóÊóäóÇ Ýöí ãóäú ÎóÇÝóßó æóÇÊøóÞóÇßó æóÇÊøóÈóÚó ÑöÖóÇßó íóÇ ÑóÈøó ÇáúÚóÇáóãöíúäó
ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí ÇáúÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö
ÑóÈøóäóÇ ÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóáöÅöÎúæóÇäöäóÇ ÇáøóÐöíäó ÓóÈóÞõæäóÇ ÈöÇáúÅöíãóÇäö æóáóÇ ÊóÌúÚóáú Ýöí ÞõáõæÈöäóÇ ÛöáøðÇ áöáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÑóÈøóäóÇ Åöäøóßó ÑóÁõæÝñ ÑóÍöíãñ
Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö ÇóÃóúÏÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇáúÃóãúæóÇÊö
Çóááøóåõãøó ÓóÏøöÏúäóÇ Ýöí ÇáúÃóÞúæóÇáö æóÇáúÃóÚúãóÇáö æóÇáäøöíøóÇÊö æóÇÌúÚóáúäóÇ ãöäú ÃæúáöíóÇÆößó
Çóááøóåõãøó ÇÎúÊöãú áóäóÇ ÈöÎóíúÑò Çóááøóåõãøó ÇÎúÊöãú áóäóÇ ÈöÎóíúÑò Çóááøóåõãøó ÇÎúÊöãú áóäóÇ ÈöÎóíúÑò
Çóááøóåõãøó ÃóÏúÎöáúäóÇ Ýöí ßõáøö ÃóãúÑò ãõÏúÎóáó ÕöÏúÞò æóÃóÎúÑöÌúäóÇ ãõÌúÑóÌó ÕöÏúÞò æóÇÌúÚóáú áóäóÇ ãöäú áóÏõäúßó ÓõáúØóÇäðÇ äóÕöíúÑðÇ
ÑóÈøóäóÇ ÙóáóãúäóÇ ÃóäúÝõÓóäóÇ æóÅöäú áóãú ÊóÛúÝöÑú áóäóÇ æóÊóÑúÍóãúäóÇ áóäóßõæäóäøó ãöäó ÇáúÎóÇÓöÑöíäó
Perbanyaklah shalawat kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó . Sesungguhnya shalawat yang kalian panjatkan di hari ini dipertunjukkan kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó. Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
Åöäøó ãöäú ÃóÝúÖóáö ÃóíøóÇãößõãú íóæúãó ÇáúÌõãõÚóÉö ÝóÃóßúËöÑõæÇ Úóáóìøó ãöäó ÇáÕøóáÇóÉö Ýöíåö ÝóÅöäøó ÕóáÇóÊóßõãú ãóÚúÑõæÖóÉñ Úóáóìøó
“Sesungguhnya hari Jum’at termasuk hari-hari kalian yang paling utama. Maka, perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena sesunggunya shalawat kalian dipertunjukkan kepadaku.” (HR. Abu Dawud)
Çááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíãó Åöäøóßó ÍóãöíÏñ ãóÌöíÏñ
(Redaksi)
Sumber :
Khuthbah Jum’at Syaikh Prof. Dr. Khalid bin Abdullah al-Mushlih-ÍóÝöÙóåõ Çááåõ, dengan tema, “Fadhlu Syahri Sya’ban”. Dengan penyesuaian.