Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
﴿æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ æóåõæó ÙóÇáöãñ áöäóÝúÓöåö ÞóÇáó ãóÇ ÃóÙõäøõ Ãóäú ÊóÈöíÏó åóÐöåö ÃóÈóÏðÇ (35) æóãóÇ ÃóÙõäøõ ÇáÓøóÇÚóÉó ÞóÇÆöãóÉð æóáóÆöäú ÑõÏöÏúÊõ Åöáóì ÑóÈøöí áóÃóÌöÏóäøó ÎóíúÑðÇ ãöäúåóÇ ãõäúÞóáóÈðÇ (36) ÞóÇáó áóåõ ÕóÇÍöÈõåõ æóåõæó íõÍóÇæöÑõåõ ÃóßóÝóÑúÊó ÈöÇáøóÐöí ÎóáóÞóßó ãöäú ÊõÑóÇÈò Ëõãøó ãöäú äõØúÝóÉò Ëõãøó ÓóæøóÇßó ÑóÌõáðÇ (37) áóßöäøóÇ åõæó Çááøóåõ ÑóÈøöí æóáóÇ ÃõÔúÑößõ ÈöÑóÈøöí ÃóÍóÏðÇ (38)
æóáóæúáóÇ ÅöÐú ÏóÎóáúÊó ÌóäøóÊóßó ÞõáúÊó ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ áóÇ ÞõæøóÉó ÅöáøóÇ ÈöÇááøóåö Åöäú ÊóÑóäö ÃóäóÇ ÃóÞóáøó ãöäúßó ãóÇáðÇ æóæóáóÏðÇ (39) ÝóÚóÓóì ÑóÈøöí Ãóäú íõÄúÊöíóäö ÎóíúÑðÇ ãöäú ÌóäøóÊößó æóíõÑúÓöáó ÚóáóíúåóÇ ÍõÓúÈóÇäðÇ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÊõÕúÈöÍó ÕóÚöíÏðÇ ÒóáóÞðÇ (40) Ãóæú íõÕúÈöÍó ãóÇÄõåóÇ ÛóæúÑðÇ Ýóáóäú ÊóÓúÊóØöíÚó áóåõ ØóáóÈðÇ (41)﴾ [ÇáßåÝ: 35-41]
Dia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri (karena angkuh dan kufur). Dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, aku kira hari Kiamat tidak akan datang dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”
Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya ketika bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna ?
Akan tetapi, aku (percaya bahwa) Dia adalah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku.
Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, “Mā syā’allāh, lā quwwata illā billāh” (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah).
Jika engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu, mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini) dan mengirimkan petir dari langit ke kebunmu sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin atau airnya menjadi surut ke dalam tanah sehingga engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.” (Al-Kahfi : 35-41)
Makna Global
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman : Dan lelaki itu memasuki kebunnya, sementara ia dalam kondisi menzhalimi dirinya sendiri karena kufur kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan karena keingkarannya terhadap adanya pembangkitan, dan lelaki itu pun mengatakan : “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku kira kiamat itu tidak akan terjadi. Kalua pun terjadinya telah ditetapkan dan aku dikembalikan kepada Rabb-ku, niscaya aku pasti akan mendapatkan kebaikan di sisi-Nya dari kebun ini yang Dia berikan kepadaku di dunia ; karena karomahku dan kedudukanku di sisi-Nya.
Temannya yang Mukmin mengatakan kepadanya saat bercakap-cakap dengannya : Apakah kamu kufur kepada Allah Dzat yang telah menciptakan asal dirimu Adam dari tanah, kemudian Dia menciptakan kamu dari nutfah (air mani) kedua orang tuamu, kemudian ia menyempurnakanmu sebagai manusia yang bagus bentuk dan rupanya.?!
Akan tetapi aku tidak mengatakan dengan ucapanmu yang menunjukkan akan kekafiranmu. Aku hanya mengatakan : Yang berhak untuk diibadahi Dia-Allah Rabbku semata, dan aku tidak menyekutukan-Nya dengan selainNya dalam beribadah kepada-Nya.
Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu dan engkau pun sedemikian takjub, engkau tidak mengatakan : ãóÇ ÔóÇÁó Çááåõ , aku tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melakukan sesuatu kecuali dengan pertolongan Allah. Jika engkau melihat diriku memiliki anak-anak dan harta lebih sedikit daripada dirimu, maka semoga Rabbku akan memberikan kepadaku lebih afdhal (lebih baik dan lebih utama) daripada kebunmu, dan Dia akan mengirimkan ke kebunmu sebuah adzab dari langit, sehingga kebun itu menjadi tanah yang yang licin, gundul, tanaman-tanaman tidak lagi dapat tumbuh di tanah tersebut. Telapak kaki tidak dapat berdiri kokoh di atasnya. Atau, air tanahnya yang tadinya digunakan untuk menyirami tanaman menjadi hilang ke dalam bumi, sehigga engkau tidak mampu untuk mengeluarkannya.
Tafsir Ayat :
[Firman-Nya]
æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ æóåõæó ÙóÇáöãñ áöäóÝúÓöåö ÞóÇáó ãóÇ ÃóÙõäøõ Ãóäú ÊóÈöíÏó åóÐöåö ÃóÈóÏðÇ
Dia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri (karena angkuh dan kufur). Dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.
æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ æóåõæó ÙóÇáöãñ áöäóÝúÓöåö
Dia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri
Yakni, dan lelaki itu [1] memasuki kebunnya sementara keadaannya dia menzhalimi dirinya sendiri dengan kufur kepada Allah, takabbur (menyombongkan dri) dan sewenang-wenang, dan juga dengan keingkarannya terhadap adanya hari kebangkitan pada hari Kiamat.[2]
[Firman-Nya]
ÞóÇáó ãóÇ ÃóÙõäøõ Ãóäú ÊóÈöíÏó åóÐöåö ÃóÈóÏðÇ
Dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.”
Yakni, ia berkata : aku kira kebunku ini tidak akan lenyap dan binasa selama-lamanya ! [3]
æóãóÇ ÃóÙõäøõ ÇáÓøóÇÚóÉó ÞóÇÆöãóÉð æóáóÆöäú ÑõÏöÏúÊõ Åöáóì ÑóÈøöí áóÃóÌöÏóäøó ÎóíúÑðÇ ãöäúåóÇ ãõäúÞóáóÈðÇ
aku kira hari Kiamat tidak akan datang dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”
æóãóÇ ÃóÙõäøõ ÇáÓøóÇÚóÉó ÞóÇÆöãóÉð.
Aku kira hari Kiamat tidak akan datang
Yakni, aku kira hari Kiamat itu tidak ada ; sehingga tidak akan ada pembangkitan, penghisaban dan tidak ada pula pembalasan atas amal. [4]
æóáóÆöäú ÑõÏöÏúÊõ Åöáóì ÑóÈøöí áóÃóÌöÏóäøó ÎóíúÑðÇ ãöäúåóÇ ãõäúÞóáóÈðÇ
dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.
Yakni, dan kalua pun sekiranya aku ditentukan dan diputuskan bahwa aku dikembalikan kepada Rabbku, lalu Dia (Rabbku) membangkitkan aku (kembali) setelah kematianku, niscaya pasti Dia bakal memberikan kepadaku di akhirat itu sebuah kebun yang lebih baik daripada kebun ini yang Dia telah berikan kepadaku di dunia ini ; karena Dia tidak memberikan kebun ini kepadaku melainkan karena aku berhak mendapatkannya dan aku pun memiliki kehormtan dan kedudukan di sisi-Nya. Maka, demikianlah keadaanku nantinya di akhirat kalaupun sekiranya kehidupan akhirat itu ada. ! [5]
[Firman-Nya]
ÞóÇáó áóåõ ÕóÇÍöÈõåõ æóåõæó íõÍóÇæöÑõåõ ÃóßóÝóÑúÊó ÈöÇáøóÐöí ÎóáóÞóßó ãöäú ÊõÑóÇÈò Ëõãøó ãöäú äõØúÝóÉò Ëõãøó ÓóæøóÇßó ÑóÌõáðÇ (37)
Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya ketika bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?
Yakni, berkatalah kawannya yang beriman itu kepadanya, ia menyampaikan tanggapannya kepadanya, ia mengatakan kepadanya : Apakah kamu kafur terhadap Allah Dzat yang telah menciptakan asal moyang Adam dari tanah, kemudian Dia menciptakanmu dari air mani, kemudian Dia membentukmu dan menyempurnakan bentukmu, sehingga Dia menjadikanmu sesok seorang lelaki yang sempurna, yang bagus perwakan dan bentuknya, dengan anggota-anggota badan selaras ?! Maka, Dzat yang telah menciptkanmu, demikian pula Dia mampu untuk melakukan pembangkitan dirimu yang merupakan sesuatu yang engkau ingkari. [6]
Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ Åöäú ßõäúÊõãú Ýöí ÑóíúÈò ãöäó ÇáúÈóÚúËö ÝóÅöäøóÇ ÎóáóÞúäóÇßõãú ãöäú ÊõÑóÇÈò [ÇáÍÌ: 5] .
Wahai manusia, jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menciptakan (orang tua) kamu (Nabi Adam) dari tanah, (al-Hajj : 5)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
æóãöäú ÂíóÇÊöåö Ãóäú ÎóáóÞóßõãú ãöäú ÊõÑóÇÈò Ëõãøó ÅöÐóÇ ÃóäúÊõãú ÈóÔóÑñ ÊóäúÊóÔöÑõæäó [ÇáÑæã: 20] .
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang bertebaran.(ar-Ruum : 20)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
ÇáøóÐöí ÃóÍúÓóäó ßõáøó ÔóíúÁò ÎóáóÞóåõ æóÈóÏóÃó ÎóáúÞó ÇáúÅöäúÓóÇäö ãöäú Øöíäò * Ëõãøó ÌóÚóáó äóÓúáóåõ ãöäú ÓõáóÇáóÉò ãöäú ãóÇÁò ãóåöíäò [ÇáÓÌÏÉ: 7-8] .
(Dia juga) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). (as-Sajdah : 7-8)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
æóáóÞóÏú ÎóáóÞúäóÇ ÇáúÅöäúÓóÇäó ãöäú ÓõáóÇáóÉò ãöäú Øöíäò * Ëõãøó ÌóÚóáúäóÇåõ äõØúÝóÉð Ýöí ÞóÑóÇÑò ãóßöíäò * Ëõãøó ÎóáóÞúäóÇ ÇáäøõØúÝóÉó ÚóáóÞóÉð ÝóÎóáóÞúäóÇ ÇáúÚóáóÞóÉó ãõÖúÛóÉð ÝóÎóáóÞúäóÇ ÇáúãõÖúÛóÉó ÚöÙóÇãðÇ ÝóßóÓóæúäóÇ ÇáúÚöÙóÇãó áóÍúãðÇ Ëõãøó ÃóäúÔóÃúäóÇåõ ÎóáúÞðÇ ÂÎóÑó ÝóÊóÈóÇÑóßó Çááøóåõ ÃóÍúÓóäõ ÇáúÎóÇáöÞöíäó [ÇáãÄãäæä: 12 - 14] .
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta. (al-Mukminun : 12-14)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
ÇáøóÐöí ÎóáóÞóßó ÝóÓóæøóÇßó ÝóÚóÏóáóßó * Ýöí Ãóíøö ÕõæÑóÉò ãóÇ ÔóÇÁó ÑóßøóÈóßó [ÇáÇäÝØÇÑ: 7¡ 8].
Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang ? Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu. (al-Infithar : 7-8)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
áóÞóÏú ÎóáóÞúäóÇ ÇáúÅöäúÓóÇäó Ýöí ÃóÍúÓóäö ÊóÞúæöíãò [ÇáÊíä: 4].
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin : 4)
[Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ óæóÊóÚóÇáóì]
áóßöäøóÇ åõæó Çááøóåõ ÑóÈøöí æóáóÇ ÃõÔúÑößõ ÈöÑóÈøöí ÃóÍóÏðÇ
Akan tetapi, aku (percaya bahwa) Dia adalah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku.
Yakni, akan tetapi aku tidak kafur (tidak mengingkari) dan tidak pula aku mengatakan seperti perkataanmu. Bahkan, aku katakan : Dzat yang berhak untuk disembah/diibadahi semata, Dia adalah Allah, Rabbku, dan aku tidak menyembah dan tidak beribadah kepada siapa pun selain Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì [7]
Faidah :
1-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ
Dia memasuki kebunnya
Pada penyebutan ÇáÌäøóÉö (kebun) dalam bentuk tunggal (dalam ayat ini), padahal sebelumnya (di ayat 32 dan 33) disebutkan dalam bentuk mutsanna (ÇáúÌóäøóÊóíúäö) yang menunjukkan bahwa orang ini memiliki dua kebun) (yakni, pada firman-Nya :
﴿æóÇÖúÑöÈú áóåõãú ãóËóáðÇ ÑóÌõáóíúäö ÌóÚóáúäóÇ áöÃóÍóÏöåöãóÇ ÌóäøóÊóíúäö ãöäú ÃóÚúäóÇÈò æóÍóÝóÝúäóÇåõãóÇ ÈöäóÎúáò æóÌóÚóáúäóÇ ÈóíúäóåõãóÇ ÒóÑúÚðÇ (32) ßöáúÊóÇ ÇáúÌóäøóÊóíúäö ÂÊóÊú ÃõßõáóåóÇ æóáóãú ÊóÙúáöãú ãöäúåõ ÔóíúÆðÇ æóÝóÌøóÑúäóÇ ÎöáóÇáóåõãóÇ äóåóÑðÇ (33)﴾ [ÇáßåÝ: 32-33]
Berikanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan, yaitu dua orang laki-laki. Kami berikan kepada salah satunya (yang kufur) dua kebun anggur. Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan Kami buatkan ladang di antara kedua (kebun) itu.
Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak berkurang (buahnya) sedikit pun. Kami pun alirkan sungai dengan deras di celah-celah kedua (kebun) itu.)
Dalam hal ini terdapat beberapa sisi pertimbangan :
Sisi pertimbangan pertama :
Bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkannya dalam bentuk tunggal, yang diinginkan adalah jenis, dan sebagai petunjuk faedah yang ditunjukkan oleh perkataan mengenai kebun itu bahwa kedua kebun itu milik orang ini karena keduanya bersambung, sehingga seakan-akan seperti satu kebun. [8]
Sisi pertimbangan kedua :
Dikarenakan pertama kali lelaki ini masuk, ia tentunya masuk ke salah satu dari dua kebun yang dimilikinya, sebelum kemudian ia berpindah dari kebun yang dimasukinya ke kebun yang lainnya. Sehingga, tidaklah ia masuk kecuali ke salah satu dari dua kebun yang dimilikinya tersebut. Karena, tentunya lelaki tersebut tak akan dapat masuk ke dalam kedua kebunnya secara bersamaan dalam satu waktu. [9]
Sisi pertimbangan ketiga :
Bahwasanya Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkan kebun itu dalam bentuk tunggal setelah sebelumnya Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkannya dalam bentuk tatsniyah (yang menjukkan dua) ; karena mencukupkan dengan satu karena kedaannya (bahwa lelaki ini memiliki dua kebun) telah diketahui.[10]
Sisi pertimbangan keempat :
Bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkan kebun itu dalam bentuk tunggal, karena kedua kebun itu semuanya adalah milik lelaki tersebut, sehingga kedua kebun tersebut menjadi sesuatu yang satu.[11]
Sisi pertimbangan kelima :
Bahwa maknanya “Dan dia (lelaki itu) memasuki apa yang menjadi kebunnya, tidak ada kebun baginya selain itu.” Yakni, dia tidak akan memiliki bagian di Surga yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang beriman. Karena di akhirat nanti, ia tidak memilki sedikit pun bagian darinya. Maka, apa yang dimilikinya di dunia itu adalah kebunnya bukan yang lain. Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak memaksudkannya dua kebun miliknya itu, tidak pula salah satu dari dua kebun miliknya. [12]
2-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ æóåõæó ÙóÇáöãñ áöäóÝúÓöåö ÞóÇáó ãóÇ ÃóÙõäøõ Ãóäú ÊóÈöíÏó åóÐöåö ÃóÈóÏðÇ *æóãóÇ ÃóÙõäøõ ÇáÓøóÇÚóÉó ÞóÇÆöãóÉð æóáóÆöäú ÑõÏöÏúÊõ Åöáóì ÑóÈøöí áóÃóÌöÏóäøó ÎóíúÑðÇ ãöäúåóÇ ãõäúÞóáóÈðÇ * ÞóÇáó áóåõ ÕóÇÍöÈõåõ æóåõæó íõÍóÇæöÑõåõ ÃóßóÝóÑúÊó ÈöÇáøóÐöí ÎóáóÞóßó ãöäú ÊõÑóÇÈò Ëõãøó ãöäú äõØúÝóÉò Ëõãøó ÓóæøóÇßó ÑóÌõáðÇ
Dia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri (karena angkuh dan kufur). Dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, aku kira hari Kiamat tidak akan datang dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”
Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya ketika bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?
Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa orang pertama (si kafir, si pemilik dua kebun), ia mengatakan : æóãóÇ ÃóÙõäøõ ÇáÓøóÇÚóÉó ÞóÇÆöãóÉð (aku kira hari Kiamat tidak akan datang). Sedangkan orang kedua (si Mukmin) mengkafirkannya (orang pertama) ; di mana ia mengatakan (kepadanya) : ÃóßóÝóÑúÊó ÈöÇáøóÐöí ÎóáóÞóßó ãöäú ÊõÑóÇÈò (“Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah), hal ini menunjukkan bahwa orang yang ragu akan adanya atau akan terjadinya hari kebangkitan dan bahwa orang yang mengingkari adanya tempat kembali yang abadi di kehidupan akhirat, maka dia adalah orang yang kufur terhadap Rabb semesta alam, meskipun ia beranggapan bahwa dirinya mengakui adanya hal tersebut[13]. Telah datang keterangan hal itu secara jelas dan tegas di awal-awal surat ar-Ra’d, yaitu pada firman-Nya :
æóÅöäú ÊóÚúÌóÈú ÝóÚóÌóÈñ Þóæúáõåõãú ÃóÆöÐóÇ ßõäøóÇ ÊõÑóÇÈðÇ ÃóÆöäøóÇ áóÝöí ÎóáúÞò ÌóÏöíÏò ÃõæáóÆößó ÇáøóÐöíäó ßóÝóÑõæÇ ÈöÑóÈøöåöãú æóÃõæáóÆößó ÇáúÃóÛúáóÇáõ Ýöí ÃóÚúäóÇÞöåöãú æóÃõæáóÆößó ÃóÕúÍóÇÈõ ÇáäøóÇÑö åõãú ÝöíåóÇ ÎóÇáöÏõæäó [ÇáÑÚÏ: 5] .
Jika engkau (Nabi Muhammad) heran, (justru) yang mengherankan adalah ucapan mereka (orang-orang kafir), “Apakah bila kami telah menjadi tanah, kami benar-benar akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?” Mereka itulah orang-orang yang kufur kepada Tuhannya. Mereka itulah orang-orang (yang dilekatkan) belenggu di lehernya. Mereka adalah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (ar-Ra’d : 5) [14]
3-Seorang Mukmin wajib tidak merasa rendah diri di hadapan rasa mulia orang kaya yang kafir, dan hendaknya ia (orang Mukmin itu) memberikan nasehat kepada orang yang merasa mulia dengan harta benda yang dimilikinya dan kekufurannya terhadap Rabb semesta alam, dan menunjukinya ke jalan keimanan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan ke jalan pengakuan akan keesaan-Nya, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan limpahan berbagai keutamaan yang telah dicurahkan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kepadanya. [15]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Asy-Syaukani ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :
Para ahli tafsir mengatakan, ‘ia (lelaki tersebut, si pemilik dua kebun) menggendeng tangan kawannya yang Muslim, lalu ia memasukkan kawannya tersebut ke dalam kebunnya, membawanya berkeliling di kebunnya dan memperlihatkan kepadanya berbagai hal yang menakjubkan.’ (Tafsir asy-Syaukani, 3/339).
Dan, Ibnu Asyur ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :
“Kalimat æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ (dan dia memasuki kebunnya) menempati posisi sebagai haal dari dhomir ÞóÇáó, yakni, ia mengatakan itu saat ia telah masuk ke dalam kebunnya untuk menemani kawannya, yakni, ia masuk kebunnya bersama dengan kawannya, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya : ÞóÇáó ãóÇ ÃóÙõäøõ Ãóäú ÊóÈöíÏó åóÐöåö ÃóÈóÏðÇ [ÇáßåÝ: 35] º (Dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya ) karena perkataan ini tidaklah terjadi kecuali sebagai khithab untuk yang lainnya, yakni Dia (lelaki ini) berkata kepadanya (kawannya).
Dan menunjukkan juga kepada hal tersebut firman-Nya : ÞóÇáó áóåõ ÕóÇÍöÈõåõ æóåõæó íõÍóÇæöÑõåõ [ÇáßåÝ: 37] , Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya ketika bercakap-cakap dengannya, dan juga adanya jawaban perkataannya ÃóäóÇ ÃóßúËóÑõ ãöäúßó ãóÇáðÇ æóÃóÚóÒøõ äóÝóÑðÇ [ÇáßåÝ: 34] di sela-sela perbincangan yang terjadi di antara keduanya (dia dan kawannya) di dalam kebun tersebut. (Tafsir Ibnu Asyur, 15/320)
[2] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/262, Tafsir Ibnu Katsir, 5/157, Tafsir Ibnu Asyur, 15/320)
[3] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/262. Tafsir Ibnu Katsir, 5/157. Tafsir asy-Syaukani, 3/339. Tafsir Ibnu Asyur, 15/320. Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 69).
Di antara kalangan ahli tafsir yang berpendapat bahwa isyarat dalam firman-Nya : åóÐöåö tertuju pada kalimat ÌäøóÊöå (kebunnya) adalah : Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Syaukani, Ibnu Asyur, dan Ibnu Utsaimin. Lihat : referensi-referensi yang lalu.
Ada juga yang berpendapat isyarat kata åóÐöåö (ini) kembali kepada kata ÇáÏäíÇ (dunia). Sehingga, makananya, si lelaki pemilik kebun ini ia mengingkari kefanaan dunia.
Di antara kalangan ahli tafsir yang berpendapat demikian adalah : al-Wahidiy dan al-Qurthubiy. Lihat : al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 14/15. Tafsir al-Qurthubiy, 10/404.
Ibnu Juzziy ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :
Berkemungkinan bahwa isyarat pada kata åóÐöåö (ini) kembali kepada langit, bumi, dan seluruh makhluk (yang ada), sehingga maknanya menjadi bahwa ia (lelaki tersebut) mengatakan kekalnya hal-hal yang ada (di alam semesta ini), ia mengingkari adanya kehidupan akhirat. Atau kata isyarat itu kembali kepada ÌäøóÊå (kebunnya), sehingga perkataannya merupakan sebuah bentuk melampoi batas dalam ketertipuan dan sedikitnya perolehan. (Tafsir Ibnu Juzziy, 1/466.)
[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/262. Tafsir al-Qurthubiy, 10/404. Tafsir Ibnu Katsir, 5/157. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 70.
[5] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/262, 263, Tafsir al-Qurthubi, 10/404. Tafsir Ibnu Katsir, 5/157. Nazhmu ad-Durar, karya al-Biqaa-‘iy, 12/60. Tafsir as-Sa’diy, hal : 477. Tafsir Ibnu Utsaimin – surat al-Kahfi, hal. 70.
As-Sa’diy ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :
Ini tidak lepas dari dua kemungkinan : (Pertama) boleh jadi orang ini mengetahui tentang hakikat keadaan tersebut, sehingga ucapannya ini disampaikan sebagai bentuk olokan dan hinaan, sehingga ucapannya ini menjadi sebuah tambahan kekufuran kepada kekufurannya, (kedua) boleh jadi ucapannya ini hakikatnya hanyalah merupakan perkiraan/sangkaan dirinya, sehingga orang ini termasuk golongan sebodoh-bodoh manusia, dan orang yang paling rendah nalar akalnya ; karena apakah ada kelaziman antara pemberian di dunia dan pemberian di akhirat, sehingga ia mengira atau menyangka -karena kebodohannnya- bahwa barangsiapa diberikan (sesuatu) di dunia, niscaya ia pun akan diberi sesuatu tersebut di akhirat nantinya ?! Bahkan, pada ghalibnya bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjauhkan dunia dari para walinya dan orang-orang pilihan-Nya, dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melapangkan dunia untuk para musuh-Nya, orang-orang yang mana mereka itu tidak akan mempunyai bagian di akhirat. Dan yang nampak, bahwa orang yang menyatakan pernyataannya ini, ia mengetahui hakikat keadaan tersebut. Akan tetapi, ia mengatakan pernyataannya ini sebagai sebuah olokan dan hinaan. Berdasarkan dalil firman-Nya :
æóÏóÎóáó ÌóäøóÊóåõ æóåõæó ÙóÇáöãñ áöäóÝúÓöåö
Dia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri.
Karena penetapan sifat yang melekat pada orang ini bahwa ia zhalim saat ia memasuki kebunnya yang tercermin dalam ucapannya yang telah dikemukakannya, menunjukkan akan penentangan dan kedurhakaannya. (Tafsir as-Sa’diy, hal. 477.)
Ibnu Utsaimin ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :
Maka, seakan-akan ia (orang ini) mengatakan, ‘Oleh karena Allah telah mengarunikan kepadaku di dunia, maka tentu Dia juga akan mengaruniakannya kepadaku di akhirat.’ Ini merupakan analogi yang rusak ; karena tidak ada kelaziman dari tindakan pemberian kenikmatan (kepada seseorang) di dunia, Dia akan juga memberikan pemberian kepada seseorang di akhirat. Salah pula anggapan bahwa seseorang yang tidak diberikan suatu bentuk kenikmatan di dunia, Dia pun tidak akan memberikan kenikmat tersebut kepada orang tersebut di akhirat. Karena, antara kedua hal ini tidak ada kelaziman. Bahkan, sesungguhnya orang-orang kafir itu, mereka diberikan berbagai macam bentuk menikmatan di dunia, disegerakan untuk mereka kebaikan-kebaikan mereka dalam kehidupan mereka di dunia, akan tetapi mereka akan diazab di akhirat. (Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 70)
[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/263. Tafsir al-Qurthubiy, 10/404. Tafsir Ibnu Katsir, 5/158. Tafsir as-Sa’diy, hal. 477. Tafsir Ibnu Asyur, 15/322. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/275, 276. Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 71.
Ar-Raziy ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan :
Argumentasi ini mengandung dua kemungkinan, pertama, Kembali kepada metode yang disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ketika Dia mampu untuk memulai (penciptaan), maka wajib Dia akan mampu untuk mengembalikan (membangkitkan); maka, firman-Nya :
ÎóáóÞóßó ãöäú ÊõÑóÇÈò Ëõãøó ãöäú äõØúÝóÉò Ëõãøó ÓóæøóÇßó ÑóÌõáðÇ
“Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari nuthfah, kemudian Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna,” merupakan sebuah isyarat kepada awal mula penciptaan manusia.
Kedua, bahwa setelah Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakanmu demikian itu, maka sesungguhnya Dia tidaklah menciptakanmu main-main (tanpa ada maksud), sungguh Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakanmu dengan maksud agar kamu menghambakan diri kepada-Nya, dan bilamana Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakanmu untuk makna ini, maka wajib orang yang taat itu memperoleh pahala, begitu pula seorang pendosa, wajib pula mendapatkan hukuman…., sisi pertimbangan yang kedua ini ditunjukkan oleh firman-Nya : Ëõãøó ÓóæøóÇßó ÑóÌõáðÇ (kemudian Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna), yakni, Dia telah menyiapkan dirimu sebagai sebuah format dimana kamu dapat memahami dan layak untuk menerima pembebanan syariat. Secara nalar, kondisimu yang demikian ini, bolehkah kemudian Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melalaikan urusanmu ? (Tafsir ar-Raziy, 21/464).
[7] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/263, 264. Tafsir Ibnu Katsir, 5/158. Tafsir as-Sa’diy, hal. 477.
[8] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 12/59.
[9] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 7/176. Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/320)
[10] Lihat : Tafsir Ibnu ‘Adil, 12/486.
[11] Lihat : ad-Durru al-Mashuun, karya : Samin al-Halabiy, 7/489.
[12] Lihat : Tafsir az-Zamakhsyariy, 2/721. Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 12/59. Akan tetapi asy-Syaukani ÑóÍöãóåõ Çááåõ menganggap bahwa sisi pertimbangan ini jauh, seraya mengatakan : ‘Alangkah jauhnya apa yang dikatakan pengarang kitab al-Kasysyaf bahwa Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkan kata ÇáÌäøóÉó (kebun) dalam bentuk tunggal untuk menunjukkan bahwasa ia (lelaki pemilik dua kebun itu) tidak akan memiliki bagian pada ÇáÌäøóÉö yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang beriman. (Tafsir asy-Syaukaniy, 3/339).
[13] Lihat : Tafsir ar-Raziy, 21/464. I’lam al-Muwaqqi’in, karya : Ibnul Qayyim, 1/114.
[14] Lihat : Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/277.
[15] Lihat : al-Mukhtashar Fii Tafsiri al-Qur’an al-Karim, karya : Sekelompok Ulama Tafsir, surat al-Kahfi, hal. 298.


















