Segala puji bagi Allah, Dzat Yang menjadikan segala sesuatu sebagai dalil atas keesaan-Nya, mengatur para makhluk sesuai kehendak-Nya dengan penuh keperkasaan dan kekuasaan, memilih orang-orang yang bertakwa, lalu memberikan keamanan dan iman kepada mereka, menyamaratakan maaf dan ampunan kepada orang-orang yang berdosa dengan kelembutan dan rahmat-Nya, tidak memutus rizki ahli maksiat disebabkan kemurahan-Nya, menggembirakan orang-orang yang ikhlas dengan indah kedekatan-Nya, mengingatkan hari pembalasan dengan pedih siksa-Nya, menjaga orang yang berjalan menuju keridhaan-Nya dalam jalan yang ditempuhnya, memuliakan orang mukmin dengan menetapkan iman di dalam hatinya, memberikan keputusan terhadap manusia dengan perintah dan larangan, menegakkan apa-apa yang lemah dengan pertolongan-Nya, menyadarkan orang-orang yang lalai dan alpa dengan nasehat-Nya, dan menyeru orang-orang yang berdosa untuk bertaubat agar dosa mereka terampuni. Dia-lah Rabb Yang Mahaagung Yang tidak serupa dengan makhluk, serta yang Mahakaya lagi Mahamulia Yang tidak membutuhkan makan dan minum. Semua makhluk senantiasa membutuhkan-Nya, serta tidak bisa bertahan tanpa rahmat-Nya dalam mengarungi pergantian siang dan malam.
Aku memuji-Nya sebagaimana layaknya seorang hamba memuji Rabb-nya, dengan meminta udzur atas segala kekurangan dan dosa. Aku bersaksi dengan persaksian orang yang ikhlas dari lubuk hatinya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æÊóÚóÇáóì semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang terpilih dari golongan-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada beliau, kepada Abu Bakar, sahabat terbaik beliau, kepada Umar yang setan tidak berani melalui jalan yang ditempuhnya, kepada ‘Utsman yang memperoleh syahid di luar pertempuran, kepada Ali, penolong beliau dalam peperangan, dan kepada keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang berjalan di atas petunjuk beliau.
Saudara-saudaraku sekalian, akhirilah bulan Ramadhan ini dengan taubat kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æÊóÚóÇáóì dari segala bentuk kemaksiatan, dan kembalilah kepada-Nya dengan mengerjakan amal perbuatan yang diridhai-Nya. Sesungguhnya setiap manusia itu tidak terlepas dari kesalahan dan kelalaian. Tiap anak Adam itu mempunyai banyak kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æÊóÚóÇáóì di dalam kitab-Nya, serta Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó di dalam Sunnahnya, telah menganjurkan untuk senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æÊóÚóÇáóì.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÃóäö ÇÓúÊóÛúÝöÑõæÇ ÑóÈøóßõãú Ëõãøó ÊõæÈõæÇ Åöáóíúåö íõãóÊøöÚúßõãú ãóÊóÇÚðÇ ÍóÓóäðÇ Åöáóì ÃóÌóáò ãõÓóãøðì æóíõÄúÊö ßõáøó Ðöí ÝóÖúáò ÝóÖúáóåõ æóÅöäú ÊóæóáøóæúÇ ÝóÅöäøöí ÃóÎóÇÝõ Úóáóíúßõãú ÚóÐóÇÈó íóæúãò ßóÈöíÑò [åæÏ : 3]
“Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Huud : 3)
Þõáú ÅöäøóãóÇ ÃóäóÇ ÈóÔóÑñ ãöËúáõßõãú íõæÍóì Åöáóíøó ÃóäøóãóÇ Åöáóåõßõãú Åöáóåñ æóÇÍöÏñ ÝóÇÓúÊóÞöíãõæÇ Åöáóíúåö æóÇÓúÊóÛúÝöÑõæåõ [ÝÕáÊ : 6]
Katakanlah : “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kalian adalah Ilah Yang Mahaesa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya...” (al-Fushshilat : 6)
æóÊõæÈõæÇ Åöáóì Çááøóåö ÌóãöíÚðÇ Ãóíøõåó ÇáúãõÄúãöäõæäó áóÚóáøóßõãú ÊõÝúáöÍõæäó [ÇáäæÑ : 31]
“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (an-Nur : 31)
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÊõæÈõæÇ Åöáóì Çááøóåö ÊóæúÈóÉð äóÕõæÍðÇ ÚóÓóì ÑóÈøõßõãú Ãóäú íõßóÝøöÑó Úóäúßõãú ÓóíøöÆóÇÊößõãú æóíõÏúÎöáóßõãú ÌóäøóÇÊò ÊóÌúÑöí ãöäú ÊóÍúÊöåóÇ ÇáúÃóäúåóÇÑõ [ÇáÊÍÑíã : 8]
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai...” (at-Tahrim : 8).
Åöäøó Çááøóåó íõÍöÈøõ ÇáÊøóæøóÇÈöíäó æóíõÍöÈøõ ÇáúãõÊóØóåøöÑöíäó [ÇáÈÞÑÉ : 222]
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (al-Baqarah : 222).
Ayat-ayat yang menyebutkan tentang taubat itu banyak sekali jumlahnya.
Adapun hadis-hadis yang terkait dengannya, maka di antaranya adalah yang diriwayatkan dari al-Agharr bin Yasar al-Muzani ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÊõæÈõæÇ Åöáóì Çááøóåö ÝóÅöäøöì ÃóÊõæÈõ Ýöì Çáúíóæúãö Åöáóíúåö ãöÇÆóÉó ãóÑøóÉò
“Wahai manusia, bertaubatlah dan beristighfarlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, dia berkata : “Aku pernah mendengar Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
Åöäøöí áóÃóÓúÊóÛúÝöÑõ Çááøóåó æóÃóÊõæÈõ Åöáóíúåö Ýöí Çáúíóæúãö ÃóßúËóÑó ãöäú ÓóÈúÚöíäó ãóÑøóÉð
“Sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. al-Bukhari)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
áóáøóåõ ÃóÔóÏøõ ÝóÑóÍðÇ ÈöÊóæúÈóÉö ÚóÈúÏöåö Íöíäó íóÊõæÈõ Åöáóíúåö ãöäú ÃóÍóÏößõãú ßóÇäó Úóáóì ÑóÇÍöáóÊöåö ÈöÃóÑúÖö ÝóáÇóÉò ÝóÇäúÝóáóÊóÊú ãöäúåõ æóÚóáóíúåóÇ ØóÚóÇãõåõ æóÔóÑóÇÈõåõ ÝóÃóíöÓó ãöäúåóÇ ÝóÃóÊóì ÔóÌóÑóÉð ÝóÇÖúØóÌóÚó Ýöì ÙöáøöåóÇ ÞóÏú ÃóíöÓó ãöäú ÑóÇÍöáóÊöåö ÝóÈóíúäóÇ åõæó ßóÐóáößó ÅöÐóÇ åõæó ÈöåóÇ ÞóÇÆöãóÉð ÚöäúÏóåõ ÝóÃóÎóÐó ÈöÎöØóÇãöåóÇ Ëõãøó ÞóÇáó ãöäú ÔöÏøóÉö ÇáúÝóÑóÍö Çááøóåõãøó ÃóäúÊó ÚóÈúÏöì æóÃóäóÇ ÑóÈøõßó. ÃóÎúØóÃó ãöäú ÔöÏøóÉö ÇáúÝóÑóÍö
Sesungguhnya Allah lebih bergembira dengan taubatnya seorang hamba ketika dia bertaubat kepada-Nya dibandingkan dengan apabila seseorang dari kalian yang berpergian di atas hewan tunggangannya di padang sahara, kemudian tunggangannya tersebut terlepas. Padahal, ia membawa makanan dan minumannya. Akhirnya dia berputus asa untuk mendapatkan kembali tunggangannya. Lalu dia mendatangi sebuah pohon, dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa. Pada kondisi yang demikian, tiba-tiba tunggangan yang tadi dicarinya muncul di hadapannya (ketika ia terjaga). Dia segera memegang tali kekangnya, kemudian berkata dengan gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hamba-ku dan aku adalah Rabb-Mu.” Ia mengucapkan perkataan yang salah karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì bergembira dengan taubat hamba-Nya karena Dia memang mencintai taubat, maaf, dan kembalinya seorang hamba kepada-Nya setelah ia berlari dari-Nya.
Diriwayatkan dari Anas dan Ibnu Abbas ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõãóÇ, bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
áóæú Ãóäøó áöÇÈúäö ÂÏóãó æóÇÏöíðÇ ãöäú ÐóåóÈò ÃóÍóÈøó Ãóäú íóßõæäó áóåõ æóÇÏöíóÇäö æóáóäú íóãúáóÃó ÝóÇåõ ÅöáøóÇ ÇáÊøõÑóÇÈõ æóíóÊõæÈõ Çááøóåõ Úóáóì ãóäú ÊóÇÈó
Sekiranya anak Adam mempunyai satu lembah dari emas, tentulah dia masih menginginkan dua lembah emas lagi. Tidak ada yang mampu memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaq ‘alaih)
Taubat adalah kembali kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari kemaksiatan menuju ketaatan terhadap-Nya. sebab, hanya Dia-lah Yang berhak untuk disembah. Dan hakikat ibadah adalah sikap ketundukan dan merendahkan diri kepada Dzat Yang disembah dengan diiringi oleh pengagungan dan kecintaan. Jika seorang hamba melarikan diri dari ketaatan kepada Rabb-nya, maka taubatnya adalah dengan kembali kepada-Nya, berdiri di pintu-Nya seperti layaknya orang fakir lagi hina yang sedang ketakukan.
Taubat itu wajib disegerakan, tidak boleh diakhirkan dan ditunda-tunda, karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan hal tersebut. Perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya wajib untuk segera dikerjakan, karena seorang hamba itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya jika ia mengakhirkannya. Bisa jadi kematian mendatanginya secara mendadak, sehingga ia tidak lagi sempat bertaubat. Lagi pula, terus-memerus melakukan maksiat akan mengakibatkan kerasnya hati, jauh dari Allah, dan lemahnya iman. Sebab, iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Terus-menerus melakukan maksiat juga akan mengakibatkan maksiat tersebut menjadi suatu kebiasaan sekaligus tempat bergantung bagi pelakunya. Sungguh, jika jiwa itu terbiasa dengan suatu hal, maka ia akan sulit untuk berpisah dengannya. Jika ini telah terjadi, pelaku maksiat akan sangat sulit melepaskan diri dari maksiat, dan setan akan membukakan untuknya pintu-pintu kemaksiatan lainnya yang lebih besar dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Oleh karena itu, ahli ilmu dan akhlak berkata : “Sesungguhnya kemaksiatan adalah pengantar kekafiran, di mana seseorang akan berpindah-pindah dari satu maksiat kepada maksiat lainnya, tahap demi tahap sampai ia berpaling dari agamanya.” Semoga Allah memberikan taufik dan keselamatan kepada kita.
Taubat yang diperintahkan oleh Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah taubat yang nashuha (semurni-murninya), di mana ia mencakup syarat-syarat taubat yang terdiri dari lima hal :
1-Ikhlas karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì semata. Artinya, faktor yang mendorong pelaksanaan taubat tersebut adalah kecintaan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, pengagungan terhadap-Nya, mengharap pahala-Nya, dan takut akan siksa-Nya, serta bukan karena mengharapkan sesuatu dari dunia atau pun simpati manusia. Jika tidak demikian, maka taubatnya tidak diterima. Sebab, dia tidak bertaubat dan kembali kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, namun ia kembali kepada tujuan yang ingin ia capai.
2-Menyesal dan bersedih atas dosa-dosanya yang lalu. Dalam rangka memicu rasa penyesalan atau dosanya, kembali kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan marah kepada jiwanya yang telah memerintahkannya melakukan kejelekan, maka dia mengharap sekiranya dosa tersebut tidak dilakukannya. Dengan demikian, taubatnya itu terlaksana di atas keyakinan dan ilmu.
3-Dia langsung melepaskan diri dari maksiat. Jika maksiat itu berupa melakukan sesuatu yang diharamkan, maka dia langsung meninggalkan maksiat tersebut, dan jika berupa meninggalkan kewajiban, maka dia segera mengerjakannya, seandainya kewajiban tersebut termasuk perkara-perkara yang bisa diqadha, seperti zakat dan haji.
Taubat itu tidak sah jika kemaksiatan masih terus dilakukan. Sekiranya ada orang yang menyatakan pertaubatannya dari riba, misalnya, padahal ia masih saja terus berinteraksi dengan riba, maka pernyataan taubatnya tadi tidak sah. Bahkan pertaubatannya itu termasuk salah satu bentuk ejekan terhadap Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan ayat-ayat-Nya yang akan membuatnya semakin jauh dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Contoh lain, sekiranya ada orang yang menyatakan bertaubat dari meninggalkan shalat berjama’ah, akan tetapi ia tetap tidak melakukan shalat berjama’ah, maka taubatnya tetap tidak sah.
Apabila maksiat itu berkaitan dengan hak sesama makhluk, maka taubat itu tidak akan sah kecuali jika dia sudah membebaskan diri dari hak-hak tersebut.
Jika kemaksiatan yang dilakukan adalah mengambil atau menentang hak milik orang lain, maka taubatnya adalah dengan mengembalikan harta yang bersangkutan kepada pemiliknya, jika dia masih hidup, atau kepada ahli warisnya, apabila dia sudah meninggal. Jika dia tidak memiliki ahli waris, maka harta tersebut diserahkan ke baitul maal. Dan apabila dia tidak mengetahui siapa sebenarnya pemilik harta tersebut, maka harta itu disedekahkan atas nama pemiliknya, karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pasti mengetahuinya.
Jika maksiat itu berupa ghibah terhadap sesama muslim, dan pihak yang dirugikan telah mengetahui perbuatan tersebut, maka si pelaku wajib untuk meminta penghalalan (keridhaan) dari ghibah yang dilakukannya. Jika dia tidak mengetahui, dan pemberitahuan masalah ini dikhawatirkan akan memperparah keadaan, maka si pelaku tadi beristighfar untuk pihak yang ia rugikan, kemudian memuji dan menyebutkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya pada tempat (majlis) yang sama dengan ketika dia melontarkan ghibahnya yang terdahulu. Sungguh, kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan.
Taubat dari suatu dosa itu tetap sah, walau pun dia masih melakukan dosa-dosa yang lain. Sebab, amal itu bermacam-macam, dan iman itu bertingkat-tingkat. Meski demikian, dia tidak berhak untuk menyandang predikat sebagai orang yang bertaubat secara mutlak. Dia juga tidak berhak mendapatkan kedudukan yang tinggi serta sifat-sifat yang terpuji sehingga dia benar-benar bertaubat kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dari segala dosa.
4-Dia bertekad untuk tidak jatuh dalam maksiat tersebut di masa mendatang. Inilah buah taubat dan dalil kejujuran pelakunya. Jika ada orang yang bertaubat, namun ia bimbang, atau bertekad untuk kembali melakukan maksiat di suatu hari nanti, maka taubatnya tadi tidak sah. Sebab, ini hanyalah taubat dalam selang waktu tertentu, di mana pelakunya masih mencari kesempatan yang tepat untuk melakukan maksiat. Sama sekali tidak menunjukkan kebenciannya terhadap maksiat dan pelariannya dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.
5-Taubat itu dilakukan sebelum habisnya masa penerimaan taubat. Jika dilakukan setelah masa tersebut, maka tidak akan diterima. Selesainya masa penerimaan taubat itu ada dua jenis : yang pertama sifatnya umum untuk seluruh orang, dan yang kedua bersifat khusus tergantung masing-masing individu.
Pertama : Yang bersifat umum, yaitu terbitnya matahari dari barat. Jika ini terjadi, maka taubat itu tidak lagi berguna.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
íóæúãó íóÃúÊöí ÈóÚúÖõ ÂíóÇÊö ÑóÈøößó áóÇ íóäúÝóÚõ äóÝúÓðÇ ÅöíãóÇäõåóÇ áóãú Êóßõäú ÂãóäóÊú ãöäú ÞóÈúáõ Ãóæú ßóÓóÈóÊú Ýöí ÅöíãóÇäöåóÇ ÎóíúÑðÇ [ÇáÃäÚÇã : 158]
“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa iman…” (al-An’am : 158)
Arti dari ÈóÚúÖõ ÂíóÇÊö ÑóÈøößó “Sebagian tanda-tanda Rabb-mu" adalah terbitnya matahari dari barat, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
áóÇ ÊóÒóÇáõ ÇáÊøóæúÈóÉõ ãóÞúÈõæáóÉð ÍóÊøóì ÊóØúáõÚó ÇáÔøóãúÓõ ãöäú ÇáúãóÛúÑöÈö ÝóÅöÐóÇ ØóáóÚóÊú ØõÈöÚó Úóáóì ßõáøö ÞóáúÈò ÈöãóÇ Ýöíåö æóßõÝöíó ÇáäøóÇÓõ ÇáúÚóãóáó
“Taubat itu senantiasa akan diterima sehingga matahari itu terbit dari barat. Jika itu terjadi, tiap-tiap hati akan ditutup, dan amal-amal manusia dicukupkan.”
Ibnu Katsir ÑóÍöãóåõ Çááåõ menyatakan bahwa sanadnya hasan.
Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ãóäú ÊóÇÈó ÞóÈúáó Ãóäú ÊóØúáõÚó ÇáÔøóãúÓõ ãöäú ãóÛúÑöÈöåóÇ ÊóÇÈó Çááøóåõ Úóáóíúåö
“Barang siapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
Kedua : Yang bersifat khusus, yaitu saat-saat menjelang kematian. Jika hadir saat-saat kematian seseorang dan maut telah di hadapan mata, maka taubat itu tidak akan berguna dan tidak akan diterima.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóáóíúÓóÊö ÇáÊøóæúÈóÉõ áöáøóÐöíäó íóÚúãóáõæäó ÇáÓøóíøöÆóÇÊö ÍóÊøóì ÅöÐóÇ ÍóÖóÑó ÃóÍóÏóåõãõ ÇáúãóæúÊõ ÞóÇáó Åöäøöí ÊõÈúÊõ ÇáúÂäó [ÇáäÓÇÁ : 18] “
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang …” (an-Nisaa : 18)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
Åöäøó Çááøóåó íóÞúÈóáõ ÊóæúÈóÉó ÇáúÚóÈúÏö ãóÇ áóãú íõÛóÑúÛöÑú
“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di kerongkongan.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, kemudian beliau berkomentar : “Hadis hasan.”)
Jika taubat itu sah dan diterima, karena segala syaratnya telah terpenuhi, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan mengampuni dosa yang hamba itu telah bertaubat darinya, sebesar apapun dosa tersebut.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
Þõáú íóÇ ÚöÈóÇÏöíó ÇáøóÐöíäó ÃóÓúÑóÝõæÇ Úóáóì ÃóäúÝõÓöåöãú áóÇ ÊóÞúäóØõæÇ ãöäú ÑóÍúãóÉö Çááøóåö Åöäøó Çááøóåó íóÛúÝöÑõ ÇáÐøõäõæÈó ÌóãöíÚðÇ Åöäøóåõ åõæó ÇáúÛóÝõæÑõ ÇáÑøóÍöíãõ [ÇáÒãÑ : 53]
“Katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (az-Zumar : 53)
Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang bertaubat, kembali, dan berserah diri kepada-Nya.
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
æóãóäú íóÚúãóáú ÓõæÁðÇ Ãóæú íóÙúáöãú äóÝúÓóåõ Ëõãøó íóÓúÊóÛúÝöÑö Çááøóåó íóÌöÏö Çááøóåó ÛóÝõæÑðÇ ÑóÍöíãðÇ [ÇáäÓÇÁ : 110]
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (an-Nisaa : 110)
Maka bersegeralah untuk bertaubat kepada Rabb kalian dengan semurni-murninya, sebelum maut itu mendatangi kalian dengan tiba-tiba, dan kalian tidak bisa lagi lari darinya. Semoga Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì merahmati usia kalian.
Ya Allah, berilah taufik kepada kami untuk bertaubat dengan semurni-murninya agar dosa-dosa kami yang telah lalu dihapuskan. Persiapkanlah jalan yang mudah bagi kami dan jauhkanlah kami dari jalan yang sukar. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Mahapenyayang di antara para penyayang.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Majalis Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, hal. 215-221.


















