Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaedah Ke-48

Rabu, 22 Desember 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-48


{ }


"Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).
{ Al-Baqarah: 60}
Ini adalah sebuah kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an yang muhkam (bermakna jelas), yang beredar (di masyarakat) layak-nya peribahasa. Dan ia merupakan salah satu di antara pengaruh hikmah Allah azza wa jalla pada makhlukNya, yang membantu orang yang mentadabburinya untuk memandang sesuatu dengan berimbang dan adil.
Kaidah ini merupakan bagian dari ayat yang mulia dalam Surat al-Baqarah dan Surat al-A'raf, tentang kisah Nabi Allah, Musa alaihissalam, yang memohon agar diturunkan hujan untuk kaum beliau. Allah taala berfirman,


(60)


"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rizki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." (Al-Baqarah: 60).

Makna khusus yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini adalah bahwa Allah telah memberi nikmat kepada Bani Israil dengan menjadikan mata air yang memancar dari batu tersebut sebanyak dua belas mata air, (sesuai) dengan jumlah kabilah Bani Israil, untuk mencegah agar tidak berdesak-desakan dan memudahkan mereka, agar tiap suku dari suku-suku Bani Israil mengetahui (tempat minumnya masing-masing). Ketika anugerah ini telah terwujud, sempurnalah nikmat itu bagi mereka, dengan beraneka ragamnya makanan dan minuman tanpa susah payah (mendapatkannya), bahkan ia murni karunia dan rizki Allah, dan sempurnalah nikmat bagi mereka dengan pengaturan perkara mereka itu pada saat mendatangi tempat minum tersebut dan meninggalkannya, sehingga mereka menjadi teratur, di mana seseorang tidak berbuat zhalim terhadap orang lain, dan seseorang tidak mengurangi hak orang lain.
Makna yang ditunjukkan oleh kaidah (prinsip pokok) ini telah disebutkan pada kaidah yang lain, akan tetapi dengan lafazh yang berbeda, dan itu terdapat pada Firman Allah taala,


(84)


"Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 84).

Yakni, menurut cara dan perjalanan hidup yang menjadi kebiasaan pelakunya, dan (pelakunya) tumbuh di atasnya.
Sebagaimana bahwa makna yang ditunjukkan oleh kaidah ini telah ditetapkan oleh as-Sunnah, sebagaimana dalam sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam,


ǡ .


"Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya." Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 7112; dan Muslim, no. 2648.

Kesimpulannya: Bahwa makna ini telah ditetapkan oleh Syariat dengan berbagai macam ungkapan, kalimat yang ringkas, dan lafazh yang berbeda-beda.
Dan dalam kaidah ini kami akan mengisyaratkan kepada bentuk-bentuk aplikasi yang paling penting dari kaidah ini, yang disebabkan kekurangan dalam menjalankannya, terjadilah beberapa dampak negatif, dan dengan sebab itu pula beberapa mata pencaharian yang baik menjadi hilang, yaitu pentingnya pengetahuan manusia tentang bakat dan potensi yang diberikan Allah kepadanya, agar dia menjadi bermanfaat dalam bidang yang sesuai dengannya dan cocok dengan potensi dan bakatnya, karena termasuk hal yang sudah diakui, bahwa manusia tidaklah memiliki tingkat yang sama dalam bakat, potensi, dan kemampuan, dan kesempurnaan manusia tidak mungkin terdapat kecuali pada para nabi alaihimussalam.
Maka pengetahuan manusia tentang sesuatu yang dia mampu lakukan dengan baik dan unggul dengannya, sangat penting sekali dalam menentukan bidang yang merupakan titik tolaknya, agar dia bisa kreatif dan bermanfaat bagi umatnya, karena tujuannya bukan hanya sekedar bekerja saja, akan tetapi juga kreatifitas dan kecakapan (dalam bekerja).
Barangsiapa yang melihat perjalanan hidup para sahabat radhiyallohu anhum, niscaya dia menemukan beberapa contoh tentang keakuratan aplikasi mereka terhadap makna kaidah yang sedang kita bicarakan ini, "Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing)." Maka di antara mereka ada yang menjadi ulama dalam bidang tertentu; di antara mereka ada yang terkenal dengan ujung tombak dan melawan para prajurit; sedangkan orang yang ketiga berkreasi dalam bidang syair dan orasi.

Di antara hal bagus yang disebutkan dalam masalah ini adalah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid, bahwa Abdullah bin Abdul Aziz al-Umari, seorang ahli ibadah, pernah menulis surat kepada Imam Malik, dia menganjurkan beliau untuk menyendiri dan bekerja, dan dia tidak suka jika beliau terus bergelut dengan ilmu, maka Imam Malik menjawab suratnya,

"Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah membagi-bagi amal sebagaimana Allah telah membagi-bagi rizki, maka boleh jadi seseorang dimudahkan dalam shalat dan tidak dimudahkan dalam puasa, dan yang lain dimudahkan dalam sedekah dan tidak dimudahkan dalam puasa, dan yang lain dimudahkan dalam jihad dan tidak dimudahkan dalam shalat. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya termasuk di antara amal kebajikan yang paling utama, dan aku telah ridha dengan apa yang dimudahkan Allah untukku dari hal itu, dan aku tidak mengira bahwa apa yang aku lakukan ini lebih rendah derajatnya dari apa yang kamu lakukan, dan aku berharap kita berdua berada dalam kebaikan, dan setiap orang dari kita harus ridha dengan apa yang dibagikan (Allah) untuknya. Wassalam." At-Tamhid, 7/185.

Jawaban dari Imam Malik ini tidak hanya menunjukkan kedalaman ilmu beliau saja, tetapi juga (menunjukkan) kesempurnaan akal, keluhuran adab, dan bagusnya penjelasan beliau tentang masalah ini yang mana sejumlah manusia tersesat dalam menentukannya.
Di zaman kita ini, perdebatan yang semisal ini telah muncul ke permukaan, (yang mana) Imam Malik telah memperingatkan kesalahan pemikiran yang dangkal dalam masalah ini, maka Anda akan menemukan dalam makalah-makalah beberapa orang yang pergi berjihad di jalan Allah, kritikan dan celaan terhadap sebagian ulama yang fokus mengajar dan menyebarkan ilmu, di mana mereka menuntut agar mereka pergi dan keluar melakukan jihad, dengan alasan jihad adalah amal yang paling utama, dan bahwa jihad itu kewajiban dalam hidup dan seterusnya... dalam mata rantai alasan yang mereka sebutkan bersama warna celaan seperti ini. Hal ini terkadang dihadapkan dengan kritikan sebaliknya dari pihak sebagian orang yang sibuk dengan ilmu dan dakwah, dengan mencela orang-orang yang fokus berjihad, dan menuduh mereka bahwa kebanyakan mereka bukanlah ulama, dan tidak banyak memahami masalah-masalah syariat dan seterusnya... dalam mata rantai celaan yang sebenarnya dapat dihilangkan dan direndahkan ketajamannya, apabila semuanya merenungkan kaidah (prinsip pokok) ini dan yang semakna dengannya, seperti kaidah nabawiyah yang baru saja disebutkan,


.


"Setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya."

Ini dijelaskan dan diperjelas oleh sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam,


: . : ǿ : .

"Barangsiapa yang menginfakkan sepasang (barangnya) di jalan Allah, dia akan dipanggil di surga, 'Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan', lalu barangsiapa yang termasuk ahli shalat, maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, barangsiapa yang termasuk ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, barangsiapa yang termasuk ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah, dan barangsiapa yang termasuk ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan'." Abu Bakar bertanya, "Wahai Rasulullah, bukanlah suatu yang darurat (penting) seseorang dipanggil dari pintu-pintu tersebut, maka apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?" Rasulullah menjawab, "Ya, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka itu." Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam beberapa tempat, di antaranya hadits no. 3466; dan Muslim, no. 1027.

Ibnu Abdil Barr berkata, "Dalam hadits ini terkandung (pelajaran) bahwa amal-amal kebaikan tidaklah dimudahkan semuanya pada umumnya untuk satu orang, dan bahwa barangsiapa yang dimudahkan untuknya dalam satu hal dari hal-hal tersebut, maka pada umumnya dia tidak akan mendapatkan yang lainnya; dan bahwa terkadang semuanya dibukakan bagi golongan yang sedikit dari manusia, dan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk golongan orang yang sedikit tersebut." At-Tamhid, 7/185.

Di lapangan, terdapat banyak contoh yang membuat umat kehilangan potensinya, disebabkan melalaikan apa yang ditunjukkan oleh kaidah ini. Berikut ini seorang pemuda yang kreatif dalam ilmu, diberi pemahaman serta kemampuan menghafal oleh Allah, dan menempuh jalan dalam ilmu, maka datanglah seseorang untuk membuatnya mau bergabung dalam (kegiatan) amal sosial, tapi seolah-olah dia padahal masih berada di jalan menuntut ilmu berada di jalan yang tidak utama, atau dalam pekerjaan yang lemah!
Dan sebaliknya adalah benar, ada di antara pemuda yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, akan tetapi dia tidak sukses dan tidak mendapat kemajuan, dan dia mengetahui berdasarkan kemampuannya bahwa dia bukan termasuk ahli dalam perkara ini, maka bukanlah termasuk hikmah sama sekali apabila orang ini dan orang-orang semisalnya dituntut dengan yang lebih banyak daripada apa yang bisa mereka curahkan, karena pengalaman telah menunjukkan bahwa dia bukanlah termasuk ahli ilmu, maka dia harus diarahkan kepada pekerjaan yang mahir dia lakukan, karena umat membutuhkan potensi-potensi dalam kegiatan amal sosial, bantuan, kemasyarakatan, dan dakwah.
Dalam apa yang telah kami isyaratkan tentang beragamnya perhatian para sahabat radhiyallohu anhum, terdapat penegasan akan pentingnya memahami kaidah ini secara benar, sehingga kita tidak kehilangan potensi-potensi yang sangat kita butuhkan, khususnya di zaman ini, di mana perhatian-perhatian sangat beragam, dan banyak cara untuk berkhidmat kepada Islam dan memberi manfaat kepada manusia, dan orang yang berhasil adalah orang yang mengetahui kecakapannya, lalu dia menggunakannya untuk berkhidmat kepada Agama dan umatnya, dan terdapat di dalam atsar,


.


"Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang di antara kalian melakukan pekerjaan, dia melakukannya dengan baik." Diriwayatkan oleh Abu Ya'la, 7/349, hadits no. 4386, dan dalam sanadnya terdapat kelemahan, akan tetapi maknanya shahih.
(Editor Terjemah mengomentari: Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 1113. Lihat takhrijnya di sana, karena terdapat penjelasan penting yang sangat meyakinkan bahwa hadits ini memang shahih adanya. Dan al-Albani juga menghasankannya dalam Shahih al-Jami', no. 1880. Ed. T.).


Tapi bagaimana kecakapan akan datang dari seseorang yang tidak memahami apa yang diinginkannya dan apa yang ingin dijalankannya?
Ini adalah beberapa petunjuk wahyu,



"Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing)." (Al-Baqarah: 60).


(84)


"Katakanlah, 'Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing'." (Al-Isra`: 84).


ǡ .


"Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya."

Maka apakah kita mau merenungkannya dan mengambil faidah darinya, agar menjadi lebih efektif bagi potensi-potensi kita?

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=397