Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
WAKTU ADALAH NAFAS YANG TAK AKAN KEMBALI
Selasa, 07 Oktober 25
Allah berfirman,artinya: “apakah kalian mengira bahwa kami menciptakan kalian untuk main main dan bahwa kalian tidak akan di kembalikan kepada kami?” (Al-Mukmin:115)

“dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku.” (Adz-Dzariyat:56)

Modal setiap manusia di dunia ini adalah waktu yang singkat, nafas yang terbatas dan hari yang hari-hari yang berbilang. Maka barangsiapa menggunakan kesempatan dan saat-saat itu dalam kebaikan dan ibadah beruntunglah dia. Dan siapa yang menyia-nyiakannya maka ia telah merugi dan waktunya tak akan pernah kembali lagi.

Alangkah banyak orang-orang yang merugi! Malangnya,mereka menganggap dirinya telah berbuat baik, berjuang, berjasa. Persis seperti disinggung firman allah: “yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menganggap dalam kehidupan dunia sebaik-baiknya.” (Al-kahfi: 105). Betapa banyak anak-anak zaman ini yang siang dan malam sibuk bekerja, rapat, berpolitik dan urusan dunia lainnya, bahkan orang-orang tua yang berkepala enam atau lebih, malah sangat bersemangat dalam urusan dunianya dan menjauhi akhiratnya, seakan hendak hidup 1000 tahun lagi. Tak memikirkan apa persiapannya menghadap Allah yang tinggal dalam hitungan hari, tak mengambil pelajaran kematian kawan-kawannya yang kadang di bawah usianya. Semua waktunya tersita untuk dunianya. Demikian pun dengan yang masih muda, seakan mereka yakin bakal mencapai usia tua. Subhanallah.

Dalam surat Al-Ashr Allah bersumpah dengan waktu, yakni waktu keberuntungan dan amal shalih bagi orang- orang yang beriman dan waktu menderita sengsara bagi orang-orang yang berpaling.

Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari umur. sedangkan umur manusia begitu pendek, tak lebih beberapa puluh tahun. Lalu, kelak ia akan di tanya atas setiap detik waktu yang dilaluinya, dan apa yang ia lakukan di dalamnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artiya: “tidak akan beranjak kedua telapak kaki hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya, apa yang telah dia amankan, tentang hartanya, dari mana ia dapat dan bagaimana ia membelanjakannya dan tentang fisiknya, untuk apa dia pergunakan.” (HR.At- Tirmidzi, hasan shahih).

Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, Ada dua nikmat yang sering membuat kebanyakan manusia tertipu, kesehatan dan waktu luang.’ Ibnu Khazin berkata,Nikmat adalah sesuatu yang membuat nyaman dan enak, sedang tertipu artinya membeli sesuatu dengan harga berlipat, atau menjual sesuatu tidak susai dengan harganya.’ Maka siapa yang sehat badannya dan memiliki waktu luang, tetapi ia tidak berusaha untuk kebaikan akhiratnya maka ia laksana orang yang tertipu dalam jual beli. Ironinya, kebanyakan manusia tidak memanfaatkan kesehatan dan waktu luangnya, bahkan sebaliknya malah menggunakannya tidak pada tempatnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,artinya: raihlah lima (perkara) sebelum datangnya lima (perkara); masa muda sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR.Al-Hakim di-shahih-kan oleh Al-Albani).

Umur manusia adalah masa tanam di dunia, sedang masa panennya adalah di akhirat. Karena itu, sungguh amat merugi jika manusia menyia-nyiakan waktunya dan membelanjakan modalnya untuk sesuatu yang tak berguna. Barangsiapa yang tidak mengetahui besarnya nilai waktu,sungguh akan datang kepadanya suatu masa tentang nilai dan mahalnya waktu serta nilai beramal di dalamnya. Tetapi hal itu setelah waktu itu sendiri berlalu. Yang pasti, semua manusia akan menyesal dalam dua kondisi, entah menyesal karena keingkarannya atau karena sedikit amalnya. Namun penyesalan itu tiada lagi berguna.

Pertama, saat sakaratul maut. Ketika itu, setiap manusia menginginkan agar diberi sejenak waktu lagi dan di akhirkan ajalnya supaya bisa memperbaiki hidupanya yang rusak atau meraih kebaikan yang dulu ia remehkan.

Kedua, di akhirat. Yakni ketika setiap amal manusia dibalas, dan ahli Surga dimasukkan ke Surga serta ahli Neraka dimasukkan ke dalam neraka. Ketika itu, setiap ahli Neraka menginginkan jika dikembalikan lagi ke dunia dan memulai hidup baru dengan amal shalih. Tapi ketika itu semua telah terlambat, masa beramal telah usai, yang tinggal hanya masa pembalasan.

Namun sayang, hal ini tak dipedulikan kebanyakan umat islam. Bahkan pada saat ini orang begitu masa bodoh dengan nilai waktu dan sering menyia-nyiakannya. Hari-hari berlalu tanpa diperhitungkan pertanggungjawabannya. Padahal sedetik pun waktu berlalu kecuali kita akan ditanya dengan apa mempergunakan detik itu.

Ada memang, manusia yang begitu sangat perhatian dengan waktu, bahkan dalam benaknya waktu 24 jam sehari semalam itu kurang. Namun, semuanya mereka habiskan untuk urusan duania. Jika demikian, maka ia adalah orang bodoh. Mempersiapkan untuk sesuatu yang singkat dan meninggalkan untuk sesuatu yang abadi. Dia bekerja keras siang malam tak seimbang dengan kemanfaatan yang didapat untuk dirinya. Paling-Paling sekadar nikmatnya makanan di lidah atau kenikmatan materi sesaat lainnya. Dan itulah sesungguhnya gaya orang-orang kafir. Allah berfirman, artinya: ”Dan orang-orang kafir itu bersenang-bersenang (di dunia ) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan Neraka adalah tempat tinggal meraka.” (Muhammad: 12). Ironinya, tak sedikit umat islam yang terbuai dengan gaya hidup ini, sekadar bersenang-senang dan mereguk kenikmatan.

Karakteristik  Waktu

1. Cepat berlanjut. Perputaran dan pergantian waktu begitu cepat bagai angin, baik di waktu sedih maupun gembira. Jika dikatakan hari-hari suka cita berlalu begitu cepat dan hari-hari duka bergerak amat lambat, itu hanyalah perasaan belaka, bukan keadaan sebenarnya. Dan meskipun dalam hidup ini seseorang berumur panjang, sebenarnya pendek belaka karena pasti akan berakhir dengan kematian. Seseorang penyair berkata,”Bila akhir dari umur adalah kematian maka panjang pendeknya umur adalah sama.” Sebab, Manakala maut datang, masa-masa panjang yang pernah dilalui seseorang hanya akan merupakan masa-masa pendek yang berlalu laksana kilat menyambar.

æóíóæúãó íóÍúÔõÑõåõãú ßóÃóä áøóãú íóáúÈóËõæ ÅöáøóÇ ÓóÇÚóÉð ãøöäó áäøóåóÇÑö íóÊóÚóÇÑóÝõæäó Èóíúäóåõãú

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan.” (yunus: 45).

2. Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali dan tidak dapat diganti. Setiap hari berlalu, setiap jam lewat dan setiap kesempatan berjalan, yang semuanya tak mungkin kembali lagi atau dapat digantikan. Ada penyair bersenandung, “seseorang hanyalah pengendara di atas pundak umurnya, berkelana mengikuti hari dan bulan, ia lalui siang dan malam harinya, semakin jauh dari kehidupan semakin, dekat dengan kuburan.” Dan alangkah malang orang yang malah senang dengan pertambah umurnya dengan mengadakan ulang tahun atau acara-acara lain yang justru tidak pernah dituntunkan Islam. Bagaimana ia bisa senang, sementara hari-harinya melenyapkan bulannya, bulannya melenyapkan tahunnya dan tahunnya melenyapkan umurnya lalu berhentinya umur mengusungnya pada kematian? Bagaimana engkau bisa tak sedih dengan umurmu yang pergi tanpa ganti? Manusia sejak diciptakan adalah terus berjalan sebagai musafir, tidak ada tempat berhenti baginya selain Surga atau Neraka.

3. Waktu adalah yang termahal yang dimiliki manusia. Karena waktu berlalu dengan cepat dan tidak akan kembali lagi bahkan tidak ada gantinya, maka waktu adalah harta yang paling mahal dan paling berharga yang dimiliki manusia. Waktu merupakan saat dan tempat yang menampung semua pekerjaan dan hasilnya, dan waktulah modal sesungguhnya bagi manusia: individu maupun masyarakat.

Waktu bukanlah berharga emas semata, sebagaimana dikatakan pepatah, namun ia lebih mahal dari emas, intan, berlian atau sesuatu lain yang sangat mahal, sebab waktu adalah kehidupan. Al Hasan Al-Bashri berkata, "Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah merupakan kumpulan hari-hari, setiap kali hari berlalu akan berlalu pula bagian umurmu."

Karena itu, pergunakanlah hidupmu dengan sebaik-baiknya, sebab umur yang tersisa amatlah pendeknya, dan setiap saat daripadanya adalah tak ternilai harganya, tak ada gantinya. Sungguh kehidupan yang singkat ini akan berbuah nikmat atau adzab. Dan jika engkau membandingkan hidupmu di dunia ini dengan kekekalan akhirat maka engkau akan mengetahui bahwa setiap tarikan nafasmu saat ini akan sama dengan lebih dari 1000 tahun hidup di akhirat, bahkan tak terhinggakan. Karena itu, umurmu ini tak ada apa-apanya dibanding dengan akhirat, maka jangan menyia-nyiakannya tanpa amal. Sungguh, seandainya engkau kehilangan mutiara, pasti engkau tenggelam dalam duka, bahkan meski hanya seribu rupiah, mungkin itu telah membuatmu gundah. Namun mengapa tidak demikian ketika engkau kehilangan waktumu?

Betapa banyak orang yang membuang-buang waktunya dengan percuma, ngobrol yang tidak berfaedah atau bahkan malah berbuat maksiat. sementara umurnya terus merambat menuju mati, tapi ia tidak sadari. Bahkan hingga mereka yang telah berumur 60 tahun. Seyogyanya umur seperti ini cukup membuatnya waspada untuk selalu mengejar pahala menjauhi maksiat dan senantiasa bertaubat. Nabi ﷺ bersabda, artinya: "Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kesempatan kepada seseorang dengan ditangguhkan umurnya hingga mencapai umur 60 tahun." (HR. Al-Bukhari, shahih).

Apalah artinya tinggal di dunia dibanding dengan keabadian akhirat. Dan apalah artinya umur di dunia yang separuh daripadanya untuk tidur dan selebihnya untuk kesia-siaan dan kelailaian? "Menyia-nyiakan waktu adalah lebih dari kematian.Sebab menyia-nyiakan waktu akan memutuskan dari Allah dan kampung akhirat, sedang kematianmu ‘hanya’ memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” (Al Fawa'id, hal 45).

Karena itu, setiap orang hendaknya image waktunya sebagaimana ia menjaga hartanya, bakkan Iebih dari itu, la harus benar-benar memanfaatkan waktunya, untuk kebaikan dunia dan ratnya

"Wahai orang yang sibuk dengan dunianya, serta terpedaya oleh angan-angan. Kematian itu datangnya tiba-tiba, dan kuburan adalah peti amalan

Sungguh amat mengherankan orang yang yakin adanya kematian, tetapi dia bergelimang suka cita, dan sungguh amat mengherankan orang yang yakin adanya Neraka, tapi dia tertawa-tawa!"

Pandangan Orang-orang Salaf Mengenai Waktu Abu Darda' radhiallahu anhu berkata, "Seandainya bukan karena tiga hal tentu aku tidak suka hidup, meskipun hanya sehari; kehausan kepada Allah di terik panas siang hari, sujud kepada Allah di tengah malam dan duduk-duduk bersama orang-orang (shalih) yang selalu memilih yang baik-baik dalam pembicaraan, sebagaimana memilih kurma yang berkualitas."

Syumaith bin 'Ijlan berkata, "Manusia terbagi menjadi dua; mereka yang berbekal dari dunianya atau mereka yang tenggelam menikmati dunianya. Lihatlah, kamu termasuk yang mana? Aku menyaksikanmu begitu cinta untuk tinggal di dunia, mengapa cinta? Jika engkau menta'ati Allah dan beribadah sebaik-baiknya serta mendekatkan diri kepadaNya dengan amal shalih, maka engkau orang yang beruntung. Tetapi jika untuk sekedar makan, minum, bersenang-senang, mengumpulkan dunia serta menikmati hidup bersama isteri dan anak-anak, maka alangkah buruk tinggalmu di dunia."

Imam Syafi'i rahimahullah membagi waktunya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat malam dan sepertiga yang lain untuk tidur.

Yahya bin Mu'adz berkata: "Malam itu panjang. maka jangan pendekkan dengan tidurmu dan siang itu begitu jernih maka jangan kotori dengan dosa-dosamu."

Wahib bin Al-Ward berkata: "Jika engkau bisa agar tidak seorang pun mendahuluimu menuju (ketaatan kepada) Allah maka lakukanlah!"

Seorang salaf berkata: "Keberuntungan terbesar di dunia ini adalah jika engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang utama dan bermanfaat untuk akhiratmu." Dan yang lain berkata: "Waktu adalah sesuatu yang paling berharga yang hendaknya engkau jaga, namun aku melihat ia sesuatu yang paling gampang engkau sia-siakan."

Al-Jariri berkata: "Aku berdiri di dekat kepala Al-Junaid saat beliau sekarat, dan ketika itu beliau sedang membaca Al-Qur'an. Maka kukatakan padanya, "Kasihanilah dirimu! Ia menyahut, Wahai Abu Muhammad (panggilan Al-Jariri), apakah engkau melihat ada orang yang lebih membutuhkan kepada Al-Qur'an daripadaku saat ini. Lihatlah, buku catatan amalku akan dilipat! Beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an, lalu memulai lagi membaca surat Al-Baqarah, setelah membaca 70 ayat, beliau rahimahullah wafat. (Thabaqat Asy-Syafi'iyyah, 4/283).

Dunia ini seluruhnya adalah bulan puasanya or-ang-orang bertakwa, sedang hari rayanya adalah hari pertemuan dengan Rabb-Nya. Dan sungguh sebagian besar puasa di siang harinya telah lewat dan hari raya pertemuannya telah dekat." (Latha 'iful Ma'arif, hal. 43).

Sungguh terlalu mulia jika waktu disia-siakan meski hanya sesaat. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengucapkan subhanallahil adzim wa bihamdih (Mahasuci Allah Yang Mahaagung dan dengan memujiNya), niscaya karenanya akan ditanam untuknya sebuah pohon korma di Surga." (HR. Al-Bukhari).

Hari Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin

Ibrahim Al-Harbi, seorang muhaddits berkata. "Aku telah menemani Imam Ahmad bin Hanbal selama 20 tahun, musim gugur maupun musim semi, musim panas maupun musim dingin, di malam dan di sang hari, sungguh aku tidak mendapatinya suatu hari kecuali hari itu lebih bertambah (kebaikannya) dari hari kemarin." (Manaqib Ahmad bin Hambul, 5/14, Ibnul Jauzi)

Karena itu salah seorang Salat berkata, "Barangsiapa yang hari ininya seperti hari kemarin maka ia adalah orang yang tertipu dan barangsiapa yang hari ininya lebih buruk dari hari kemarin maka ia adalah orang yang tercela."


Berlomba dalam Kebaikan

Ketika para sahabat mendengar firman Allah:

ÝÇÓÊÈÞæÇ ÇáÎíÑÇÊ

"Berlomba-lombalah dalam kebaikan" (Al-Baqarah: 148) mereka memahami bahwa yang dimaksud adalah masing-masing hendaknya bersungguh-sungguh untuk bisa mengalahkan kawannya dalam hal kebaikan. Jika salah seorang dari mereka melihat ada orang yang mampu berbuat (baik) yang ia tidak kuasa melakukannya, ia takut jangan-jangan orang itulah yang menang atasnya (dalam kebaikan), sehingga ia bersedih karena tidak bisa mendahuluinya. Perlombaan mereka adalah dalam mendapatkan derajat akhirat. Setelah itu datang suatu generasi yang persaingan mereka dalam urusan dunia dan kenikmatannya yang fana. Maka tepatlah nasihat Al-Hasan Al-Bashri, 'Jika engkau melihat ada orang yang mengalahkanmu dalam urusan dunia kalahkanlah dia dalam urusan akhirat." (Lihat, Ightanim Faraghak, hal. 64-65).


Mulailah Sekarang

Banyak orang yang berniat untuk bertobat, berbuat baik, meninggalkan kemaksiatan dan sebagainya, tetapi semuanya berhenti pada niat, keinginan, harapan dan angan-angan. "Betapa pahala telah menghampirimu, tetapi ia berhenti di depan pintu, lalu ditolak oleh penjaganya dengan kata-kata "akan, mudah-mudahan, semoga".

"Dan tidaklah umur manusia itu kecuali tiga hari saja, hari yang telah berlalu dengan segala yang ada di dalamnya, berlalu kenikmatannya dan masih mendapat pertanggungjawabannya, hari dinanti yang nada lain ia ada dalam angan-angan, dan hari yang Anda berada di dalamnya sedang telah ada yang berteriak memanggilmu untuk mati, karena itu bersabarlah di dalamnya dari ajakan hawa nafsu, sebab jika kesabaran telah sampai pada yang dicintainya, semua menjadi mudah." (At-Tabshirah: 2/102)

"Orang yang cerdik adalah orang yang dapa menundukkan nafsunya dan berbuat untuk kepentingan setelah mati, sedang orang yang lemah (bodok) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan angan-angan yang Insong" (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Seorang penyair berkata, "Tak akan kutunda pekerjaan hari ini hingga esok karena malas. Sungguh esok adalah hari bagi para pemalas."

Keputusan itu kini ada di tanganmu, meniti jalan Allah dengan melakukan segala perintah Nya dan menjauhi segala laranganNya sekarang, atau engkau tetap tenggelam dalam kemaksiatan. Ya Rahman, bimbinglah kami ke jalan kebenaran. (Ainul Haris).

Sumber, Al-Wagtu Anfasun La Ta'ud, Abdul Malik Qasim; Ightanim Faraghak Qabla Syughlik, Abdul Hadi Wahbi: Da'il Faragh, Darul Wathan: Kiat Panjang Umur Penuh Berkah, Muhammad An-Na'im dll.

Buletin Jum atan An-Nur (edisi kix) diterbitkan shyosan Alva Jakarta Ganti ongkos cetak Rp. 750-embar. Pesma 25 per edist, bebas ongkos kirim. No, rekening 342-1685701 BCA M Jakarta atas nama Ridha Rosad, PENASIHAT Abu Bakar RETUR PENYUNTING. Ainul Haris. SEKRETARIS REDAKSE A SIDANG REDAKSI Abu Bakar Anul Hans Ahmad Ma Anat Amin Shab. BAGIAN DISTRIBUSI Khair Mutu Rad Ismail, Nurdin Burhan. Redaksi menerima naskah yang saya dakwah An-Nur




An-Nur edisi lux hingga Dzulhijjah 1419 H.

1. Sudahkan Kita Bersyukur?

2. (60) Pintu Meraih Pahala & Melebur Dosa.

3. Waktu Adalah Nafas Yang Tak Akan Kembali.
Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkonsultasi&id=4257