Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Jika Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jumat, Bagaimana Menyikapinya?
Sabtu, 20 Oktober 12

Diantara sebagian kaum Muslimin ada yang bertanya-tanya tentang seputar apabila Hari Raya (Ied) bertepatan dengan hari Jum'at...Apakah bagi yang telah melakukan shalat Ied, tetap diharuskan shalat Jum'at..? Ataukah shalat Jum'at tersebut menjadi gugur..? Lalu bagi orang yang tidak shalat Jum'at, apakah ia tetap shalat Zhuhur atau tidak..? Oleh karena itu dalam rubrik konsultasi ini, sengaja kami angkat permasalahan tersebut yang kami nukilkan dari fatwa-fatwa para Ulama dengan harapan semoga bermanfaat.

1. Pertanyaan : Jika datang Idul Fithri pada hari Jumat apakah boleh bagiku untuk shalat Id namun aku tidak shalat Jumat, atau sebaliknya?

Jawab : Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jumat maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat id berjamaah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jumat, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jumat maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur.

Ini berlaku bagi selain imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jumat dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jumat pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali. (Oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)

2. Pertanyaan: Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jumat dan Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat Zhuhur jika kita tidak shalat Jumat, ataukah kewajiban shalat Zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jumat?

Jawab: Barangsiapa yang melaksanakan shalat Id bertepatan dengan hari Jumat, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jumat pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jumat bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jumat, baik yang sudah shalat Id maupun tidak shalat Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jumat darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur. (Para ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata:


: : : ڿ : ɡ :

Aku menyaksikan Muawiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dua Id bertepatan pada satu hari? Zaid menjawab, Ya. Muawiyah bertanya lagi, Bagaimana yang beliau lakukan? Zaid menjawab, Beliau mengerjakan shalat Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jumat. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jumat), maka silakan mengerjakan shalat (Jumat). [HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud - Al-Umm no. 981.]

Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:


ɡ

"Telah terkumpul pada hari kalian ini dua Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jumat. Sesungguhnya kita memadukan (dua id)." [HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud - Al-Umm no. 983]

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jumat bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat Id pada hari tersebut.

Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, Sesungguhnya kita memadukan (dua id).

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Numan bin Basyir radhiyallahu anhuma:


ɡ

Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jumat dan shalat Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (Id dan Jumat).

Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jumat bagi yang telah menunaikan shalat Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jumat.


.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta`
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
Anggota: Abdullah bin Quud.

Adapun dalam fatwa 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :

Apabila Id bertepatan dengan hari Jumat, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jumat bagi orang yang telah menunaikan shalat Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jumat tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jumat.

Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Syabi, Al-Imam An-Nakhai, Al-Imam Al-Auzai. Ini adalah madzhab shahabat Umar, Utsman, Ali, Said, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu anhum dan para ulama yang sependapat dengan mereka. [Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta`]

3. Pertanyaan : Apa hukum shalat Jumat jika bertepatan dengan hari Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari Id bertepatan dengan hari Jumat berarti tidak ada shalat shalat Jumat.

Jawab : Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jumat untuk menegakkan shalat Jumat, hadir ke masjid, dan shalat berjamaah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegakkan shalat Jumat pada hari Id, beliau alahish shalatu was salam melaksanakan shalat Id dan shalat Jumat. Terkadang beliau dalam shalat Id dan shalat Jumat sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Numan bin Basyir radhiyallahu anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).

Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jumat dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjamaah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat Id.

Apabila dia melaksanakan shalat Jumat berjamaah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jumat, karena ia telah melaksanakan shalat Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjamaah. Wallahu Waliyyut Taufiq.(Oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah, Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiah XII/341-342)

Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika Id bertepatan dengan hari Jumat, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat Id gugur kewajiban shalat Jumat dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :
Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Taala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jumat adalah kewajiban shalat Jumat. Hari Id apabila bertepatan dengan hari Jumat termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat Id niscaya Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jumat bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syari, serta ijma (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Dulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jumat pada (hari yang bertepatan dengan) hari Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Numan bin Basyir:


ɡ

Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jumat dan shalat Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (Id dan Jumat).

Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jumat maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jumat, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jumat, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jumat dan Zhuhur yang sudah shalat Id maka keumuman dalil-dalil syari, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapa yang tidak shalat Jumat dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu anhu.(Oleh, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Majmu, Fatawa wa Maqalat Mutanawwiah XXX/261-262)

4. Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa..

Kita katakan, Apabila hari Jumat bertepatan dengan Id maka engkau wajib shalat Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jumat bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.

Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jumat di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jumat, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.

Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jumat, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid). Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah. (Oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, Fatawa Nur ala Ad-Darb - Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

[Sumber: http://www.assalafy.org]

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkonsultasi&id=3503