Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Berusaha Kabur
Rabu, 23 Oktober 13

Pembantu rumah tangga ini tak henti-hentinya melakukan tindak kejahatan, bahkan sudah sampai pada tingkat yang bervariasi. Sebagaimana yang terjadi di sejumlah drama seri dan film. Kedua wanita pemeran kejahatan ini, alias Mankeke dan Sivasa –jika ada hero untuk peran kejahatan- mereka sudah mempersiapkan skenario untuk tindak kejahatan itu secara matang.

Masing-masing dari Mankeke dan Sivasa sepakat untuk kabur dari rumah majikan wanitanya setelah dijejali pekerjaan, ditambah lagi bentuk tanggung jawab yang dilimpahkan kepada mereka dan tercegahnya mereka dari keluar rumah. Hanya saja, mereka tidak bisa kabur mengingat kedua paspor mereka yang masih dipegang majikan wanitanya. Mankeke mulai menyusun strategi untuk menghabisi majikan wanitanya dan mengambil alih paspor-paspor mereka untuk kabur. Ketika Mankeke sudah merasa mantap dengan idenya, maka dia bersama teman wanitanya, Sivasa sepakat untuk melaksanakan kejahatan mereka.

Kedua pembantu ini pun melaksanakan rencana pembalasan dendam mereka yang mengerikan. Setelah Sivasa merasa yakin semua penghuni rumah sudah lelap tertidur, dia pun mengunci semua pintu rapat-rapat. Dia membawa pisau dan memutus kabel kawat telepon dan listrik karena takut bila korban menghubungi seseorang untuk menyelamatkannya.

Sehabis itu, Sivasa memberitahu Mankeke bahwa tempat sudah aman untuk melaksanakan aksi kejahatan. Keduanya bergegas turun ke lantai bawah tempat di mana kamar korban berada. Sivasa mengawasi semua ruangan, lalu sesekali berdiri di dekat kamar korban bagian luar, dan sesekali berdiri di depan tangga naik menuju lantai atas. Itu demi membantu teman wanitanya dalam melancarkan kejahatannya, tanpa ada seorang pun yang mencurigainya.

Dengan berpakaian lelaki, Mankeke berjalan meng-endap-endap ke arah kamar majikan wanitanya, dan cukuplah baginya berusaha membunuhnya dengan menusukkan gunting yang tajam ke tubuhnya. Hanya saja, dia tidak bisa melakukan itu mengingat teriakan minta tolong dan jeritan sang korban. Seketika, suami korban terbangun dari tidurnya mendengar teriakan itu dan buru-buru lari menuju kamar istrinya yang bersebelahan dengan kamarnya. Dia pun menemukan istrinya pingsan tak sadarkan diri dan mengalami sesak nafas, sedangkan darah mengucur deras dari wajahnya. Ketika dia melacak seisi rumah untuk menangkap pelaku, nyata baginya bahwa rumah terkunci rapat dan seseorang dari luar tidak mungkin bisa masuk ke dalam rumah.

Di tengah-tengah situasi semacam itu, kedua wanita pembantu ini pun telah mengganti pakaian lelakinya dan mengenakan pakaian kebiasaannya dan turun ke lantai bawah seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Keduanya bergegas ke kamar majikan wanitanya untuk melihat kejadian dan mencari tahu sebab yang memaksa majikannya meminta pertolongan.

Setelah keduanya masuk kamar, mereka pun menjerit ketakutan sewaktu menyaksikan korban, sedang darah terus mengucur deras dari tubuh korban. Mereka lari karena takut dihukum. Secara menakjubkan, sang majikan selamat dari kematian. Setelah hampir sembuh, dia bersaksi bahwa dia dikejutkan seorang yang menusuknya dengan gunting tajam ke sekujur tubuhnya dan menampar keras wajahnya. Lalu, dia meminta tolong dan si pelaku pun kabur. Dia juga berkata bahwa si pelaku mengenakan pakaian lelaki dan topeng hitam pada mukanya yang membuatnya sukar untuk mengenali jati dirinya. Hanya saja dia tahu dari sosok tubuhnya bahwa pelaku adalah seorang wanita yang berambut panjang mirip pembantunya yang menjadi tersangka pertama. Dari situ dia merasa yakin sewaktu melihat kedua tangan pelaku dan mantap bahwa keduanya adalah tangan pembantunya, Mankeke.

Ketika kedua tersangka disidang di depan meja pengadilan, masing-masing mengingkari apa yang dituduhkan kepada mereka. Dari hasil penyelidikan terbukti bahwa kedua paspor berada di dompet kedua tersangka dan tidak di tangan korban, dan bahwa pengakuan mereka mencuri secara spontanitas kedua paspor itu tidak ada dasar kebenarannya. Masing-masing hanya mereka-reka cerita untuk dapat berlepas diri dari tuduhan melakukan tindak kejahatan. Masing-masing dari mereka telah diinterogasi, dan ternyata di sela-sela interogasi itu ucapan-ucapan mereka saling tumpang tindih. Mankeke menyangkal dia telah berbuat kejahatan, sedang pada gilirannya, Sivasa yang berupaya menghapus tuduhan ini menuduh Mankeke dengan mengatakan, "Mankekelah otak pelaku tindak kejahatan ini dan yang mengaturnya."

Sumber: Serial Kisah Teladan 3, Muhamad Shalih Al-Qahthani, Hal: 63, Penerbit Darul Haq

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkisah&id=324