Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Teruskan Ketaatan Pasca Ramadhan
Kamis, 09 April 26

[Khutbah Pertama :]


Åä ÇáÍãÏ ááå äÍãÏå æäÓÊÚíäå æäÓÊÛÝÑå æäÊæÈ Åáíå ¡ æäÚæÐ ÈÇááå ãä ÔÑæÑ ÃäÝÓäÇ æÓíÆÇÊ ÃÚãÇáäÇ ¡ ãä íåÏå Çááå ÝáÇ ãÖá áå æãä íÖáá ÝáÇ åÇÏí áå ¡ æÃÔåÏ Ãä áÇ Åáå ÅáÇ Çááå æÍÏå áÇ ÔÑíß áå ¡ æÃÔåÏ Ãä ãÍãÏÇð ÚÈÏå æÑÓæáå Õáì Çááå Úáíå æÚáì Âáå æÃÕÍÇÈå æÃÊÈÇÚå Åáì íæã ÇáÏøíä æÓáã ÊÓáíãÇ ðßËíÑÇ .
ÃãÇ ÈÚÏ :
ÃíåÇ ÇáãÄãäæä ÚÈÇÏ Çááå


Khatib wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan Anda sekalian, hendaklah kita bertakwa kepada Allah azza wa jalla, karena sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-.

Ibadallah !

Takwa merupakan wasiat Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-terhadap orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian. Takwa merupakan sebab keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Takwa kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-adalah seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- di atas cayaha (petunjuk) dari Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, ia mengharapkan pahala dari Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, meninggalkan tindak kemaksiatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- di atas cahaya (petunjuk) dari Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, ia takut akan azab dan siksa Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-.

Ibadallah !

Telah berlalu dari kita semuanya musim nan mulia dari musim-musim ketaatan, hari-hari nan agung dari hari-hari ibadah, yaitu musim Ramadhan yang penuh berkah, hari-harinya yang mulia dan malam-malamnya yang utama.

Di bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman sedemikian bersemangat untuk beribadah kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan sedemikian bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, mereka saling berlomba dalam memasuki pintu-pintu kebaikan dan melakukan amal-amal shaleh. Dan, seorang mukmin itu tentunya akan bergembira dengan kegembiraan yang sangat besar dengan bertambahnya ketaatan dan berlombanya manusia dalam ibadah dan apa yang mereka lakukan berupa memasuki pintu-pintu kebaikan di bulan yang agung tersebut.

Ibadallah !

Akan tetapi seorang muslim wajib mewaspadai bahwa ibadah kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan berlomba melakukan ketaatan serta bersungguh-sungguh dalam melakukan hal-hal yang diridhai Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- tidaklah berhenti pada suatu bulan atau hari-hari tertentu. Karena itu, meskipun bulan Ramadhan yang penuh berkah telah usai, sesungguhnya ibadah seseorang tidaklah usai. Meskipun hari-harinya yang penuh berkah dan malam-malamnya yang utama telah usai, sesungguhnya amal-amal kebaikan tidak akan selesai. Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-berfirman di dalam kitab-Nya yang agung,


æóÇÚúÈõÏú ÑóÈøóßó ÍóÊøóì íóÃúÊöíóßó ÇáúíóÞöíäõ [ÇáÍÌÑ : 99]


Dan sembahlah Tuhanmu sampai perkara yang diyakini datang kepadamu (al-Hijr : 99).

Perkara yang diyakini itu adalah al-Maut (kematian). Maka, seorang muslim diminta untuk melanggengkan ketaatannya kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, terus melanjutkan ibadahnya kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- hingga Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-mematikan dirinya.


íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááøóåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáóÇ ÊóãõæÊõäøó ÅöáøóÇ æóÃóäúÊõãú ãõÓúáöãõæäó [Âá ÚãÑÇä : 102]


Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim (Ali Imran : 102)

Yakni, kerahkanlah segenap kesungguhan kalian dalam beribadah kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan saling berlombalah kalian dalam melakukan hal-hal yang diridhai-Nya hingga kalian mati di atas hal tersebut.

Dan termasuk hal yang telah dimaklumi oleh setiap orang bahwa dirinya tidak tahu kapankah akhir hidupnya dan kapankah datang ajalnya. Oleh karena itu, sesungguhnya seorang muslim itu diminta untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian pada setiap waktu dan kesempatan. Sehingga, ia selalu saja menjaga keadaannya di atas ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-, melaksanakan apa-apa yang Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-perintahkan sesuai dengan kesanggupannya, menjauhkan diri dari apa-apa yang Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-larang dan apa-apa yang diharamkan-Nya berupa perbuatan-perbuatan yang diharamkan, kefasikan, kemaksiatan dan dosa-dosa.

Ibadallah !

Sungguh ada banyak orang sedemikian bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam beribadah di bulan Ramadhan, namun kala Ramadhan usai, usai pula ibadah mereka, atau mereka bermalas-malasan untuk beribadah dan dalam beribadah, atau mengendor semangatnya untuk menjalankan ibadahnya, atau banyak pintu-pintu kebaikan yang disepelekannya, seakan-akan ibadah itu hanya diminta dari seorang insan di bulan Ramadhan saja. Dulu, seorang salaf ditanya tentang keadaan mereka orang-orang yang tidak bersemangat dan tidak pula bersungguh-sungguh di dalam beribadah kecuali pada bulan Ramadhan saja. Maka, ia pun menjawab,


"ÈöÆúÓó ÇáúÞóæúãö áóÇ íóÚúÑöÝõæúäó Çááåó ÅöáøóÇ Ýöí ÑóãóÖóÇäó " .


Sejelek-jelek kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-kecuali pada bulan Ramadhan.

Ibadallah !

Sesungguhnya Tuhan bulan-bulan itu satu. Sesungguhnya Tuhan bulan Ramadhan adalah Tuhan bulan Syawal, dan Dia-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-adalah Tuhan bulan-bulan itu semuanya. Sebagaimana halnya seseorang hendaknya menjaga ketaatan dan ibadah kepada-Nya pada bulan Ramadhan, maka wajib atas setiap muslim untuk menjaga ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan kesempatan ; di semua bulan seluruhnya dan di sepanjang tahun semuanya sampai Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-mematikannya sementara ia dalam keadaan yang diridhai-Nya dan dalam perjalanan hidup yang diridhai-Nya pula. Inilah makna firman Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-di dalam al-Qur’an al-Karim,


Åöäøó ÇáøóÐöíäó ÞóÇáõæÇ ÑóÈøõäóÇ Çááøóåõ Ëõãøó ÇÓúÊóÞóÇãõæÇ [ÝÕáÊ : 30]


Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (Fushshilat : 30)

Yakni, mereka meneguhkan pendirian mereka di atas ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan mereka kontinyu beribadah kepada-Nya, mereka melewati dan memasuki pintu-pintu kebaikan sampai Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- mematikan mereka. Maka, merekalah orang-orang yang memperoleh keuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-menyebutkan keuntungan yang sangat besar dan ghanimah yang sangat banyak di dunia dan di akhirat bagi siapa saja yang keadaannya demikian ini dan siapa saja yang akhir kehidupannya dalam keadaan demikian itu.

Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-berfirman,


Åöäøó ÇáøóÐöíäó ÞóÇáõæÇ ÑóÈøõäóÇ Çááøóåõ Ëõãøó ÇÓúÊóÞóÇãõæÇ ÝóáóÇ ÎóæúÝñ Úóáóíúåöãú æóáóÇ åõãú íóÍúÒóäõæäó [ÇáÃÍÞÇÝ : 13]


Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati (al-Ahqaf : 13)

Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-juga berfirman,


Åöäøó ÇáøóÐöíäó ÞóÇáõæÇ ÑóÈøõäóÇ Çááøóåõ Ëõãøó ÇÓúÊóÞóÇãõæÇ ÊóÊóäóÒøóáõ Úóáóíúåöãõ ÇáúãóáóÇÆößóÉõ ÃóáøóÇ ÊóÎóÇÝõæÇ æóáóÇ ÊóÍúÒóäõæÇ æóÃóÈúÔöÑõæÇ ÈöÇáúÌóäøóÉö ÇáøóÊöí ßõäúÊõãú ÊõæÚóÏõæäó (30) äóÍúäõ ÃóæúáöíóÇÄõßõãú Ýöí ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÝöí ÇáúÂÎöÑóÉö æóáóßõãú ÝöíåóÇ ãóÇ ÊóÔúÊóåöí ÃóäúÝõÓõßõãú æóáóßõãú ÝöíåóÇ ãóÇ ÊóÏøóÚõæäó (31) äõÒõáðÇ ãöäú ÛóÝõæÑò ÑóÍöíãò (32) [ÝÕáÊ : 30 - 32]


Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta.

(Semua itu) sebagai karunia (penghormatan bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat : 30-32)

Kesemuanya itu-wahai hamba-hamba Allah !- hanyalah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan istiqamah di atas ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- sampai Allah -ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- mematikannya, dan ketika wafat, sebagaimana Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-kabarkan akan turun malaikat-malaikat (kepadanya) ; para malaikat rahmat yang membawa kabar gembira yang paling agung dan ucapan selamat yang paling agung, dan diberkahi dengan kebaikan, para malaikat itu akan turun kepada orang yang seperti ini keadaannya pada saat wafatnya memberikan kabar gembira kepadanya berupa akhir kehidupan yang bahagia dan keadaan yang terbimbing yang akan dijumpainya setelah wafatnya,


ÊóÊóäóÒøóáõ Úóáóíúåöãõ ÇáúãóáóÇÆößóÉõ ÃóáøóÇ ÊóÎóÇÝõæÇ æóáóÇ ÊóÍúÒóäõæÇ


akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati

Janganlah kamu takut terhadap apa-apa yang akan kamu datangi, karena sesungguhnya kamu datang di atas sebuah keadaan yang nyaman dan pahala yang besar serta keridhaan dari Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-. Dan, jangan pula bersedih hati atas apa-apa yang kamu berpisah dengannya berupa keluarga dan anak-anak, karena mereka dalam penjagaan Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- dan pemeliharaan-Nya serta bimbingan dan taufiq-Nya.

Demikian pula mereka diberi kabar gembira ketika kematiannya,


ÃóáøóÇ ÊóÎóÇÝõæÇ æóáóÇ ÊóÍúÒóäõæÇ æóÃóÈúÔöÑõæÇ ÈöÇáúÌóäøóÉö


“Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga.”

Yakni, demi Allah, akan dikatakan kepada mereka saat wafat mereka, ‘bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga’. Yakni, bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- yang kalian telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya dalam kehidupan kalian (di dunia) dan kalian telah mengerahkan segenap upaya untuk memperolehnya sepanjag hari-hari kalian, dan kalian telah beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-.” Oleh karena ini, saat kematian mereka, mereka diberi kabar gembira.

Karena itu banyak kalangan orang yang taat dan bersungguh-sungguh di dalam beristiqamah dan menjaga ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- tersenyum saat kematian mereka dan nampak kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan pada wajah mereka. Hal tersebut nampak pada mereka saat kematian. Ini merupakan hasil yang pasti karena berita gembira nan agung dan penghormantan yang mulia yang diberikan kepada mereka saat kematian mereka.

Khatib memohon kepada Allah-Ìóáøó æóÚóáóÇ-dengan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi agar menuliskan untuk-ku dan untuk Anda sekalian akhir kehidupan yang mulia itu dan tempat kembali yang terbimbing itu dengan karunia Allah-Ìóáøó æóÚóáóÇ-, taufiq-Nya, pertolongan-Nya.

Ibadallah !

Sebagaimana halnya bahwa bulan Ramadhan adalah bulan puasa. Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-wajibkan ketaatan yang agung dan kewajiban yang mulia tersebut pada bulan tersebut sebulan lamanya, maka sesungguhnya puasa itu tidak berhenti dengan usainya bulan Ramadhan.

Ibadallah !

Betul, bahwa puasa yang diwajibkan tidak ada kecuali pada bulan Ramadhan, akan tetapi meskipun puasa di bulan Ramadhan telah usai, masih saja tersisa bersama seorang muslim puasa nafilah (puasa sunah), dan di antara puasa sunnah yang paling agung adalah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Dan, bulan syawwal itu, saat ini masih menyisakan sejumlah hari-harinya, yang mana jika di antara kita ada yang belum melakukan puasa 6 hari dari bulan syawal nan utama ini, lalu ia memulai puasanya besok hari, atau lusa, niscaya masih mencukupinya waktu-waktunya. Maka, bergegaslah melakukan puasa nan utama ini, agar Anda tak ketinggalan untuk meraih keutamannya.

Ibadallah !

Sungguh, puasa 6 hari pada bulan syawwal ini, setelah seseorang menyelesaikan puasa Ramadhanya merupakan amal shaleh nan utama, merupakan amal ketaatan seorang hamba kepada Allah azza wa jalla yang sangat utama.

Disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam shahihnya dari Abu Ayub al-Anshariy bahwa Nabi-Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó – bersabda,


(( ãóäú ÕóÇãó ÑóãóÖóÇäó Ëõãøó ÃóÊúÈóÚóåõ ÓöÊøðÇ ãöäú ÔóæøóÇáò ßóÇäó ßóÕöíóÇãö ÇáÏøóåúÑö)).


Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal hal itu seperti puasa setahun.

Ibadallah !

Sesungguhnya puasa 6 hari pada bulan Syawal terdapat beberapa faedah yang agung dan keuntungan yang besar serta manfaat yang banyak, di antaranya-wahai hamba-hamba Allah !- adalah :

Bahwa tindakan berpuasa 6 hari dari bulan Syawal merupakan kesyukuran seorang hamba kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-atas (nikmat berupa) taufiq dapat menyempurnakan puasa bulan Ramadhan. Sesungguhnya termasuk kesyukuran terhadap nikmat yang agung adalah kesyukuran setelahnya. Sesungguhnya termasuk kesyukuran kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-atas taufiq sehingga dapat melakukan ketaatan adalah melakukan ketaatan setelahnya. Oleh karena itu, sesungguhnya termasuk bentuk kesyukuranmu kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- atas taufiq-Nya kepadamu untuk menunaikan puasa Ramadhan adalah kamu bersegera untuk menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawwal sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-atas (nikmat) taufiq-Nya.

Ibadallah !

Termasuk faedah puasa 6 hari dari bulan Syawal adalah bahwa puasa 6 hari dari bulan Syawal kedudukannya seperti shalat sunnah setelah shalat wajib. Sebagaimana halnya shalat wajib disyariatkan setelahnya mengerjakan shalat sunnah yang akan dapat menambal dan menutupi kekurangan shalat fardhu dan menyempurnakan apa-apa yang terjadi di dalamnya berupa kesalahan dan keteledoran, maka puasa 6 hari dari bulan Syawal laksana shalat sunnah setelah shalat wajib. Dan tidak diragukan bahwa setiap orang di antara kita terjadi pada dirinya kekurangan pada puasa Ramadhan yang dilakukannya, maka datanglah enam hari ini untuk menambal kekurangan pada puasa Ramadhannya.

Ibadallah !

Termasuk faedah puasa 6 hari dari bulan syawal adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi-Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó- dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu sabda beliau-Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó-


(( ßóÇäó ßóÕöíóÇãö ÇáÏøóåúÑö ))


Hal tersebut seperti puasa setahun

Karena sesungguhnya satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Dan, puasa Ramadhan -atas dasar ini- sebanding dengan puasa 10 bulan lamanya, lalu jika seseorang mengikutinya dengan puasa 6 hari dari bulan Syawal, maka puasa syawal itu sebanding dengan puasa selama 60 hari, sedangkan setahun itu jumlah harinya adalah 360 hari; sehingga seakan-akan seseorang telah berpuasa setahun penuh. Maka, jika seseorang demikian itu keadaannya sepanjang hidupnya, di mana ia berpuasa Ramadhan dan kemudian ia mengikutinya dengan berpuasa 6 hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan ia telah berpuasa sepanjang tahun penuh.

Ibadallah !

Kemudian, sesungguhnya puasa 6 hari dari bulan Syawal padanya terdapat faedah lain yang tak kalah agungnya, yaitu bahwa melakukan puasanya merupakan tanda dari tanda-tanda diterimanya (puasa Ramadhannya) dan juga merupakan tanda dari tanda-tanda keridhaan (Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-terhadap dirinya), karena termasuk tanda diterimanya ketaatan itu adalah dilakukannya ketaatan setelahnya, dan termasuk tanda diterimanya ibadah adalah dilakukannya ibadah setelahnya.

Oleh karena itu-wahai hamba-hamba Allah-setiap orang berharap bahwa Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì- menerima darinya puasanya dan shalat malamnya, dan di antara tanda diterimanya amal tersebut adalah bahwa keadaan orang tersebut setelah melakukan ketaatan lebih baik dari keadaannya sebelum melakukan ketaatan tersebut. Maka, bila mana ia lalai dan kurang melakukan kebaikan, maka ia, setelah Ramadhan menjadi orang yang bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika keadaannya sebelum Ramadhan baik, maka keadaanya setelah Ramadhan menjadi lebih baik. Ini semuanya termasuk tanda diterimanya amal seorang hamba.

Ibadallah...!

Kita memohon kepada Allah-Ìóáøó æóÚóáóÇ-agar berkenan menerima dari kita dan dari kalian semuanya puasa kita dan shalat malam kita, dan semoga pula Dia-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-membimbing kita semuanya untuk dapat melakukan setiap kebaikan, serta menolong kita semuanya untuk dapat terus istiqamah di atas ketaatan kepada Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-dan melanggengkan ibadah kepada-Nya-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-.

Semoga pula Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-menunjukan kita semuanya ke jalan-Nya yang lurus, melindungi kita dari keburukan-keburukan seluruhnya dan dari fitnah-fitnah semuanya.


ÃÞæá åÐÇ ÇáÞæá æÃÓÊÛÝÑ Çááå áí æáßã æáÓÇÆÑ ÇáãÓáãíä ãä ßá ÐäÈ ÝÇÓÊÛÝÑæå íÛÝÑ áßã Åäå åæ ÇáÛÝæÑ ÇáÑÍíã.


[Khutbah Kedua :]


ÇáÍãÏ ááå ÚÙíã ÇáÅÍÓÇä æÇÓÚ ÇáÝÖá æÇáÌæÏ æÇáÇãÊäÇä ¡ æÃÔåÏ Ãä áÇ Åáå ÅáÇ Çááå æÍÏå áÇ ÔÑíß áå ¡ æÃÔåÏ Ãä ãÍãÏÇð ÚÈÏå æÑÓæáå º Õáì Çááå Úáíå æÚáì Âáå æÃÕÍÇÈå ÃÌãÚíä æÓáã ÊÓáíãÇð ßËíÑÇ .
ÃãÇ ÈÚÏ ÚÈÇÏ Çááå :


Bertakwalah kepada Allah ! dan ucapkanlah perkataan yang benar !


íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑú áóßõãú ÐõäõæÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááøóåó æóÑóÓõæáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíãðÇ [ÇáÃÍÒÇÈ : 71]


niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.

Ibadallah !

Kemudian, bershalawatlah dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepada Nabi kita Muhammad bin Abdillah Õáì Çááå Úáíå æÓáã, sebagaimana Allah-ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì-perintahkan hal tersebut kepada kalian di dalam kitab-Nya seraya berfirman,


Åöäøó Çááøóåó æóãóáóÇÆößóÊóåõ íõÕóáøõæäó Úóáóì ÇáäøóÈöíøö íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÕóáøõæÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæÇ ÊóÓúáöíãðÇ [ÇáÃÍÒÇÈ : 56]


Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman ! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (al-Ahzab : 56)

Ibadallah !

Perbanyaklah bershalawat kepada Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó di hari ini, hari Jum’at, karena Nabi kita Muhammad Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mengatakan :


Åöäøó ãöäú ÃóÝúÖóáö ÃóíøóÇãößõãú íóæúãó ÇáúÌõãõÚóÉö ÝóÃóßúËöÑõæÇ Úóáóìøó ãöäó ÇáÕøóáÇóÉö Ýöíåö


Sesungguhnya hari Jum’at termasuk seutama-utama hari-hari kalian. Maka, perbanyaklah oleh kalian bershalawat kepadaku pada hari tersebut. (HR. Abu Dawud)

Dan, Nabi kita Muhammad-Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó-telah bersabda,


(( ãóäú Õóáøóì Úóáóíøó ÕóáÇÉð Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö ÈöåóÇ ÚóÔúÑðÇ))


Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, nicaya Allah bershalawat kepadanya 10 kali. (HR. Abu Dawud)


Çááåã Õáøö Úáì ãÍãÏ æÚáì Âá ãÍãÏ ßãÇ ÕáíÊ Úáì ÅÈÑÇåíã æÚáì Âá ÅÈÑÇåíã Åäß ÍãíÏ ãÌíÏ ¡ æÈÇÑß Úáì ãÍãÏ æÚáì Âá ãÍãÏ ßãÇ ÈÇÑßÊ Úáì ÅÈÑÇåíã æÚáì Âá ÅÈÑÇåíã Åäß ÍãíÏ ãÌíÏ .
æÇÑÖ Çááåã Úä ÇáÎáÝÇÁ ÇáÑÇÔÏíä ÇáÃÆãÉ ÇáãåÏííä º ÃÈí ÈßÑ ÇáÕÏíÞ ¡ æÚãÑ ÇáÝÇÑæÞ ¡ æÚËãÇä Ðí ÇáäæÑíä ¡ æÃÈí ÇáÓÈØíä Úáí .
æÇÑÖ Çááåã Úä ÇáÕÍÇÈÉ ÃÌãÚíä æÚä ÇáÊÇÈÚíä æãä ÇÊÈÚåã ÈÅÍÓÇä Åáì íæã ÇáÏíä ¡ æÚäÇ ãÚåã Èãäß æßÑãß æÅÍÓÇäß íÇ ÃßÑã ÇáÃßÑãíä .
Çááåã ÃÚÒ ÇáÅÓáÇã æÇáãÓáãíä ¡ Çááåã ÃÚÒ ÇáÅÓáÇã æÇáãÓáãíä ¡ Çááåã ÃÚÒ ÇáÅÓáÇã æÇáãÓáãíä ¡ æÃÐá ÇáÔÑß æÇáãÔÑßíä ¡ æÏãøöÑ ÃÚÏÇÁ ÇáÏíä,
Çááåã ÇÍã ÍæÒÉ ÇáÏíä íÇ ÑÈ ÇáÚÇáãíä ,
Çááåã ÂãäÇ Ýí ÃæØÇääÇ æÃÕáÍ ÃÆãÊäÇ ææáÇÉ ÃãæÑäÇ æÇÌÚá æáÇíÊäÇ Ýíãä ÎÇÝß æÇÊÞÇß æÇÊÈÚ ÑÖÇß íÇ ÑÈ ÇáÚÇáãíä ¡
Çááåã ÇäÕÑ Ïíäß æßÊÇÈß æÓäÉ äÈíß Õáì Çááå Úáíå æÓáã æÚÈÇÏß ÇáãÄãäíä ¡
Çááåã ÇäÕÑ ãä äÕÑ ÇáÏíä æÇÎÐá ãä ÎÐá ÇáÏíä ¡
Çááåã ÇäÕÑ ÅÎæÇääÇ ÇáãÓáãíä Ýí ßá ãßÇä íÇ Íí íÇ Þíæã íÇ ÐÇ ÇáÌáÇá æÇáÅßÑÇã ¡
Çááåã æÝÞ æáí ÃãÑäÇ áãÇ ÊÍÈ æÊÑÖì ¡ Çááåã æÃÚäå Úáì ÇáÈÑ æÇáÊÞæì æÓÏÏå Ýí ÃÞæáå æÃÚãÇáå æÃáÈÓå ËæÈ ÇáÕÍÉ ÇáÚÇÝíÉ .
Çááåã íÇ ÐÇ ÇáÌáÇá æÇáÅßÑÇã ÂÊ äÝæÓäÇ ÊÞæÇåÇ ÒßåÇ ÃäÊ ÎíÑ ãä ÒßÇåÇ ÃäÊ æáíåÇ æãæáÇåÇ ¡
Çááåã ÅäÇ äÓÃáß ãä ÇáÎíÑ ßáå ÚÇÌáå æÂÌáå ãÇ ÚáãäÇ ãäå æãÇ áã äÚáã ¡ æäÚæÐ Èß ãä ÇáÔÑ ßáå ÚÇÌáå æÂÌáå ãÇ ÚáãäÇ ãäå æãÇ áã äÚáã.
Çááåã ÅäÇ äÓÃáß ÇáÌäÉ æãÇ ÞÑÈ ÅáíåÇ ãä Þæá Ãæ Úãá æäÚæÐ Èß ãä ÇáäÇÑ æãÇ ÞÑÈ ÅáíåÇ ãä Þæá Ãæ Úãá .
Çááåã ÃÌÑäÇ ãä ÇáäÇÑ ¡ Çááåã ÃÌÑäÇ ãä ÇáäÇÑ , Çááåã ÃÌÑäÇ ãä ÇáäÇÑ .
Çááåã ÃÕáÍ áäÇ ÏíääÇ ÇáÐí åæ ÚÕãÉ ÃãÑäÇ ¡ æÃÕáÍ áäÇ ÏäíÇäÇ ÇáÊí ÝíåÇ ãÚÇÔäÇ ¡ æÃÕáÍ áäÇ ÂÎÑÊäÇ ÇáÊí ÅáíåÇ ãÚÇÏäÇ ¡ æÇÌÚá ÇáÍíÇÉ ÒíÇÏÉ áäÇ Ýí ßá ÎíÑ æÇáãæÊ ÑÇÍÉ áäÇ ãä ßá ÔÑ ¡
Çááåã ÅäÇ äÓÃáß ÇáåÏì æÇáÓÏÇÏ ¡
Çááåã ÅäÇ äÓÃáß ÇáåÏì æÇáÊÞì æÇáÚÝÉ æÇáÛäì ¡
ÑÈäÇ ÙáãäÇ ÃäÝÓäÇ æÅä áã ÊÛÝÑ áäÇ æÊÑÍãäÇ áäßæää ãä ÇáÎÇÓÑíä ¡
ÑóÈøóäóÇ ÇÛúÝöÑú áóäóÇ ÐõäõæÈóäóÇ æóÅöÓúÑóÇÝóäóÇ Ýöí ÃóãúÑöäóÇ æóËóÈøöÊú ÃóÞúÏóÇãóäóÇ æóÇäúÕõÑúäóÇ Úóáóì ÇáúÞóæúãö ÇáúßóÇÝöÑöíäó
ÑóÈøóäóÇ ÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóáöÅöÎúæóÇäöäóÇ ÇáøóÐöíäó ÓóÈóÞõæäóÇ ÈöÇáúÅöíãóÇäö æóáóÇ ÊóÌúÚóáú Ýöí ÞõáõæÈöäóÇ ÛöáøðÇ áöáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÑóÈøóäóÇ Åöäøóßó ÑóÁõæÝñ ÑóÍöíãñ
Çááåã ÇÛÝÑ ááãÓáãíä æÇáãÓáãÇÊ æÇáãÄãäíä æÇáãÄãäÇÊ ÇáÃÍíÇÁ ãäåã æÇáÃãæÇÊ Åäß ÓãíÚ ÞÑíÈ ãÌíÈ ÇáÏÚæÇÊ
Çááåã ÑÈäÇ ÂÊäÇ Ýí ÇáÏäíÇ ÍÓäÉ æÝí ÇáÂÎÑÉ ÍÓäÉ æÞäÇ ÚÐÇÈ ÇáäÇÑ .
æóÂÎöÑõ ÏóÚúæóÇäóÇ Ãóäö ÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíäó




Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatkhutbah&id=346