Åöäø ÇáúÍóãúÏó öááåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóÓóíøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáø áóåõ
æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáåó ÅöáÇø Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäø ãõÍóãøÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ
Çóááåõãø Õóáø æóÓóáøãú Úóáì ãõÍóãøÏò æóÚóáì Âáöåö æöÃóÕúÍóÇÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáÏøíúä.
íóÇÃóíøåóÇ ÇáøÐóíúäó ÂãóäõæúÇ ÇÊøÞõæÇ Çááåó ÍóÞø ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäø ÅöáÇø æóÃóäúÊõãú ãõÓúáöãõæúäó
íóÇÃóíøåóÇ ÇáäóÇÓõ ÇÊøÞõæúÇ ÑóÈøßõãõ ÇáøÐöí ÎóáóÞóßõãú ãöäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËø ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíúÑðÇ æóäöÓóÇÁð æóÇÊøÞõæÇ Çááåó ÇáóÐöí ÊóÓóÇÁóáõæúäó Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇã ó Åöäø Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíúÈðÇ
íóÇÃóíøåóÇ ÇáøÐöíúäó ÂãóäõæúÇ ÇÊøÞõæÇ Çááåó æóÞõæúáõæúÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ íõÕúáöÍú áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑúáóßõãú ÐõäõæúÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó æóÑóÓõæúáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíúãðÇ¡ ÃóãøÇ ÈóÚúÏõ ...
ÝóÃöäø ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíúËö ßöÊóÇÈõ Çááåö¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúìö åóÏúìõ ãõÍóãøÏò Õóáøì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøãó¡ æóÔóÑø ÇúáÃõãõæúÑö ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ¡ æóßõáø ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáø ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉð¡ æóßõáø ÖóáÇóáóÉö Ýöí ÇáäøÇÑö.
Kaum Muslimin rahimakumullah
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya takwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala adalah bekal terbaik bagi setiap orang yang mengharap rahmat-Nya. dengan takwa, seseorang akan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka dan dia akan mendapatkan kemudahan setelah kesusahan, dan kelapangan setelah kesempitan. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
ÃóáóÇ Åöäøó ÃóæúáöíóÇÁó Çááøóåö áóÇ ÎóæúÝñ Úóáóíúåöãú æóáóÇ åõãú íóÍúÒóäõæäó (62) ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ æóßóÇäõæÇ íóÊøóÞõæäó (63) [íæäÓ : 62 ¡ 63]
"Ingatlah sesungguhnya wali-wali (kekasih-kekasih Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa". (QS. Yunus: 62-63)
Kaum Muslimin rahimakumullah
Sesungguhnya pengetahuan manusia, keinginan, dan watak mereka itu berbeda-beda meskipun mereka berasal dari bapak dan ibu yang sama (yaitu Nabi Adam dan Hawa). Dan sebenarnya ini merupakan ujian, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :
æóÌóÚóáúäóÇ ÈóÚúÖóßõãú áöÈóÚúÖò ÝöÊúäóÉð ÃóÊóÕúÈöÑõæäó æóßóÇäó ÑóÈøõßó ÈóÕöíÑðÇ
Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi yang lain.Sanggupkah kamu bersabar Dan Rabbmu Maha Melihat (al-Furqan: 20)
Sebagian orang ada yang berkepribadian bijak, arif dan penuh toleran. Dia tidak mudah emosi dengan sedikit kalimat yang dia dengar.
Sebagian lagi, ada juga yang ceroboh, nekat, mudah tertipu, tidak sabar, mudah tersulut perkataan lalu berlaku konyol. Lisan dan tindak-tanduknya mendahului akalnya.
Kaum Muslimin rahimakumullah
Seorang Mukmin adalah seorang juru damai yang agung, yang bisa menghimpun bukan memecah belah, yang memperbaiki bukan merusak; bijak dalam mendamaikan pihak yang bertikai. Dan sebagai imbal baliknya, banyak orang yang mendoakan kebaikan untuknya dan memujinya karena dia telah mendamaikan dan menyelamatkan dari perpecahan.
Orang yang memperhatikan realita saat ini, dia akan dapati adanya keretakan yang menggores kemurnian kecintaan dan jalinan persaudaraan. Hal ini nampak dari hawa nafsu yang dituruti, kebakhilan dan ketamakan yang diikuti, dan kebanggaan terhadap pendapat sendiri.
Sungguh benar Rasululah
shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau bersabda:
Åä ÇáÔíØÇä ÞÏ ÃíÓ Ãä íÚÈÏå ÇáãÕáæä Ýí ÌÒíÑÉ ÇáÚÑÈ¡ æáßä Ýí ÇáÊÍÑíÔ Èíäåã
Sesungguhnya syaitan telah putus asa dari (mendapatkan) penyembahan dari orang-orang yang shalat di jazirah arab, akan tetapi dia akan selalu mengadu domba di antara mereka. (HR. Muslim no. 2812).
Ketika terjadi pertengkaran dan pertikaian, maka perdamaian menjadi suatu yang sangat terpuji. Jika perselisihan adalah keburukan, pertengkaran dan pertikaian adalah aib, maka sebaliknya, perdamaian dan usaha mendamaikan adalah sebuah rahmat. Meski perbedaan pendapat pada manusia adalah hal yang telah digariskan oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana firman-Nya:
æóáóæú ÔóÂÁó ÑóÈøõßó áóÌóÚóáó ÇáäøóÇÓó ÃõãøóÉð æóÇÍöÏóÉð æóáÇóíóÒóÇáõæäó ãõÎúÊóáöÝöíäó
Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (Hud: 118)
Namun Allah mengecualikan darinya orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.
ÅöáÇøóãóä ÑøóÍöãó ÑóÈøõßó
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu (Hud: 119)
Perdamaian yang terwujud pada umat akan menjadikannya indah, namun jika hilang maka berbagai keburukan tidak akan terhindarkan.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
æóÇáÕøõáúÍõ ÎóíúÑñ
"Dan perdamaian itu lebih baik" (an-Nisa: 128)
Allah
Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
ÝÇÊÞæÇ Çááå æÃÕá꾂 ÐÇÊ Èíäßã
Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu.(al-Anfal: 1)
Allah
Subhanahu wa Ta'ala befirman,
áóÇ ÎóíúÑó Ýöí ßóËöíÑò ãöäú äóÌúæóÇåõãú ÅöáøóÇ ãóäú ÃóãóÑó ÈöÕóÏóÞóÉò Ãóæú ãóÚúÑõæÝò Ãóæú ÅöÕúáóÇÍò Èóíúäó ÇáäøóÇÓö [ÇáäÓÇÁ : 114]
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia. (an-Nisa: 114)
æóÅöä ØóÂÆöÝóÊóÇäö ãöäó ÇáúãõÄúãöäöíäó ÇÞúÊóÊóáõæÇ ÝóÃóÕúáöÍõæÇ ÈóíúäóåõãóÇ
"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya" (al-Hujurat: 9)
ÅöäøóãóÇ ÇáúãõÄúãöäõæäó ÅöÎúæóÉñ ÝóÃóÕúáöÍõæÇ Èóíúäó ÃóÎóæóíúßõãú
"Sesugguhnya orang-orang mukmin adalah saudara" (al-Hujurat: 10)
Dan sungguh tidak ada di dunia juru damai yang sekelas dengan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam . Beliau mendamaikan suku-suku, antar individu-individu dan kelompok masyarakat. Beliau juga mendamaikan pasangan suami-istri, dua orang yang berutang-piutang, dan juga juru damai dalam penegakkan hak harta, nyawa dan kehormatan. Bagaimana tidak, padahal beliau sendiri bersabda:
ÃáÇ ÃÎÈÑßã ÈÃÝÖá ãä ÏÑÌÉ ÇáÕíÇã æÇáÕáÇÉ æÇáÕÏÞÉ ÞÇáæÇ Èáì ÞÇá ÕáÇÍ ÐÇÊ ÇáÈíä ÝÅä ÝÓÇÏ ÐÇÊ ÇáÈíä åí ÇáÍÇáÞÉ
"Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama daripada puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab, "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu mendamaikan perselisihan diantara kamu, karena rusaknya perdamaian diantara kamu adalah pencukur (perusak agama)". (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Disebutkan di dalam sebuah hadits;
Úä Óåá Èä ÓÚÏ ÑÖí Çááå Úäå : Ãä Ãåá ÞÈÇÁ ÇÞÊÊáæÇ ÍÊì ÊÑÇãæÇ ÈÇáÍÌÇÑÉ ÝÃÎÈÑ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æ Óáã ÈÐáß ÝÞÇá ( ÇÐå龂 ÈäÇ äÕáÍ Èíäåã )
Dari Sahal bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, bahwa penduduk Quba' telah bertikai hingga saling lempar batu, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dikabarkan tentang peristiwa itu, maka beliau bersabda: Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka. (HR. al-Bukhari)
ÃÞæá ãÇ ÊÓãÚæä æÃÓÊÛÝÑ Çááå áí æáßã æáÓÇÆÑ ÇáãÓáãíä ÝÇÓÊÛÝÑæå Åäå åæ ÇáÛÝæÑ ÇáÑÍíã
Khutbah Kedua
ÇáÍãÏ ááå æßÝì æÇáÕáÇÉ æÇáÓáÇã Úáì ÇáäÈí ÇáãÕØÝì æÚáì Âáå æÕÍÈå æãä æÇáÇå¡ ÃãÇ ÈÚÏ:
Wahai kaum Muslimin, semoga Allah selalu menjaga kita semua.
Sesungguhnya perdamaian termasuk diantara sebab munculnya rasa cinta dan perekat keretakan. Terkadang perdamaian itu lebih baik daripada hukum yang diputuskan hakim. Dalam perdamaian, ada pahala dari Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan ada dosa yang dihapuskan. Termasuk didalamnya, pertikaian dalam rumah tangga.
Namun untuk kita sadar bersama, bahwa semua upaya damai itu tidak akan terwujud kecuali dibarengi keinginan kuat yang nyata serta niat tulus dari semua pihak, antara juru damai dan yang didamaikan. Karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengaitkan perdamaian itu dengan adanya kemauan yang baik dari semua pihak. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Åä íÑíÏÇ ÅÕáÇÍÇ íæÝÞ Çááå ÈíäåãÇ
"Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu"(an-Nisa: 35)
Suatu ketika, Imam Hasan al-Bashri
rahimahullah didatangi oleh dua orang yang bertikai dari Tsaqif. Lalu sang Imam berkata, "Kalian berdua masih satu kelompok dan satu kerabat, (kenapa) masih saja bertikai?" mereka menjawab, "Wahai Abu Sa'id, kami hanya ingin damai. "Beliau
rahimahullah berkata, "Ya. Kalau begitu kalian bicaralah!" Akan tetapi keduanya malah saling melempar tuduhan dusta ke lawannya. Melihat ini, sang Imam menjawab, "Demi Allah! Kalian dusta! Bukan perdamaian yang kalian inginkan, karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
"Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu." (an-Nisa: 35)
Oleh karenanya bertakwalah wahai para hamba Allah! Sudahi dan hentikanlah pertengkaran dan pertikaian, terutama yang disebabkan hal-hal remeh.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
æóÌóÒóÇÁõ ÓóíøöÆóÉò ÓóíøöÆóÉñ ãöËúáõåóÇ Ýóãóäú ÚóÝóÇ æóÃóÕúáóÍó ÝóÃóÌúÑõåõ Úóáóì Çááøóåö [ÇáÔæÑì : 40]
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. (asy-Syura: 40)
Semoga Allah
Subhanahu wa Ta'ala memberkahi saya dan anda semuanya dengan al-Qur'an dan mencurahkan manfaat dari isinya berupa ayat-ayat dan hikmahNya yang Maha Bijak. Itulah yang aku ucapkan, jika itu benar maka kebenaran dari Allah. Jika ada yang salah maka dari diri saya sendiri dan dari syetan. Dan aku beristighfar kepada Allah, sesungguhnya Ia Maha Pengampun.
Åöäøó Çááøóåó æóãóáóÇÆößóÊóåõ íõÕóáøõæäó Úóáóì ÇáäøóÈöíøö íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÕóáøõæÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæÇ ÊóÓúáöíãÇð
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ.
ÑóÈøóäóÇ ÇÛúÝöÑú áóäóÇ æóáöÅöÎúæóÇäöäóÇ ÇáøóÐöíäó ÓóÈóÞõæäóÇ ÈöÇáúÅöíãóÇäö æóáóÇ ÊóÌúÚóáú Ýöí ÞõáõæÈöäóÇ ÛöáøÇð áøöáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÑóÈøóäóÇ Åöäøóßó ÑóÄõæÝñ ÑøóÍöíãñ
Çááåã ÇÝÊÍ ÈíääÇ æÈíä ÞæãäÇ ÈÇáÍÞ æÃäÊ ÎíÑ ÇáÝÇÊÍíä.
Çááåã ÅäÇ äÓÃáß ÚáãÇ äÇÝÚÇ æÑÒÞÇ ØíÈÇ æÚãáÇ ãÊÞÈáÇ
ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí ÇáúÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö
æÕáì Çááå Úáì äÈíäÇ ãÍãÏ æÚáì Âáå æÕÍÈå æ óãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö ÇáÏøíúä.
æóÂÎöÑõ ÏóÚúæóÇäóÇ Ãóäö ÇáúÍóãúÏõ ááå ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó
Sumber: Majalah as-Sunnah edisi 01, tahun XVI, Jumadil Akhir 1433 H/Mei 2012 M