Artikel : Kajian Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - ,

Pendidikan Anak Dalam Islam
oleh :

Kita meyakini semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tercantum di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih tanpa tamtsil (menyerupakan dengan yang lain) dan tathil(peniadaan). Pembahasan mengenai sifat adalah cabang dari pembahasan mengenai Dzat. Sebagaimana kita menetapkan Dzat Allah tanpa mempertanyakannya, kita menetapkan pula sifat-sifat Allah tanpa mempertanyakan (kaifiyah). Inilah yang benar, yang diikuti oleh generasi salaf dan para imam. Pemahaman ini merupakan pertengahan antara pemahaman yang berlebih-lebihan dalam menetapkan asma dan sifat Allah hingga sampai pada batas menyerupakan Allah dengan makhluk, dan antara pemahaman yang berlebih-lebihan dalam menghindarkan penyerupaan Allah dengan makhluk hingga sampai pada batas menyelewengkan arti asma dan sifat-Nya atau meniadakannya secara total.

Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-Syura: 11).

Ayat Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia menafikan penyerupaan dan persesuaian, sementara ayat Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat menafikan penyelewengan dan peniadaan terhadap sifat-Nya.

Allah Subhaanahu Wata'ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang mulia dan meninggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam asma dan sifat-Nya dengan menyelewengkan artinya atau meniadakannya. Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Araf: 180).

Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (An-Nahl: 74).

Allah Taala berfirman,

(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arsy. (Thaha: 5).

Imam Malik dan selainnya dari golongan salaf, saat ditanya tentang bersemayamnya Allah, berkata, Arti bersemayam telah diketahui. Tata cara bersemayamnya Allah, tidak diketahui. Meyakininya hukumnya wajib, menanyakannya termasuk bidah.

Firman Allah yang menunjukkan ketinggian Allah di atas ciptaan-Nya,

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. (Al-Anam: 18).

Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka. (An-Nahl: 50).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Ketika Allah telah selesai menciptakan ciptaan-Nya, Dia menulis di kitab yang ada di sisi-Nya di atas Arsy, Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku. (Muttafaq Alaih).

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1§ion=kj001