Artikel : Kajian Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - ,

Pendidikan Anak Dalam Islam
oleh :

Berdasarkan pada keyakinan terhadap kesatuan sumber talaqi (acuan) dalam kehidupan Islam, kita meyakini bahwa berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah merupakan kemunafikan dan tidak mungkin bersatu dengan dasar iman. Dan barangsiapa membolehkan keluar dari menggunakan hukum-hukum syariat berarti ia telah keluar dari agama Islam. Ketaatan mutlak tidak boleh ditujukan kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Adapun ketaatan kepada selain keduanya, seperti kepada seorang hakim, seorang alim, wali, suami, orang tua, majikan dan sebagainya, disyaratkan untuk tidak dalam kemaksiatan kepada Allah. Setiap pendapat menusia bisa diterima atau ditolak, kecuali pendapat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Boleh mengikuti orang-orang berilmu sebatas pada posisi mereka sebagai sarana untuk lebih mengerti hukum-hukum Allah. Adapun musyawarah (syura) tidak boleh dilakukan kecuali pada masalah yang tidak ada dalilnya, hal-hal yang mubah dan perkara-perkara ijtihadiyah. Dan sesungguhnya pendapat-pendapat yang bertentangan dengan syariat tidak boleh dianggap.

Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An-Nisa: 60).

Keimanan mereka hanya dianggap sebagai klaim saja, bila mereka masih mempunyai keinginan untuk berhakim kepada thaghut. Selanjutnya Allah bersumpah bahwa mereka sebenarnya tidak beriman, dalam firman-Nya,

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa: 65).

Dalam hubungan dengan kedua orang tua, Allah Taala berfirman,
[/15]
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. (Luqman: 15).

Ketaatan kepada kedua orang tua tidak boleh dalam kemaksiatan kepada Allah atau perbuatan-perbuatan syirik kepada Allah yang diperindah.

Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,
[/59]
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (An-Nisa: 59).

Lafazh taatilah diulang pada perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan mutlak. Adapun perintah untuk taat kepada ulil amri kata taatilah tidak diulang kembali, menunjukkan bahwa ketaatan kepada ulil amri tidak mutlak, tapi harus sesuai dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hal ketaatan kepada ulil amri (pemimpin), Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda,

.

Bagi setiap orang muslim wajib mendengar dan taat kepada pemimpinnya selama tidak diperintahkan berbuat kemaksiatan. Apabila diperintahkan kepada kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar atau mentaati. (Muttafaq Alaih).

Dalam riwayat lain beliau bersabda,

.

Tidak boleh taat dalam kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan hanya pada perbuatan baik. (Muttafaq Alaih).

Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahihnya, Para imam yang hidup sesudah Nabi shallallahu alaihi wasallam senantiasa bermusyawarah dengan para ahli ilmu yang amanat dalam perkara-perkara mubah untuk mencari penyelesaian yang paling mudah. Adapun apabila Al-Kitab dan As-Sunnah telah jelas mereka tidak mencari dalil lainnya. Para penghafal Al-Quran adalah para pendamping yang juga shahabat Umar dalam musyawarah, baik mereka sudah tua atau orang muda, mereka selalu terikat dengan Kitabullah (al-Quran al-Karim).

Allah menerangkan bahwa tidak ada yang bertentangan dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah selain hawa nafsu dan tidak ada yang berlawanan dengan hukum-hukum-Nya selain hukum jahiliyah. Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,
[/50]
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. (Al-Qashash: 50).

Firman Allah Subhaanahu Wata'ala,
[/18]
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah: 18).
[/50]

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Al-Maidah: 50).

Allah memerintahkan orang bodoh untuk bertanya kepada orang yang pandai dalam ilmu syariat, firman-Nya,
(43) [/43 44]
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. (An-Nahl: 43-44).

Diperintahkan bertanya kepada orang yang pandai berdasarkan pemahaman mereka atas keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Karenanya, mengikuti mereka dibolehkan selama tidak keluar dari pemahaman mereka kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, dan keistiqamahan mereka dalam mengamalkannya.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexkajian&id=1§ion=kj001