Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Manusia Berhaji Sebelum Kedatangan Islam
Kamis, 01 Juni 23

**

Soal :

Seorang penanya mengatakan,

Sebatas keyakinanku bahwa kewajiban haji itu terlahir sejak kelahiran agama Islam. Akan tetapi, sekarang baru jelas pada diriku bahwa manusia, dulu, mereka berhaji sebelum Islam datang. Dan dulu Rasulullah- berkumpul bersama mereka para jemaah haji agar beliau dapat mengajak mereka kepada islam. Lalu, bagaimana dulu hal itu ?

Saya berharap Anda berkenan memberikan faedah kepadaku, semoga Allah membimbing Anda. Dan, semoga pula Allah memberikan balasan yang baik kepada Anda.

Jawab :

Syaikh- -menjawab,

Haji, di masa Jahiliyah termasuk ibadah yang biasa dilakukan dan dikenal, dan dalam ibadah tersebut tidak ada perubahan kecuali sedikit, semisal : penduduk al-Haram, mereka tidak berwukuf di Arafah, mereka wukuf di Musdzalifah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Aisyah- -, ia berkata, Dulu, orang-orang Quraisy dan orang-orang yang menganut agama mereka, mereka melakukan wukuf di Musdzalifah, dan dulu mereka menamakannya al-Hums, sedangkan dulu semua orang-orang Arab, mereka melakukan wukuf di Arafah. Lalu, setelah Islam datang, Allah- -perintahkan Nabinya- -agar beliau mendatangi daerah-daerah Arafah, lalu beliau melakukan wukuf di sana. Kemudian, beliau bertolak dari Arafah. Maka hal itu adalah pengimplementasian firman Allah-- ,


[ : 199]


Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) (al-Baqarah : 199)

Dan demikian pula, Islam datang dengan mengganti apa-apa yang mereka menyelisihinya, di mana dulu mereka beranjak dari Arafah sebelum tenggelamnya matahari, dan mereka tidak bertolak dari Musdzalifah kecuali setelah terbitnya matahari, maka Nabi- menyelisihi mereka dalam hal tersebut. Beliau melakukan wukuf di Arafah dan beliau tidak bertolak darinya melainkan setelah tenggelamnya matahari, dan beliau bertolak dari Musdzalifah ketika sebelum matahari terbit. Dan aku tidak mengetahui sesuatu lebih bayak dari ini terkait haji di masa Jahiliyah.

Adapun di masa Islam, perkara dalam hal tersebut jelas-segala puji bagi Allah-, sesungguhnya Allah--mewajibkannya-berdasarkan pendapat yang kuat- pada tahun ke-9 H atau tahun ke-10 H, dan Nabi- -berhaji wada pada tahun ke-10, dan beliau telah menjelaskan kepada manusia manasik mereka dan manusia pun memahami manasik tersebut dengan pemahaman yang sempurna.

Dan beliau- -pun mengatakan (kepada mereka),




Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian [2]

Maka, manusia telah belajar tata cara ibadah haji, dan para salaf telah menukilkannya kepada kalangan khalaf dan para khalaf telah mengambilnya langsung dari kalangan salaf sehingga menjadi jelas dan gamblang-segala puji bagi Allah-, meskipun dalam hal tersebut terdapat sejumlah perbedaan pendapat yang sumburnya adalah ijtihad dari kalangan para ulama, namun bagi yang benar (ijtihadnya) ia akan mendapatkan dua pahala, dan bagi yang salah (ijtihadnya) maka ia akan mendapatkan satu pahala.

Wallahu Alam

Sumber :

Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Fatawa Nur Ala ad-Darb, 8/8-9 (Soal No. 4046)

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari, kitab tafsir al-Quran, bab : (al-Baqarah : 199), no. 4520, Muslim, kitab al-Hajj, bab : fi al-Wuquf dan firman-Nya, (al-Baqarah : 199), no. 1219

[2] HR. Muslim, kitab al-Hajj, bab : Istihbab Ramyi Jamrati al-Aqabah Yaumi an-Nahri Raakiban, no. 1297








Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatfatwa&id=1932