Dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ËóáóÇËóÉñ áóÇ ÊõÑóÏøõ ÏóÚúæóÊõåõãú : ÇóÅöÚäãóÇãõ ÇáúÚóÇÏöáõ¡ æóÇáÕøóÇÆöãõ Íöíúäó íõÝúØöÑó¡ æóÏóÚúæóÉõ ÇáúãóÙúáõæúãö
“Tiga golongan orang yang tidak akan tertolak doanya ; (1) imam yang adil, (2) orang berpuasa ketika berbuka, dan (3) doa orang yang terzhalimi.” [1]
Hadis ini menunjukkan bahwa seyogyanya orang yang tengah berpuasa memanfaatkan dengan baik saat menjelang berbukanya dan waktu-waktu diijabahnya doa. Maka, ia berdoa dengan sesuatu yang paling dicintainya dari bentuk kebaikan. Karena, sesungguhnya dirinya memiliki doa yang diijabah. Dan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash –semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
Åäøó áöáÕøóÇÆöãö ÚöäúÏó ÝöØúÑöåö áóÏóÚúæóÉð ãóÇ ÊõÑóÏøõ
“Sesungguhnya orang yang berpuasa pada saat berbukanya memiliki doa yang tidak akan ditolak.”
Ibnu Abi Mulaikah mengatakan : Aku pernah mendengar Abdullah bin Amr mengucapkan (doa) ketika berbuka puasa,
Çóááøóåõãøó Åöäøöí ÃóÓúÃóáõßó ÈöÑóÍúãóÊößó ÇáøóÊöí æóÓöÚóÊú ßõáøó ÔóíúÁò Ãóäú ÊóÛúÝöÑó áöí
“Ya Allah ! Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau berkenan mengampuniku.” [2]
Dan di antara perkara yang disunnahkan untuk dipanjatkan dalam doa ketika berbuka –juga- adalah apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr –semoga Allah meridhai keduanya-, ia berkata :
ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ - Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó - íóÞõæúáõ ÅöÐóÇ ÃóÝúØóÑó : ((ÐóåóÈó ÇáÙøóãóÃõ¡ æóÇÈúÊóáøóÊö ÇáúÚõÑõæúÞõ¡ æóËóÈóÊó ÇáúÃóÌúÑõ Åöäú ÔóÇÁó Çááåõ ((
Dulu, Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó biasa mengucapkan ketika berbuka puasa : “Telah hilang rasa dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahalanya, insya Allah.”
Maka, orang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya, berdoa dengan penuh kehadiran hati, yakin dengan akan diijabahnya doa yang dipanjatkan pada waktu yang sangat diharapkan akan diijabahnya doa pada waktu itu, karena saat itu merupakan waktu seorang hamba merendahkan diri dan memelas di hadapan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì saat dirinya dalam keadaan berpuasa, mengulang-ulang doa tiga kali. Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
Åöäøó áöáøóåö ÚõÊóÞóÇÁó Ýöí ßõáøö íóæúãò æóáóíúáóÉò¡ áößõáøö ÚóÈúÏò ãöäúåõãú ÏóÚúæóÉñ ãõÓúÊóÌóÇÈóÉñ
“Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan (dari Neraka) pada setiap hari dan malam, setiap hamba dari mereka memiliki doa yang diijabahi.” [4]
Dan Umamah –semoga Allah meridhainya- meriwayatkan dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, bahwa beliau bersabda :
áöáøóåö ÚöäúÏó ßõáøö ÝöØúÑò ÚõÊóÞóÇÁõ
“Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan (dari Neraka) setiap kali waktu berbuka.” [5]
Maka, barang siapa berdoa kepada Rabbnya dengan hati yang hadir dan berdoa dengan doa yang disyariatkan, sedangkan dirinya tengah berpuasa, dan tidak ada penghalang apa pun yang menghalangi diijabahnya doa, -seperti mengonsumsi sesuatu yang haram dan yang lainnya-, maka ia sangat layak untuk diijabah doanya, karena sesungguhnya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menjajikan kepadanya pengijabahan doa, terkhusus bila seorang hamba melakukan sebab-sebab diijabahnya doa, yaitu memenuhi seruan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan mengerjakan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya yang terkait dengan perkataan dan perbuatan, serta beriman kepada-Nya yang akan mengharuskan diijabahinya doa. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÅöÐóÇ ÓóÃóáóßó ÚöÈóÇÏöí Úóäøöí ÝóÅöäøöí ÞóÑöíÈñ ÃõÌöíÈõ ÏóÚúæóÉó ÇáÏøóÇÚö ÅöÐóÇ ÏóÚóÇäö ÝóáúíóÓúÊóÌöíÈõæÇ áöí æóáúíõÄúãöäõæÇ Èöí áóÚóáøóåõãú íóÑúÔõÏõæäó [ÇáÈÞÑÉ : 186]
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (al-Baqarah : 186)
Dan hendaklah ia meminta dengan sungguh-sungguh dalam berdoa dan memohon ampunan, karena sesungguhnya ia tengah berada di bulan nan utama dan di sebuah musim nan agung dari musim-musim ibadah.
Dan, orang yang berpuasa hendaknya waspada jangan sampai saat-saat menjelang berbuka puasa itu menjadi waktu untuk banyak ngobrol yang tidak bermanfaat, atau sibuk dengan perkara-perkara yang bila ditunda niscaya ia tidak akan kehilangannya. Karena menit demi menit saat ini sangat mahal, maka janganlah kalian memurahkannya dengan kelalaian.
Dan, bagi orang yang berpuasa saat berbukanya disyariatkan pula untuk menjawab seruan muadzin. Ia mengucapkan setiap kalimat yang dikatakan sang muadzin, kecuali kalimat : (Íóíøó Úóáóì ÇáÕøóáóÇÉö¡ Íóíøó Úóáóì ÇáúÝóáóÇÍö) “Mari melaksanakan Shalat, Mari menuju keberuntungan”, maka ia mengikutinya dengan perkataannya : áóÇ Íóæúáó æóáóÇ ÞõæøóÉó ÅöáøóÇ ÈöÇááåö ”Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah “. Hal tersebut berdasarkan sabda beliau :
ÅöÐóÇ ÓóãöÚúÊõãõ ÇáúãõÄóÐøöäó ÝóÞõæáõæÇ ãöËúáó ãóÇ íóÞõæáõ
“Apabila kalian mendengar Muadzin (tengah mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah oleh kalian seperti yang dikatakannya.” [6], dan ini bersifat umum pada setiap keadaan. Kecuali apa yang ditunjukkan oleh dalil bahwa sesuatu itu dikecualikan.
Dan, selayaknya orang yang tengah berpuasa memanfaatkan akhir waktu siang untuk membaca al-Qur’an, dzikir, dan doa. Tidak keluar (rumah) kecuali untuk suatu pekerjaannya atau untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukannya. Karena sesungguhnya saat-saat ini termasuk waktu yang hendaknya orang yang tengah berpuasa memanfaatkannya dengan baik untuk melakukan ketaatan, tidak menyia-nyiakan waktu tersebut dengan bepergian kesana kemari di tempat-tempat yang tidak bermanfaat. Dan, hendaknya pula ia mencari dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya suatu waktu pada hari Jum’at, terutama adalah akhir waktu dari siang hari. Patut disayangkan ada di antara sebagian orang yang keluar dari rumahnya selepas shalat Ashar sebagai kebiasaannya bukan karena suatu kebutuhan. Maka, ia meninggalkan amal membaca al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, sehingga banyak kebaikan dan keutamaan yang besar yang terlewatkannya. Boleh jadi, kadang sang Muadzin mengumandangkan adzan Maghrib sebagai tanda bahwa telah tiba waktunya berbuka bagi orang yang tengah berpuasa, sementara ia masih berada di jalan menuju ke rumahnya. Sehingga ia datang dalam keadaan jiwa yang kacau. Sungguh, ia telah menyia-nyiakan waktu untuk berdoa, dan terlewatkan pula untuk bersegera berbuka.
Dan hendaknya seorang yang tengah berpuasa membasahi lisannya dengan berdzikir dan berdoa kepada-Nya sepanjang hari puasanya. Karena sesungguhnya puasa menjadikannya berada dalam keadaan yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan menjadikannya berada di suatu posisi sangat diharapkan doa-doanya dikabulkan. Hal ini sangat ditekankan untuk dilakukan sepanjang siang. Karena sungguh telah datang riwayat perihal diijabahnya doa orang yang tengah berpuasa tanpa dibatasi dengan ‘waktu berbuka.’ Riwayat tersebut terdapat dalam apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ËóáóÇËõ ÏóÚóæóÇÊò ãõÓúÊóÌóÇÈóÉñ : ÏóÚúæóÉõ ÇáÕøóÇÆöãö¡ æóÏóÚúæóÉõ ÇáúãóÙúáõæúãö¡ æóÏóÚúæóÉõ ÇáúãõÓóÇÝöÑö
“Tiga doa yang mustajab ; (1) doa orang yang tengah berpuasa, (2) doa orang yang terzhalimi, dan (3) doa orang yang tengah safar.” [7]
Ibnu Khuzaemah –semoga Allah merahmatinya- mengatakan :
"ÈóÇÈñ ÐößúÑõ ÇöÓúÊöÌóÇÈóÉö Çááåö - ÚóÒøó æóÌóáøó - ÏõÚóÇÁó ÇáÕøõæøóÇãö Úóáóì ÝöØúÑöåöãú ãöäú ÕöíóÇãöåöãú¡ ÌóÚóáóäóÇ Çááåõ ãöäúåõãú"
“Bab : penyebutan tentang pengijabahan Allah azza wa jalla terhadap doa orang-orang yang tengah berpuasa atas berbukanya mereka dari puasanya, semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka.” [8], kemudian, beliau menyebutkan hadis Abu Hurairah yang telah lalu dengan redaksi : ((ÇóáÕøóÇÆöãõ ÍóÊøóì íõÝúØöÑó)) “Orang yang tengah berpuasa hingga ia berbuka puasa.” Dan begitu pula yang disebutkan oleh Ibnu Hibban [9] Wallahu A’lam
Ya Allah ! Karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat dan rizki yang baik.
Ya Allah ! Kabulkanlah doa kami, wujudkanlah harapan kami, dan ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin.
Shalawat dan salam semoga Allah curahkan atas nabi kita Muhammad.
(Redaksi)
Sumber :
Ad-Du’a ‘Inda al-Ifthar, Syaikh Abdullah al-Fauzan, di : https://www.alukah.net/spotlight/0/3297/ÇáÏÚÇÁ-ÚäÏ-ÇáÅÝØÇÑ
Catatan :
[1] HR. at-Tirmidzi (10/56), Ibnu Majah (1752), dan at-Tirmidzi mengatakan : Hadis Hasan, dan hadis ini memiliki beberapa riwayat penguat yang sebagiannya akan datang.
[2] HR. Ibnu Majah (1753), al-Hakim (1/422), Ibnu as-Suniy, No. 481. Berakata al-Bushiriy : Ini isnadnya shahih. Kemudian beliau menyebutkan arahan hal itu, lihat : “az-Zawa-id” hal. 254, dan hadis ini dilemahkan oleh al-Albani di dalam “al-Irwa” no (921). Dan, yang benar bahwa hadis ini memiliki sesuatu yang mendukung dan menguatkannya, lihat : “Tanbihu al-Qari”, karya : Syaikh Abdullah ad-Duwaisy –semoga Allah merahmatinya-, hal. 78, 79.
[3] HR. Abu Dawud, 6/482, al-Baihaqiy, 4/239, al-Hakim, 1/422, Ibnu as-Suniy, no. 478, dan ad-Daruquthniy, 2/185, dan ia mengatakan : Isnadnya Hasan.
[4] HR. Ahmad, No. 7443) dan isnadnya shahih. Dan, lihat pula komentar Syaikh Ahmad Syakir terhadap hadis ini pada nomer yang disebutkan.
[5] HR. Ahmad (10/9 “al-Fath ar-Rabbaaniy”, al-Mundziri mengatakan : Diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad tidak mengapa, ath-Thabraniy dan al-Baihaqiy...” dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih at-Targhib”, 1/491.
[6] HR. al-Bukhari, 1/90 dan Muslim 383
[7] Diriwayatkan oleh al-‘Uqailiy di dalam adh-Dhu’afa, 1/72, dan Abu Muslim al-Kajiy di dalam “Juz-nya”, dan melalui jalur periwayatannya Ibnu Masiy di dalam “Juz al-Anshar, dan sanadnya shahih, sebagaimana disebutkan oleh al-Albaniy di dalam ash-Shahihah (4/407)
[8] Shahih Ibnu Khuzaemah, 3/199.
[9] Shahih Ibnu Hibban, 8/215.