Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Dzikir Amal Paling Mulia dan Paling Utama
Selasa, 06 Januari 26

Dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah amalan yang paling mulia, paling baik, dan paling utama di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.

Dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Ibnu Majah, Mustadrak al-Hakim, dan selain mereka, dari Abu Darda ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ beliau berkata, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :


ÃóáóÇ ÃõäóÈøöÆõßõãú ÈöÎóíúÑö ÃóÚúãóÇáößõãú æóÃóÒúßóÇåóÇ ÚöäúÏó ãóáöíßößõãú æóÃóÑúÝóÚöåóÇ Ýöí ÏóÑóÌóÇÊößõãú æóÎóíúÑò áóßõãú ãöäú ÅöÚúØóÇÁö ÇáÐøóåóÈö æóÇáúæóÑöÞö æóÎóíúÑò áóßõãú ãöäú Ãóäú ÊóáúÞóæúÇ ÚóÏõæøóßõãú ÝóÊóÖúÑöÈõæÇ ÃóÚúäóÇÞóåõãú æóíóÖúÑöÈõæÇ ÃóÚúäóÇÞóßõãú ¿ ÞóÇáõæÇ : Èóáóì íóÇ ÑóÓõæáó Çááøóåö. ÞóÇáó : ÐößúÑõ Çááøóåö ÚóÒøó æóÌóáøó


Maukah aku beritahukan kepada kamu sebaik-baik amal-amal kamu, paling mulia di sisi raja kamu, paling mengangkat derajat kamu, lebih baik bagi kamu daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kamu daripada kamu bertemu musuh lalu menebas leher mereka dan mereka menebas leher kamu ?” Mereka berkata, “Baiklah wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì “ [1]

Hadis yang agung ini menjelaskan tentang keutamaan dzikir, bahwa ia sebanding dengan memerdekakan budak, menafkahkan harta benda, menunggang kuda untuk perang di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, dan sebanding dengan menebaskan pedang di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.

Ibnu Rajab ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, “Sungguh sangat banyak nash-nash yang menjelaskan keutamaan dzikir dibanding bersedekah dengan harta serta selainnya di antara amal-amal.” [2] Kemudian beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ menyebutkan hadis Abu Darda tersebut serta sejumlah hadis lain yang menunjukkan kepada makna yang sama.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya sebagaimana dikutip dalam at-Targhib wa At- Tarhib karya Al-Mundzir [3]-dan beliau berkata sanadnya hasan-dari Al-A’masy, dari Salim bin Abi Al-Ja’ad dia berkata, dikatakan kepada Abu Ad-Darda’, “Sesungguhnya seorang laki-laki memerdekakan seratus jiwa dan berkata, ‘Sungguh seratus jiwa dari harta seorang laki-laki adalah banyak. Namun lebih utama daripada itu adalah iman yang konsisten di waktu malam dan siang hari, serta senantiasa lisan salah seorang di antara kamu basah karena dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì .”

Beliau menjelaskan keutamaan memerdekakan budak. Namun meski keutamaannya demikian besar, tidak sebanding dengan konsistem dalam berdzikir serta kesinambungan atasnya. Sungguh telah disebutkan atsar-atsar sangat banyak yang semakna dengan ini dari kalangan salaf.

Ibnu Mas’ud ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata, “Bahwa aku bertasbih kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dengan beberapa tasbih lebih aku sukai daripada menafkahkan sesuatu yang sejumlah dengannya berupa dinar di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.”

Suatu ketika, Abdullah bin Amr dan Abdullah bin Mas’ud duduk bersama. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bahwa aku menempuh suatu jalan dan mengucapkan padanya,


ÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóÇáúÍóãúÏõ áöáåö æóáóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ æóÇááåõ ÃóßúÈóÑõ


‘Subhanallah, walhamdululillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar’

(Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah, dan Allah Maha Besar), lebih aku sukai daripada menafkahkan sesuatu yang sejumlah dengannya dinar di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.” Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Bahwa aku menempuh suatu jalan, lalu mengucapkan kata-kata itu, lebih aku sukai daripada membawa yang sepertinya di atas kuda di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.”

Demikian pula dikatakan oleh sejumlah sahabat serta tabi’in. Sungguh dzikir lebih utama daripada mensedekahkan sesuatu yang sejumlah dengannya berupa harta. [4]

Atsar-atsar yang semakna dengan ini dari mereka cukup banyak. Namun ini sama sekali tidak berarti-baik secara dekat maupun jauh-merendahkan urusan nafkah di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, menunggang kuda dalam rangka perang, dan memerdekakan budak di jalan-Nya. Akan tetapi maksudnya sekedar menunjukkan ketinggian urusan dzikir, penjelasan keagungan kedudukannya, kebesaran posisinya, bahwa tak ada sesuatu pun yang sebanding dengannya di antara perkara-perkara tersebut. Bahkan sungguh amal-amal seluruhnya dan ketaatan semuanya disyariatkan untuk menegakkan dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Inti dari semuanya adalah menghasilkan dzikir kepada-Nya.

Oleh karena itu, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


æóÃóÞöãö ÇáÕøóáóÇÉó áöÐößúÑöí [Øå : 14]


“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha : 14)

Yakni, dirikan shalat dengan tujuan agar dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dalam hal ini terdapat penjelasan akan besarnya kedudukan shalat. Sebab, ia adalah merendahkan diri kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, berdiri di hadapan-Nya, memohon pada-Nya, serta menegakkan dzikir pada-Nya. Atas dasar ini, maka shalat adalah dzikir. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menamainya sebagai dzikir. Seperti dalam firman-Nya :


íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÅöÐóÇ äõæÏöíó áöáÕøóáóÇÉö ãöäú íóæúãö ÇáúÌõãõÚóÉö ÝóÇÓúÚóæúÇ Åöáóì ÐößúÑö Çááøóåö [ÇáÌãÚÉ : 9]


“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk shalat di hari Jum’at, maka bersegeralah menuju dzikir kepada Allah.” (al-Jumu’ah : 9)

Pada ayat ini shalat dinamai dzikir. Hal itu karena dzikir adalah ruh shalat, intinya, dan hakikatnya. Orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling kuat, paling keras, dan paling banyak dzikirnya pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Perkara serupa berlaku juga pada setiap ketaatan dan ibadah yang digunakan hamba untuk mendekatakan diri kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.

Diriwayatkan oleh imam Ahmd dan ath-Thabrani, dari Abdullah bin Lahi’ah dia berkata, Zabban bin Fa’id menceritakan kepada kami, dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhani, dari bapaknya, dari Rasulullah, “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya padanya dan berkata,


Ãóíøõ ÇáúãõÌóÇåöÏöíäó ÃóÚúÙóãõ ÃóÌúÑðÇ¿ ÞóÇáó:"ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ"¡ ÞóÇáó: æóÃóíøõ ÇáÕøóÇÆöãöíäó ÃóÚúÙóãõ áöáøóåö ÃóÌúÑðÇ¿ ÞóÇáó:"ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ"¡ Ëõãøó ÐóßóÑó ÇáÕøóáÇÉó æóÇáÒøóßóÇÉó æóÇáúÍóÌøó æóÇáÕøóÏóÞóÉó¡ ßõáøõ Ðóáößó ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÞõæáõ:"ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ"¡ ÝóÞóÇáó ÃóÈõæ ÈóßúÑò ÇáÕøöÏøöíÞõ áöÚõãóÑó ÑóÖöíó Çááøóåõ ÊóÚóÇáóì Úóäúåõ:"íóÇ ÃóÈóÇ ÍóÝúÕò ÐóåóÈó ÇáÐøóÇßöÑõæäó Çááøóåó Èößõáøö ÎóíúÑò"¡ ÝóÞóÇáó ÑóÓõæáõ Çááøóåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó:"ÃóÌóáú"


“Mujahid mana yang lebih besar pahalanya wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dia berkata, ‘Orang berpuasa mana yang lebih besar pahalanya ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Kemudian menyebutkan shalat, zakat, haji, dan sedekah. Setiap kali ditanya tentang hal-hal tersebut Rasulullah bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Abu Bakar berkata kepada Umar, “Orang-orang yang berdzikir telah memboyong semua kebaikan.” Rasulullah bersabda, “Benar.” [5]

Al-Haitsami berkata, “Di dalamnya terdapat Zabban bin Fa’id, seorang perawi yang lemah namun sebagian menganggapnya tsiqah. Demikian pula halnya Ibnu Lahi’ah.” [6]

Akan tetapi ia memiliki riwayat pendukung yang berstatus mursal melalui sanad yang shahih. Riwayat yang dimaksud tersebut telah dikutip oleh Ibnu Mubarak dalam kitab az-Zuhd, Haiwah mengabarkan kepada kami dia berkata, Zuhrah bin Ma’bad menceritakan kepadaku, sesungguhnya dia mendengar Abu Sa’id al-Maqburi berkata :


Þöíúáó íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö Ãóíøõ ÇáúÍóÇÌö ÇóÚúÙóãõ ÃóÌúÑðÇ ÞóÇáó ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ ÞóÇáó ÝóÃóíøõ ÇáúãõÕóáøöíúäó ÃóÚúÙóãõ ÃóÌúÑðÇ ÞóÇáó ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ ÞóÇáó ÝóÃóíøõ ÇáÕøóÇÆöãöíúäó ÃóÚúÙóãõ ÃóÌúÑðÇ ÞóÇáó ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ ÞóÇáó ÝóÃóíøõ ÇáúãõÌóÇåöÏöíúäó ÃóÚúÙóãõ ÃóÌúÑðÇ ÞóÇáó ÃóßúËóÑõåõãú áöáøóåö ÐößúÑðÇ ÞóÇáó ÒóåúÑóÉõ ÝóÇóÎúÈóÑóäöì ÃóÈõæú ÓóÚöíúÏò ÇöáúãóÞúÈõÑöì Ãóäøó ÚõãóÑó Èúäö ÇáúÎóØøóÇÈö ÞóÇáó áöÃóÈöí ÈóßúÑò ÐóåóÈó ÇáÐøóÇßöÑõæúäó Èößõáøö ÎóíúÑò


Dikatakan, “Wahai Rasulullah, orang haji apakah yang paling besar pahalanya ?’ Beliau berkata, “Yang palng banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dia berkata, “Orang shalat manakah yang paling besar pahalanya ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dia berkata, “Orang puasa manakah yang paling besar pahalanya ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dia berkata, “Mujahid manakah yang paling banyak pahalanya ? “ Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Zuhrah berkata, Abu Sa’id al-Maqburi mengabarkan kepadaku, sesungguhnya Umar bin Khaththab berkata kepada Abu Bakar, "Orang-orang berdzikir telah memboyong semua kebaikan.” [7]

Hadis ini juga memiliki pendukung lain yang dikutip oleh Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya al-Wabil Shayyib, beliau berkata, Ibnu Abi Dunya menyebutkan hadis mursal :


[ Ãóäøó ÇáäøóÈöíøó Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æó Óóáøóãó ÓõÆöáó : Ãóíøõ Ãóåúáö ÇáúãóÓúÌöÏö ÎóíúÑñ ¿ ÞóÇáó : ÃóßúËóÑõåõãú ÐößúÑðÇ áöáøóåö ÚóÒøó æó Ìóáøó Þöíúáó : Ãóíøõ ÇáúÌóäóÇÒóÉö ÎóíúÑñ ¿ ÞóÇáó : ÃóßúËóÑõåõãú ÐößúÑðÇ áöáøóåö ÚóÒøó æó Ìóáøó Þöíúáó : ÝóÃóíøõ ÇáúãõÌóÇåöÏöíúäó ÎóíúÑñ ¿ ÞóÇáó : ÃóßúËóÑõåõãú ÐößúÑðÇ áöáøóåö ÚóÒøó æó Ìóáøó Þöíúáó ÝóÃóíøõ ÇáúÍõÌøóÇÌö ÎóíúÑñ ¿ ÞóÇáó : ÃóßúËóÑõåõãú ÐößúÑðÇ áöáøóåö ÚóÒøó æó Ìóáøó Þöíúáó : æóÃóíøõ ÇáúÚöÈóÇÏö ÎóíúÑñ ¿ ÞóÇáó : ÃóßúËóÑõåõãú ÐößúÑðÇ áöáøóåö ÚóÒøó æó Ìóáøó ] ÞóÇáó ÃóÈõæú ÈóßúÑò : ÐóåóÈó ÇáÐøóÇßöÑõæúäó ÈöÇáúÎóíúÑö ßõáøöåö


Bahwa Nabi ditanya, “Orang yang tinggal di masjid apakah yang paling baik ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dikatakan, “Keluarga jenazah manakah yang paling baik ?” Beliau bersabda. “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dikatakan, “Mujahid manakah yang paling baik ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dikatakan, “Orang haji manakah yang paling baik ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Dikatakan, “Hamba-hamba manakah yang paling baik ?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak di antara mereka berdzikir kepada Allah.”

Abu Bakar berkata, “Orang-orang yang berdzikir telah memboyong pahala semuanya.” [8]

Maka hadis ini dengan kedua pendukungnya layak dijadikan hujjah –insya Allah-. makna yang dikandungnya adalah haq tak ada keraguan tentang kebenarannya.

Ibnu al-Qayyim berkata, “Sesungguhnya orang yang paling utama di kalangan pelaku setiap kebaikan adalah yang paling banyak di antara mereka berdzikir pada Allah. Orang berpuasa yang paling utama adalah orang yang lebih banyak berdzikir dalam puasa mereka, orang bersedekah yang paling utama adalah yang lebih banyak berdzikir kepada Allah, orang menunaikan haji yang paling utama adalah orang yang lebih banyak berdzikir kepada Allah, dan demikian pula amal-amal lainnya.” [9]

Kemudian beliau menyebutkan hadis terdahulu dan mengiringinya dengan riwayat dari Uqbah, dari Ubaid bin Umar, bahwa beliau berkata, “Jika terasa berat bagi kamu mengatasi malam ini (dengan beribadah), dan kamu bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, dan kamu merasa gentar terhadap musuh untuk memeranginya, maka perbanyaklah dzikir kepada Allah.”[10]

Dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah amal yang paling utama. Ia lebih besar dari segala sesuatu. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


ÇÊúáõ ãóÇ ÃõæÍöíó Åöáóíúßó ãöäó ÇáúßöÊóÇÈö æóÃóÞöãö ÇáÕøóáóÇÉó Åöäøó ÇáÕøóáóÇÉó Êóäúåóì Úóäö ÇáúÝóÍúÔóÇÁö æóÇáúãõäúßóÑö æóáóÐößúÑõ Çááøóåö ÃóßúÈóÑõ [ÇáÚäßÈæÊ : 45]


“Bacalah apa yang diturunkan kepadamu dari al-Kitab dan dirikanlah shalat, sungguh shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan dzikir pada Allah lebih besar.” (al-Ankabut : 45)

Yakni, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebut kamu lebih besar daripada dzikir kamu kepadaNya dalam ibadah dan shalat-shalat kamu. Dia senantiasa menyebut siapa saja yang berdzikir padaNya. Makna seperti ini telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Darda, Abu Qurrah, Salman, dan al-Hasan. Pandangan ini pula telah dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari.

Ada yang mengatakan, “Dzikir kamu kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dalam shalat-shalat kamu dan ketika membaca al-Qur’an adalah lebih utama dari segala sesuatu.”

Ibnu Zaid dan Qatadah berkata, “Sungguh dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì adalah lebih besar dari segala sesuatu.”

Yakni, lebih utama dari ibadah-ibadah seluruhnya yang tidak disertai dzikir.

Dikatakan juga maknanya adalah ; sungguh dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì lebih besar bila dilakukan terus-menerus dibandingkan shalat, dalam hal mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimyah ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata, “Pendapat yang benar, makna ayat itu adalah bahwa shalat terdapat padanya dua tujuan utama yang agung, salah satunya lebih agung daripada yang lain. Sungguh ia mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan ia juga mencakup dzikir pada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Apa yang terdapat padanya berupa dzikir kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, maka itulah yang lebih agung daripada pencegahannya dari perbuatan keji dan mungkar.” [11] Demikian perkataan beliau.

Salman al-Farisi pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama ?” Beliau berkata, “Tidakkah engkau membaca, “æóáóÐößúÑõ Çááøóåö ÃóßúÈóÑõ“ (Dan dzikir kepada Allah lebih besar)

Disebutkan pula oleh Ibnu Abi Dunya dari Ibnu Abbas, sesungguhnya beliau ditanya, “Amal apa yang lebih utama ?” Beliau berkata, “æóáóÐößúÑõ Çááøóåö ÃóßúÈóÑõ“ (Dan dzikir kepada Allah lebih besar) [12]

Allah Mahabesar sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, Mahasuci Allah di pagi dan petang, sepenuh seluruh langit-Nya, sepenuh bumiNya, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, dan sepenuh apa yang Dia kehendaki sesudah itu, tidak terputus, tidak binasa, dan tidak fana, sejumlah pujian yang dipanjatkan oleh orang-orang yang memuji, sebanyak kelalaian orang-orang yang lalai dari berdzikir pada-Nya, sebanyak keridhaan diri-Nya, timbangan ‘Arsy-Nya, dan tinta kalimat-kalimat-Nya. Shalawat Allah dan salam atas Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.

(Redaksi)

Sumber :

Fiqhu al-Ad‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/32-36.

Catatan :

[1] Al-Musnad, 5/195, Sunan Ibnu Majah, No. 3790, al-Mustadrak, 1/496, dan dinyatakan shahih oleh al-‘Allamah Al-Albani di kitab Shahih al-Jami’, No. 2629.

[2] Jami’ Al-Ulum wa al-Hikam, hal. 225.

[3] 2/395.

[4] Lihat Jaami’ al-Ulum wa al-Hikam, hal. 225, 226.

[5] al-Musnad, 3/438, dan al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabrani, Juz 20, No. 407.

[6] Majma’ Az-Zawaa-id, 10/74.

[7] Az-Zuhd, No. 1429.

[8] al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 152.

[9] al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 152

[10] Makna seperti ini telah disebutkan dalam hadis yang dinisbatkan kepada Nabi. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah karya al-Albani, No. 2714.

[11] Perkara ini dinukil Ibu al-Qayyim dalam kitab al-Wabil ash-Shayyib, hal. 152.

[12] Lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Ibnu al-Qayyim, hal. 149-153.


Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatdoa&id=537