Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Bentuk-Bentuk Bidah Dalam Berdoa
Rabu, 09 Oktober 13

Perbuatan maksiat itu menjadi jalan menuju kefasikan, yaitu melalui pintu hawa nafsu, maka perbuatan bidah adalah jalan menuju syirik, yaitu melalui pintu syubuhat. Mengingat perbuatan syirik merupakan perbuatan yang tidak dapat diampuni oleh Allah kecuali dengan bertobat, maka berikut ini saya kemukakan bentuk-bentuk perbuatan bidah. Karena perbuatan bidah membuka jalan menuju syirik dan sesungguhnya Allah ta'ala saat mengharamkan sesuatu maka tentu saja mengharamkan pula sebab-sebab yang mengantarkan kepada perbuatan itu.

Banyak sekali bentuk pelanggaran do`a yang bidah, di antaranya:

A. Tawassul
Pertama, tawasul yang dibolehkan syariat
Yaitu at-Tawassul (tawasul), yang wadzan dan maknanya setara dengan at-Taqarrub (mendekatkan diri) yang tergolong esensi syariat yang ditetapkan al-Quran dan sunnah, yang berarti mendekatkan diri kepada Allah ta'ala.

Berdasarkan dalil-dalil syari, maka jelaslah bahwa tawassul yang dibolehkan ada empat macam:
1. Berdo`a kepada Allah dengan bertawassul melalui asma al-husna dan sifat-sifat-Nya. Atau dengan melalui salah satu asma atau sifat Allah ta'ala. Allah berfirman,(yang artinya) Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu. (al-Araf: 180).

2. Berdo`a, bertawassul dengan amal yang shalih yang pernah dilakukan sesuai dengan syariat. Yang paling utama adalah berdo`a dengan bertawassul dengan iman kepada Allah dan mengesakan-Nya serta mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Jenis ini termasuk tawassul yang dibolehkan oleh syariat yang terangkum dalam surat al-Fatihah, yang diawali dengan pujian kepada Allah, dan sanjungan atas asma-asma-Nya yang baik, yang mencakup sifat-sifat Allah ta'ala yang agung. Hal itu tercermin di dalam firman Allah:


{2} {3} {4}

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai pada hari pembalasan. Demikian pula yang diawali dengan menyebut amal shalih, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,


{5}

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

Lalu disusul dengan do`a:


{6}

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Bahkan menunjuk pada bentuk ketiga yang tersirat di dalam firman-Nya,


....{7}

Yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka. Di antara jalan yang dianugerahkan adalah do`a orang-orang shalih.

3. Tawassul yang diekspresikan dalam bentuk sikap. Yaitu dengan menampakkan kelemahan, ketundukan, rasa hina dan butuh (fakir) kepada Allah ta'ala dan mengakui dosa-dosa yang pernah dilakukan. Demikianlah tawassul dengan sikap, sebagaimana firman Allah yang mengabarkan keadaan Musa 'alaihi sallam: Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (al-Qashash: 24).

4. Tawassul dan mendekatkan diri kepada Allah ta'ala melalui do`a orang yang shalih. Jenis tawassul ini dan jenis di atas disebutkan Allah dalam firman-Nya,(yang artinya) Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (An Nisa: 64).

Ayat ini menunjukkan bolehnya bertawassul dan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan memohon ampunan kepada Allah untuk dirinya sendiri, sedangkan ia berada pada majlis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Inilah tawassul dan mendekatkan diri kepada Allah ta'ala melalui amal shalih.

Di samping itu, ayat di atas juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah memintakan ampunan kepada orang lain tatkala beliau masih hidup. Hal ini dapat menjadi suri tauladan bagi umatnya, agar seorang muslim mendo`akan saudaranya seagama dan bertawassul dan mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan itu.

Empat jenis tawassul inilah yang termasuk dalam tawassul yang dibolehkan oleh syariat.

Kedua, tawassul yang diada-adakan (bidah)
Sebagian orang-orang muta`akhir menggunakan lafazh tawassul selain yang tersebut di atas, yaitu tawassul yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Padahal amal ibadah itu hanya boleh dilakukan dengan perintah yang disebutkan dalam nash, sedangkan nas al-Quran maupun hadits tidak ada yang dapat dijadikan sandaran amalan tawassul ini. Karena amalan mereka itu didasarkan pada riwayat-riwayat yang jelas tapi tidak shahih, atau riwayat yang shahih akan tetapi konteknya tidak sesuai. Tentu saja tawaasul yang demikian itu adalah tawassul bidah dan dilarang oleh syariat, karena jika diamalkan akan menyebabkan perbuatan syirik. Jika demikian, maka tentu saja tidak dapat menyebabkan terkabulnya do`a.

Jika ditelusuri, kita akan mendapati tawassul bid`ah ini terbagi menjadi tiga macam:

A. Berdo`a dengan bertawassul dengan makhluk.
Yaitu berdo`a dengan bertawassul dengan makhluk, dengan menjadikan mereka perantara dan penghubung antara si pemohon dengan Tuhannya. Semua itu termasuk tawassul yang tidak dibolehkan Allah dan RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam.
Berikut ini contoh do`a orang bertawassul dengan makhluk:


[ ]

Aku memohon kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, [atau melalui Fulan] agar Engkau penuhi hajatku.


[ ]

Aku bertawassul kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, [atau melalui Fulan]agar memenuhi hajatku.



Aku menghadap kepada-Mu ya Allah, melalui Nabi-Mu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang membawa rahmat, selamatkanlah aku dari bencana.



Aku bertawassul kepada-Mu ya Allah melalui makhluk-makhluk-Mu.


[]

Aku bertawassul kepada-Mu melalui Kabah ini.



Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu, melalui Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam Nabi yang membawa rahmat

Bacaan yang terakhir menurut Imam Ibnu Hambal hanya boleh ditujukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja. Asy-Syaukani memberlakukan pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, para nabi, para wali dan orang-orang shalih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkomentar, jika seseorang berdo`a dengan maksud: Aku memohon kepada-Mu dengan imanku kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan kecintaanku kepadanya, maka dapat dibenarkan. Jika tawassul itu dimaksudkan kepada diri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka memang inilah yang diingkari oleh orang yang mengingkari.

Meski tidak dapat menafikan keutamaan dan kemuliaan para imam ulama tersebut dalam bertauhid, namun merujuk kepada dalil merupakan alternatif untuk mengakhiri suatu perselisihan. Mereka bersepakat di antara mereka dan para ulama serta peneliti yang lain bahwa ibadah bersifat tauqifiah (bersandar pada nash). Maka ketika kita mencari dalil-dalil dari nash menyangkut bentuk ucapan do`a di atas maka tidak didapati nash yang dapat dijadikan sandaran. Oleh karenanya bentuk yang demikian itu dilarang. Wallahu alam.

B. Berdo`a atas nama kedudukan, martabat atau semisalnya. Yaitu berdo`a kepada Allah melalui (bertawassul) kedudukan seseorang atau salah satu makhluk-Nya, haknya, larangannya atau melalui berkahnya. Seperti misalnya:


[ ..

Ya Allah, aku meminta kepada-Mu atas keagungan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam agar memenuhi hajatku. [atau, haq Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam]

Atau menggunakan lafazh:


[ ]

Ya Allah aku meminta kepada-Mu melalui hak Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, [atau dengan kesucian, atau dengan berkahnya] agar Engkau mengabulkan hajatku..



Wahai Tuhanku, aku bertawassul kepada-Mu atas keagungan Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam agar memenuhi hajatku.


[ ]

Atas nama hak [atau atas kesucian, atau atas berkahnya] para rasul dan nabi-Mu.


[ ]

Atas nama hak [atau kesucian, atau berkahnya atau kehormatan] para wali-Mu dan hamba-hamba-Mu yang shalih.


ʡ

Atas nama rumah ini (ka`bah), atas nama masya`ir muqaddasah (tempat-tempat yang suci).



Atas nama al-Bukhari.


[ ]

Atas nama al-Jailani, atau atas nama berkahnya, dan seterusnya.

C. Bersumpah kepada Allah ta'ala atas nama salah satu makhluk-Nya. Misalnya:Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu atas nama Fulan agar memenuhi hajatku.

Do`a semacam ini haram hukumnya, atas dasar dua hal:

1. Karena termasuk bersumpah atas nama selain nama Allah ta'ala berdasarkan sebuah hadts Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia bersabda,



Barangsiapa yang bersumpah kepada selain Allah, maka ia telah kafir atau syirik.

2. Memposisikan makhluk lebih agung dari sang Khaliq (Allah). Kita berlindung dari perbuatan ghuluw (berlebihan) dan rongrongan hawa nafsu.

Di samping itu, dalam hal ini orang yang bersumpah memposisikan diri pada posisi yang tinggi, tidak pada posisi orang yang tunduk dan pasrah. Wallahu alam.

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhh ad-Du`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]
Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatdoa&id=513