Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Tujuh Kewajiban Terhadap Perintah Allah- -

Jumat, 02 September 22
**

Sesungguhnya termasuk hal yang telah diketahui oleh setiap orang yang beriman adalah bahwa Allah- -Dzat yang Maha Agung, Sang Pencipta, Dzat yang Maha Mulia tidaklah menciptakan makhluk-Nya main-main (tanpa ada maksud), dan tidaklah Dia- - mengadakan mereka begitu saja (tanpa pertanggung jawaban). Karena, Dia- -bersih dari main-main dan hal-hal yang tidak berguna. Tetapi, Allah- -menciptakan mereka untuk suatu tujuan nan agung dan untuk sebuah hikmah nan mulia. Allah - - menciptakan mereka dengan benar dan untuk kebenaran. Allah- - berfirman,


[ : 3]


Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (an-Nahl : 3)

Allah- - menyebutkan tentang Ulil Albab bahwa mereka mengatakan dalam penyucian mereka terhadap Allah - -,


[ : 191]


Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka (Ali Imran : 191)

Dan, Allah- -telah berfirman,


(27) (28) [ : 27 28]


Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia. Itulah anggapan orang-orang yang kufur. Maka, celakalah orang-orang yang kufur karena (mereka akan masuk) neraka.
Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Pantaskah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan para pendurhaka? (Shad : 27-28)
Yakni, bahwa Allah- -bersih dari hal-hal tersebut.

Dan, Allah- -juga berfirman,


(16) (17) [ : 16 17]


Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main.
Seandainya Kami hendak menjadikan sesuatu sebagai permainan, tentulah Kami akan membuatnya dari sisi Kami,jika Kami benar-benar menghendaki berbuat (demikian). (al-Anbiya : 16-17)

Dan, pada hari Kiamat, Allah- -berfirman kepada para penduduk Neraka, untuk mencela dan menghinakan mereka,


(115) (116) [ : 115 116]


Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya. Tidak ada tuhan selain Dia, pemilik Arasy yang mulia. (al-Mukminun : 115-116)

Dan, ketika Allah- -menyebutkan tindakan-Nya menciptakan manusia berasal dari air mani, kemudian menjadi segumpal daging sampai menjadi sosok manusia yang sempurna, dalam rangkaian ini Allah- -berfiman,


[ : 36]


Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? (al-Qiyamah : 36)
Yakni, dia tidak akan dibangkitkan, tidak dihisab dan tidak diberikan hukuman !!

Atau (makna firman-Nya ini),


[ : 36]


Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? (al-Qiyamah : 36)
Yakni, ia tidak akan diperintah dan tidak akan pula dilarang !!

Masing-masing dari kedua makna ini merupakan sesuatu yang dimaksudkan dalam ayat ini. Maka, tidaklah Allah- - membiarkan ciptaan-Nya di dunia tanpa perintah dan tanpa larangan. Tidak pula membiarkan mereka pada hari Kiamat tanpa hisab dan tanpa adzab.

Wahai hamba-hamba Allah !

Sesungguhnya Allah- -menciptakan makhluk-Nya agar mereka menyembah-Nya, dan Allah - - mengadakan mereka agar mereka meng-Esa-kan-Nya, mentaati-Nya, menghinakan diri kepada-Nya dan khusyu kepada-Nya. Allah- -menciptakan makhluk agar Allah- -memerintah mereka agar mentaati-Nya dan beribadah kepada-Nya, dan melarang mereka dari berbuat maksiat dan dosa.

Wahai hamba-hamba Allah !

Dan bila seorang Muslim merenungkan hakikat yang agung nan mulia ini, akan muncul sebuah pertanyaan yang sangat penting tentunya. Pertanyaan tersebut adalah apa kewajiban kita terhadap apa yang Allah- -perintahkan kepada kita ?

Saudaraku

Kita adalah makhluk ciptaan Allah- -. Allah- -menciptakan kita agar Dia - -memerintah dan melarang kita. Dia - - menciptakan kita agar kita mentaati-Nya dan agar kita melaksanakan perintah-Nya. Lalu, apa kewajiban kita terhadap apa yang Allah- -perintahkan kepada kita ?

Para ulama- -menyebutkan bahwa yang wajib atas setiap muslim terhadap apa yang Allah- -petintahkan kepadanya itu ada tujuh hal yang sangat agung. Maka, camkamlah ketujuh hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah- -merahmati kalian semuanya. Tujuh kewajiban kita terhadap setiap hal yang Allah- -perintahkan kepada kita, baik berupa mentauhidkan-Nya, shalat, puasa, haji, sedekah, berbuat baik dan yang lainnya berupa ketaatan, perintah-perintah dan larangan-larangan yang disebutkan di dalam kitab Allah- -dan sunnah Nabi-Nya- -, yaitu,

Kewajiban yang Pertama

Adapun kewajiban yang petama adalah mempelajari sesuatu yang diperintahkan dan mengilmuinya serta mengenalnya. Oleh karena itu, datang dalil-dalil yang cukup banyak yang mendorong dan memotivasi kita untuk mempelajarinya, menjelaskan akan keutamaannya, mejelaskan keagungan hasil dan pengaruhnya.

Dalam hadis shahih, Nabi- -bersabda,


(( )) .


Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah memudahkannya untuk meniti jalan ke Surga.

Kewajiban yang Kedua

Kewajiban kita yang kedua terhadap segala yang Allah- - perintahkan kepada kita adalah kita mencintai apa yang Allah- -perintahkan kepada kita, kita memakmurkan hati kita dengan kecintaan terhadap apa-apa yang Allah- -perintahkan kepada kita. Hal itu karena, tidaklah Allah- -memerintahkan kepada kita melainkan dengan apa-apa yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan (untuk kita) dan tidaklah Allah- -melarang kita kecuali dari hal-hal yang di dalamnya terdapat keburukan dan bala. Karenanya kita mencintai apa yang diperintahkan-Nya dan kita memakmurkan hati kita dengan kecintaan terhadapnya.

Di dalam doa yang matsur dari Nabi kita Muhammad- - disebutkan,


(( )) .


Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kecintaan terhadap-Mu dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu serta kecintaan terhadap amal yang akan mendekatkan diriku kepada kecintaan-Mu.

Hendaknya seorang mukmin berhati-hati jangan sampai ada di dalam hatinya rasa tidak suka dan benci terhadap perintah-perintah Allah- - atau terhadap perintah-perintah Rasul-Nya- -. Hal ini karena Allah- telah berfirman,


[ : 9]


Hal itu (terjadi) karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah (Al-Quran) sehingga Dia menggugurkan amal-amalnya. (Muhammad : 9)

Kewajiban yang Ketiga

Hendaknya kita bertekad kuat untuk mengerjakan apa-apa yang Allah- -perintahkan kepada kita.

Tekad yang kuat itu merupakan gerakan di dalam hati. Ia bergerak menuju kepada kebaikan, senang dan bersemangat untuk melakukannya.

Dalam doa yang matsur (dari Nabi kita Muhammad- -) disebutkan,


(( )) .


Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara dan tekad yang kuat untuk mengamalkan petunjuk.

Maka dari itu, apabila Anda tahu bahwa suatu perintah merupakan petunjuk, bahwa suatu perintah itu merupakan kebaikan, bahwa suatu perintah merupakan perkara yang di dalamnya terdapat kemaslahatan untuk Anda dalam urusan agama Anda dan dalam urusan duniawi Anda, maka bertekad kuatlah untuk melakukannya dan gerakkan hati Anda untuk menunaikannya.

Kewajiban yang Keempat

Hendaknya kita melakukan apa yang Allah- -perintahkan kepada kita dengan senang hati, tunduk dan patuh kepada-Nya karena hal tersebut adalah perintah-Nya, sangat mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya (berupa pahala dan bentuk balasan yang baik lainnya) karena kita hakikatnya adalah hamba-Nya, sementara kewajiban seorang hamba adalah taat terhadap tuannya.

Dalam doa yang matsur dari Nabi kita Muhammad- -, bahkan beliau- -berdoa denganya setiap hari setelah shalat Subuh,


(( )) .


Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.

Kewajiban yang Kelima

Hendaknya amal itu dilakukan dengan ikhlash dan benar. Hendaknya amal itu dilakukan dengan ikhlash semata-mata karena Allah- - dan benar sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah- -. Karena sesungguhnya Allah- -tidak akan menerima amal itu kecuali jika dilakukannya dengan dibalut dengan sifat ini.

Fudhail bin Iyadh- -ketika mengometari firman Allah,
[ : 2]
untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (al-Mulk : 2), ia mengatakan, yakni, yang paling ikhlash dan yang paling benar. Lantas, ditanyakan kepadanya, Wahai Abu Ali ! Bagaimana yang paling ikhlash dan yang paling benar itu ? Beliau- menjawab, Sesungguhnya amal itu, apabila dilakukan secara ikhlash namun tidak benar, nicaya amal tersebut tidak diterima. Begitu pula apabila amal tersebut benar namun dilakukan dengan tidak ikhlash niscaya tidak diterima pula. Sehingga amal tersebut dilakukan dengan ikhlash dan benar. Amal yang ikhlash adalah selagi amal tersebut murni dilakukan karena Allah- -, sedangkan amal yang benar adalah selagi amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk Nabi- -)

Kewajiban yang Keenam

Hendaknya kita wewaspadai pembatal-pembatal amal, hal-hal yang merusaknya dan hal-hal yang dapat menghapus (pahala)nya. Hal-hal ini cukup banyak. Penjelasannya telah datang di dalam kitab Allah- -dan sunnah Nabi-Nya- -, seperti ; riya, nifak, menginginkan dunia dengan beramal shaleh, sumah, dan lain sebagainya.

Kewajiban yang Ketujuh

Hendaknya seorang mukmin besemangat untuk menetapi kebaikan, memerangi diri untuk menetapi kebaikan, dan meminta kepada Allah- -agar dapat menetapi kebaikan tersebut (hingga meninggal dunia)


[ : 8]


Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. (Ali Imran : 8)

Wahai hamba-hamba Allah !

Inilah tujuh hal yang sangat agung, kewajiban kita terhadap segala apa yang Allah- -perintahkan ; (yaitu) mengilmuinya, mencintainya, betekad kuat untuk melakukannya, mengamalkannya, hendaknya amal yang dilakukan itu ikhlash dan benar, waspada terhadap hal-hal yang akan dapat membatalkan amal, dan menetapi amal baik itu sampai meninggal dunia.

Semoga Allah- -meneguhkan kita semua dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan semoga pula Dia- -menunjukkan kita semuanya jalan yang lurus kepada-Nya.

Amin

Wallahu Alam

(Redaksi)

Sumber :
Wajibu al-Muslim Nahwa Awamirillah, Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr- -




Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=989