Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
﴿æóÇÖúÑöÈú áóåõãú ãóËóáó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö ÝóÃóÕúÈóÍó åóÔöíãðÇ ÊóÐúÑõæåõ ÇáÑøöíóÇÍõ æóßóÇäó Çááøóåõ Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ãõÞúÊóÏöÑðÇ (45)﴾
﴿ÇáúãóÇáõ æóÇáúÈóäõæäó ÒöíäóÉõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ÎóíúÑñ ÚöäúÏó ÑóÈøößó ËóæóÇÈðÇ æóÎóíúÑñ ÃóãóáðÇ (46)﴾
Buatkanlah untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering kerontang yang diterbangkan oleh angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (al-Kahfi : 45-46)
***
Makna Global
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintahkan NabiNya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó agar beliau membuat perumpamaan yang bersifat umum tentang dunia dalam hal cepatnya hilangnya dan cepatnya kesudahannya atau kenbinasaannya, seraya berfirman : buatkanlah -wahai Muhammad-sebuah perumpamaan dunia yang mana mereka telah tertipu dan terpedaya olehnya, tentang keindahan dan keelokannya dan cepatnya kebinasaannya ; maka perumpamaan itu adalah laksana air (hujan) yang Allah turunkan dari langit ke bumi, maka banyaklah tanaman-tanaman bumi yang tumbuh subur disebabkan karena air hujan tersebut, satu dengan yang lainnya tumbuh menggerombol, sehingga jadilah tanam-tanaman ini -setelah elok dan indah dipandang mata-kering dan tercerai beraikan oleh angin yang menghempaskannya dan menerbangkannya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan bahwa harta benda dan anak-anak hakekatnya sekedar sebagai sebuah perhiasan, dan bahwa yang akan memberikan kemanfaatan terhadap seorang hamba di akhirat adalah amal shaleh, seraya mengatakan ‘harta dan anak-anak itu merupakan perhiasan dunia ini, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) bagi pelakunya adalah lebih baik balasannya dan itu adalah sebaik-baik apa yang diharap-harapkan oleh seorang insan di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì yang lebih baik daripada perhiasan dunia nan fana.
Tafsir Ayat :
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóÇÖúÑöÈú áóåõãú ãóËóáó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö ÝóÃóÕúÈóÍó åóÔöíãðÇ ÊóÐúÑõæåõ ÇáÑøöíóÇÍõ æóßóÇäó Çááøóåõ Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ãõÞúÊóÏöÑðÇ
Buatkanlah untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering kerontang yang diterbangkan oleh angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Setelah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan pada perumpamaan sebelumnya tentang keadaan si kafir dan si Mukmin dan tentang bagaimana kesudahan yang menimpa si kafir itu berupa kebinasaan yang mendera sesuatu yang sangat dibangga-banggakannya; maka dalam perumpamaan ini, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan keadaan kehidupan dunia dan kelenyapannya, dan perjalanan apa yang ada di dalamnya berupa kenikmatan menuju kepada kehancuran[1], maka setelah Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membuat perumpamaan tersebut untuk dunia orang-orang kafir ini yang telah menjadikan mereka sombong dan angkuh, dan hal itu telah menjadi sebab kesengsaraan mereka, maka kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membuat perumpamaan untuk kehidupan dunia secara umum. [2]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóÇÖúÑöÈú áóåõãú ãóËóáó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö
Buatkanlah untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit
Yakni, dan sebutkanlah-wahai Muhammad-kepada mereka [3] sesuatu yang menyerupai kehidupan dunia [4] tentang keindahannya dan cepatnya perubahan keadaannya, dan tentang hilangnya dan kesudahannya dan kehancurannya ; agar mereka tahu akan hakekat kehidupan dunia, maka sifat kehidupan dunia itu seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit ke bumi.[5]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö
Sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi
Yakni, tumbuhan-tumbuhan di bumi tumbuh dan berkembang, keadaannya menjadi baik[6], menjadi banyak dan lebat, satu sama lainnya berkupul/bergerombol[7] ; disebabkan karena air hujan itu.[8]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
ÝóÃóÕúÈóÍó åóÔöíãðÇ ÊóÐúÑõæåõ ÇáÑøöíóÇÍõ
Kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering kerontang yang diterbangkan oleh angin
Yakni, kemudian, tumbuhan-tumbuhan itu menjadi kering kerontang setelah sebelumnya keadaannya beraneka ragam, berkembang pesat, berseri-seri dan tampak elok, angin menerbangkannya dan mencerai-beraikannya [9]
seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿ÅöäøóãóÇ ãóËóáõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö ãöãøóÇ íóÃúßõáõ ÇáäøóÇÓõ æóÇáúÃóäúÚóÇãõ ÍóÊøóì ÅöÐóÇ ÃóÎóÐóÊö ÇáúÃóÑúÖõ ÒõÎúÑõÝóåóÇ æóÇÒøóíøóäóÊú æóÙóäøó ÃóåúáõåóÇ Ãóäøóåõãú ÞóÇÏöÑõæäó ÚóáóíúåóÇ ÃóÊóÇåóÇ ÃóãúÑõäóÇ áóíúáðÇ Ãóæú äóåóÇÑðÇ ÝóÌóÚóáúäóÇåóÇ ÍóÕöíÏðÇ ßóÃóäú áóãú ÊóÛúäó ÈöÇáúÃóãúÓö ßóÐóáößó äõÝóÕøöáõ ÇáúÂíóÇÊö áöÞóæúãò íóÊóÝóßøóÑõæäó﴾ [íæäÓ: 24]
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir.(Yunus : 24)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿ÇÚúáóãõæÇ ÃóäøóãóÇ ÇáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ áóÚöÈñ æóáóåúæñ æóÒöíäóÉñ æóÊóÝóÇÎõÑñ Èóíúäóßõãú æóÊóßóÇËõÑñ Ýöí ÇáúÃóãúæóÇáö æóÇáúÃóæúáóÇÏö ßóãóËóáö ÛóíúËò ÃóÚúÌóÈó ÇáúßõÝøóÇÑó äóÈóÇÊõåõ Ëõãøó íóåöíÌõ ÝóÊóÑóÇåõ ãõÕúÝóÑøðÇ Ëõãøó íóßõæäõ ÍõØóÇãðÇ æóÝöí ÇáúÂÎöÑóÉö ÚóÐóÇÈñ ÔóÏöíÏñ æóãóÛúÝöÑóÉñ ãöäó Çááøóåö æóÑöÖúæóÇäñ æóãóÇ ÇáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ ÅöáøóÇ ãóÊóÇÚõ ÇáúÛõÑõæÑö﴾ [ÇáÍÏíÏ: 20]
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kalian serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya. (al-Hadid : 20)
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóßóÇäó Çááøóåõ Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ãõÞúÊóÏöÑðÇ
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yakni, bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì itu untuk melakukan segala sesuatu itu ; berupa menciptakan atau mengadakan dan meniadakan atau membinasakan, serta mengembalikan kembali seperti sedia kala dan lain sebagainya, adalah kuat dan mampu, tak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya dan melemahkan-Nya. [10]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
ÇáúãóÇáõ æóÇáúÈóäõæäó ÒöíäóÉõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ÎóíúÑñ ÚöäúÏó ÑóÈøößó ËóæóÇÈðÇ æóÎóíúÑñ ÃóãóáðÇ
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Ketika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah merendahkan hakikat keadaan dunia melalui pembuatan perumpamaan ; Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì kemudian menyebutkan bahwa harta dan anak-anak itu merupakan perhiasan kehidupan dunia yang terhina ini, dan bahwa tempat kembali hal itu tidak lain hanyalah kepada kebinasaan, maka seyogyanya seseorang tidak menaruh konsentrasi perhatiannya terhadap kehidupan dunia.[11]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
ÇáúãóÇáõ æóÇáúÈóäõæäó ÒöíäóÉõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia,
Yakni, berbagaimacam harta benda dan anak-anak yang dijadikan manusia untuk menghiasi dirinya dan memperbagus dirinya dalam kehidupan mereka di dunia sejatinya bukan hal yang akan memberikan manfaat (bagi mereka) di akhirat; karena kedua hal tersebut termasuk hal yang sebentar saja akan binasa.[12]
Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿Òõíøöäó áöáäøóÇÓö ÍõÈøõ ÇáÔøóåóæóÇÊö ãöäó ÇáäøöÓóÇÁö æóÇáúÈóäöíäó æóÇáúÞóäóÇØöíÑö ÇáúãõÞóäúØóÑóÉö ãöäó ÇáÐøóåóÈö æóÇáúÝöÖøóÉö æóÇáúÎóíúáö ÇáúãõÓóæøóãóÉö æóÇáúÃóäúÚóÇãö æóÇáúÍóÑúËö Ðóáößó ãóÊóÇÚõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÇááøóåõ ÚöäúÏóåõ ÍõÓúäõ ÇáúãóÂÈö (14) ✷ Þõáú ÃóÄõäóÈøöÆõßõãú ÈöÎóíúÑò ãöäú Ðóáößõãú áöáøóÐöíäó ÇÊøóÞóæúÇ ÚöäúÏó ÑóÈøöåöãú ÌóäøóÇÊñ ÊóÌúÑöí ãöäú ÊóÍúÊöåóÇ ÇáúÃóäúåóÇÑõ ÎóÇáöÏöíäó ÝöíåóÇ æóÃóÒúæóÇÌñ ãõØóåøóÑóÉñ æóÑöÖúæóÇäñ ãöäó Çááøóåö æóÇááøóåõ ÈóÕöíÑñ ÈöÇáúÚöÈóÇÏö (15)﴾ [Âá ÚãÑÇä: 14-15]
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.
Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (Ali Imran : 14-15)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿íóæúãó áóÇ íóäúÝóÚõ ãóÇáñ æóáóÇ Èóäõæäó (88) ÅöáøóÇ ãóäú ÃóÊóì Çááøóåó ÈöÞóáúÈò Óóáöíãò (89)﴾ [ÇáÔÚÑÇÁ: 88-89]
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara : 88-89)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿æóãóÇ ÃóãúæóÇáõßõãú æóáóÇ ÃóæúáóÇÏõßõãú ÈöÇáøóÊöí ÊõÞóÑøöÈõßõãú ÚöäúÏóäóÇ ÒõáúÝóì ÅöáøóÇ ãóäú Âãóäó æóÚóãöáó ÕóÇáöÍðÇ ÝóÃõæáóÆößó áóåõãú ÌóÒóÇÁõ ÇáÖøöÚúÝö ÈöãóÇ ÚóãöáõæÇ æóåõãú Ýöí ÇáúÛõÑõÝóÇÊö Âãöäõæäó﴾ [ÓÈÃ: 37]
Bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedekat-dekatnya, melainkan orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang mereka kerjakan. Mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Saba : 37)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿áóäú ÊóäúÝóÚóßõãú ÃóÑúÍóÇãõßõãú æóáóÇ ÃóæúáóÇÏõßõãú íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö íóÝúÕöáõ Èóíúäóßõãú æóÇááøóåõ ÈöãóÇ ÊóÚúãóáõæäó ÈóÕöíÑñ﴾ [ÇáããÊÍäÉ: 3]
Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Kelak Dia akan memisahkan antara kamu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-Mumtahanah : 3)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿æóãóÇ íõÛúäöí Úóäúåõ ãóÇáõåõ ÅöÐóÇ ÊóÑóÏøóì﴾ [Çááíá: 11]
Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.(al-Lail : 11)
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ÎóíúÑñ ÚöäúÏó ÑóÈøößó ËóæóÇÈðÇ æóÎóíúÑñ ÃóãóáðÇ
Sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
Yakni, amal-amal shaleh yang tetap abadi bagi pelakunya di akhirat itulah yang kekal dan akan tetap manfaatnya dan pahalanya ; hal tersebut merupakan balasan yang lebih utama di sisi rabbmu-wahai Muhammad- daripada perhiasan kehidupan dunia yang fana, dan hal itu merupakan sesuatu yang paling utama untuk menjadi harapan seseorang, dan paling utama untuk diharapkan manfaatnya dan akhir kesudahannya yang terpuji.[13]
Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿æóÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ÎóíúÑñ ÚöäúÏó ÑóÈøößó ËóæóÇÈðÇ æóÎóíúÑñ ãóÑóÏøðÇ﴾ [ãÑíã: 76]
Amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahala dan kesudahannya di sisi Tuhanmu. (Maryam : 76)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿ãóäú Úóãöáó ÕóÇáöÍðÇ ãöäú ÐóßóÑò Ãóæú ÃõäúËóì æóåõæó ãõÄúãöäñ ÝóáóäõÍúíöíóäøóåõ ÍóíóÇÉð ØóíøöÈóÉð æóáóäóÌúÒöíóäøóåõãú ÃóÌúÑóåõãú ÈöÃóÍúÓóäö ãóÇ ßóÇäõæÇ íóÚúãóáõæäó﴾ [ÇáäÍá: 97]
Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. (an-Nahl : 97)
Faidah :
1-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
æóÇÖúÑöÈú áóåõãú ãóËóáó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö ÝóÃóÕúÈóÍó åóÔöíãðÇ ÊóÐúÑõæåõ ÇáÑøöíóÇÍõ æóßóÇäó Çááøóåõ Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ãõÞúÊóÏöÑðÇ
Buatkanlah untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering kerontang yang diterbangkan oleh angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Maka, kondisi dan keadaan dunia pertama kalinya muncul dalam tampilan yang begitu indah dan mempesona, kemudian bertambah semakin indah dan mempesona sedikit demi sedikit, kemudian menjadi turun dratis secara cepat sampai berakhir pada kehancuran dan kefanaan. Dan, semisal hal ini, tentunya orang yang berakal tidak semestinya berbinar-binar matanya dengan melihat realitas sebenarnya dari kehidupan dunia ini [14]; karena dunia itu sangat cepat hilangnya dan sangat cepat pula kepergiannya, yang kehidupannya dibersamai dengan banyaknya kesusahan dan terus menerus berlangsunya hal-hal menyukarkan dan membuat keruh kehidupan, berupa kesusahan dan kepenatan serta kepayahan, ketakukan dan kelelahan. Maka, kondisi yang demikian ini, tentunya lebih layak untuk disikapi dengan zuhud dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan tidak suka terhadapnya, dan seorang yang berakal tentunya tidak sampai berbangga-bangga dengannya, apalagi sampai bersaing memperbanyaknya dan memperebutkanya dengan orang lain.[15]
2-Dulu, yang menjadi penghalang terbesar antara orang-orang Musyrikin dan antara melihat dan merenungkan dalal-dalil petunjuk Islam adalah keseriusan dan ketekunan mereka dalam menyambut dan menyikapi kehidupan yang akan hilang dan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, begitu juga keterpedayaan yang berhasil memperdaya orang-orang yang melampoi batas dari kalangaan orang-orang Musyrik itu. Juga, berpalingnya mereka dari mendayagunakan akal sehat mereka dalam memahami dalil-dalil yang menunjukkan akan keesaan-Nya dan adanya pembangkitan manusia (setelah kematian mereka), seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿æóÐóÑúäöí æóÇáúãõßóÐøöÈöíäó Ãõæáöí ÇáäøóÚúãóÉö æóãóåøöáúåõãú ÞóáöíáðÇ﴾ [ÇáãÒãá: 11]
Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap para pendusta yang memiliki segala kenikmatan hidup dan berilah mereka penangguhan sementara. (al-Muzammil : 11)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿Ãóäú ßóÇäó ÐóÇ ãóÇáò æóÈóäöíäó (14) ÅöÐóÇ ÊõÊúáóì Úóáóíúåö ÂíóÇÊõäóÇ ÞóÇáó ÃóÓóÇØöíÑõ ÇáúÃóæøóáöíäó (15)﴾ [ÇáÞáã: 14-15]
karena dia kaya dan mempunyai banyak anak.
Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, “(Ini adalah) dongengan orang-orang terdahulu.” (al-Qalam : 14-15)
Dan dulu, mereka (orang-orang Musykik itu) mengira bahwa alam ini tidak akan kembali atau berubah menjadi fana,
﴿æóÞóÇáõæÇ ãóÇ åöíó ÅöáøóÇ ÍóíóÇÊõäóÇ ÇáÏøõäúíóÇ äóãõæÊõ æóäóÍúíóÇ æóãóÇ íõåúáößõäóÇ ÅöáøóÇ ÇáÏøóåúÑõ﴾ [ÇáÌÇËíÉ: 24]
Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” (al-Jatsiyah : 24)
Dan tidaklah salah seorang dari dua orang yang telah lalu diceritakan kisahnya melainkan ia seorang dari kalangan orang-orang Musyrikin ; ketika ia mengatakan : ﴿æóãóÇ ÃóÙõäøõ ÇáÓøóÇÚóÉó ÞóÇÆöãóÉð﴾ [ÇáßåÝ: 36] “aku kira hari Kiamat tidak akan datang”, maka Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memerintkan Rasul-Nya agar membuat perumpamaan bagi mereka tentang kehidupan dunia yang telah berhasil memperdaya mereka dengan keelokan dan keindahannya. [16]
3-Sesungguhnya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengumpamakan kehidupan dunia dengan “Air”; karena air itu tidaklah menetap bentuknya di satu tempat, demikian pula halnya dunia, tidaklah menetap di atas satu keadaan. Dan karena air itu tidak dapat tegak berdiri di atas satu keadaan saja, demikian pula halnya dunia. Juga karena air itu tidak akan menetap, tetapi ia akan pergi, demikian pula halnya dunia, kehidupannya fana. Juga karena air itu, tidak seorang pun yang masuk ke dalamnya sementa air itu tidak akan membasahinya, demikian pula dunia ; tak seorang pun yang memasuki (pintu kehidupan)nya yang akan selamat dari fitnahnya dan penyakitnya. Juga karena air itu bila sesuai kadar yang dibutuhkan, niscaya akan memberikan manfaat dan dapat menumbuhkan tanam-tanaman, namun jika kadarnya melampoi batas yang dibutuhkan, niscaya akan membahayakan dan dapat membinasakan. Demikian pula halnya dunia : cukup mendapatkannya, akan bermanfaat, dan melebihi batasnya akan membayakan. [17]
4-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengkhabarkan bahwa harta dan anak-anak itu adalah perhiasan kehidupan dunia, yakni, tidak ada sesuatu pun di balik itu, dan bahwa sesuatu yang akan tetap bagi seorang insan, dan yang akan memberikan manfaat kepadanya, dan akan menggembirakan dan membahagiakan dirinya adalah ÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ di mana ini mencakup semua bentuk amal ketaatan yang wajib maupun yang sunnah berupa hak-hak Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan hak-hak para hamba-Nya; maka inilah yang lebih baik pahalanya di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan lebih baik untuk dijadikan sebagai harapan; karena pahalanya tetap, dan berlipat-lipat ganda sepanjang masa, dan diharapkan ganjarannya, kebaikannya, dan kemanfaatannya ketika dibutuhkan. Maka, inilah yang seyogyanya dijadikan sebagai ladang untuk saling berlomba oleh orang-orang yang senang berlomba, dan segera diraih oleh orang-orang yang beramal, dan diupayakan dengan sungguh-sungguh untuk dapat diperoleh orang-orang yang bersungguh-sungguh.
Dan renungkanlah bagaimana ketika Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì membuat perumpamaan dunia dan kondisinya serta kemusnahannya, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkan bahwa sesuatu yang ada dalam kehidupan dunia itu dua macam; satu macam berupa perhiasannya di mana hal itu dinikmati sebentar saja, kemudian lenyap tanpa faidah yang akan kembali kepada penikmatnya. Bahkan, boleh jadi hal yang akan menghinggapinya adalah bahayanya, yaitu berupa harta benda dan anak-anak; satu macam lagi akan tetap dan memberikan manfaat kepada pelakunya selamanya tanpa henti, yaitu berupa ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ . [18]
5-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
. ﴿ÇáúãóÇáõ æóÇáúÈóäõæäó ÒöíäóÉõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ÎóíúÑñ ÚöäúÏó ÑóÈøößó ËóæóÇÈðÇ æóÎóíúÑñ ÃóãóáðÇ (46)﴾
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (al-Kahfi : 46)
Yang dikehendaki dari ayat yang mulia ini adalah memperingatkan manusia agar memperhatikan dan melakukan amal shaleh ; agar mereka tidak tersibukkan dengan perhiasan kehidupan dunia berupa harta benda dan anak-anak hingga terlupakan dari sesuatu yang justru akan memberikan manfaat kepada mereka di akhirat di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berupa amal-amal yang disifati dengan ÇáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ. Dan, makna ini yang diisyaratkan di sini telah datang terjelaskan di dalam ayat-ayat lainnya, seperti firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿Òõíøöäó áöáäøóÇÓö ÍõÈøõ ÇáÔøóåóæóÇÊö ãöäó ÇáäøöÓóÇÁö æóÇáúÈóäöíäó æóÇáúÞóäóÇØöíÑö ÇáúãõÞóäúØóÑóÉö ãöäó ÇáÐøóåóÈö æóÇáúÝöÖøóÉö æóÇáúÎóíúáö ÇáúãõÓóæøóãóÉö æóÇáúÃóäúÚóÇãö æóÇáúÍóÑúËö Ðóáößó ãóÊóÇÚõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÇááøóåõ ÚöäúÏóåõ ÍõÓúäõ ÇáúãóÂÈö (14) ✷ Þõáú ÃóÄõäóÈøöÆõßõãú ÈöÎóíúÑò ãöäú Ðóáößõãú áöáøóÐöíäó ÇÊøóÞóæúÇ ÚöäúÏó ÑóÈøöåöãú ÌóäøóÇÊñ ÊóÌúÑöí ãöäú ÊóÍúÊöåóÇ ÇáúÃóäúåóÇÑõ ÎóÇáöÏöíäó ÝöíåóÇ æóÃóÒúæóÇÌñ ãõØóåøóÑóÉñ æóÑöÖúæóÇäñ ãöäó Çááøóåö æóÇááøóåõ ÈóÕöíÑñ ÈöÇáúÚöÈóÇÏö (15)﴾ [Âá ÚãÑÇä: 14-15]
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (Ali Imran : 14-15)
Dan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿íóÇÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ áóÇ Êõáúåößõãú ÃóãúæóÇáõßõãú æóáóÇ ÃóæúáóÇÏõßõãú Úóäú ÐößúÑö Çááøóåö æóãóäú íóÝúÚóáú Ðóáößó ÝóÃõæáóÆößó åõãõ ÇáúÎóÇÓöÑõæäó﴾ [ÇáãäÇÝÞæä: 9]
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (al-Munafiqun : 9)
Dan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿ÅöäøóãóÇ ÃóãúæóÇáõßõãú æóÃóæúáóÇÏõßõãú ÝöÊúäóÉñ æóÇááøóåõ ÚöäúÏóåõ ÃóÌúÑñ ÚóÙöíãñ﴾ [ÇáÊÛÇÈä: 15]
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar. (at-Taghabun : 15)
Dan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿æóãóÇ ÃóãúæóÇáõßõãú æóáóÇ ÃóæúáóÇÏõßõãú ÈöÇáøóÊöí ÊõÞóÑøöÈõßõãú ÚöäúÏóäóÇ ÒõáúÝóì ÅöáøóÇ ãóäú Âãóäó æóÚóãöáó ÕóÇáöÍðÇ ÝóÃõæáóÆößó áóåõãú ÌóÒóÇÁõ ÇáÖøöÚúÝö ÈöãóÇ ÚóãöáõæÇ æóåõãú Ýöí ÇáúÛõÑõÝóÇÊö Âãöäõæäó﴾ [ÓÈÃ: 37]
Bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedekat-dekatnya, melainkan orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang mereka kerjakan. Mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Saba‘ : 37)
Dan firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿íóæúãó áóÇ íóäúÝóÚõ ãóÇáñ æóáóÇ Èóäõæäó (88) ÅöáøóÇ ãóäú ÃóÊóì Çááøóåó ÈöÞóáúÈò Óóáöíãò (89)﴾ [ÇáÔÚÑÇÁ: 88-89]
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (asy-Syu’ara : 88-89)
Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa seorang insan tidak sepatutnya menyibukkan diri dengan perhiasan kehidupan dunia hingga terlenakan dari sesuatu yang justru akan memberikan manfaat kepadanya di kehidupan akhiratnya.[19]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 7/185.
[2] Lihat : Tafsir al-Maraghiy, 15/152.
[3] Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang menyombongkan diri yang meminta kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó agar beliau mengusir orang-orang fakir orang-orang yang beriman. Di antara kalangan ahli tafsir yang mengatakan demikian adalah Ibnu Jarir dan al-Qurthubiy. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/272. Tafsir al-Qurthubiy, 10/412.
Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah “manusia” (pada umumnya). Di antara kalangan ahli tafsir yang mengatakan demikian adalah Ibnu Katsir dan as-Sa’diy. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 5/161. Tafsir as-Sa’diy, hal. 478.
[4] Ibnu Asyur mengatakan :
“ÇóáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ” (Kehidupan Dunia) : dimutlakan kepada periode waktu tetapnya keberadaan berbagai macam bentuk kehidupan tersebut di atas bumi dan tetapnya bumi di atas keadaannya ; maka, pemutlakan istilah “ÇóáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ” (Kehidupan Dunia) atas periode waktu itu ; karena periode waktu itu merupakan periode waktu kehidupan yang kurang tidak abadi; karena kehidupan dunia itu ditentukan masa hilang dan kehancurannya, yaitu, periode waktu yang dekat.
Dan “ÇóáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ” (Kehidupan Dunia) (juga) dimutlakan kepada peride waktu kehidupan individu, yakni, kehidupan setiap orang…dan perumpamaan ini sangat cocok diterapkan terhadap kehidupan dunia dengan pemutlakannya, maka kedua hal ini merupan dua hal yang dimaksudkan dari perumpamaan ini. (Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/330-331)
[5] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/272. Tafsir al-Baidhawiy, 3/283. Tafsir Ibnu Katsir, 5/161. Tafsir as-Sa’diy, hal : 478.
[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/272, Tafsir Ibnu Katsir, 5/161.
[7] Di antara kalangan ahli tafsir yang berpendapat dengan makna ini adalah : al-Wahidiy, Ibnu ‘Athiyyah, Ibnu Asyur, dan Ibnu Utsaimin. Lihat : al-Basith, karya : al-Wahidiy, 14/33, Tafsir Ibnu Athiyyah, 3/519. Tafsir Ibnu Asyur, 15/331. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal : 77).
[8] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/272, 273. Al-Basith, karya : al-Wahidiy, 14/33. Tafsir Ibnu Athiyyah, 3/519. Tafsir as-Sa’diy, hal : 478. Tafsir Ibnu Asyur, 15/331.
[9] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/272, at-Tibyan, karya : Ibnul Qayyim, hal : 278. Tafsir Ibnu Katsir, 5/161. Tafsir Ibnu Asyur, 15/331. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal : 77.
Ibnul Qayyim mengatakan :
Yang dimaksudkan adalah sebentarnya keberadaan keindahan dunia seperti sebentarnya keberadaan tanaman-tanaman ini. (Ijma’ al-Juyusy al-Islamiyyah, 2/71)
[10] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/272. Tafsir az-Zamakhsyariy, 2/725. Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa-iy, 12/68. Tafsir asy-Syaukaniy, 3/343. Tafsir Ibnu Asyur, 15/332. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal : 78.
[11] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 7/186.
[12] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/273. Al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 3/151. Tafsir Ibnul Jauziy, 3/87. Tafsir al-Baidhawiy, 3/283. Tafsir Ibnu Utsaimin – surat al-Kahfi, hal : 78-79.
Al-Qurthubiy mengatakan :
Harta dan anak-anak sebagai perhiasan kehidupan dunia; karena sebuah keindahan dan kemanfaatan terdapat pada harta, sementara sebuah kekuatan dan penolakan terdapat pada anak-anak, sehingga keduanya menjadi perhiasan kehidupan dunia. (Tafsir al-Qurthubiy, 10/413)
[13] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/273, 281. Uddatu ash-Shaabirin, karya : Ibnul Qayyim, hal : 173. Tafsir Ibnu Katsir, 5/161-164. Tafsir as-Sa’diy, hal : 479. Tafsir Ibnu Asyur, 15/332, 334. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/281. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal : 79.
asy-Syinqithi mengatakan :
“Pendapat-pendapat para ulama mengenai ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ semuanya kembali kepada satu hal, yaitu amal-amal yang menjadikan Allah ridha, baik kita katakan bahwa (yang dimaksud) ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ adalah shalat lima waktu, sebagaimana hal tersebut diriwayatkan dari sekelompok orang dari kalangan para salaf ; di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Abu Maisarah, ‘Amru bin Syurahubail ; ataupun kita katakan bahwa yang dimaksud dengan ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ini adalah ungkapan kata : ÓõÈúÍóÇäó Çááåõ (Mahasuci Allah), ÇóáúÍóãúÏõ áöáøóåö (Segala puji bagi Allah), áóÇ Åöáóåó ÅöáøóÇ Çááåõ (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), Çóááåõ ÃóßúÈóÑõ (Allah Mahabesar), dan áóÇ ÍóæúáóÇ æóáóÇ ÞõæøóÉó ÅöáøóÇ ÈöÇááåö (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah), yang merupakan pendapat Jumhur ulama, di mana datang sejumlah hadis yang marfu’ (kepada Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) dari Abu Sa’id al-Khudhriy, Abu Darda, Abu Hurairah, an-Nu’man bin Basyir, dan Aisyah-semoga Allah meridhai mereka semuanya-.
Berkata orang yang mendukung dan menguatkan pendapat ini (yakni, asy-Syinqithiy) semoga Allah memberikan pemaafan kepadanya :
Yang benar bahwa ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ merupakan lafazh yang bersifat umum yang mencakup shalat lima waktu dan ungkapan kata-kata yang lima yang disebutkan tersebut, dan juga amal-amal (lainnya) yang menjadikan Allah ridha (Adh-Waa-ul Bayan, 3/281.
Dan, ar-Ras’aniy menyebutkan sebagian pendapat tentang makna ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ ini, kemudian beliau mengatakan : “Ini dan yang semisalnya, bukanlah disebutkan untuk membatasi, akan tetapi dimaksudkan untuk menjelaskan jenis amal yang dimaksudkan dengan menyebutkan sebagian bentuk dan macam ragamnya (Tafsir ar-Ras’aniy, 4/298).
As-Sa’diy mengatakan :
ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ … mencakup semua bentuk amal ketaatan yang wajib dan yang sunnah dari hak-hak Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan hak-hak para hamba-Nya ; berupa shalat, zakat, sedekah, haji, umrah, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, membaca (al-Qur’an), mencari ilmu yang bermanfaat, amar makruf, nahi munkar, silaturrahim, birrul walidain, menunaikan hak istri, budak, dan binatang; dan seluruh sisi berbuat baik kepada makhluk, kesemuanya ini termasuk ÇóáúÈóÇÞöíóÇÊõ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊõ, maka ini lebih baik pahalanya di sisi Allah dan lebih baik untuk diharapkan. (Tafsir as-Sa’diy, hal : 479)
Al-Qurthubiy mengatakan :
Firman-Nya ÎóíúÑñ ÚöäúÏó ÑóÈøößó ËóæóÇÈðÇ , ‘lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu ‘yakni, lebih utama, æóÎóíúÑñ ÃóãóáðÇ ‘serta lebih baik untuk menjadi harapan’, yakni, lebih utama dari (harapan terhadap) pemilik harta dan anak-anak yang tidak beramal shaleh, dan (pada hakikatnya) tidak ada kebaikan (hakiki) pada perhiasan dunia…dan ada juga yang mengatakan : yakni, hal tersebut lebih baik -sebenarnya- daripada yang disangka oleh orang-orang bodoh bahwa kehidupan dunia dan perhiasannya lebih baik menurut sangkaan mereka (Tafsir al-Qurthubiy, 10/411)
Asy-Syaukani mengatakan :
(Firman-Nya) æóÎóíúÑñ ÃóãóáðÇ , ‘serta lebih baik untuk menjadi harapan’, yakni, bahwa amal-amal shaleh ini bagi orang yang mengerjakannya termasuk harapan yang lebih utama daripada apa yang diharapkan oleh orang-orang yang memiliki harta dan anak-anak, kareka mereka (orang-orang yang beramal shaleh itu) akan mendapatkan (pahala) di kehidupan akhirat disebabkan amal-amal shaleh yang mereka lakukan (semasa hidup di dunia) lebih utama dari apa yang diharap-harapkan oleh orang-orang kaya ini di dunia. (Tafsir asy-Syaukaniy, 3/344).
[14] Lihat : Tafsir ar-Raziy, 21/467.
[15] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 12/68-69.
[16] Lihat : Tafsir Ibnu Asyur, 15/330.
[17] Lihat : Tafsir al-Qurthubiy, 10/412.
[18] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal : 479.
[19] Lihat : Adh-Waa-ul Bayan,karya : asy-Syinqithiy, 3/280.