Artikel : Bulein Annur - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Demikian Kami Perlihatkan kepada Mereka [Memahami Surat al-Kahfi, bag.8]

Jumat, 21 Agustus 26

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


{æóßóÐóáößó ÃóÚúËóÑúäóÇ Úóáóíúåöãú áöíóÚúáóãõæÇ Ãóäøó æóÚúÏó Çááøóåö ÍóÞøñ æóÃóäøó ÇáÓøóÇÚóÉó áóÇ ÑóíúÈó ÝöíåóÇ ÅöÐú íóÊóäóÇÒóÚõæäó Èóíúäóåõãú ÃóãúÑóåõãú ÝóÞóÇáõæÇ ÇÈúäõæÇ Úóáóíúåöãú ÈõäúíóÇäðÇ ÑóÈøõåõãú ÃóÚúáóãõ Èöåöãú ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ÛóáóÈõæÇ Úóáóì ÃóãúÑöåöãú áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ (21)
ÓóíóÞõæáõæäó ËóáóÇËóÉñ ÑóÇÈöÚõåõãú ßóáúÈõåõãú æóíóÞõæáõæäó ÎóãúÓóÉñ ÓóÇÏöÓõåõãú ßóáúÈõåõãú ÑóÌúãðÇ ÈöÇáúÛóíúÈö æóíóÞõæáõæäó ÓóÈúÚóÉñ æóËóÇãöäõåõãú ßóáúÈõåõãú Þõáú ÑóÈøöí ÃóÚúáóãõ ÈöÚöÏøóÊöåöãú ãóÇ íóÚúáóãõåõãú ÅöáøóÇ Þóáöíáñ ÝóáóÇ ÊõãóÇÑö Ýöíåöãú ÅöáøóÇ ãöÑóÇÁð ÙóÇåöÑðÇ æóáóÇ ÊóÓúÊóÝúÊö Ýöíåöãú ãöäúåõãú ÃóÍóÏðÇ (22)
æóáóÇ ÊóÞõæáóäøó áöÔóíúÁò Åöäøöí ÝóÇÚöáñ Ðóáößó ÛóÏðÇ (23)
ÅöáøóÇ Ãóäú íóÔóÇÁó Çááøóåõ æóÇÐúßõÑú ÑóÈøóßó ÅöÐóÇ äóÓöíÊó æóÞõáú ÚóÓóì Ãóäú íóåúÏöíóäö ÑóÈøöí áöÃóÞúÑóÈó ãöäú åóÐóÇ ÑóÔóÏðÇ (24)
æóáóÈöËõæÇ Ýöí ßóåúÝöåöãú ËóáóÇËó ãöÇÆóÉò Óöäöíäó æóÇÒúÏóÇÏõæÇ ÊöÓúÚðÇ (25)
Þõáö Çááøóåõ ÃóÚúáóãõ ÈöãóÇ áóÈöËõæÇ áóåõ ÛóíúÈõ ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖö ÃóÈúÕöÑú Èöåö æóÃóÓúãöÚú ãóÇ áóåõãú ãöäú Ïõæäöåö ãöäú æóáöíøò æóáóÇ íõÔúÑößõ Ýöí Íõßúãöåö ÃóÍóÏðÇ (26)} [ÇáßåÝ: 21-26]


Demikian (pula) Kami perlihatkan (penduduk negeri) kepada mereka agar mengetahui bahwa janji Allah benar dan bahwa (kedatangan) hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. (Hal itu terjadi) ketika mereka (penduduk negeri) berselisih tentang urusan (penghuni gua). Kemudian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua itu). Tuhannya lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua).” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.”

Kelak (sebagian orang) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang). Yang keempat adalah anjingnya.” (Sebagian lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang). Yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib. (Sebagian lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang). Yang kedelapan adalah anjingnya.”

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.” Oleh karena itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang jelas-jelas saja (ringan). Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka (Ahlulkitab).

Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok,” kecuali (dengan mengatakan), “Insyaallah.” Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”

Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua). Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya. Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”

Makna Global

Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menghiyatkan kepada kita kita fenomena lainya dari keadaan-keadaan para pemuda ini, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengatakan : dan sebagaimana Kami telah menidurkan mereka selama bertahun-tahun yang cukup banyak dan Kami pun membangunkan mereka setelahnya, Kami perlihatkan penduduk kota kepada mereka ; agar mereka mengetahui bahwa janji Allah akan adanya pembangkitan itu benar, dan bahwa Kiamat itu akan datang, tidak diragukan akan terjadinya, Ketika orang-orang yang diperlihatkan terhadap ashabul kahfi itu berselisih tentang persoalan kebangkitan setelah kematian ; maka di antara mereka ada yang menetapkan kebenaran adanya pembangkitan itu dan ada juga di antara mereka yang mengingkarinya. Maka, berkatalah orang-orang yang Allah perlihatkan kepada ashabul kahfi : “Dirikanlah sebuah bangunan di atas mereka yang akan menutupi mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang keadaan dan kondisi mereka. ‘ berkatalah Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atas mereka sebagai tempat untuk beribadah.”

Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menghikayatkan apa yang terjadi berupa perbedaan pendapat seputar jumlah ashabul kahfi, seraya mengatakan : Sebagian kalangan orang-orang yang berlebihan dalam menyikapi persoalan jumlah ashbul kahfi akan mengatakan : “mereka (ashabul kahfi itu) jumlahnya tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka”. Yang lainnya mengatakan, ‘Jumlah mereka lima orang, yang keenamnya adalah anjing mereka.’ Dan perkataan kedua kelompok ini merupakan perkataan yang didasarkan pada sangkaan belaka, tanpa berdasarkan ilmu, tidak pula berdasarkan dalil. Dan, sebagian mereka ada juga yang mengatakan : mereka berjumlah tujuh orang, yang kedelapannya adalah anjing mereka.

Katakanlah-wahai Muhammad-terhadap orang-orang yang berlebihan dalam hal memperkirakan jumlah ashabul kahfi tanpa berlandaskan ilmu, ‘Rabbku, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang jumlah mereka, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit dari kalangan makhluk-Nya ; maka janganlah engkau berbantah tentang jumlah mereka kecuali perbantahan yang jelas saja, dan janganlah pula engkau bertanya kepada mereka tentang jumlah mereka dan keadaan-keadaan mereka.

Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì melarang Nabi-Nya Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dari memberitahukan tentang akan dilakukanya sesuatu pada masa yang akan datang kecuali setelah didahului dengan kehendak-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, seraya mengatakan, æóáóÇ ÊóÞõæúáóäøó (jangan sekali-kali kamu) -wahai Muhammad- mengatakan- untuk sesuatu yang engkau akan bertekad melakukannya ‘ sesungguhnya aku benar-benar akan melakukan hal tersebut esok, kecuali engkau mengaitkan perkataanmu itu dengan masyiah (kehendak) Allah, maka engkau katakan : Åä ÔÇÁ Çááå (jika Allah menghendaki). Dan ingatlah Rabbmu ketika lupa dengan perkataanmu : Åä ÔÇÁ Çááå , Dan katakanlah : “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada jalan yang lebih dekat (kebenarannya) yang akan menyampaikan kepada petunjuk dan bimbingan(Nya).”

Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan lamanya waktu para pemuda ini tinggal di dalam gua, seraya berkata, ‘dan para pemuda ini tinggal di dalam gua mereka dalam kondisi tidur selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun, katakan -wahai Muhammad – Allah lebih mengetahui tentang lamanya waktu tinggalnya mereka di dalam gua, Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì terhadap segala sesuatu yang ada dan alangkah tajam pendengaran-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì terhadap setiap suara ! Tak satu pun makhluk selain-Nya yang mengatur keadaan mereka dan mengendalikan urusan mereka, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menetapkan hukum dan menetapkan keputusan-Nya di antara makhluk-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì.”

Tafsir Ayat

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]


{æóßóÐóáößó ÃóÚúËóÑúäóÇ Úóáóíúåöãú áöíóÚúáóãõæÇ Ãóäøó æóÚúÏó Çááøóåö ÍóÞøñ æóÃóäøó ÇáÓøóÇÚóÉó áóÇ ÑóíúÈó ÝöíåóÇ ÅöÐú íóÊóäóÇÒóÚõæäó Èóíúäóåõãú ÃóãúÑóåõãú ÝóÞóÇáõæÇ ÇÈúäõæÇ Úóáóíúåöãú ÈõäúíóÇäðÇ ÑóÈøõåõãú ÃóÚúáóãõ Èöåöãú ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ÛóáóÈõæÇ Úóáóì ÃóãúÑöåöãú áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ (21)


Demikian (pula) Kami perlihatkan (penduduk negeri) kepada mereka agar mengetahui bahwa janji Allah benar dan bahwa (kedatangan) hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. (Hal itu terjadi) ketika mereka (penduduk negeri) berselisih tentang urusan (penghuni gua). Kemudian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua itu). Tuhannya lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua).” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.”

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Bahwa ayat ini merupakan perpindahan kepada bagian kisah yang merupakan tempat pengambilan pelajaran orang-orang yang hidup semasa mereka tentang keadaan mereka (para pemuda ini), dan pengambilan manfaat yang dilakukan mereka akan ketenangan hati mereka terkait dengan akan terjadinya kebangkitan pada hari Kiamat yang ditampilkan dengan cara memberikan pendekatan dengan sesuatu yang dapat disaksikan, dan penguatan agama dengan sesuau yang nampak berupa karamah yang diberikan kepada para penolongnya. Dengan demikian, pembicaraan disini bersambung kepada firman-Nya (sebelumnya) (yakni) : æóßóÐóáößó ÈóÚóËúäóÇåõãú [ÇáßåÝ: 19] . (Demikianlah, Kami membangunkan mereka) [1]

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]


æóßóÐóáößó ÃóÚúËóÑúäóÇ Úóáóíúåöãú áöíóÚúáóãõæÇ Ãóäøó æóÚúÏó Çááøóåö ÍóÞøñ


Demikian (pula) Kami perlihatkan (penduduk negeri) kepada mereka agar mengetahui bahwa janji Allah benar

Yakni, dan sebagaimana Kami telah menidurkan para pemuda tersebut dan Kami pun telah membangunkan mereka dari tidur mereka di atas keadaan mereka, Kami pun perlihatkan para penduduk kota pada zaman itu kepada mereka; agar mereka mengetahui bahwa janji Allah berupa akan dihidupkannya kembali orang-orang yang telah mati itu benar, sehingga mereka tidak meragukan tentang kekuasaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì untuk membangkitkan makhluk ; karena keadaan ashabul kahfi dalam tidur mereka dan kesadaran kembali mereka setelah melewati rentang waktu yang panjang seperti keadaan orang yang telah mati kemudian dibangkitkan. [2]

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]


æóÃóäøó ÇáÓøóÇÚóÉó áóÇ ÑóíúÈó ÝöíåóÇ


dan bahwa (kedatangan) hari Kiamat tidak ada keraguan padanya

Yakni, dan bahwa kiamat itu benar, tidak ada keraguan akan kedatangannya dan terjadinya pembalasan berupa pahala (atas amal shaleh yang dilakukan di dunia) dan hukuman di dalamnya (atas amal buruk yang dilakukan di dunia) [3]

Seperti kata Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


{Åöäøó ÇáÓøóÇÚóÉó áóÂÊöíóÉñ áóÇ ÑóíúÈó ÝöíåóÇ æóáóßöäøó ÃóßúËóÑó ÇáäøóÇÓö áóÇ íõÄúãöäõæäó} [ÛÇÝÑ: 59]


Sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang. Tidak ada keraguan tentangnya, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.(Ghafir : 59)

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]


ÅöÐú íóÊóäóÇÒóÚõæäó Èóíúäóåõãú ÃóãúÑóåõãú


(Hal itu terjadi) ketika mereka (penduduk negeri) berselisih tentang urusan mereka (para penghuni gua)

Yakni, Kami perlihatkan (mereka) kepada para ashabul kahfi kala orang-orang yang hidup pada zaman itu berselisih tentang adanya kebangkitan setelah kematian, maka di antara mereka ada yang mengimani adanya hal tesebut, dan di antara mereka ada yang mengingkarinya. [4]


ÝóÞóÇáõæÇ ÇÈúäõæÇ Úóáóíúåöãú ÈõäúíóÇäðÇ ÑóÈøõåõãú ÃóÚúáóãõ


Kemudian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua itu). Tuhannya lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua)

Yakni, berkatalah orang-orang yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì perlihatkan ashabul kahfi kepada mereka ketika mereka (ashabul kahfi itu) telah mati : ‘bangunlah sebuah bangunan di atas mereka untuk menutupi mereka’ [5] ; Rabb mereka lebih tahu tentang mereka, kondisi dan keadaan mereka.[6]

[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]


ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ÛóáóÈõæÇ Úóáóì ÃóãúÑöåöãú áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ


“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.”

Yakni, para pemimpin kota yang berkuasa atas urusan para penduduknya [7] mengatakan, “Kami benar-benar akan membangun di atas mereka sebuah masjid di mana Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan disembah di tempat tersebut [8]

Faedah :

1-Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


{æóßóÐóáößó ÃóÚúËóÑúäóÇ Úóáóíúåöãú áöíóÚúáóãõæÇ Ãóäøó æóÚúÏó Çááøóåö ÍóÞøñ æóÃóäøó ÇáÓøóÇÚóÉó áóÇ ÑóíúÈó ÝöíåóÇ ÅöÐú íóÊóäóÇÒóÚõæäó Èóíúäóåõãú ÃóãúÑóåõãú ÝóÞóÇáõæÇ ÇÈúäõæÇ Úóáóíúåöãú ÈõäúíóÇäðÇ ÑóÈøõåõãú ÃóÚúáóãõ Èöåöãú ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ÛóáóÈõæÇ Úóáóì ÃóãúÑöåöãú áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ


Demikian (pula) Kami perlihatkan (penduduk negeri) kepada mereka agar mengetahui bahwa janji Allah benar dan bahwa (kedatangan) hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. (Hal itu terjadi) ketika mereka (penduduk negeri) berselisih tentang urusan (penghuni gua). Kemudian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua itu). Tuhannya lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua).” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.”

Dalam kisah ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa barang siapa lari dari fitnah dengan membawa agamanya, niscaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan menyelamatkannya dari fitnah tersebut, dan bahwa barang siapa yang bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk memperoleh afiyat (keselamatan), niscaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan memberikan afiyat kepada dirinya. Barang siapa berlindung kepada Allah, niscaya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan melindunginya, dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan menjadikannya sebagai hidayah (petunjuk) untuk yang lainnya. Barang siapa mampu menahan beban penghinaan orang lain sementara dirinya berada di jalan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan ia pun mencari keridhaan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì, niscaya akhir urusannya dan kesudahan segala urusannya adalah kemulian yang besar, ia mendapatkannya dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diperkirakannya.[9] Karena rasa takut yang begitu besar yang dirasakan ashabul kahfi saat keimanan mereka dan masuknya mereka ke dalam gua, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menggantinya setelah itu dengan rasa aman dan pengagungan dan penghormatan dari para makhluk dan ini merupakan imbal balik dari Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì pada orang yang bersabar memikul beban berat karena mengharap ridha-Nya; Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan menjadikan baginya akhir urusan yang terpuji. [10]

2-Menjadikan kubur sebagai masjid bukanlah bagian dari syariat Islam. Bahkan, hal tersebut termasuk perbuatan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Dan sungguh Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah melaknat mereka atas hal itu. Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :


ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ÛóáóÈõæÇ Úóáóì ÃóãúÑöåöãú áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ


Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.”

Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan tindakan menjadikan masjid-masjid di atas kubur termasuk perbuatan orang-orang yang berkuasa atas berbagai urusan, hal tersebut mengisyaratkan bahwa yang menjadi sandarannya adalah pemaksaan dan penguasaan serta mengikuti hawa nafsu, dan bahwa hal tersebut bukanlah termasuk tindakan para ahli ilmu dan orang-orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan dari kalangan orang-orang yang mengikuti apa-apa yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì turunkan kepada para Rasul-Nya berupa petunjuk. [11]

3-Bahwa di antara sebab dibangunnya masjid di atas kubur adalah Ghuluw (sikap berlebihan) tehadap orang-orang yang berada di dalam kubur ; karena orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka membangun masjid di atas (kubur) mereka (ashabul kahfi); karena mereka (ashabul kahfi) tersebut (yang telah mati) menjadi memiliki kedudukan di hati mereka sehingga menurut anggapan mereka, mereka ini perlu mendapatkan tepat penghormatan dan pemuliaan, sehingga mereka bersikap ghuluw terhadap mereka ini. [12]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Lihat : Tafsir Ibnu Asyur, 15/287.

[2] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/215, Tafsir Zamakhsyariy, 2/711. Tafsir Ibnul Jauzi, 3/73. Tafsir al-Qurthubiy, 10/378, 379. Tafsir Ibnu Asyur, 15/288.

[3] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/215, al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 13/572. Tafsir al-Qasimiy, 7/15. Tafsir Ibnu Asyur, 15/288. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 40.

[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/216. Tafsir ar-Ras’aniy, 4/263. Tafsir Ibnu Katsir, 5/147. Tafsir asy-Syaukaniy, 3/328. Tafsir as-Sa’diy, hal. 473.

[5] al-Wahidiy mengatakan, firman-Nya : ÝóÞóÇáõæÇ ÇÈúäõæÇ Úóáóíúåöãú ÈõäúíóÇäðÇ (Kemudian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas mereka), yakni, tutupilah mereka dari (penglinghatan) manusia, para ahli tafsir mengatakan demikian) ((al-Wasith, 13/573).

Ar-Ras’aniy mengatakan : Mereka menginginkan (dengan hal itu) untuk menutupi mereka dari pandangan mata manusia; untuk menjaga mereka, untuk menambah penghormatan bagi mereka, dan penghargaan terhadap mereka dengan tersembunyinya mereka dari pandangan mata.” (Tafsir ar-Ras’aniy, 4/263).

Ibnu Katsir mengatakan : Mereka menutup pintu goa di mana mereka berada, dan membiarkan mereka di atas keadaan mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 5/147).

Ibnu Asyur mengatakan : mereka berhasrat untuk membangun sebuah bangunan di atas mereka hanyalah karena mereka mengkhawatirkan terhadap mereka bahwa akan ada tindakan orang-orang yang bolak-balik mengunjungi mereka namun tanpa adab ; sehingga boleh jadi para pengunjung itu akan menyakiti fisik/badan mereka dengan sentuhan dan pembolak-balikan badan, maka mereka ingin untuk membangun di atas mereka sebuah bangunan yang memungkinkan dapat menutupi pintu guanya dan dapat menjaganya.”(Tafsir Ibnu Asyur, 15/289)

[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/216. Al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 13/574. Tafsir Zamakhsyariy, 2/711. Tafsir Ibnu Katsir, 5/147. Tafsir al-Qasimiy, 7/16. Tafsir as-Sa’diy, hal. 473.

Ar-Raziy mengatakan : Kemudian Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman : ÑóÈøõåõãú ÃóÚúáóãõ Èöåöãú (Tuhan mereka lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua). Ini, di dalamnya terdapat dua sisi (penafsiran) :

[Pertama] Bahwa ungkapan ini termasuk perkataan dua kelompok yang berselih pendapat, seoleh-oleh mereka, ketika mereka ingat perkara mereka dan mereka saling memindahkan pembicaraan tentang nama-nama mereka (ashabul kahfi), keadaan dan kondisi mereka serta lamanya waktu tinggal mereka (di dalam gua), maka ketika mereka tidak menemukan petunjuk kepada hakikat hal tersebut, mereka lantas mengatakan : ÑóÈøõåõãú ÃóÚúáóãõ Èöåöãú (Tuhan mereka lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua).

[Kedua] Bahwa ungkapan ini termasuk firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ; Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyebutkannya sebagai bantahan terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam pembicaraan mereka dari kalangan orang-orang yang berselisih itu. (Tafsir ar-Raziy, 21/447)

[7] Ibnu Katsir mengatakan : Ibnu Jarir menghikayatkan tentang orang-orang yang mengatakan demikian ini, ada dua pendapat; pertama, bahwa mereka itu adalah orang-orang Islam di kalangan mereka. Kedua, mereka itu adalah orang-orang musyrik di kalangan mereka. Wallahu A’lam.

Dan, yang nampak bahwa orang-orang yang mengatakan demikian itu mereka adalah orang-orang yang perkataannya di dengar dan dipatuhi dan orang-orang yang berkuasa atas mereka. Akan tetapi, apakah mereka itu orang-orang yang terpuji ataukah tidak ? dalam hal ini perlu ditinjau ulang, karena Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :


«áÚä Çááåõ ÇáíåæÏó æÇáäøóÕÇÑìº ÇÊøóÎóÐæÇ ÞÈæÑó ÃäÈíÇÆöåã æÕÇáöÍíåã ãÓÇÌöÏó»).


Allah melaknat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani di mana mereka menjadikan kubur-kubur para Nabi mereka dan orang-orang shaleh di kalangan mereka sebagai masjid-masjid. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/147)

Dan, Ibnu Bazz mengomentari firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :


ÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ÛóáóÈõæÇ Úóáóì ÃóãúÑöåöãú áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ


Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.”

Beliau ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan, “Sesungguhnya Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengkhabarkan tentang para pemimpin dan orang-orang yang berkuasa pada zaman itu bahwa mereka mengatakan perkataan ini, dan hal tersebut bukan sebagai tanda keridhaan terhadap mereka dan bukan pula sebagai pengakuan kebenaran mereka, namun hal itu sebagai celaan dan cacian terhadap mereka serta sebagai bentuk warning agar manusia menjauhi tindakan dan perbuatan mereka.” Hal itu ditunjukkan oleh (sabda) Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bahwa beliau, manusia yang diturunkan kepadanya ayat ini dan beliau adalah manusia yang paling mengetahui tafsiran ayat ini, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah melarang umatnya dari menjadikan masjid-masjid di atas kubur, dan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun telah memperingatkan dari hal tersebut, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melaknat dan mencela orang yang melakukannya, kalaulah seandainya hal tersebut boleh niscaya Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tak akan bersikap keras yang sangat luar biasa, sampai-sampai beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó melaknat pelakunya, dan beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó juga mengkhabarkan bahwa orang tersebut termasuk makhluk yang paling buruk di sisi Allah ÚóÒøó æóÌóáøó. Dan ini sudah cukup dan melegakan bagi orang yang mencari kebenaran. Dan, kalaulah dianggap bahwa menjadikan masjid-masjid di atas kuburan itu perkara yang dibolehkan bagi orang-orang sebelum kita, namun tidaklah boleh bagi kita untuk meneladani mereka dalam hal tersebut; karena syari’at kita merupakan penghapus bagi syariat-syariat sebelumnya, dan Rasul kita (Muhammad) Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó merupakan penutup para Rasul (Majmu’ Fatawa Ibnu Bazz, 1/435) dan lihat : Fathul Baariy, karya : Ibnu Rajab, 3/193.

[8] Lihat : Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 2/580, al-Wajiz , karya : al-Wahidiy, hal. 657. Tafsir Ibnu Juzziy, 1/462. Tafsir Ibnu Katsir, 5/147. Tafsir as-Sa’diy, hal. 473, Tafsir Ibnu Asyur, 15/290. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 41.

Al-Wahidiy mengomentari firman-Nya : áóäóÊøóÎöÐóäøó Úóáóíúåöãú ãóÓúÌöÏðÇ , makna ungkapan “ Úóáóíúåöãú “ di sini dan dalam firman-Nya : ÇÈúäõæÇ Úóáóíúåöãú ÈõäúíóÇäðÇ adalah bahwa mereka menjadikan di belakang itu, seperti dikatakan : Èäí Úáíå ÌöÏÇÑðÇ apabila seseorang memagarinya dan menjadikannya di belakang tembok. (al-Wasith, 13/574). Ada yang mengatakan (tentang makna ayat di atas, yakni) : ÈóäóæÇ Úáì ÈÇÈö ÇáßåÝö ãÓÌöÏðÇ ááÕáÇÉö Ýíå (mereka membangun di pintu gua itu sebuah masjid sebagai tempat shalat. Lihat : Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 2/580. Al-Wajiz, karya : al-Wahidiy, hal. 657. Tafsir Ibnu Juzziy, 1/462.

[9] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 473.

[10] Lihat : Taisir al-Lathiif al-Mannan, karya : as-Sa’diy, 1/289.

[11] Lihat : Fathul Baariy, karya : Ibnu Rajab, 2/397.

[12] Lihat : al-Qaulu al-Mufid Ala Kitabi at-Tauhid, karya : Ibnu Utsaimin, 1/463.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatannur&id=1176