Artikel : Analisa Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - NULL,

Jajak Pendapat Tentang Poligami
oleh : Abu Muthiah

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Taala. Kami memuja-Nya, memohon bantuan-Nya dan mengharapkan ampunan-Nya dari kejelekan diri dan keburukan tingkah laku kami. Orang-orang yang dibimbing-Nya tidak kehilangan jejak dan orang yang disesatkan tidak akan mendapatkan petunjuk.

Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada qudwah dan panutan kita Muhammad bin Abdillah, segenap keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh kepada jalan dan jejak beliau sampai akhir zaman.

Telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Ulama tentang permasalahan jika Hari Raya Bertepatan dengan Hari Jumat, di mana shalat Hari Raya akan jatuh pada hari yang sama dengan shalat Jumat. Tentu hal ini akan membawa implikasi apakah dengan Shalat Ied tersebut dapat menggugurkan shalat Jumat atau tidak..??, lalu jika Shalat Jumat gugur, apakah secara langsung dapat menggugurkan shalat Zhuhur atau tidak..?? Dua permasalahan yang hingga sekarang diperselisihkan di kalangan para Ulama bahkan terkesan seperti permasalahan yang tidak akan pernah tuntas dan kunjung berakhir.

Namun terlepas dari fenomena yang terjadi, dengan tetap menghargai pendapat yang saling berselisih dan tidak menngingkari pendapat-pendapat tertentu, kami sengaja mengangkat tema dan topik yang sedang hangat dibicarakan ini dengan harapan para pembaca dan pengunjung situs kami akan mendapatkan gambaran yang jelas dan gamblang tentang permasalahan tersebut, berdasarkan dalil-dalil yang kuat yang bersumber dari Rasulullah Shallallaaahu alaihi wa salam dan perbuatan para Shahabat serta penjelasan para Ulama.

Semoga Allah Taala memberikan petunjuk dan taufiq kepada kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin. Wallaahu alamu bish shawab.

Kedudukan Hari Raya Ied dan Hari Jumat

Antara Ied dan Jumat


Sungguh Allah Subhanahu Wataala telah memberi keutamaan kepada sebagian makhluqNya di atas makhluqNya yang lain. Sebagian nabi dan rasulNya lebih utama dari nabi dan rasulNya yang lain, Sebagian tempat lebih baik dari tempat yang lain dan begitulah seterusnya.
Begitu juga Allah telah memberi keutamaan kepada sebagian hari dari hari-hari yang lain. Di antara hari yang diberi keutamaan oleh Allah dari hari-hari yang lain adalah Hari Ied, baik Iedul Adha ataupun Iedul Fithri dan Hari Jumat. Dua hari tersebut masing-masing punya banyak keutamaan. Di antara keutamaan dua hari besar tersebut adalah sebagai berikut :

Kedudukan dan Keutamaan Hari Jumat :

1. Hari Jumat adalah hari yang paling mulia
Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam :
Sebaik- sebaik hari yang disinari oleh matahari adalah hari Jumat ( HR. Muslim, no.854)
2. Allah telah menjadikan peristiwa-peristiwa besar pada hari jumat.
Sebagaiman lanjutan hadits Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam :
Pada hari itu, Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah memasukkannya ke dalam surga, dan pada hari itu pula Allah mengeluarkan Adam darinya. Dan tidaklah hari Kiamat terjadi, kecuali pada hari jumat. ( HR. Muslim, no.854)
Dan juga peristiwa-peristiwa besar lainnya yang banyak disebutkan oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
3. Hari Jumat adalah hari raya bagi umat Islam.
Dari Ibnu Abbas radiyallahu anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda :
Sesungguhnya hari ini (jumat) adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)
4. Hari Jumat memiliki banyak amalan khusus yang dilakukan pada hari tesebut.
Dan masih banyak keutamaan-keutamaan besar lainnya.

Kedudukan Hari Ied

Adapun hari Raya Ied, baik Iedul Adha ataupun Iedul Fithri maka dia adalah hari terbesar bagi kaum muslimin, dimana tidak ada hari besar lagi yang dirayakan pada tiap tahunnya kecuali dua hari raya tersebut. Di dua hari tersebut, kaum muslimin bergembira, berbahagia,berkumpul dan berada dalam satu rasa.

Hukum Shalat Ied dan Shalat Jumat
Shalat Jumat dan Shalat Ied
Hukum shalat Jumat adalah fardhu ain bagi setiap muslim, baligh, berakal,yang mukim dan tidak mempunyai udzur. Dan kaum muslimin telah sepakat mewajibkan shalat jumat.

Adapun hukum shalat Ied, kaum muslimin juga telah sepakat bahwa shalat Ied adalah disyariatkan. Namun para ulama berbeda pendapat tentang apakah ia fardhu ain ataukah fardhu kifayah ataukah sunnah. Pendapat yang menyatakan bahwa shalat Ied adalah fardhu ain adalah pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimah dan muridnya, Ibnu Qoyyim dan Syaikh Utsaimin dan yang lainnya rahimahumullah.

Hari Raya Ied Bertepatan Dengan Hari Jumat

Telah diisyaratkan di atas bahwa baik hari Jumat ataupun hari Ied, keduanya adalah hari raya. Di mana keduanya adalah hari berkumpulnya kaum muslimin, untuk melaksanakan shalat dengan berjamaah dan mendengar khutbah dan amalan-amalan yang lain.

Bagaimana bila dua hari raya terkumpul dalam satu hari? Wajibkah kaum muslimin untuk melaksanakan shalat Ied dan Jumat di hari yang sama tersebut?
Para fuqaha telah menjawab dan menjelaskan masalah yang urgen ini, di mana masalah ini sering ditanyakan oleh kaum muslimin.

Pendapat Para Ulama

Para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban shalat Jumat bagi orang yang telah melaksanakan shalat Ied. Apakah dia masih berkewajiban untuk shalat Jumat atau dia mendapat keringanan untuk meninggalkan shalat jumat dan hanya shalat dzuhur.

Pendapat dari Madzhab Hanafiyyah

Yang terlihat dari madzhab Hanafiyyah adalah bahwa apabila hari Ied bertepatan dengan hari jumat, maka kewajiban shalat Jumat tidak gugur, dan berpendapat wajibnya shalat jumat bagi setiap mukallaf yaitu laki-laki yang merdeka yang tidak bepergian.
Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya berkata, Adapun madzhab kami ( Hanafiyah ) maka keharusan keduanya ( shalat Ied dan Jumat)

Dalam kitab Alhidayah disebutkan, Bila dua hari raya (Ied dan Jumat) bertepatan di satu hari, maka yang awal adalah sunnah dan yang kedua adalah fardhu, dan tidak boleh ditinggalkan salah satunya
Dalam kitab Badai Ash-Shanai disebutkan bahwa shalat ied adalah sunnah dan shalat jumat adalah fardhu, jadi shalat Jumat tidaklah gugur, (karena dia adalah fardhu-red)

Dengan ini telah jelas dari perkataan dari sebagian ulama Hanafiyah bahwa kewajiban shalat jumat tidak gugur pada hari Idul fithri atau Idul Adha, itu dikarenakan shalat ied adalah sunnah sedangkan shalat jumat adalah fardhu yang wajib dilaksanakan, berdasarkan firman Allah Taala:



Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. ( Al-Jumuah : 9)

Maka perintah untuk bersegera untuk melaksanakan shalat Jumat bagi setiap yang mendengar panggilan adalah kewajiban, maka dia tidak gugur kewajibannya pada hari Ied sama dengan hari-hari lainnya.

Pendapat dari Madzhab Malikiyyah

Terlihat dari madzhab Malikikiyyah bahwa mereka berpendapat tidak gugurnya kewajiban shalat jumat bagi penduduk kota dan sekitarnya bila mereka telah shalat Ied, walaupun telah diberi izin (keringanan) oleh imam, dimana Imam malik kurang sepakat dengan perbuatan Utsman radiyallahu anhu yang memberi keringanan bagi orang-orang yang tinggal di perbukitan.
Begitulah yang telah dihikayatkan oleh pensyarah kitab Mukhtashor Khalil bahwa mengikuti shalat Ied tidak membolehkan untuk meninggalkan shalat jumat baik bagi yang tinggal di pemukiman atau yang tinggal di luarnya, dan bahwa izin keringanan dari imam tidak menjadikan bolehnya meninggalkan shalat jumat. Adapun rukhshah (keringanan) yang diambil dari beberapa hadits untuk bolehnya meninggalkan shalat jumat setelah ikut shalat ied adalah khusus untuk orang-orang yang jauh dari pemukiman (yaitu orang-orang baduy) dan bagi orang-orang yang tidak wajib jumat bagi mereka yang tingggal jauh dari keramaian, itulah yang dipaparkan oleh al-Hafidz Ibnu Abdil Barr rahimahullah.

Pendapat dari Madzhab Syafiiyyah

Adapun yang terlihat dari masalah ini menurut madzhab Syafiiyyah adalah bahwa mereka perpendapat shalat jumat tidak gugur kewajibannya terhadap penduduk sebuah kota atau desa, tapi berpendapat bahwa mereka tetap wajib melaksanakan shalat jumat. Keringanan untuk meninggalkan shalat jumat setelah shalat ied hanyalah bagi mereka yang tinggal jauh di pedalaman ( Badui), dan walau begitu yang utama bagi mereka adalah tetap menghadiri shalat jumat.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, Imam Syafii dan sebagian Ashhab (kawan) berkata : Kalau hari jumat berbarengan dengan hari ied dan penduduk desa (yang mana mereka berkewajiban shalat jumat karena adzan sampai kepada mereka )hadir lalu mereka shalat ied, maka kewajiban shalat jumat tidak gugur bagi penduduk desa tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun gugurnya bagi penduduk pedalaman (badui) terdapat dua pendapat, dan yang benar yang ditegaskan oleh imam Syafii pada kitab al-Umm dan pendapat Qodim (terdahulu) bahwa shalat jumat gugur

Pendapat dari Madzhab Hanabilah

Adapun pendapat madzhab Hambali dalam masalah ini adalah bahwa orang yang telah melaksanakan shalat ied disunahkan baginya untuk hadir pada shalat jumat, namun bila mencukupkan diri dengan shalat ied ( dan tidak mengikuti shalat jumat) kemudian dia shalat dzuhur, maka itu tidak mengapa.
Abdullah ibn Ahmad rahimahullah pada kitab Masailnya berkata, Saya bertanya kepada ayah saya (Imam Ahmad) tentang dua ied yang terkumpul dalam satu hari, kemudian salah satu (shalatnya) ditinggalkan, beliau menjawab, Tidak mengapa. Saya berharap itu mencukupinya.

Ibnu Quddamah rahimahullah berkata : Apabila hari ied jatuh pada hari jumat, maka bila seseorang mecukupkan diri dengan shalat ied dan dia shalat dzuhur maka itu boleh, kecuali bagi imam (yaitu wajib baginya untuk melaksanakan shalat jumat -red)

Ringkasan Pendapat Para Ulama Madzhab

Dari pemaparan di atas bisa disimpulkan bahwa madzhab Hanafi adalah wajibnya shalat jumat bagi setiap orang yang terkena kewajiban jumat pada hari biasa (selain hari ied). Begitu juga perkataan imam Malik dan yang mengikuti beliau tentang tidak gugurnya shalat jumat bagi orang yang telah mengikuti shalat ied, kecuali yang diisyaratkan bahwa keringanan untuk meninggalkan shalat jumat hanya bagi penduduk pedalaman.

Adapun Imam Syafii berpendapat gugurnya shalat jumat hanya untuk orang yang jauh dari keramaian, adapun penduduk kota dan pedesaan maka wajib bagi mereka untuk shalat jumat.

Adapun madzhab Hambali telah jelas, bahwa mereka berpendapat tidak wajibnya shalat jumat bagi yang telah melaksanakan shalat ied, namun itu sunnah. Dan dia wajib untuk shalat dzuhur.

Dari pemaparan diatas, kita bisa simpulkan bahwa kebanyakan ulama berpendapat wajibnya shalat jumat bagi yang telah melaksanakan shalat ied, kecuali imam Ahmad ibn Hambal yang tidak mewajibkannya. Hanya saja para ulama yang mewajibkan jumat sebagian mereka ada yang mewajibkan shalat jumat secara mutlak, dan ada yang memberikan keringanan bagi penduduk yang jauh dari pemukiman.

Dalil-Dalil Masing-Masing Pendapat

1. Dalil Bagi Pendapat yang Mewajibkan Shalat Jumat Secara Mutlaq

Adapun di antara dalil para ulama yang mewajibkan shalat jumat secara mutlaq adalah sebagai berikut :
1. Keumuman firman Allah Subhanahu Wataala :



Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. ( Al-Jumuah : 9)
2. Semua dalil yang menunjukkan wajibnya shalat jumat, seperti hadits :


.


Wajib bagi setiap orang yang sudah bermimpi (baligh)untuk pergi shalat jumat dan bagi setiap yang pergi untuk jumat maka dia mesti mandi. (hadits shahih riwayat An-Nasai)

Dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan wajibnya shalat jumat.
3. Karena keduanya merupakan shalat wajib ( tergantung dengan perbedaan pendapat tentang wajibnya shalat ied) dimana yang satu tidak bisa menggugurkan yang lain, seperti shalat dzuhur dengan shalat ied.
Dan dalil-dalil yang lainnya

2. Dalil Bagi Pendapat yang Mewajibkan Shalat Jumat Bagi Penduduk Kota dan Pemukiman dan Memberi Keringanan Untuk Penduduk Pedalaman Untuk Meninggalkannya

Dalil mereka adalah sama dengan dalil pendapat sebelumnya tentang wajibnya shalat jumat, kemudian ditambah dengan atsar dari Utsman radiyallahu anhu berikut ini, yaitu dari Abu Ubaid, beliau berkata, Aku pernah melaksanakan shalat ied bersama Utsman ibn Affan yang bertepatan dengan hari jumat, lalu beliau shalat sebelum khutbah. Kemudian beliau berkhutbah, Wahai manusia ini adalah hari dimana dua hari raya berkumpul di dalamnya, maka barangsiapa yang datang dari desa-desa ingin menunggu shalat jumat, maka lakukanlah dan barangsiapa diantara mereka yang ingin pulang, maka aku telah mengizinkannya (HR. al-Bukhari)

3. Dalil Bagi Pendapat yang Tidak Mewajibkan Shalat Jumat (Bagi Selain Imam Masjid) Namun Hanya Menyatakan Sunnah

1. Hadits Zaid ibn Arqam bahwa Muawiyyah bertanya kepadanya : Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah dua hari raya yang yang berkumpul di satu hari? jawabnya : Ya Muawiyah bertanya : Lalu apa yang beliau kerjakan? Dia menjawab : Beliau mengerjakan shalat ied kemudian beliau memberikan keringanan dalam hal shalat jumat seraya bersabda :



Barangsiapa yang ingin shalat, hendaklah dia shalat (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Albani)
2. Hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda :



Pada hari ini telah terkumpul dua hari raya, maka barangsiapa berkehendak, boleh untuk tidak ikut shalat jumat, sedangkan kami akan melaksanakan shalat jumat (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Albani)
3. Hadits Ibnu Umar, beliau bercerita : Telah terkumpul dua hari raya dalam satu hari pada masa Rasulullah Sallallahi alaihi Wasallam, beliau shalat ied bersama orang-orang, kemudian bersabda :



Barangsiapa yang mau mendatangi shalat jumat silahkan mendatanginya, dan barangsiapa yang tidak mau mendatangi shalat jumat silahkan tidak mendatanginya(HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Albani)
4. Atsar yang diriwayatkan Atho ibn Abi Rabah, beliau berkata :
Ibnu Zubair pernah shalat mengimami kami pada hari raya yang bertepatan dengan hari jumat pada awal siang, lalu kami berangkat shalat jumat, tapi beliau tidak keluar untuk shalat jumat, maka kami shalat jumat sendiri. Waktu itu Ibnu Abbas berada di Thaif, lalu begitu beliau datang kami tanyakan hal itu, beliaupun menjawab : Ia telah melaksanakan sesuai dengan sunah(HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Albani)
Dan masih banyak dalil-dalil lain yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Pendapat inilah yang dipilih oleh al-Lajnah ad-Daimah dalam fatwanya. Pendapat ini jugalah yang dipilih oleh sebagian ahli ilmu pada zaman ini diantaranya Syaikh Said ibn Ali al-Qahthani, Syaikh Husain al-Awaisyah, Abdul Adzim al-Badawi,Abu Malik penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah dan yang lainnya.
Kesimpulan.

Setelah kami paparkan masing-masing pendapat beserta dalil-dalilnya, maka berikut ini sebagai kesimpulan kami nukilkan beberapa fatwa yang berkaitan dengan permasalahan yang ada.

Fatwa al-Lajnah ad-Daimah

Setelah al-Lajnah ad-Daimah menyebutkan dan mempelajari hadits-hadits dan atsar-atsar tentang masalah ini, Lajnah menyimpulkan sebagai berikut :
Berdasarkan dari hadits-hadits yang marfu (terhubung) kepada Nabi dan juga atsar-atsar dari sebagian shahabat ini dan juga berdasarkan penetapan jumhur ahli ilmu dalam fiqih mereka, maka Lajnah menjelaskan hukum-hukun berikut :
1. Barangsiapa yang telah hadir shalat ied, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk tidak mengikuti shalat jumat dan dia shalat dzuhur pada waktunya. Namun bila ia tidak mengambil keringanan dan shalat jumat bersama orang-orang maka itu adalah lebih utama.
2. Barangsiapa yang tidak hadir shalat ied maka dia tidak mendapatkan rukhshah (keringanan), maka wajib baginya untuk berangkat ke masjid untuk shalat jumat. Kalau tidak terdapat jumlah jamaah yang mencukupi untuk shalat jumat, maka dia shalat dzuhur.
3. Imam masjid jami wajib mendirikan shalat jumat pada hari itu agar orang-orang yang ingin melaksanan shalat jumat bisa melaksanakannya dan bagi orang yang tidak ikut melaksanakan shalat ied, kalau jumlah jamaah mencukupi untuk shalat jumat (maka shalat jumat-red) dan kalau tidak, maka shalat dzuhur.
4. Barangsiapa yang telah hadir shalat ied dan mendapatkan keringanan untuk tidak hadir pada shalat jumat, maka dia shalat dzuhur setelah masuk waktunya.
5. Di waktu ini, disyariatkan adzan hanya bagi masjid-masjid yang mendirikan shalat jumat saja, maka tidak disyariatkan adzan untuk shalat dzuhur di hari ini.
6. Pendapat yang mengatakan bahwa barangsiapa yang hadir shalat ied maka gugurlah baginya kewajiban shalat jumat dan shalat dzuhur adalah pendapat yang tidak benar. Oleh karena itu para ulama tidak menganggapnya dan menghukumi bahwa pedapat itu salah dan ghorib (nyleneh), karena pendapat itu menyelisihi sunnah dan menggugurkan salah satu fardhu dari Allah tanpa dalil. Kemungkinan yang berpendapat seperti ini, dalam masalah ini belum sampai padanya sunan (hadits-hadits) dan atsar-atsar yang memberi rukhshah (keringanan) bagi yang telah melaksanakan shalat ied untuk tidak hadir pada shalat jumat, namun dia berkewajiban untuk shalat dzuhur.
Wallahu Taala Alam..

Fatwa Syaikh Abdullah Ibn Jibrin

Adapun Syaikh Abdullah ibn Jibrin rahimahullah setelah beliau mempelajari pendapat para ulama, beliau lebih memilih pendapat Syafiiyyah yang menyatakan bahwa rukhshah meninggalkan shalat jumat hanya bagi orang-orang yang tingal jauh dari pemukiman, seperti penduduk perbukitan dan semisalnya dan itu adalah sebagai keringanan bagi mereka.

Beliau juga menguatkan pendapat beliau dengan menjelaskan berbedanya keadaan manusia zaman dahulu dengan zaman sekarang, dimana zaman sekarang :
- Alat transportasi lebih mudah, dimana apabila zaman dahulu jarak yang jauh ditempuh dengan lelah dan dengan berjam-jam, namun sekarang hanya dengan hitungan detik dan nyaman
- Banyaknya masjid-masjid yang mendirikan shalat jumat, dimana ini menambah kemudahan untuk melaksanakan shalat jumat
Oleh karena itu beliau menjelaskan tidak bolehnya tasahul (menganggap remeh) dalam masalah jumat dan pemberian keringanan untuk meninggalkannya. Itu karena kesulitan sekarang menjadi lebih ringan. Wallahu Taala Alam.

Sumber: Arrayu as-Sadid Fima Idza Waafaqo Yaumul Jumat Yaumal Ied oleh Syaikh Abdullah al-Jibrin, Shahih Fiqhus Sunnah oleh Kamal Ibn Sayyid Salim, Shalatul Mukmin[i/] oleh Syaikh Said al-Qahthani, www.saaid.net dan sumber lainnya)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=indexanalisa&id=1§ion=an001