| Konsultasi | Bulletin | Do'a | Fatwa | Hadits | Khutbah | Kisah | Mu'jizat | Qur'an | Sakinah | Tarikh | Tokoh | Aqidah | Fiqih | Sastra | Resensi |
| Dunia Islam | Berita Kegiatan | Kajian | Kaset | Kegiatan | Materi KIT | Firqah | Ekonomi Islam | Analisa | Senyum | Download |
 
Menu Utama
·Home
·Tentang Kami
·Buku Tamu
·Produk Kami
·Formulir
·Jadwal Shalat
·Kontak Kami
·Download Artikel
·Download Murattal

Aqidah
· Syirik Dalam Ketaatan
· Syirik Dalam Tawakal

Firqah (Aliran-aliran)
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 5
· JAMAAH ISLAMIYAH MESIR 4

Analisa
· Kerancauan Ilmu Hisab Dalam Penentuan Awal & Akhir Ramadhan
· Studi Kritis Seputar Puasa Hari Sabtu

Ekonomi Islam
· KPR Bank Syariah Ternyata Penuh Dengan Riba
· Produk Al-Mudharabah (Bagi Hasil) Dalam Islam Sebagai Solusi Perekonomian Islam

Produk Kami

Informasi!
·Serial Buku Dakwah Al-Sofwa 2021
·Tebar Serial Buku Tauhid
·Tebar Buku Risalah Puasa Nabi dan Panduan Praktis Ramadhan

Liputan Kegiatan
·Konsultasi Islam
·Penyaluran Hewan Qurban
·Santunan Yatim

Konsultasi Online

Ust.Husnul Yaqin, Lc

Ust.Amar Abdullah

Ust.Saed As-Saedy, Lc

Fatwa Seputar Sholat

Berangkatnya Wanita Muslimah ke Masjid

Apa Hukum Shalat Wanita di Masjid

Haruskah Wanita Melaksanakan Shalat Lima Waktu di Dalam Masjid

Wanita di Rumah Berma'mum Kepada Imam di Masjid

Apakah Shalatnya Seorang Wanita di rumah Lebih Utama Ataukah di Masjidil Haram

Manakah yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Melaksanakan Shalat di Masjidil Haram atau di Rumah

Shalatnya Kaum Wanita yang Sedang Umrah di Bulan Ramadhan

Apakah Shalat Seseorang di Masjidil Haram Bisa Batal Ketika Ia Ikut Berjama'ah Dengan Imam atau Shalat Sendirian Karena Ada Wanita yang Melintas di Hadapannya?

Bila Terdapat Pembatas (Tabir) Antara Kaum Pria dan Kaum Wanita, Maka Masih Berlakukah Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam (sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan)

Apakah Kaum Wanita Harus Meluruskan Shafnya Dalam Shalat

Benarkah Shaf yang Paling Utama Bagi Wanita Dalam Shalat Adalah Shaf yang Paling Belakang

Benarkah Shalat Jum'at Sebagai Pengganti Shalat Zhuhur

Hukum Shalat Jum'at Bagi Wanita

Hanya Membaca Surat Al-Ikhlas

Hukum Meninggalkan Shalat

Hukum Menangis Dalam Shalat Jama'ah

Jika seorang musafir masuk masjid di saat orang sedang shalat jama'ah Isya' dan ia belum shalat maghrib.

Bolehkah bagi kaum wanita untuk berkunjung ke rumah orang yang sedang terkena musibah kematian, kemudian melakukan shalat jenazah berjama'ah dirumah tersebut ?

Apabila seseorang tidak melakukan shalat fardlu selama 3 tahun tanpa uzur, kemudian bertaubat , apakah dia harus mengqodha shalat tersebut ?

Apabila suatu jama'ah melakukan shalat tidak menghadap qiblah, bagaimanakah hukumnya ?

Membangunkan Tamu Untuk Shalat Shubuh

Doa-Doa Menjelang Azan Shubuh

Bacaan Sebelum Imam Naik Mimbar Pada Hari Jum'at

Shalat Tasbih

Hukum Wirid Secara Jama'ah/Bersama-sama Setelah Setiap Shalat Fardhu

Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit

Jika Telah Suci Saat Shalat Ashar atau Isya, Apakah Wajib Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Maghrib

Jika Wanita Mendapatkan Kesuciannya di waktu Ashar Apakah Ia Harus Melaksanakan Shalat Zhuhur

Mendapatkan Haidh Beberapa Saat Setelah Masuk Waktu Shalat, Wajibkah Mengqadha Shalat Tersebut Setelah Suci

Urutan Shalat yang Diqadha

Seorang Wanita Mendapatkan Kesuciannya Beberapa Saat Sebelum Terbenamnya Matahari, Wajibkah Ia Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Ashar?

Keutamaan Shaf Wanita Dalam Shalat Berjama'ah

Berkumpulnya Wanita Untuk Shalat Tarawih

Bolehkah Seorang Wanita Shalat Sendiri dibelakang Shaf

Bolehkah kaum Wanita Menetapkan Seorang Wanita Untuk Mengimami Mereka Dalam Melakukan Shalat di Bulan Ramadhan

Wajibkah Kaum Wanita Melaksanakan Shalat Berjama'ah di Rumah

Apa hukum Shalat Berjama'ah Bagi Kaum Wanita

Apakah Ada Niat Khusus Bagi Imam Yg Mengimami Shalat Kaum Pria & Wanita

Shalatnya Piket Penjaga ( Satpam )

Gerakan Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Hukum Gerakan Sia-Sia Di Dalam Shalat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Jamaah

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Hukum Meremehkan Shalat

Hukum Menangguhkan Shalat Subuh Dari Waktunya

Dampak Hukum Bagi yang Meninggalkan Shalat

Hukum Shalat Seorang Imam Tanpa Wudhu Karena Lupa

Hukum Orang yang Tayammum Menjadi Imam Para Makmum yang Berwudhu

Posisi Kedua Kaki Ketika Berdiri Dalam Shalat

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat

Jika Ketika Shalat Ragu Apakah Ia Meninggalkan Salah Satu Rukun

Shalat Bersama Imam, Tapi Lupa Berapa Rakaat Yang Telah Dikerjakan

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Menulis Tamimah Untuk Orang Lain

Hukum Shalat di Belakang Orang yang Berinteraksi Dengan Tamimah dan Sihir

Mengumumkan Barang Hilang Di Dalam Masjid, Bolehkah?

Seputar Posisi Makam Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Di Masjid Nabawi

Shalatnya Penjaga Piket/Satpam

Hukum Membaca Al-Qur'an Dalam Shalat Secara Berurutan

Haruskah Imam Menunggu Makmum Masbuk Ketika Ruku

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Transparan

Hukum Pergi Ke Masjid Yang Jauh Agar Bisa Shalat Di Belakang Imam Yang Bagus Bacaannya

Sahkah Shalat Di Belakang Imam Yang Bacaanya Tidak Bagus?

HUKUM BACAAN AL-QUR'AN SEBELUM ADZAN JUM'AT

Meluruskan Barisan Hukumnya Sunat

Shalatnya Piket Penjaga / Satpam

Shalat Fardhu Bermamum Kepada Orang Yang Shalat Sunnat

Keengganan Para Sopir Untuk Shalat Berjama'ah

Bacaan Al-Quran Dengan Pengeras Suara Sebelum Shalat Subuh

Hukum Menangguhkan Shalat Hingga Malam Hari

Imam Menunggu Para Mamum Ketika Ruku

Mendengar Adzan Tetapi Tidak Datang Ke Masjid

Menempatkan Dupa Di Depan Orang-Orang Yang Sedang Shalat

Kapan Dibacakannya Doa Istikharah

Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Bergambar

TATA CARA SHALAT DI PESAWAT

Menjama Shalat Dalam Kondisi Dingin

Menghadap Kiblat Ketika Buang Air

Hukum Shalat Bergeser Dari Arah Kiblat

Mendapatkan Najis Di Pakaian Setelah Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburan Di Dalamnya?

Doa Atau Dzikir Sebelum Adzan

Hukum Membaca Shalawat Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Secara Berjamaah Di Setiap Akhir Shalat

Mana Yang Harus Didahulukan Mendengarkan Ta'lim Atau Tahiyatul Masjid?

Hukum Menahan Buang Angin Ketika Melaksanakan Shalat

Sahkah Shalat Seseorang Yang Terbuka Sebagian Kecil Dari Auratnya?

Beberapa Masalah Mengenai Sujud Syukur

Hukum Mengakhirkan Shalat Shubuh Hingga Terbit Matahari

Beberapa Masalah Tentang Shalat Jum'at Bagi Musafir

Aurat Terbuka Ketika Shalat

Wajibkah Mengqadha Puasa yang Tertinggal?

Do'a Qunut

Sunnah Sebelum Melaksanakan Shalat 'Ied

Membaca al-Qur'an di Rumah Selepas Shalat Subuh Sampai Terbit Matahari

Shalat Dua Rekaat Antara Adzan dan Iqamah

Shalatnya Piket Penjaga/Satpam

Gerakan dalam Shalat


Info Khusus

Cinta Rasul

Ada Apa Dengan Valentine's Day ?

Manisnya Iman

Hukum Merayakan Hari Valentine

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab?

Asyura' Dalam Perspektif Islam, Syi'ah & Kejawen..!!

Ada Apa Dengan Valentines Day?


Kajian Islam
· Ada Apa Dengan Valentine's Day..??
· Mutiara Fiqih Islam
· KITAB TAUHID 3
· Untuk Diketahui Setiap Muslim

SMS Dakwah Hari Ini

Allah berfirman,yang artinya, Tidak ada yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS.Asy-Syura:11)

( Index SMS Dakwah )

   


Telah Hadir & Terbit Kembali SERIAL BUKU DAKWAH AL-SOFWA :: Telah Hadir & Terbit Kembali SERIAL BUKU TAUHID :: Tebar Buku Risalah Puasa & Panduan Praktis Bulan Ramadhan ::

Artikel Buletin An-Nur :

Masalah Qadha Puasa (Bagian 2)
Selasa, 01 Juni 21

Pada bagian pertama tulisan ini telah disebutkan dua masalah terkait dengan masalah qadha puasa,
yaitu,

Masalah Pertama: Penyegeraan dan Penundaan dalam Mengqadha Puasa Wajib

Masalah Kedua: Penundaan Qadha Ramadhan Hingga Ramadhan Berikutnya

Berikut ini adalah masalah yang lainnya terkait dengan qadha puasa, yaitu,

Masalah Ketiga: Wajibnya qadha puasa secara berturut-turut

Para ulama -semoga Allah merahmati mereka- berbeda pendapat tentang wajibnya melanjutkan puasa qadha Ramadhan dan hukum memutusnya menjadi beberapa pendapat.

Pendapat pertama: wajibnya melanjutkan puasa qadha Ramadhan dan haramnya memutusnya, dan barang siapa memutus puasa qadha Ramadhan atau merusaknya, maka ia berdosa, ia wajib bertaubat kepada Allah - -, dan ia tidak diharuskan melakukan lebih banyak dari puasa qadha Ramadhan yang ditanggungnya. Karena itu, ia tidak wajib mengqadha hari yang diputusnya atau yang dirusaknya. Inilah yang menjadi pendapat Jumhur ulama.[1]

Sementara menurut pendapat sebagian kalangan Syafiiyyah, dibolehkan memutusnya bila mana qadha itu bersifat longgar.[2]

Atas dasar pendapat bahwa qadha itu bersifat longgar maka pemutusan (puasa qadha Ramadhan) boleh dilakukan.

Ibnu Qudamah - - berkata, Jika seseorang telah memulai puasa wajib seperti qadha puasa Ramadhan atau nadzar tertentu atau nadzar mutlaq, atau puasa kafarat maka ia tidak boleh menghentikannya...hal ini tidak diperselisihkan (oleh para ulama). Segala puji bagi Allah.[3]

Alasannya,

1-Firman Allah - -,




Dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.[4]

2-Dan karena hal itu (memutus qadha puasa wajib) merupakan tindakan sembrono yang menafikan kehormatan ibadah tersebut.

3-Karena orang tersebut telah membalut dirinya dengan hal yang wajib sementara tidak ada udzur untuk memutusnya, maka ia wajib menyempurnakannya, sebagaimana halnya bila mana ia telah memulai shalat di awal waktu.[5]

4-Ibnu Hazm - - mengatakan, Karena mewajibkan qadha (puasa qadha yang diputus) merupakan pewajiban yang bersifat syari yang tidak diizinkan oleh Allah. Telah diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi - - memerintahkan untuk mengqadha puasa Ramadhan yang ditinggalkan. Maka, tidak boleh ditambah dengan yang lainnya tanpa adanya nash, dan tanpa adanya ijma[6]

Pendapat kedua: Bahwa orang tersebut wajib mengqadha hari yang dirusaknya disertai dengan mengqadha puasa Ramadhan yang ditinggalkannya.

Ini merupakan salah satu pendapat dari dua pendapat kalangan Malikiyah[7]

Barangkali, alasannya adalah bahwa sebagaimana ia wajib mengqadha asalnya (yakni, puasa Ramadhan yang tidak dilakukannya) karena ia merusaknya, maka demikian pula halnya dengan gantinya (yakni, qadha puasa Ramadhan).

Pendapat ketiga: Bahwa orang tersebut wajib membayar kafarat seperti orang yang melakukan hal tersebut di bulan Ramadhan.

Dengan ini, Mujahid[8] dan Qatadah[9] berpendapat.

Alasannya, bahwa hal itu merupakan pengganti dari Ramadhan.

Pendapat ini disanggah dengan dikatakan bahwa kedua hal tersebut berbeda, karena kewajiban membayar kafarat itu hanya berlaku untuk puasa Ramadhan, maka tidak disamakan dengan yang lainnya terkait dengan wajibnya membayar kafarat karena perbedaan yang sangat jauh dalam hal kemuliaan waktu dan keutamaannya.

Pendapat yang rajih (kuat)-Wallahu Alam- adalah bahwa pada asalnya seseorang terbebas dari kewajiban membayar kafarat atau menambah puasa.

Masalah Keempat: Mendahulukan puasa sunnah atas puasa qadha

Para fuqaha beselisih pendapat terkait dengan masalah ini menjadi beberapa pendapat.

Pendapat pertama: Bahwa tidak boleh dan tidak sah mendahulukan puasa sunnah atas puasa qadha. Ini adalah pendapat kalangan Hanabilah[10]

Pendapat kedua: Bahwa boleh mendahulukan puasa sunnah atas puasa qadha, tanpa dimakruhkan sama sekali. Ini adalah madzhab kalangan Hanafiyah[11], dan satu riwayat dari Imam Ahmad[12]

Pendapat ketiga: Bahwa boleh mendahulukan puasa sunnah atas puasa qadha namun tidak disukai. Ada yang mengatakan, dikecualikan puasa (sunnah) yang sangat dianjurkan, maka boleh mendahulukan puasa tersebut atas puasa qadha tanpa dimakruhkan. Ini adalah madzhab kalangan Malikiyah[13]

Hanya saja kalangan Malikiyah mereka membolehkan puasa sunnah sebelum (puasa) nadzar tertentu. Maka, dalam kondisi ini diharamkan puasa (sunnah) di waktu yang ditentukan untuk berpuasa nadzar, dan tidak dimakruhkan untuk berpuasa sunnah pada hari sebelumnya.

Adapun tidak dimakruhkannya puasa sunnah sebelum (puasa) nadzar, hal itu karena tidak adanya pengaruh baginya sebelum waktunya karena tidak tersibukkannya diri dengannya. [14]

Adapun tidak bolehnya berpuasa sunnah di waktu nazar tertentu, maka hal itu karena waktu tersebut telah ditentukan sebagai waktu untuk berpuasa nazar.

Pendapat keempat: Bahwa bila mana penundaan itu dilakukan tanpa udzur, maka tidak boleh (mendahulukan puasa sunnah atas puasa qadha). Adapun bila hal itu karena suatu udzur, maka dibolehkan (mendahulukan puasa sunnah atas puasa qadha). Ini adalah pendapat yang benar di kalangan Syafiiyyah.[15]

Dalil-dalil

Dalil pendapat pertama :

Pendapat ini didasarkan pada beberapa dalil berikut ini,

1-Bahwa Allah - - memerintahkan di banyak ayat agar bersegera di dalam beramal shaleh, sebagaimana firman-Nya,




Dan bergegaslah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. [16]

Dan firman-Nya,




Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.[17]

Ini menunjukkan keutamaan bersegera melakukan amal dan tidak menundanya atau mengakhirkannya. Termasuk dalam hal ini adalah menyegerakan mengqadha puasa. Dan, berpuasa sunnah sebelum berpuasa qadha hal yang wajib menjadikan tertundanya pelaksanaan hal yang wajib dan tidak dilakukannya hal tersebut dengan segera. Karenanya, hal tersebut dimakruhkan.[18]

2-Bahwa berpuasa sunnah bagi orang yang memiliki hutang puasa wajib berkonsekwensi mengakhirkan yang wajib dan meniadakan sifat bersegera dalam mengerjakannya, dan yang selayaknya dilakukan adalah memulai dengan sesuatu yang harus dilakukan agar dirinya terbebas darinya, barulah kemudian ia melakukan puasa sunnah[19]

3-Apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan Abu Burdah, ia berkata, aku pernah mendengar Abu Musa berkali-kali mengatakan, Rasulullah - - bersabda, Apabila seorang hamba itu sakit atau bepergian jauh niscaya dituliskan untuknya (pahala mengerjakan amal shaleh) seperti apa yang telah biasa ia lakukan kala tinggal dan kala sehat.[20]

Sisi pendalilannya:

Bahwa barang siapa sakit atau safar menghalanginya dari melakukan puasa sunnah, maka ia (mendapatkan pahala) seperti orang yang melakukannya. Maka, tentunya lebih utama jika ia tersibukan dengan puasa wajib, di mana mendahulukan puasa sunnah atas puasa wajib berkonsekwensi mendahulukan sesuatu yang penting atas sesuatu yang lebih penting. Dengan demikian, maka hal ini menunjukkan bahwa hendaknya sesuatu yang wajib didahulukan atas sesuatu yang sunnah. [21]

4-Apa yang diriwayatkan Abu Hurairah - - bahwa Rasulullah - - bersabda,


,


Barangsiapa berpuasa sunnah sementara ia mempunyai tanggungan qadha sesuatu yang belum diqadhanya, sesungguhnya tidak akan diterima darinya sebelum ia berpuasa qadha tersebut.[22]

Zhahir hadis ini memberikan faidah tidak bolehnya melakukan perkara sunnah sementara hal wajib masih melekat pada diri seseorang.

Berdalil dengan hadis ini disanggah dari dua sisi:

Pertama: Bahwasanya hadis ini adalah hadis lemah yang tidak dapat dijadikan argumentasi, karena dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Lahiah[23], hafalannya mengalami kekacauan setelah kitab-kitabnya terbakar.

Kedua: Di dalam sanadnya ada sesuatu yang ditinggalkan, berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, karena zhahir hadis tersebut memberikan faidah bahwa barang siapa mendapati Ramadhan sementara ia memiliki tanggungan qadha puasa Ramadhan sebelumnya (yang belum diqadhnya) niscaya puasa Ramadhan yang akan dilakukannya tidak diterima. Hal ini, tak seorang pun dari kalangan ahli ilmu yang mengatakannya. Ibnu Qudamah mengisyaratkan kepada hal ini di dalam al-Mughni. [24]

5-Apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari jalan Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, di mana di dalamnya disebutkan sabda beliau,




Tunaikan (hutang kepada) Allah. Karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya.[25]

Sisi pendalilannya:

Sabda beliau, (karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya), menunjukkan bahwasanya tidak boleh mengerjakan puasa sunnah sebelum mengqadha puasa wajib, karena bila mana Allah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya hal ini berkonsekwensi bahwa hal yang sunnah tidak selayaknya mendahuluinya.

6-Apa yang diriwayatkan Abdurrazzaq dari ats-Tsauri dari Utsman bin Mauhib, ia berkata, Aku pernah mendengar Abu Hurairah saat ditanya seorang lelaki, di mana lelaki tersebut mengatakan kepadanya, Sungguh, aku mempunyai tanggungan puasa Ramadan beberapa hari, bolehkah aku berpuasa sunnah pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah? Abu Hurairah menjawab, Tidak, mulailah dengan menunaikan hak Allah dulu barulah kemudian engkau berpuasa sunnah setelahnya yang engkau inginkan.[26]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa perintah Abu Hurairah kepada lelaki tersebut agar memulai dengan berpuasa qadha Ramadhan sekedar arahan dan menunjukkan hal yang lebih utama.[27]

Al-Aini mengatakan ketika menjelaskan makna ucapan Abu Hurairah dan Said bin al-Musayyib, Makna ungkapan ini bahwa Said ketika ditanya tentang puasa pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sementara kondisi si penanya memiliki tanggungan puasa qadha Ramadhan, lalu ia mengatakan, tidak selayaknya hingga ia memulai pertama kalinya dengan puasa qadha Ramadhan, ungkapan ini tidak menunjukkan larangan secara mutlak, namun hanya sekedar menunjukan kepada skala prioritas mana yang seharusnya lebih didahulukan.[28]

7-Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan Zubaid bin al-Harits dari Abu Bakar - -, Sesungguhnya Allah memiliki hak (yang harus ditunaikan hamba-Nya) pada siang hari yang tidak akan diterima-Nya (bila hal itu dilakukan hamba-Nya) pada malam hari dan sesungguhnya Allah memiliki hak (yang harus ditunaikan hamba-Nya) pada malam hari yang tidak akan diterima-Nya (bila hal itu dilakukan hamba-Nya) pada siang hari,




Dan bahwasanya Dia (Allah) tidak akan menerima amalan sunnah sebelum amalan Fardhu dikerjakan.[29]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa atsar ini munqathi (terputus).

Dan, bahwa atsar ini tidak menunjukkan larangan secara mutlak. Namun, hanya menunjukkan kepada skala prioritas mana yang seharusnya lebih dikedepankan dan arahan agar memulai dengan sesuatu yang lebih penting dan lebih ditekankan.

8-Apa yang datang dari Aisyah, bahwa ia pernah ditanya tentang puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum seseorang mengerjakan puasa qadha Ramadhan yang ditanggungnya, ia mengatakan,




Tidak, sampai engkau menunaikan hak Allah.

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa atsar ini lemah.

9-Tidak boleh berpuasa sunah sebelum menunaikan puasa wajib dikiaskan kepada ibadah haji di mana kedua bentuk ibadah tersebut dapat ditambal kekurangannya dengan harta[30]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa ini merupakan pengkiasan dengan sesuatu yang hakikatnya berbeda. Karena, ibadah haji itu wajib dikerjakan segera, berbeda halnya dengan puasa ini (puasa qadha) [31] dan oleh karena qadha puasa itu waktunya luas terbentang pada setiap bulan dalam setahun kecuali yang dikecualikan, adapun haji maka waktunya sempit, tidak sah dilakukan kecuali di waktu yang khusus.

Dalil pendapat kedua:

1-Firman-Nya,




Maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. [32]

Sisi pendalilannya:

Ayat ini menunjukkan bahwa qadha puasa Ramadhan itu bersifat longgar. Bila mana demikian, maka boleh berpuasa sunnah sebelum melakukan qadha.

Ini disanggah dengan dikatakan, bahwa kewajiban qadha itu bersifat longgar dapat diterima, namun hal itu tidak berkonsekwensi bolehnya melakukan puasa sunnah sebelum seseorang melakukan puasa qadha, berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil pendapat pertama akan tidak bolehnya melakukan hal tersebut.

2-Firman-Nya,




Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. [33]

Sisi pendalilannya:

Bahwa zhahir ayat ini berkonsekwensi wajibnya melakukan qadha sejumlah hari yang ditinggalkan saja, tidak berkonsekwensi wajibnya melakukan qadha secara berkesinambungan, dan andai saja qadha itu bersifat segera niscaya ayat ini diikat dengan ketentuan harus dilakukan secara berturut-turut.[34]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa ayat ini diikat dengan ketentuan harus dilakukan secara berturut-turut dalam qiraah Ubay,




Maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain secara berturut-turut. [35]

Namun, sanggahan ini ditanggapi dengan dikatakan bahwasanya ketentuan harus dilakukan secara berturut-turut dalam qiraah Ubay mansukh (dihapus, tidak berlaku)[36] berdasarkan perkataan Aisyah, turun (ayat)




Maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain secara berturut-turut). Lalu, kata (secara berturut-turut) dianulir. [37]

Ibnu Hazm mengatakan, Penganulirannya menganulir hukumnya, karena al-Quran tidak dianulir setelah turunnya kecuali dengan penganuliran yang dilakukan oleh Allah terhadapnya, Allah - - berfirman,




Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya[38]

Allah - - juga berfirman,




Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya..[39]

Allah - - juga berfirman,


.


Kami akan membacakan (al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki. [40]

Bila dikatakan, bisa saja lafazh ayat dianulir sementara hukumnya tetap, seperti dalam kasus ayat rajam?

Jawabannya, bahwa andai tidak ada pemberitahuan dari Nabi - - tentang tetapnya hukuman rajam niscaya hal tersebut tidak boleh diamalkan setelah dianulirnya ayat yang turun yang terkait dengan hal tersebut, karena ayat yang Allah - - angkat (cabut) maka tidak boleh bagi kita menetapkan lafazhnya dan tidak boleh pula menetapkan hukumnya melainkan berdasarkan nash yang lainnya. [41]

3-Apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari jalan Abu Salamah dari Aisyah, ia berkata, Aku pernah mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, namun aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Syaban. Yahya mengatakan: (sibuk) [42] dengan Nabi - -[43]

Dalam satu redaksi, Aku tidak mampu mengqadha puasa Ramadhan kecuali di bulan Syaban, hingga Rasulullah - - wafat[44]

Sisi pendalilannya:

Bahwa qadha Ramadhan tidak wajib dilakukan segera. Kalaulah saja qadha Ramadhan itu harus dilakukan segera niscaya Nabi - - tidak akan melegitimasi tindakan Aisyah mengakhirkan pelaksanaan qadha.[45]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwasanya di dalam hadis Aisyah tidak ada dalil yang menunjukkan tidak wajibnya qadha Ramadhan secara segera, berdasarkan perkataannya, aku tidak bisa mengqadhanya kecuali di bulan Syaban.

Sanggahan ini ditanggapi dengan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah kemampuan secara syari, karena Aisyah tidak mampu secara syari untuk mengakhirkan qadha sampai setelah Ramadhan, di mana kondisinya di bulan syaban dan bulan-bulan yang lainnya terkait dengan kesiapannya untuk memberikan pelayanan kepada Rasulullah sama. Andai kata hal tersebut menghalanginya untuk berpuasa niscaya hal itu juga menghalanginya dari menunaikan qadha puasa di bulan Syaban. Disebutkannya kondisinya mengqadha puasa di bulan Syaban hanyalah untuk menjelaskan sempitnya waktunya di bulan Syaban, dan bahwa ia mengakhirkannya sampai akhir waktunya, maka kalaulah bukan karena sempitnya waktu niscaya ia bakal menunda qadhanya lagi.[46]

4-Bahwa sebagaimana halnya dibolehkan mengerjakan shalat sunnah di awal waktunya sebelum mengerjakan shalat Fardhu pada waktunya, maka demikian pula dibolehkan mengerjakan puasa sunnah sebelum mengerjakan puasa wajib. Karena kedua bentuk ibadah tersebut merupakan ibadah yang terkait dengan waktu yang longgar [47]

5-Bahwa qadha puasa Ramadhan merupakan ibadah yang terkait dengan waktu yang longgar, karenanya dibolehkan mengerjakan puasa sunnah sebelum mengerjakan puasa qadha Ramadhan, seperti shalat (wajib) di mana seseorang boleh mengerjakan shalat sunnah pada waktunya (shalat wajib) sebelum ia mengerjakan shalat wajib tersebut. [48]

Ini disanggah dari dua sisi:

Sisi pertama: larangan, di mana hal sunnah yang bersifat mutlak diharamkan mengerjakannya sebelum mengerjakan qadha, adapun dibolehkanya mengerjakan shalat sunnah rawatib dan witir hanyalah karena shalat tersebut merupakan pengiring shalat fardhu.

Sisi kedua: Tidak diterimanya asalnya, karena hal tersebut termasuk perkara yang diperselisihkan oleh para ulama.

Dalil pendapat ketiga:

Pertama, dalil mereka akan bolehnya mengerjakan puasa sunnah sebelum mengerjakan puasa qadha adalah apa yang dijadikan dalil oleh kalangan yang berpendapat dengan pendapat kedua.

Dan, telah lalu sanggahannya.

Kedua, dalil kemakruhan mengerjakan puasa sunnah tidak ditekankan disukainya sebelum mengerjakan puasa qadha.

Karena diri seseorang itu tergadaikan dengah hal yang wajib, karena itulah maka ia bersegera untuk membebaskan diri dari hal wajib tersebut barulah kemudian ia mengerjakan hal yang sunnah, meskipun bila ia mengerjakan yang sunnah (terlebih dahulu) maka apa yang dilakukannya tersebut sah karena waktu itu layak untuk mengerjakan hal yang sunnah tersebut dan yang lainnya, karena itulah mana saja yang dilakukan dari kedua hal tersebut sah. Adapun mengedepankan pelaksanaan qadha adalah karena apa yang telah kami sebutkan dan oleh karena hal itu berkonsekwensi mengakhirkan perkara yang wajb dan meniadakan sifat bersegera mengerjakannya.

Tidak diragukan bahwa bersegera mengerjakan amal shaleh itu lebih utama daripada menundanya. Dan, hal yang wajib, termasuk bagian dari amal shaleh. Bahkan hal tersebut lebih utama untuk disegerakan agar diri seseorang terbebas dari tanggungannya. Dan, orang yang merenungkan nash-nash syariat niscaya ia mendapati makna ini.

Pendapat yang mengatakan makruh (melakukan puasa sunnah sebelum puasa qadha) didasarkan pada tidak jelasnya dalil yang melarang hal tersebut dan karena adanya perbedaaan pendapat para ulama dalam hal tersebut. Karena itu, maka barang siapa berpuasa sunnah maka puasa sunnah yang dilakukannya tersebut sah selagi dilakukan di waktu yang longgar untuk melakukan puasa qadha. Dan, yang lebih utama adalah seseorang bersegera melakukan qadha, berdasarkan pada apa yang telah kami jelaskan.[49]

Dalil pendapat keempat

Pertama, dalil mereka tentang tidak bolehnya mengerjakan puasa sunnah bila mana penundaan yang dilakukan tanpa udzur adalah apa yang dijadikan dalil oleh kalangan yang berpendapat dengan pendapat pertama.

Kedua, dalil mereka tentang bolehnya mengerjakan puasa sunnah bila mana penundaan yang dilakukan karena udzur adalah bahwa penundaan qadha puasa Ramadhan bila dilakukan karena udzur tidak wajib mengqadhanya segera, maka boleh melakukan puasa sunnah sebelum itu. [50]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa hal itu terlarang, sebab bolehnya mengerjakan puasa qadha tidak segera tidaklah berkonsekwensi bolehnya mengerjakan puasa sunnah (sebelumnya) berdasarkan dilalah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil pendapat pertama.

Pendapat yang rajih (kuat)

Pendapat yang kuat -Wallahu Alam- dikatakan bahwa apa yang menjadi pendapat kalangan yang berpendapat dengan pendapat yang pertama lebih unggul, karena hal tersebut akan mempercepat terbebasnya diri seseorang dari tanggungan dan lebih bersifat berhati-hati dalam ibadah. Namun, hal tersebut tidaklah menghalangi kebolehan mengerjakan puasa sunnah sebelum qadha karena zhahir perbuatan Aisyah dan legimitasi Rasulullah - terhadapnya.

Masalah Kelima : Kebolehan Melakukan Qadha secara terpisah-pisah

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah bolehnya melakukan qadha secara terpisah-pisah menjadi dua pendapat.

Pendapat pertama: Dibolehkan melakukan qadha secara terpisah-pisah, dan melakukannya secara berurutan bukan merupakan kewajiban. Namun, dianjurkan untuk bersegera menggugurkan perkara yang wajib tersebut.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Syafii, Ahmad, Abu Tsaur, dan Ibnu Hazm semoga Allah merahmati mereka semuanya.[51] Dan, dengan pendapat ini pula Said bin Jubair, Mujahid, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Ibnu al-Musayyib, ats-Tsauri, al-Auzai, dan ishaq bin Rahawaih berpendapat.

Pendapat Kedua: Bahwa wajib dilakukan secara berurutan

Dengan pendapat inilah Dawud azh-Zhahiri, Ibnu Hazm berpendapat dan pendapat ini adalah pendapat an-Nakhai, asy-Syabi, Urwah bin az-Zubair-semoga Allah merahmati mereka semuanya.[52]

Dalil-dalil

Dalil pendapat pertama:

1-Firman-Nya,




Maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. [53]

Sisi pendalilannya:

Ayat ini menunjukkan bolehnya melakukan puasa qadha secara terpisah-pisah dan berurutan. Karena, Allah hanya mewajibkan pelaksanaannya pada hari-hari lain lepas dari adanya persyaratan harus dilakukan secara berurutan. Dan, pengikatannya dengan keharusan untuk melakukannya secara berurutan membutuhkan kepada dalil. [54]

2-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Sufyan bin Bisyr, (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi dari Ibnu Umar bahwa Nabi - - bersabda,




Dalam mengqadha (puasa) Ramadhan, jika mau, ia melakukannya secara terpisah-pisah dan jika mau, ia melakukannya secara berurutan.[55]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa hadis ini lemah tidak dapat dijadikan argumentasi.

3-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Muhammad bin al-Munkadir bahwa beliau (Nabi) - - pernah ditanya tentang memutus-mutus qadha puasa Ramadhan, maka beliau menjawab,




Hal itu terserah dirimu, apa pendapatmu kalau salah seorang di antara kalian mempunyai hutang lalu ia membayarnya dengan mencicil satu dirham, dua dirham (dan seturusnya hingga mencapai nilai hutang yang harus dibayarnya) bukankah ia tengah membayarnya? maka Allah itu lebih berhak untuk memaafkan (kesalahan hamba-Nya) dan menutupi (aibnya). [56]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa riwayat ini mursal.

4-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Muhammad bin Umar, (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khazim al-Andalusi dari Amr bin Syarahil al-Ghifari dari Abu Abdurrahman al-Hanbali dari Abdullah bin Amr, Nabi - - ditanya tentang qadha (puasa) Ramadhan, maka beliau menjawab, hendaklah diqadha dengan berurutan, dan jika dipisah-pisah hal tersebut sah. [57]

Ini disanggah dengan dikatakan bahwa riwayat ini dhaif (lemah).

5-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Abu Amir al-Hauzani, ia berkata, Aku mendengar Abu Ubaidah bin Jarrah ditanya tentang qadha (puasa) Ramadhan. Maka, beliau menjawab, Sesungguhnya, tidaklah Allah memberikan keringanan bagi kalian dalam hal meninggalkan puasa Ramadhan sementara Dia ingin memperberat kalian dalam hal mengqadhanya. Karena itu, hitunglah jumlah hari yang ditinggalkan dan lakukanlah apa yang engkau inginkan. (kamu ingin mengqadhanya secara terpisah-pisah, silakan. Kamu ingin mengqadhanya secara berturut-turut, silakan).[58]

6-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Yazid bin Muhib, ia berkata, aku mendengar Malik bin Yukhamir mengatakan, Muadz bin Jabal berkata, Hitunglan jumlah hari yang ditinggalkan, dan berpuasalah kamu bagaimana pun cara yang kau inginkan.[59]

7-Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ibnu Juraij, dari Atha, dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, mereka berdua mengatakan,




Tidak mengapa qadha (puasa) Ramadhan dilakukan secara terpisah-pisah. [60]

8-Apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari jalan az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdillah dari Ibnu Abbas, ia berkata, Lakukanlah puasa qadha dengan cara bagaimanapun yang engkau inginkan. [61]

9- Apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari jalan Bakar dari Anas, ia berkata, Jika kamu mau, qadhalah puasa Ramadhan itu secara berurutan dan jika kamu mau, qadhalah puasa Ramadhan itu secara terpisah-pisah.[62]

10-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Abdul Hamid bin Rafi dari kakeknya bahwa Rafi bin Khadij pernah mengatakan, Hitunglah jumlah hari yang ditinggalkan dan berpuasalah dengan cara bagaimanapun yang kamu kehendaki.[63]

11-Bahwa puasa qadha itu merupakan puasa yang tidak terkait dengan waktu pada dzatnya karena itu tidak wajib dilakukan secara berurutan seperti nazar mutlak.[64]

Dalil pendapat kedua:

Pendapat ini didasarkan pada beberapada dalil,

1-Firman-Nya,


( )


(Maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain( secara berurutan. [65]

Berdalil dengan ayat ini disanggah dengan dikatakan bahwa qiraah ini tidak dapat dijadikan argumentasi. [66]

2-Firman-Nya,




Maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain...

Sisi pendalilannya:

Bahwa Allah - - memerintahkan melakukan qadha, sementara perintah itu ketika disebutkan secara mutlak berkonsekwensi bahwa perintah tersebut hendaknya dilakukan segera, dan penyegeraan melaksanakn perintah itu mengharuskan dilakukannya sesuatu yang diperintahkan tersebut secara berurutan; karena hal itu berkonsekwensi pada pelaksanaan qadhanya dilakukan satu hari disusul dengan hari berikutnya. Jika demikan berarti pelaksanaannya secara berurutan wajib dilakukan. [67]

3-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Abdurrazzaq dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah, ia berkata, turun (ayat)




Maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain secara berturut-turut). Lalu, kata (secara berturut-turut) dianulir. [68]

Berdalil dengan atsar ini disanggah dengan dikatakan bahwa penganulirannya menganulir hukumnya, karena al-Quran tidak dianulir setelah turunnya kecuali dengan penganuliran yang dilakukan oleh Allah terhadapnya[69], Allah - - berfirman,




Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya[70]

4-Apa yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari jalan Abdurrahman bin Ibrahim, dari al-Ala bin Abdurrahman dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah - - bersabda, Barang siapa mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, maka hendaklah ia mengqadhanya secara berurutan langsung semuanya, dan janganlah ia memutusnya. [71]

Berdalil dengan hadis ini disanggah dengan dikatakan bahwa hadis ini lemah tidak dapat dijadikan argumen.

Namun, jika kita menerima bahwa hadis ini shahih, maka hadis ini dibawa pemahamannya kepada bahwa perintah untuk melakukan qadha secara berurutan langsung merupakan anjuran sebagai bentuk penggabungan antara beberapa dalil. Dan inilah dia yang lebih utama.

5-Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan al-Harits, dari Ali, ia berkata, Barang siapa mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa secara bersambung dan tidak memisahkannya. [72]

Atsar ini disanggah dengan dikatakan bahwa atsar ini lemah.

6-Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ayyub dari Nafi dari Ibnu Umar, ia berkata perihal qadha puasa Ramadhan Dilakukan secara berurutan di antara puasa-puasanya. [73]

7-Imam Malik meriwayatkan dari Nafi bahwa Ibnu Umar pernah mengatakan,Hendaknya qadha puasa Ramadhan jangan dipisah-pisahkan.[74]

Atsar ini disangkah dari dua sisi:

Pertama: bahwa atsar ini menyelisihi zhahir al-Quran

Kedua: Bahwa ini adalah pendapat seorang sahabat yang diselisihi oleh sahabat yang lainnya.

8-Qadha puasa Ramadhan dikiaskan kepada pelaksanaan puasa pada waktunya di bulan Ramadahan, di mana pelaksanaannya secara berurutan merupakan syarat dalam pelaksanaannya pada bulan Ramadhan. Maka, demikian pula saat mengqadhanya, karena qadha dalam setiap bentuk ibadah itu seperti ibadah tersebut dilakukan pada waktunya [75]

Pendapat yang kuat

Pendapat yang kuat-Wallahu Alam- adalah pendapat pertama, karena kuatnya dalilnya, dan oleh karena hal itu merupakann pendapat kebanyakan para sahabat, juga karena syariat itu pondasinya dibangun di atas asas kemudahan dan keringanan. Dan, tidak diwajibkannya untuk melakukan qadha puasa Ramadhan secara berurutan sangat selaras dengan asas ini. Siapa yang berpendapat akan wajibnya melakukan qadha secara berurutan telah menyelisihi asas ini. Karena artinya bahwa barang siapa melakukan qadha tidak secara berurutan hingga selesai maka ia berdosa. Atau, berarti qadha puasa yang dilakukan secara terpisah itu tidak sah. Sementara penilaian bahwa seseorang itu berdosa atau amal yang dilakukannya tidak sah tidaklah terjadi melainkan dengan nash yang shahih dan tegas yang datang dari pembuat syariat.

Wallahu Alam

(Redaksi)


Keterangan:

[1] Bada-i ash-Shana-i, 2/409 dan 625, al-Fawakih ad-Diwani, 1/351, Mughni al-Muhtaj, 1/448, al-Mughni, 4/412.
[2] Telah disebutkan sebelumnya bahwa kalangan Syafiiyyah berpandangan bahwa qadha itu bersifat segera bila mana tindakan tidak berpuasa dilakukan tanpa udzur, sementara bila mana hal itu karena adanya udzur maka qadha itu bersifat longgar.
[3] Al-Mughni, 4/412
[4] Qs. Muhammad: 33
[5] Al-Majmu, 6/363
[6] Al-Muhalla, 6/394
[7] al-Fawakih ad-Diwani, 1/351
[8] Hal tersebut dinukil darinya oleh pengarang al-Fawakih ad-Diwani, 1/351
[9] Hal tersebut dinukil darinya oleh Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla, 4/420
[10] Al-Kafi, Ibnu Qudamah, 1/359, Syarh Muntaha al-Iradat, 1/456, Kasysyaf al-Qana, 2/334
[11] Al-Inayah Ala al-Hidayah, 2/355, ad-Durru al-Mukhtar, 1/456, al-Bahru ar-Ra-iq, 2/307
[12] Asy-Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah, 2/48, al-Furu, 3/130
[13] Al-Bayan Wa at-Tahshil, 2/320, at-Taj Wal Iklil, 2/417, Mawahib al-Jalil, 2/417, Bulghatu as-Saalik, 1/244, Hasyiyah ad-Dasuqi, 1/518
[14] Asy-Syarh al-Kabir Maa Hasyiyah ad-Dasuqi, 1/519
[15] Tuhfatu ath-Thalib, 1/430, Mughni al-Muhtaj, 1/445
[16] Qs. Ali Imran: 133
[17] Qs. Al-Anbiya: 90
[18] Bulghatu as-Saalik, 1/448
[19] Mawahib al-Jalil, 2/417, Bulghatu as-Saalik, 1/244, dan Hasyiyah ad-Dasuqi, 1/518
[20] Al-Bukhari di dalam shahihnya 3/2834, kitab al-Jihad, bab : Yuktabu Lil Musafiri Mitslu Maa Kaa-na Yamalu Fii al-Iqamati, no. 2834
[21] Mawahib al-Jalil, 2/417
[22] Ibnu Qudamah di dalam asy-Syarh al-kabir, 2/48 menganggap riwayat ini dari Imam Ahmad, dan beliau meyebutkan bahwa di dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ibnu Lahiah, dan bahwa pada siyaq hadis ini ada sesuatu yang ditinggalkan, dan Ibnu Lahiah adalah seorang rawi yang lemah. Lihat, Mizan al-Itidal, 2/475
[23] Taqrib at-Tahdzib, hal. 186
[24] al-Mughni, 4/400
[25] Shahih al-Bukhari Kitab Jaza-u ash-Shaidi-bab al-Hajj Wa an-Nudzur An al-Mayyiti 2/217
[26] Mushannaf Abdurrazzaq (7715), dan diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi di dalam as-Sunan (8178) dari jalan Sufyan. Sanadnya shahih
[27] Fathul Baari, 4/237
[28] Umdatu al-Qari, 11/76-77
[29] Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannafnya 7/434-435, no. 37045, Zaed bin al-Harits tidak mendapati Abu Bakar. Diriwayatkan pula oleh Abu Nuaim di dalam Marifati ash-Shahabah 114, dari jalan Abdurrhman bin Abdillah bin Sabith, dari Abu Bakar, Ibnu Sabith tidak mendapati Abu Bakar.
[30] Al-Mughni 4/402, asy-Syarh al-Kabir 7/504, Syarh al-Umdah, 1/357
[31] Al-Kafi Fii Fiqhi al-Imam Ahmad, 1/359
[32] Qs. al-Baqarah: 185
[33] Qs. al-Baqarah: 184
[34] Bidayatu al-Mujtahid Wa Nihayatu al-Muqtashid 1/349
[35] Al-Muhalla, 4/408
[36] as-Sunan al-Kubra 4/431, Fathul Baari 4/223
[37] Abdurrazzaq di dalam Mushannafnya 4/241-242, no. 7657, ad-Daruquthni di dalam Sunannya 2/192, no. 60. Dan, ia mengatakan: ini isnad shahih.
[38] Qs. al-Hijr: 9
[39] Qs. al-Baqarah: 106
[40] Qs. al-Ala: 5-6
[41] Al-Muhalla, 4/409
[42] , yakni, persiapan seorang wanita untuk melayani suaminya ketika suaminya membutuhkannya. Lihat, Fathul Baari, 4/225 dan Umdatul Qari, 11/56
[43] Al-Bukhari di dalam shahihnya 2/689, kitab ash-shaum, bab: Mata yaqdhi Qadhaa-a Ramadhan, no. 1849 dan Muslim di dalam shahihnya 2/802, kitab ash-Shiyam, bab Qadha Ramadhan, no. 151
[44] At-Tirmidzi di dalam Sunannya 3/152, kitab ash-Shaum, bab: Maa-jaa-a Fii takhiiri Ramadhan, no. 783
[45] Syarh az-Zarqani, 2/258
[46] Ash-Shiyam Min Syarhi al-Umdah, 1/352
[47] Al-Kafi Fii Fiqhi al-Imam Ahmad, 1/59
[48] Asy-Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah, 2/48
[49] Al-Furu, 3/130
[50] Tuhfatu ath-Thullab, 1/430, Hasyiyah asy-Syarqawi, 1/430
[51] Kitabul Ashli, 2/212, Ahkamu al-Quran, al-Jashshash, 1/208, al-Binayah Syarh al-Hidayah 3/691-692, al-Mabsuth 3/75, al-Bada-i hal. 76, Tabyin al-Haqa-iq 1/336, al-Istidzkar, 10/178, Ahkamu al-Quran, al-Qurthubi, 2/282, al-Maunah, 1/213 at-Taaj Wa al-Iklil, 3/328, Syarh al-Kharsyi 2/242, Mawahib al-Jalil 2/448, al-Umm 2/103, al-Hawiy al-Kabir 3/453-454, al-Majmu 6/367, Mughni al-Muhtaj 1/448, al-Inshaf 3/334, Kitab ash-Shiyam Min Syarhi al-Umdah, 1/344, Syarh az-Zarkasyi 2/44, al-Muhalla 6/395, Nailul Authar 4/248
[52] Mushannaf Abdurrazzaq 4/242-243, al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah 2/95, al-Binayah Syarh al-Hidayah 3/691-692, al-Mudawwanah 1/213, al-Istidzkar 10/180, al-Majmu 6/367, al-Hawiy 3/454, al-Mughniy Maa Syarhi al-Kabir 3/91-92, al-Muhalla 6/395, Nailul Authar 4/248.
[53] Qs. al-Baqarah: 185
[54] Ahkam al-Quran, al-Jashshash, 1/208
[55] Sunan ad-Daruquthni, 2/193
[56] Sunan ad-Daruquthni 2/194, dan ia mengatakan, ini sanad hasan akan tetapi mursal, dan telah diriwayatkan secara bersambung namun tidak valid.
[57] Sunan ad-Daruquthni, 2/170, al-Waqidi mengatakan, Dhaif (lemah)
[58] Sunan ad-Daruquthni, 2/170, dan dari jalannya al-Baihaqi, 4/258. Isnadnya shahih.
[59] Sunan ad-Daruquthni, 2/194. Sanadnya shahih
[60] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/33. Isnadnya shahih.
[61] Al-Mushannaf, 3/33. Dan diriwayatkan oleh ad-Daruquthni 2/194 dari jalan Ubaidillah. Sanadnya shahih
[62] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/292
[63] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/173
[64] Al-Mughni, 3/91
[65] Al-Muhalla, 6/396
[66] Tabyin al-Haqa-iq, 1/336
[67] Ahkamu al-Quran, al-Jashshash, 1/254
[68] Sunan ad-Daruquthni 2/192, dan ia mengatakan: sanadnya shahih.
[69] Al-Muhalla, 6/396
[70] Qs. al-Hijr: 9
[71] Sunan ad-Daruquthni 2/192, dan dari jalan ini pula al-Baihaqi 4/259 meriwayatkannya, dan ia berkata: Abdurrahman bin Ibrahim Madani dilemahkan oleh Yahya bin Main, Abu Abdurrahman an-Nasai dan ad-Daruquthni
[72] Al-Mushannaf 2/295, di dalam sanadnya terdapat rawi bernama al-Haris, ia adalah seorang rawi yang lemah.
[73] Al-Mushannaf, 2/295 (9134 dan 9135)
[74] Al-Muwatha 1/304 (45) dan sanadnya shahih
[75] Lihat, al-Hawi al-Kabir, 3/454


Sumber :

Al-Jami Li-Ahkami Ash-Shiyam, Prof. Dr. Khalid bin Ali al-Musyaiqih, penerbit : Maktabah ar-Rusyd, KSA, Jilid 2, hal.181-191 dan Jilid 4, hal. 25-26 dan hal. 29-34.

Hit : 326 | Index Annur | kirim ke teman | versi cetak | Bagikan

| Index Shaum

 
   
Statistik Situs
Selasa,30-11-2021 M 18:53:44 
Hijri: 24 Rabiuts Tsani 1443 H
Hits ...: 259314566
Online : 39 users

Pencarian

cari di  

 

Iklan

















Jajak Pendapat
Rubrik apa yang paling anda sukai di situs ini ?

Analisa
Buletin
Fatwa
Kajian
Khutbah
Kisah
Konsultasi
Nama Islami
Quran
Tarikh
Tokoh
Doa
Hadits
Mu'jizat
Sakinah
Akidah
Fiqih
Sastra
Resensi
Dunia Islam
Berita Kegiatan
Kaset
Kegiatan
Materi KIT
Firqah
Ekonomi Islam
Senyum
Download


Hasil Jajak Pendapat

Mutiara Hikmah

Imam Syafi-i berkata, Bersabaralah terhadap berbagai musibah dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari neraka dengan bertakwa. (Manaqib Imam Syafi'i)

( Index Mutiara )


Fiqh Wanita

Benarkah Kaum Wanita Tidak Boleh Masuk Masjid Karena Mereka Adalah Najis

Jika Mendapat Kesucian Setelah Shubuh

Haid Datang Beberapa Saat Sebelum Matahari Terbenam

Merasa Ada Darah Tapi Belum Keluar Sebelum Matahari Terbenam

Hukum Wanita Yang Mandi Setelah Jima', Kemudian Keluar Cairan Dari Kemaluannya

Hukum Orang Yang Kentut Terus Menerus.

Shalat Dengan Pakaian Terkena Najis

Hukum Orang Haidh Berdiam di Masjid

Hukum air kencing anak yang mengenai pakaian wanita

Menggunakan air laut untuk berwudlu

Hukum Operasi Cesar

Menyentuh wanita dalam keadaan berwudhu'

Menyentuh wanita asing(selain isteri) dalam keadaan berwudhu'

Hukum membawa Mushaf ke dalam WC

Bersuci dari Air Kencing Bayi

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Kutek

Hukum Wudhunya Orang yang Menggunakan Inai (Pacar)

Hukum Wudhunya Wanita yang Tidak Menghilangkan Kutek

Membasuh Kepala Bagi Wanita

Hukum Mengusap Rambut yang Disanggul (dikepang)

Sifat Mandi Junub dan Perbedaan dengan Mandi Haidh

Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haidh

Haruskah Meresapkan Air ke Dalam Kulit Kepala Dalam Mandi Junub?

Samakah Wanita yang Memiliki Rambut Panjang yang Tidak Digulung dengan yang Digulung

Hukum Mengusap Kain Penutup Kepala Saat Mandi Junub

Haruskah Dua Kali Bersuci Karena Dua Hadats

Wajib Mandikah Wanita Yang Bermimpi (Mimpi Basah)

Jika Seorang Wanita Bermimpi dan Mengeluarkan Cairan yang Tidak Mengenai Pakaiannya, Apakah Ia Wajib Mandi

Wajib Mandikah Bila Keluarnya Mani Karena Syahwat Tanpa Bersetubuh

Berdosakah Seorang Wanita yang Mimpi Bersetubuh Dengan Seorang Pria

Wajib Mandikah Jika Seorang Wanita Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya atau Jika Seorang Dokter Memasukkan Tangannya ke Dalam Kemaluannya

Jika Seorang Ragu Tentang Junubnya

Bolehkah Menunda Mandi Wajib Hingga Terbit Fajar

Bolehkah Orang yang Junub Tidur Sebelum Berwudhu

Mandi Junub Merangkap Mandi Jum'at, atau Merangkap Mandi Haidh dan Mandi Nifas

Apakah Penggunaan Inai Pada Masa Haidh Akan Mempengaruhi Sahnya Mandi Setelah Masa Haidh?

Apakah Tubuh Orang yang Sedang Junub Itu Najis Sebelum Ia Mandi Junub

Masa di Mana Para Wanita yang Sedang Nifas Tidak Boleh Melaksanakan Shalat

Pendapat yang Kuat Tentang Masa Nifas

Nifas, Suci Sebelum Empat Puluh Hari Lalu Berpuasa

Apakah Wanita Nifas yang Suci Sebelum Genap Empat Puluh Hari Tetap Wajib Melaksanakan Ibadah

Nifas, Jika Darah Terus Mengalir Setelah Empat Puluh Hari

Darah Nifas Berhenti Sebelum Empat Puluh Hari, Apakah Hal Ini Membolehkan Shalat Walaupun Darah Itu Kembali Lagi Pada Hari Keempat Puluh

Apakah Masa Nifas Itu Dapat Lebih dari Empat Puluh Hari?

Tidak Mengeluarkan Darah Setelah Melahirkan, Bolehkah Suaminya Mencampurinya?

Jika Wanita Hamil Keluar Darah Banyak Tapi Bayi yang Dikandungnya Tidak Keluar ( Keguguran )

Bila Seorang Wanita Hamil Mengalami Goncangan Namun Ia Tidak Tahu Apakah Kandungannya Keguguran atau Tidak, Dalam Keadaan Ia Mengalami Haidh

Hukum Darah yang Menyertai Keguguran Prematur Sebelum Sempurnanya Bentuk Janin dan Setelah Sempurnanya Janin

Hukum Darah yang Mengalir Terus Menerus Dalam Waktu yang Lama Setelah Keguguran

Keguguran Pada Umur Tiga Bulan Kehamilan, Apakah Tetap Wajib Shalat

Hukum Darah yang Keluar Setelah Keluarnya Janin ( Keguguran )

Keguguran Sebelum dan Setelah Terbentuknya Janin

Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran

Keguguran Pada Bulan Ketiga dari Masa Kehamilan, Kemudian Setelah Lima Hari Melaksanakan Puasa dan Shalat

Wajibkah Puasa dan Shalat Bagi Wanita yang Mengalami Keguguran

Kapankah Darah Keguguran Prematur Dianggap Darah Nifas

Mengeluarkan Darah Lebih dari Tiga Hari Sebelum Persalinan

Mengeluarkan Darah Lima Hari Sebelum Datangnya Masa Nifas

Mengeluarkan Darah Satu atau Dua Hari Sebelum Persalinan

Kewajiban Wanita Nifas Pada Akhir Masa Nifas

Darah Nifas Mengalir Kembali Setelah Empat Puluh Hari

Hukum Darah Nifas yang Keluar Lagi

Hal-hal yang Mewajibkan Mandi

Hukum Berhadats Kecil Dan Menyentuh Mushaf

Mencium Istri Tidak Membatalkan Wudhu

Darah Nifas Berhenti Kemudian Kembali Lagi Setelah Empat Puluh Hari

Yang Dibolehkan Bagi Suami Terhadap Istrinya yang Sedang Nifas

Apakah Disyaratkan Empat Puluh Hari untuk Dibolehkannya Mencampuri Istri Setelah Melahirkan

Hukum Membaca Al-Quran Tanpa Wudhu

Boleh Menyentuh Kaset Rekaman Al-Quran Bagi Yang Sedang Junub

Bersetubuh Setelah Tiga Puluh Hari Melahirkan

Darah yang Keluar dari Wanita yang Melahirkan Melalui Operasi

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Apakah Tubuh Wanita Nifas Menjadi Najis

Cara Shalat Wanita yang Terus Mengeluarkan Darah

Seorang Wanita Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Darah, Lalu Beberapa Hari Kemudian Ia Mengeluarkan Da-rah Haidh yang Sebenarnya

Setelah Operasi dan Sebelum Masa Haidh Mengeluarkan Darah Hitam, Kemudian Setelah Itu Masa Haidh Datang

Seorang Wanita Telah Berhenti Masa Haidhnya Karena Usianya yang Sudah Lanjut Kemudian Dalam Suatu Perjalanan Ia Mengeluarkan Darah Terus Menerus

Wanita Mengeluarkan Darah yang Bukan Darah Haidh dan Bukan Pula Darah Nifas

Setelah Bersuci dari Haidh yang Biasanya Selama Sem-bilan atau Sepuluh Hari, Keluar Lagi Darah Pada Waktu-waktu yang Tidak Tentu

Di Bulan Ramadhan Mengeluarkan Darah Sedikit yang Terus Berlanjut Sepanjang Bulan

Setelah Nifas Mengeluarkan Darah Sedikit yang Bukan di Masa Haidh

Cara Bersucinya Wanita Mustahadhah

Perbedaan Antara Darah Haidh dan Darah Istihadhah

Penjelasan Tentang Cairan Berwarna Kuning dan Cairan Keruh Serta Hukumnya, Juga Tentang Cairan Putih (Keputihan)

Penggunaan Pil-pil Pencegah Kehamilan Mengakibatkan Timbulnya Cairan Keruh yang Merusak Haidh

Mengeluarkan Cairan Keruh Sehari atau Dua Hari Sebelum Datangnya Masa Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar Sehari atau Dua Hari Sebelum Masa Haidh

Meninggalkan Shalat Karena Mengeluarkan Cairan Keruh Sebelum Haidh

Hukum Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Setelah Suci

Mengeluarkan Tetasan Bening yang Berwarna Agak Kuning di Luar Waktu Haidh

Apakah Cairan yang Keluar dari Wanita Itu Najis dan Membatalkan Wudhu

Hukum Orang yang Yakin Bahwa Cairan-cairan Itu Tidak Membatalkan Wudhu

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Bolehkah Ia Melakukan Shalat Sunat dan Membaca Al-Qur'an

Jika Wanita yang Mengeluarkan Cairan Terus Menerus Itu Berwudhu, Tapi Kemudian Setelah Berwudhu Itu dan Sebelum Shalat Cairan Itu Keluar Lagi

Bolehkah Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan Melakukan Shalat Dhuha Dengan Wudhu Shalat Shubuh

Bolehkah Melakukan Shalat Tahajud Dengan Wudhu Shalat Isya Bagi Wanita yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Cukupkah Membasuh Anggota Wudhu Bagi Wanita Yang Terus Mengeluarkan Cairan?

Bagaimana Hukumnya Jika Cairan Itu Mengenai Bagian Tubuh

Tidak Berwudhu Saat Mengeluarkan Cairan Itu Karena Tidak Tahu

Mengapa Tidak Ada Riwayat dari Rasulullah SAW yang Menyatakan Bahwa Cairan yang Keluar dari Wanita Dapat Membatalkan Wudhu, Sementara Para Shahabiyah Sangat Menjaga Cairan yang Keluar ?

Apa Betul Syaikh Ibnu Utsaimin Berpendapat Bahwa Cairan Tidak Membatalkan Wudhu ?

Mengeluarkan Cairan Setelah Mandi Junub dan Setelah Bangun Tidur

Wanita Hamil Mengeluarkan Cairan Sejak Satu Bulan

Cairan Kuning yang Keluar dari Wanita Perawan dan Janda Tanpa Mimpi

Keluarnya Mani Beserta Air Kencing Kemudian Setelah Itu Keluar Mani Tanpa Syahwat

Saya Mengeluarkan Cairan Putih dan Terkadang Cairan Itu Keluar Ketika Saya Sedang Shalat

Hukum Cairan yang Keluar Setetes Demi Setetes

Hukum Membaca Kitab Tafsir Bagi Wanita Haidh

Bagaimana Shalat Orang Yang Mengidap Penyakit Kencing Netes?

Hukum Kencing Berdiri

Panas Matahari Tidak Menghilangkan Najis

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Doa Membasuh Muka Pada Saat Berwudhu.

Doa Mandi Junub

Terkena Najis Setelah Berwudhu

Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Hukum Mimpi (junub) Namun Tidak Keluar Mani

Menyisir Rambut dan Memotong Kuku Saat Haidh

Hukum Berhadats Kecil dan Menyentuh Mushaf


Senyum
Tes Kecerdasan !
Jawablah pertanyaan dibawah ini tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu !

Pertanyaan pertama: jika anda sedang mengikuti lomba lari, kamudian anda bisa mendahului pelari yang kedua, maka pada urutan berapakah anda sekarang?????

Jawaban !
jika anda menjawab bahwa anda diurutan pertama
Maka jawaban anda salah
Sebab jika anda mendahului pelari kedua maka anda hanya menggantikan posisinya diurutan kedua tidak menggantikan posisi pelari urutan pertama.

Sekarang soal kedua: tapi jawablah dengan cepat gak pake lama, oke ?

Pertanyaan: jika anda mendahului pelari terakhir, maka anda diurutan ????

Jawaban:
Jika jawaban anda adalah terakhir atau sebelum akhir, maka jawaban anda salah

Karena bagaimana mungkin anda mendahului pelari terakhir padahal yang terakhir itu adalah anda !!!?


Fatwa Puasa

Kapan Remaja Putri Diwajibkan untuk Berpuasa?

Remaja Putri Berusia Dua Belas atau Tiga Belas Tahun Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Tidak Berpuasa Selama Masa Haidh, dan Setiap Kali Tidak Berpuasa Ia Memberi Makan, Apakah Wajib Qadha Baginya

Istri Saya Hamil dan Mengeluarkan Darah Pada Permulaan Ramadhan

Mendapat Kesucian dari Haidh atau dari Nifas Sebelum Fajar dan Tidak Mandi Kecuali Setelah Fajar

Seorang Wanita Mendapat Kesuciannya dari Nifas Dalam Satu Pekan, Kemudian Ia Berpuasa Bersama Kaum Muslimin, Setelah Itu Darah Tersebut Datang Lagi

Mendapat Kesucian Setelah Tujuh Hari Melahirkan Lalu Berpuasa di Bulan Ramadhan

Setelah Empat Puluh Hari Sejak Melahirkan, Darah yang Keluar Berubah, Apakah Saya Harus Shalat dan Puasa

Melahirkan di Bulan Ramadhan dan Tidak Mengqadha Setelah Bulan Ramadhan Karena Ada Kekhawatiran Pada Bayi, Kemudian Pada Bulan Ramadhan Selanjutnya Ia Melahirkan Lagi

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil Dan Menyusui Jika Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bagaimana Hukumnya Jika Wanita Menyusui Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Bolehkah Wanita Hamil Tidak Berpuasa

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil yang Tidak Puasa Karena Khawatir Terhadap Janinnya

Meninggalkan Puasa Dengan Sengaja Selama Enam Hari di Bulan Ramadhan Karena Ujian Sekolah

Memaksa Isteri untuk Tidak Berpuasa Dengan Cara Mencampurinya

Memaksa Istri untuk Tidak Berpuasa

Seorang Pria Musafir Tiba di Rumahnya Pada Siang Hari Ramadhan Lalu Ingin Menggauli Istrinya

Apakah Keluar Darah dari yang Hamil Termasuk yang Membatalkan Shaum

Suami Mencium dan Mencumbui Istrinya di Siang Hari Ramadhan

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -1

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan -2

Mencampuri Istri di Siang Hari Ramadhan - 3

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -1

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -2

Hukum Menggunakan Celak Mata dan Perlengkapan Kecantikan Lainnya di Siang Hari Ramadhan -3

Menggunakan Inai Pada Rambut Saat Berpuasa

Mengobati Pilek dengan Obat yang Dihirup Melalui Hidung

Apakah Keluarnya Air Ketuban Dapat Membatalkan Puasa

Mengqadha Puasa Bagi yang Tidak Puasa Karena Hamil

Tidak Mampu Mengqadha Puasa

Tidak Berpuasa Karena Sakit Lalu Meninggal Beberapa Hari Setelah Ramadhan

Orang Meninggal yang Mempunyai Tanggungan Puasa

Sekarang Berusia Lima Puluh Tahun, Dua Puluh Tujuh Tahun yang Lalu Tidak Menjalankan Puasa Ramadhan Selama Lima Belas Hari

Beberapa Tahun yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haidh dan Belum Mengqadhanya

Mempunyai Utang Puasa Selama Dua Ratus Hari Karena Ketidaktahuannya dan Sekarang Sedang Sakit

Minum Obat Beberapa Saat Setelah Fajar

Di Depan Keluarganya Ia Berpuasa, Namun Sebenarnya Dengan Cara Sembunyi-sembunyi Ia Tidak Berpuasa Selama Tiga Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan Kedua Telah Datang Tapi Ia Belum Mengqadha Puasa Ramadhan yang Lalu

Tidak Pernah Mengqadha Puasa yang Ditinggalkannya Karena Haidh Sejak Diwajibkan Baginya Berpuasa

Tidak Berpuasa Karena Menyusui Anaknya Dan Belum Mengqadhanya, Kini Anak Itu Telah Berusia Dua Puluh Empat Tahun

Belum Mengqadha Puasa yang Ditinggalkan Pada Dua Tahun Pertama Sejak Menjalankan Puasa Wajib

Menunda Qadha Puasa Hingga

Hikmah dari Diwajibkannya Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh

Tidak Berpuasa Selama Dua Ramadhan Karena Sakit, Kemudian Pada Ramadhan Ketiga Ia Berpuasa, Apa yang Harus Dilakukan untuk Dua Ramadhan yang Telah Lewat

Meninggalkan Puasa Ramadhan Selama Empat Tahun Karena Gangguan Kejiwaan

Ibu Saya Telah Lanjut Usia, Ia Berpuasa Selama Lima Belas Hari Kemudian Tidak Berpuasa Karena Tak Sanggup Puasa

Mencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa

Saya Pernah Bertanya Kepada Seorang Dokter, Ia Mengatakan, Bahwa Pil Pencegah Haidh Itu Tidak Berbahaya

Mengkonsumsi Pil Pencegah Haidh Agar Bisa Berpuasa Bersama Orang-Orang Lainnya

Hukum Mencicipi Makanan Ketika Berpuasa

Mengeluarkan Darah Selama Tiga Tahun, Apa yang Harus Dilakukan di Bulan Ramadhan

Bernadzar untuk Berpuasa Selama Satu Tahun

Hukum Mengisi Bulan Ramadhan Dengan Begadang, Berjalan-jalan di Pasar dan Tidur

Faktor-faktor yang Mendukung Wanita di Bulan Ramadhan

Apa Hukum Berbicara Dengan Seorang Wanita atau Menyentuh Tangannya di Siang Hari Ramadhan

Mengakhirkan Qadha Puasa Ramadhan Hingga Datang Ramadhan Berikutnya.

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa?

Tetesan Obat Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Mencampuri Isteri Pada Hari yang Diragukan

Memberi Makan Kaum Miskin Sebagai Pengganti Puasa Orang Lanjut Usia

Orang yang Tidak Mampu Berpuasa

Terapi di Bulan Ramadhan

Berbukanya Musafir

Berbukanya Wanita Hamil dan Wanita yang Menyusui

Onani/Masturbasi dan Bersetubuh di Siang Bulan Ramadhan

Hukum Darah yang Keluar dari Orang yang Sedang Berpuasa

Masih makan dan minum saat fajar karena ia tidak tahu.

Menonton Televisi Bagi yang Berpuasa

Seorang Musafir Tidak Berpuasa Lalu Ia Memaksa Isterinya yang Sedang Berpuasa untuk Berhubungan Badan

Wajib Puasa Bagi Wanita yang Telah Haidh

Bila Seorang Wanita Melanjutkan Puasanya Kendatipun Keluar Darah Haidh

Mengqadha Puasa Beberapa Tahun

Menyepelekan Puasa Sejak Pertama Kali Mengalami Haidh

Berbuka Karena Kesibukannya Dalam Bangunan dan Persiapan Nikah

Orang yang Meninggal di Bulan Ramadhan Tidak Wajib Mengqadha Sisa Harinya

Puasa dan Terapi

Sekitar Nadzar Puasa

Bertekad Puasa Tiga Hari (Tgl 13, 14, 15)

Puasa Pada Hari Sabtu

Hukum Puasanya Orang Yang Tidak Shalat Tarawih

Hukum Mencium Bagi yang Berpuasa

Darah yang Merusak Puasa

Hukum Berbekam Bagi yang Berpuasa dan Hukum Keluarnya Darah

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Terlihatnya Hilal (Bulan) Ramadhan Atau Syawwal di Suatu Negara Tidak Mengharuskan Negara-Negara Lain Mengikutinya

Tidur Sepanjang Hari Ketika Puasa

Berkumur Sampai Airnya Masuk ke Tenggorokan

Hukum Menggunakan Minyak Wangi di Siang Bulan Ramadhan

Makan Karena Lupa Ketika Puasa

Banyak Mandi Ketika Puasa

Tidak Mengqadha Puasa Karena Menghawatirkan Bayinya

Laksanakan Puasa Qadha Lebih Dulu

Panjangnya Malam dan Siang Saat Ramadhan

Negara yang Terlambat Terbenamnya Matahari

Anak Kecil Tidak Wajib Puasa Tapi Disuruh Melaksanakannya

Berbuka Berdasarkan Pemberitahuan Penyiar

Puasa Wishal

Hukum Hidangan Orang Tua

Itikaf dan Syaratnya

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Tanda Subuh Adalah Terbitnya Fajar

Berpedoman Pada Ruyat (Penglihatan) Biasa

Puasa Berdasarkan Satu Ruyat (Penglihatan)

Minum Karena Tidak Tahu Sudah Subuh

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Jika Seorang Wanita Suci Setelah Subuh, Maka Ia Harus Berpuasa Dan Mengqadha

Puasa Dan Junub

Puasanya Orang Yang Meninggalkan Shalat. Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Sahur Setelah Subuh

Minum Setelah Adzan Subuh

Minum Ketika Adzan Subuh

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Cuci Darah Bagi Yang Berpuasa

Hukum Menggunakan Krim Kulit

Hukum Menggunakan Inhaler Bagi Yang Berpuasa

Apakah Debu Membatalkan Puasa?

Hukum Orang Yang Puasa Dan Shalat Hanya Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Menggunakan Siwak Di Bulan Ramadhan

Hukum Bersiwak Bagi Yang Berpuasa Setelah Tergelincirnya Matahari

Apakah Tanggalnya Gigi Geraham Orang Yang Sedang Berpuasa Membatalkan Puasanya?

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

Menunda Qadha Puasa Hingga Tiba Ramadhan Berikutnya

Menghadiahkan Pahala Puasa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha Puasa

Apakah orang yang meninggal dengan menanggung utang qadha puasa boleh dipuasakan untuknya (diqadhakan)?

Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawwal

Mengqadha Enam Hari Puasa Ramadhan di Bulan Syawwal, Apakah Mendapat Pahala Puasa Syawwal Enam Hari

Apakah Suami Berhak untuk Melarang Istrinya Berpuasa Sunat

Hukum Puasa Sunnah Bagi Wanita Bersuami

Hukum Zakat Yang Diserahkan Ke Lembaga Zakat Atau Instansi Pemerintah

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Yang Digunakan Sebagai Pehiasan Atau Dipinjamkan, Baik Berupa Emas Maupun Perak

Wajibnya Zakat Pada Perhiasan Wanita Jika Mencapai Nishab Dan Tidak Diproyeksikan Untuk Perdagangan

Apakah Seorang Wanita Harus Menggabungkan Perhiasan Putri-Putrinya Ketika Hendak Mengeluarkan Zakat Perhiasannya?

Apa Hukum Zakat Perhiasan Yang Dikenakan

Hukum Buka Warung Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Lupa Meniatkan Puasa Bulan Syawwal Dari Sejak Malam Hari, Sah Tidak?

BAGAIMANA MENENTUKAN AWAL PUASA

HIKMAH DIWAJIBKAN MENGQADHA PUASA TETAPI TIDAK MENGQADHA SHALAT

BAGAIMANA PUASA YANG BENAR?

NIAT BERBUKA,TAPI BELUM MAKAN DAN MINUM APAKAH MEMBATALKAN PUASA?

beberapa tanda Lailatul Qadr

Puasa Muharram dan 'Asyura

Nilai Sosial Puasa

Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa

Tetesan Air Mata Tidak Merusak Puasa

Menelan Pil Pencegah Haid

Berlebihan Dalam Hidangan Buka Puasa

Hukum Makan Sahur Ketika Adzan Subuh Atau Beberapa Saat Setelahnya

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa

Penderita Mag Dan Puasa

Bersetubuh Di Siang Hari Ramadhan Ketika Safar

Suntikan Di Siang Hari Ramadhan

Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa

Hukum Berenang Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa

HUKUM ORANG YANG PUASA TETAPI TIDAK SHOLAT

Meninggal Pada Bulan Ramadhan

Hukum Orang Yang Mengakhirkan Qadha Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya

Perbedaan Ru-yah

Shaum (Berpuasa) Berdasarkan Hisab.

Hukum Puasa Bagi Orang Yang Melanjutkan Makan Sahurnya Setelah Adzan?

Hukum Shiam (Puasa) Yang Dilakukan Pada Masa Nifas.

Mengqadha Shiyam (Puasa) Yang Telah Terlupakan Selama Sepuluh Tahun

Bolehkah Membatalkan Shiyam (Puasa) Yang Diqhadha?

Kafarat Bagi Orang Yang Mengumpuli Istrinya Di Siang Hari Bulan Ramadhan

Mengqadha Shiyam Yang Terlupakan Jumlahnya

Beberapa Permasalahan Wanita Dalam Melakukan Shiyam.

Penentuan Hari dan Shiyam (Puasa) Arafah Pada Tiap Negara

Bidahkah Puasa 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah ?

Hisab Dijadikan Acuan Dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan

Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Niat Dalam Melaksanakan Shiyam (Puasa)

Makan Sahur Ketika Fajar Terbit Tanpa Disadari

Air Yang Masuk Ke Tenggorokan Tanpa Sengaja Ketika Berwudhu

KADAR FIDYAH BAGI ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA KARENA TUA ATAU SAKIT

Memakai Obat Mata Dan Telinga Ketika Berpuasa

Permasalahan-Permasalahan Yang Berkaitan Dengan I'tikaf

Apakah Ada Perselisihan Pendapat Tentang Dianjurkannya Puasa Di Sembilan Hari Awal Bulan Dzulhijah

Menyikapi Dua Hadits Yang Bertentanggan Dalam Masalah Puasa 1-9 Dzulhijjah

Hukum Tidak Berpuasa Karena Alasan Pekerjaan

Hukum tetap berpuasa selama masa haidh karena tidak tahu

Menelan Pil Pencegah Haid

Apakah malam lailatul qadar jatuh pada malam ke-27 dari bulan Ramadhan

Hukum mengakhirkan qadha puasa Ramadhan sebelumnya sampai memasuki bulan Ramadhan yang baru?

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha' Puasa

Antara Berbuka atau Berpuasa Saat Safar (Bepergian)

Jika Terjadi Perbedaan Hari Arafah

Jika Puasa Arafah Jatuh Pada Hari Sabtu..?

Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat

Antusias Ibadah Saat Ramadhan Saja

Kesalahan Sebagian Muda-Mudi Saat Puasa


Kajian Ramadhan

Menyambut Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan

Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan...!

Panduan Ringkas Puasa Ramadhan

Hikmah dan Manfa'at Puasa

Qiyam Ramadhan

Adab Shalat Tarawih Bagi Wanita

Nuzulul Qur'an Sebagai Peringatan atau Pelajaran

I'tikaf Hukum dan Keutamaanya

Menggapai Lailatul Qadar

Ramadhan Bersama al-Qur'an

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (1)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bulan Ramadhan (2)

Zakat Fitrah

Kebahagiaan Bersama Iedul Fithri

Ramadhan Telah Berlalu

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

Waspada Terhadap Hadits-Hadits Dha'if (Lemah) Seputar Ramadhan


Fatwa Haji & Qurban

Apa hikmah thawaf(disekitar Ka'bah)? Apakah hikmah mencium Hajar Aswad adalah tabarruk (memohon barakah) kepadanya?

Disyari'atkannya menyembelih hewan qurban

Hukum menyembelih hewan qurban dan cara membagikan dagingnya

Mana yang lebih utama, berqurban dengan menyembelih sapi atau domba?

Menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang

Seekor unta untuk satu orang

Umur hewan qurban

Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban

Berqurban dengan harga hewan qurban

Penerima daging hewan qurban

Membagikan hewan qurban kepada orang kafir

Menyembelih sebelum Imam menyembelih

Barang siapa ingin berqurban, maka janganlah mengambil(memotong) rambut dan kukunya

Hukum wanita yang melakukan haji tanpa mahram

Hukum orang yang ingin melakukan haji namun masih memiliki hutang

Mahram Tidak Sanggup Mendampingi Dalam Ibadah Haji

Wanita Yang Mengaku Islam Ingin Menunaikan Haji

Apakah Suami Seorang Perempuan Bisa Menjadi Mahram Bagi Bibi Perempuan Tersebut

Wanita Ingin Haji Didampingi Anak Laki-Lakinya Yang Belum Baligh

Pergi Haji Hanya Ditemani Wanita Yang Dipercaya

Mahram Wanita Meninggal Pada Saat Ibadah Haji

Izin Suami Untuk Pergi Haji

Hukum Haji Bagi Wanita Tidak Mendapat Izin Dari Suaminya

Biaya Haji Ditanggung Wanita

Mengganti Haji Wanita Tua Lagi Buta

Wanita Haji Bersama Lelaki Yang Bukan Mahram

Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang Disertai Keluarganya

Seorang Wanita Mendatangkan Ibunya Untuk Diajak Pergi Haji

Anak Laki-Laki Yang Sudah Mumayyiz Menjadi Mahram

Wanita Pergi Haji Dengan Harta Suaminya

Wanita Haid Melewati Miqat Dengan Tidak Ihram

Puasa di Jeddah Lalu Berihram Haji Tanggal Delapan

Wanita Niat Haji Tamattu', Kemudian Tidak Memungkinkan Thawaf Dan Sa'i Kemudian Dia Menuju Ke Mina Dan Arafah

Mencium Hajar Aswad Pada Waktu Mulai Thawaf

Wanita Shalat di Belakang Maqam Ibrahim

Wanita Mendaki Shafa dan Marwah

Apakah lari-lari kecil pada tiga putaran pertama dari thawaf qudum khusus bagi laki-laki saja

Apakah Wanita Mempercepat Sa'i Tatkala Berada

Wanita Menyesal Karena Berumrah, Tapi Tidak Men-ziarahi Makam Rasul

Wanita Mencium Hajar Aswad

Wanita Keluar Dari Muzdalifah

Wanita Mencukur Rambut Pada Saat Haji Dan Umrah

Bentuk Pakaian Ihram Bagi Wanita

Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji Kecuali Melempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil

Wakil Dalam Melempar Jumrah

Wanita Telah Selesai Dari Seluruh Manasik Kecuali Menggunting Rambut

Thawaf Ifadhah Diganti Dengan Thawaf Wada'

Hikmah Dilarang Mengenakan Pakaian Berjahit Saat Ihram

Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram

Menggauli Istri Disaat Ibadah Haji

Menggauli Istri Setelah Tahallul Awal

Wanita Haid Tinggal di Jeddah Sebelum Thawaf Ifadhah dan Thawaf Wada' Setelah Suci Digauli Suaminya

Wanita Meletakkan Kayu atau Pengikat Untuk Mengangkat Jilbab Dari Wajahnya

Rambut Kepala Rontok Dengan Sendirinya

Wanita Pulang ke Negerinya Sebelum Thawaf Ifadhah

Pakaian Ihram Wanita Dan Hukum Mengenakan Cadar dan Sarung Tangan

Hukum Sarung Tangan Dan Kaos Kaki Saat Ihram

Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram

Hukum Membuka Wajah Dan Telapak Tangan

Menggauli Istri Setelah Selesai Ihram

Hukum Ihram Disaat Haid

Wanita Berihram Dari Miqat Sebelum Suci

Wanita Ihram Bersama Suaminya Dalam Keadaan Haid dan Tatkala Ia Telah Suci, Ia Umrah Sendirian

Wanita Dalam Kondisi Haid Dan Nifas Saat Akan Ihram

Ihram Dari Sail Dalam Keadaan Haid Lalu Pergi ke Jeddah dan Setelah Suci Menyempurnakan Ibadah Haji

Pemalsuan Pasport Tidak Mempengaruhi Keshahan Ibadah Haji

Fadhilah Ibadah Haji Itu Sangat Besar

Tidak Wajib Melakukan Ibadah Haji Kecuali Orang Yang Mampu

Suatu Masalah Penting Bagi Orang Yang Thawaf

Setiap Orang Dari Anda Wajib Bayar Fidyah

Anda Mempunyai Dua Pilihan

Tidak Apa-Apa Istirahat Sejenak Di Waktu Thawaf

Shalat Sunnat Dua Rakaat Thawaf Boleh Di Lakukan Di Setiap Masjid

Hajinya Orang Yang Meninggalkan Shalat

Berihram Dengan Dua Haji Atau Dua Umrah Tidak Boleh?

Perempuan Haid Sebelum Melaksanakan Thawaf Ifadhah Dan Tidak Bisa Menunggu Hingga Suci

Hukum Melontar Dengan Kerikil Bekas Pakai

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Oleh Orang Yang Berkesempatan Menunaikan Ibadah Haji?

Ketaatan-Ketaatan Itu Mempunyai Ciri Yang Tampak Pada Pelakunya

Kewajiban Orang Yang Telah Kembali Ke Kampung Halamannya Terhadap Keluarganya Seusai Melaksanakan Ibadah Haji

Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid Atau Nifas

Menghajikan Orang Tua (Ayah) Dengan Harta Yang Telah Diwasiatkan

Melaksanakan Haji Dibiayai Suatu Yayasan

Menunaikan Ibadah Haji Dengan Hutang Atau Kredit

Pakain Berjahit Yang Dilarang Adalah Jahitannya Yang Meliputi Seluruh Tubuh

Mendahulukan Sai Daripada Thawaf

Cukur Rambut Itu Gugur Bagi Orang Yang Berkepala Botak (Tidak Berambut)

Harus Melakukan Thawaf Wada (Perpisahan) Jika Kepulangannya Tertunda Di Mekkah

Hukum Melontar Jumroh Aqabah Di Malam Hari

Sanggahan Terhadap Orang Yang Berpendapat Bahwa Jeddah Adalah Miqat

Ini Termasuk Sunnah Yang Dilupakan

Tutuplah Kepala Anda... Anda Wajib Bayar Fidyah

Sai Itu Adalah Salah Satu Rukun Haji

Nabi Tidak Pernah Menentukan Doa Khusus Untuk Thawaf

Tidak Ada Kewajiban Bagi Anda

Yang Wajib Adalah Tinggal Di Perkemahan Paling Akhir

Inilah Hari-Hari Tasyriq

Ini Adalah Maksiat Besar

Bagi Orang Yang Akan Menunaikan Ibadah Haji Atau Umrah Wajib Mempelajari Hukum-Hukumnya

Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah

Saat Thawaf atau Sa'i Afdhalnya Adalah Menyibukkan Diri Dengan Dzikir

Hukumnya Berbeda, Tergantung Kepada Perbedaan jenis Iddah

Anda Wajib Bertobat Kepada Allah Dan Mengulangi Thawaf

Anda Wajib Menundukkan Pandangan

Thawaf Wada Itu Adalah Nusuk Wajib

Tersentuh Tubuh Wanita Tidak Membatalkan Thawaf

Tidak Boleh Bagi Jamaah Haji Keluar Ke Jeddah Pada Hari Idul Adha

Bagi Orang Yang Sehat Tidak Boleh Mewakilkan Di Dalam Melontar Jumroh

Jamaah Haji Pergi Ke Jeddah

Seputar Sai Dan Thawaf

Hukum Melontar Jumroh Pada Hari-Hari Tasyriq Sekaligus

Tidak Mabit Di Muzdalifah Apakah Mewajibkan Hadyu?

Waktu Melontar Jumroh Aqabah

Menghadiahkan Pahala Amal Seperti Thawaf

Hak Allah Lebih Penting Daripada Hak Suami

Larangan-Larangan Ihram

Menggunakan Pil Pencegah Haid Untuk Ibadah Haji

Hikmah Di Balik Mencium Hajar Aswad

Hukum Meletakkan Surat Pada Kelambu Kabah Dan Menujukannya Kepada Rasulullah a Atau Selain Beliau

Kepergian Wanita Untuk Haji Atau Umrah Tanpa Didampingi Mahramnya

An-Nusuk dan Macam-macamnya

Kepergian Wanita Untuk Haji Atau Umrah Tanpa Didampingi Mahramnya

Hukum Ibadah Haji

Hukum Ibadah Umrah

Kewajiban Melaksanakan Ibadah Haji Itu Segera, Ataukah Dapat Ditunda

Syarat Wajib Haji dan Umrah

Syarat Ijza (Tertunaikannya Kewajiban) di Dalam Melaksanakan Ibadah Haji

Etika Bepergian untuk Menunaikan Haji

Apa yang Harus Dipersiapkan Oleh Seorang Muslim untuk Menunaikan Haji dan Umrah?

Mempersiapkan Diri Dengan Taqwa

Waktu Musim Haji

Hukum Melakukan Ihram Haji Sebelum Ketentuan Waktunya Tiba

Penjelasan Tentang Miqat Haji (Tempat-tempat Berihram)

Hukum Berihram Sebelum Sampai di Tempat Ihram (Miqat)

Hukum Orang yang Melalui Miqat Dengan Tidak Berihram

Perbedaan Antara Ihram Sebagai Kewajiban dan Ihram Sebagai Rukun Haji

Hukum Melafalkan Niat di Saat Berihram

Tata Cara Berihramnya Orang yang Datang ke Mekkah Melalui Udara

Tata Cara Melakukan Ibadah Haji

Rukun Umrah

Rukun Haji

Hukum Meninggalkan Salah Satu Rukun Haji atau Umrah

Kewajiban-kewajiban Haji

Hukum Mengabaikan Salah Satu dari Kewajiban Haji atau Umrah

Cara Menunaikan Haji Qiran

Hukum Melakukan Umrah Sesudah Beribadah Haji

Hukum Berpindah Niat dari Satu Bentuk Ibadah Haji ke Bentuk Ibdah Haji yang Lain

Hukum dan Ketentuan-ketentuan Mewakilkan Kepada Orang Lain di Dalam Menunaikan Haji

Syarat Seorang Pengganti Dalam Menunaikan Ibadah Haji

Mencari Uang Dengan Cara Menghajikan Orang Lain yang Niatnya Hanya Mencari Uang Semata

Apakah Orang yang Mengerjakan Haji untuk Orang Lain Mendapat Pahala Sebagian Amalan Haji?

Arti Mewakili Sebagian Amalan Haji

Mengkiaskan Perwakilan Dalam Melontar Kepada Amalan/ Manasik Haji Lainnya

Tidak Mampu Menyempurnakan Salah Satu Manasik, Apa yang Harus Dilakukan?

Hukum Orang yang Wafat di Saat Sedang Ihram Menunaikan Manasik

Cara Bersyarat Jika Tak mampu Menyempurnakan Amalan Haji

Kalimat Bersyarat

Pantangan Ihram

Hukum Meletakkan Sesuatu yang Menempel di Kepala Orang yang Sedang Ihram

Perbedaan Antara Niqab dengan Burqa

Bagaimana Cara Wanita yang Sedang Berihram Menutup Wajahnya di Hadapan Laki-Laki

Haji Yang Bagaimana Yang Dapat Menghapus Dosa Itu?

Berkurban Untuk Mayit, Bolehkah?

Mengucapkan NIAT Ketika BERQURBAN

Menyembelih Kurban Bagi Seorang Yang Melaksanakan Haji Untuk Orang Lain

Tuntunan Melaksanakan Ibadah Haji

 
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info@alsofwah.or.id | website: www.alsofwah.or.id | Member Info Al-Sofwa
Artikel yang dimuat di situs ini boleh dicopy & diperbanyak dengan syarat mencantumkan sumber: http://alsofwah.or.id serta tidak untuk komersil.