Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
I'tikaf Hukum dan Keutamaanya
Senin, 04 September 06

Segala pujian dan sanjungan hanya bagi Allah, Rabb seluruh penghuni bumi. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan dan teladan kita Nabi Muhammad shallallahu Ďalaihi wasallam seorang hamba yang diutus Allah subhanahu wataíala sebagai rahmat bagi alam semesta, demikian pula semoga tercurah kepada seluruh keluarga dan para shahabatnya.

Dengan risalah singkat ini penulis mengaharapkan agar dapat memberi manfaat, secara khusus bagi pribadi penulis dan umumnya kepada kaum muslimin.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wataíala menjadikan seluruh amalan kita sebagai timbangan kebajikan kelak nanti di akherat, Amin ya Rabbal 'Alamin.

Makna Iítikaf
Menurut bahasa iítikaf memiliki arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan.

Allah subhanahu wataíala berfirman,
śůŐů«śů“ķšů« »Ų»ůšŲŪ ŇŲ”ķ—ů«∆ŲŪŠů «Šķ»ůÕķ—ů ›ů√ů ůśķ« ŕůŠůž řůśķ„Ú ŪůŕķŖű›űśšů ŕůŠůž √ů’ķšů«„Ú ŠůŚű„ķ
artinya,
ďDan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang beriítikaf (menyembah) berhala mereka.Ē (QS. al-A'raf :138)

Sedangkan menurut syara' iítikaf berarti menetapnya seorang muslim di dalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala.

Hukum Iítikaf
Para ulama sepakat bahwa i'ktikaf hukumnya sunnah, sebab Rasulullah shallallahu Ďalaihi wasallam senantiasa melakukannya tiap tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wataíala dan memohon pahala-Nya. Terutama pada hari-hari di bulan Ramadhan dan lebih khusus ketika memasuki sepuluh hari terkahir pada bulan suci itu. Demikian tuntunan yang diajarkan Rasulullah shallallahu Ďalaihi wasallam.

Yang Wajib Beri'ktikaf
Sebagaimana dimaklumi bahwa iítikaf hukumnya adalah sunnah, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk menunaikan nadzar tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Umar bin Khaththab radhiyallahu Ďanhu yang diriwayatkan imam al-Bukhari dan Muslim.

Disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu Ďalaihi wasallam tidak pernah meninggalkan iítikaf semenjak beliau tinggal di Madinah hingga akhir hayat.

Tempat Iítikaf
Iítikaf tempatnya di setiap masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama'ah kaum laki-laki, firman Allah Ta'ala,
ňű„Ýů √ů Ų„Ýűś« «Š’ÝŲŪů«„ů ŇŲŠůž «ŠŠÝůŪķŠŲ śůŠů«  ű»ů«‘Ų—űśŚűšÝů śů√ůšķ ű„ķ ŕů«ŖŲ›űśšů ›ŲŪ «Šķ„ů”ů«ŐŲŌŲ
ďKemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam,(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.Ē (QS. al- Baqarah:187)

Orang yang beriítikaf pada hari Jum'at disunnahkan untuk beriítikaf di masjid yang digunakan untuk shalat Jum'at. Tetapi jika ia beriítikaf di masjid yang hanya untuk shalat jama'ah lima waktu saja, maka hendaknya ia keluar hanya sekedar untuk shalat Jum'at (jika telah tiba waktunya), kemudian kembali lagi ke tempat iktikafnya semula.

Waktu Iítikaf
Iítikaf disunnahkan kapan saja di sembarang waktu. Maka diperboleh kan bagi setiap muslim untuk memilih waktu kapan ia memulai i'ktikaf dan kapan mengakhirinya. Akan tetapi yang paling utama adalah iítikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Inilah waktu iítikaf yang terbaik sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih, artinya, "Bahwasanya Nabi shallallahu Ďalaihi wasallam selalu beriítikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beriítikaf sepeninggal beliau." (HR .al-Bukhari dan Muslim dari Aíisyah radhiyallahu Ďanha)

Sunnah-Sunnah bagi Orang yang Sedang Iítikaf
Disunnahkan bagi para muítakif supaya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir, membaca al-Qur'an, mengerjakan shalat sunnah, terkecuali pada waktu-waktu terlarang, serta memperbanyak tafakur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan masa mendatang. Juga banyak-banyak merenungkan tentang hakikat hidup di dunia ini dan kehidupan akhirat kelak.

Hal-Hal yang harus Dihindari Muítakif
Orang yang sedang iítikaf dianjurkan untuk menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna sehingga mengganggu konsentrasi iítikafnya. Karena iítikaf adalah bertujuan untuk mendapatkan keutamaan bukan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak disunnahkan.

Ada sebagian orang yang beriítikaf, namun dengan meninggalkan tugas dan kewajibannya. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah. Oleh karena itu, orang yang iítikaf hendaknya ia menghentikan iítikafnya, jika memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dikerjakan.

Hal-Hal yang Membolehkan Muítakif Keluar dari Masjid
Seorang muítakif diperbolehkan meninggalkan tempat iítikafnya jika memang ada hal-hal yang sangat mendesak. Di antaranya adalah buang hajat yaitu keluar ke WC untuk buang air, untuk mandi, keluar untuk makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya, dan pergi untuk berobat jika sakit. Demikian pula untuk keperluan syar'i seperti shalat Jum'at, jika tempat ia beriktikaf tidak digunakan untuk shalat Jum'at, menjadi saksi atas suatu perkara dan juga boleh membantu keluarganya yang sakit, jika memang mengharuskan untuk dibantu. Juga keperluan-keperluan semisalnya yang memang termasuk kategori dharuri (keharusan).

Larangan-Larangan dalam Iítikaf
Orang yang sedang beriítikaf tidak diperbolehkan keluar dari masjid hanya untuk keperluan sepele dan tidak penting, artinya tidak bisa dikategorikan sebagai keperluan syar'i. Jika ia memaksa keluar untuk hal-hal yang tidak perlu tersebut, maka iítikafnya batal. Selain itu, ia juga dilarang melakukan segala perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), tajassus (mencari-cari kesalahan orang), membaca dan memandang hal-hal yang haram. Pendeknya semua perkara haram di luar iítikaf, maka pada saat iítikaf lebih ditekankan lagi keharamannya. Muítakif juga dilarang untuk menggauli istrinya, karena hal itu membatalkan iítikafnya.

Menentukan Syarat dalam Iítikaf
Seorang muítakif diperbolehkan menentukan syarat sebelum melakukan iítikaf untuk melakukan sesuatu yang mubah. Misalnya saja ia menetapkan syarat agar makan minum harus di rumahnya, hal ini tidak apa-apa. Lain halnya jika ia pulang dengan tujuan menggauli istrinya, keluar masjid agar bisa santai atau mengurusi pekerjaannya, maka iítikafnya menjadi batal. Karena semua itu bertentangan dengan makna dan pengertian iítikaf itu sendiri.

Hikmah dan Manfaat iítikaf
Iítikaf memiliki hikmah yang sangat besar yakni menghidupkan sunnah Rasul shallallahu Ďalaihi wasallam dan menghidupkan hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala.

Sedangkan manfaat iítikaf di antaranya:

  • Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.

  • Mendatangkan ketenangan, ketentraman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.

  • Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah subhanahu wataíala. Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayang-Nya

  • Orang yang beriítikaf pada sepuluh hari terkahir akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wataíala memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita agar dapat menjalankan iítikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu Ďalaihi wasallam, terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu Ďalaihi wasallam, segenap keluarga dan shahabatnya, Amiin. (Dinukil dari artikel oleh Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman al-Jibrin)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=rdnlihat&id=10