Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇ ãóÇ Úóáóì ÇáúÃóÑúÖö ÒöíäóÉð áóåóÇ áöäóÈúáõæóåõãú Ãóíøõåõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ (7) æóÅöäøóÇ áóÌóÇÚöáõæäó ãóÇ ÚóáóíúåóÇ ÕóÚöíÏðÇ ÌõÑõÒðÇ (8) [ÇáßåÝ: 7-8]
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya.
Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya sebagai tanah yang tandus lagi kering. (al-Kahfi : 7-8)
Makna Global
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman untuk memberikan hiburan kepada Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó dan untuk memberikan ketegaran dan keteguhan hati kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa-apa yang ada di permukaan bumi berupa hewan, tumbuhan, dan benda-benada mati sebagai hiasan bagi bumi; hal itu sebagai ujian dari Kami kepada para hamba; siapakah di antara mereka yang paling ikhlash dan paling benar amalnya. Maka, tidakkah sebaiknya mereka beramal untuk sesuatu yang akan kekal dan tidak berkesudahan, dan tidak tertipu dengan sesuatu yang fana dan akan hilang dan lenyap.”
Tafsir Ayat
[Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ]
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇ ãóÇ Úóáóì ÇáúÃóÑúÖö ÒöíäóÉð áóåóÇ áöäóÈúáõæóåõãú Ãóíøõåõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya.”
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya adalah bahwa ayat ini sebagai hiburan bagi Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó; karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì mengkhabarkan bahwasanya Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakan apa-apa yang di atas permukaan bumi berupa perhiasan untuk dijadikan sebagai ujian dan cobaan; siapakah manusia yang paling baik amalnya. Maka, mereka tidaklah berada di atas satu golongan dalam hal keistikamahan dan mengikuti jejak sang utusan. Bahkan, dipastikan bahwa ada di antara mereka yang paling baik amalnya dan ada juga di antara mereka yang paling buruk amalnya. Maka, janganlah engkau bersedih atas siapa orangnya yang mana engkau dilebihkan atas orang tersebut dengan bahwa orang tersebut menjadi orang yang paling buruk amalnya. Dan, bersamaan dengan kondisi mereka yang kufur terhadap-Ku, Aku tidak akan memutuskan dari mereka materi duniawi yang Aku ciptakan ini. [1]
Demikian juga ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó atas berpalingnya orang-orang Musykirin bahwa Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memberikan tenggat waktu kepada mereka dan memberikan kepada mereka perhiasan dunia; agar mereka bersyukur kepada-Nya, dan bahwa mereka ini ternyata merehkan nikmat ini, maka Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan mencabut nikmat ini dari mereka, sehingga negeri-negeri mereka gersang tidak dapat lagi menumbuhkan tetumbuhan. Oleh karena ini, hal ini memiliki hubungan dengan firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì sebelumnya, yaitu firman-Nya :
áöíõäúÐöÑó ÈóÃúÓðÇ ÔóÏöíÏðÇ ãöäú áóÏõäúåõ [ÇáßåÝ: 2]
(Dia menjadikannya kitab) yang lurus agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya (al-Kahfi : 2) [2]
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇ ãóÇ Úóáóì ÇáúÃóÑúÖö ÒöíäóÉð áóåóÇ
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya.”
Yakni, Kami telah menjadikan apa yang ada di atas permukaan bumi berupa hewan, tumbuhan, dan benda mati sebagai hiasan bagi bumi.[3] Maka, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjadikan dunia sebagai sesuatu yang enak dan lezat rasanya, dan sesuatu yang indah pemandangannya dan panoramanya.[4]
Seperti firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÇáúãóÇáõ æóÇáúÈóäõæäó ÒöíäóÉõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ [ÇáßåÝ: 46]
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (al-Kahfi : 46)
Dan Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
æóÇáúÃóäúÚóÇãó ÎóáóÞóåóÇ áóßõãú ÝöíåóÇ ÏöÝúÁñ æóãóäóÇÝöÚõ æóãöäúåóÇ ÊóÃúßõáõæäó * æóáóßõãú ÝöíåóÇ ÌóãóÇáñ Íöíäó ÊõÑöíÍõæäó æóÍöíäó ÊóÓúÑóÍõæäó [ÇáäÍá: 5¡ 6]
“Dia telah menciptakan hewan ternak untukmu. Padanya (hewan ternak itu) ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, serta sebagian (daging)-nya kamu makan.
Kamu memperoleh keindahan padanya ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika melepaskannya (ke tempat penggembalaan). (an-Nahl : 5,6)
Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
æóÇáúÎóíúáó æóÇáúÈöÛóÇáó æóÇáúÍóãöíÑó áöÊóÑúßóÈõæåóÇ æóÒöíäóÉð æóíóÎúáõÞõ ãóÇ áóÇ ÊóÚúáóãõæäó [ÇáäÍá: 8].
(Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl : 8)
Dan, Abu Sa’id al-Khudhriy ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúå meriwayatkan bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÃóÎúæóÝõ ãóÇ ÃóÎóÇÝõ Úóáóíúßõãú ãóÇ íõÎúÑöÌõ Çááåõ áóßõãú ãöäú ÒóåúÑóÉö ÇáÏøõäúíóÇ¡ ÞóÇáõæúÇ: æóãóÇ ÒóåúÑóÉõ ÇáÏøõäúíóÇ íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö¿ ÞóÇáó : ÈóÑóßóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö
“Hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah apa yang Allah keluarkan untuk kalian dari bunga kehidupan dunia.”
Mereka (para sahabat) mengatakan : “Apakah bunga kehidupan dunia itu wahai Rasulullah ? “
Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menjawab : “Keberkahan-keberkahan bumi.”[5]
æóÚóäú ÃóÈöí ÓóÚöíúÏò ÇáúÎõÏúÑöíøö ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ¡ Úóäö ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÞóÇáó : ((Åöäøó ÇáÏøõäúíóÇ ÍõáúæóÉñ ÎóÖöÑóÉñ ¡ æóÅöäøó Çááåó ãõÓúÊóÎúáöÝõßõãú ÝöíúåóÇ¡ ÝóíóäúÙõÑõ ßóíúÝó ÊóÚúãóáõæúäóº ÝóÇÊøóÞõæúÇ ÇáÏøõäúíóÇ¡ æóÇÊøóÞõæúÇ ÇáäøöÓóÇÁóº ÝóÅöäøó Ãóæøóáó ÝöÊúäóÉö Èóäöí ÅöÓúÑóÇÆöíúáó ßóÇäóÊú Ýöí ÇáäøöÓóÇÁö))
Dan Abu Sa’id al-Khudriy ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan dari Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó, beliau bersabda : “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.[6] Dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian (untuk dikelola), lalu Allah akan melihat apa yang kalian lakukan ; maka, bersikap hati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hati pulalah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil terjadi dalam persoalan wanita.[7]
Dan Hakim bin Hizam ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ meriwayatkan bahwa Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
Åöäøó åóÐóÇ ÇáúãóÇáó ÎóÖöÑóÉñ ÍõáúæóÉñ
”Sesungguhnya harta ini hijau dan manis.” [8]
Kemudian, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan hikmah yang terkandung dalam penciptaan bumi dan perhiasannya, seraya berfirman :
áöäóÈúáõæóåõãú Ãóíøõåõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ
“agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya.”
Yakni, Kami jadikan apa yang ada di atas muka bumi sebagai hiasan bagi bumi agar Kami menguji manusia, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya, yakni, siapakah yang paling ikhlas (amalnya) untuk Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan siapakah yang peling benar (amalnya) dari sisi kecocokannya dengan tuntunan syariat[9], serta siapa yang paling zuhud dalam menghadapi perhiasan dunia.[10]
Seperti firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿Ëõãøó ÌóÚóáúäóÇßõãú ÎóáóÇÆöÝó Ýöí ÇáúÃóÑúÖö ãöäú ÈóÚúÏöåöãú áöäóäúÙõÑó ßóíúÝó ÊóÚúãóáõæäó﴾ [íæäÓ: 14]
Kemudian, Kami jadikan kamu sebagai pengganti-pengganti di bumi setelah mereka untuk Kami lihat bagaimana kamu berbuat. (Yunus : 14)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
﴿æóåõæó ÇáøóÐöí ÎóáóÞó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖó Ýöí ÓöÊøóÉö ÃóíøóÇãò æóßóÇäó ÚóÑúÔõåõ Úóáóì ÇáúãóÇÁö áöíóÈúáõæóßõãú Ãóíøõßõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ﴾ [åæÏ: 7]
“Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa serta (sebelum itu) ʻArasy-Nya di atas air. (Penciptaan itu dilakukan) untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Huud : 7)
Dan Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿ÇáøóÐöí ÎóáóÞó ÇáúãóæúÊó æóÇáúÍóíóÇÉó áöíóÈúáõæóßõãú Ãóíøõßõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ﴾ [Çáãáß: 2]
“Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (al-Mulk : 2)
[Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì]
æóÅöäøóÇ áóÌóÇÚöáõæäó ãóÇ ÚóáóíúåóÇ ÕóÚöíÏðÇ ÌõÑõÒðÇ
Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya sebagai tanah yang tandus lagi kering.
Yakni, sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang ada di atas bumi itu berupa perhiasanya sebagai tanah yang rata, tandus dan gersang, kering tanpa ada tanaman sedikitpun juga padanya. Tidak pula ada air dan bangunan padanya.[11]
Seperti firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
﴿ÅöäøóãóÇ ãóËóáõ ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö ãöãøóÇ íóÃúßõáõ ÇáäøóÇÓõ æóÇáúÃóäúÚóÇãõ ÍóÊøóì ÅöÐóÇ ÃóÎóÐóÊö ÇáúÃóÑúÖõ ÒõÎúÑõÝóåóÇ æóÇÒøóíøóäóÊú æóÙóäøó ÃóåúáõåóÇ Ãóäøóåõãú ÞóÇÏöÑõæäó ÚóáóíúåóÇ ÃóÊóÇåóÇ ÃóãúÑõäóÇ áóíúáðÇ Ãóæú äóåóÇÑðÇ ÝóÌóÚóáúäóÇåóÇ ÍóÕöíÏðÇ ßóÃóäú áóãú ÊóÛúäó ÈöÇáúÃóãúÓö ßóÐóáößó äõÝóÕøöáõ ÇáúÂíóÇÊö áöÞóæúãò íóÊóÝóßøóÑõæäó﴾ [íæäÓ: 24]
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir. (Yunus : 24)
Dan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿æóÇÖúÑöÈú áóåõãú ãóËóáó ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ ßóãóÇÁò ÃóäúÒóáúäóÇåõ ãöäó ÇáÓøóãóÇÁö ÝóÇÎúÊóáóØó Èöåö äóÈóÇÊõ ÇáúÃóÑúÖö ÝóÃóÕúÈóÍó åóÔöíãðÇ ÊóÐúÑõæåõ ÇáÑøöíóÇÍõ æóßóÇäó Çááøóåõ Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ãõÞúÊóÏöÑðÇ﴾ [ÇáßåÝ: 45]
Buatkanlah untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, yaitu ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering kerontang yang diterbangkan oleh angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Kahfi : 45)
Dan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿æóíóÓúÃóáõæäóßó Úóäö ÇáúÌöÈóÇáö ÝóÞõáú íóäúÓöÝõåóÇ ÑóÈøöí äóÓúÝðÇ (105) ÝóíóÐóÑõåóÇ ÞóÇÚðÇ ÕóÝúÕóÝðÇ (106) áóÇ ÊóÑóì ÝöíåóÇ ÚöæóÌðÇ æóáóÇ ÃóãúÊðÇ (107)﴾ [Øå: 105-107]
Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu dataran yang (terhampar) rata. Engkau tidak akan melihat lagi dataran rendah dan dataran tinggi di sana.”(Thaha : 105-107)
Faedah
1-Amal sedikit yang selaras dengan keridhaan Rabb dan cocok dengan sunnah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó lebih dicintai Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì daripada amal banyak bila kosong dari hal tersebut atau kosong dari sebagiannya; oleh karena ini, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇ ãóÇ Úóáóì ÇáúÃóÑúÖö ÒöíäóÉð áóåóÇ áöäóÈúáõæóåõãú Ãóíøõåõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ [ÇáßåÝ: 7]
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya. (al-Kahfi :7)
Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga berfirman :
﴿ÇáøóÐöí ÎóáóÞó ÇáúãóæúÊó æóÇáúÍóíóÇÉó áöíóÈúáõæóßõãú Ãóíøõßõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ﴾ [Çáãáß: 2]
Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (al-Mulk : 2)
Maka, Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menciptakan langit dan bumi, kematian dan kehidupan, dan menghiasi bumi dengan sesuatu yang berada di atasnya; agar Dia menguji para hamba-Nya siapa di antara mereka yang paling baik amalnya. Bukan yang paling banyak amalnya. [12] Jadi, yang menjadi patokan adalah ‘terbaik’ bukan ‘terbanyak’. [13]
2-Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇ ãóÇ Úóáóì ÇáúÃóÑúÖö ÒöíäóÉð áóåóÇ
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya.”
Kemudian Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menjelaskan hikmah (dari hal tersebut), seraya berfirman :
áöäóÈúáõæóåõãú Ãóíøõåõãú ÃóÍúÓóäõ ÚóãóáðÇ¡
“agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya.”
Maka, bila seorang hamba telah mengetahui bahwasanya dirinya diciptakan untuk diuji akan kebaikan amalnya, tentunya ia akan bersemangat untuk berada di atas keadaan yang dengannya dirinya bakal selamat dalam menghadapi ujian ini; kerena ujian Rabb semesta alam pada hari Kiamat itu siapa yang tidak berhasil niscaya ia akan diseret ke dalam Neraka. Maka, ketidaksuksesan seseorang pada saat itu merupakan kebinasaan dirinya.[14] Sehingga, pada hal demikian itu terdapat dorongan dan motivasi untuk melakukan amal-amal yang paling baik dan agar seseorang terus naik mendaki pada tingkatan-tingkatan kesempurnaan.[15]
3-Firman-Nya ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
æóÅöäøóÇ áóÌóÇÚöáõæäó ãóÇ ÚóáóíúåóÇ ÕóÚöíÏðÇ ÌõÑõÒðÇ
“Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya sebagai tanah yang tandus lagi kering.”
Di dalamnya terdapat isyarat anjuran untuk bersikap zuhud terkait dengan kehidupan dunia dan tidak mencintainya.
Di dalamnya juga terdapat hiburan bagi Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó terkait dengan apa yang ada di genggaman tangan orang-orang yang hidup bermewah-mewahan dengan segala bentuk hiasan dunia. Karena, hal-hal tersebut akan kembali kepada kefanaan.
Di dalamnya juga terdapat penasehat yang paling besar bagi manusia dan pemberi peringatan yang paling agung terhadap mereka dari mengikuti hawa nafsu, lebih memprioritaskan hal yang fana atas hal yang akan tetap ada; Hal demikian itu karena bumi ini akan kembali menjadi tanah yang tandus lagi kering, di mana kelezatannya hilang, sungai-sungainya terputus, bekas-bekasnya terhapuskan, dan kenikmatannya menghilang. Inilah hakikat dunia, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì telah menampakkannya kepada kita seakan-akan gambaran dunia itu benar-benar berada di hadapan mata kita. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga telah memberi peringatan kepada kita agar kita jangan sampai tertipu dengan (kehidupan) dunia. Dan, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì memotivasi kita untuk lebih menyukai dan mencintai suatu negeri dimana kenikmatan-kenikmatan yang ada di sana akan berkesinambungan terus-menerus tanpa putus-putusnya. Para penghuninya akan terus dan selalu berbahagia ; kesemuanya itu sebagai bagian dari rahmat dan kesih sayang-Nya kepada kita. Namun, orang-orang yang hanya melihat tampilan zhahir kehidupan dunia tanpa melihat kepada apa yang tersembunyi di baliknya, mereka tertipu dan terpedaya olehnya. Maka, mereka pun berkawan dengan dunia layaknya pertemanan binatang. Mereka merengkuh kenikmatan-kenikmatannya layaknya binatang piaraan menikmati makanan dan minumuan yang disediakan untuknya. Mereka tidak melihat kepada hak Rabb mereka. Mereka tidak mementingkan urusan mengenal-Nya. Bahkan, yang menjadi keinginan dan tekad mereka itu adalah memuaskan keinginan syahwat bagaimana pun caranya hal itu dapat diperolehnya. Apa pun kondisinya, mereka selalu saja sepakat dengan dorongan syahwatnya. Maka, mereka ini, kala maut (kematian) datang menghampiri salah seorang di antara mereka, mereka cemas dan khawatir karena dirinya bakal binasa, ia sedemikian takut kehilangan kenikmatan-kenimatan dunia yang pernah atau tengah dirasakannya. Kekhawatiran dan ketakutan mereka ini bukan karena apa yang telah dipersembahkanya berupa keteledoran dan kejelekan perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan.
Adapun orang-orang yang memandang kepada apa yang ada dibalik kehidupan dunia, dan ia pun mengetahui maksud dari kehidupan dunia ini dan ia pun mengetahui pula maksud dari penciptaan dirinya, maka ia menikmati kehidupan dunia apa-apa yang akan dapat membantu dirinya untuk merealisasikan maksud dirinya diciptakan. Ia memanfaatkan peluang dan kesempatan dengan sebaik-baiknya dalam sisa-sisa umurnya yang mulia. Maka, ia jadikan dunia sebagai tempat untuk menyeberang (ke kehidupan selanjutnya), bukan sebagai tempat menetap untuk selama-lamanya. Ia menjadikan dunia sebagai tempat persinggahannya sementara untuk melanjutkan perjalanannya kembali, tidak menjadikannya sebagai tempat menetap untuk selamanya. Kesungguhannya dikerahakannya secara optimal dan maksimal untuk mengenal Rabbnya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan memperbagus amal sehingga menjadi amal yang terbaik. Sehingga, dirinya menjadi orang yang memiliki kedudukan yang paling baik di sisi Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Dan, ia pun berhak untuk mendapatkan semua bentuk kemuliaan dan kenikmatan, kegembiraan dan pemuliaan dari-Nya. Ia memandang kepada apa yang ada di balik kehidupan dunia saat orang yang tertipu dan terpedaya hanya melihat kepada zhahir yang nampak dari kehidupan dunia. Ia beramal untuk kehidupan akhiratnya saat orang-orang bergelimang dengan kebatilan beramal untuk kehidupan dunianya. Alangah jauh berbeda antara kedua golongan ini. !!! [16]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Lihat : Tafsir Abi Hayyan, 7/139.
[2] Lihat : Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/256
[3] al-Wahidiy mengatakan :
Firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì :
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇ ãóÇ Úóáóì ÇáÃóÑúÖö ÒöíäóÉð áóåóÇ
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya.”
Dengan apa-apa yang berada di atasnya berupa air, tumbuhan, pepohonan, barang tambang berupa emas, perak, dan berbagai macam mutiara. Dan, masuk dalam kategori ini seluruhnya apa-apa yang ada di atas bumi yang bernyawa dan benda-benda mati. (al-Wasith : 3/136).
Dan, Ibnu Utsaimin ÑóÍöãóåõ Çááåõ mengatakan : "Baik hiasan ini berupa hal-hal yang diciptakan dan diadakan oleh Allah ÚóÒøó æóÌóáøó atau pun hal-hal yang dibuat oleh manusia (Tafsir Ibnu Utsaimin-Surat al-Kahfi, hal. 18.
Sebagian ahli tafsir ada yang membatasi firman Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì : ãóÇ Úóáóì ÇáÃóÑúÖö (apa yang ada di atas bumi) dengan “sesuatu yang layak dijadikan sebagai hiasan bagi bumi.” Di antara mereka adalah Zamakhsyariy, Ibnu Juzzi, dan Asy-Syaukani. (Lihat : Tafsir Zamakhsyariy, 2/704. Tasfir Ibnu Juzzi, 1/459.Tafsir asy-Syaukaniy, 3/320)
Sedangkan di antara mereka yang memilih pendapat bahwa hal tersebut bersifat umum adalah : al-Qurthubiy. Ia mengatakan :
æóÇáÒøöíúäóÉõ ßõáøõ ãóÇ Úóáóì æóÌúåö ÇáúÃóÑúÖö¡ Ýóåõæó Úõãõæúãñº áöÃäøóåõ ÏóÇáøñ Úóáóì ÈóÇÑöÆöåö... æóÇáúÞóæúáõ ÈöÇáúÚõãõæúãö Ãóæúáóì¡ æóÃóäøó ßõáøó ãóÇ Úóáóì ÇáúÃóÑúÖö Ýöíúåö ÒöíúäóÉñ ãöäú ÌöåóÉö ÎóáúÞöåö æóÕõäúÚöåö æóÅÍúßóÇãöåö
Ziinah, hiasan itu adalah setiap sesuatu yang berada di atas permukaan bumi. Maka, hal tersebut bersifat umum; karena hal itu menunjukkan akan adanya penciptanya…dan pendapat yang menyatakan bahwa hal tersebut bersifat umum lebih utama, dan bahwa segala sesuatu yang ada di atas permukaan bumi padanya terdapat hiasan dari segi penciptaannya, pembuatannya dan kelayakannya. (Tafsir al-Qurthubiy, 10/354. Dan lihat juga : Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/203.)
[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/151, Tafsir Zamakhsyari, 2/704, Tafsir al-Qurthubiy, 10/354. Tafsir Ibnu Juzzi, 1/459. Tafsir Ibnu Katsir, 5/137, Tafsir as-Sa’diy, hal. 470. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 18.
[5] HR. al-Bukhari (6427) dan Muslim (1052). Dan, lafazh ini adalah miliknya.
[6] ÍõáúæóÉñ ÎóÖöÑóÉñ (Manis dan hijau), yakni indah, menawan dan berseri-seri, dihiaskan pada pandangan mata kalian dan perasaan hati kalian. Beliau menyifatinya dengan ÎóÖöÑóÉñ (hijau), karena orang Arab menyebut sesuatu yang tampak berseri-seri dengan “hijau ranau”, atau untuk menyerupakan dunia dengan sayur mayur dalam hal cepatnya hilangnya panorama keindahannya. Lihat : al-Mu’alim Bi Fawaa-id Muslim, karya al-Maaziriy, 2/33, Mirqaat al-Mafaa-tiih, karya : al-Qaariy, 5/2044.
[7] HR. Muslim, 2742.
[8] HR. al-Bukhari, 6441 dan Muslim, 1035.
[9] Lihat : Tafsir al-Baghawiy, 3/172, Tafsir al-Khazin, 3/153, Tafsir Ibnu Adil, 12/428, Tafsir as-Sa’diy, hal. 471. Lihat juga : al-Istiqamah, Ibnu Taimiyah, 2/308, Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 10/318, Miftah Daar as-Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/82.
[10] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/151, al-Wajiz, al-Wahidiy, hal. 654. Tafsir Ibnu Juzzi, 1/459.
[11] Lihat : Tasir Ibnu Jarir, 15/153, Tafsir Ibnul Jauziy, 3/65, Tafsir Ibnu Katsir, 5/137, Tafsir al-Qasimi, 7/7, Tafsir as-Sa’diy, hal.471, Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/258, Adh-Waul Bayan, Syinqithiy, 3/203, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 20. Ibnul Jauziy mengatakan : para ahli tafsir mengatakan, “Dan hal ini terjadi pada hari Kiamat ; Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì akan menjadikan bumi itu rata, tidak ada tumbuhan di sana, dan tidak ada pula airnya. (Tafsir Ibnul Jauzi, 3/65)
[12] Lihat : al-Manaar al-Munif, Ibnul Qayyim, hal. 30.
[13] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 19.
[14] Lihat : al-‘Adzbu an-Namir, Syinqithiy.
[15] Lihat : Nadzmu ad-Durar, al-Biqa’iy, 9/240.
[16] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 470.


















