A-Puasa
Puasa, artinya menurut syara’ adalah bentuk menahan yang khusus pada waktu yang khusus dengan cara yang khusus pula [1]
Di dalam Kitab Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan Sunnah Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó terdapat banyak nash yang mendorong orang untuk melakukan puasa, menjelaskan keutamaannya dan pahala yang Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì janjikan bagi orang-orang yang berpuasa. Misalnya, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì berfirman :
﴿Åöäøó ٱáۡãõÓۡáöãöíäó æóٱáۡãõÓۡáöãóٰÊö æóٱáۡãõÄۡãöäöíäó æóٱáۡãõÄۡãöäóٰÊö æóٱáۡÞóٰäöÊöíäó æóٱáۡÞóٰäöÊóٰÊö æóٱáÕøóٰÏöÞöíäó æóٱáÕøóٰÏöÞóٰÊö æóٱáÕøóٰÈöÑöíäó æóٱáÕøóٰÈöÑóٰÊö æóٱáۡÎóٰÔöÚöíäó æóٱáۡÎóٰÔöÚóٰÊö æóٱáۡãõÊóÕóÏøöÞöíäó æóٱáۡãõÊóÕóÏøöÞóٰÊö æóٱáÕøóٰٓÆöãöíäó æóٱáÕøóٰٓÆöãóٰÊö æóٱáۡÍóٰÝöÙöíäó ÝõÑõæÌóåõãۡ æóٱáۡÍóٰÝöÙóٰÊö æóٱáÐøóٰßöÑöíäó ٱááøóåó ßóËöíÑٗÇ æóٱáÐøóٰßöÑóٰÊö ÃóÚóÏøó ٱááøóåõ áóåõã ãøóÛۡÝöÑóÉٗ æóÃóÌۡÑðÇ ÚóÙöíãٗÇ﴾ [ÇáÃÍÒÇÈ: 35]
“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar. (al-Ahzab : 35)
Dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata, ñ Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
«ßõáøõ Úóãóáö ÇÈúäö ÂÏóãó íõÖóÇÚóÝõ ÇáúÍóÓóäóÉõ ÚóÔúÑõ ÃóãúËóÇáöåóÇ Åöáóì ÓóÈúÚöãöÇÆóÉö ÖöÚúÝò ÞóÇáó Çááåõ ÚóÒøó æóÌóáøó: ÅöáøóÇ ÇáÕøóæúãó ÝóÅöäøóåõ áöí¡ æóÃóäóÇ ÃóÌúÒöí Èöåö íóÏóÚõ ÔóåúæóÊóåõ æóØóÚóÇãóåõ ãöäú ÃóÌúáöí¡ áöáÕøóÇÆöãö ÝóÑúÍóÊóÇäöº ÝóÑúÍóÉñ ÚöäúÏó ÝöØúÑöåö æóÝóÑúÍóÉñ ÚöäúÏó áöÞóÇÁö ÑóÈøöåö¡ æóáóÎõáõæÝõ Ýöíåö ÃóØúíóÈõ ÚöäúÏó Çááåö ãöäú ÑöíúÍö ÇáúãöÓúßö»
Setiap amal (shaleh) anak Adam dilipat gandakan (pahalanya), satu kebaikan (dilipat gandakan pahalanya) sebanyak 10 kali lipatnya, sampai 700 kali lipat. Allah ÚóÒøó æóÌóáøó berfirman : “kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku.” Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan; kegembiraan saat berbukanya dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabbnya. Dan sungguh bau mulutnya lebih harum di sisi Allah daripada bau misik. (HR. Muslim)
Abu Umamah al-Bahili ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata, “Aku pernah mendatangi Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó , lalu aku berkata (kepada beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó) : ‘Perintahkanlah aku melakukan sesuatu yang aku terima darimu !’ Beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
«Úóáóíúßó ÈöÇáÕøóæúãöº ÝóÅöäøóåõ áóÇ ÚöÏúáó áóåõ»
‘Berpuasalah, karena puasa tidak ada tandingannya.’ (HR. Ibnu Khuzaemah dan lainnya)
Hudzaifah bin al-Yaman ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
«ÝöÊúäóÉõ ÇáÑøóÌõáö Ýöí Ãóåúáöåö æóãóÇáöåö æóæóáóÏöåö æóÌóÇÑöåö¡ ÊõßóÝøöÑõåóÇ ÇáÕøóáóÇÉõ æóÇáÕøóæúãõ æóÇáÕøóÏóÞóÉõ æóÇáúÃóãúÑõ æóÇáäøóåúíõ¡»
‘Fitnah (ujian) yang menimpa seseorang pada istrinya, hartanya, anaknya dan tetangganya akan dihapus oleh shalat, puasa, sedekah, amar ma’ruf dan nahi mungkar. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id al-Khudhri ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
«ãóÇ ãöäú ÚóÈúÏò íóÕõæãõ íóæúãðÇ Ýöí ÓóÈöíáö Çááåö¡ ÅöáøóÇ ÈóÇÚóÏó Çááåõ ÈöÐóáößó Çáúíóæúãö æóÌúåóåõ Úóäö ÇáäøóÇÑö ÓóÈúÚöíäó ÎóÑöíÝðÇ»
“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasnya itu dari api Neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Nash-nash ini semuanya menjelaskan tentang keutamaan puasa secara umum, sedangkan keutamaan puasa pada hari-hari tertentu atau bulan-bulan tertentu, seperti keutamaan puasa di bulan Muharam, akan disebutkan, insya Allah.
B-Muharam
Muharam merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Hijriyah. Bulan ini merupakan bulan yang utama dan berkah.
Di antara keutamaan dan keberkahan bulan ini adalah seperti yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, ia berkata : “Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ÃóÝúÖóáõ ÇáÕøöíóÇãö ÈóÚúÏó ÑóãóÖóÇäó ÔóåúÑõ Çááåö ÇáúãõÍóÑøóã
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa pada) bulan Allah, yaitu bulan Muharram …” (HR. Muslim)
Ibnu Rajab ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata : “ Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menamakan bulan Muharram sebagai bulan Allah. Penyandaran kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan bulan itu, karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak menyandarkan sesuatu kepada-Nya, melainkan ia adalah yang teristimewa …[2]
Di antara keberkahan bulan Muharram yaitu adanya hari ‘Asyura’ (hari kesepuluh) yang merupakan hari mulia dan diberkahi.
Hari ‘Asyura memiliki kemuliaan yang sudah dikenal luas. Pada hari itulah Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyelamatkan hamba dan Nabi-Nya, yaitu Musa Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ beserta kaumnya dan menenggelamkan musuh-Nya, yaitu Fir’aun beserta bala tentaranya.
Nabi Musa Úóáóíúåö ÇáÓøóáóÇãõ berpuasa pada hari ini sebagai ungkapan syukur kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì. Orang-orang Quraisy juga berpuasa pada hari ini di masa Jahiliyah, demikian pula dengan bangsa Yahudi. Bahkan, dahulu, puasa pada hari ini diwajibkan sebelum ada kewajiban puasa di bulan Ramadhan, demikian menurut pendapat mayoritas ulama. [3] Setelah itu, ia menjadi sunnah, sebagaimana disebutkan dalam ash-Shahihain dari Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ, ia berkata : “Dahulu, pada masa Jahiliyah, suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura dan Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó (juga) berpuasa pada hari ini. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau (tetap) berpuasa pada hari itu dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa juga. Namun, setelah diwajibkan puasa Ramadhan, beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
ãóäú ÔóÇÁó ÕóÇãóåõ æóãóäú ÔóÇÁó ÊóÑóßóåõ
‘Barang siapa ingin berpuasa, silakan ia berpuasa (pada hari ‘Asyura) dan barang siapa tidak ingin, ia (boleh) meninggalkannya.” [4]
Dalam ash-Shahihain disebutkan, dari Ibnu Abbas ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ, (Ketika) Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tiba di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura’. Lalu, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bertanya kepada mereka : “Hari apakah yang kalian puasai ini ?” Mereka menjawab : “Ini adalah hari yang mulia. Pada hari ini, Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menyelamatkan Musa beserta pengikutnya dan menenggelamkan Fir’aun beserta pengikutnya. Musa berpuasa pada hari ini sebagai ungkapan syukur, maka kami pun berpuasa pada hari ini.” Kemudian, Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
«ÝóäóÍúäõ ÃóÍóÞøõ æóÃóæúáóì ÈöãõæÓóì ãöäúßõãú»
“Kami lebih berhak dan lebih utama (untuk mengikuti) Musa daripada kalian.”
Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pun berpuasa dan memerintahkan (kaum Muslimin-ed) agar berpuasa pada hari itu. [5]
Berpuasa pada hari ini mengandung keutamaan yang besar, yaitu dapat menghapus dosa-dosa pada tahun yang lalu, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, dari hadis Abu Qatadah al-Anshari ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ , Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó pernah ditanya mengenai puasa pada hari ‘Asyura, lalu beliau menjawab : íõßóÝøöÑõ ÇáÓøóäóÉó ÇáúãóÇÖöíóÉó “Ia dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” [6]
Sejumlah ulama berkata : “Disunnahkan berpuasa pada tanggal sembilan (Muharram) dan tanggal sepuluh (Muharram, yaitu hari ‘Asyura), karena Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó telah berpuasa pada tanggal sepuluh (Muharram) serta sudah berniat akan berpuasa pada tanggal sembilan(nya). [7]
An-Nawawi ÑóÍöãóåõ Çááåõ berkata : “Mungkin penyebabnya adalah beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak ingin menyerupai orang-orang Yahudi dengan berpuasa hanya pada hari kesepuluh.” [8]
Pada hari ini, tidak ada satu amal pun yang disyariatkan, kecuali puasa. Akan tetapi, sebagian umat Islam telah membuat hal-hal yang tidak ada landasannya atau hal-hal tersebut berpedoman kepada hadis-hadis maudhu’ (palsu) atau hadis dha’if(lemah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ÑóÍöãóåõ Çááåõ menyebutkan bahwa di antara hal-hal baru yang tidak dikenal sebelumnya adalah kerinduan dan kesedihan yang diada-adakan oleh sebagian pengikut hawa nafsu -yaitu golongan Rafidhah-pada hari ‘Asyura, serta hal-hal yang diada-adakan lainnya [9] yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, juga oleh seorang ulama Salaf pun, baik yang berasal dari Ahlul Bait Rasulullah maupun selain mereka. Sesungguhnya musibah terbunuhnya al-Husain [10] wajib disambut dengan mengucapkan istirja’ yang disyariatkan, [11] yang biasa diucapkan ketika terkena musibah.
Ibnu Taimiyah ÑóÍöãóåõ Çááåõ juga pernah menyebutkan bahwa sebagian orang telah mengada-adakan beberapa hal baru dengan berpedoman kepada hadis-hadis maudhu’ (palsu) yang tidak memiliki landasan, seperti keutamaan mandi pada hari ‘Asyura, memakai celak pada mata (khusus pada hari ‘Asyura-ed), bersalaman dan semacamnya, atau menampakkan kesenangan dan kegembiraan, serta memperbanyak nafkah (belanja) pada hari tersebut. Ada yang memberikan alasan bahwa sikap berlebihan sebagian orang yang dianggap memiliki ilmu dalam hal mengagungkan hari ini, kadang sengaja ditujukan untuk menandingi golongan Rafidhah yang telah menjadikan hari ini sebagai hari perkumpulan mereka. [12]
C-Puasa Muharam
Puasa Muharam hukumnya sunnah. Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menganjurkan puasa pada bulan Muharam dan menjadikannya sebagai bulan yang paling mulia setelah bulan Ramadhan.
Abu Hurairah ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ berkata bahwa Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó bersabda :
«ÃóÝúÖóáõ ÇáÕøöíóÇãö ÈóÚúÏó ÑóãóÖóÇäó ÔóåúÑõ Çááåö ÇáúãõÍóÑøóãõ¡ æóÃóÝúÖóáõ ÇáÕøóáóÇÉö ÈóÚúÏó ÇáúÝóÑöíÖóÉö ÕóáóÇÉõ Çááøóíúáö»
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharam dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Perkataan Ibnu Rajab dalam Latha-if al-Ma’arif, hal. 81
Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó menamakan bulan Muharam dengan bulan Allah dan penyandarannya kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaan bulan ini. Karena Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì tidak akan menyandarkan kepada-Nya kecuali makhluk pilihan-Nya. Seperti Dia ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì menisbatkan Muhammad, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan nabi-nabi yang lain kepada penghambaan kepada-Nya. Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì juga menisbatkan kepada-Nya rumah-Nya (Bitullah) dan unta-Nya (Naqatullah). Ketika bulan ini memiliki keistimewaan dengan disandarkannya kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì dan puasa adalah ibadah yang juga disandarkan kepada-Nya karena puasa adalah milik-Nya, maka pantaslah bulan yang disandarkan kepada Allah ÓõÈúÍóÇäóåõ æóÊóÚóÇáóì ini mendapatkan keistimewaan tersendiri dengan amal yang juga disandarkan kepada-Nya, yakni puasa.
Namun demikian ada sebuah masalah yang muncul di sini, yakni bagaimana menyatukan hadis ini dengan hadis Aisyah ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåóÇ yang berbunyi,
áóãú íóßõäö ÇáäÈíøõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó íóÕõæãõ ÔóåúÑðÇ ÃßúËóÑó ãöä ÔóÚúÈÇäó¡ ÝÅäøóåõ ßóÇäó íóÕõæãõ ÔóÚúÈÇäó ßõáøóåõ æóßóÇäó íóÞõæúáõ : ÎõÐõæÇ ãöäó ÇáÚóãóáö ãóÇ ÊõØöíÞõæäó¡
“Nabi Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó tidak pernah puasa dalam satu bulan yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban. Beliau biasa berpuasa pada bulan Sya’ban sebulan penuh dan beliau bersabda, “Kerjakanlah amal ibadah yang kalian mampu melakukannya.’ (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjawab masalah ini dengan beberapa jawaban. Di antaranya adalah :
Jawaban an-Nawawi dalam Syarah Muslim (3/224),
“Mungkin Rasulullah Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó baru mengetahui keutamaan bulan Muharam di akhir usianya sebelum beliau dapat melakukan puasa pada bulan itu. Atau mungkin beliau Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó mempunyai halangan sehingga tidak dapat memperbanyak puasa di bulan Muharam, seperti karena dalam perjalanan, sakit, dan lainnya.
Jawaban Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (4/253),
Beliau menjawabnya dengan hadis Usamah bin Zaid ÑóÖöíó Çááåõ Úóäúåõ bahwa ia berkata,
íóÇ ÑóÓõæúáó Çááøóåö ! áóãú ÇóÑóßó ÊóÕõæúãõ ÔóåúÑðÇ ãöäó ÇáÔøõåõæúÑö ãóÇ ÊóÕõæúãõ ãöäú ÔóÚúÈóÇäó¿ ! ÞóÇáó: Ðóáößó ÔóåúÑñ íóÛúÝõáõ ÇáäøóÇÓõ Úóäúåõ Èóíúäó ÑóÌóÈò æóÑóãóÖóÇäó¡ æóåõæó ÔóåúÑñ ÊõÑúÝóÚõ Ýöíúåö ÇáúÃóÚúãóÇáõ Åöáóì ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó¡ ÝóÃõÍöÈøõ Ãóäú íõÑúÝóÚó Úóãóáöí æóÃóäóÇ ÕóÇÆöãñ
“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban ?’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah bulan yang banyak dilupakan orang antara Rajab dan Ramadhan dan itu adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Rabb alam semesta, maka aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa.’ (HR. an-Nasa’i) [13]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] al-Mardawi dalam al-Inshaf, 3/269.
[2] Lathaa-iful Ma’aarif (hal.32)
[3] Silakan merujuk ke Fat-hul Baari, 4/247)
[4] Shahiihul Bukhari (2/250), Kitab “ash-Shaum,”
[5] Shahihul Bukhari (2/251), Kitab “ash-Shaum,”
[6] Shahih Muslim (2/819), Kitab “ash-Shiyam”, “Bab “Isrtihbab Shiyaam Tsalaatsah Ayyaam min Kuli Syahr wa Shaum ‘Arafah wa ‘Aasyura ’ wal Itsnain wal Khamiis,”
[7] Syarhun Nawawi li Shahiih Muslim (8/13)
[8] Lihat Syarhun Nawawi li Shahih Muslim (8/12-13)
[9] Lihat al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir (8/202)
[10] Ia adalah al-Husain bin Amirul Mukminin ‘Ali bin Abu Thalib al-Qurasyi Abu ‘Abdullah, cucu Rasulullah dan kesayangan beliau. Ia banyak beribadah. Ia terbunuh di karbala, Irak pada hari ‘Asyura tahun 61 H. Semoga Allah meridhainya. Lihat Usudul Ghaabah (1/495), Siyar A’laamin Nubala (3/280), al-Bidayah wan Nihayah 98/117), al-Ishabah (1/331), dan Syazaraatudz Dzahab (1/66)
[11] Yaitu membaca :
﴿ÅöäøóÇ áöáøóåö æóÅöäøóÇٓ Åöáóíۡåö ÑóٰÌöÚõæäó﴾ [ÇáÈÞÑÉ: 156]
Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali.
[12] Iqtidhaa-ush Shiraath al-Mustaqim li Mukhaalafah Ash-Haabil Jahim (2/620-624) dengan saduran.
[13] Shiyam at-Tathawwu, Fadha’il Wa Ahkam, Usamah Abdul Aziz [ed.i) hal. 45-46.


















