Artikel : Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
Menjawab Pertanyaan
Jumat, 07 Maret 14


Menjawab pertanyaan memiliki seni, menimbang pertanyaan dan penanya, keadaan dan situasinya. Ada pertanyaan yang patut dijawab singkat, ada yang patut dijawab panjang, bahkan ada yang tidak perlu dijawab.

Ada pertanyaan yang cukup dijawab Salama kata-kata yang baik, kata-kata yang mengandung keselamatan, adalah jawabannya. Allah berfirman tentang sifat Ibadurrahman,

[ : 63]


Dan orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Al-Furqan: 63. Bahkan diam adalah jawaban.




Bila orang bodoh berbicara, jangan menjawab
Sebaik-baik jawaban atasnya adalah diam.

Ada pertanyaan, yang ditanya tentangnya tidak mengetahui jawabannya, dia tetap menjawab, namun dengan bahasa yang tinggi. Jibril bertanya kepada Nabi, Kapan Hari Kiamat? Nabi yang memang tidak tahu, dan Jibril juga tidak tahu, menjawab, Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.

Ada pertanyaan yang jawabannya adalah pertanyaan, yang ditanya balik bertanya, untuk mengisyaratkan bahwa semestinya itulah yang ditanyakan. Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, dia berkata, Rasulullah, kapan Hari Kiamat? Nabi balik bertanya, Apa yang kamu siapkan untuknya? Nabi mengalihkan pertanyaan tentang kapan Hari Kiamat, karena ia rahasia Allah yang tidak Dia buka kepada siapa pun, tetapi ia merupakan sesuatu yang pasti, karena itu semestinya bukan kapannya, tetapi apa persiapan menghadapinya, karena ia pasti datang.

Allah berfirman,

[ : 189]


Dan mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah, ia adalah petunjuk waktu bagi manusia dan haji. Al-Baqarah: 189. Pertanyaannya tentang hilal dan jawabannya tentang manfaatnya, bahwa ia sebagai pertanda waktu ibadah, shaum, haji, masa iddah dan lainnya.

Ada pertanyaan yang jawabannya mengembalikan jawaban tentang alasan kepada kewenangan peletak syariat saat illat, alasan hukumnya dirasa samar, sebagai bentuk sikap ketundukan dan kepatuhan. Seorang wanita bertanya kepada Aisyah Ummul Mukminin, Mengapa wanita haid mengqadha` puasa dan terhadap mengqadha` shalat? Aisyah menjawab, Kami diperintahkan mengqadha` puasa dan tidak diperintahkan mengqadha` shalat.

Ada pertanyaan yang dijawab lebih dari apa yang ditanyakan, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, Rasulullah, kami naik bahtera di laut, kami hanya membawa sedikit air, bila kami menggunakannya berwudhu, kami haus. Apakah kami berwudhu dengan air laut? Nabi menjawab, Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. Di sini penanya mendapatkan bonus jawaban di samping jawaban atas pertanyaannya, yaitu kehalalan bangkai laut, padahal dia tidak bertanya tentangnya.

Senada dengan ini firman Allah,

[ : 215]


Dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, apa yang kalian nafkahkan dalam bentuk kebaikan, maka ia untuk bapak ibu, para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu Sabil. Al-Baqarah: 215. Pertanyaan mereka dijawab, bahwa yang mereka nafkahkan adalah kebaikan, berupa kebaikan harta, kata-kata dan sikap perbuatan, ditambah jawaban yang tidak mereka tanyakan, yaitu kepada siapa nafkah diberikan. Wallahu a'lam.
Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php?pilih=lihatsastra&id=327