Hikmah adalah kata-kata ringkas namun padat makna, biasanya ia merupakan hasil pengalaman dalam kehidupun yang panjang, seorang ahli hikmah telah berpengalaman dalam hidup, dari pengalaman dan pengamatan yang dilakukannya, dia mendapatkan suatu hakikat, suatu kenyataan yang terulang dari suatu sebab, maka dia menyimpulkan dan mengungkapnya dalam sebuah kalimat pendek namun kaya arti.
Imam asy-Syafi'i berkata,"Yang paling jelas pada diri seseorang adalah kelemahannya, barangsiapa menyaksikan kelemahan dirinya maka dia meraih istiqamah bersama Allah Ta'ala".
ÃóÈúíóäõ ãóÇ Ýöí ÇáÅäúÓóÇäö ÖóÚúÝõåõ Ýóãóäú ÔóåöÏó ÇáÖóÚúÝó ãöäú äóÝúÓöåö äÇóáó ÇáÇöÓúÊöÞóÇãóÉó ãóÚó Çááåö ÊÚÇáì"Di antara tanda teman adalah menjadi teman bagi temannya teman tersebut. Tidak ada kebahagiaan yang menandingi kebersamaan dengan saudara dan tidak ada kesedihan menandingi perpisahan dengan mereka. Jangan melalaikan hak saudaramu dengan berpijak kepada kecintaannya kepadamu".
ãöäú ÚóáÇãóÉö ÇáÕóÏöíúÞö Ãóäú íóßõæúäó áöÕóÏöíúÞö ÕóÏöíúÞöåö ÕóÏöíúÞðÇ. áóíúÓó ÓõÑõæúÑñ íóÚúÏöáõ ÕõÍúÈóÉó ÇáÅÎúæóÇäö æóáÇ Ûóãøó íóÚúÏöáõ ÝöÑóÇÞóåõãú. áÇ ÊõÞóÕøöÑú Ýöí ÍóÞøö ÃóÎöíúßó ÇöÚúÊöãóÇÏðÇ Úóáóì ãóæóÏøóÊöåö“Jangan merendahkan wajahmu kepada seseorang yang menolakmu dengan mudah. Barangsiapa berbuat baik kepadamu maka dia telah menjalinmu dan barangsiapa berbuat sebaliknya maka dia telah melepasmu.”
áÇ ÊóÈúÐõóáú æóÌúåóßó Åöáìó ãóäú íóåõæúäõ Úóáóíúåö ÑóÏøõßó. ãóäú ÈóÑøóßó ÝóÞóÏú Ãóæú ËóÞóßó æóãóäú ÌóÝóÇßó ÝóÞóÏú ÃóØúáóÞóßó.“Orang yang membeberkan keburukan orang lain kepadamu pasti akan membeberkan keburukanmu kepada orang lain. Orang yang jika kamu membuatnya rela maka dia akan memujimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu adalah orang yang jika kamu membuatnya marah maka dia akan mencelamu dengan sesuatu yang tidak ada padamu.”
ãóäú äóãøó áóßó äóãøó Èößó æóãóäú ÅöÐóÇ ÃóÑúÖóíúÊóåõ ÞóÇáó Ýöíúßó ãóÇ áóíúÓó Ýöíúßó æóÅöÐóÇ ÃóÛúÖóÈúÊóåõ ÞÇóáó Ýöíúßó ãóÇ áóíúÓó Ýöíúßó“Bukan saudaramu seseorang yang membuatmu harus berpura-pura kepadanya. Barangsiapa bersaudara dengan benar maka dia menerima alasan saudaranya, menutupi kekurangannya dan memaafkan kesalahannya.”
áóíúÓó ÈöÃóÎöíúßó ãóäö ÇÍúÊóÌúÊó Åöáìó ãõÏóÇÑóÇÊöåö æóãóäú ÕóÏóÞóö Ýöí ÃõÎõæøóÉö ÃóÎöíúåö ÞóÈöáó Úöáóáóåõ æóÓóÏøó Îóáóáóåõ æóÛóÝóÑö ÐóäúÈóåõ
“Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia maka dia telah menasihati dan menghiasinya, namun barangsiapa menasihatinya secara terbuka maka dia telah mempermalukannya dan memburukkannya.”
ãóäú æóÚóÙó ÃóÎÇåõ ÓöÑøðÇ ÝóÞóÏú äóÕóÍóåõ æóÒóÇäóåõ, æóãóäú æóÚóÙóåõ ÚóáÇäöíóÉð ÝóÞóÏú ÝóÖóÍóåõ æóÔóÇäðåõ
Dari al-Majmu’, Imam an-Nawawi