Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaedah Ke-47 [Yang Beriman Kepada Allah, Dia Tunjuki Hatinya]

Rabu, 15 Desember 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-47


{ }


" Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
{ At-Taghabun: 11}
Ini adalah sebuah kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an yang muhkam (bermakna jelas), di mana kita membutuhkannya setiap waktu, khususnya ketika manusia diuji dengan salah satu musibah yang cukup mengganggu, dan alangkah banyaknya hal itu di zaman ini.
Kaidah (prinsip pokok ajaran) al-Qur`an ini disebutkan dalam ayat yang mulia dalam Surat at-Taghabun. Allah berfirman di sana,


(11)


"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (At-Taghabun: 11).

Ayat ini sebagaimana tampak nyata dan jelas menunjukkan bahwa tidak ada satu pun musibah, apa pun bentuknya, baik itu dalam jiwa, harta, anak, kerabat, dan hal yang semisalnya, kecuali semuanya terjadi dengan Qadha` dan Qadar Allah, dan bahwa hal itu (terjadi) dengan pengetahuan dan izinNya azza wa jalla yang berkaitan dengan takdir, telah tercatat dengan pena takdir, kehendak (Allah) terlaksana, dan sebagai konsekuensi hikmah. Dan kondisi ini berlaku di setiap kondisi, apakah seorang hamba harus melaksanakan kewajibannya berupa ibadah sabar dan berserah diri yang hukumnya wajib, kemudian ridha terhadap Allah azza wa jalla?! Walaupun ridha tidaklah wajib, melainkan hanya sunnah saja.
Renungkanlah bagaimana Allah taala mengaitkan petunjuk hati kepada Iman; hal itu karena pada dasarnya orang Mukmin itu diliputi keimanan dalam menerima berbagai musibah, dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh syariat berupa jauh dari sikap tidak sabar dan berkeluh kesah, seraya berpikir bahwa kehidupan ini tidak bisa terlepas dari rintangan dan hal yang mengeruhkan (kehidupan, sebagaimana seorang penyair berkata),
Ia diciptakan bertabiat keruh
sedangkan kamu menginginkannya
bersih dari noda dan kotoran

Dan sebagaimana ini adalah konsekuensi keimanan, maka dalam kaidah (prinsip pokok) ini, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya", terdapat isyarat kepada perintah untuk tegar dan sabar ketika musibah menimpa; karena penunjukan Allah terhadap hati orang Mukmin ketika musibah, berkonsekuensi memotivasi orang-orang Mukmin agar mereka tegar dan sabar ketika musibah tersebut datang. Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan kalimat, "Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." ( at-Tahrir wa at-Tanwir, 28/251.)

Penutup yang indah dengan kalimat, "Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu", membuat orang Mukmin bertambah tenang dan lega disebabkan penjelasan tentang luasnya pengetahuan Allah, dan bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya dari apa saja yang terjadi, bahwasanya Dia subhanahu wa taala adalah Yang paling mengetahui apa saja yang sesuai dengan keadaan dan hati hamba serta apa yang baik baginya, baik secara cepat ataupun lambat, di dunia dan akhirat. Orang Mukmin membaca ini seraya menghayati sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam,


! .


"Alangkah menakjubkannya perkara orang Mukmin! Sesungguh-nya semua perkaranya baik, dan hal itu tidak dimiliki seorang pun kecuali orang Mukmin; apabila dia dihinggapi sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya, dan apabila dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya." ( Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999.)

Aun bin Abdullah bin Utbah berkata, "Sesungguhnya Allah memaksa hambaNya kepada musibah; sebagaimana keluarga orang yang sakit memaksa orang yang sakit di antara mereka, dan keluarga anak kecil (memaksa) anak kecil mereka untuk (minum) obat, mereka berkata, 'Minumlah ini, karena pada kesudahannya terdapat kebaikan bagimu'." ( Hilyah al-Auliya`, 4/252.)

Dan marilah kita kembali kepada kaidah (prinsip pokok) ini, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya," yang merupakan pokok pembicaraan kita.
Terdapat kalimat bercahaya yang diucapkan oleh as-Salaf dalam komentar mereka terhadap makna kaidah ini, dan marilah kita mulai dengan sang ulama umat dan penerjemah al-Qur`an Ibnu Abbas radhiyallohu anhu di mana beliau radhiyallohu anhu berkata tentang Firman Allah taala, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya",
"(Yakni), menunjuki hatinya kepada keyakinan, sehingga dia mengetahui bahwa apa saja yang (sudah ditakdirkan) menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa saja yang tidak ditakdirkan-Nya, tidak akan menimpanya." Tafsir ath-Thabari, 23/421.

Alqamah bin Qais berkata tentang kaidah ini, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya",
"Yang dimaksud adalah seseorang yang tertimpa musibah, dan dia mengetahui bahwa hal itu (datang) dari sisi Allah, sehingga dia pun berserah diri dan ridha." ( Tafsir ath-Thabari, 23/421.)

Abu Utsman al-Hiri berkata, "Barangsiapa yang shahih (benar) Imannya, niscaya Allah menunjuki hatinya untuk mengikuti as-Sunnah." ( Tafsir al-Qurthubi, 18/139.)

Di antara rahasia halus yang tersebut dalam qira`at yang ma'tsur walaupun ia tidak sampai derajat mutawatir dan tidak populer, bahwa Ikrimah membaca,
.
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya hatinya menjadi tenang", yakni, damai dan tenteram. ( Tafsir ath-Thabari, 18/139.)

Datangnya kaidah ini dalam konteks seperti ini memiliki beberapa petunjuk penting, dan di antara yang paling menonjol adalah:

(1). Mendidik hati agar menerima takdir-takdir Allah yang menyakitkan sebagaimana telah dijelaskan.

(2). Bahwa di antara hal yang dapat membantu menerima musibah-musibah ini dengan santai dan tenang adalah: Iman yang kuat terhadap Rabb semesta alam, ridha terhadap Allah taala, di mana dia percaya dan tidak ragu lagi sementara dia hidup dalam musibah bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihannya sendiri, dan bahwa kesudahan yang baik akan menjadi miliknya selama dia adalah Mukmin sejati, karena Allah taala tidak membutuhkan ketaatan hamba-hamba(Nya), juga tidak (membutuhkan) untuk menguji mereka! Bahkan di balik musibah terdapat suatu hikmah, bahkan banyak hikmah dan rahasia besar yang tidak diketahui oleh manusia; jika tidak begitu, maka apa yang dipahami orang Mukmin ketika mendengar sabda Nabi alaihisholatu wassalam,


.


"Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling semisal (dengan mereka), kemudian orang yang semisal (dengan mereka)."?! (Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 143. Ed. T.)

Dan apa yang terlintas di benak manusia ketika dia membaca buku-buku sirah dan sejarah tentang berbagai cobaan yang menimpa para imam Agama ini?!
Jawabannya secara sangat singkat, bahwa beban-beban hidup tidak mungkin mampu dipikul oleh orang-orang yang suka bercanda, dan seseorang jika dia memiliki barang berat yang ingin dia pindahkan, pastilah dia tidak akan mempekerjakan anak-anak kecil, orang sakit, atau orang-orang lemah; tetapi dia akan memilih orang-orang yang memiliki pundak yang keras dan pundak yang kuat! Demikian juga kehidupan, tidak ada yang bisa bangkit dengan risalah (tugas)nya yang besar dan tidak ada yang dapat memindahkannya dari satu fase ke fase berikutnya kecuali orang-orang yang kuat dan para pahlawan yang sabar! ( Khuluq al-Muslim,hal. 133-134, dengan diringkas.)

Manusia tidaklah mampu untuk membuat daftar macam-macam cobaan yang menimpa manusia dan mengeruhkan hidup mereka, akan tetapi dia mampu untuk memperhatikan petunjuk al-Qur`an dalam masalah ini. Hal itu karena metode al-Qur`an al-Karim dalam membicarakan tentang macam-macam cobaan adalah pembicaraan global, dan memberi contoh dengan macam-macam cobaan yang paling populer, akan tetapi kita menemukan bahwa ia berkonsentrasi secara jelas kepada cara-cara mengobati cobaan ini, dan di antaranya:

(1). Kaidah (prinsip pokok) yang sedang kita bicarakan ini, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." Ia mengingatkan kepada apa yang telah kita bicarakan tentang pentingnya sikap sabar, berserah diri, dan menguatkan Iman yang dijadikan pegangan dalam menghadapi cobaan-cobaan ini.

(2). Di antara cara al-Qur`an mengobati kondisi cobaan ini, adalah memberi petunjuk kepada doa agung yang disebutkan dalam Surat al-Baqarah. Allah taala berfirman,


(155) (156)


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'." (Al-Baqarah: 155-156).

(3). Banyaknya kisah tentang para nabi dan pengikut mereka, di mana mereka mendapatkan berbagai macam musibah dan cobaan yang menjadikan orang Mukmin mengambil pelajaran, meneladani mereka, dan menjadi ringanlah apa yang menimpanya ketika dia ingat kepada apa yang menimpa mereka, dan pemimpin mereka adalah Nabi, Imam, dan penghulu kita, Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.
Terapi al-Qur`an ini harus diikuti juga dengan memperhatikan perjalanan hidup orang-orang shalih umat ini dan umat lainnya, yang mana mereka itu ditimpa musibah lalu mereka bersabar, lalu mereka pun mendapat kemenangan, dan mereka menemukan dengan sebenar-benarnya pengaruh ridha dan berserah diri karena petunjuk yang Allah tanamkan dalam hati mereka. Mereka menerima takdir-takdir Allah yang menyakitkan, dan orang yang diberi petunjuk (oleh Allah) adalah orang yang bersikap ketika musibah datang dengan apa yang ditunjukkan oleh Allah dan RasulNya shollallohu alaihi wa sallam, dan dengan apa yang diarahkan oleh orang-orang yang berakal dan ahli hikmah. Maka dalam perkataan sebagian mereka terdapat pelajaran yang sangat kuat dan pengalaman yang kaya, maka renungkanlah misalnya perkataan Imam yang mulia, Abu Hazim yang (mana perkataan beliau ini) dapat menghancurkan gunung-gunung kesedihan yang menancap di dalam dada banyak orang, beliau berkata, "Dunia itu terbagi dua: satu bagian untukku, dan satu bagian lagi untuk selainku. Maka yang menjadi bagianku, sekalipun aku mencarinya dengan melakukan tipu daya terhadap orang-orang yang ada di langit dan bumi, niscaya ia tidak akan datang kepadaku sebelum waktunya (yang telah ditetapkan Allah). Dan yang menjadi bagian selainku, aku tidak menaruh harapan dalam apa-apa yang telah lewat, dan tidak akan berharap dalam apa-apa yang masih tersisa. Dia menahan rizkiku dari selainku sebagaimana Dia menahan rizki selainku dariku, maka dalam bagian yang manakah aku akan menghabiskan umurku?" Hilyah al-Auliya`, 10/104.

Maka setelah itu: Mengapa sebagian dari kita merasa marah dan sakit hati karena kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lalu?! Mengapa salah seorang dari kita membuka kembali file pernikahan yang gagal sebelum terjadinya akad (nikah yang terjadi) beberapa waktu yang lalu?! Atau (terus mengingat) transaksi bisnis yang mengalami kerugian, atau saham-saham yang merugi dalam perdagangannya?! Seolah-olah dengan hal itu dia ingin memperbaharui kesedihan-kesedihannya!!
Maka wahai setiap orang yang terkena musibah:
Bersabarlah terhadap takdir yang didapatkan (olehmu)
dan relalah dengannya
Walaupun takdir itu datang kepadamu
membawa apa yang tidak kamu inginkan
Karena tidaklah kehidupan jernih diraih seseorang
Melainkan kejernihannya itu
akan diikuti oleh kekeruhan suatu hari nanti.


Dan di akhir kaidah (prinsip pokok) ini, saya berpesan agar (Anda) membaca sebuah risalah yang sangat berharga, kalimatnya sedikit tetapi maknanya luas, milik Syaikh dari para syaikh kami, al-Allamah yang mulia, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, dan judul risalahnya: al-Wasa`il al-Mufidah li al-Hayah as-Sa'idah.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=396