Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Kaidah Ke-15 [Kesudahan Yang Baik Milik Orang Yang Bertakwa]

Kamis, 16 September 21
Kaidah (Prinsip Pokok) ke-15


{ }


Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
{ Al-Qashash: 83}

Ini adalah salah satu kaidah al-Qur`an yang muhkam (bermakna jelas), yang menumbuhkan harapan dalam jiwa orang-orang yang beriman, dan memenuhi hati mereka dengan kepercayaan dan keyakinan.
Kaidah al-Qur`an ini datang dalam rangkaian ucapan Musa alaihissalam (yang diabadikan Allah dalam Surat al-A'raf: 128), ketika beliau memberi kabar gembira kepada kaumnya yang beriman kepada beliau dengan akibat yang baik bagi mereka di dunia sebelum akhirat, dan teguhnya kedudukan mereka di muka bumi apabila mereka konsisten dengan ketakwaan.
Kaidah ini juga datang dengan lafazh yang mirip, dalam Firman Allah taala kepada NabiNya Muhammad shollallohu alaihi wasallam di akhir Surat Thaha,




"Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kami-lah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (Thaha: 132).

Kaidah ini juga datang setelah selesainya kisah Qarun, di akhir Surat al-Qashash. Allah taala berfirman,




"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Qashash: 83).

Dan termasuk hal yang sudah diketahui, bahwa akibat baik di sini tidak terbatas di akhirat saja yang mana Allah telah menjamin keselamatan di sana bagi orang-orang yang bertakwa, bahkan ia berlaku umum di dunia dan akhirat.
Akan tetapi sebelum kita bertanya, "Mana kaidah ini dari realita kehidupan kita?" hendaklah kita bertanya, "Mana realisasi ketakwaan dalam bentuknya yang benar?" Kalau tidak begitu, maka tentu saja janji Allah tidak mungkin datang terlambat!
Sesungguhnya perenungan yang paling dangkal sekalipun terhadap ayat-ayat ini, dengan beragam konteksnya, akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya keumuman kaidah ini. Rabb kita azza wa jalla telah mengabarkan kepada kita dalam FirmanNya,


"Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa," (Thaha: 132),

dan setelah kisah Qarun, Allah taala berfirman,


"Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa," (Al-Qashash: 83),

dan Dia memberi kabar gembira dengannya kepada Nabi Musa alaihissalam dan Nabi kita shollallohu alaihi wasallam.
Akibat itu hakikatnya adalah setiap yang mengakhiri sesuatu dan yang terjadi di akhirnya, berupa kebaikan atau keburukan. Hanya saja ia lebih sering digunakan untuk perkara yang baik, sehingga maknanya adalah, bahwa di akhir ketakwaan akan datang kesudahan yang baik.
Betapa perlunya kita merenungkan kaidah ini, baik dalam tingkat pribadi maupun masyarakat, (terutama pada saat ini di mana) kita menyaksikan apa yang kita saksikan!

Mari Kita Mulai Membahas Pada Tingkat Masyarakat:

Sesungguhnya umat Islam sejak beberapa abad yang lalu mengalami kondisi yang lemah, bercerai-berai, dan banyak generasi dari umat Islam yang dikuasai musuh, dan inilah keadaan yang membuat sebagian orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam terkadang mencari tempat berpijak lain di luar wilayah Islam, ia pun pergi ke barat atau ke timur, untuk mencari prinsip-prinsip lain dan paham-paham yang beraneka ragam yang tidak ada kaitannya dengan Islam sama sekali, karena perasaan pesimisnya disebabkan kekalahan intern (psikologi), perpecahan, dan kekisruhan yang dihadapi umat Islam. Dan pada waktu bersamaan, umat ini mengalami peningkatan ekonomi, begitu juga hak asasi manusia di sana terlihat baik; dan kenyataan-kenyataan lainnya.
Yang sangat menyakitkan dari orang-orang seperti mereka adalah bahwa mereka hanya melihat kebudayaan timur atau barat dari sisi positif dan baiknya saja, dan mata mereka buta atau pura-pura buta terhadap sisi gelapnya, padahal alangkah banyaknya (sisi gelapnya itu), karena budaya-budaya itu adalah kebudayaan yang hanya mementingkan jasad dan mengesampingkan ruh, memakmurkan dunia dan merobohkan akhirat, mengerahkan sebab-sebab materi yang dimilikinya untuk menguasai negara-negara lemah, serta memaksakan kebudayaan dan tentaranya kepada siapa pun yang ia mau!

Sebagai contoh: bahwa undang-undang revolusi Perancis yang menetapkan prinsip hak asasi manusia dan persamaan antar manusia sebagaimana diklaim oleh para pencetusnya tidak menghalanginya untuk memusnahkan sepertiga penduduk pulau Haiti, karena mereka terus-menerus dalam peribadatan mereka! Sebagaimana halnya pemimpin Perancis yang populer, Napoleon yang dilahirkan oleh revolusi Perancis datang ke negeri Mesir untuk menguasainya dan menegakkan undang-undang penjajahan di sana.
Contoh-contohnya sangat banyak yang tidak mungkin disebutkan di sini apalagi menjelaskannya secara rinci, akan tetapi mungkin cocok kalau kami mengingatkan dengan hancurnya hukum ekonomi kapitalisme! Yang berdiri melawan manhaj Allah yang adil dalam mengurus harta, sehingga (akhirnya) para pelaku (kapitalisme) melihat benarnya ancaman Allah terhadap orang-orang yang memakan riba berupa musnahnya (harta), dan setiap hari kita mendengar tentang milyaran uang lenyap, perusahaan internasional bangkrut, dan ratusan bank ditutup pada tingkat dunia! Pada saat itu berkatalah seseorang, "(Kita) harus kembali kepada manhaj Islam dalam ekonomi!" Mahabenar Allah (tatkala Dia berfirman),




"Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Ma`idah: 50).
Dan Mahabenar Allah yang berfirman,


"Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (Thaha: 132).
Ingatlah, alangkah butuhnya negara-negara Islam dan organisasi-organisasi Islam, di seluruh penjuru bumi, untuk mentadabburi kaidah ini dengan baik, dan merenungkan akibat (buruk) yang akan didapatkan oleh orang-orang yang menyelisihi ketakwaan dalam masalah undang-undang, hukum, dan perilaku.
Barangsiapa yang merenungkan datangnya Firman Allah taala lewat lisan Nabi Musa alaihissalam ketika dia berbicara dengan kaumnya yang tertindas selama beberapa abad,




"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128),

niscaya dia mengetahui perlunya semua negara dan masyarakat untuk merenungkan kaidah ini dengan baik, dan bahwa janji Allah (berupa kemenangan) pasti terjadi bagi negara atau bangsa yang bertakwa kepadaNya. Renungkanlah Firman Dzat yang mana kesudahan segala sesuatu berada di TanganNya,




"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah segala urusan kembali." (Al-Hajj: 41).

Barangsiapa yang ingin mengetahui dampak-dampak negatif yang dialami oleh dunia dan kerugian dunia ketika kaum Muslimin jauh dari agamanya, dan jauh dari agungnya prinsip-prinsip Islam, hendaklah dia membaca buku Madza Khasira al-'Alam bi Inhithath al-Muslimin (kerugian apa yang diderita oleh dunia karena kemunduran kaum Muslimin?).
Yang ditulis oleh Syaikh Abu al-Hasan an-Nadwi rahimahullah

Sedangkan dalam tingkat individu, maka pembahasan dalam masalah ini memerlukan uraian lebih panjang, akan tetapi di tempat ini cukuplah kami mengisyaratkan dengan isyarat yang mengingatkan pentingnya kaidah ini dalam kehidupan kita sehari-hari:
Bahwa, ayat al-Qashash, "Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa", datang setelah kisah Qarun yang tidak sabar terhadap syahwat harta!
Dalam hal ini terdapat isyarat perlunya hamba baik laki-laki maupun perempuan untuk merenungkan kaidah ini, khususnya pada saat dia hidup dalam iklim yang penuh hasutan, fitnah, dan hal-hal yang memalingkan dari Agama Allah taala, untuk memudahkannya bersabar terhadap syahwat dan kelezatan yang haram; maka setiap kali nafsunya mengajaknya kepada sesuatu yang menyalahi ketakwaan, hendaklah dia mengingatkan (diri)nya dengan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa di dunia dan akhirat.
Demikian juga seorang da'i yang mengajak kepada (Agama) Allah termasuk di antara orang yang paling membutuhkan (untuk merenungkan kaidah) ini, ketika dia menapaki jalan dakwah yang panjang dan penuh dengan ujian kebaikan maupun keburukan. Khususnya apabila dia tidak mendapatkan orang yang membantu dan menolongnya, bahkan bisa jadi dia malah mendapatkan orang yang menentang dan memusuhinya!
Syaikh kami, al-Allamah Ibnu Baz rahimahullah, berkata setelah beliau menyebutkan sebagian gangguan dan cobaan yang diderita oleh imam para da'i, Muhammad shollallohu alaihi wasallam,
"Maka bagaimana bisa seseorang menginginkan selamat (dari cobaan) setelah itu? Atau dia berkata, 'Kapan aku menjadi orang yang bertakwa atau Mukmin dan tidak ditimpa musibah apa pun?!' Perkaranya bukan seperti itu, bahkan harus ada ujian, dan barangsiapa yang sabar, dia akan memuji akibatnya, sebagaimana Allah taala berfirman,


'Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.' (Hud: 49).


'Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.' (Thaha: 132).

Maka akibat yang terpuji adalah milik orang-orang yang bertakwa, kapan pun mereka sabar, mengharapkan pahala dari Allah, ikhlas kepada Allah, berjihad melawan musuh-musuhnya, dan berjihad melawan nafsunya, niscaya kesudahan (yang baik) adalah bagi mereka di dunia dan akhirat, sebagaimana Allah taala berfirman,




'Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.' (Al-Ankabut: 69).

Maka engkau wahai hamba Allah sangat membutuhkan untuk bertakwa kepada Tuhanmu dan kontinu dalam (ketakwaanmu) itu, serta terus istiqamah di atasnya, walaupun ujian terjadi, walaupun engkau ditimpa gangguan dan ejekan dari musuh-musuh Allah, atau dari orang-orang fasik dan durjana, maka jangan pedulikan (itu semua). Ingatlah para rasul shollallohu alaihimussallam, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; mereka disakiti, dicemooh, dihina, akan tetapi mereka (tetap) sabar; sehingga mereka mendapatkan kesudahan yang terpuji di dunia dan akhirat. Maka engkau wahai saudaraku, begitu juga, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu." (Majmu' Fatawa Ibn Baz, 2/289.)

Maka kandungan makna kaidah al-Qur`an yang muhkam ini, adalah bahwa setiap orang yang tidak bertakwa dalam keadaan-keadaannya atau perbuatannya, maka tidak ada kesudahan yang baik baginya, walaupun ditangguhkan beberapa zaman atau ditinggalkan beberapa masa. Ini adalah sunnah Allah pada makhluk-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berdalil dengan kaidah al-Qur`an ini, "Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa", dan yang semisal dengannya ketika terjadi serangan Tartar kepada negeri-negeri Islam dan beliau bersumpah dengan (Nama) Allah bahwa Tartar tidak akan mendapat kemenangan, bahkan mereka akan kalah dan hancur, dan di antara yang beliau katakan pada saat itu, "Ketahuilah semoga Allah memperbaiki keadaan kalian bahwa kemenangan itu milik kaum Mukminin, dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa, dan Allah itu bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik, dan orang-orang itu (bangsa Tartar) akan kalah dan terbasmi, dan Allah akan menolong kita melawan mereka, dan Allah akan membalaskan kejahatan mereka untuk kita, dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan (pertolongan) Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Maka bergembiralah dengan (datangnya) pertolongan Allah - - dan kesudahan yang baik dariNya. Ini adalah perkara yang telah kami yakini dan telah kami buktikan, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Lihat Majmu' al-Fatawa, 3/125, dan 28/419)


Sumber: 50 Prinsip Pokok Ajaran Al-Qur'an
Ditulis oleh: Dr Umar bin Abdullah Al-Muqbil
Diposting Oleh: Ricky Adhita

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=363