Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

Belajar Dari Kemuliaan Maryam Binti Imran

Selasa, 24 September 19

Maryam binti Imran, ibunda dari Nabi Isa alaihissalam, ia adalah wanita teladan sejati sepanjang masa, pemilik beragam kemulian dan keutamaan. Namanya terukir harum dalam Al-Qur`an, perjalanan hidupnya penuh dengan hikmah dan pelajaran, kisahnya akan terus abadi sepanjang sejarah manusia. Saudaraku, mari kita renungi lebih dekat keutamaan Maryam, agar kaum muslimah bisa meneladani kemuliaan akhlak dan pribadinya.

Maryam dan putranya (Nabi Isa alaihissalam) merupakan tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Taala

Kisah Maryam dan Nabi Isa alaihissalam adalah bukti keagungan Allah Subhanahu wa Taala. Dia berfirman:




Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir. (QS. Al-Mu`minun: 50).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, Yakni menjadi hujjah yang pasti akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Taala atas segala yang Dia kehendaki. Maka Dia menciptakan Adam alaihissalam tanpa ayah dan ibu, dan menciptakan Hawa dari laki-laki tanpa perempuan, dan menciptakan Isa dari ibu tanpa ayah, serta menciptakan manusia selebihnya dari ayah dan ibu. (Lihat Tafsir Al-Qur`an Al-Azhim, 5/476).

Maryam adalah wanita yang sempurna

Secara fitrah, wanita adalah sosok yang lemah dalam prinsip dan pendirian. Namun, hal itu Allah Subhanahu wa Taala kecualikan bagi sebagian hamba-Nya, di antaranya Maryam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,




Banyak orang yang sempurna dari kalangan laki-laki, namun hanya Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran yang sempurna dari kalangan wanita. Dan sungguh keutamaan Aisyah atas kaum wanita laksana keutamaan tsarid (bubur) atas seluruh makanan. (HR. Al-Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 2431, dari Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, Yang dimaksud sempurna dalam hadits ini adalah puncak dalam segala kemuliaan dan beragam sifat kebaikan serta ketakwaan. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 15/198).

Maryam diberikan karomah oleh Allah Subhanahu wa Taala karena ketakwaannya

Maryam adalah seorang wali Allah Subhanahu wa Taala yang diberikan beragam keutamaan dan karomah karena ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Taala. Di antara karomah yang Dia berikan kepadanya adalah diturunkannya makanan dari langit. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:




Maka Rabbnya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini? Maryam menjawab, Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. Ali imran: 37).

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menafsirkan tentang rezeki dalam ayat ini, (Yaitu) buah-buahan musim dingin pada waktu musim panas seperti qashb (sejenis tebu), dan buah-buahan musim panas pada waktu musim dingin seperti anggur. Ia juga menafsirkan perkataan Maryam, Makanan itu dari sisi Allah`, (Yakni) Jibril membawanya untukku. (Lihat Tanwir Al-Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, hal. 46).

Maryam menjadi mulia karena menjaga kehormatannya

Tidak diragukan lagi, bahwa Maryam meraih beragam kemuliaan ini berkat ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Taala. Dan, di antara sifat takwa terpenting yang dimiliki Maryam adalah iffah (menjaga kehormatan dan harga diri). Ia tidak pernah melakukan sedikit pun perbuatan keji yang akan mencoreng nama baik atau merusak harga diri. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:




Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS. Ali imran: 42).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Taala berfirman:




Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12).

Syaikh As-Sadi menjelaskan ayat di atas, Yakni Maryam menjaga dan memelihara kehormatannya dari perbuatan keji, karena kesempurnaan agamanya, iffah dan kesuciannya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, hal. 874).

Salah satu pelajaran paling berharga yang bisa kita petik dari kisah ini adalah, semakin seorang wanita menjaga harga diri dan kehormatannya, maka ia semakin mulia di sisi Allah Subhanahu wa Taala. Dan sebaliknya, semakin seorang wanita mengobral harga diri dan mengumbar hawa nafsunya, maka ia semakin buruk di sisi Allah Subhanahu wa Taala.

Wahai Ukhti Muslimah, siapakah teladan Anda?

Jika kita menilik potret wanita hari ini, kita akan mendapati beragam pemandangan memprihatinkan dan fenomena yang menyayat hati. Dimana banyak kaum wanita sudah terlalu jauh melewati batas syariat. Mengumbar aurat menjadi kebanggaan, bercampur baur dengan kaum lelaki seolah kebiasaan, berpacaran laksana budaya yang patut dilestarikan, dan artis serta bintang film menjadi panutan.

Saudariku muslimah, siapakah yang menjadi teladan Anda? Karena setiap orang akan meniru segala hal yang dilakukan oleh idolanya, entah itu hal yang baik ataupun buruk, dan hal itu timbul karena ada kecintaan terhadap sang idola. Ketahuilah, bahwa seseorang akan bersama apa yang ia cintai kelak pada hari kiamat, sebagaimana yang telah dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:




Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai (pada hari kiamat). (HR. Bukhari, no. 6168, dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu).

Saudariku, mari kita jadikan orang-orang saleh sebagai idola kita, agar kita bisa berkumpul dengan mereka kelak di surga. Jangan sampai kita mengidolakan orang-orang yang salah, yang nantinya akan menjerumuskan kita dalam jurang kesengsaraan di dunia dan akhirat, hingga akhirnya berkumpul dengan mereka di neraka kelak, wal iyadzu billah. (Abu Hasan Agus Dwiyanto, Lc., MPI).

Referensi:

1. Tanwir Al-Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, dihimpun oleh Imam Majduddin Al-Fairuz Abadi.
2. Tafsir Al-Qur`an Al-Azhim, Imam Ibnu Katsir
3. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi.
4. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, dll.

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=316