Artikel : Al-Quran - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits

KAIDAH YANG DIBUTUHKAN OLEH AHLI TAFSIR

Jumat, 18 Mei 12

Di dalam mengkaji/menekuni displin ilmu apapun, diharuskan bagi seseorang untuk mengetahui dasar-dasar umum dan karakteristik khusus ilmu tersebut, sehingga orang yang mengkajinya memiliki pandangan akan ilmu tersebut. Dan seberapa besar kadar ilmu alat (ilmu penunjang untuk mendalami ilmu yang diinginkan) yang ia kuasai, sebesar itu pula pertolongan/kemudahan yang ia dapatkan dalam mengarungi ilmu tersebut. Yang mana ia bisa memasuki pasal-pasal (pembahasan) dari masing-masing bab dalam keadaan sudah diberi (memiliki) kunci-kuncinya.

Dan, apabila al-Qur’an al-Karim turun dengan bahasa Arab yang jelas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


Åöäøó ÃóäÒóáúäóÇåõ ÞõÑúÁóÇäðÇ ÚóÑóÈöíøðÇ áøóÚóáøóßõãú ÊóÚúÞöáõæäó {2}

”Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

Maka kaidah-kaidah yang dibutuhkan oleh para Ahli Tafsir di dalam memahami al-Qur’an terpusat pada kaidah-kaidah bahasa Arab, cara memahami dasar-dasarnya, menghayati uslubnya (tata bahasanya) dan mengetahui rahasia-rahasia yang dikandungnya. Dan untuk hal itu semua ada pasal-pasal yang bertebaran (dalam kitab-kitab bahasa), pembahasan-pembahasan yang tersebar dalam cabang-cabang bahasa Arab dan ilmu-ilmunya. Hanya saja kami hanya mampu mengumpulkan dengan ringkas apa-apa yang wajib diketahui dalam masalah-masalah berikut ini:
Dhamir (kata ganti)

Dhamir (kata ganti) memiliki kaidah-kaidah bahasa yang disimpulkan oleh ulama Ahli Bahasa dari al-Qur’an, sumber-sumber bahasa Arab yang murni, hadits Nabawi, dan ucapan-ucapan orang-orang Arab yang dapat dijadikan rujukan, baik berupa prosa maupun puisi. Ibnul Anbari rahimahullah telah menulis kitab dalam dua jilid mengenai penjelasan tentang dhamir-dahmir yang ada dalam al-Qur’an. (al-Itqaan: 1/186)

Dan kaidah dasar pertama dalam masalah dhamir adalah bahwasanya, pemakaian dhamir adalah untuk mempersingkat (meringkas), maka ia telah mencukupi dari penyebutan lafazh-lafazh yang banyak, dan ia menempati posisi lafazh-lafazh tersebut, dengan tetap menjaga keselamatan (keutuhan) makna dan menghindari pengulangan. Maka ia (dhamir) di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


… ÃøÚóÏøó Çááåõ áóåõã ãøóÛúÝöÑóÉð æóÃóÌúÑðÇ ÚóÙöíãðÇ {35}

”… Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)

Telah menempati posisi dua puluh kata seandainya kata-kata tersebut diungkapkan tidak dengan dhamir, yaitu kata-kata yang tercantum dalam permulaan ayat di atas:


Åöäøó ÇáúãõÓúáöãöíäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö æóÇáúãõÄúãöäöíäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö æóÇáúÞóÇäöÊöíäó æóÇáúÞóÇäöÊóÇÊö æóÇáÕøóÇÏöÞöíäó æóÇáÕøóÇÏöÞóÇÊö æóÇáÕøóÇÈöÑöíäó æóÇáÕøóÇÈöÑóÇÊö æóÇáúÎóÇÔöÚöíäó æóÇáúÎóÇÔöÚóÇÊö æóÇáúãõÊóÕóÏøöÞöíäó æóÇáúãõÊóÕóÏøöÞóÇÊö æóÇáÕøóÂÆöãöíäó æóÇáÕøóÂÆöãóÇÊö æóÇáúÍóÇÝöÙöíäó ÝõÑõæÌóåõãú æóÇáúÍóÇÝöÙóÇÊö æóÇáÐøóÇßöÑöíäó Çááåó ßóËöíÑðÇ æóÇáÐøóÇßöÑóÇÊö ÃøÚóÏøó Çááåõ áóåõã ãøóÛúÝöÑóÉð æóÃóÌúÑðÇ ÚóÙöíãðÇ {35}

”Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)

Kaidah dasar berikutnya adalah bahwsanya penjelas (kata yang digantikan) mendahaului kata ganti (dhamir), dan para Ahli Nahwu (Ahli tata bahasa Arab) memberikan alasan pada kaidah dasar ini bahwa dhamir mutakallim (kata ganti orang pertama/pembicara) dan dhamir mukhathab (kata ganti orang kedua/lawan bicara) dijelaskan (diketahui maksudnya) dengan melihat secara langsung, sedangkan dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga) tidak terpenuhi sisi penjelasan ini (tidak bisa dijelaskan/diketahui maksudnya dengan melihat secara langsung). Maka kaidah dasarnya adalah mendahulukan penyebutan kata tempat kembalinya dhamir sebelum penyebutan dhamir, agar bisa diketahui maksud dari dhamir tersebut. Oleh karena itu mereka berkata:”Tidak bisa mengembalikan dhamir pada kata yang datang setelah dhamir, baik dalam pengucapannya maupun dalam kedudukannya.”

Dan mereka (Ahli Nahwu) mengecualikan dari kaidah ini masalah-masalah di mana dhamir pada masalah-masalah tersebut kembali kepada sesuatu yang tidak membutuhkan penyebutan tempat kembalinya dhamir, dikarenakan adanya indikasi-indikasi yang menunjukkan hal itu pada lazah itu sendiri, atau kondisi-kondisi lain yang meliputi (melingkupi) konteks pembicaraan. Ibnu Malik rahimahullah dalam kitab at-Tashiil berkata:”Hukum asalnya adalah mendahulukan penjelas dhamir ghaib (atas dhamir ghaib), dan ia (dhamir) tidak kembali ke lafazh yang jauh dari dhamir, kecuali dengan dalil. Dan dalil itu bisa dijelaskan secara tegas (jelas) dengan lafazhnya, atau tidak membutuhkan penjelas dalam bentuk lafazh dengan adanya objek yang ditunjuk baik secara inderawi atau pengetahuan, atau dengan menyebutkan sesuatu yang menjadi bagiannya, atau keseluruhannya, atau sesuatu yang menyerupainya atau yang menyertainya dengan sisi apapun.”

Dengan demikian, maka Marja’ Dhamir Ghaib (tempat kembali dhamir orang ketiga) berupa sesuatu yang dilafazhkan (diucapkan), mendahuluinya (dhamir) dan sesuai dengannya -dan ini adalah yang mayoritas dan banyak terjadi- seperti firman-Nya:


… æóäóÇÏóì äõæÍõ ÇÈúäóåõ .. {42}

”…Dan Nuh memanggil anaknya …" (QS. Huud: 42) (dhamir å pada kata ÇÈúäóåõ datang setelah kata äõæÍõ yang menjadi tempat kembali dhamir)

Atau yang mendahuluinya itu mengandung apa yang dimaksud oleh dhamir, seperti dalam ayat:


íóÇÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÁóÇãóäõæÇ ßõæäõæÇ ÞóæøóÇãöíäó ááåö ÔõåóÏóÂÁó ÈöÇáúÞöÓúØö æóáÇó íóÌúÑöãóäøóßõãú ÔóäóÆóÇäõ Þóæúãò Úóáóì ÃóáÇøó ÊóÚúÏöáõæÇ ÇÚúÏöáõæÇ åõæó ÃóÞúÑóÈõ áöáÊøóÞúæóì æóÇÊøóÞõæÇ Çááåó Åöäøó Çááåó ÎóÈöíÑõõ ÈöãóÇ ÊóÚúãóáõæäó {8}

”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena dia (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan." (QS. Al-Maa’idah: 8)

Maka dhamir åõæó kembali kepada kata benda keadilan yang terkandung dalam lafazh kata kerja ÇÚúÏöáõæÇ (berbuat adillah), maka maknanya menjadi “Keadilan lebih dekat dengan ketakwaan”.

Atau terkadang yang mendahuluinya itu menunjukkan kepada dhamir berdasarkan keniscayaan (keharusan), seperti dalam firman-Nya:


… Ýóãóäú ÚõÝöíó áóåõ ãöäú ÃóÎöíåö ÔóíúÁõõ ÝóÇÊøöÈóÇÚõ ÈöÇáúãóÚúÑõæÝö æóÃóÏóÇÁñ Åöáóíúåö ÈöÅöÍúÓóÇäò …{178}

”.. Maka barangsiapa yang diberi maaf oleh saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, ... ." (QS. Al-Baqarah: 178)

Maka dhamir pada lafazh Åöáóíúå kembali kepada si pemberi maaf, yag hal itu keniscayaan (keharusan/konskwensi) dari lafah ÚõÝöíó (diberi maaf).

Dan terkadang tempat kembali dhamir datang belakangan setelah dhamir secara lafazh, namun secara kedudukan (posisi) tidak, seperti dalam firman-Nya:


ÝóÃóæúÌóÓó Ýöí äóÝúÓöåö ÎöíÝóÉð ãøõæÓóì {67}

”Maka Musa merasa takut dalam hatinya." (QS. Thaha: 67)

Atau terkadang secara lafazh dan kedudukan, seperti dalam dhamir sya’n (kata ganti yang menunjukkan hal atau perkara), atau dhamir qishah (kata ganti yang bermakna cerita), atau pada Ni’ma (kata kerja yang menunjukkan pujian), atau Bi’sa (kata kerja yang menunjukkan celaan), seperti dalam firman-Nya:


Þõáú åõæó Çááøóåõ ÃóÍóÏñ {1}

”Katakanlah bahwasanya:"Dialah Allah, Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlash: 1)

Dan firman-Nya:


… ÝóÅöÐóÇ åöíó ÔóÇÎöÕóÉñ…{97}

”….Maka tiba-tiba terbelalaklah (mata orang-orang kafir)….” (QS. Al-Anbiyaa’: 97)

Dan firman-Nya:


… ÈöÆúÓó áöáÙøóÇáöãöíäó ÈóÏóáÇð {50}

”… Amat buruklah (iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50)

Dan firman-Nya:


ÓóÂÁó ãóËóáÇð ÇáúÞóæúãõ … { 177}

”Amat buruklah perumpamaan orang-orang (yang mendustakan ayat-ayat Kami) ….” (QS. Al-A’raaf: 177)

Atau terkadang ia (tempat kembali dhamir) datang belakangan yang menunjukkannya (menunjukkan dhamir tersebut), seperti dalam firman-Nya:


Ýóáóæúá ÅöÐóÇ ÈóáóÛóÊö ÇáúÍõáúÞõæãó {83}

”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan.”(QS. Al-Waaqi’ah: 83)

Maka dhamir rafa’ (kata ganti yang marfu’ yang menunjukkan pelaku), tersembunyi dan ditunjukkan (dijelaskan) oleh kata ÇáúÍõáúÞõæãó , maka perkiraan kalimat tersebut secara lengkap adalah:


Ýóáóæúá ÅöÐóÇ ÈóáóÛóÊö ÇáÑæÍ ÇáúÍõáúÞõæãó

Atau terkadang tempat kembali dhamir bisa dipahami dari konteks kalimat, seperti dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala:



ßõáøõ ãóäú ÚóáóíúåóÇ ÝóÇäò {26}

”Semua yang ada di atasnya (di atas Bumi) akan binasa.” (QS. Ar-Rahman: 26)

Dhamir åÇ pada kata ÚóáóíúåóÇ kembali kepada kata Bumi.

Dan juga dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala:


Åö äøóÂ ÃóäúÒóáúäóÇåõ Ýöì áóíúáóÉö ÇáúÞóÏúÑö {1}

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Dhamir å pada kata ÃóäúÒóáúäóÇåõ maksudnya adalah al-Qur’an.

Dan firman-Nya:


ÚóÈóÓó æóÊóæóáìøó {1}

”Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS. ‘Abasa: 1)

Dhamir Mustatir (kata ganti yang tersembunyi) yang ada pada kata ÚóÈóÓó maksudnya adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

dan firman-Nya:


Ãóãú íóÞõæúáõæúäó ÇúÝÊóÑóÇåõ … {13}

”Bahkan mereka mengatakan:” Dia (Muhammad) telah membuat-buat/mengada-ada hal itu ( al-Qur'an) …" (QS. Huud: 13)

Maka huruf æ yang ada pada kata íóÞõæúáõæúäó maksudnya adalah orang-orang Musyrik, dan kata ganti tersembunyi dalam kata ÇúÝÊóÑóì adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan kata ganti å dalam kata ÇúÝÊóÑóÇåõ adalah al-Qur’an.

Dan bisa jadi dhamir kembali kepada lafazh, dan tidak kembali kepada makna, seperti dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala:


… æóãóÇíõÚóãøóÑõ ãöä ãøõÚóãøóÑò æóáÇó íõäÞóÕõ ãöäú ÚõãõÑöåö ÅöáÇøó Ýöí ßöÊóÇÈò… {11}

”....Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz)…. (QS. Fathir: 11)

Maka dhamir å pada kata ÚõãõÑöåö yang dimaksud adalah umur yang dipanjangkan yang lain (bukan yang pertama).

Dan terkadang dhamir kembali kepada makna dan tidak kepada lafazh, seperti dalam firman-Nya:


íóÓúÊóÝúÊõæäóßó Þõáö Çááåõ íõÝúÊöíßõãú Ýöí ÇáúßóáÇóáóÉö Åöäö ÇãúÑõÄñÇ åóáóßó áóíúÓó áóåõ æóáóÏõõ æóáóåõ ÃõÎúÊõõ ÝóáóåóÇ äöÕúÝõ ãóÇÊóÑóßó æóåõæó íóÑöËõåó Åöä áøóãú íóßõä áøóåóÇ æóáóÏõõ ÝóÅöä ßóÇäóÊóÇ ÇËúäóÊóíúäö … {176}

”Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah:"Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan),jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, …" (QS. An-Nisaa’: 176)

Maka dhamir pada ßóÇäóÊóÇ tidak didahului oleh lafazh tatsniyah (lafazh yang menunjukkan dua) tempat kembali dhamir tersebut, karena kata ÇáúßóáÇóáóÉö bisa menunjukkan satu, dua atau jamak. Maka dalam hal ini dhamir dijadikan tatsniyah dibawa kepada makna.

Dan terkadang disebutkan dhamir terlebih dahulu kemudian dijelaskan dengan sesuatu yang menjelaskannya. Seperti dalam firman-Nya:


.. Åöäú åöíó ÅöáÇøó ÍóíóÇÊõäóÇ ÇáÏøõäúíóÇ … {29}

”Dan tentu mereka akan mengatakan (pula):"Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, da kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan…" (QS. Al-An’aam: 29)

Terkdang dhamir dijadikan tatsniyah dan kembali ke salah satu lafazh yang disebutkan, seperti dalam firman-Nya:


íóÎúÑõÌõ ãöäúåõãóÂ ÇááøõÄúáõÄõ æóÇáúãóÑúÌóÇäõ {22}

”Keluar Dari keduanya mutiara dan marjan.” (QS. Ar-Rahman: 22)

Karena ia (mutiara dan marjan) hanya keluar dari salah satunya (salah satu perairan) saja, yaitu perairan asin (laut), karena jika ia keluar dari salah satu dari keduanya berarti ia telah keluar dari keduanya. Dengan inilah az-Zajjaj dan yang lainnya berkata.

Dan terkadang dhamir kembali kepada sesuatu yang memiliki hubungan erat dengannya, misalnya berkenaan dengan masalah waktu pada ayat:


… áóãú íóáúÈóËõæÇ ÅöáÇøó ÚóÔöíøóÉð Ãóæú ÖõÍóÇåóÇ {46}

”… mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi.” (QS. An-Naazi’at: 46)

Maksudnya adalah waktu pagi di hari itu, bukan waktu pagi sorenya, karena sore tidak memiliki waktu pagi.

Terkadang dalam masalah dhamir yang diperhatikan pertama kali adalah lafazh, kemudian setelah itu makna, seperti dalam firman-Nya:


æóãöäó ÇáäøóÇÓö ãóäú íóÞõæáõ ÁóÇãóäøóÇ ÈöÇááøóåö æóÇáíóæúãö ÇáÃóÎöÑö æóãóÇ åõã ÈöãõÄúãöäöíäó {8}

”Di antara manusia ada yang mengatakan:"Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8)

Dhamir pada kata íóÞõæáõ disebutkan dalam bentuk tunggal didasarkan pada lafazhnya, kemudian disebutkan dalam bentuk jamak yaitu dalam kata æóãóÇ åõã didasarkan pada maknanya.

(Sumber:ãÈÇÍË Úáæã ÇáÞÑÂä karya Syaikh Manna’ al-Qaththan rahimahullah, Maktabah al-Ma’arif Riyadh hal. 198-201. Diterjemahkan dan dipsosting oleh Abu Yusuf Sujono)

Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
Versi Online : index.php/?pilih=lihatquran&id=224